• Tidak ada hasil yang ditemukan

pada penderita diabetes mellitus

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pada penderita diabetes mellitus"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

70

Busri dkk.: Rancang bangun mikrokontroler AT89S51 sebagai alat ukur kekuatan gigi Jurnal PDGI 59 (2) Hal. 75-79 © 2010

Hubungan antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi

pada penderita diabetes mellitus

(Relationship between oral and dental care habits with dental caries in diabetes mellitus patients)

Marchella D. A., Sri Lestari

Community Dental Health Department Faculty of Dentistry Trisakti University

ABSTRACT

Background: Habits in the maintenance of oral health is one important thing that must be considered, especially in patients with diabetes mellitus. In patients with diabetes mellitus is usually characterized by dry mouth caused by salivary flow decreases causing the teeth become vulnerable to the occurrence of caries. Purpose: This research was conducted to determine the relationship between dental health care habits and oral with dental caries in patients with diabetes mellitus in RSPAD Gatot Subroto. Method:

Data collected in the form of dental caries data using DMF-T index and the habit of maintaining oral health using a questionnaire.

The data obtained were analyzed with quantitative analysis and Pearson correlation test. Result: The assessment of the respondents found the prevalence of dental caries of 91.4%, with the DMF-T average of 8.34 moderate category. Respondents have a habit of maintaining healthy teeth and mouth with a category good as much as 2,9%, quite as much as 74.4% and less as much as 22,9%.

Pearson correlation test results on the respondents, shows the correlation coefficient (r) of 0.041 means there is a positive relationship between habits clockwise or maintenance of oral health with DMF-T index. Conclusion: The results can be deduced habits in maintaining oral health may affect the occurrence of dental caries.

Key words: Dental caries, habits, diabetes mellitus

Korespondensi: : Sri Lestari, Community Dental Health Department Faculty of Dentistry Trisakti University. Email: [email protected] Vol. 61, No. 2, Mei-Agustus l 2012, Hal. 70-73 |ISSN 0024-9548

PENDAHULUAN

Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolisme kompleks ditandai dengan hiperglikemia kronis serta produksi insulin yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan ketidakmampuan glukosa untuk dibawa dari aliran darah ke jaringan dan pada akhirnya mengakibatkan tingkat glukosa darah tinggi dan ekskresi glukosa dalam urin.1 Insulin itu sendiri adalah suatu hormon yang dihasilkan oleh sel beta pulau langerhans pada pankreas.2

Pankreas merupakan salah satu organ di dalam tubuh dengan tujuan untuk menjaga kadar gula darah dalam kondisi normal. Oleh karena itu, apabila kadar gula dalam darah tinggi sel beta pulau

langerhans pada pankreas akan mengeluarkan insulin. Insulin tersebut akan menurunkan kadar gula dalam darah dengan cara mendistribusikan gula masuk ke dalam sel-sel yang akan diproduksi untuk menghasilkan energi.3

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ke-4 penderita diabetes melitus terbanyak di dunia. Pada tahun 2000 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia mencapai 8,4 juta orang. Jumlah tersebut terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2030 mencapai 21,3 juta orang. Meningkatnya penyakit diabetes mellitus di Indonesia, di antaranya disebabkan oleh faktor genetik dan gaya hidup

(2)

71

modern seperti mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat dan gula yang tinggi.4 Oleh karena itu penderita diabetes mellitus khususnya yang tidak terkontrol akan rentan terhadap penyakit di dalam rongga mulut dan gigi.

Keluhan dan tanda kelainan rongga mulut tersebut antara lain cheilosis, xerostomia, perubahan flora normal mulut oleh candida albicans, sindroma mulut terbakar, luka bekas pencabutan yang sukar sembuh, karies gigi, dan meningkatnya insidensi dan keparahan penyakit periodontal.1 Pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara berkala akan memperkecil risiko terjadinya penyakit dalam rongga mulut pada penderita diabetes mellitus. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hal tersebut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi pada penderita diabetes mellitus di RSPAD Gatot Soebroto.

BAHAN DAN METODE

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan pendekatan survey.

Subyek penelitian adalah penderita diabetes mellitus dengan kadar gula darah e” 200 mg/dl yang datang berobat di RSPAD Gatot Soebroto. Penelitian dilakukan selama 4 hari dengan subyek sejumlah 35 orang. Pengumpulan data kebiasaan dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan kuesioner dan data karies gigi dengan menggunakan indeks DMF-T.

HASIL

Hasil yang didapatkan dari penelitian sebagian besar responden menyatakan alasan pergi ke dokter gigi / puskesmas adalah untuk periksa / kontrol saja yaitu sebanyak 40% , dan agar diberi obat minum sebanyak 25,7% (Tabel 1).

Sebagian besar responden mempunyai kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori baik yaitu sebanyak 2,9%, kategori cukup sebanyak 74,4%, sedangkan kebiasaan dengan kategori kurang 22,9% (Tabel 2).

Tabel 1. Distribusi responden menurut alasan pergi ke dokter gigi/puskesmas

Periksa / kontrol gigi saja 14 40,0

Penambalan gigi yang lubang 4 11,4

Pencabutan gigi yang lubang 8 22,9

Agar diberi obat minum 9 25,7

Jumlah 35 100

Alasan pergi k Alasan pergi k Alasan pergi k Alasan pergi k

Alasan pergi ke dokter gigi/puske dokter gigi/puske dokter gigi/puske dokter gigi/puske dokter gigi/puskesmasesmasesmasesmasesmas FFFFF % % % % %

Tabel 2. Distribusi menurut kebiasaan responden terhadap kesehatan gigi dan mulut

Baik 1 2,9

Cukup 26 74,4

Kurang 8 22,9

Jumlah 35 100

K KK K

Kebiasaanebiasaanebiasaanebiasaanebiasaan FFFFF % % % % %

Hasil uji korelasi Pearson didapatkan koefisien korelasi (r) 0,041 berarti ada hubungan searah atau positif antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan indeks DMF-T artinya jika kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut seseorang kurang baik, maka angka karies gigi akan tinggi, begitu pula sebaliknya (Tabel 3).

PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang dilakukan pada penderita diabetes mellitus di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat dengan jumlah responden 35 orang menunjukkan prevalensi karies gigi responden sebesar 91,4% dengan DMF-T rata-rata 8,34 termasuk kategori sedang. Keadaan ini disebabkan karena sebanyak 28,6% responden mengkonsumsi makanan manis dan 20%

mengkonsumsi minuman manis. Selain itu, sebagian besar responden kadang-kadang mulut terasa kering sebanyak 42,9% dan mulut sering terasa kering sebanyak 25,7%.

Penderita diabetes mellitus pada umumnya ditandai dengan mulut kering.5 Mulut kering Tabel 3. Hasil uji korelasi

Kebiasaan

Pearson corr. 1 .041

N 35 35

DMF-T

Pearson corr. .041 1

N 35 35

K K K K

Kebiasaanebiasaanebiasaanebiasaanebiasaan DMF-TDMF-TDMF-TDMF-TDMF-T Marchella dan Lestari : Hubungan antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi

Jurnal PDGI 61 (2) Hal. 70-73 © 2012

(3)

72

(xerostomia) ini disebabkan oleh gangguan fungsi kelenjar, yang pada keadaan normalnya terdapat keseimbangan antara vaskularisasi, sel asini, dan kelenjar liur.6 Kelenjar liur memiliki saraf simpatis dan parasimpatis yang memiliki peran besar terhadap aliran saliva karena memiliki efek sialogogik yang besar. Untuk itu apabila terjadi gangguan pada saraf parasimpatis yang berperan pada efek sialogogik terbesar, penurunan aliran saliva akan dapat terjadi dan mulut menjadi kering yang kita kenal juga dengan sebutan xerostomia.7 Mulut kering tersebut disebabkan karena aliran saliva menurun sehingga menyebabkan gigi menjadi rentan terhadap terjadinya karies.8

Hasil pemeriksaan indeks karies gigi didapatkan D (Decay) rata-rata 2,60, Mi (Missing Indicated) rata-rata 1,40, Me (Missing Extracted) rata-rata 3,94, F (Filling) rata-rata 0,14. Hasil tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan pada penderita diabetes mellitus di RSUP Dr. Kariadi, Semarang didapatkan tingkat keparahan karies gigi sebesar 95,3% dengan DMF-T rata-rata 2,3 dan D rata-rata 0,7, M rata-rata 1,1, F rata-rata 0,5.9

Keadaan tersebut disebabkan karena semua responden (100%) pernah merasakan sakit gigi dan 31,4% responden bila sakit gigi memilih untuk diobati sendiri, sehingga terlihat hanya sebagian kecil responden yang giginya ditambal (F) rata-rata 0,14. Selain itu, 62,9% responden bila sakit gigi memilih untuk ke dokter gigi, hal ini dapat dilihat pada sebagian besar responden yang giginya dicabut karena karies (Me) rata-rata 3,94.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki kebiasaan dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori baik sebanyak 2,9%, cukup sebanyak 74,4%, dan kurang sebanyak 22,9% (Tabel 2). Keadaan ini disebabkan karena responden yang menyikat gigi sesuai anjuran yaitu sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam hanya 14,3%, sedangkan sebanyak 62,9% responden menyikat gigi pada waktu mandi pagi dan mandi sore. Keadaan tersebut didukung pula dalam penelitian ini sebagian besar responden berusia > 60 tahun sebanyak 42,4%, sehingga sesuai dengan hasil survey Departemen Kesehatan bahwa kecenderungan usia 65 tahun keatas memiliki motivasi kurang untuk melakukan perawatan gigi yang teratur.10

Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi (r) 0,041 berarti ada hubungan searah atau positif antara kebiasaan pemeliharaan

kesehatan gigi dan mulut dengan indeks DMF-T artinya jika kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut seseorang kurang baik, angka karies gigi akan tinggi, begitupun sebaliknya jika kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut seseorang baik maka angka karies gigi akan rendah.

Keadaan tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori cukup sebanyak 74,4%, sedangkan yang memiliki kategori baik hanya 2,9%, dan keadaan karies gigi dengan DMF-T rata – rata 8,34 termasuk kategori sedang. Oleh karena itu pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara teratur perlu dilakukan oleh para penderita diabetes mellitus agar dapat diketahui secara dini kelainan dalam rongga mulut, sehingga diharapkan derajat kesehatan gigi dan mulut dapat ditingkatkan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi. Hal ini menunjukan kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut mempengaruhi karies gigi seseorang, khususnya pada penderita diabetes mellitus. Penderita diabetes mellitus pada umumnya mulut terasa kering dikarenakan gangguan fungsi kelenjar liur sehingga gigi menjadi rentan terhadap karies. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut penderita diabetes mellitus perlu dilakukan secara berkala agar derajat kesehatan gigi dan mulut dapat lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Carranza F. Clinical periodontology. 10th ed. Elsevier.

Philadelphia. 2006. p. 285.

2. Belchetz P, Hammond PJ. Diabetes and endocrinology. Phyladelphia: Mosby. 2003. p.15.

3. Kariadi SH. Diabetes? Siapa takut!!. Bandung: Qanita..

2009. p. 22, 31, 43-5.

4. Setyandrian Y. Penderita diabetes mellitus di Indonesia meningkat. . http://Antara.co.id// On-line.

2009.

5. Goldman HS, Marder MZ. Physicians guide to diseases of the oral cavity. New Jersey: Medical Economics Company. 1982. p. 31, 123.

6. Djamil MS. Mekanisme xerostomia pada penderita diabetes tidak terkontrol. Majalah Kedokteran Gigi Universitas Trisakti 2001. 34(3a) : 385.

Marchella dan Lestari : Hubungan antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi Jurnal PDGI 61 (2) Hal. 70-73 © 2012

(4)

73

7. Kartimah S. Xerostomia pada penderita diabetes melitus karena neuropati diabetika glosofaringeal.

Jurnal PDGI 2006. 56(2) : 80.

8. Amelia F. Perbedaan jumlah S.mutans dalam saliva wanita menopouse dan wanita subur. Jurnal PDGI 2006. 56(2) : 70.

9. Iwanda, Respati TN. Diabetes mellitus dan karies gigi.

Dalam Media Medika Muda. Medical Faculty of Diponegoro University. 2010. No.4. p. 22-3.

10. Departemen Kesehatan R.I. Masalah gigi mulut gerbang kedatangan penyakit. http://m.okezone.com/

On-line. 2001.

Marchella dan Lestari : Hubungan antara kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi Jurnal PDGI 61 (2) Hal. 70-73 © 2012

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian ulkus berulang sebesar 28 orang (49,1)% dari 57 responden, kejadian ulkus berulang pada sebagian besar responden mencapai

Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada responden DM di desa Tegalharjo menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM di Desa Tegalharjo

Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan hasil bahwa s ebagian besar responden memiliki social support yang sangat baik sebanyak 15 orang (88,2%), tidak ada responden

Pada tabel 2 diatas diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai health locus of control sedang sebanyak 39 responden (59%), sementara untuk kategori tinggi

sasaran pengamatan yaitu sebanyak 19 responden (52.8%) memiliki gaya hidup buruk sedangkan nilai rata- rata kadar glukosa seluruh responden penderita DM yaitu

Hasil : Dalam penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden berusia 20- 35 tahun sebanyak 46, berpendidikan menengah sebanyak 48 dan sebagian besar

Hasil analisis hubungan antara stress dengan konsep diri pada penderita DM tipe 2 di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru pada 30 responden diperoleh bahwa ada sebanyak 12 orang

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukandi Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih dengan responden sebanyak 160 pasien DM sebagian besar responden mempunyai tingkat