PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Meski menggunakan landasan hukum berdasarkan hadis tersebut, namun para Kyai di distrik Bluto tidak mengadopsi keempat konsep kafa'ah yang ditawarkan; para Kyai hanya mengacu pada anjuran Nabi saja. Kyai di Kecamatan Bluto tidak hanya menjadi pengurus pesantren, mereka juga mempunyai peran ganda.
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Semoga bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat dan diharapkan dapat menambah wawasan dan kondisi masyarakat mengenai pentingnya kopi dalam pernikahan untuk mewujudkan keluarga sakinah. Demikian transkrip laporan penelitian ini kami harapkan dapat memberikan sumbangsih baru yang dapat bermanfaat dan memperkaya khazanah keilmuan dan khazanah Perpustakaan IAIN Jember khususnya dalam bidang hukum Islam.
Definisi Istilah
Yang dimaksud dengan kafa’ah atau sekufu dalam perkawinan adalah suami dalam hubungan dengan istrinya, yang berarti kedudukannya sama dan berhubungan dengan istrinya dalam hal sosial, moral, dan ekonomi. kafa'ah adalah keseimbangan, keselarasan dan keselarasan, khususnya dalam bidang agama yaitu akhlak dan ibadah. Sebab jika kafa'ah diartikan persamaan dalam harta atau kebangsawanan berarti terbentuknya kasta-kasta, sedangkan dalam Islam keberadaan kasta tidak diperbolehkan karena manusia adalah sama di mata Allah.11 .
Sistematika pembahasan
Penggunaan konsep ngopi dalam perkawinan di kalangan keluarga Kiyai di Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Haerul Anwar, Kafa'ah dalam Pernikahan sebagai Pembentukan Keluarga Sakinah (Studi Kasus di Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor), (Skripsi: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2009).
KAJIAN PUSTAKAAN
Penelitian Terdahulu
Skripsi yang ditulis oleh Haerul Anwar berjudul “Kafa’ah dalam perkawinan sebagai pembentukan keluarga sakinah (Studi Kasus di Desa Kemang Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor). Bluto, di Kabupaten Sumenep.
Kajian Teori
- Kyai
Dalam Kamus Bahasa Arab, kafa’ah berasal dari kata ةءافك – افك yang berarti persamaan, proporsionalitas, dan kekeluargaan. Hal ini merupakan syarat dalam kafa'ah menurut jumhur yang terdiri dari mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali. Mazhab Hanafi dan Hanbali tidak menganggap tidak adanya cacat sebagai salah satu syarat kafa'ah.
Para Fuqaha sepakat bahwa yang berhak menentukan qafa adalah perempuan dan walinya, karena menurut mereka perempuan dan walinya biasanya akan merasa terhina jika menikah dengan laki-laki yang tidak setara dengannya. 46 Wawan Setiawan, Kafa'ah dalam Pernikahan Menurut Jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia di Desa Mojolawaran Kecamatan Gabus Kabupaten Pati, (Skripsi: Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Para fukaha sepakat bahwa yang mempunyai Hak untuk definisi kafa adalah istri dan walinya, karena menurut mereka istri dan walinya biasanya akan merasa terhina jika menikah dengan laki-laki yang tidak setara dengannya.'
47Wawan Setiawan, Kafa'ah in Marriage Volgens die Jama'ah van die Indonesiese Islamic Da'wah Institute in Mojolawaran Village, Gabus District, Pati Regency, (Proefskrif: Walisongo State Islamic University Semarang. 50Wawan Setiawan, Kafa'ah in Marriage Volgens aan die Jama'ah van die Indonesian Islamic Da'wah Institute in Mojolawaran Village, Gabus District, Pati Regency, (Proefskrif: Walisongo State Islamic University Semarang. 51Wawan Setiawan, Kafa'ah in Marriage Volgens die Congregation of the Indonesian Islamic Da' wah Institute in Mojolawaran Village, Gabus-distrik, Pati Regency, (Proefskrif: Walisongo State Islamic University Semarang, 2015), 51.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi atau gambaran tentang fakta, ciri-ciri dan hubungan atau fenomena yang diteliti.72 Sedangkan penelitian kualitatif bertujuan untuk menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata yang diucapkan atau dari orang dan perilaku. observasi 73. Dalam penelitian ini yang diteliti adalah kiai di Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep.
Lokasi Penelitian
Bagaimana pemahaman Kiyai terhadap konsep kafa’ah dalam perkawinan sebagai pembentukan keluarga sakinah di Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Bagaimana konsep kopi dalam perkawinan di kalangan keluarga kiai di Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Pada hakekatnya penerapan konsep kafa’ah di kalangan Kiyai Kecamatan Bluto adalah dengan memperhatikan dua syarat.
Dengan adanya kafa’ah dalam pernikahan diharapkan setiap calon mampu mencapai keharmonisan dan keharmonisan. Bagi Kyai di Kecamatan Bluto, konsep kafa'ah merupakan suatu hal yang sangat urgen ketika melangsungkan sebuah pernikahan. Luthifatun Ni'mah, Konsep Kafa'ah dalam Hukum Islam (Kajian Pemikiran as-Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah), (Skripsi: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009).
Pandangan Kiyai terhadap konsep kafa'ah dalam perkawinan sebagai upaya membentuk keluarga sakinah di kabupaten tersebut.
Subyek Penelitiaan
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti ingin mencari data seperti diatas pada bagian topik penelitian, dalam hal ini teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:76. Bluto, diketahui pada akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017 terdapat 20 pasangan suami istri yang gagal membina rumah tangga. Berdasarkan pengamatan dari berbagai kelompok Kyai di Kecamatan Bluto terlihat hidup rukun berdasarkan tiga kriteria yaitu Kyai Salafi, Kyai Politisi dan Kyai Politisi. Kyai Akademisi dan diperoleh data bahwa di Kecamatan Bluti tidak ada Kyai yang bercerai. Selain itu peneliti juga ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sumber data seperti upacara pernikahan Kyai dan masyarakat awam, sehingga data yang diperoleh peneliti akan lebih lengkap, tajam dan dapat memahami tingkat kebermaknaan masing-masing data. perilaku yang menunjukkan dirinya.
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data jika peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui permasalahan yang akan diteliti, dan juga jika peneliti ingin mengetahui sesuatu dari responden secara lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini didasarkan pada wawancara kepada Kiai, suami atau istri dan wali, paling tidak berdasarkan pengetahuan dan/atau keyakinan pribadi untuk memperoleh data yang diminta penulis. Imam Hasyim, S.HI., MH., Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren At-Taufiqiyah yang beralamat di Desa Aeng Baja Raja, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.
Dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menelusuri dan mencari informasi tentang suatu hal atau variabel dalam bentuk catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain.
Analisis Data
Validitas Data
Dalam ajaran yang dipahami Kiyait di Kecamatan Bluto mengenai konsep Kafa'ah terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Pendapat mengenai tidak pentingnya harta sebagai konsep kafa dalam perkawinan ditegaskan oleh Kyai Ahmad Medani. Konsep kafa merupakan wujud kehidupan sosial dalam interaksi di masyarakat, ketika memilih pasangan untuk dinikahi.
Adanya kopi dalam sebuah pernikahan akan membantu menyelamatkan pernikahan dan menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis, seperti yang terlihat dalam kehidupan keluarga Kiyai di Kecamatan Bluto. Dari pembahasan ini penulis mencoba memberikan saran dan kritik yang membangun antara lain mengenai pemahaman konsep kafa'ah hukum menurut Kiyai di daerah Bluto. Wawan Setiawan, kafa'ah dalam pernikahan menurut jamaah Lembaga Dakwah Islam di Desa Mojolawaran, Kecamatan.
Apa tujuan dan hikmah pernikahan kafa'ah yang dipraktikkan di kalangan kiai?
Tahap-Tahap Penelitian
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Gambaran Obyek Penelitian
Semua itu bisa kita ketahui dari berbagai lapangan kerja yang tersedia di distrik Bluto. Beliau lahir di Desa Aeng Baja Rajah Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep, mempunyai 4 orang saudara yaitu Ny. Bushairi, M.Pd.I., lahir di Desa Aeng Dakeh, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Riwayat pendidikannya meliputi MI At-Taufiqiyah, Mts At-Taufiqiyah dan PGA di Sumenep kemudian dilanjutkan ke IAIN Pamekasan yang pada waktu itu masih merupakan cabang dari .
Wahid, S.Pd.I., lahir di Desa Aeng Bajah Kenek Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Abdullah, lahir pada tanggal 6 Juni 1960 di Desa Aeng Bajah Kenek, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Riwayat pendidikan beliau meliputi SD Sera Timur Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep, Mts An-nuqoyyah Guluk-guuk yang diambil pada tahun 1980 dan MA di Guluk-guluk Sumenep dan terakhir menempuh pendidikan D2 di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Beliau merupakan anak dari Bapak Muhammad, lahir di Lobuk Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep, beliau merupakan anak terakhir dari lima bersaudara.
Penyajian Data dan Analisis
Kafa dianjurkan Islam dalam memilih calon suami istri, namun tidak menentukan sah atau tidaknya perkawinan tersebut. Urgensi lain dari sangkar adalah sebagai bentuk keadilan dan konsep kesetaraan yang ditawarkan Islam dalam pernikahan. Bagi Kyai di Kecamatan Bluto, konsep kafa'ahu merupakan wujud kehidupan sosial dalam berinteraksi di masyarakat, ketika memilih pasangan untuk dinikahi.
Sebab pernikahan memerlukan keharmonisan, keseimbangan dan kesamaan persepsi agar kehidupan rumah tangga bisa terselamatkan dengan kafae.
Pembahasan dan Temuan
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut Kyai di Kecamatan Bluto yang pada dasarnya adalah Kyai Salaf, Kyai Politisi dan Kyai Akademisi, berpandangan bahwa konsep kafa’ah yang pertama dan utama adalah keteguhan beragama termasuk akhlak dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan yang kedua adalah ada Umat Islam yang mempunyai akhlak yang baik, baik dan juga diikuti dengan Nasab yang artinya keduanya harus berasal dari keluarga Kyai. Menurut Kyai yang notabene seorang Kyai politikus, akademisi dan muslim ini, Kyai berpendapat kafa'ah sangat urgen bagi keberlangsungan kehidupan berumah tangga. Selain untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, juga untuk membina keturunan, karena dalam kerangka kehidupan berkeluarga terletak harapan untuk memperoleh keturunan yang baik dan mulia.
Pada dasarnya penerapan konsep kafa’ah bagi kalangan Kyai di Kecamatan Bluto melihat pada dua kondisi, yaitu pertimbangan persamaan akhlak dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan persamaan kedudukan yaitu kedua anggota keluarga Kyai. Dari keenam Kyai yang ada di wilayah Bluto, hal pertama yang akan mereka lakukan untuk mencari pasangan hidup adalah dengan pergi ke pesantren, karena pesantren merupakan pusat pendidikan agama dan melatih santri menjadi orang yang berakhlak mulia dan bertaqwa. kepada Allah SWT.
Saran
Saat ini perceraian mulai banyak terjadi di Kabupaten Sumemep khususnya di Kecamatan Bluto, sehingga alangkah baiknya masyarakat mulai memperhatikan kafa’ah seperti yang dilakukan oleh keluarga Kiyai.
Penutup
Abdul Hadi, Relevansi Kafa'ah dalam Pembentukan Keluarga Sakinah di Desa Paleyan Kecamatan Kapongan Kabupaten Bondowoso, (Skripsi: STAIN Jember, 2009). Nur Ritonga, Syaoqon Hilali, Konsep Keluarga Sakinah pada Masyarakat Muslim Pedesaan, (Skripsi: UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 2015).