PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana kriteria kedewasaan sebagai kriteria perkawinan menurut Masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan ditinjau dari hukum Islam.
Tujuan Penelitian
Manfaat penelitian
Telaah Pustaka
Metode penelitian
- Sumber Data
- Metode Pengumpulan Data
- Metode Pengolah Data
Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas, dimana pewawancara mempunyai kebebasan untuk mengajukan berbagai pertanyaan, namun tetap mempertimbangkan data yang dikumpulkan. Sedangkan wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas, dimana pewawancara bebas bertanya apa saja, namun juga mengingat data yang akan dikumpulkan. Dengan demikian, peneliti bisa mendapatkan data yang benar-benar valid dan terfokus pada pokok permasalahan yang diteliti.
Observasi merupakan suatu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat gejala-gejala yang diteliti secara sistematis.5 Dalam hal ini yang akan diamati oleh peneliti adalah masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan dan aktivitasnya. Peneliti membaca dan menganalisis secara mendalam seluruh data yang telah dikumpulkan baik melalui wawancara, observasi atau sumber data lain yang berkaitan dengan persepsi masyarakat Desa Jetis Lor mengenai batasan kemampuannya dalam menikah. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diungkapkan informan.7 c.
Sistematika Pembahasan
Bab ini merupakan inti pembahasan yang berisi tentang analisis pendapat masyarakat Desa Jetis Lor mengenai batasan-batasan boleh menikah, termasuk pengertian dan kriteria boleh menikah dalam perspektif fiqih, serta pendapat masyarakat Desa Jetis Lor. masyarakat mengenai kelangsungan hidup dan kedewasaan sebagai kriteria pernikahan. .
Pengertian Nikah
Akhir dari definisi di atas mengandung makna bahwa salah satu akibat dari akad nikah adalah terciptanya hak dan kewajiban bersama antara suami dan istri. Masih berkaitan dengan pembahasan mengenai pengertian perkawinan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan demikian: “Perkawinan adalah ikatan batin dan lahiriah. antara seorang laki-laki dan perempuan lain sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Menurut Amir Syarifuddin, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari rumusan di atas, yaitu: Pertama, penggunaan kata: “a” man dan “.
Ketiga, definisi tersebut juga menekankan pada tujuan perkawinan, yaitu terbentuknya keluarga yang bahagia dan kekal, sekaligus mengingkari perkawinan mut’ah seperti halnya perkawinan mut’ah dan perkawinan tahlıl. Pertama, kesiapan (al-tarâdl); bahwa tidak boleh ada unsur pemaksaan, baik fisik maupun psikis, pada kedua belah pihak yaitu calon suami dan calon istri dalam perkawinan. Kedua, kesetaraan (almasâwâh); bahwa dalam suatu perkawinan tidak boleh terjadi diskriminasi dan ketundukan antara dua pihak, karena menurut mereka lebih diuntungkan dalam mengambil suatu kebijakan, yang berakibat merugikan pihak lain, karena perkawinan hendaknya dipahami sebagai suatu hubungan kemitraan yang setara antara laki-laki, wanita dan wanita serta anak-anak yang telah dilahirkan.
Ketiga, keadilan (al-adâla); bahwa penyelenggaraan kehidupan rumah tangga memerlukan adanya kesepahaman antara suami dan istri, yang keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Keempat, manfaat (al-mashlahah); bahwa yang diperlukan dalam melangsungkan sebuah pernikahan adalah bagaimana menciptakan kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, yang dapat membawa dampak positif bagi masyarakat luas. Kelima, pluralisme (al-ta'addudiyyah); bahwa perkawinan dapat dilangsungkan tanpa perbedaan status sosial, budaya, dan agama sepanjang dapat mewujudkan keluarga bahagia, sejahtera lahir dan batin.
Keenam, demokratis (al-dîmuqrathiyyah); agar suatu perkawinan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan fungsinya.
Hukum Perkawinan
Perkahwinan yang sah menjadi wajib apabila seseorang itu dianggap cukup rezeki, dari segi keadaan fizikal, dan berkeras untuk berkahwin, sehingga jika dia tidak berkahwin, dia terjerumus ke dalam zina, maka orang yang demikian itu terikat untuk berkahwin. Perkahwinan yang sah menjadi makruh apabila seseorang yang dilihat dari sudut fizikal sudah sesuai untuk dikahwinkan, tetapi belum terlalu mendesak dan kos untuk berkahwin belum ada, jadi jika perkahwinan itu akan menjadikan mereka hanya nyawanya. isteri. dan anak-anak yang celaka, maka makruh baginya untuk berkahwin. Perkahwinan yang sah menjadi haram apabila seorang lelaki menyedari bahawa dia tidak mampu menjalani kehidupan berumah tangga, melaksanakan kewajipan rumah tangga seperti mencampuri urusan isteri.
Sebaliknya jika seorang wanita menyadari bahwa ia tidak mampu memenuhi hak-hak suaminya atau ada hal-hal yang membuatnya tidak mampu memenuhi kebutuhan batin suaminya karena sakit jiwa, kusta, atau penyakit lain pada kemaluannya, maka ia tidak boleh berbohong. itu, tapi dia harus menjelaskan bahwa ini semua tentang pria itu.
Pengertian istiṭā’ah
Hal ini penulis lakukan di Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan karena tempat tersebut merupakan daerah pegunungan yang biasa dinikahi oleh orang pegunungan tanpa memikirkan kedewasaan atau penghidupan. Namun pada masyarakat Desa Jetis Lor masih terdapat 10 warga yang terlambat menikah dan juga terdapat 5 warga yang menikah dini. Hal ini sejalan dengan tujuan peneliti untuk mengetahui pemahaman batasan kemampuan menikah menurut masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan.
Selanjutnya Desa Jetis Lor dipimpin oleh Kepala Desa Ali Murtadlo (dikenal dengan Mbah Ngali) hingga tahun 1964. Berikut sikap masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan terhadap kriteria kedewasaan sebagai tolak ukur bisa menikah. : . Berikut pandangan Pak Winarno selaku ketua RT di Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan.
Warga Desa Jetis Lor percaya bahwa kedewasaan seseorang diukur dari kesiapan internal dan eksternal pasangannya. Menurut warga Desa Jetis Lor, usia ideal seseorang untuk menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Hal ini juga sejalan dengan pendapat masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan bahwa dalam melangsungkan perkawinan tidak ada batasan kedewasaan seseorang siap menikah.
Hal inilah yang membuat masyarakat di Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan menetapkan bahwa masyarakat yang siap menikah adalah pada usia sekitar 25 tahun untuk pria dan 21 tahun untuk wanita. Dan juga menurut masyarakat desa Yetis Lor, mereka menganggap usia menikah harus sudah matang. Menurut warga Desa Jetis Lor, semakin tua usia suatu pasangan, maka pasangannya akan semakin matang dan berdampak pada kestabilan keluarga di masa depan.
Menurut masyarakat Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, dalam membangun rumah tangga yang baik sangat penting untuk memenuhi kebutuhan secara materi dan emosional. Pandangan masyarakat Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan terhadap kedewasaan sebagai kriteria boleh menikah sudah sesuai dengan hukum istitaah Islam. Begitu pula dengan masyarakat Desa Jetis Lor yang berpendapat bahwa masyarakat yang telah baligh boleh menikah, namun usia ideal bagi perempuan adalah 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.
Pandangan masyarakat Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan terhadap pendapatan sebagai kriteria untuk bisa menikah sudah sesuai dengan hukum istitaah Islam. Masyarakat Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, meyakini bahwa orang yang menikah harus mempunyai penghasilan meski hanya sedikit, karena memberikan nafkah kepada istri adalah hal yang wajib.
Kritetria Istiṭā’ah Menikah
Pandangan Masyarakat Terhadap Kriteria Kedewasaan Sebagai
Yang pertama adalah seseorang yang sudah matang dan siap menikah harus siap secara lahir dan batin, usia bukanlah tolak ukur kedewasaan seseorang, yang kedua adalah sudah mendapat restu dari orang tuanya. Menurut Pak. Winarno adalah sosok yang dikatakan sudah dewasa, siap lahir batin, dan usia tidak dijadikan patokan. Tentu saja orang yang ingin menikah harus mempunyai penghasilan, meski hanya cukup untuk membeli satu kilo beras.
Artinya, orang yang menikah harus sudah mempunyai pekerjaan atau penghasilan. Itulah bukti kesediaan seseorang untuk menikah. Meski jumlahnya sedikit, namun jika ingin menikah harus punya penghasilan. Warga Desa Jetis Lor juga meyakini bahwa siapa pun yang ingin menikah harus sudah bekerja atau mempunyai penghasilan, meski kecil. Hal ini merupakan bentuk kesediaan seseorang untuk melangsungkan pernikahan. Menurut masyarakat Desa Jetis Lor, hubungan keluarga bukan sekedar hubungan sementara, juga bukan hubungan komersial yang hanya memperhitungkan keuntungan dan kerugian saja.
Masyarakat Desa Jetis Lor menganut aturan bahwa yang siap menikah adalah usia 25 tahun untuk laki-laki dan 21 tahun untuk perempuan. Pasalnya, orang yang menikah di bawah usia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki sering kali bertengkar karena hal sepele. menyebabkan perceraian. Oleh karena itu, masyarakat Desa Jetis Lor meyakini bahwa seseorang bisa disebut dewasa tidak hanya dari segi usia, tetapi juga dari segi rasa tanggung jawab dan tantangan mental dalam mengarungi rumah tangga perkawinan. Berdasarkan uraian di atas, maka yang perlu ditonjolkan adalah pendapat masyarakat Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, mengenai kedewasaan sebagai tolak ukur untuk dapat menikah yang diharamkan dalam Islam, khususnya istilah perkawinan. yang sejalan yaitu masa pubertas.
Namun menurut masyarakat Desa Jetis Lor, menikah terlalu tua juga tidak baik dan akan menimbulkan pandangan berbeda di mata masyarakat setempat. Oleh karena itu, syarat umur yang sering dijadikan ukuran kedewasaan seseorang didasarkan pada adat istiadat umum yang berlaku, dimana seseorang pada umur yang telah ditentukan biasanya menunjukkan tanda-tanda kedewasaan dan juga orang yang menikah dibawah standar yang digunakan. sebagai acuan masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan. Kabupaten Pacitan akan mempengaruhi kehidupan setelah menikah. Jadi yang dimaksud di sini relevan dengan pandangan masyarakat Desa Jetis Lor, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan bahwa seorang laki-laki wajib memberikan dukungan mental dan spiritual sesuai kemampuannya dan tidak membuat istri menderita.
Berdasarkan penjelasan di atas, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa pendapat masyarakat desa Jetis Lor mengenai batasan pendapatan sebagai kriteria untuk dapat menikah sudah sesuai dengan apa yang ada dalam syariat Islam. Karena masyarakat Desa Jetis Lor berpandangan demikian, banyak generasi muda Desa Jetis Lor yang lebih memilih untuk menunda pernikahannya dan menunggu hingga mereka berumah tangga atau mempunyai penghasilan tetap. Namun sebagian besar masyarakat Desa Jetis Lor Kecamatan Nawangan menunda pernikahan karena masih memikirkan nafkah ketika menikah.
Pandangan masyarakat terhadap kriteria mampu dalam menikah
Analisa pandangan masyarakat terhadap kriteria memberi nafkah
PENUTUP
Saran
Masyarakat Desa Jambangan hendaknya lebih memahami tentang batasan-batasan untuk bisa menikah, agar generasi muda Desa Jambangan tidak terlalu lama menyendiri hingga usia 35 tahun, karena dapat berdampak kurang baik bagi pandangan masyarakat. dari diri mereka sendiri. Musyarrafa, Nur Ihdatul, Batasan Usia Menikah dalam Islam; Analisis Madhab Ulama Tentang Batasan Usia Menikah 2020.