PANDUAN ALAT PELINDUNG DIRI RSIA HUSADA BUNDA
1
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RSIA HUSADA BUNDA Nomor :
TENTANG
PANDUAN ALAT PELINDUNG DIRI
MENIMBANG :
a) Bahwa alat pelindung diri merupakan salah satu kewaspadaan standar yang masuk program pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit
b) Bahwa untuk melindungi tenaga kesehatan dan tenaga lainnya rumah sakit agar aman, nyaman, dan sehat perlu memakai alat pelindung diri yang sesuai standar
c) Bahwa untuk maksud sebagaimana tersebut di atas, maka perlu ditetapkan dengan keputusan Direktur RSIA Husada Bunda
MENGINGAT :
2 a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan;
b) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;
c) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Kesehatan;
d) Peraturan Presiden RI Nonor 77 Tahun 2015 Tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit;
MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : KEPUTUSAN DIREKTUR RSIA HUSADA BUNDA TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI DI RSIA HUSADA BUNDA
KESATU : Keputusan Direktur RSIA Husada Bunda tentang Panduan Alat Pelindung Diri di RSIA Husada Bunda.
KEDUA : Keputusan Direktur RSIA Husada Bunda tahun 2023 tentang pemberlakuan pemakaian alat pelindung diri di seluruh lingkungan rumah sakit
KETIGA
KEEMPAT
:
:
Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pemakaian alat pelindung diri di RSIA Husada Bunda diawasi langsung oleh Tim PPI
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Malang Pada Tanggal : 01 Januari 2023 Direktur RSIA Husada Bunda
Dr. Imelda F. Donosepoetro, MMRS
DAFTAR ISI
3
DAFTAR ISI ……….ii
BAB I ………..……1
DEFINISI
BAB II ………13
RUANG LINGKUP
BAB III ………14
TATA LAKSANA
BAB IV ………....18
DOKUMENTASI
4
BAB I DEFINISI
1. Definisi APD
Alat Pelindung Diri adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD dipakai setelah usaha rekayasa (engineering) dari cara kerja yang aman.
Peralatan pelindung pribadi meliputi sarung tangan, masker/ respirator, pelindung mata (perisai muka, kacamata), kap, gaun, apron, dan barang lainnya. Di banyak Negara kap, masker, gaun dan duk terbuat dari kain atau kertas. Penahan yang sangat efektif, terbuat dari kain yang di olah atau bahan sintetis yang dapat menahan air atau cairan lain (darah) untuk menembusnya. Bahan – bahan tahan cairan ini, tidak tersedia secara luas karena mahal. Di banyak Negara, kain katun yang enteng (dengan hitungan benang 140 / inci²) adalah bahan yang sering dipakai untuk pakaian bedah (masker, kap dan gaun) dan duk.
Sayangnya, katun enteng itu tidak memberikan tahanan efektif, karena basah dapat menembusnya dengan mudah, yang membuat kontaminasi.
Kain dril, kanvas dan kain dril yang berat, sebaliknya, terlalu rapat untuk ditembus uap (tidak dapat disterilkan), sangat sukar di cuci dan makan waktu untuk dikeringkan.
Kalau dipakai kain, warnanya harus putih atau terang agar kotoran dan kontaminasi dapat terlihat. Kap, masker, dan tirai yang terbuat dari kertas tidak boleh dipakai ulang karena tidak ada cara untuk membersihkannya. Kalau Anda tidak dapat mencucinya, jangan dipakai ulang.
2. Jenis-Jenis APD
A. Alat Pelindung Kepala
Berdasarkan fungsinya dapat di bagi 3 bagian:
a. Topi pengaman (Safety Helmet)
Untuk melindungi kepala dari benturan atau pukulan benda – benda.
b. Topi / Tudung
Untuk melindungi kepala dari api, uap – uap korosif, debu, kondisi iklim yang v
buruk.
c. Tutup Kepala
Untuk menjaga kebersihan kepala dan rambut atau mencegah lilitan rambut dari mesin.
Alat pelindung kepala ini dapat dilengkapi dengan alat pelindung diri yang lain, yaitu:
●Kaca Mata (gogles)
●Penutup muka (face shields) B. Sarung Tangan
Sarung tangan melindungi tangan dari bahan infeksius dan melindungi pasien dari mikroorganisme pada tangan petugas. Alat ini merupakan pembatas fisik terpenting untuk mencegah penyebaran infeksi, tetapi harus diganti setiap kontak dengan satu pasien ke pasien lainnya untuk mencegah kontaminasi silang. Umpamanya, sarung tangan pemeriksaan harus dipakai kalau menangani darah, sekresi dan eksresi (kecuali keringat), alat atau permukaan yang terkontaminasi dan kalau menyentuh kulit atau selaput lendir.
Ingat memakai sarung tangan tidak dapat menggantikan tindakan mencuci tangan atau pemakaian antiseptik yang digosokkan pada tangan.
Penggunaan sarung tangan dan kebersihan tangan, merupakan komponen kunci dalam meminimalkan penyebaran penyakit dan mempertahankan suatu lingkungan bebas infeksi (Garner dan Favero 1986). Selain itu, pemahaman mengenai kapan sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi diperlukan dan kapan sarung tangan tidak perlu digunakan, penting untuk diketahui agar dapat menghemat biaya dengan tetap menjaga keamanan pasien dan petugas.
●Jenis Sarung Tangan Ada 3 jenis sarung tangan:
a. Sarung Tangan Bedah
Dipakai sewaktu melakukan tindakan invasif atau pembedahan b. Sarung Tangan Pemeriksaan
Dipakai untuk melindungi petugas kesehatan sewaktu melakukan pemeriksaan vi
atau pekerjaan rutin
c. Sarung Tangan Rumah Tangga
Dipakai sewaktu memproses peralatan, menangani bahan – bahan terkontaminasi, dan sewaktu membersihkan permukaan yang terkontaminasi.
Sarung tangan bedah yang baik terbuat dari bahan lateks, karena elastis, sensitive dan tahan lama, dan dapat disesuaikan dengan ukuran tangan. Karena meningkatnya masalah alergi lateks, sedang dikembangkan bahan serupa, yang disebut” nitril “yang merupakan bahan sintetik seperti lateks. Bahan ini tidak menimbulkan reaksi alergi. Di beberapa negara jenis sarung tangan pemeriksaan yang tersedia adalah dari vinil, suatu bahan sintetik yang lebih murah dari pada lateks. Namun, vinil tidak elastis, sehingga kurang pas dan mudah robek. Sarung tangan pemeriksaan yang berkualitas baik yang terbuat dari kabel tebal, kurang fleksibel dan sensitive, dan dapat memberi perlindungan maksimum sebagai pelindung pembatas.
●Kapan Pemakaian Sarung Tangan Diperlukan
Meskipun efektifitas pemakaian sarung tangan dalam mencegah kontaminasi dari petugas kesehatan telah terbukti berulang kali (Tenorio et al. 2001) tetapi pemakaian sarung tangan tidak menggantikan kebutuhan untuk mencuci tangan.
Sebab sarung tangan bedah lateks dengan kualitas terbaik sekalipun, mungkin mengalami kerusakan kecil yang tidak terlihat, sarung tangan mungkin robek pada saat digunakan atau tangan terkontaminasi pada saat melepas sarung tangan (Bagg. Jenkins dan Barker 1990; Davis 2001)
Ingatlah untuk tetap mencuci tangan atau menggunakan antiseptik cair yang digosokkan di tangan sebelum memakai sarung tangan dan setelah melepas sarung tangan.
Tergantung keadaan, sarung tangan periksa atau serbaguna bersih harus digunakan oleh semua petugas ketika:
- Ada kemungkinan kontak tangan dengan darah atau cairan tubuh lain, membran mukosa atau kulit yang terlepas
- Melakukan prosedur medis yang bersifat invasive misalnya menusukkan sesuatu ke dalam pembuluh darah, seperti memasang infus
vii
- Menangani bahan- bahan bekas pakai yang telah terkontaminasi atau menyentuh permukaan yang tercemar
- Menerapkan Kewaspadaan Berdasarkan Penularan Melalui Kontak (yang diperlukan pada kasus penyakit menular melalui kontak yang telah diketahui atau dicurigai), yang mengharuskan petugas kesehatan menggunakan sarung tangan bersih, tidak steril ketika memasuki ruangan pasien. Petugas kesehatan harus melepas sarung tangan tersebut sebelum meninggalkan ruangan pasien dan mencuci tangan dengan air dan sabun atau dengan handrub berbasis alkohol.
- Satu pasang sarung tangan harus digunakan untuk setiap pasien, sebagai upaya menghindari kontaminasi silang (CDC 1987). Pemakaian sepasang sarung tangan yang sama atau mencuci tangan yang masih bersarung tangan, ketika berpindah dari satu pasien ke pasien yang lain atau ketika melakukan perawatan di bagian tubuh yang kotor kemudian berpindah ke bagian tubuh yang bersih, bukan merupakan praktek yang aman. Doebbeling dan Colleagues (1988) menemukan bakteri dalam jumlah bermakna pada tangan petugas yang hanya mencuci tangan dalam keadaan masih memakai sarung tangan dan tidak mengganti sarung tangan ketika berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya.
●Hal Yang Harus Dilakukan Bila Persediaan Sarung Tangan Terbatas
- Bila sumber daya terbatas dan jumlah sarung tangan periksa tidak memadai, sarung tangan bedah sekali pakai (disposable) yang sudah digunakan dapat diproses ulang dengan cara:
1. Dekontaminasi dengan meredam dalam larutan klorin 0,5 % selam 10 menit
2. Dicuci dan bilas, serta dikeringkan
3. Sterilkan dengan menggunakan disinfeksi tingkat tinggi (dengan di kukus). Dahulu perebusan telah direkomendasikan sebagai cara untuk disinfeksi tingkat tinggi sarung tangan bedah. Namun sulit untuk mengeringkan sarung tangan tanpa mengkontaminasinya. Karena pengukusan lebih mudah dilakukan dan sama – sama efektif, maka cara viii
ini yang sekarang direkomendasikan untuk disinfeksi tingkat tinggi sarung tangan bedah. Jangan memproses ulang sarung tangan yang retak, mengelupas atau memiliki lubang atau robekan yang dapat terdeteksi (Bagg, Jenkins dan Barker 1990)
- Bila sarung tangan rumah tangga tidak tersedia, gunakan dua lapis sarung tangan periksa atau sarung tangan bedah yang telah diproses untuk memberikan perlindungan yang cukup bagi petugas kebersihan, petugas laundry, pekarya serta petugas yang menangani dan membuang limbah medis.
●Hal Yang Harus Diperhatikan Pada Pemakaian Sarung Tangan
- Gunakan sarung tangan dengan ukuran yang sesuai, khususnya untuk sarung tangan bedah. Sarung tangan yang tidak sesuai dengan ukuran tangan dapat mengganggu keterampilan dan mudah robek.
- Jaga agar kuku selalu pendek untuk menurunkan resiko sarung tangan robek dan mengurangi resiko penularan penyakit
- Tarik sarung tangan ke atas manset gaun (jika anda memakainya) untuk melindungi pergelangan tangan.
- Gunakan pelembab yang larut dalam air (tidak mengandung lemak) untuk mencegah kulit tangan kering / berkerut.
- Jangan gunakan lotion atau krim berbasis minyak, karena akan merusak sarung tangan bedah maupun sarung tangan periksa dari lateks.
- Jangan menggunakan cairan pelembab yang mengandung parfum karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
- Jangan menyimpan sarung tangan di tempat dengan suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin misalnya di bawah sinar matahari langsung, di dekat pemanas, AC, cahaya ultraviolet, cahaya fluoresen atau mesin rontgen, karena dapat merusak bahan sarung tangan sehingga mengurangi efektifitasnya sebagai pelindung.
●Reaksi Alergi Terhadap Sarung Tangan
Reaksi alergi terhadap sarung tangan lateks semakin banyak dilaporkan oleh berbagai petugas di fasilitas kesehatan, termasuk bagian rumah tangga, petugas laboratorium dan dokter gigi. Jika memungkinkan, sarung tangan bebas lateks ix
(nitril) atau sarung tangan lateks rendah allergen harus digunakan, jika dicurigai terjadi alergi (reaksi alergi terhadap nitril juga terjadi, tetapi lebih jarang). Selain itu, pemakaian sarung tangan bebas bedak juga direkomendasikan. Sarung tangan dengan bedak dapat menyebabkan reaksi lebih banyak, karena bedak pada sarung tangan membawa partikel leteks ke udara. Jika hal ini tidak memungkinkan, pemakaian sarung tangan kain atau vinil di bawah sarung tangan lateks dapat membantu mencegah sensitisasi kulit. Meskipun demikian, tindakan ini tidak akan dapat mencegah sensitisasi pada membran mukosa mata dan hidung.
(Garner dan HICPAC 1996).
Pada sebagian besar orang yang sensitif, gejala yang muncul adalah warna merah pada kulit, hidung berair dan gatal – gatal pada mata, yang mungkin berulang atau semakin parah misalnya menyebabkan gangguan pernafasan seperti asma.
Reaksi alergi terhadap lateks dapat muncul dalam waktu 1 bulan pemakaian.
Tetapi pada umumnya reaksi baru terjadi setelah pemakaian yang lebih lama, sekitar 3 – 5 tahun., bahkan sampai 15 tahun (Baumann 1992), meskipun pada orang yang rentan. Belum ada terapi atau desensitisasi untuk mengatasi alergi lateks, satu – satunya pilihan adalah menghindari kontak.
C. Masker
Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar sewaktu petugas kesehatan atau petugas bedah berbicara, batuk atau bersin serta untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan. Bila masker tidak terbuat dari bahan tahan cairan, maka masker tersebut tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut.
Masker yang ada, terbuat dari berbagai bahan seperti katun ringan, kain kassa, kertas dan bahan sintetik yang beberapa di antaranya tahan cairan. Masker yang di buat dari katun atau kertas sangat nyaman tetapi tidak dapat menahan cairan atau efektif sebagai filter. Masker yang dibuat dari bahan sintetik dapat memberikan perlindungan dari tetesan partikel berukuran besar (> 5 µm) yang tersebar melalui batuk atau bersin ke orang yang berada di dekat pasien (kurang dari 1 meter).
x
Namun masker bedah terbaik sekalipun tidak dirancang untuk benar – benar menutup pas secara erat (menempel sepenuhnya pada wajah) sehingga mencegah kebocoran udara pada bagian tepinya. Dengan demikian, masker tidak dapat secara efektif menyaring udara yang dihisap (Chen dan Welleke 1992) dan tidak dapat direkomendasikan untuk tujuan tersebut. Ketika melepas masker, pegang bagian talinya karena bagian tengah masker merupakan bagian yang paling banyak terkontaminasi (Rothrock, Mc. Ewen dan Smith 2003).
Pada perawatan pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui udara atau droplet, masker yang digunakan harus dapat mencegah partikel mencapai membran mukosa dari petugas kesehatan.
●Masker Dengan Efisiensi Tinggi
Masker dengan efisiensi tinggi merupakan jenis masker khusus yang direkomendasikan, bila penyaringan udara dianggap penting misalnya pada perawatan seseorang yang telah diketahui atau dicurigai menderita flu burung atau SARS. Masker dengan efisiensi tinggi misalnya N95 melindungi dari partikel dengan ukuran ≤ 5 mikron yang di bawa oleh udara. Pelindung ini terdiri dari banyak lapisan bahan penyaring dan harus dapat menempel dengan erat pada wajah tanpa ada kebocoran. Dilain pihak pelindung ini juga lebih mengganggu pernafasan dan lebih mahal daripada masker bedah. Sebelum petugas memakai masker N95 perlu diadakan fit test pada setiap pemakaiannya.
Ketika sedang merawat pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui airborne maupun droplet, seperti misalnya flu burung atau SARS, petugas kesehatan harus menggunakan masker efisiensi tinggi.
Pelindung ini merupakan perangkat N-95 yang telah disertifikasi oleh US National Institute for Occupational Safety dan Health (NIOSH), disetujui oleh European CE, atau standard nasional / regional yang sebanding dengan standar tersebut dari Negara yang memproduksinya. Masker efisiensi tinggi dengan tingkat efisiensi lebih tinggi dapat juga digunakan. Masker efisiensi tinggi, seperti khususnya N-95, harus di uji pengepasannya (fit test) untuk menjamin bahwa xi
perangkat tersebut pas dengan benar pada wajah pemakainya.
●Pemakaian Masker Efisiensi Tinggi Petugas Kesehatan harus:
- Memeriksa sisi masker yang menempel pada wajah untuk melihat apakah lapisan utuh dan tidak cacat. Jika bahan penyaring rusak atau kotor, buang masker tersebut. Selain itu, masker yang ada keretakan, terkikis, terpotong atau terlipat pada sisi dalam masker, juga tidak dapat digunakan.
- Memeriksa tali – tali masker untuk memastikan tidak terpotong atau rusak.
Tali harus menempel dengan baik di semua titik sambungan.
- Memastikan bahwa klip hidung yang terbuat dari logam (jika ada) berada pada tempatnya dan berfungsi dengan baik.
●Fit Test Untuk Masker Efisiensi Tinggi
Fungsi masker akan terganggu / tidak efektif, jika masker tidak dapat melekat secara sempurna pada wajah, seperti pada keadaan di bawah ini:
- Adanya janggut, cambang atau rambut yang tumbuh pada wajah bagian bawah atau adanya gagang kacamata.
- Ketiadaan satu atau dua gigi pada kedua sisi dapat mempengaruhi perlekatan bagian wajah masker.
- Apabila klip hidung dari logam dipencet, dijepit, karena akan menyebabkan kebocoran. Ratakan klip tersebut di atas hidung setelah anda memasang masker, menggunakan kedua telunjuk dengan cara menekan dan menyusuri bagian atas masker.
- Jika mungkin, dianjurkan fit test dilakukan setiap saat sebelum memakai masker efisiensi tinggi.
●Kewaspadaan
Beberapa masker mengandung komponen lateks dan tidak bisa digunakan oleh individu yang alergi terhadap lateks. Petugas harus diberi cukup waktu untuk menggunakan dan mengepaskan masker dengan baik sebelum bertemu dengan pasien.
D. Alat Pelindung Mata
xii
Melindungi petugas dari percikan darah atau cairan tubuh lain dengan cara melindungi mata. Pelindung mata mencakup kacamata (goggles) plastik bening, kaca mata pengaman, pelindung wajah dan visor. Kacamata koreksi atau kacamata dengan lensa polos juga dapat digunakan, tetapi hanya jika ditambahkan pelindung pada bagian sisi mata. Petugas kesehatan harus menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah, jika melakukan tugas yang memungkinkan adanya percikan cairan secara tidak sengaja ke arah wajah. Bila tidak tersedia pe lindung wajah, petugas kesehatan dapat menggunakan kacamata pelindung atau kacamata biasa serta masker.
●Ada beberapa jenis alat pelindung mata diantaranya:
1. Kaca Mata Biasa (Spectacle Gogles)
Kaca mata terutama pelindung mata dapat dengan mudah atau tanpa pelindung samping. Kaca mata dengan pelindung samping lebih banyak memberikan perlindungan.
2. Gogles
Mirip kacamata, tetapi lebih protektif dan lebih kuat terikat karena memakai ikat kepala. Dipakai untuk pekerjaan yang amat membahayakan bagi mata.
E. Alat Pelindung Pernafasan
Ada 3 jenis alat pelindung pernafasan:
1. Respirator yang sifatnya memurnikan udara
●Respirator yang mengandung bahan kimia Topeng gas dengan kamister
●Respirator dengan cartridge
●Respirator dengan filter mekanik
Bentuk hampir sama dengan respirator cartridge kimia, udara berupa saringan/ filter. Biasanya di gunakan pada pencegahan debu
●Respirator yang mempunyai filter mekanik dan bahan kimia 2. Respirator yang dihubungkan dengan supply udara bersih
Supply udara berasal dari:
●Saluran udara bersih atau kompresor
xiii
●Alat pernafasan yang mengandung udara (SCBA) Biasanya berupa tabung gas yang berisi:
- Udara yang dimampatkan - Oksigen yang dimampatkan - Oksigen yang dicairkan 3. Respirator dengan supply oksigen
Yang harus diperhatikan pada respirator jenis tersebut di atas:
●Pemilihan yang tepat sesuai dengan jenis bahaya
●Pemakaian yang tepat
●Pemeliharaan dan pencegahan terhadap penularan penyakit
F. TOPI
Topi digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan rambut tidak masuk ke dalam luka selam pembedahan. Topi harus cukup besar untuk menutup semua rambut. Meskipun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan pada pasien, tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau menyemprot.
G. GAUN PELINDUNG
Gaun pelindung digunakan untuk menutupi atau mengganti pakaian biasa atau seragam lain, pada saat merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui droplet/ airbone. Pemakaian gaun pelindung terutama adalah untuk melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi respirasi.
Ketika merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular tersebut, petugas kesehatan harus mengenakan gaun pelindung setiap memasuki ruangan untuk merawat pasien karena ada kemungkinan terpercik atau tersemprot darah, cairan tubuh, sekresi atau eksresi. Pangkal sarung tangan harus menutupi ujung lengan gaun sepenuhnya. Lepaskan gaun sebelum meninggalkan area pasien.
Setelah gaun dilepas, pastikan bahwa pakaian dan kulit tidak kontak dengan bagian yang potensial tercemar, lalu cuci tangan segera untuk mencegah berpindahnya organisme. Gaun pelindung harus dianggap sebagai alat pelindung diri. Gaun xiv
pelindung khusus untuk pekerjaan dengan sumber – sumber bahaya tertentu seperti:
●Terhadap Radiasi Panas
Gaun pelindung untuk radiasi panas, radiasi harus dilapisi bahan yang bisa merefleksikan panas, biasanya Alumunium dan berkilau. Bahan – bahan pakaian lain yang bersifat isolasi terhadap panas adalah: 1000 C, katun, asbes (kalau⁰ sampai 500 C).⁰
●Terhadap Radiasi Mengion
Gaun pelindung harus dilapisi dengan timbal biasanya berupa apron. Pakaian ini sering digunakan di bagian radiologi.
●Terhadap cairan dan bahan – bahan kimia.
Biasanya terbuat dari bahan plastic atau karet
H. APRON
Apron yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan penghalang tahan air untuk sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan. Petugas kesehatan harus mengenakan apron di bawah gaun penutup ketika melakukan perawatan langsung pada pasien, membersihkan pasien, atau melakukan prosedur dimana ada resiko tumpahan darah, cairan tubuh atau sekresi. Hal ini penting jika gaun pelindung tidak tahan air. Apron akan mencegah cairan tubuh pasien mengenai baju dan kulit petugas kesehatan.
I. PELINDUNG KAKI
Pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat benda tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas kaki. Oleh karena itu, sandal. “sandal jepit “atau sepatu yang terbuat dari bahan lunak (kain) tidak boleh dikenakan. Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih banyak perlindungan., tetapi harus dijaga tetap bersih dan bebas kontaminasi darah atau tumpahan cairan tubuh lain. Penutup sepatu tidak diperlukan jika sepatu bersih.
Sepatu yang tahan terhadap benda tajam atau kedap air harus tersedia di kamar bedah. Sebuah penelitian menyatakan bahwa penutup sepatu dari kain atau kertas dapat meningkatkan kontaminasi karena memungkinkan darah merembes melalui xv
sepatu dan seringkali digunakan sampai di luar ruang operasi. Kemudian dilepas tanpa sarung tangan sehingga terjadi pencemaran. (Summers et.al. 1992).
3. PERLENGKAPAN PERLINDUNGAN DIRI
Pelindung pembatas sekarang umumnya diacu sebagai Perlengkapan Perlindungan Diri (PPD), telah digunakan bertahun-tahun lamanya untuk melindungi pasien dari mikroorganisme yang terdapat pada petugas yang bekerja pada suatu tempat perawatan kesehatan. Akhir-akhir ini, dengan timbulnya AIDS dan HIV dan munculnya kembali Tuberkulosis di banyak Negara, penggunaan PPD manjadi sangat penting untuk melindungi petugas.
PPD seperti sarung tangan pemeriksaan yang bersih dan tidak steril sangat penting dalam mengurangi resiko penularan, namun yang lainnya (seperti pakaian, topi, dan sepatu tertutup) terus dipakai tanpa bukti yang meyakinkan tentang efektivitasnya (Larson dkk 1995). Kenyataannya, beberapa praktik yang biasa, seperti semua petugas di ruang operasi, bukan hanya tim bedah saja, harus memakai masker, akan meningkatkan biaya, sedangkan perlindungan yang diberikan sangat minimal, kalau pun ada, perlindungan bagi pasien dan staf (Mitcell 1991). Tambahan lagi, demi efektivitasnya, PPD harus digunakan dengan tepat. Umpamanya, gaun bedah dan kain penutup telah menunjukkan dapat mencegah infeksi luka hanya kalau kering. Kalau basah, kain yang bersifat spons yang mengisap bakteri dari kulit atau peralatan dapat menembus kain yang kemudian dapat mengkontaminasi luka bedah.
Sebagai akibatnya, administrator rumah sakit, dan petugas pelayanan kesehatan harus menyadari bukan hanya keuntungan dan keterbatasan PPD yang khusus, melainkan juga peranan PPD dalam mencegah infeksi, agar dapat digunakan secara efektif dan efisien.
xvi
BAB II RUANG LINGKUP
Sasaran dalam penerapan panduan APD ini seluruh petugas yang ada di RS RSIA Husada Bunda, baik pasien, penunggu maupun pengunjung.
xvii
BAB III TATA LAKSANA
1. Faktor- Faktor Penting Yang Harus Diperhatikan Pada Pemakaian APD A. Kelemahan penggunaan APD:
- Sarung tangan sering digunakan lebih dari satu pasien, sehingga menyebarkan infeksi dari satu pasien ke pasien lainnya
- Kemampuan perlindungan yang tidak sempurna - APD tidak di pakai karena kurang nyaman
- Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien, umumnya sebelum memasuki ruangan
- Gunakan dengan hati – hati jangan menyebarkan kontaminasi
● Lepas dan buang secara hati – hati ke tempat sampah infeksius yang telah disediakan di ruangan. Lepas masker di luar ruangan
● Segera lakukan pencucian tangan dengan 6 langkah higiene tangan
2. Mengenakan APD
Urutan mengenakan APD a. Memakai gaun
b. Memakai sepatu boat c. Memakai masker d. Memakai topi e. Memakai kaca mata f. Memakai sarung tangan Cara Pemakaian
a. Lepaskan jam tangan b. Lakukan cuci tangan c. Lepaskan jam tangan
d. Lakukan cuci tangan/ handrubing 6 langkah dan keringkan
e. Kenakan gaun/ apron (gaun/ apron dirancang dapat menutup mulai badan, leher, pergelangan tangan (manset), lutut, hingga punggung)
xviii
- Ikatkan tali yang ada di bagian leher gaun
- Kemudian ikatkan tali yang berada di bagian pinggang f. Kenakan sepatu boots karet (jika diperlukan)
g. Kenakan masker
- Talikan pengikat/karet yang pertama di bagian tengah kepala belakang dan talikan pengikat/karet di bagian leher
- Tekan masker bagian pangkal hidung untuk merapatkan dan menyesuaikan dengan bentuk hidung
- Pasangkan masker secara nyaman dengan menarik masker menutupi mulut hingga dagu
Lakukan uji respirasi dengan cara:
- Saat tarik nafas, masker/ respirator collapse
- Saat menghembuskan nafas masker/ respirator mengembang dan lakukan cek adakah kebocoran udara di sekitar wajah
h. Kenakan alat pelindung mata/google i. Kenakan penutup kepala
j. Kenakan sepasang sarung tangan dengan cara:
- Bentangkan dan tarik sarung tangan menutupi apron/ gaun (pada bagian lengan bermanset) dengan cara menyelinapkan jari-jari tangan di bagian dalam sarung tangan
3. Cara Melepas APDUrutan Melepaskan APD a. Sarung Tangan
- Ingatlah bahwa bagian luar sarung tangan telah terkontaminasi
- Pegang bagian luar sarung tangan dengan sarung tangan lainnya, lepaskan - Pegang sarung tangan yang telah dilepas dengan menggunakan tangan yang
masih memakai sarung tangan
- Selipkan jari tangan yang sudah tidak memakai sarung tangan di bawah sarung tangan yang belum di lepas di pergelangan tangan
- Lepaskan sarung tangan di atas sarung tangan pertama - Buang sarung tangan di tempat sampah infeksius
xix
b. Gaun Pelindung
- Ingatlah bahwa bagian depan gaun dan lengan gaun pelindung telah terkontaminasi
- Lepas tali
- Tarik dari leher dan bahu dengan memegang bagian dalam gaun pelindung saja - Balik gaun pelindung
- Lipat atau gulung menjadi gulungan dan letakkan di wadah yang telah disediakan untuk diproses ulang atau buang di tempat sampah infeksius
c. Topi Pelindung
- Ingatlah bahwa bagian luar topi pelindung telah terkontaminasi
- Pegang dan tarik area dalam topi, gulung atau lipat dan letakkan di wadah yang telah disediakan atau buang di tempat sampah infeksius.
d. Kaca Mata atau Pelindung Wajah
- Ingatlah bahwa bagian luar kaca mata atau pelindung wajah telah terkontaminasi
- Untuk melepasnya, pegang karet atau gagang kaca mata
- Letakkan di wadah yang telah disediakan untuk diproses ulang atau buang di tempat sampah infeksius
e. Masker
- Ingatlah bahwa bagian depan masker telah terkontaminasi Jangan Sentuh - Lepaskan tali bagian bawah dan kemudian tali atau karet bagian atas - Buang ke tempat sampah infeksius
f. Sepatu
- Ingatlah bahwa bagian depan masker telah terkontaminasi - Lepaskan kedua sepatu dengan perlahan
- Letakkan sepatu ditempat yang telah disediakan untuk dilakukan desinfektan - Segera cuci tangan setelah memegang sepatu
4. PERAWATAN ALAT PELINDUNG DIRI
Semua alat pelindung diri harus di rawat sedemikian rupa sehingga alat itu tetap memberikan perlindungan yang berhasil guna. Terhadap faktor – faktor yang berbahaya xx
bagi kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini berarti bahwa prosedur yang cocok untuk melaporkan kerusakan pemeriksaan rutin, pembangunan perbaikan dan pembersihan harus dilaksanakan.
Alat pelindung diri harus di letakkan dimana alat – alat itu kemungkinan besok akan di pakai dan di simpan baik – baik supaya tidak memburuk dan rusak. Perawatan dan kontrol terhadap alat pelindung diri penting agar fungsi alat pelindung diri tetap baik.
Alat pelindung diri harus tetap dipelihara agar selalu dalam kondisi yang baik, tetap bersih dan terawat. Pada saat tidak dipakai harus di simpan baik untuk mencegah kerusakan dan hilang. Perawatan Alat Pelindung Diri (APD) dilakukan dengan maksud agar semua pelindung diri tetap memberikan perlindungan yang efektif terhadap faktor – faktor yang berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk mencegah kerusakan dan hilang, sarana pelindung diri harus di simpan dengan baik sesuai dengan ketentuan.
xxi
BAB IV DOKUMENTASI
1. SPO Penggunaan APD 2. SPO Pelepasan APD
3. Form Monitoring Kepatuhan Petugas dalam Penggunaan APD
xxii