Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB) telah menjalankan amanat undang-undang dengan menyusun panduan ini. Kami menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Panduan Studi Kerja Aktual Tematik Pengurangan Risiko Bencana (KKN PRB) yang diinisiasi oleh Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB). Saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh rekan-rekan Forum Pendidikan Tinggi Pengurangan Resiko Bencana (FPT PRB) dan seluruh pihak terkait atas terbitnya panduan ini.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada Forum Pendidikan Tinggi Pengurangan Resiko Bencana (FPT-PRB) yang telah memungkinkan buku ini dapat terselesaikan.
Bab 1 Pendahuluan
- Latar Belakang
- Maksud dan Tujuan
- Output, Outcome, dan Manfaat
- Sasaran
- Daftar Istilah
Pelaksanaan KKN dengan tema pengurangan risiko bencana dapat digunakan untuk mendukung program desa berketahanan atau kesiapsiagaan bencana. Tujuan disusunnya Buku Panduan KKN Pengurangan Risiko Bencana adalah untuk mendorong kegiatan pengurangan risiko bencana (PRB) di perguruan tinggi dan mengimplementasikannya di masyarakat. Tujuan dari buku ini adalah untuk membantu mahasiswa di lokasi KKN sebagai panduan dalam melaksanakan kegiatan Pengurangan Resiko Bencana (PRB).
Panduan ini memudahkan guru dan siswa dalam melaksanakan KKN bertema pengurangan risiko bencana.
Bab 2 Kuliah Kerja Nyata Pengurangan Risiko Bencana (KKN
Pengurangan Resiko Bencana
- Potensi Ancaman Bahaya (Hazard – H)
- Kerentanan (Vulnerability– V)
- Kapasitas (Capacity – C)
- Risiko Bencana (Risk – R)
Risiko bencana akan terjadi apabila potensi ancaman bahaya memenuhi ‘kondisi rentan’ pada saat bencana terjadi. Jadi daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi akan mempunyai potensi risiko bencana yang tinggi jika terjadi bencana. Masyarakat dengan sebagian besar pekerja aktif memiliki risiko bencana yang lebih rendah dibandingkan masyarakat dengan pekerja tidak terampil, masyarakat yang tidak memiliki pendapatan tetap, pekerja, atau masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.
Risiko bencana terjadi sebagai akibat interaksi antara potensi bahaya (H) dan tingkat kerentanan (V) seseorang, komunitas, atau wilayah.
KKN Pengurangan Risiko Bencana sebagai Amanat
- Pendidikan dan Pengajaran
- Penelitian dan Pengembangan
- Pengabdian Kepada Masyarakat
Pendidikan dan pendidikan pengurangan risiko bencana memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses pengurangan risiko bencana memerlukan kegiatan pendidikan dan pengajaran melalui pengembangan kurikulum dan penguatan kegiatan pendidikan melalui penetapan kurikulum KKN tematik pengurangan risiko bencana. Penelitian dan pengembangan di bidang pengurangan risiko bencana juga sangat penting bagi kemajuan pendidikan tinggi, kesejahteraan masyarakat, dan kemajuan bangsa dan negara.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan civitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan negara, termasuk kegiatan pengurangan risiko bencana.
KKN Pengurangan Risiko Bencana
- KKN PRB dilakukan melalui kajian analisis
Kegiatan KKN PRB menunjukkan peran perguruan tinggi dalam (a) setiap upaya koordinasi dan membangun kesamaan persepsi bagi semua pihak untuk melakukan manajemen risiko dan pengurangan risiko. Untuk itu peran perguruan tinggi dalam kegiatan KKN PRB meliputi pengkajian risiko secara partisipatif, penguatan kualitas pelayanan dasar, penguatan sistem koordinasi, penguatan manajemen risiko bencana, dan penguatan sistem kesiapsiagaan untuk mendukung kegiatan kesiapsiagaan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana. Kawasan Rawan Bencana II merupakan kawasan yang berpotensi terdampak aliran lahar, gas beracun, awan panas serta berpotensi terancam longsoran batu (lampu pijar) dan hujan abu lebat dalam radius 4 km dari puncak.
Untuk menambah wawasan mengenai filosofi KKN PRB di daerah rawan bencana, diadakan berbagai pembekalan baik bagi guru pembimbing maupun siswa. Khusus sebelum melaksanakan kegiatan KKN mitigasi, mahasiswa dibekali materi: (1) Filosofi KKN dan KKN PRB, (2) kebencanaan, PRB dan manajemen bencana, (3) pengurangan risiko bencana berbasis kearifan lokal, (4) pendataan dan sosialisasi risiko bencana, (5) membangun wawasan situasi bencana di desa dan memahami mata pencaharian, (6) ) mendefinisikan sistem KRB, (7) model advokasi dan sosialisasi masyarakat dalam PRB, (8) memperkuat kualitas layanan dasar seperti pemetaan risiko bencana , (9) penguatan.
Bab 3 Pelaksanaan KKN PRB
- Pembekalan KKN PRB Bagi Mahasiswa dan Dosen
- Pra KKN PRB
- Analisis Situasi Kebencanaan Desa
- Penyusunan Rencana Kerja KKN PRB
- Pelaksanaan KKN PRB
- Pengkajian risiko partisipatif
- Penguatan kualitas layanan dasar
- Penguatan sistem koordinasi dalam
- Penguatan pengelolaan risiko bencana
- Penguatan sistem kesiapsiagaan untuk
- Pendanaan
Secara umum, rencana kerja harus mencakup kegiatan yang mengarah pada tindakan sesuai dengan indikator SNI 8357-2017 tentang desa dan kelurahan tahan bencana dan sesuai dengan tindakan prioritas Kerangka Pengurangan Risiko Bencana (SFDRR) Sendai 2015-2030. SNI 8357-2017 mengatur bahwa indikator ketahanan bencana desa dan kelurahan diklasifikasikan menjadi 4 indikator utama, terdiri dari dua indikator dasar dan dua indikator hasil. Indikator dasarnya terdiri dari penguatan kualitas layanan dasar dan penguatan koordinasi dan sinergi manajemen dalam manajemen risiko bencana.
Indikator kinerja terdiri dari penguatan manajemen risiko bencana dan penguatan sistem kesiapsiagaan untuk mendukung kesiapsiagaan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana. Penguatan sistem koordinasi dalam pengelolaan risiko bencana yang diamanatkan oleh SNI 8357-2017 dengan indikator (1) terbentuknya forum lintas desa dan kelurahan di wilayah yang mempunyai risiko bencana yang sama dalam upaya pengelolaan risiko bencana dan (2) menetapkan program sinergitas beberapa pemangku kepentingan (pemerintah desa/kelurahan, lembaga desa/kelurahan, pemerintah daerah, kementerian negara/lembaga, lembaga swadaya masyarakat, lembaga dunia usaha, lembaga pendidikan, media) dalam pembangunan desa dan kelurahan terkait kebencanaan manajemen risiko. Mendorong desa dan kelurahan untuk memiliki hasil kajian daerah yang berwawasan kebencanaan, yang meliputi: (a) adanya komponen desa dan kelurahan yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan dan mengkaji kajian risiko bencana dan potensi dampaknya. perubahan iklim (misalnya pelatihan atau ceramah tentang PRB-API); dan (b) kegiatan pengkajian risiko bencana secara berkala dan berkelanjutan serta potensi dampak perubahan iklim yang dilakukan oleh komponen desa dan kecamatan (misalnya penyusunan peta risiko bencana).
Mendorong desa dan kelurahan untuk memiliki peraturan terkait manajemen risiko bencana, yang meliputi: (a) memiliki rencana penanggulangan bencana yang telah disahkan oleh pemerintah desa dan kelurahan (misalnya mengundang narasumber dari perguruan tinggi untuk membantu meningkatkan atau menyusun RPB desa); (b) pengintegrasian rencana penanggulangan bencana desa dan kelurahan ke dalam rencana pembangunan desa dan renstra kecamatan (misalnya mengundang narasumber dari perguruan tinggi untuk membantu pembahasan pelaksanaan renstra desa); (c) adanya kebijakan yang mendukung upaya pengelolaan risiko bencana di tingkat desa dan kelurahan. misalnya mengundang narasumber dari perguruan tinggi untuk membahas penyusunan kebijakan PRB). Mendorong desa dan kelurahan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola risiko bencana, yang meliputi: (a) menawarkan kegiatan sosialisasi dan edukasi terkait manajemen risiko bencana berkelanjutan yang menyasar seluruh kelompok masyarakat, misalnya mengundang narasumber dari perguruan tinggi untuk melakukan pelatihan dan sosialisasi terkait dengan PRB; (b) pengintegrasian isu-isu manajemen risiko bencana ke dalam aktivitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat sehari-hari (misalnya melakukan aktivitas seni dan budaya terkait PRB); (c) pelatihan kebencanaan yang berkelanjutan di desa dan kelurahan serta dalam wilayah desa dan kelurahan bagi aparat desa dan kelurahan, forum manajemen risiko desa/kelurahan, relawan penanggulangan bencana dan kelompok masyarakat lainnya, termasuk kelompok rentan ( misalnya, mengadakan pelatihan manajemen keadaan darurat); d) adanya pelatihan terkait upaya adaptasi perubahan iklim sesuai dengan potensi lokal (misalnya mengadakan pelatihan pupuk organik). Kegiatan aksi masyarakat merupakan kegiatan yang berkaitan dengan mitigasi dan adaptasi bencana yang dilakukan di tingkat desa dan kelurahan, tergantung pada jenis bahaya dan kapasitas masyarakat setempat.
Penguatan kelompok manajemen risiko bencana desa dan kelurahan, yang meliputi: (a) pembentukan atau penguatan forum manajemen risiko bencana desa/kelurahan dalam manajemen risiko bencana (sebelum, saat dan sesudah bencana) yang melibatkan seluruh kelompok masyarakat; (b) menyusun dan melaksanakan Program Kerja Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa/Kelurahan yang merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Desa dan Rencana Strategis Kecamatan di Kecamatan; (c) mobilisasi sumber daya yang berkelanjutan untuk operasional dan kegiatan forum pengurangan risiko bencana desa/kabupaten yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Membantu penguatan sistem kesiapsiagaan bencana desa dan kecamatan, yang meliputi: (a) membantu penyusunan rencana darurat yang dapat menjadi rencana operasi darurat ketika terjadi bencana (misalnya melakukan FGD untuk menyusun rencana darurat), lihat Lampiran C. 1; (b) membantu mengembangkan sistem peringatan dini (SPD) dan beroperasi ketika ada kemungkinan terjadinya bencana yang mudah diakses dan dipahami oleh semua pihak, termasuk kelompok rentan (misalnya melakukan FGD untuk menyiapkan kesepakatan SPD), lihat Lampiran C.3; (c) adanya rencana evakuasi lokal (peta, jalur, rambu, titik evakuasi aman) yang dapat digunakan sebelum dan pada saat bencana terjadi (misalnya melakukan FGD untuk menyiapkan peta evakuasi dan menyebarluaskannya), lihat Lampiran C.4; (e) mendorong terbentuknya relawan penanggulangan bencana desa dan kecamatan yang mempunyai kemampuan melakukan manajemen tanggap bencana (misalnya memfasilitasi pembentukan organisasi relawan baru atau memperkuat organisasi yang sudah ada), lihat Lampiran C.5; (d) memfasilitasi kegiatan simulasi bencana secara berkala dan berkelanjutan (misalnya perencanaan dan pelaksanaan kegiatan PPGD dan latihan evakuasi).
Bab 4 Evaluasi dan Rekomendasi
Evaluasi
Rekomendasi
PRB ini dapat dijadikan acuan atau rekomendasi pelaksanaan KKN PRB selanjutnya di lokasi desa yang sama.
Materi terkait Pengurangan Risiko Bencana dan
Peraturan terkait Kebencanaan
Materi terkait Program KKN
Materi terkait Desa Tangguh Bencana
Aset penghidupan adalah sumber daya yang dimiliki, dapat diakses dan dikendalikan oleh suatu unit sosial (individu, keluarga, komunitas) untuk mempertahankan kehidupan. Risiko bencana merupakan perkiraan kemungkinan hilangnya satu atau lebih aset penghidupan sebagai akibat dari suatu peristiwa/ancaman. Alat ini juga dapat digunakan untuk menganalisis perubahan ancaman dengan mengevaluasi dan membandingkan dampak ancaman terhadap aset yang ada dari waktu ke waktu.
Perubahan Kerentanan Mata Pencaharian .. Tanggul Rusak Tanggul Rusak & .. amp; Kebanyakan air sumur adalah air payau. Peta kerentanan adalah peta yang menunjukkan sebaran kerentanan penghidupan pada suatu wilayah dalam bentuk kumpulan titik, garis, dan wilayah yang ditentukan lokasinya dengan sistem koordinat tertentu dan atribut non spasial serta diberi kode warna. secara visual, dengan batasan menurut skala dan proyeksi tertentu. Untuk memahami sebaran mata pencaharian rentan, perlu ditentukan lokasi mata pencaharian tersebut.
Identifikasi sebaran lokasi aset penghidupan yang rentan terhadap bencana dengan menggunakan data aset penghidupan yang terancam punah yang telah diidentifikasi sebelumnya. Analisis perubahan bertujuan untuk mengetahui kapasitas aset hidup masa lalu dan memprediksi kejadian di masa depan, mengenali hubungan sebab-akibat dan faktor-faktor yang paling mempengaruhi kapasitas aset hidup, sehingga kita dapat memprediksi arah perubahan di masa depan dan memprediksi tren tersebut. Untuk memahami sebaran kapasitas penghidupan yang berpotensi mengurangi kerentanan, dilakukan identifikasi lokasi aset penghidupan yang berbahaya.
Identifikasi sebaran lokasi penghidupan yang mempunyai kapasitas tanggap bencana dengan menggunakan data kapasitas aset penghidupan yang telah diidentifikasi sebelumnya. Kunjungi para pihak dan jelaskan tujuan lokakarya perencanaan darurat dan kemudian keluarkan undangan untuk rapat koordinasi. Dalam rapat koordinasi, para pihak harus menjelaskan kembali maksud dan tujuan lokakarya persiapan rencana darurat.
Pemahaman tentang sifat ancaman dan jenis risiko dibahas pada bagian 2.1 mengenai pengurangan risiko bencana. Perlindungan terhadap penyintas bersifat sementara karena 1) terdapat kemungkinan peningkatan intensitas ancaman dan/atau 2) sumber daya yang tersedia terbatas/tidak mencukupi.