• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panjang Bayangan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Panjang Bayangan"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Salah satu kegiatan ibadah yang menggunakan matematika adalah penentuan awal waktu sholat bagi umat Islam. Jadi dari petunjuk Al-Qur'an dan hadits, awal waktu sholat bisa diubah menjadi matematika dan trigonometri.

Identifikasi Masalah

Dalam menentukan awal waktu sholat masih hanya menggunakan perhitungan tanpa memperkirakan awal waktu sholat dengan menggunakan instrumen, untuk memperkirakan awal waktu sholat yang dihitung oleh instrumen, untuk memperkirakannya ada perbandingan hasil perhitungan yang ditampilkan oleh instrumen yang menentukan awal waktu sholat dalam bidang waktu, dalam hal ini instrumen yang digunakan adalah jam matahari. Nah, dari evaluasi ini akan diteliti untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan awal waktu shalat berdasarkan firman Allah. dan hadits Nabi, saw, tentang perhitungan (hisab) waktu sholat.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

LANDASAN TEORITIS

Kerangka Teoritis

  • Pengertian Sundial
  • Macam-Macam Sundial
  • Kelebihan dan Kelemahan Sundial
  • Pengertian Trigonometri
  • Pengertian Shalat
  • Perhitungan Waktu Salat
  • Pengertian Observasi
  • Pengertian Dokumentasi
  • Pengertian Ekperimen

Dalam menentukan waktu-waktu awal shalat, waktunya tidak dijelaskan dengan jelas, namun secara kasat mata, Al-Qur'an telah menentukannya. Dari hadits Nabilah para ulama memberikan batasan waktu shalat dengan berbagai cara atau metode yang dianggap sebagai permulaan waktu shalat. Hosen mengatakan bahwa waktu sholat telah ditentukan dalam Al-Qur'an, yang kemudian dijelaskan oleh Nabi melalui tindakan, perkataan dan aturannya sebagaimana terkandung dalam hadits.

Pembentukan ayat dan hadits tentang waktu shalat sebenarnya merupakan penjabaran dari posisi matahari sehari-hari. Pergerakan matahari, terutama terbit dan terbenamnya, yang merupakan waktu standar untuk sholat, telah mengkhawatirkan umat Islam sepanjang zaman. Dalam menentukan waktu sholat yang akan diambil dari perhitungan dengan konsep trigonometri menggunakan alat berupa jam matahari yaitu awal waktu sholat dzuhur dan asar.

Menurut Butar-Butar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan waktu salat Zuhur dan Asar. Adapun perhitungan awal waktu salat Zuhur dan Ashar, seperti dijelaskan Butar-Butar, perhitungan waktu tersebut merupakan penjabaran posisi matahari pada momen-momen tertentu, dimana diperlukan data: latitude ( ), longitude ( ), deklinasi matahari ( ), persamaan waktu (e), meridian crossing (MP), koreksi waktu regional (KWD), ketinggian matahari (t).

Gambar 2.1 :  Sundial Equatorial  di OIF UMSU
Gambar 2.1 : Sundial Equatorial di OIF UMSU

Penelitian Relevan

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Imam Safrudy (2016), yang dalam penelitiannya menemukan bahwa cara penggunaan jam Bencet dalam menentukan awal waktu shalat di Asrama Islam Hidayatul Mubtadi-ien Kalibening Shalatiga adalah dengan melihat bayangan matahari pada area nomor jam Bencet untuk menentukan waktu shalat Isam, waktu shalat, gudang dan tempat shalat. waktu sholat tidak bisa langsung menggunakan jam karena grafik di area dial jam Bencet hanya menunjukkan perkiraan waktu saja. Penulis juga menjelaskan bahwa akurasi jam Bencet Asrama Hidayatul Mubtadi-ien Kalibening Shalatiga dalam menentukan waktu dimulainya sholat dzuhur cukup akurat. Selanjutnya penelitian Alfiyatur Rifqiyah (2017) menyatakan bahwa penentuan awal waktu sholat di Dusun Tamansari Desa Carangerejo Kecamatan Samping Kabupaten Ponorogo dengan bantuan sinar matahari melalui alat yang biasa disebut Bencet atau jam matahari yang diletakkan di depan Masjid Baitul Huda yang digunakan untuk menentukan masuknya waktu sholat.

Penulis juga menjelaskan bahwa ketepatan penentuan waktu sholat 5 di Dukuh Tamansari Desa Carangerejo Kecamatan Samping Kabupaten Ponorogo yang berpedoman pada jadwal waktu sholat pada jam istiwak dapat dihitung dan dijadikan acuan dalam penentuan waktu sholat awal. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Dini Rahmadani (2018) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa penentuan awal waktu shalat menggunakan perhitungan dan rumus. Semua waktu sholat yang digunakan dalam perhitungan biasa umumnya menggunakan data saat posisi sudut matahari berada di zenitnya atau saat matahari (terbenam) di siang hari.

Nilai ini dalam perhitungan manual digunakan dalam setiap perhitungan waktu sholat di waktu lain dengan argumen bahwa nilainya tidak signifikan, namun pada kenyataannya data posisi matahari (deklinasi matahari) akan memiliki nilai yang berbeda setiap waktu, meskipun nilai data hanya berubah sekitar 0,1 titik dalam rentang tertentu, hal ini menunjukkan bahwa keakuratan data deklinasi sangat diperlukan. Berdasarkan karya penelitian di atas, peneliti menggali dan mencari serta merasa belum ada penelitian yang secara khusus membahas kajian penerapan konsep trigonomer dalam penentuan waktu sholat dengan alat jam matahari.

Kerangka Konseptual

Melalui alat Sundial dan trigonometri kita dapat menentukan awal waktu sholat, dengan menggunakan Sundial sebagai alat untuk menentukan awal waktu sholat dengan konsep trigonometri. Dengan demikian diharapkan penerapan konsep trigonometri dalam penentuan waktu sholat dengan instrumen jam matahari dapat digunakan sebagai evaluasi terhadap waktu sholat yang ada dan jam matahari dapat menentukan awal waktu sholat dengan tepat.

METODE PENELITIAN

Lokasi Dan Waktu Penelitian

Jenis Penelitian

Prosedur Penelitian

Tahap pelaksanaan, pada tahap ini peneliti akan melakukan pengumpulan data penelitian dengan menggunakan alat sundial dan alat bantu ukur yaitu penggaris untuk mengambil data panjang bayangan benda yang akan dihasilkan oleh gnomon, pengumpulan data penelitian dilakukan pada Tahap analisis data, pada tahap ini peneliti akan mengolah data penelitian yang diperoleh dari lapangan. Tahap deskripsi, pada tahap ini peneliti akan memaparkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan untuk menjelaskan penerapan konsep trigonometri dalam menentukan waktu sholat dengan alat Sundial.

Tahap kesimpulan, pada tahap ini peneliti akan menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang penerapan konsep trigonometri untuk menentukan waktu sholat dengan alat jam matahari.

Instrumen Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Hasil yang diperoleh akan dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan tentang penerapan konsep trigonometri dalam penentuan waktu sholat dengan alat Sundial.

Teknik Analisis Data

Pengumpulan data dilakukan pada saat pengenalan salat Zuhur dan Ashar dengan mengukur panjang bayangan gnomon. Pada penelitian ini kami menyelidiki panjang bayangan yang terbentuk yaitu panjang bayangan pada jam 12 siang dan Ashar dari tanggal 8 Juli 2019 sampai dengan 17 Agustus 2019. Maka berdasarkan perhitungan, perkiraan panjang bayangan yang akan didapatkan pada jam 12 siang dan waktu Asar adalah 4,8 cm dan 19,05 cm.

Pada grafik di atas terlihat bahwa bayangan sore hari semakin pendek pada tanggal 8 Juli 2019 sampai dengan 17 Agustus 2019 dengan panjang bayangan yang dihitung mulai dari 19,05 sampai 16,69 cm. Matahari tepat berada di atas kepala pada zenit, yaitu peristiwa dimana deklinasi matahari sama dengan garis lintang tempat, mempengaruhi panjang bayangan benda. Dari data tabel 4.9 dapat diketahui persentase kesalahan (percentage error) dari data estimasi bayangan objek dan data pengukuran bayangan objek.

Terlihat bahwa panjang bayangan yang bermacam-macam semakin lama semakin pendek, dimana untuk perhitungan bayangan panjang bayangan dimulai dari 4,7 cm sampai dengan 2,45 cm dan bayangan benda di lapangan dimulai dari 3,925 cm sampai dengan 1,7 cm. Pada Tabel 4.11 terlihat bahwa selisih panjang bayangan benda yang dihitung dengan panjang bayangan benda di lapangan dari data yang diperoleh di lapangan adalah selisih panjang bayangan yang berkisar antara 0,26 cm hingga 0,44 cm. Dari data tabel 4.11 dapat diketahui persentase error (error rate) dari data estimasi bayangan objek dan data pengukuran bayangan objek.

Misalnya pada tanggal 11 Juli 2019, panjang bayangan tengah hari adalah 3.925 cm dan panjang gnomon adalah 14 cm.

Gambar 4.1:  Lokasi Observatorium Ilmu Falak UMSU
Gambar 4.1: Lokasi Observatorium Ilmu Falak UMSU

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Pembahasan

  • Pengambilan Data Penelitian
  • Metode Dan Penerapan Konsep Trigonometri Dalam Menenrukan

Pembahasan

Dari Tabel 4.1 (Data Pengamatan Bayangan Matahari), kita dapat melihat bayangan benda pada saat shalat Zuhur tanggal 11 Juli, 15 Juli, 18 Juli, 25 Juli, 26 Juli, 29 Juli, 31 Juli, 2 Agustus, 5 Agustus, 6 Agustus, 8 Agustus, 9 Agustus, 16 Agustus, dan 17 Agustus, langit terlihat cerah dan matahari bersinar dan bayangan matahari sore itu pada gnomon dapat dilihat pada tengah hari. Grafik 4.4 menunjukkan bahwa panjang bayangan benda semakin pendek dan pendek pada saat Ashar, dari 18,8 cm menjadi 16,25 cm. Hal ini disebabkan pergerakan matahari, dimana matahari akan mengalami transit, atau matahari berada tepat di atas zenit, yang mempengaruhi panjang bayangan benda yang muncul. Misalnya, saat mengukur bayangan suatu objek pada tanggal 11 Juli 2019, saat mengukur bayangan suatu objek pada siang hari, kesalahan estimasi bayangan objek ditampilkan.

Pada grafik 4.5 terdapat grafik garis dimana garis biru merupakan garis grafik bayangan untuk menghitung selisih, sedangkan garis merah merupakan grafik bayangan objek di lapangan. Pada grafik 4.6 terdapat garis grafik, dimana garis biru adalah garis grafik bayangan objek yang menghitung, sedangkan garis merah adalah garis grafik bayangan objek di lapangan. Terlihat bahwa panjang bayangan benda semakin pendek dan pendek, dimana untuk menghitung bayangan, panjang bayangan dimulai dari 19,17 cm sampai 16,95 cm dan bayangan benda di lapangan mulai dari 18,8 cm sampai 16,25 cm.

Dengan demikian, Jam Matahari dapat dikatakan akurat karena panjang bayangan benda pada waktu Asar adalah 18,7 cm, sedangkan selain itu 17,925, sehingga panjang bayangan benda Asar adalah 0,775, sehingga Jam Matahari dapat dikatakan akurat untuk menentukan awal Zuhur dan Asar sebagai sarana sholat dan dapat digunakan untuk waktu sholat. Penerapan jam matahari sebagai penentu waktu sholat adalah menempatkan jam matahari pada permukaan yang datar dan posisikan jam matahari ke arah utara dan selatan dengan menggunakan kompas yang tersedia pada jam matahari, kemudian amati dan teliti pergerakan bayangan gnomon pada saat puncak bayangan yang benar ke selatan (selama penelitian matahari akan berada di wilayah utara, saat objek akan berada di bagian utara, sehingga bayangan) digeser dari tenggara maka sudah waktu Zuhur, sedangkan untuk waktu Ashar jika panjang bayangan objek yang sama panjangnya ditambah dengan panjang bayangan tengah hari ketika masuk As golden time, kemudian menandai panjang bayangan waktu Ashar dan Zuhur sebagai data penelitian kemudian dianalisis.

Tabel 4.5: Data Hitung Bayangan Benda Waktu Shalat Zuhur
Tabel 4.5: Data Hitung Bayangan Benda Waktu Shalat Zuhur

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam penerapan konsep trigonometri dalam penentuan waktu sholat dengan alat Sundial dapat dihitung untuk mengetahui panjang bayangan saat sholat, peneliti terlebih dahulu menghitung waktu sholat kemudian menerapkannya pada jam matahari. Penentuan waktu sholat dengan sundial menggunakan konsep trigonometri dapat dikatakan akurat karena bayangan gnomon pada sundial sudah tepat dengan perhitungan waktu sholat yang dilakukan, dengan penjelasan hadits Nabi SAW mengenai masuknya waktu sholat, dari hasil praktek di lapangan, sundial layak diapresiasi sebagai alat bantu dan mudah digunakan sebagai alat praktis.

Saran

Harta Karun Astronomi Islam Abad Pertengahan (Catatan sejarah tentang tradisi, invasi, dan kontribusi peradaban Islam di bidang astronomi). Analisis Penggunaan Bencet di Perumahan Islam Al-Mahfudz Seblak Diwek Jombang Sebagai Penunjuk Waktu Sholat. Analisis penetapan waktu sholat lebih awal di Dusun Tamansari Desa Carangerejo Kecamatan Samping Kabupaten Ponorogo.

Analisis metode penggunaan jam Bencet dalam menentukan awal waktu sholat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Kalibening Shalatiga. Direktorat Pembinaan Agama Islam dan Syariah, Direktorat Jenderal Pengarahan Masyarakat Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia.

Gambar

Gambar 2.1 :  Sundial Equatorial  di OIF UMSU
Gambar 2.4: Sundial Vertikal di Aldeburgh,  Suffolk, Inggris
Gambar  2.3:  Sundial  Horizontal  di OIF UMSU
Gambar 2.5: Ilustrasi Bayang-Bayang Waktu Zuhur
+7

Referensi

Dokumen terkait

This study aims to investigate the motivation of taxpayers for participating in the tax amnesty programs in Indonesia. Through this research, we observed the profile