Cinta. Dalam bahasa asing kita menyebutkannya sebagai love (dalam bahasa Inggris), liebe (dalam bahasa Jerman), ai (dalam bahasa Mandarin dan Jepang), dan lain sebagainya. Frasa yang seringkali disebutkan dalam kehidupan kita. Berkaitan erat dengan begitu banyak arti tergantung dari bagaimana seseorang menginterpretasikan cinta itu sendiri. Ketika berbicara cinta, akan ada banyak sekte atau cabang dari mana dan untuk siapa cinta itu sehingga satu orang saja dapat memiliki beragam persepsi dan definisi perihal cinta. Penulisakan mengklasifikasikan cinta berdasarkan dari, untuk, dan beberapa persepsi dari beberapa karakter yang berlainan.
A. Cinta dari Tuhan untuk umat-Nya dan cinta umat kepada Tuhannya.
Bagi agamis atau manusia yang memeluk agama, dengan kata lain mengakui adanya keberadaan penguasa tertinggi yang berada di posisi tertinggi yang diberi sebutan umum
“Tuhan”, cinta Tuhan kepada umatnya barangkali menjadi cinta pertama yang dirasakan oleh manusia dan diberikan kepada manusia, atau bahkan makhluk lain yang diciptakan-Nya dengan suatu maksud di luar akal manusia. Sebagai Sang Penghidup dan Pengatur, Tuhan menciptakan manusia sebagai bentuk rasa cintanya. Membiarkan manusia merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia setelah sebelumnya (di dalam agama Islam) manusia berada di lauhil mahfuz.
Bagaimana manusia merasakan cinta pada sosok yang ghaib? Dengan kepercayaan bahwa Tuhan ada, sang Pencipta yang menjadi alasan mengapa kini mereka dapat menghirup udara dan merasakan bagaiamana sebuah kehidupan berjalan di dunia hingga akhirnya Tuhan memanggil mereka kembali. Dengan kata lain, cinta adalah ketika kita berasal dan kembali pada tempat yang sama. Tidak peduli bagaimana jeda yang ada di antara perpisahan sebelum kembali, kepulangan di tempat yang sama merupakan sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari siapa pun dan apa pun. Cinta pula yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia melalui wakilnya di dunia dan alkitab yang diturunkan-Nya seperti contoh berikut ini:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang- orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (2:165)
Dalam agama Kristen, pahatan Yesus yang berada di pangkuan Bunda Maria telah menjadi bukti bahwa Tuhan pun merasakan cinta. Tak tertinggal pula bukti adanya ayat-ayat dengan frasa cinta di dalamnya seperti dalam surat Amsal, Efesus, atau Roma. Dikatakan di sana,
“Yesus mati untuk kita.” Memberikan suatu penekanan bahwa Tuhan telah menyayangi umatnya bahkan ketika umatnya belum lahir untuk mengenal siapa Tuhannya, bagaimana wujudnya.
Di dalam agama Budha, dikenal reinkarnasi ketika manusia mendapatkan kesempatan untuk terlahir kembali sebagai bukti cinta Tuhan kepada hamba-Nya. Adanya reinkarnasi dipercaya penganut agama Budha sebagai wujud pengampunan Tuhan dan pemberian kesempatan kepada makhluknya untuk menjadi lebih baik sehingga kembali ke sisi Tuhan dalam keadaan sebaik-baiknya (kudus).
Demikianlah, seluruh agama selalu mengajarkan cinta. Tuhan menjadi contoh awal dari mana cinta itu berasal di kehidupan ini. Lantas bagaimana bentuk timbal balik cinta umat kepada Tuhannya? Bentuk cinta umat kepada Tuhan pada hakekatnya sama di agama mana pun, yakni dengan cara menyembah-Nya. Oleh karena itu, ketika berbicara antara cinta Tuhan dan umat- Nya, kita akan mengenal istilah lain yang disebut dosa. Dosa merupakan perbuatan yang mengingkari kehendak Tuhan, dengan kata lain perbuatan yang dilakukan sebagai perwujudan rasa tidak cinta seorang hamba pada Tuhannya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, cinta adalah sebuah kepatuhan dengan konsekuensi bila tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Bagaimana dengan keberadaan iblis dan malaikat yang diciptakan Tuhan? Apakah mereka dicintai Tuhan dan apakah mereka mencintai Tuhan?
Iblis dalam suatu literature dikatakan sebagai The Fallen Angel, penghuni langit yang mengingkari kehendak Tuhan dengan kesombongan yang mengantarkan mereka mendapat hukuman sebagai makhluk dengan derajat paling rendah. Artinya, bahkan Tuhan pun mencintai iblis jika iblis tersebut berbalik menyembah Tuhan kembali (bertaubat), sedangkan malaikat sendiri merupakan makhluk Tuhan yang juga diberikan komitmen tentang apa yang harus mereka kerjakan. Tuhan mencintai setiap makhluk-Nya, hal tersebut mutlak adanya. Tuhan mengenalkan setiap makhluk-Nya untuk mengetahui eksistensi mereka satu sama lain untuk menguji, mengetahui, dan memahami sebagai sesama ciptaan Tuhan dengan demikian nantinya akan ada kubu-kubu yang berbeda, pemihak Tuhan dan pembangkang terhadap Tuhan.
Bagaimana dengan kasus seorang manusia yang hidupnya terus-menerus menderita meski ia mengabdi kepada Tuhan di sepanjang hidupnya? Tuhan Maha Mencintai,
pengetahuannya Mahaluas dan tidak terjangkau oleh akal manusia. Definisi menderita sendiri sesungguhnya memiliki beragam refleksi jika dilihat dari sisi yang berbeda. Kita ambil contoh, ketika seorang pemuka agama hidup dalam kemiskinan, apakah yang demikian merupakan contoh cinta Tuhan kepadanya? Penulis katakan, ya. Ini opini penulis karena penulis melihat Tuhan sebagai objek yang begitu penuh oleh cinta. Pemuka agama tersebut bisa dikatakan manusia yang sesungguhnya berbahagia ketika ia tetap bisa menjaga diri dari hal-hal yang mengingkari aturan Tuhan. Mengapa? Karena ia akan jauh dari dosa, jauh dari perbuatan yang tidak disukai Tuhan. Bandingkan dengan seorang koruptor. Hidupnya bergelimang harta dan kepuasan duniawi, namun ia jauh dari Tuhan. Alih-alih memiliki profesi untuk khalayak, ia menggunakannya demi kepentingan pribadi.
Jika Tuhan Maha Mencintai, mengapa ada dosa atau hal yang Dia benci? Bagi penulis, setiap hal telah dikonsepkan sebagai dua sisi. Apa pun itu, akan mengerucut sebagai dua sisi.
Bukan berarti karena Tuhan Maha Mencintai, maka Dia hanya menyediakan surga bagi pemeluk agamanya yang tidak taat (dalam agama penulis). Adanya pemisahan antara surga dan neraka, dosa dan pahala, merupakan wujud cinta Tuhan kepada hamba yang juga mencintai-Nya. Jika dilihat dari sisi ini, cinta adalah timbal balik yang harmonis. Dengan demikian adanya perancangan dosa dan pahala, surga dan neraka, taubat dan murtad, merupakan bentuk penyaringan. “Karena Tuhan pun mencari siapa objek cinta yang juga dapat memberikan timbal balik cinta-Nya dengan tulus.”
B. Cinta kepada diri sendiri
Cinta kepada diri sendiri merupakan hal yang sepatutnya dilakukan organisme di muka bumi. Mengapa tidak penulis tuliskan cinta kepada orang tua terlebih dahulu? Karena manusia sulit mencintai seseorang dengan tulus sebelum ia dapat mencintai dirinya sendiri. Lantas cinta kepada diri sendiri itu apa dan bagaimana pengaplikasiannya? Cinta kepada diri sendiri ditemukan dalam beragam persepsi sesuai pengaruh yang paling dominan dari suatu unsur terhadap persepsi dan jiwa seseorang. Cinta kepada diri sendiri bagi sebagian orang diartikan sebagai menjagaatau melindungi diri sendiri; menjaga kesehatan, merencanakan kehidupan sebaik-baiknya, dan melakukan yang terbaik pada segala aspek kehidupan. Pada kondisi demikian cinta diartikan sebagai usaha terbaik dari seseorang dengan memikirkan dampak buruk
dan bagaimana caranya terhindar dari dampak buruk tersebut. Namun di satu sisi, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa tindakan seperti bunuh diri merupakan bentuk mencintai diri sendiri karena dipandang sebagai jalan keluar terakhir untuk membebaskan diri dari rasa sakit (terlepas dari dosa dan ganjaran yang diterima nantinya). Bagaimana dengan seseorang yang gemar menyakiti dirinya sendiri atau dikenal dengan istilah masokis atau self-injury?
Berdasarkan dari pembicaraan dengan orang-orang yang demikian, penulis mengambil simpulan bahwa mereka yang menyakiti diri sendiri, bagi mereka, merupakan cara tersendiri untuk menunjukkan cinta mereka terhadap diri mereka sendiri. Orang yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri merupakan pribadi yang sulit lepas dari kekosongan, kebosanan, dan rasa sakit.
Mereka menyakiti diri sendiri untuk meyakinkan pada alam bawah sadar mereka bahwa mereka hidup, bahwa dengan rasa sakit itulah mereka merasakan kebahagiaan. Cara manusia mencintai diri sendiri memang berbeda. Penulis mencintai diri penulis sendiri dengan menetapkan suatu tujuan untuk penulis capai. Dengan demikian hidup penulis tidak akan hampa dan penulis memiliki alasan yang jelas untuk menjalani kehidupan, memiliki alasan yang jelas untuk berbuat suatu hal, dan memiliki alasan untuk tidak mengakhiri hidup penulis sendiri. Cara penulis mencintai diri penulis pun penulis tunjukkan dengan bagaimana penulis menekankan pada diri penulis bahwa, “Penulis hidup bukan hanya membawa diri penulis, tapi juga membawa orang-orang di sekitar penulis.” Bila penulis tidak mencintai diri penulis dengan layak, penulis bukan hanya akan menyakiti diri penulis tetapi juga orang-orang yang berada dalam lingkaran hidup penulis karena hidup penulis, kecil atau besar, akan mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitar penulis.
Apakah cinta kepada diri sendiri dapat diartikan tidak boleh merasakan asam-garam kehidupan? Kita hidup untuk mengenal dua sisi, dengan demikian kita akan menemukan satu sisi yang kita jadikan pegangan hidup. Kita mengenal kegelapan, karena itu kita mengenal cahaya.
Kita mengenal cinta, karena ada kebencian. Kita mengenal bahagia, karena ada kesedihan.
Membiarkan diri tanpa rasa sakit, kekalahan, dan kegagalan bagi penulis adalah hal mustahil.
Hidup diibaratkan roda karena ia dinamis. Tidak ada orang yang hidupnya benar-benar datar dan statis sepanjang ia hidup. Bukan berarti pula ketika merasakan hal-hal bersifat melankolis, kita dikatakan tidak mencintai diri sendiri. Dengan merasakan kegagalan kita akan belajar mencintai
diri dengan cara meraih kesuksesan. Dengan merasakan kekalahan kita akan belajar mencintai diri dengan meraih kemenangan.
C. Cinta orang tua kepada anak dan cinta anak kepada orang tua
“Cinta ibu sepanjang jalan.” Barangkali kalimat tersebut sudah tidak asing lagi untuk kita. Analogi demikian ditujukan tentu saja bagi seorang ibu atau orang tua yang dengan cara apa pun menginginkan kebahagiaan dan hasil terbaik untuk anaknya. Dengan cara apa orang tua menunjukkan cinta kepada anaknya? Apakah cinta itu dilihat dari hubungan orang tua dan anak?
Apakah itu benar-benar dikategorikan sebagai cinta? Cara orang tua mencintai anaknya bermacam-macam, baik dapat dinalar oleh orang lain atau tidak. Ketika orang tua sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan finansial dengan menelantarkan anaknya, penulis masih percaya orang tua tersebut memiliki cinta. Mereka yang demikian biasanya berasal dari latar belakang di mana finansial menjadi hambatan bagi kehidupan sehingga tidak ingin merasakan hal yang sama terulang. Biasanya keluarga dengan kondisi demikian akan menghasilkan anak yang terbiasa hidup di bawah asuhan orang lain dan harta. Sebagian tidak keberatan dan merasa terbiasa dengan kehidupan demikian, tapi sebagian lagi akan mengeluhkan kehidupan mereka. Meski demikian, jika penulis melihat dari kacamata penulis, jika bahagia adalah sebuah relativitas, mereka masih dikatakan bahagia—atau setidaknya beruntung.
Penulis seringkali melihat di media sosial bagiaman anak-anak mengeluhkan sikap tidak peduli orang tua terhadap mereka. Di dalam hati penulis berpikir, “Bagaimanapun mereka mengeluh dan berkata bahwa mereka menderita, mereka yang masih bisa mengumbar keluhan melalui media sosial masih jauh lebih beruntung dibanding anak-anak yang ketika menderita tidak dapat berkeluhkesah di jejaring sosial atau media sosial.” Tapi seperti yang penulis katakan, kebahagiaan itu relatif.
Penulis melihat anak-anak sebatang kara di medan peperangan yang ditinggalkan orang tua mereka karena orang tua mereka melindungi mereka dan penulis berpikir, “Mereka beruntung.” Terlepas dari bagaimana kondisi yang menghimpit mereka untuk bertahan hidup, mereka yang demikian masih bisa merasakan cinta dari orang tua. Dengan demikian cinta adalah suatu hal relatif yang diwujudkan dengan cara berbeda. Bila hasil cinta itu kebahagiaan, belum tentu kebahagiaan itu disadari oleh objek cinta itu sendiri. Cinta orang tua kepada anak tidak
menjamin anak tersebut merasakan kebahagiaan, atau bisa saja mereka tengah berbahagia namun tidak menyadarinya.
Ketika melihat tayangan di layar kaca yang menyuguhkan pemandangan keluarga dari kalangan bawah yang tengah makan bersama dengan panganan seadanya, penulis merasa keluarga tersebut masih mengenal cinta, baik cinta orang tua kepada anaknya maupun sebaliknya dan penulis masih merasa mereka beruntung. Tidak semua orang dapat merasakan kebersamaan makan bersama dengan orang tua mereka, tidak semua orang merasakan kebersamaan makan bersama dengan anak mereka. Dengan demikian, cinta bisa jadi adalah sebuah pencitraan kebersamaan, tidak terikat dengan kata bahagia namun tidak pula terikat dengan kata menderita.
Apakah orang tua yang membuang bayinya atau menggugurkan bayinya dapat dikatakan memiliki rasa cinta? Jika membuang bayinya karena ketakutan bila sang bayi tidak memperoleh kehidupan yang layak, penulis masih mengkategorikannya sebagai cinta. Bagi sebagian orang tindakan tersebut tergolong tidak bertanggung jawab dan kejam. Akan tetapi di beberapa sisi penulis merasa bahwa orang tua yang membuang bayi demi bayi itu sendiri selalu memikirkan di mana ia membuang bayi tersebut dan jika dilacak oleh kepolisian pun keberadaan orang tua bayi tersebut belum jauh dari lokasi pembuangan dengan kata lain pada dasarnya orang tua tersebut tetap memantau saat setelah ia membuang bayi tersebut. Bagaimana dengan aborsi? Jika cinta adalah sesuatu yang abstrak adanya, bebas berwujud seperti apa yang manusia gambarkan dan pikirkan, maka aborsi karena tidak ingin menanggung malu penulis kategorikan sebagai cinta.
Namun bukan cinta kepada sang anak. Cinta yang ada merupakan cinta antara seseorang dengan dirinya sendiri.
Bagaimana dengan cinta anak terhadap orang tua? Persepsi umum yang dikatakan baik secara objektif berkaitan dengan wujud rasa cinta seorang anak kepada orang tua adalah dengan menuruti apa pun yang diperintahkan orang tua dengan anggapan tidak ingin menyakiti orang tua, tidak ingin dianggap seorang anak yang durhaka, dan adanya keyakinan bahwa apa yang dikatakan orang tua adalah benar sehingga bentuk kontradiksi terhadap apa pun yang dikatakan orang tua akan bertuah bala nantinya.lantas apakah cinta itu harus diwujudkan dengan tindakan, pemikiran, doa, atau dipendam? Tidak semua anak mewujudkan cinta dengan cara-cara umum.
Tidak sedikit anak yang berseteru dengan orang tua mereka sendiri. Tidak sedikit anak yang terlibat kesalahpahaman dengan orang tua mereka. Entah karena kurangnya komunikasi atau
disebabkan oleh kondisi lain, terkadang di antara anak dan orang tua sendiri kurang terdapat komunikasi bahkan interaksi yang searah. Anak dan orang tua pun memiliki perangainya masing-masing. Ada yang terbuka dan tertutup. Namun, menurut penulis, selama mereka mengerti kata cinta dan mengakui bahwa hubungan di antara mereka adalah orang tua dan anak, di sanalah akan ditemukan heterogenitas dari perwujudan cinta itu sendiri.
Bagi penulis, cinta adalah ketika penulis mengakui orang tua penulis sebagai orang tua, mereka yang melahirkan penulis dan membesarkan penulis tanpa mengenal pamrih. Bukan berarti di antara kami tidak pernah terjadi konflik. Terkadang terjadi pula adu pendapat, terkadang ada pula konflik yang memanas, terkadang ada pula suasana tegang yang melingkupi, tapi itulah wujud cinta karena penulis yakin hal-hal tersebut muncul karena adanya keinginan orang tua untuk melihat penulis bahagia dan keinginan penulis untuk melihat orang tua penulis bahagia. Seperti ketika penulis ingin bersama orang tua penulis hingga akhir hayat dan kehidupan setelah kematian.
Seringkali penulis memikirkan bagaimana orang tua penulis yang tinggal berdua di rumah menunggu dua anaknya berkumpul, seringkali terbayang di pikiran penulis sosok orang tua penulis yang tengah duduk berdua di teras rumah, meninggali sebuah kediaman yang cukup besar berdua saja. Memikirkan mereka membuat penulis ingin berjuang sekuat yang penulis bisa untuk menjadi sukses sehingga penulis bisa mencukupi kebutuhan orang tua penulis dan membuat mereka bangga serta bersyukur sebagai orang tua. Di satu sisi, penulis ingin ketika penulis sukses, penulis bisa memiliki waktu luang untuk menemani mereka. Ini komitmen yang penulis pegang dalam hidup penulis dan penulis percaya inilah bentuk cinta penulis terhadap mereka.
D. Cinta terhadap lawan jenis
Jika membicarakan cinta, remaja pada umumnya lebih cepat mengaitkan frasa tersebut dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ditandai dengan pemaknaan yang bersifat puitis, dari romantis hingga melankolis yang mendayu-dayu. Banyak orang yang membedakan antara sebutan cinta laki-laki dan perempuan dengan istilah lain seperti kasihan, simpati, atau nafsu. Bagi penulis, pemaknaan cinta bersifat fleksibel. Cinta dapat dianggap
menyakitkan jika seseorang tersebut beranggapan bahwa segala sesuatu pada dasarnya membahagiakan dan begitu pula sebaliknya. Apakah cinta antara pasangan harus ditandai dengan pengesahan sebagai suami istri dalam pernikahan? Bisa jadi iya dan tidak. Jika sebuah pernikahan diawali dengan perjodohan, maka bisa jadi yang tumbuh di antara sejoli tersebut adalah usaha untuk saling cinta dan bukan rasa cinta.
Bagaimana dengan istilah cinta pada pandangan pertama? Haruskah cinta yang sesungguhnya ditandai dengan perkenalan panjang sampai tiap-tiap pihak saling memahami satu sama lain? Jika seseorang percaya bahwa cinta bisa saja tumbuh di hati seseorang pada suatu hal yang bahkan belum mereka temukan (baik karena wujudnya tidak ada atau karena semua hal adalah wujudnya—seperti Tuhan), maka seseorang itu akan meyakini adanya cinta pada pandangan pertama. Namun jika cinta adalah sesuatu yang harus dikenali terlebih dahulu berdasarkan suatu klasifikasi tertentu yang ideal sesuai dengan karakteristik cinta yang dipikirkan oleh subjek, maka bisa jadi cinta pada pandangan pertama dianggap nihil.
Penulis seringkali melihat teman penulis menangis karena apa yang ia anggap cinta rupanya begitu menyakitkan, tapi ia mengatakan bahwa itulah cinta; tidak selalu terasa manis. Di satu sisi teman yang lain menanggapi bahwa cinta seharusnya membuat bahagia. Persepsi cinta laki-laki dan perempuan, bahkan di antara perempuan dan laki-laki bisa berbeda. Menyakiti atau tidak, cinta adalah apa yang mereka tajuk dalam hubungan mereka. Jika mereka telah menamakan hubungan sepasang kekasih dengan tajuk cinta, maka begitulah artian cinta bagi pihak yang memberikan tajuk. Persepsi cinta antara laki-laki dan perempuan menurut penulis adalah hal fenomenal yang terkadang menjadi bahan pembicaraan lebih sering dibanding cinta dengan objek lain. Perbedaan kondisi, sifat, pola pikir, budaya, dan lain sebagainya membuat banyak diferensiasi antara pengertian satu orang dengan orang lainnya. Di Jepang contohnya, kata cinta hanya akan diutarakan bagi seorang laki-laki yang hendak melamar kekasih atau tunangannya sehingga dalam menjalin hubungan pranikah, mereka akan mengutarakan perasaan mereka dengan daisuki yang berarti “aku suka kamu”, bukan aishitteru atau “aku cinta kamu”.
Di Indonesia sendiri kita akan mengenal derajat perasaan seperti suka, penulisng, dan cinta.
Seringkali penulis menemukan remaja yang berdebat mengenai lebih tinggi mana derajat antara kata “penulisng” dan “cinta”.
E. Cinta terhadap objek selain manusia
Cinta terhadap hobi, cinta terhadap benda, dan cinta terhadap materi bukanlah guyonan semata, melainkan fakta yang ada di kehidupan kita. Berapa banyak orang yang menukar harga diri dan moralnya untuk materi? Berapa banyak orang yang menghabiskan banyak waktu yang ia miliki untuk menekuni sesuatu? Cinta di sini dapat diartikan sebagai rasa yang mengikat seseorang dengan sesuatu sehingga ia rela berkorban. Pengorbanan bukan semata untuk kesuksesan, tapi dapat juga dikarenakan cinta. Ketika kita terobsesi dengan kesuksesan, itu pun dapat dikatakan cinta dalam kadar tinggi pada objek selain manusia.
Cinta terhadap objek selain manusia merupakan fenomena real di mana kita tidak bisa tutup mata terhadap hal ini. Jika cinta dapat disetarakan penyembahan dan keinginan untuk melakukan atau memiliki sesuatu, maka hobi atau keinginan mendapat suatu objek bukan benda dapat dikategorikan sebagai cinta. Bagi beberapa orang, cinta sama halnya dengan mendedikasikan hidup untuk suatu hal. Bagi peminat balap motor, keberanian mereka menyongsong maut untuk mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi pada medan berliku merupakan rasa cinta. Cinta bisa jadi beban dan bisa jadi suatu hal yang membuat pikiran seseorang menjadi teralih dari stress. Pelukis, contohnya. Tidak sedikit penulis mendapatkan kisah-kisah pelukis dunia yang mengurung diri dari dunia untuk memenuhi kecintaan mereka terhadap karya 2D, bagi orang lain apa yang mereka lakukan merupakan penyiksaan diri dan bagi mereka itulah kesenangan mereka. Di beberapa sisi kehidupan, ada pula orang-orang yang merasakan cinta dengan benda 2D seperti tokoh fiksi. Tidak main-main, di beberapa negara berlangsung pernikahan antara manusia dan benda 2D tersebut. Penilaian umum yang diberikan tentu saja didominasi penilaian negatif mengingat benda 2D tersebut tidak melayani sebagaimana manusia melayani dan berbicara terbatas, tapi bagi subjek yang melakukannya, benda 2D tersebut telah memenuhi kriteria layak untuk dicintai.
F. Cinta menurut keilmuan
Menurut artikel kesehatan yang penulis baca, cinta dapat membuat seseorang menjadi bodoh karena ketika seseorang jatuh cinta beberapa syaraf mereka akan berhenti bekerja. Cinta yang bentuknya bahkan tidak diketahui atau justru diketahui semua orang ini telah membuat
banyak hipotesa dan teori tersendiri. Perihal benar atau tidak, sifatnya elastis. Artinya tidak berpengaruh serupa untuk setiap orang meski secara ilmu demikian adanya, namun di luar faktor ilmu (bidang kesehatan) ada faktor lain yang juga dapat mengubah hasil semula yang ditetapkan para ahli.
Dengan demikian, apakah cinta itu? Bagi penulis, cinta adalah apa yang seseorang percaya. Ketika ia percaya bahwa yang ia rasakan, lihat, terima, berikan, dan lain-lain adalah cinta, maka itulah cinta yang berlaku bagi seseorang tersebut. Manusia hidup dengan kepercayaannya. Manusia itu menjadi seperti apa tergantung kepercayaannya. Ketika ia percaya bahwa cinta itu menyakitkan, maka demikianlah ia akan merasakan cinta. Apakah cinta itu ada?
Cinta bisa dikatakan ada atau tidak ada sama sekali kembali pada pemikiran tiap-tiap subjek dalam memandang cinta. Jika ia berpikir bahwa suatu hal yang ada dalam hidupnya adalah cinta, maka cinta itu memiliki eksistensi dan esensi. Bila seseorang tidak mempercayai adanya cinta, maka cinta bisa jadi disetarakan dengan rasa lain atau bisa jadi dianggap tidak ada karena telah diwakili oleh jenis rasa lain.
Bagaimana wujud cinta itu? Bagi orang yang mempercayai cinta, cinta dapat diwujudkan dengan apa pun. Perkataan, tindakan, doa, benda, bahkan lambang hati berwarna merah muda atau merah. Bagi orang yang mempercayai cinta, cinta lebih sering dikaitkan pada romansa dan drama karena di dalam dua genre tersebutlah unsur-unsur lain yang meliputi cinta merasuk.
Beberapa idealis memiliki bentuk cinta tersendiri. Mereka akan membuat komparasi antara cinta yang tulus dan tidak, biasanya tipikal idealis ini akan mencari cinta sesungguhnya atau menuntut adanya cinta sesungguhnya dari lawan bicara atau objek berbagi cinta mereka.
Apakah ada orang-orang yang tidak mengenal cinta? Ada. Di dunia ini hidup manusia yang bermacam-macam. Tidak menutup kemungkinan ada orang yang tidak mengenal atau tidak ingin mengenal cinta. Penulis ketahui istilahnya adalah filophobia, atau ketakutan berlebih untuk dicintai dan mencintai. Bisa jadi juga ada manusia yang apatis terhadap cinta dengan alasan apa pun yang melatarbelakangi.
Persepsi cinta adalah diferensiasi yang bila dikerucutkan akan menjadi dua hal berlawanan. Ada atau tidak ada. Menyakitkan atau membahagiakan. Dicintai dan atau mencintai.
Bagaimana cinta, tergantung dari stimulus seseorang dan proses atau upaya mencerna cinta itu
sendiri, baik eksistensi maupun esensinya. Lepas dari perbedaan, cinta yang dipercaya ada atau tidaknya merupakan sesuatu yang telah berada dalam kehidupan. Kata-katanya telah ditemukan dan dipakai sehingga merupakan hak seseorang untuk memilih bagaimana ia akan mengolah cinta itu.