Patofisiologi Cedera Ligamen Pergelangan Kaki (Lateral Ankle Sprain - LAS):
1. LAS adalah cedera yang terjadi pada ligamen di sekitar pergelangan kaki akibat gerakan kaki tertekuk ke bawah dan berputar ke dalam secara kuat.
2. Ligamen adalah jaringan yang menghubungkan tulang-tulang di pergelangan kaki dan penting untuk menjaga kestabilan sendi.
3. Gerakan yang paling umum menyebabkan LAS adalah kaki ditekuk ke bawah dan berputar ke dalam (plantar flexion dan inversion).
4. Gerakan ini sering mengakibatkan robeknya ligamen-ligamen di sisi luar pergelangan kaki.
5. Ligamen pertama yang cedera biasanya adalah ligamen anterior talofibular (ATFL), karena dianggap sebagai yang paling lemah.
6. Setelah ATFL rusak, ligamen calcaneofibular (CFL) bisa mengalami cedera, diikuti oleh ligamen posterior talofibular (PTFL).
7. Cedera hanya pada ATFL terjadi pada 66% kasus LAS, sedangkan cedera pada ATFL dan CFL terjadi bersamaan pada 20% kasus LAS.
8. Cedera pada PTFL jarang terjadi karena memerlukan gaya yang kuat dan gerakan kaki yang tertekuk ke atas.
Efek Cedera Ligamen Pada Pergelangan Kaki:
1. Setelah LAS, ligamen-ligamen yang menjaga kestabilan pergelangan kaki menjadi rusak.
2. Ini mengakibatkan peningkatan gerakan antar tulang-tulang di pergelangan kaki (hypermobilitas).
3. Hypermobilitas ini dapat diukur dengan teknik-teknik klinis seperti tes tekanan manual, artrometri instrumen, dan radiografi tekanan.
4. Untuk memulihkan kestabilan pergelangan kaki, perawatan awal fokus pada penyembuhan ligamen.
5. Perawatan melibatkan perlindungan sendi dengan imobilisasi dan penggunaan kruk, serta latihan yang membantu serat kolagen baru mengikuti gaya pada pergelangan kaki.
6. Proses penyembuhan ligamen memerlukan waktu lebih dari enam minggu, tetapi kelenturan sendi masih dapat terjadi enam bulan setelah cedera.
Faktor Predisposisi Terhadap LAS:
1. Penelitian untuk mengidentifikasi faktor risiko predisposisi penting dalam mencegah LAS.
2. Faktor risiko ini adalah karakteristik tertentu yang meningkatkan risiko seseorang mengalami LAS.
3. Beberapa faktor risiko intrinsik dan ekstrinsik telah diidentifikasi.
4. Faktor intrinsik meliputi riwayat cedera LAS sebelumnya, tinggi dan berat badan, dominansi anggota tubuh, kelenturan sendi, postur tubuh, dan kekuatan otot.
5. Penggunaan ankle brace atau perban pada mereka yang pernah cedera LAS sebelumnya terbukti dapat mengurangi risiko cedera kembali.
6. Faktor ekstrinsik seperti jenis sepatu, durasi/intensitas kompetisi, dan posisi pemain sepak bola juga telah dikaji, namun hasil belum konsisten.
Kesimpulan:
1. Cedera ligamen pergelangan kaki (LAS) terjadi akibat gerakan kaki yang tiba-tiba tertekuk dan berputar secara kuat.
2. Ligamen yang cedera mengakibatkan peningkatan gerakan di pergelangan kaki (hypermobilitas).
3. Penanganan awal fokus pada penyembuhan ligamen dan latihan untuk memulihkan stabilitas sendi.
4. Faktor risiko predisposisi seperti riwayat cedera sebelumnya dan penggunaan ankle brace penting untuk dipertimbangkan dalam pencegahan LAS.
5. Lebih banyak penelitian diperlukan untuk memahami lebih lanjut faktor- faktor yang berkontribusi pada LAS.
Hubbard, T. J., & Wikstrom, E. A. (2010). Ankle sprain: pathophysiology, predisposing factors, and management strategies. Open access journal of sports medicine, 1, 115–122. https://doi.org/10.2147/oajsm.s9060
"Low Ankle Sprain: Pathomechanics and Clinical Findings":
Cedera pergelangan kaki rendah (low ankle sprain) terjadi ketika ligamen di sekitar pergelangan kaki mengalami kerusakan. Ligamen adalah jaringan ikat yang menghubungkan tulang satu dengan yang lainnya, memberikan stabilitas pada sendi. Grading digunakan untuk menggambarkan tingkat keparahan cedera:
1. Grade 1 (Minimal): Pada tingkat ini, kerusakan ligamen adalah ringan.
Terjadi sedikit pembengkakan dan rasa nyeri, tetapi sendi masih stabil, tidak ada kelonggaran yang terlihat. Ini sering terjadi karena peregangan ligamen.
2. Grade 2 (Moderat): Pada tingkat ini, kerusakan ligamen lebih parah.
Terdapat sedikit kelonggaran pada sendi karena sebagian kecil ligamen robek. Gejalanya meliputi nyeri sedang, pembengkakan, dan rasa nyeri yang lebih menonjol.
3. Grade 3 (Parah): Pada tingkat ini, ligamen mengalami kerusakan penuh atau putus. Ini mengakibatkan kelonggaran yang jelas pada sendi.
Gejalanya meliputi nyeri hebat, pembengkakan yang signifikan, rasa nyeri yang kuat, dan munculnya memar.
Cedera ini sering kali terjadi akibat gerakan yang tidak alami pada pergelangan kaki. Misalnya, saat pergelangan kaki terlalu ditekuk ke bawah dan ke dalam (plantar flexion & inversion), ini menyebabkan tekanan berlebih pada ligamen
pergelangan kaki bagian luar. Dalam beberapa kasus, cedera ini bisa muncul akibat jatuh atau tumpuan berat yang tidak tepat pada kaki.
Untuk mendiagnosis cedera, dokter dapat menggunakan tes seperti "anterior drawer test" di mana mereka mencoba menggeser tulang kering ke depan untuk mengukur kelonggaran sendi. Pada saat cedera, serat-serat kolagen pada ligamen bisa robek, mengakibatkan pembengkakan dan rasa sakit.
Cedera pergelangan kaki rendah bisa memiliki gejala seperti pembengkakan, nyeri saat ditekan di area tertentu, dan kesulitan dalam menahan berat badan pada kaki yang terluka. Jika cedera berulang, dapat menyebabkan masalah lebih lanjut seperti instabilitas pergelangan kaki, masalah postur, dan cara berjalan yang terpengaruh.
Pengobatannya melibatkan istirahat untuk memberikan waktu pada ligamen untuk pulih, penggunaan kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan, dan terkadang rehabilitasi fisik untuk memperkuat ligamen dan meningkatkan keseimbangan.
Mekanisme Cedera: Cedera pergelangan kaki rendah terjadi ketika pergelangan kaki mengalami gerakan yang tidak alami atau berlebihan. Mekanisme umumnya adalah kombinasi dari dua gerakan: "plantar flexion" (tekukan ke bawah) dan
"inversion" (rotasi ke dalam). Ini sering terjadi saat kaki menjejakkan kaki ke tanah dengan sudut yang tidak tepat, seperti saat berjalan atau berlari di permukaan yang tidak rata. Akibatnya, tekanan berlebih diterapkan pada ligamen di sisi luar pergelangan kaki.
Manifestasi Klinis: Manifestasi klinis adalah tanda-tanda fisik yang dapat dilihat dan diidentifikasi oleh dokter saat memeriksa cedera. Pada cedera pergelangan kaki rendah, beberapa manifestasi klinis meliputi:
Pembengkakan: Terjadi penumpukan cairan di sekitar pergelangan kaki yang menyebabkan pembengkakan.
Nyeri: Rasa nyeri yang bisa dirasakan di sekitar pergelangan kaki, terutama saat digerakkan atau ditekan.
Rasa Sakit: Rasa sakit bisa terjadi saat melakukan gerakan tertentu atau menekan area yang cedera.
Memar (Ekimosis): Terkadang, cedera bisa menyebabkan perdarahan di bawah kulit, yang menghasilkan memar berwarna biru atau ungu.
Kelonggaran Sendi: Pada cedera tingkat 2 dan 3, mungkin ada kelonggaran yang terlihat pada sendi pergelangan kaki.
Gejala: Gejala adalah sensasi atau perasaan yang dirasakan oleh pasien. Pada cedera pergelangan kaki rendah, gejala yang umum meliputi:
Nyeri dan Tidak Nyaman: Rasa nyeri yang dapat berkisar dari ringan hingga parah, dan mungkin juga disertai rasa tidak nyaman atau tegang di sekitar pergelangan kaki.
Pembengkakan: Pergelangan kaki terasa bengkak dan penuh akibat pembengkakan.
Kesulitan Bergerak: Sulit untuk berjalan atau berdiri karena nyeri dan pembengkakan.
Rasa Tidak Stabil: Pasien mungkin merasakan sendi pergelangan kaki kurang stabil atau sering terasa bergoyang.
Komplikasi: Jika tidak ditangani dengan baik, cedera pergelangan kaki rendah dapat memiliki komplikasi, seperti:
Instabilitas Kronis: Jika ligamen tidak pulih dengan baik, bisa menyebabkan instabilitas kronis pada sendi pergelangan kaki. Ini membuat seseorang lebih rentan terhadap cedera berulang.
Masalah Postur: Cedera yang tidak sembuh dengan baik dapat memengaruhi postur dan cara berjalan normal seseorang.
Masalah Neuromuskular: Cedera bisa mempengaruhi kemampuan otot dan saraf untuk bekerja bersama-sama, mengakibatkan penurunan keseimbangan dan kontrol otot.
Peradangan Jangka Panjang: Jika peradangan tidak terkendali, bisa menyebabkan masalah jangka panjang pada sendi dan jaringan di sekitarnya.
Aturan pergelangan kaki Ottawa telah terbukti akurat dalam memprediksi pasien dengan cedera pergelangan kaki yang memerlukan sinar-X untuk mengecualikan patah tulang baik pada dewasa maupun anak-anak di atas lima tahun.
Aturan pergelangan kaki Ottawa menyarankan bahwa foto sinar-X pergelangan kaki sebaiknya diambil dalam kondisi rasa sakit di daerah mallus dan salah satu dari yang berikut ini:
1. Rasa sakit saat ditekan di tepi posterior 6 cm atau ujung mallus lateral.
2. Rasa sakit saat ditekan di tepi posterior 6 cm atau ujung mallus medial.
3. Tidak mampu menahan berat badan segera setelah cedera dan selama empat langkah pada saat evaluasi. Serangkaian foto kaki dianjurkan pada pasien dengan rasa sakit di tengah kaki dan salah satu dari yang berikut ini:
4. Rasa sakit saat ditekan pada pangkal metatarsal kelima.
5. Rasa sakit saat ditekan di atas tulang navikular.
6. Tidak mampu menahan berat badan segera setelah cedera dan selama empat langkah pada saat evaluasi.
Aturan ini tidak seharusnya digunakan jika ada cedera yang mengganggu perhatian, keracunan, kondisi yang menyebabkan penurunan sensasi pada ekstremitas bawah, dan pada mereka dengan cedera kepala atau kondisi lain yang akan membuat kerjasama sulit. Aturan pergelangan kaki Ottawa telah ditemukan
memiliki spesifisitas yang hanya sedang tetapi sensitivitas yang tinggi terhadap patah tulang pergelangan kaki. Kurang dari 2% dari mereka yang tidak direkomendasikan untuk menjalani pemeriksaan pencitraan berdasarkan aturan ini ternyata memiliki patah tulang.
Serangkaian foto sinar-X pergelangan kaki yang biasa meliputi pandangan anteroposterior, lateral, dan pandangan mortise. Pandangan standar dengan serangkaian foto kaki meliputi pandangan anteroposterior, lateral, dan pandangan oblik.
Melanson SW, Shuman VL. Acute Ankle Sprain. [Updated 2023 May 23]. In:
StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459212/