• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. PD 10A Perawatan Jalan Rel dengan lebar 1067 mm

N/A
N/A
Fadlan Yasin Ramadhani S

Academic year: 2025

Membagikan "5. PD 10A Perawatan Jalan Rel dengan lebar 1067 mm"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

(PD 10A)

PERAWATAN JALAN REL DENGAN LEBAR 1.067 mm

Ditetapkan dengan

Keputusan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Nomor KEP.U/KL.104/XI/1/KA-2016 Tanggal 11 November 2016

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Peraturan Dinas 10A (PD 10A)

Perawatan Jalan Rel dengan Lebar 1.067 mm

Ditetapkan dengan

Keputusan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor Tanggal

TANGGAL :

(7)
(8)

ii TIM PEMBAHARUAN DAN PERBAIKAN REGLEMEN

MENJADI PERATURAN DINAS

MENGENAI PERAWATAN JALAN REL DENGAN LEBAR 1.067 MM

Bambang Eko Martono Slamet Suseno Priyanto Candra Purnama

Ahmad Najib Tawangalun

Arief Mudjono Bambang Sulistio Suryadi Rachmat Bambang Tiarso

Iwan Eka Putra Cukup Setiyono

R. Dadan Rudiansyah Hari Koesdarmanto Rosyid Budiantoro R. Didin Supriadi

Yoseph Ibrahim Agus Wahjuana

M.N. Fadhila Agus Sukamto

Roni Komar Kadi Supriatna

Eko Windu Widio Purnomo Sukirno E.S Hendra

Aris Soeharto

Muhammad Arifudin Setyo Rini

Anggoro Triwibowo Yulianto

Nursatyo Slamet Riyadi Dwi Utomo Joko Widagdo Sukamto Ramdani Moch. Hasan Safri Endi Sekretariat:

Sukamto

Irwan Y. Hardiansyah Ari Bodro Nugroho Evi Andriani

Iwan Muhamad Ridwan Friska Yulismatun A.T

Anwar Jamili

Didit Andi Indrayana

Denny Martha Ariestian

(9)

iii PERUBAHAN DAN TAMBAHAN

No Ditetapkan dengan Surat Keputusan Berlaku Mulai Tanggal

Dikerjakan

oleh Keterangan

Dari Nomor Tanggal

(10)

iv DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

TIM PEMBAHARUAN DAN PERBAIKAN REGLEMEN ... ii

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ...iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I KETENTUAN UMUM ... 1

BAB II SYARAT, LINGKUP PEMERIKSAAN DAN PERAWATAN JALAN REL ... 2

Bagian Pertama Syarat Keadaan Jalan Rel ... 2

Bagian Kedua Pemeriksaan Umum Jalan Rel ... 2

Bagian Ketiga Tenaga Perawatan Jalan Rel ... 3

Bagian Keempat Pelaksanaan Pekerjaan ... 3

Bagian Kelima Lingkup Pekerjaan Perawatan ... 4

Paragraf 1 Umum ... 4

Paragraf 2 Kegiatan Perawatan Jalan Rel ... 4

Paragraf 3 Perawatan Jalan Rel Milik Pemerintah ... 5

Paragraf 4 Perawatan Jalan Rel Milik Perusahaan ... 5

Bagian Keenam Pengawasan Jalur Kereta Api ... 6

Bagian Ketujuh Batas-Batas dan Jarak Dari Sumbu Jalan Rel ... 8

Paragraf 1 Batas Ruang Bebas ... 8

Paragraf 2 Penempatan Benda Tetap ... 9

Paragraf 3 Peron dan Tempat Muat Bongkar ... 10

Paragraf 4 Jarak Antara Jalan Rel di Jalan Bebas dan di Stasiun ... 12

BAB III GEOMETRI JALAN REL ... 13

Bagian Pertama Umum ... 13

Bagian Kedua Kelurusan dan Kerataan Jalan Rel ... 14

Paragraf 1 Batasan Kelurusan dan Kerataan ... 14

Paragraf 2 Skilu ... 16

Bagian Ketiga Lengkung Horizontal ... 17

Paragraf 1 Lengkung Lingkaran dan Lengkung Peralihan ... 17

Paragraf 2 Anak panah ... 23

Paragraf 3 Lengkung di Jembatan ... 24

Paragraf 4 Pemeriksaan Lengkung ... 25

Bagian Keempat Lengkung Vertikal ... 26

Bagian Kelima Landai ... 28

BAB IV SUSUNAN JALAN REL ... 30

Bagian Pertama Rel ... 30

Bagian Kedua Sambungan Rel ... 38

Bagian Ketiga Alat Penambat ... 41

Paragraf 1 Jenis Penambat ... 41

Paragraf 2 Pemeriksaan dan Perawatan Alat Penambat Kaku ... 42

Paragraf 3 Pemeriksaan dan Perawatan Alat Penambat Elastik ... 42

Paragraf 4 Pelat Landas ... 42

Bagian Keempat Bantalan ... 42

(11)

v

Bagian Kelima Wesel ... 45

Bagian Keenam Balas dan Alas Balas ... 49

Bagian Ketujuh Tubuh Jalan Rel ... 51

Bagian Kedelapan Perawatan Jalan Rel di Area Track Circuit ... 52

Paragraf 1 Tindakan yang harus dilakukan di area track circuit ... 52

Paragraf 2 Insulated Rail Joint ... 53

Bagian Kesembilan Perawatan Jalan Rel di Jalur Elektrifikasi ... 53

BAB V DRAINASE ... 55

Bagian Pertama Umum ... 55

Bagian Kedua Drainase Permukaan ... 55

Bagian Ketiga Drainase Bawah Tanah ... 56

Bagian Keempat Drainase Lereng ... 57

BAB VI FASILITAS PENGAMAN DAN FASILITAS LAIN ... 58

Bagian Pertama Rel Paksa dan Rel Pengaman ... 58

Paragraf 1 Rel Paksa ... 58

Paragraf 2 Rel Pengaman ... 60

Bagian Kedua Perlintasan Sebidang ... 62

Bagian Ketiga Badug ... 65

Bagian Keempat Tanda dan Marka di Jalur Kereta Api ... 66

Paragraf 1 Umum ... 66

Paragraf 2 Penempatan Tanda dan Marka ... 67

Bagian Kelima Semboyan Pembatas Kecepatan ... 70

(12)

1

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Dinas ini yang dimaksud dengan:

1. Perusahaan adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero).

2. Direksi adalah organ Perusahaan yang bertanggung jawab atas pengurusan Perusahaan untuk kepentingan dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan, baik di dalam maupun di luar pengadilan.

3. Daerah Operasi/Divisi Regional, selanjutnya disebut Daerah.

4. Pimpinan Daerah adalah Pejabat yang memimpin suatu satuan organisasi Perusahaan di tingkat Daerah.

5. Pejabat pusat urusan jalan rel dan jembatan, yang selanjutnya disebut JTJ adalah pejabat yang bertanggung jawab atas perawatan dan keandalan jalan rel dan jembatan di pusat.

6. Pejabat daerah urusan jalan rel dan jembatan, yang selanjutnya disebut JPJD adalah pejabat yang bertanggung jawab atas perawatan dan keandalan jalan rel dan jembatan di daerah.

7. Pejabat daerah urusan sinyal, telekomunikasi dan listrik, yang selanjutnya disebut JPSD adalah pejabat yang bertanggung jawab atas perawatan dan keandalan peralatan persinyalan, telekomunikasi dan listrik di daerah.

8. Pejabat daerah urusan operasi, yang selanjutnya disebut JPOD adalah pejabat yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengendalian operasi kereta api di daerah.

9. Kepala Unit Pelaksana Teknis, yang selanjutnya disingkat Kupt adalah pejabat yang memimpin satuan organisasi setingkat unit pelaksana teknis tertentu.

10. Pekerja adalah seseorang yang mempunyai hubungan kerja dengan Perusahaan yang bersifat tetap dan terikat dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT), dituangkan ke dalam Surat Keputusan Pengangkatan.

11. Petugas adalah pekerja atau seseorang yang memenuhi kualifikasi kompetensi dan ditugasi oleh Perusahaan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu.

12. Jalur kereta api adalah jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang manfaat jalur kereta api, ruang milik jalur kereta api, dan ruang pengawasan jalur kereta api, termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api.

13. Jalan rel adalah satu kesatuan konstruksi yang terbuat dari baja, beton, atau konstruksi lain yang terletak di permukaan, di bawah, dan di atas tanah atau bergantung beserta perangkatnya yang mengarahkan jalannya kereta api.

14. Jalan bebas adalah bagian petak jalan antara sinyal masuk suatu stasiun dengan sinyal masuk stasiun berdekatan.

15. Petak jalan adalah bagian jalur kereta api yang terletak di antara dua stasiun berdekatan.

(13)

2

BAB II SYARAT, LINGKUP PEMERIKSAAN DAN PERAWATAN JALAN REL

Bagian Pertama Syarat Keadaan Jalan Rel

Pasal 2

(1) Jalan rel berikut segala perlengkapannya harus selalu dirawat, agar dapat dilalui dengan aman oleh sarana kereta api dengan kecepatan maksimum yang diizinkan.

(2) Apabila oleh karena suatu keadaan, sehingga persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, meskipun tidak ada kereta api yang akan segera lewat, harus dipasang semboyan dan tindakan yang dibutuhkan untuk keselamatan perjalanan kereta api.

(3) Untuk jenis semboyan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan lamanya waktu pemasangan ditetapkan oleh Kupt Jalan Rel.

Bagian Kedua Pemeriksaan Umum Jalan Rel

Pasal 3

(1) Pemeriksaan jalan rel adalah kegiatan untuk mengetahui kondisi konstruksi jalan rel dalam rangka perencanaan perawatan berkala maupun perbaikan sehingga perawatan dapat dilakukan setepat mungkin sesuai pedoman perawatan jalan rel.

(2) Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kupt Jalan Rel harus selalu memeriksa jalan rel di wilayahnya (termasuk emplasemen balai yasa, depo, dan jalur simpang bila ada) sesuai dengan lembar pemeriksaan dan hasilnya harus segera dilaporkan secara tertulis kepada JPJD.

(3) Dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan kegiatan sebagai berikut:

a. perbaikan untuk penanganan kondisi darurat (misal goyangan keras, rel putus, longsor);

b. perawatan berkala merupakan tindakan pencegahan (preventif) dan/atau penggantian sesuai umur teknis untuk mempertahankan kelaikan jalan rel; atau

c. perawatan yang bersifat penggantian, penambahan dan perbaikan material serta perbaikan geometri yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi.

(14)

3

Bagian Ketiga Tenaga Perawatan Jalan Rel

Pasal 4

(1) Tenaga perawatan jalan rel adalah petugas yang melaksanakan pekerjaan perawatan dan memiliki sertifikat kompetensi tenaga perawatan jalur dan bangunan kereta api bidang jalan rel yang diatur dalam Peraturan Dinas tersendiri.

(2) Setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh bagian lain atau pihak ketiga, yang berkaitan dengan jalan rel atau berada dalam ruang manfaat dan ruang milik jalur kereta api, hanya boleh dilakukan atas pengawasan Kupt Jalan Rel atau seorang pekerja jalan rel yang ditunjuk olehnya untuk pengawasan pekerjaan tersebut.

(3) Perbaikan untuk penanganan kondisi darurat sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 3 ayat (3) huruf a dilaksanakan oleh regu satuan kerja.

(4) Perawatan berkala sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 3 ayat (3) huruf b, selain dilaksanakan oleh regu satuan kerja dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga berdasarkan kontrak pekerjaan.

(5) Perawatan yang bersifat penggantian sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 3 ayat (3) huruf c, selain dilaksanakan oleh regu satuan kerja dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga berdasarkan kontrak pekerjaan.

(6) Formasi regu satuan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) ditetapkan dengan Keputusan Direksi tersendiri.

Bagian Keempat Pelaksanaan Pekerjaan

Pasal 5

(1) Pelaksanaan pekerjaan perbaikan untuk menangani kondisi darurat sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 3 ayat (3) huruf a, berlaku ketentuan bahwa perbaikan yang dilakukan harus sudah bersifat tetap.

(2) Perbaikan yang bersifat sementara, hanya diperbolehkan jika dengan cara tersebut kerusakan yang lebih besar dapat dihindarkan dan tertib perjalanan kereta api tetap terjamin, tetapi harus segera diikuti dengan tindakan ke arah perbaikan yang bersifat tetap.

(3) Kegiatan perawatan sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 3 ayat (3) huruf b dan c, harus dilaksanakan sesuai dengan program perawatan yang telah ditetapkan.

(4) JPJD bertanggung jawab untuk penyusunan program perawatan tahunan jalan rel sesuai wilayahnya, yang diajukan untuk disetujui oleh Pimpinan Daerah dalam rangka penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan, baik untuk perawatan jalan rel milik Negara maupun jalan rel milik Perusahaan.

(15)

4

(5) Program perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibuat berdasarkan pada :

a. data kerusakan dari hasil pemeriksaan berkala dan pemeriksaan sewaktu-waktu;

b. skala prioritas, waktu pelaksanaan, kebutuhan material, alat kerja dan kebutuhan tenaga; dan

c. hasil koordinasi bersama Kupt yang bersangkutan apabila program perawatan jalan rel berkaitan dengan unit lain (misal KS, Kupt Sintelis, Kupt Balai Yasa).

(6) Perubahan skala prioritas pada program perawatan apabila terjadi hal mendesak karena ada pekerjaan terkait keselamatan perjalanan kereta api yang harus segera dilaksanakan (misal, untuk mencabut semboyan 3 pada rintang jalan) JPJD harus segera mengajukan persetujuan untuk perubahan program perawatan kepada Pimpinan Daerah untuk selanjutnya diajukan persetujuan Direksi.

Bagian Kelima Lingkup Pekerjaan Perawatan

Paragraf 1 Umum

Pasal 6

(1) Perawatan jalan rel mencakup jalan rel milik Pemerintah dan milik Perusahaan.

(2) Jalan rel milik Pemerintah adalah aset milik Negara yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dibangun dengan investasi Perusahaan yang telah diserahkan kepada Negara atau berasal dari perolehan lainya yang pelaksanaan penyelenggaraannya diserahkan kepada Perusahaan.

(3) Jalan rel milik Perusahaan adalah jalan rel yang tercatat sebagai aset Perusahaan antara lain jalan rel yang berada di emplasemen balai yasa, depo, jalur simpang, dan jalan rel yang dibangun dengan dana investasi Perusahaan yang belum diserahkan kepada Negara.

Paragraf 2

Kegiatan Perawatan Jalan Rel Pasal 7

(1) Kegiatan perawatan jalan rel meliputi : a. pemeriksaan/inspeksi;

b. perawatan rel;

c. perawatan bantalan;

d. perawatan balas;

e. pemecokan;

f. perawatan wesel;

g. perawatan lingkungan.

(2) Pemeriksaan/inspeksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah kegiatan yang dilakukan secara berkala terhadap seluruh jalan rel untuk mengetahui kondisi dan fungsi jalan rel.

(16)

5 (3) Perawatan rel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah

kegiatan perawatan rel termasuk pengantian rel baru dan cascading rel bukan baru untuk penggantian serta kegiatan perbaikan geometri rel.

(4) Perawatan bantalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah kegiatan perawatan bantalan dan alat penambat (besi, kayu dan beton) termasuk penggantian bantalan baru (biasa, wesel dan jembatan), cascading bantalan dan penggantian suku cadang perawatan.

(5) Perawatan balas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah kegiatan perawatan balas termasuk penambahan, penggantian, dan/atau penanganan akibat kecrotan (pumping) dan balas mati.

(6) Pemecokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e adalah kegiatan pemecokan/tamping dilakukan dengan Kereta Pemeliharaan Jalan Rel (KPJR) atau mekanik ringan/manual termasuk perawatan mesin, pengadaan mesin baru atau bukan baru berikut suku cadang untuk perawatan dan alat kerja manual.

(7) Perawatan wesel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f adalah kegiatan perawatan wesel termasuk penggantian, pengadaan wesel, cascading wesel dan penggantian suku cadang.

(8) Perawatan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g adalah kegiatan perawatan lingkungan meliputi perawatan patok- patok/tanda, perlintasan sebidang, tubuh ban, pencabutan rumput/babatan dan selokan/drainase.

Paragraf 3

Perawatan Jalan Rel Milik Pemerintah Pasal 8

(1) Perawatan jalan rel milik Pemerintah yang pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 6 ayat (2), tujuannya untuk menjaga/menjamin keselamatan jalan rel agar laik operasi sesuai dengan kecepatan yang telah ditentukan.

(2) Jalan rel yang dibangun dengan dana APBN setelah dilakukan pendinasan (switch over), pengawasan, perawatan dan perbaikan menjadi tanggung jawab JPJD.

(3) Pendinasan (switch over) sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Direksi tersendiri.

Paragraf 4

Perawatan Jalan Rel Milik Perusahaan Pasal 9

(1) Perawatan jalan rel milik Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 6 ayat (3), pengawasan dan perawatan untuk keselamatan perjalanan kereta api dan langsir merupakan tanggung jawab Kupt Jalan Rel.

(17)

6

(2) Jalan rel yang dibangun dengan dana investasi Perusahaan setelah dilakukan pendinasan (switch over), pengawasan, perawatan dan perbaikan menjadi tanggung jawab JPJD.

(3) Pendinasan (switch over) sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Direksi tersendiri.

Bagian Keenam Pengawasan Jalur Kereta Api

Pasal 10

(1) Jalur kereta api yang digunakan untuk operasi kereta api, meliputi:

a. ruang manfaat jalur kereta api (rumaja);

b. ruang milik jalur kereta api (rumija); dan c. ruang pengawasan jalur kereta api (ruwasja).

(2) Ruang manfaat jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas jalan rel dan bidang tanah di kiri dan kanan jalan rel beserta ruang di kiri, kanan, atas, dan bawah yang digunakan untuk konstruksi jalan rel dan penempatan fasilitas operasi kereta api serta bangunan pelengkap lainnya dengan batas sebagai berikut:

a. sisi terluar di kiri dan kanan tubuh jalan rel, jika terdapat drainase, fasilitas operasi kereta api atau bangunan pelengkap lainnya, maka sisi terluarnya menjadi batas ruang manfaat;

b. sisi terluar dari konstruksi terowongan;

c. sisi terluar dari konstruksi jembatan bangunan atas atau bangunan bawah jembatan, jika sisi terluar konstruksi jembatan lebih kecil dari sisi terluar tubuh jalan rel, maka yang dipakai sisi terluar tubuh jalan rel.

(3) Ruang milik jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi bidang tanah di kiri dan di kanan ruang manfaat jalur kereta api yang digunakan untuk pengamanan konstruksi jalan rel.

(4) Batas ruang milik jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk jalan rel yang terletak di atas permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang manfaat jalur kereta api, yang lebarnya paling sedikit 6 (enam) meter.

(5) Ruang pengawasan jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi bidang tanah atau bidang lain di kiri dan di kanan ruang milik jalur kereta api yang digunakan untuk pengamanan dan kelancaran operasi kereta api.

(6) Batas ruang pengawasan jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk jalan rel yang terletak pada permukaan tanah diukur dari batas paling luar di kiri dan di kanan ruang milik jalur kereta api, dengan lebar masing-masing 9 (sembilan) meter.

(18)

7 Gambar 2-1 : Ruang manfaat, ruang milik, ruang pengawasan jalur

kereta api pada jalur tunggal lebar jalan rel 1067 mm.

Gambar 2-2 : Ruang manfaat, ruang milik, ruang pengawasan jalur kereta api pada jalur ganda lebar jalan rel 1067 mm.

(7) Dalam hal jalan rel yang terletak pada permukaan tanah berada di jembatan yang melintas sungai dengan bentang lebih besar dari 10 (sepuluh) meter, batas ruang pengawasan jalur kereta api masing- masing sepanjang 50 (lima puluh) meter ke arah hilir dan hulu sungai.

(19)

8

(8) Kupt Jalan Rel melakukan pengawasan jalur kereta api.

(9) Pada batas ruang manfaat jalur kereta api harus dipasang:

a. tanda batas berupa patok yang dapat terlihat dengan jelas;

b. jarak antara masing-masing tanda batas berupa patok sebagaimana dimaksud pada huruf a paling jauh 1 (satu) kilometer atau disesuaikan dengan kondisi jalur kereta api;

c. tanda larangan berada dalam batas ruang manfaat jalur kereta api berupa papan pengumuman atau media lain yang memuat larangan dan sanksi pelanggarannya.

(10) Pelaksanaan pemasangan tanda batas ruang manfaat jalur kereta api dan tanda larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) menjadi tanggung jawab JPJD.

(11) Pada lintas elektrifikasi, tidak diperbolehkan ada bagian dari pepohonan yang berjarak kurang dari 4 (empat) meter dari kawat Listrik Aliran Atas (LAA) terdekat, dan untuk menjaga jarak aman tersebut setiap pohon atau cabang-cabangnya harus dipotong atau dipangkas secara berkala.

Bagian Ketujuh Batas-Batas dan Jarak Dari Sumbu Jalan Rel

Paragraf 1 Batas Ruang Bebas

Pasal 11

(1) Ruang bebas adalah ruang untuk lalu lintas kereta api yang senantiasa harus bebas dari segala rintangan dan benda penghalang sesuai ketentuan batas ruang bebas sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Dinas 10.

(2) Pada seluruh jalur kereta api, harus terjamin adanya batas ruang bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berlaku untuk setiap jalur, kecuali:

a. acuan muatan untuk muatan dan pintu-pintu gudang pada jalur muat/bongkar di emplasemen;

b. jalur simpang yang hanya dimasuki gerbong-gerbong, boleh ditempatkan benda-benda tetap dalam batas ruang bebas dengan persetujuan Direksi.

(3) Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), di belakang wesel di emplasemen harus dipasang tanda batas ruang bebas (semboyan 18), dengan ketentuan sebagai berikut:

a. tanda batas ruang bebas dipasang 600 mm lebih tinggi dari kepala rel, dan dicat warna putih yang pada malam hari dapat memantulkan cahaya sedangkan di bawahnya sampai dengan permukaan tanah dicat warna hitam;

b. tanda batas ruang bebas dipasang diantara kedua jalur kereta api, diukur siku terhadap sumbu jalan rel masing-masing dengan jarak paling sedikit 1950 mm.

(20)

9 Paragraf 2

Penempatan Benda Tetap Pasal 12

(1) Pada jalur lurus, untuk pembuatan bangunan baru atau perubahan bangunan yang ada atau benda tetap di jalan bebas dan di stasiun, dimana kereta api berjalan langsung, jarak yang diperkenankan dari sumbu jalan rel harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. pada ketinggian 1000 mm sampai dengan 3550 mm di atas kepala rel, tidak boleh ada bagian dari bangunan atau benda tetap yang berjarak kurang dari 2350 mm, dan jika keadaan memungkinkan jarak tersebut diperbesar sampai 2530 mm;

b. tiang listrik aliran atas di petak jalan rel atau di emplasemen, sampai dengan tinggi 3550 mm, jarak yang diizinkan paling sedikit 2750 mm, sedangkan jarak normal 3000 mm;

c. tiang listrik penerangan di emplasemen yang ditempatkan di antara 2 (dua) jalur, jarak yang diizinkan minimal 2350 mm;

d. untuk tiang sinyal di emplasemen jarak yang diperkenankan minimal 1950 mm;dan

e. untuk bagian konstruksi jembatan, pada ketinggian 1000 mm sampai dengan 3550 mm, jarak yang diizinkan minimal 2150 mm.

(2) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dipenuhi, maka pada waktu perluasan atau perubahan di jalan bebas dan emplasemen diusahakan untuk disesuaikan.

(3) Pada jalur lengkungan dengan jari-jari kurang dari 350 meter, pembuatan bangunan baru atau perubahan bangunan yang ada, jarak yang diperkenankan dari sumbu jalan rel, pada ketinggian 1000 mm sampai dengan 3550 mm, adalah minimal 2530 mm.

(4) Pada jalur lurus dan lengkungan untuk ketinggian sampai dengan 1000 mm di atas kepala rel mengikuti ketentuan batas ruang bebas sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Dinas 10.

Gambar 2-3 : Tanda Batas Ruang Bebas

Bebas

(21)

10

Paragraf 3 Peron dan Tempat Muat Bongkar

Pasal 13

(1) Peron merupakan bagian dari bangunan stasiun yang dibedakan berdasarkan tinggi konstruksi yaitu:

a. peron tinggi;

b. peron sedang; dan c. peron rendah.

(2) Persyaratan untuk peron tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, adalah sebagai berikut:

a. tinggi permukaan lantai 1000 mm diukur dari sisi atas kepala rel;

b. jarak tepi atas lantai peron ke sumbu jalan rel 1600 mm pada lurusan, atau 1650 mm pada lengkung;

c. lebar minimal 2000 mm jika berada di antara dua jalur atau 1650 mm jika berada di tepi jalur; dan

d. dilengkapi dengan garis batas aman peron minimal 350 mm dari sisi tepi luar ke as peron.

Gambar 2-4 : Peron Tinggi

(3) Persyaratan untuk peron sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, adalah sebagai berikut:

a. tinggi permukaan lantai 430 mm diukur dari sisi atas kepala rel;

b. jarak tepi atas lantai peron ke sumbu jalan rel 1400 mm;

c. lebar minimal 2400 mm jika berada di antara dua jalur, atau 1900 mm jika berada di tepi jalur; dan

d. dilengkapi dengan garis batas aman peron minimal 550 mm dari sisi tepi luar ke as peron.

(22)

11 Gambar 2-5 : Peron Sedang

(4) Persyaratan untuk peron rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, adalah sebagai berikut:

a. tinggi permukaan lantai 180 mm diukur dari sisi atas kepala rel;

b. jarak tepi atas lantai peron ke sumbu jalan rel 1400 mm;

c. lebar minimal 2400 mm jika berada di antara dua jalur, atau 1850 mm jika berada di tepi jalur; dan

d. dilengkapi dengan garis batas aman peron minimal 550 mm dari sisi tepi luar ke as peron.

Gambar 2-6 : Peron Rendah

(5) Ketentuan tempat muat bongkar adalah sebagai berikut:

a. tinggi permukaan lantai maksimal 1000 mm diukur dari sisi atas kepala rel;

b. jarak tepi tempat muat bongkar ke sumbu jalan rel minimal 1600 mm; dan

c. lebar tempat muat bongkar yang dipertinggi tergantung dari keadaan setempat minimal 3000 mm.

(6) Di emplasemen stasiun yang terdapat peron, ketinggian kepala rel harus tetap terjaga agar memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), (3) atau (4).

(23)

12

Paragraf 4 Jarak Antara Jalan Rel di Jalan Bebas dan di Stasiun

Pasal 14

(1) Pada jalan rel di jalan bebas, jarak antara dua sumbu jalan rel minimal adalah:

a. 4,00 meter pada lurusan dan pada lengkung dengan jari-jari ≥ 350 meter;

b. 4,11 meter pada lengkung dengan jari-jari < 350 meter;

c. 4,70 meter jika terdapat tiang listrik diantaranya.

(2) Pada jalan rel di emplasemen stasiun, jarak antara dua sumbu jalan rel minimal adalah:

a. 4,50 meter jika tidak memakai peron;

b. 5,20 meter jika memakai peron;

c. 4,70 meter untuk jalur utama dengan jalur langsir/muat bongkar terdekat;

d. 5,50 meter jika terdapat tiang listrik diantaranya.

(3) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) belum dipenuhi, maka pada waktu perluasan dan perubahan diusahakan untuk disesuaikan.

(24)

13

BAB III GEOMETRI JALAN REL

Bagian Pertama Umum

Pasal 15

(1) Geometri jalan rel direncanakan berdasar kepada kecepatan rencana serta ukuran-ukuran sarana yang melewatinya dengan memperhatikan faktor keamanan, kenyamanan, ekonomi dan kesesuaian dengan lingkungan sekitarnya.

(2) Lebar jalan rel adalah 1067 mm dengan toleransi -2/+5 mm diukur pada -10 sampai dengan -14 mm di bawah permukaan teratas kepala rel sebagaimana pada Gambar 3-1.

Gambar 3-1 : Lebar jalan rel

(3) Pengukuran lebar jalan rel dilakukan dengan memakai mal (template) dan dilakukan secara teratur, sedangkan mal harus dikalibrasi.

(4) Persamaan matematis antara lebar jalan rel (S), jarak antar bagian dua sisi terdalam roda (C), jarak antar sisi luar flens roda (d), tebal flens roda (f), dan kelonggaran antara rel dan roda (e) adalah:

(25)

14

Gambar 3-2 : Hubungan antara roda dan rel Persamaan : S = d + 2.e

dimana:

S = lebar jalan rel (mm)

d = jarak antar sisi luar flens roda kiri dan kanan (mm) e = kelonggaran antara roda dan rel = 4 mm

C = jarak antar bagian dua sisi terdalam roda 1000 mm (pembuatan + 1/ -1, pemeliharaan +3/-3).

f = tebal flens roda = 29,5 mm

sehingga d = C + 2.f = 1000 + 2 x 29,5 = 1059 mm maka S = d + 2.e = 1059 + 2 x 4 = 1067 mm

Persamaan di atas berlaku untuk jalan rel lurusan dan/atau lengkung dengan R > 600 meter, lebar jalan rel tetap, tidak tergantung pada besar kecilnya rel dan lebar kepala rel atau tingginya rel, sedangkan pada lengkung dengan R ≤ 600 meter, lebar jalan rel perlu diperbesar (periksa Tabel 3-4).

Bagian Kedua Kelurusan dan Kerataan Jalan Rel

Paragraf 1 Batasan Kelurusan dan Kerataan

Pasal 16

(1) Pada jalan rel lurusan, tinggi kepala rel kiri dan kepala rel kanan harus sama.

(2) Pada jalan rel lurusan, apabila terjadi ketidaklurusan sebesar 5 mm pada jarak 10 meter atau kurang sebagaimana pada Gambar 3-3 maka harus segera diperbaiki.

(26)

15 Gambar 3-3: Ketidaklurusan

(3) Pada jalan rel lurusan, apabila terjadi penurunan tinggi kepala rel pada salah satu rel sebesar 7 mm, rel kiri atau rel kanan (periksa Gambar 3-4a) atau penurunan keduanya sebesar 7 mm sepanjang 10 meter (periksa Gambar 3-4b) maka jalan rel tersebut harus segera diperbaiki.

Gambar 3-4 a: Beda tinggi rel kiri dan kanan (cross level)

Gambar 3-4 b: Penurunan arah memanjang (longitudinal level)

(4) Apabila pada suatu bagian jalan rel diperlukan pengangkatan jalan rel secara menyeluruh maka dalam sekali pengangkatan dibatasi sebesar 30 mm. Sedangkan bila diperlukan pengangkatan lebih dari 30 mm harus dilakukan secara bertahap antara dua kegiatan dengan melalui masa penstabilan.

(5) Masa penstabilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah waktu yang dibutuhkan balas untuk mencapai perlawanan yang cukup memegang jalan rel pada kedudukannya sebagaimana pada Tabel 3-1.

Tabel 3-1 : Masa penstabilan/pemantapan normal :

Jalan rel

Tonase yang lewat

Bantalan Besi Bantalan Kayu Bantalan beton Rel pendek 20.000 ton 20.000 ton 20.000 ton Rel panjang 12.000 ton 60.000 ton 12.000 ton

(27)

16

Paragraf 2 Skilu Pasal 17

(1) Apabila terjadi penurunan rel yang menumpu salah satu roda, maka roda yang melewati penurunan tersebut tidak akan menyentuh rel karena roda tersebut sebidang dengan 3 (tiga) roda lainnya, dan perbedaan ketinggian yang sebenarnya antara 2 titik sepanjang 3 meter (dalam praktik 6 bantalan) disebut skilu.

Gambar 3-5 : Skilu

(2) Skilu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan roda anjlok, terlebih lagi jika kondisi sarana tidak baik (misal kekakuan sumbu bogie, pergerakan mengayun).

(3) Perbaikan harus segera dilakukan apabila skilu mencapai nilai sebagaimana pada Tabel 3-2.

Tabel 3-2 : Nilai skilu

V (km/jam) NILAI SKILU

V < 60 4 mm/m atau 12 mm pada jarak 3 m 60 ≤ V < 90 3 mm/m atau 9 mm pada jarak 3 m

V ≥ 90 2,5 mm/m atau 7 mm pada jarak 3 m

(4) Pada suatu petak jalan, skilu dapat diketahui bila terjadi kejutan dan/atau goyangan pada waktu dilalui kereta api, berdasarkan hal tersebut:

a. Kupt Jalan Rel harus segera mengambil tindakan perbaikan dan melaporkan kepada JPJD.

b. JPJD menetapkan bagian jalan mana yang harus diukur kedudukan tinggi relnya setiap 3 meter dengan alat penyipat datar.

(28)

17

Bagian Ketiga Lengkung Horizontal

Paragraf 1 Lengkung Lingkaran dan Lengkung Peralihan

Pasal 18

(1) Lengkung pada jalan rel dibentuk oleh lengkung lingkaran yang dihubungkan pada jalur lurus dengan atau tanpa lengkung peralihan (periksa Gambar 3-6 dan 3-7).

Gambar 3-6 : Lengkung pada jalan rel dengan lengkung peralihan.

Gambar 3-7 : Lengkung pada jalan rel tanpa lengkung peralihan.

Keterangan:

MLA = Mulai lengkung alih ML = Mulai lengkung AL = Akhir lengkung ALA = Akhir lengkung alih

(29)

18

(2) Pada saat sarana kereta api melalui lengkung, akan terjadi gaya sentrifugal yang bekerja pada titik berat sarana, untuk mengimbangi gaya sentrifugal tersebut rel luar harus ditinggikan terhadap rel dalam, dan keadaan tersebut disebut ―peninggian‖.

(3) Peninggian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

hnormal = 5,95 .

; dengan batasan a. hmaks = 110 mm

b. hmin = 8,8 . – 53,54

Keterangan : h = Peninggian (mm)

Vr = Kecepatan rencana (km/jam) R = Jari-jari lengkung (m)

(4) Untuk perhitungan peninggian, kecepatan rencana (Vr) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sebagai berikut:

Vr = c .

Keterangan : C = 1,25

Ni = Jumlah kereta api yang lewat Vi = Kecepatan operasi

(5) Besarnya jari-jari lengkung terkecil untuk berbagai kecepatan rencana dengan peninggian maksimum (hmaks) = 110 mm (periksa Tabel 3-3) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

hnormal = 5,95 .

jika hmaks = 110 mm, maka Vr = √

= 4,299 √ ≈ 4,3 √

Tabel 3-3 : Jari-jari lengkung terkecil pada berbagai kecepatan rencana dengan hmaks =110 mm

Kecepatan rencana (km/jam) Jari-jari lengkung terkecil (meter)

120 780

110 660

100 550

90 450

80 350

70 270

60 200

(30)

19 (6) Pada saat kereta api memasuki lengkung, flens roda depan sebelah luar akan selalu menekan rel luar, sedangkan gandar belakang akan menyesuaikan gerakan kearah radial terhadap titik tengah lengkung, dan apabila kelonggaran antara flens roda dengan rel sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 15 ayat (4) tidak cukup untuk memberi kebebasan gandar belakang, flens roda belakang sebelah dalam akan menempel dan menekan rel dalam, sehingga diperlukan penambahan lebar jalan rel yang disebut ―pelebaran‖.

(7) Pelebaran sebagaimana dimaksud pada ayat (6), dilakukan dengan cara penggeseran rel dalam, artinya rel luar tetap pada tempatnya sedangkan rel dalam digeser ke arah dalam untuk memberikan tambahan lebar jalan rel, besarnya pelebaran untuk berbagai jari-jari sebagaimana pada Tabel 3-4.

Tabel 3-4 : Pelebaran jalan rel

Jari-jari (meter) Pelebaran (mm) Lebar jalan (mm) R ≥ 600

550 ≤ R < 600 400 ≤ R < 550 350 ≤ R < 400 100 ≤ R < 350

0 5 10 15 20

1067 1072 1077 1082 1087

(8) Di jalan bebas atau di emplasemen dimana jalur lurus beralih ke lengkung, arah sumbu dan lebar jalan rel serta peninggian rel luar harus berubah secara berangsur, bagian yang merupakan peralihan tersebut disebut ―lengkung peralihan‖.

(9) Panjang minimum lengkung peralihan ditetapkan dengan rumus:

Lh= 0,01 x Vr x hn

dimana: Lh = Panjang minimum lengkung peralihan (meter) Vr = Kecepatan rencana (km/jam)

hn = Peninggian normal (milimeter)

(10) Peninggian dan pelebaran pada lengkung peralihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (7) diatur secara berangsur dari nol pada bagian lurus sampai sebesar peninggian dan pelebaran yang telah ditetapkan untuk lengkung lingkaran.

(11) Peninggian dan pelebaran pada lengkung tanpa peralihan diatur secara berangsur pada bagian lurusan yang panjangnya sama dengan peninggian (h) dikalikan faktor pengali sebagaimana pada Tabel 3-5.

(31)

20

Tabel 3-5: Faktor pengali untuk mendapatkan panjang perubahan peninggian rel tanpa lengkung peralihan.

Puncak kecepatan yang diizinkan Faktor pengali

V ≤ 45 km/jam 400

45 < V < 60 km/jam 600

V ≥ 60 km/jam 1000

(12) Jika peninggian jalan rel tidak digunakan (misal di emplasemen), pelebaran jalan rel dilakukan pada bagian lurus yang menyambung pada lengkung dengan panjang sama dengan nilai h untuk kecepatan di lengkung tersebut apabila peninggian digunakan dikalikan factor pengali sebagaimana dimaksud pada Tabel 3-5, bila panjang jalan rel yang lurus tidak mencukupi untuk melaksanakan pelebaran jalan sesuai ketetapan, maka panjang lengkung peralihan ditetapkan oleh Direksi.

(13) Jari-jari lingkaran pada lengkung peralihan berkurang secara berangsur dari tak terhingga pada bagian lurus sampai sebesar jari- jari lengkung pada akhir lengkung peralihan.

(14) Besarnya jari-jari minimum lengkung lingkaran, dimana pada puncak kecepatan tertentu yang tidak memerlukan lengkung peralihan dapat dilihat pada Tabel 3-6.

Tabel 3-6 : Jari-jari minimum lengkung lingkaran.

Kecepatan rencana

(km/jam) Jari-jari minimum lengkung lingkaran yang tidak memerlukan lengkung peralihan (m)

120 2370

110 1990

100 1650

90 1330

80 1050

70 810

60 600

(15) Apabila sudut pusat kecil, jari-jari lengkung peralihan harus ditentukan, sehingga tersedia cukup ruangan untuk menempatkan lengkung peralihan tanpa ada kemungkinan lengkung peralihan akan saling bertumpangan sebagian atau seluruhnya.

(16) Lengkung yang tidak boleh dilalui dengan puncak kecepatan yang telah ditetapkan pada suatu lintas tertentu, kecepatan kereta api pada saat melalui lengkung tersebut didasarkan pada kecepatan rencana saat menentukan peninggian rel luar lengkung, dan apabila puncak kecepatan yang diizinkan untuk suatu lengkung pada lintas tertentu lebih rendah dari puncak kecepatan yang diizinkan untuk lintas tersebut, pada permulaan lengkung harus dipasang tanda pembatas kecepatan yang menyatakan puncak kecepatan di lengkung tersebut.

(32)

21 (17) Di jalan bebas, besar peninggian untuk berbagai kecepatan rencana

tercantum pada Tabel 3-7.

(18) Di emplasemen, lengkung pada jalur utama yang terletak di antara wesel-wesel ujung dimana semua kereta api berhenti, rel luar tidak perlu peninggian.

(19) Pada jalur dimana kereta api berjalan langsung, rel luar perlu peninggian sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (16).

(20) Peninggian rel luar pada lengkung di jalur tunggal dibuat dengan menempatkan rel dalam pada letak tinggi semestinya dan menempatkan rel luar lebih tinggi.

(21) Peninggian rel luar pada lengkung di jalur ganda dibuat dengan menempatkan rel paling luar ditinggikan, rel paling dalam direndahkan dan rel-rel ditengah tetap ditempatkan pada tinggi normal.

(22) Untuk besaran nilai peninggian dan pelebaran pada lengkung yang belum sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (7) hendaknya segera disesuaikan secara bertahap.

(23) Antara dua lengkung yang arahnya saling berlawanan (lengkung S) atau arahnya bersamaan, harus ada bagian lurus tanpa peninggian sepanjang paling sedikit 20 meter, dan jika dipergunakan lengkung peralihan antara ujung-ujung lengkung peralihan harus ada bagian lurus paling sedikit 20 meter.

(24) Jika tidak terdapat atau hanya ada bagian lurus demikian pendek, sehingga pada penggunaan lengkung peralihan yang telah ditetapkan tidak ada sisa sepanjang 20 meter yang tanpa peninggian, maka peralihannya ditetapkan atas persetujuan Direksi.

(25) Di jalan bebas dan di emplasemen, lengkung dengan jari-jari maksimal 250 meter, pada rel dalam dari lengkung perlu dipasang rel paksa (rel gonsol) dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ‎Pasal 41.

(26) Di jalan bebas, emplasemen dan jalur lainnya menggunakan lengkung dengan jari-jari minimal 150 meter, sedangkan apabila menggunakan lengkung dengan jari-jari kurang dari 150 meter ditetapkan atas persetujuan Direksi.

(27) Di emplasemen bongkar muat atau pelabuhan, makin kecil jari-jari lengkung makin kecil pula kecepatan langsir yang diizinkan, dan lengkung dengan jari-jari 80 meter hanya boleh dilalui dengan kecepatan langsir 5 km/jam.

(28) Pada lengkung yang terdapat sambungan rel, kedudukan sambungan rel pada kedua sisi harus siku satu sama lain, dengan batang rel sisi luar berukuran panjang normal, sedangkan rel sisi dalam yang lebih pendek dengan jumlah yang sama.

(33)

22

(29) Untuk menjamin letak sambungan rel yang tepat, maka untuk rel dalam dari lengkung perlu dipasang rel yang lebih pendek, selisih panjang rel luar dengan rel dalam (f), ditetapkan menurut persamaan:

=

sehingga

f = x L

Dimana :

S = lebar jalan rel diukur dari sumbu rel kiri ke sumbu rel kanan (mm)

L = panjang rel luar/panjang normal (m)

f = selisih Panjang rel luar dengan rel dalam (mm) R = jari-jari lengkung (m)

L1 = panjang rel dalam (m), didapat dari perhitungan L – f Tabel 3-7 : Peninggian rel pada lengkungan

Jari-jari (m)

Peninggian (mm) pda setiap kecepatan rencana (km/jam)

120 110 100 90 80 70 60

100 150

200 -

250 - 90

300 - 100 75

350 110 85 65

400 - 100 75 55

450 110 85 65 50

500 - 100 80 60 45

550 110 90 70 55 40

600 100 85 65 50 40

650 - 95 75 60 50 35

700 105 85 70 55 45 35

750 - 100 80 65 55 40 30

800 110 90 75 65 50 40 30

850 105 85 70 60 45 35 30

900 100 80 70 55 45 35 25

950 95 80 65 55 45 35 25

1000 90 75 60 50 40 30 25

1100 80 70 55 45 35 30 20

1200 75 60 55 45 35 25 20

1300 70 60 50 40 30 25 20

1400 65 55 45 35 30 25 20

1500 60 50 40 35 30 20 15

1600 55 45 40 35 25 20 15

1700 55 45 35 30 25 20 15

1800 50 40 35 30 25 20 15

1900 50 40 35 30 25 20 15

2000 45 40 30 25 20 15 15

2500 35 30 25 20 20 15 10

3000 30 25 20 20 15 10 10

3500 25 25 20 15 15 10 10

4000 25 20 15 15 10 10 10

(34)

23

Paragraf 2 Anak panah

Pasal 19

(1) Untuk menentukan panjang anak panah suatu lengkung, dapat menggunakan alat bantu berupa benang nilon dengan panjang tetap, dengan cara mengukur panjang F dari titik tengah rentangan benang nilon A-B di M ke sisi dalam kepala rel luar (periksa Gambar 3-8).

(2) Panjang anak panah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diketahui dari persamaan matematis sebagai berikut:

AM x MB = MN x MP ... (persamaan 1) Apabila : AB = 2C

F = MN

R = jari-jari lengkung, maka persamaan 1 akan menjadi : C² = F (2R — F)

C² = 2R F — F² ………. (persamaan 2)

Karena anak panah F terlalu kecil dibanding jari-jari R, maka F² dapat diabaikan sehingga persamaan 2 dapat disederhanakan menjadi:

= 2R F ----> F =

Apabila panjang benang nilon ditetapkan 20 meter maka C = 10 meter, sehingga:

F = (meter)

Keterangan:

F = MN = panjang anak panah R = jari-jari lengkung

AB = benang nilon ANB = rel luar lengkung

Gambar 3-8 : Anak panah

(35)

24

Paragraf 3 Lengkung di Jembatan

Pasal 20

(1) Jembatan (rasuk atau dinding) yang terletak di lengkung, sumbu jembatan terletak sejajar dengan tali busur lengkung.

(2) Pada jembatan rasuk, jarak sumbu jembatan pada masing-masing ujungnya terhadap tali busur lengkung adalah 5/6 panjang anak panah sesuai panjang jembatan tersebut, sehingga jarak sumbu jalan rel terhadap sumbu jembatan di tengah panjang jembatan adalah 1/6 dari panjang anak panah tersebut (periksa Gambar 3-9).

Gambar 3-9 : Posisi lengkung di jembatan rasuk

(3) Pada jembatan dinding, jarak sumbu jembatan pada masing-masing ujungnya terhadap tali busur lengkung adalah 1/2 panjang anak panah sesuai panjang jembatan tersebut, sehingga jarak sumbu jalan rel terhadap sumbu jembatan di tengah panjang jembatan adalah 1/2 dari panjang anak panah tersebut (periksa Gambar 3-10).

(36)

25 Gambar 3-10 : Posisi lengkung di jembatan dinding

Paragraf 4 Pemeriksaan Lengkung

Pasal 21

(1) Di kantor Kupt Jalan Rel harus ada daftar lengkung untuk setiap lengkung dalam wilayahnya, yang berisi:

 nomor lengkung;

 titik permulaan (ML) dan titik akhir dari lengkung (AL);

 besarnya sudut pusat;

 jari-jari;

 anak panah;

 panjangnya lengkung peralihan;

 peninggian;

 lebar jalan rel;

 kecepatan ka;

 lebar alur rel paksa/gonsol (bila ada);

 lengkung kiri/kanan;

 panjang lengkung;

 waktu dan hasil pemeriksaan; dan

 waktu dan hasil perbaikan.

(2) Dalam daftar lengkung digambar secara sketsa lengkung yang bersangkutan dan dicantumkan letak km dan hm, bangunan hikmat serta letak patok-patok lengkung.

(3) Letak titik permulaan dan titik akhir lengkung di lintas, terutama untuk lengkung dengan jari-jari kecil, harus dipertegas dengan patok.

(4) Pemeriksaan dan pengukuran berkala lengkung dilakukan sebagaimana pada Tabel 3-8.

(37)

26

Tabel 3-8 : Pemeriksaan lengkung

Radius lengkung (m) Pemeriksaan lengkung setiap

R < 500 3 bulan sekali

500 ≤ R < 1000 6 bulan sekali

R ≥ 1000 12 bulan sekali

(5) Pemeriksan dan pengukuran berkala lengkung sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. mengukur anak panah dari lengkung pada rel luar dengan tali busur sepanjang 20 meter;

b. mengukur peninggian;

c. mengukur lebar jalan rel dan lebar alur rel paksa serta memeriksa kekencangan baut kedudukan rel paksa.

(6) Dari hasil pengukuran yang dilakukan oleh Kupt Jalan Rel sebagaimana dimaksud pada ayat (5), JPJD menetapkan perlu tidaknya lengkung diperiksa secara rinci untuk mengembalikan ke radius lengkung semula.

Bagian Keempat Lengkung Vertikal

Pasal 22

(1) Pada jalan rel dari bagian datar yang beralih ke landai atau dari bagian landai ke landai lainnya, harus dibuat peralihan berangsur dengan memakai lengkung peralihan vertikal berbentuk lingkaran yang dibuat sebelah menyebelah titik potong antara bagian datar dan bagian landai dengan panjang yang sama, serta besarnya jari-jari minimum lengkung peralihan ditentukan berdasar pada kecepatan rencana sebagaimana pada Tabel 3-9.

Tabel 3-9 : Jari-jari minimum lengkung vertikal Kecepatan Rencana

(Km/Jam) Jari-jari minimum lengkung vertikal (meter)

V ≥ 100 8000

60 ≤ V < 100 6000

45≤ V <60 4000

V <45 3000

(2) Lengkung peralihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan panjang landai peralihan sebelah menyebelah titik potong (L dalam meter), h1 (meter) adalah peninggian atau penurunan peralihan pada titik potong, dan h2 (meter) adalah peralihan di tengah-tengah antara awal peralihan dengan titik potong yang harus diangkat atau diturunkan, periksa Gambar 3-11 dan Tabel 3-10.

(38)

27 Gambar 3-11 : Landai peralihan

(39)

28

Tabel 3-10 : Landai peralihan Landai

m dan n (mm/m)

Kecepatan yang diizinkan

V ≥ 60 Km/jam 45< V< 60 Km/jam V ≤ 45 Km/jam

L h1 h2 L h1 h2 L h1 h2

1 3 0.001 - 2 - - 1.5 -

2 6 0.003 0.001 4 0.002 - 3 0.002

3 9 0.007 0.002 6 0.005 0.001 4.5 0.003 4 12 0.012 0.003 8 0.008 0.002 6 0.006 5 15 0.019 0.005 10 0.013 0.003 7.5 0.009 6 18 0.027 0.007 12 0.018 0.005 9 0.014 7 21 0.037 0.009 14 0.025 0.006 10.5 0.018 8 24 0.048 0.012 16 0.032 0.008 12 0.024 9 27 0.061 0.015 18 0.041 0.01 13.5 0.03 10 30 0.075 0.019 20 0.05 0.013 15 0.038 12 36 0.108 0.027 24 0.072 0.018 18 0.054 14 42 0.147 0.037 28 0.098 0.024 21 0.074 16 48 0.192 0.048 32 0.128 0.032 24 0.096 18 54 0.243 0.061 36 0.162 0.041 27 0.122

20 60 0.3 0.075 40 0.2 0.05 30 0.15

22 44 0.242 0.061 33 0.182

24 48 0.288 0.072 36 0.216

26 52 0.338 0.085 39 0.254

28 56 0.392 0.098 42 0.294

30 60 0.45 0.113 45 0.338

32 64 0.512 0.128 48 0.384

34 68 0.578 0.145 51 0.434

36 72 0.648 0.162 54 0.486

38 76 0.722 0.181 57 0.542

40 80 0.8 0.2 60 0.6

Bagian Kelima Landai

Pasal 23

(1) Pada penurunan jalan rel yang beralih ke pendakian, harus diberi bagian jalan rel mendatar di luar landai peralihan, dengan panjang minimal:

a. 200 meter untuk lintas dengan kecepatan puncak ≥ 60 km/jam;

b. 100 meter untuk lintas dengan kecepatan puncak 46 s.d 59 km/jam; dan

c. 50 meter untuk lintas dengan kecepatan puncak ≤ 45 km/jam.

Jika memungkinkan panjang jalan rel mendatar antara titik potong, sama dengan panjang rangkaian kereta api terpanjang yang melalui lintas tersebut.

(40)

29 (2) Pada perbedaan landai 20 ‰ atau lebih harus diadakan bagian

mendatar, apabila penurunan menyambung pendakian.

(3) Untuk mencegah sarana bergerak sendiri, maka jalan rel di emplasemen harus datar atau dengan kelandaian maksimum 1,5 ‰, untuk itu Kupt Jalan Rel secara berkala setiap 2 (dua) tahun harus melakukan pengukuran kerataan dan/atau kelandaian di emplasemen dan hasilnya dilaporkan kepada JPJD, sedangkan untuk landai yang lebih curam hanya diizinkan dalam keadaan luar biasa dan atas persetujuan Direksi.

(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) belum dipenuhi, pada waktu perluasan dan perubahan diusahakan untuk disesuaikan.

(41)

30

BAB IV SUSUNAN JALAN REL

Bagian Pertama Rel

Pasal 24

(1) Profil penampang rel dan dimensi untuk setiap tipe rel adalah sebagaimana pada Gambar 4-1 dan Tabel 4-1.

Gambar 4-1 : Penampang rel Tabel 4-1 : Besaran Dimensi Rel

Besaran

Dimensi Rel TYPE REL

R. 25 R. 33 R. 42 R. 50 R. 54 (UIC) R. 60 (UIC) H (mm) 110,00 134,00 138,00 153,00 159,00 172,00 B (mm) 90,00 105,00 110,00 127,00 140,00 150,00

C (mm) 53,00 58,00 68,50 65,00 70,00 72,00

h (mm) 24,00 30,00 31,50 36,30 36,30 37,50

k (mm) 8,00 9,50 9,75 10,00 11,00 11,50

D (mm) 10,00 11,00 13,50 15,00 16,00 16,50

E (mm) 37,75 39,00 40,50 49,00 49,40 51,00

F (mm) 22,50 19,00 23,50 30,00 30,20 31,50

R (mm) 75,00 160,00 320,00 500,00 508,00 120,00

A (cm2) 33,00 42,50 54,26 64,20 69,34 76,86

W (kg/m) 25,75 33,40 42,59 50,40 54,34 60,34 Ix (cm4) 538,30 1036,60 1369,00 1960,00 2346,00 3055,00

Yb (mm) 54,61 67,30 68,50 71,60 76,20 80,95

Ya (mm) 47,75 57,00 60,50 63,00 76,20 76,25

H = Tinggi F = Tebal kaki pd sumbu Y B = Lebar Kaki R = Jari jari badan Rel C = Lebar Kepala A = Luas penampang h = Tinggi Kepala W = Berat rel per meter k = Tebal Kaki Ix = Momen Inersia sumbu X D = Tebal Badan Yb = Jarak tepi bawah ke sumbu X E = Tebal Kepala pd Sumbu Y Ya = Jarak tepi bawah ke sumbu lubang

baut

(42)

31 (2) Jenis rel menurut panjangnya terdiri atas:

a. rel standar;

Panjang rel standar untuk masing-masing tipe rel adalah sebagai berikut:

1. R.25 panjang 6,80 meter, 9,60 meter dan 10,20 meter;

2. R.33 panjang 11,90 meter dan 13,60 meter;

3. R.42 panjang 17,00 meter;

4. R.50/R.54/R.60 panjang 25,00 meter.

b. rel pendek;

Rel pendek dibuat dari beberapa rel standar,dengan panjang maksimal rel sesuai jenis bantalan dan tipe rel sebagaimana pada Tabel 4-2.

c. rel panjang;

Rel panjang dibuat dari beberapa rel standar/pendek, dengan panjang minimal sesuai jenis bantalan dan tipe rel sebagaimana pada Tabel 4-3.

Tabel 4-2: Panjang Maksimal Rel Pendek

Jenis Bantalan Tipe Rel

R.42 R.50 R.54 R.60

Bantalan Kayu < 300 m < 375 m < 400 m < 425 m Bantalan Beton < 175 m < 225 m < 250 m < 250 m Tabel 4-3: Panjang Minimal Rel Panjang

Jenis Bantalan Tipe Rel

R.42 R.50 R.54 R.60

Bantalan Kayu ≥ 300 m ≥ 375 m ≥ 400 m ≥ 425 m Bantalan Beton ≥ 175 m ≥ 225 m ≥ 250 m ≥ 250 m (3) Diameter dan jarak lubang pada rel (periksa Gambar 4-2 dan Tabel 4-

4):

Keterangan :

a : jarak antara ujung rel dan sumbu lubang pertama.

b : jarak antara sumbu lubang pertama dan kedua.

c : jarak antara sumbu lubang kedua dan ketiga.

d : jarak antara kaki rel (bagian bawah) dengan sumbu lubang.

Gambar 4-2 : Diameter dan jarak lubang pada rel.

(43)

32

Tabel 4-4 : Diameter dan jarak lubang pada rel.

Tipe Rel Diameter lubang (mm)

Jarak lubang (mm)

a b c d

R 25 26,00 52,00 130,00 47,75

R 33 30,00 60,00 211,00 130,00 57,00

R 42 30,00 60,00 211,00 130,00 60,50

R 50 24,00 77,00 130,00 65,00

R 54 23,00 60,00 170,00 170,00 69,60

Diameter dan jarak lubang pada rel selain yang tertera dalam Tabel 4-4 yang ditetapkan oleh keputusan direksi dapat ditambahkan dalam Tabel 4-4.

(4) Pemasangan rel pada saat perawatan atau penggantian harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. pemotongan rel dalam keadaan dingin, diutamakan menggunakan gergaji rel atau menggunakan gerinda pemotong;

b. memotong rel dengan brander pemotong (dengan api) tidak diperbolehkan, kecuali dalam keadaan darurat dan berlaku sementara untuk melewatkan kereta api (misal pada saat terjadi rintang jalan) dengan pembatasan kecepatan 5 km/jam;

c. rel yang akan dipasang pada lengkung dengan jari-jari kurang dari 600 meter, harus dilengkungkan horizontal terlebih dahulu dengan mesin pelengkung dalam keadaan dingin;

d. panjang minimal rel ( kritis) yang boleh dipasang dengan menggunakan pelat sambung harus berpedoman pada kecepatan kritis kereta api yang dapat menyebabkan ayunan-ayunan yang beresonansi, dengan rumus sebagai berikut:

Vkritis = dimana:

Vkritis = kecepatan kritis (km/jam) kritis = panjang rel (m)

t = waktu (detik)

t = 2 √ ……… a = pelenturan statis pegas rata- rata yang diperkenankan

=0,050 m

g = gravitasi bumi = 10 m/dt² = 2 x 3,14 √

= 0,44 detik.

Sehingga Vkritis = x kritis = 8,2. kritis (km/jam) atau kritis =

kritis t (Km/jam)

Vkritis 8,2 (m) 0,44

(44)

33 Berdasarkan rumus tersebut, kritis untuk kecepatan tertentu sebagaimana pada Tabel 4-5.

Tabel 4-5: Panjang rel minimum tertentu (kritis) yang boleh dipasang dengan memakai pelat sambung dan pemasangan pembatas kecepatan apabila Vkritis lebih rendah dari Vmaks.

kritis

(m) Vkritis

(km/jam) Pemasangan pembatas kecepatan (km/jam)

6 7 8 9 10 11 12

49,2 57,4 65,6 73,8 82 90,2 98,2

40 50 60 70 80 80 90

Catatan : Jika banyak genjotan pada jalan rel sehingga pelenturan pegas > 0,050 m, dapat mengakibatkan Vkritis akan lebih kecil lagi.

e. pada pemasangan rel, tanda pabrik ditempatkan disisi dalam jalan rel;

f. rel (kecuali bidang atasnya) dan alat penambat yang akan dipasang di terowongan, di perlintasan atau di peron, sebelum pemasangan harus dilapisi pelindung anti karat;

g. pemasangan rel di atas bantalan diberi kemiringan ke sebelah dalam sebesar 1:40 untuk:

1. bantalan kayu tanpa pelat landas, kemiringan dibuat dengan mencowak bantalan kayu maksimum sedalam 1 cm;

2. bantalan yang memakai pelat landas, kemiringan sudah terdapat pada pelat landas.

h. sisi dalam dan atas kepala rel dari kedua rel yang bersambungan harus rata antara satu dengan lainnya, apabila ditemukan perbedaan bentuk (ketidakrataan) kepala rel harus disesuaikan menggunakan gerinda rel;

i. jika celah antara ujung rel tidak cukup, sehingga rel tidak dapat memuai atau jika ujung rel tersebut menjadi tertekan rapat karena pemuaian, besar celah antara ujung rel harus diperbaiki dengan mengedrek rel kearah sambungan-sambungan yang celahnya terlalu renggang, sehingga semua celah sesuai dengan yang ditentukan.

(5) Kupt Jalan Rel harus melakukan pemeriksaan kerusakan dan pengukuran keausan rel secara berkala untuk mengetahui kondisi kerusakan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), dan tingkat keausan sebagaimana dimaksud pada ayat (10), selanjutnya dapat mengajukan usul penggantian kepada JPJD tepat waktu.

(6) Rel harus segera diperbaiki/diganti jika:

a. terdapat kerusakan (rel patah atau retak, penipisan badan/kaki, keausan pada lubang/ruang pelat sambung);

Referensi

Dokumen terkait