• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Anak Agung Ngurah Gede Sadiartha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Anak Agung Ngurah Gede Sadiartha"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

Buku ini secara umum membahas tentang keberadaan LPD hingga saat ini, serta upaya antisipasi krisis LPD, baik pada tingkat makro maupun mikro. Akhir kata, penulis berharap buku ini dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi pengembangan dan upaya antisipasi penanganan krisis LPD.

PENDAHULUAN

Salah satu LPD yang mengalami kriteria tidak sehat pada tahun 2009 adalah LPD di Desa Pakraman, Denpasar. Upacara penyaksian medewa mempunyai implikasi antara lain: (a) mengembalikan kepercayaan nasabah, (b) menjadikan pengurus LPD baru lebih kondusif dalam pembinaan nasabah dan perbaikan pengelolaan LPD; dan (c) kinerja dan kemampuan keuangan LPD Desa Pakraman Denpasar juga dapat dioptimalkan.

Tabel 1.1 Tingkat kesehatan LPD s.d. akhir 2018
Tabel 1.1 Tingkat kesehatan LPD s.d. akhir 2018

SEKILAS SEJARAH LEMBAGA PERKREDITAN DESA

1990-2000 Sosialisasi pembentukan LPD di seluruh desa Pakraman di Bali (oleh tim provinsi Bali dan kabupaten/kota setempat). Pada periode ini, upaya sosialisasi pendirian LPD digencarkan di seluruh desa biasa di Bali yang dilakukan oleh tim Provinsi Bali dan kabupaten/kota setempat.

Tabel 2.1 Proses sosialisasi pendirian LPD di Bali PERIODE
Tabel 2.1 Proses sosialisasi pendirian LPD di Bali PERIODE

LEMBAGA PERKREDITAN DESA SEBAGAI MODAL SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT

BALI

LPD sebagai Modal Sosial

LPD merupakan modal sosial karena dibangun di atas kepercayaan yang didukung oleh norma dan nilai sosial yang positif, serta jaringan sosial yang kuat (Putnam, 1993). LPD telah menjadi modal sosial desa Pakraman yang keberadaannya telah menyebar ke seluruh pulau Bali.

Tabel 3.1 Sebaran LPD se-Bali dan jumlah tenaga kerjanya (sampai  akhir 2018)
Tabel 3.1 Sebaran LPD se-Bali dan jumlah tenaga kerjanya (sampai akhir 2018)

LPD sebagai Modal Ekonomi

Strategi penyaluran kredit LPD yang relatif cepat memperkuat citra positif LPD di mata masyarakat desa setempat. Sesuai dengan tempat tinggalnya, penerima pinjaman LPD Beraban-Kediri mengembangkan usaha keuangan untuk keluarga petani setempat, membuka warung makan dan menjualnya di pasar.

Tabel 3.3 Kucuran kredit LPD untuk wirausaha krama desa setempat KAB/ KOTA JUMAH
Tabel 3.3 Kucuran kredit LPD untuk wirausaha krama desa setempat KAB/ KOTA JUMAH

Catatan Akhir

SEKILAS BUDAYA ORGANISASI LEMBAGA PERKREDITAN DESA

Tri Hita Karana dan Awig-awig

Kedua, terkait dengan filosofi pawongan yaitu terjalinnya hubungan yang harmonis antara masyarakat satu sama lain, baik internal (hubungan pegawai dengan pengurus LPD) maupun eksternal organisasi yaitu pemberian jaminan kesehatan bagi krama desa pakraman untuk menjadi pegawai. LPD lokal, serta pengembangan produk LPD untuk memperkuat masyarakat lokal desa pakraman, baik produk tabungan dan deposito, serta produk simpanan pinjaman dan produk jasa. Karakteristik lembaga LPD sesuai dengan potensi masyarakat Bali di wilayah desa adat setempat. Sebagai cagar budaya, LPD milik Desa Pakraman dan pelanggannya adalah masyarakat Desa Pakraman atau dalam bahasa lokal Bali disebut krama.

Pulau Bali sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari daratan yang dimiliki oleh banyaknya desa Pakraman, atau tepatnya tidak ada satupun daratan di Bali yang tidak masuk dalam wilayah desa Pakraman. Sesuai penjelasan Kepala Dinas Perekonomian Provinsi Bali, Desa Pakraman ditegaskan tidak memiliki LPD selama lima tahun. Pencapaian 1.433 LPD di setiap desa Pakraman di Bali menjadi bukti betapa kuatnya kepercayaan masyarakat desa dan pengelolanya terhadap manfaat LPD.

Tabel 4.1 Implementasi tri hita karana sebagai budaya organisasi  LPD
Tabel 4.1 Implementasi tri hita karana sebagai budaya organisasi LPD

Sekehe dan Nilai Pade Ngelahang

Pade ngelahang adalah bahasa daerah Bali mengenai hubungan sosial antar warga desa Pakraman terkait dengan keberadaan LPD di desanya. Bendesa Desa Pakraman selaku pengurus adat bersama pengurus LPD terus melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman betapa pentingnya LPD sebagai milik Desa Pakraman. Yang sering ditemui, pengurus LPD masih minim pengalaman di bidang keuangan dan takut melakukan kesalahan.

Strategi penyetaraan braya dengan cara pengangkatan lebih sering digunakan untuk memilih ketua, sekretaris, dan bendahara LPD. Menurut Kepala LPD Desa Pakraman Denpasar, alasan kemudahan dan kecepatan proses kredit lebih karena nasabahnya merupakan warga sekitar sehingga sangat dikenal karakternya. Keunggulan penyetaraan braya sejalan dengan Teori Z Ouchi yang menekankan kehalusan atau hubungan antar manusia sebagai keunggulan korporasi Jepang di era global (Yusuf, 2018: 85).

Catur Asrama dan Inovasi Produk LPD

Mengidentifikasi tahapan siklus hidup produk dapat ditentukan dengan kombinasi tiga faktor yang menunjukkan karakteristik status produk dan membandingkan hasilnya dengan pola umum. Sesuai dengan kematangan usianya, LPD berupaya mengelola dan memperkuat berbagai produk LPD yang telah dikembangkan. Beberapa LPD di perkotaan telah berhasil melakukan inovasi produk layanannya, antara lain melayani warga dengan pembayaran air PAM, listrik, dan telepon.

Banyak LPD di Bali yang kini mengembangkan usahanya tidak hanya dari aspek ekonomi tetapi juga berperan dalam penguatan masyarakat melalui produk-produk inovatif untuk mendorong perkembangan industri. Misalnya saja di bidang pendidikan, sejumlah LPD di Bali menawarkan produk pembiayaan pendidikan kepada masyarakat desa. Selain itu, sejumlah LPD di Bali bidang kesehatan juga membuat produk dana kesehatan untuk masyarakat desa.

Gambar 4.1 Kurve Product Life Cycle
Gambar 4.1 Kurve Product Life Cycle

LPD DI TENGAH PERSAINGAN LEMBAGA PERBANKAN

  • LPD: Model Lembaga Keuangan Khas Bali
  • LPD di Tengah Persaingan Perbankan Modern
  • Implikasi Keuntungan LPD bagi Desa Pakraman
  • Catatan Akhir

Pemahaman tradisional melekat pada LPD karena pola pengelolaannya lebih bersifat lokal, sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa Pakraman setempat. Setiap desa pakraman dilandasi oleh Tri Hita Karana (THK), yaitu falsafah yang mengedepankan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesamanya (pawongan), dan manusia dengan lingkungan alamnya (palemahan) (Mantra, 1996). Ketiga, wilayah layanan LPD hanya sebatas desa adat setempat, sedangkan bank umum nasional mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tingginya kepercayaan masyarakat Desa Pakraman untuk menabung menunjukkan kepercayaan mereka terhadap LPD…” (Nyoman Cendekiawan, anggota LP-LPD Provinsi Bali, wawancara, 5 Maret 2018). Perkembangan tabungan masyarakat Desa Pakramani di LPD selama enam tahun terakhir nampaknya terus meningkat hingga mencapai 113,89. LPD juga menyumbangkan 5% keuntungannya untuk kegiatan sosial di desa Pakraman setempat.

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa terdapat 28  LPD  dikategorikan sangat besar dengan aset di atas 100 milar rupiah dan  kategori besar dengan aset di atas 50 milyar hingga di bawah 100  milyar sebanyak 32 LPD
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa terdapat 28 LPD dikategorikan sangat besar dengan aset di atas 100 milar rupiah dan kategori besar dengan aset di atas 50 milyar hingga di bawah 100 milyar sebanyak 32 LPD

STRATEGI MAKRO DALAM MENGATASI KRISIS MANAJEMEN LPD

  • Penerapan Fungsi-Fungsi Manajemen LPD
  • Pengawasan, Pemberdayaan, dan Pendampingan Teknis LPD Agar organisasi keuangan LPD berjalan dengan sehat, maka
  • Monitoring, Evaluasi, dan Penilaian Kesehatan LPD
  • Dukungan Modal Penyehatan LPD

LP-LPD bertugas melakukan penguatan LPD melalui kegiatan pembinaan teknis, pemeriksaan, pelatihan, pengaduan dan penanganan permasalahan serta perlindungan dan penjaminan terhadap LPD (Pergub no. 11/2013/pasal 54). Mengembangkan koordinasi dan kerjasama yang baik dengan LPD dalam melaksanakan pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia LPD se-Provinsi Bali. Memberikan saran, saran dan pendapat kepada Pemerintah Daerah, MDP, DPRD dan LP-LPD mengenai LPD dengan memperhatikan kepentingan masyarakat luas (Pergub No. 11/2013/Pasal 47).

Sebagai tangan kanan pemerintah, LP-LPD menggandeng wadah pembinaan masyarakat LPD yaitu BKS-LPD untuk memberdayakan LPD di seluruh desa Pakraman di Bali. Dalam melakukan asesmen kesehatan LPD, tim LP-LPD yang bekerja di lapangan menggunakan metode CAEL (Capital, Assets, Earning dan Liquidity). LPD hendaknya bekerja keras bersama pemangku kepentingan terkait untuk mempertahankan kinerja LPD yang sudah sehat dan melakukan perbaikan terhadap LPD yang tidak sehat agar menjadi lebih sehat.

Gambar 6.1 Alur Pengawasan, Pemberdayaan, dan Pembinaan  Teknis LPD
Gambar 6.1 Alur Pengawasan, Pemberdayaan, dan Pembinaan Teknis LPD

UPACARA MEDEWA SAKSI SOLUSI ATASI KRISIS MANAJEMEN LPD

KASUS LPD DESA PAKRAMAN DENPASAR)

Faktor Penyebab Krisis Manajemen LPD Desa Pakraman Denpasar

Salah satu LPD di Kota Denpasar pada tahun 2009 pernah mengalami kriteria tidak sehat yang akhirnya menjadi tidak sehat yaitu LPD di Kelurahan Pakraman Denpasar. Pada masa operasionalnya, LPD Desa Pakraman Denpasar tidak dijalankan dengan sistem pengelolaan dan administrasi yang baik sehingga dilanda krisis finansial bahkan hilangnya kepercayaan nasabah. Nasabah semakin sibuk menarik uangnya, sehingga LPD Desa Pakraman Denpasar semakin tidak sehat dan terancam bangkrut.

Selain menghadapi manajemen krisis internal (manajemen), gedung LPD Desa Pakraman Denpasar secara eksternal juga dilalap api sehingga merusak aset fisik kantor serta catatan dan informasi nasabah LPD. Krisis pengelolaan LPD Desa Pakraman Denpasar melibatkan ketua LPD dan lima pegawai LPD setempat. Alasan yang disampaikan polisi kepada perangkat desa Pakraman Denpasar adalah data atau bukti pendukung penggelapan keuangan tersebut tidak lengkap sehingga polisi tidak bisa memprosesnya secara hukum.

Upacara Medewa Saksi: Solusi Atasi Krisis Manajemen LPD Desa Pakraman DenpasarDesa Pakraman Denpasar

Buruknya keadaan LPD Desa Pakraman Denpasar ini jelas menjadi beban bagi Ketua Pakraman beserta pengurusnya dan masyarakat. Solusi terakhir dalam penyelesaian manajemen krisis LPD di Desa Pakraman Denpasar adalah dengan melaksanakan Upacara Saksi Medewa. LPD ini akan kami perbaiki kembali demi karma Desa Pakraman Denpasar (Agung, Suetja, 55 tahun, Kepala Desa Pakraman Denpasar, wawancara, 10 Februari 2018).

LPD Desa Pakraman Denpasar yang terancam bubar akibat situasi manajemen krisis yang dialaminya, memang wajar. Program tabungan (cicilan) ini mendapat respon positif dari masyarakat Desa Denpasar. Dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito yang disimpan di LPD Desa Pakraman Denpasar terus meningkat.

Gambar 7.1 Hasil Renovasi Gedung LPD Desa Pakraman  Denpasar
Gambar 7.1 Hasil Renovasi Gedung LPD Desa Pakraman Denpasar

100,00 Tabel 7.4 menunjukkan bahwa cakupan kredit yang

  • Catatan Akhir

Berkembangnya kredit LPD yang disalurkan kepada masyarakat merupakan bukti bahwa LPD Desa Pakraman Denpasar benar-benar turut serta dalam upaya meningkatkan kesejahteraan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pakraman Denpasar. Upacara Kesaksian Medewa sebagai kearifan lokal umat Hindu Bali dapat dijadikan alat yang efektif untuk mengatasi manajemen krisis LPD. Krisis pengelolaan LPD Desa Pakraman Denpasar pada tahun 2011 disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: adanya praktik penyelewengan aset yang dilakukan oleh sebagian pengelola; lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan saldo LPD; dan lemahnya praktik pemantauan operasional LPD.

Penyelesaian penanganan krisis LPD di Desa Pakraman Denpasar melalui upacara Saksi Medewa sengaja dilakukan karena pendekatan sebelumnya yang berbasis pada pemerataan braya dan penegakan hukum positif tidak berhasil. Implikasi dari upacara testimoni medewa adalah: (a) Memulihkan kepercayaan pelanggan; (b) Pengurus LPD yang baru lebih kondusif dalam melakukan pembinaan terhadap nasabah dan perbaikan tata kelola LPD; dan (c) Kinerja dan kemampuan keuangan LPD Desa di Pakraman Denpasar dapat dioptimalkan. Upacara Kesaksian Medewa Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Hindu Bali dapat diterapkan dalam upaya penyelesaian krisis LPD sebagai lembaga keuangan tradisional.

PENUTUP

Lembaga keuangan milik Desa Pakraman yang mampu memperkuat krama Bali di seluruh desa Pakraman (adat) ini harus terus diperkuat dan dilestarikan. Kedua, nilai-nilai budaya organisasi LPD yang berdasarkan tradisi budaya Hindu Bali (antara lain tri hita karana, catur purusa artha, asrama catur, asta brata) yang disinergikan dengan budaya pengelolaan bank modern juga perlu diperkuat dan dikembangkan. bahwa LPD diterima tidak hanya “milik krama adat Bali”, namun kehadirannya mampu bersaing dengan bank umum nasional lainnya. Keempat, sejalan dengan wacana LPD yang kembali hangat diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat Bali (hingga awal tahun 2019), ada beberapa pemikiran yang perlu diperhatikan terkait keberadaan dan perkembangan LPD. yang ada dimasa yang akan datang, yaitu: (a) Diharapkan agar nama LPD tetap dipertahankan.

Selain istilah LPD yang sudah diterima dengan baik oleh krama Bali, istilah LPD sudah tertulis dalam UU LKM tahun 2013; (b) Seperti dilansir media massa (Bali Post, 6 Februari 2019), penulis sependapat dengan pimpinan LPD se-Bali bahwa kedudukan LPD harus tetap independen dan tidak dikaitkan dengan eksistensi lembaga otoritas fiskal adat. (LOKA) yang akan dikembangkan; dan (c) antara pemilik LPD dan pengelola LPD harus benar-benar dipisahkan agar lembaga keuangan milik Desa Pakraman ini dapat berkembang secara sehat. Sehubungan dengan hal tersebut, pinjaman modal untuk strategi restrukturisasi LPD perlu dikembangkan disertai dengan pendampingan untuk mengantisipasi manajemen krisis suatu LPD. Terbukti upacara Medewa Saksi mampu mengembalikan kepercayaan nasabah, mendukung peluang yang kondusif untuk meningkatkan pengelolaan LPD serta mengoptimalkan kinerja dan kapasitas keuangan LPD Desa Pakraman Denpasar.

DAFTAR PUSTAKA

Peluncuran LPD Kesiman Go Digital, Rai Mantra: Pada tahun 2017, seluruh LPD di Kota Denpasar akan menerapkan LPD Go Digital; http://. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003 tentang Desa Pakraman. Penerapan budaya organisasi berbasis Tri Hita Karana oleh lembaga perkreditan desa di Desa Adat Kuta.

Partisipasi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Pakraman Ubung Denpasar dalam mendukung kewirausahaan kliennya: berwawasan budaya.

RIWAYAT SINGKAT PENULIS

Gambar

Tabel 1.1 Tingkat kesehatan LPD s.d. akhir 2018
Tabel 2.1 Proses sosialisasi pendirian LPD di Bali PERIODE
Tabel 3.1 Sebaran LPD se-Bali dan jumlah tenaga kerjanya (sampai  akhir 2018)
Tabel 3.3 Kucuran kredit LPD untuk wirausaha krama desa setempat KAB/ KOTA JUMAH
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dosen Pengampu Matakuliah, Cokorda Gede Bayu Putra, SE.,