PENDAHULUAN
Batasan dan Rumusan Masalah
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Kerangka Konseptual
Konservasi ekologi, keadilan sosial, pemberantasan kekejaman dan demokrasi akar rumput.17 Sebagaimana dijelaskan Susanne Jakobsen, pada awal konseptualisasi teori hijau, ada dua kelompok ahli yang mencoba menjelaskan hubungan antara dampak lingkungan dan dampak lingkungan. Kedua kelompok tersebut fokus pada kajian lingkungan hidup yang sama terkait dengan permasalahan perubahan iklim, penipisan ozon, pencemaran air internasional, penggundulan hutan, namun memberikan definisi yang relatif sempit mengenai permasalahan lingkungan global (Jakobsen). Para ahli hubungan internasional menekankan pada konsep negosiasi antar negara, penerapan teori rezim serta asumsi teoritis lingkungan hidup terkait isu-isu inti dalam hubungan internasional.18 Green theory menjadi kajian dalam penelitian ini karena lingkungan hidup merupakan topik yang penting untuk dibahas dan dikaji dalam penelitian ini. Kajian seperti yang disebutkan dalam teori hijau Artinya, persoalan lingkungan hidup adalah “Politik Lunak”, sehingga bisa dikatakan merupakan penyelidikan yang tidak kasat mata namun berdampak pada stabilitas keamanan negara dan kepentingan nasional.
Kerja sama internasional terdiri dari seperangkat aturan, prinsip, norma, dan prosedur pengambilan keputusan yang mengatur berjalannya rezim internasional.19 Menurut Matthew Paterson di Palgrave, kemajuan dalam politik internasional lingkungan hidup,.
Metode Penelitian
- Tipe Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisa Data
Atau dapat diartikan penelitian yang dapat menghasilkan data, tulisan dan informasi yang diperoleh dari apa yang dilakukan selama penelitian berlangsung.23. Data primer adalah data yang berasal dari pengumpulan data melalui penelitian dari berbagai data, diolah dari hasil penelitian terdahulu (jurnal) yang diterbitkan oleh instansi terkait, wawancara dengan pihak terkait dan sumber lain yang relevan. Dalam pengumpulan data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data kepustakaan.Proses pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya data dan informasi yang berkaitan dengan judul dan permasalahan yang diangkat penulis dari berbagai literatur seperti buku. , jurnal, website, internet, artikel, berita dan bentuk lain yang berkaitan dengan kajian penelitian.
Teknik analisis data yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif, dimana permasalahan diuraikan berdasarkan fakta yang ada.
Rancangan dan Sistematika Pembahasan
TINJAUAN PUSTAKA
Kerjasama Internasional
Kerja sama internasional secara sederhana dapat dirumuskan sebagai suatu proses antar negara yang saling berhubungan untuk saling melakukan pendekatan secara bersama-sama untuk mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Kerja sama internasional merupakan salah satu upaya negara-negara untuk menyelaraskan kepentingan yang sama dan juga merupakan wujud kondisi masyarakat yang saling bergantung satu sama lain. Perubahan sifat peperangan, dimana terdapat kesamaan keinginan untuk saling melindungi dan membela dalam bentuk kerjasama internasional;
Salah satu metode kerjasama internasional didasarkan pada pemikiran bahwa pengorganisasian akan mempermudah penyelesaian permasalahan yang timbul35. Kerja sama internasional yang bersifat universal atau global dapat ditelusuri dari keinginan untuk mempersatukan seluruh bangsa di dunia dalam suatu forum yang dapat mempersatukan mereka dalam cita-cita bersama dan mencegah disintegrasi internasional; Dalam kerja sama fungsional, negara-negara yang terlibat diharapkan dapat mendukung fungsi-fungsi tertentu sedemikian rupa sehingga kerja sama tersebut dapat mengatasi berbagai kesenjangan di masing-masing negara.
Namun demikian, berbagai kelompok kepentingan dan negara-negara dengan orientasi Marxislah yang pertama kali mengakui relevansi kerja sama internasional di bidang ideologi dan memanfaatkannya. Konsensus, yaitu tingkat kerja sama yang ditandai dengan tingkat pengabaian kepentingan antar negara yang terlibat dan tidak adanya komitmen besar antar negara yang terlibat. Kerjasama, yaitu tingkat kerja sama yang melebihi konsensus, ditandai dengan banyaknya tujuan bersama, juga ditandai dengan keterlibatan timbal balik yang aktif antar negara.
Kerja sama ini ditandai dengan tingkat kedekatan dan keharmonisan yang sangat tinggi antar negara-negara yang terlibat di dalamnya, dan dalam kerja sama ini hampir tidak mungkin ditemukan konflik kepentingan antar negara-negara yang terlibat. Kerjasama internasional dalam masyarakat internasional merupakan sebuah keniscayaan sebagai akibat dari adanya hubungan saling ketergantungan dan semakin kompleksnya kehidupan manusia dalam masyarakat internasional.
Konsep Internasional Responsibility
Perubahan sifat perang, dimana suatu negara tidak dapat mengesampingkan atau menghindari atau menghindar dari bahaya perang. Kedaulatan negara, yang mungkin menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar keinginan negara untuk membatasi diri dan melepaskan kebebasan bertindaknya. Selain itu, masih terdapat faktor yang mempengaruhi kerjasama internasional yaitu perbedaan ideologi, ekonomi, budaya, luas wilayah, kepadatan penduduk, sistem pemerintahan, dan lain sebagainya.
Menurut Franklin Rosevelt, tidak ada yang lebih penting bagi perdamaian dunia di masa depan selain kesinambungan kerja sama antar negara. Selain kerja sama antar negara, kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat internasional juga menjadi jaminan bagi keberlanjutan perdamaian dunia di masa depan. Mengingat hal tersebut, Indonesia merupakan salah satu negara yang peduli terhadap pengurangan dampak perubahan iklim.39. Perjanjian Paris bersifat mengikat secara hukum dan dilaksanakan oleh semua negara dengan prinsip saling bertanggung jawab, dibedakan dan didasarkan pada kemampuan masing-masing (common but Differentied Responsibility and Each Capability) dan memberikan tanggung jawab kepada negara-negara maju untuk menyediakan dana, kapasitas dan teknologi untuk meningkatkan transfer ke negara-negara berkembang.
Selain itu, Perjanjian Paris mengamanatkan peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral yang lebih efektif dan efisien untuk melakukan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan mendukung pembiayaan, transfer teknologi, peningkatan kapasitas yang didukung oleh mekanisme transparansi dan tata kelola yang stabil. Indonesia sebagai negara yang telah meratifikasi Perjanjian Paris juga berperan dalam mengimplementasikan hasil perjanjian tersebut untuk mengurangi dampak pemanasan global. Jadi, dalam menjalankan tanggung jawab internasional, setiap negara harus mencermati ketentuan yang telah ditetapkan.
Dilihat dari fenomena diatas, jika akibat yang ditimbulkan oleh faktor alam tersebut mempengaruhi kelangsungan hidup negara-negara di dunia, maka masing-masing negara juga berperan dalam mengatasi dan bertanggung jawab atas fenomena yang terjadi asalkan ada kesepakatan bersama. Selain itu, dalam kerjasama melaksanakan tanggung jawab atas dampak perubahan iklim juga memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditekankan oleh konsep tanggung jawab, dimana konsep tersebut juga menjelaskan bagaimana pelaksanaan tanggung jawab setiap negara juga. berbeda dalam penerapannya. dilihat dari prinsip yang berfluktuasi.
GAMBARAN UMUM
Paris Agreement
Perjanjian Paris adalah perjanjian perubahan iklim internasional yang bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2°C di atas suhu pra-industri dan melanjutkan upaya untuk mengurangi kenaikan suhu hingga 1,5°C di atas suhu pra-industri. Selain itu, Perjanjian Paris bertujuan untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim, menuju ketahanan perubahan iklim dan pembangunan rendah emisi tanpa membahayakan produksi pangan, serta penyiapan skema pembiayaan transisi menuju rendah emisi. emisi dan perubahan iklim. 50 Perjanjian Paris mengikat secara hukum dan berlaku untuk semua negara (legally binding and apply to all) dengan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan dan berdasarkan kemampuan masing-masing (joint but Different Responsibility and Right Capability), yang memberikan tanggung jawab negara-negara maju untuk menyediakan sumber daya, peningkatan kapasitas dan transfer teknologi ke negara-negara berkembang. Selain itu, Perjanjian Paris mengamanatkan peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral yang lebih efisien dan efektif untuk melaksanakan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui dukungan finansial, transfer.
Kontribusi terhadap pengurangan ini harus meningkat setiap periodenya, dan negara-negara berkembang harus didukung untuk meningkatkan ambisi ini (Pasal 3). Mengembangkan kerja sama sukarela antar negara untuk meningkatkan ambisi penurunan emisi, termasuk melalui mekanisme pasar dan non-pasar (Pasal 6). Penetapan target adaptasi global untuk meningkatkan kapasitas adaptasi, memperkuat ketahanan dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim menyadari bahwa adaptasi merupakan tantangan global yang memerlukan dukungan dan kerja sama internasional, terutama bagi negara-negara berkembang (Pasal 7).
Kewajiban negara maju untuk menyediakan sumber pembiayaan untuk membantu negara berkembang dalam melaksanakan mitigasi dan adaptasi. Perlunya kerjasama antar Pihak untuk memperkuat kapasitas negara berkembang dalam implementasi Perjanjian Paris dan kewajiban negara maju untuk memperkuat dukungan terhadap peningkatan kapasitas di negara berkembang (Pasal 11). Kerjasama Para Pihak dalam upaya memperkuat pendidikan, pelatihan, kesadaran masyarakat, partisipasi masyarakat dan akses masyarakat terhadap informasi perubahan iklim (Pasal 12).
Menetapkan dan menerapkan kerangka transparansi untuk membangun rasa saling percaya dan meningkatkan efektivitas implementasi, termasuk tindakan dan dukungan dengan fleksibilitas untuk negara-negara berkembang. Melakukan inventarisasi secara berkala terhadap implementasi Perjanjian Paris untuk menilai kemajuan kolektif dalam mencapai tujuan Perjanjian.
Kebijakan Indonesia Terkait Paris Agreement
Meningkatkan perlindungan wilayah Indonesia yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim melalui mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pengakuan yang lebih besar terhadap komitmen nasional untuk mengurangi emisi dari berbagai sektor, melestarikan hutan, meningkatkan energi terbarukan dan peran masyarakat lokal dan adat dalam mengelola perubahan iklim yang selama ini diperjuangkan oleh Indonesia. Menjadi pihak yang dapat berpartisipasi (memiliki hak suara) dalam pengambilan keputusan terkait Perjanjian Paris, termasuk dalam mengembangkan modalitas, prosedur, dan pedoman pelaksanaan Perjanjian Paris.
16 Tahun 2016 yaitu tentang ratifikasi Perjanjian Paris tentang Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (Paris Agreement on the United Nations Framework Convention on Climate Change). Perjanjian Paris sebagai landasan hukum upaya antisipasi perubahan iklim baik secara global maupun nasional disahkan dalam bentuk undang-undang. Perjanjian Paris sebagai komitmen global untuk mencegah perubahan iklim sebenarnya menerjemahkan semangat Konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang ada.
Bagi kepentingan dalam negeri, ratifikasi Perjanjian Paris menunjukkan komitmen nasional terhadap perbaikan tata kelola sumber daya alam. Keikutsertaan Indonesia dalam Perjanjian Paris justru akan membawa manfaat yang jauh lebih besar, antara lain Indonesia berkesempatan mengakses dukungan finansial sebesar $100 miliar per tahun untuk mendukung kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang telah disiapkan negara maju untuk negara berkembang. Perkembangan Undang-Undang Pengendalian Perubahan Iklim sebagai landasan hukum untuk menjamin keberlanjutan pelaksanaan jangka panjang pengendalian perubahan iklim di Indonesia melalui UU No.
Meningkatkan perlindungan wilayah Indonesia yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim melalui mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Meningkatnya pengakuan terhadap komitmen nasional untuk mengurangi emisi dari berbagai sektor, melestarikan hutan, meningkatkan energi terbarukan dan peran masyarakat lokal dan adat dalam pengendalian perubahan iklim yang selama ini diperjuangkan oleh Indonesia. Menjadi pihak yang dapat berpartisipasi (memiliki hak suara) dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan Perjanjian Paris, termasuk dalam pengembangan modalitas, prosedur dan pedoman pelaksanaan Perjanjian Paris.
Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi mengurangi perubahan iklim harus mengurangi angka kebakaran hutan dan lahan untuk memaksimalkan implementasi Perjanjian Paris.
PEMBAHASAN
Sosialisasi Hasil dari Paris Agrement