• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Gedong Tataan dipilih untuk percobaan penjajahan karena letaknya yang dekat dengan Pulau Jawa sehingga memudahkan pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan percobaan penjajahan yang pertama. Gedong Tataan merupakan tempat pertama kali pemerintah Hindia Belanda melaksanakan program penjajahan yang merupakan bagian dari kebijakan etis pada tahun 1905. Hal ini mengakibatkan dibukanya kawasan lain di sekitar Gedong Tataan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu Gedong Dalem, Teloek Betoeng - Tandjoeng Karang dan penjajahan seperti penjajahan Sukadana.

Dalam hal ini memberikan ruang bagi peneliti untuk mendeskripsikan lebih dalam dan jelas perkembangan penjajahan di Giesting pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1926-1942. Penjajahan merupakan akibat dari pengaruh Kebijakan Etis atau kebijakan hukuman yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap bangsa Indonesia. Perpindahan penduduk dari Jawa ke Lampung kali ini terbagi dalam tiga tahap yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri.

Gedong Tataan dipilih untuk percobaan penjajahan karena letaknya yang dekat dengan Pulau Jawa sehingga memudahkan pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan percobaan penjajahan yang pertama. Gedong Tataan merupakan tempat pertama kali pemerintah Hindia Belanda melaksanakan program penjajahan yang merupakan bagian dari politik etis pada tahun 1905. Hal ini menyebabkan pemerintah Hindia Belanda membuka kawasan lain di sekitar Gedong Tataan yaitu Gedong Dalem, Teloek Betoeng - Tandjoeng Karang dan penjajahan seperti penjajahan Sukadana.

Dalam jurnal berjudul “Kebijakan Etis Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dan Dampaknya Terhadap Pondok Pesantren” disebutkan bahwa.

Batasan Istilah a. Istilah Kolonisasi

Zaalberg menjelaskan pandangannya sebagai berikut: "Persatuan baru akan berupaya untuk mempromosikan pembangunan sosial, moral, intelektual dan ekonomi Indo-Eropa". Berdasarkan kutipan di atas, Indo-European Schism Verbond (I.E.V.) merupakan organisasi yang didirikan pada tahun 1919 oleh Karel Zaalberg dengan maksud dan tujuan awal untuk menyuarakan kepentingan masyarakat keturunan Indo-Eropa yang kedudukan sosialnya pada panggung tersebut lebih didorong oleh penduduk asli (Pedalaman) pada jabatan-jabatan Pemerintahan bagi pegawai menengah. Selain itu, organisasi ini bertujuan untuk meredam paham nasionalisme radikal di kalangan pribumi terpelajar dan sejumlah masyarakat Eropa yang menginginkan otonomi hingga Hindia Belanda merdeka penuh dari Belanda.

Keberadaan organisasi I.E.V juga dimaksudkan untuk lebih mengedepankan hak-hak masyarakat keturunan Indo-Eropa di Indonesia, yang secara tidak langsung dipandang baik oleh masyarakat pribumi Indonesia maupun pemerintah Hindia Belanda.

Tujuan Penelitian

Kegunaan dan Manfaat Penelitian

Kegunaan Teoritis

Kegunaan Praktis a. Bagi Peneliti

Metode Kajian

  • Pemilihan Topik
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Studi pustaka
  • Wawancara Narasumber
  • Keabsahan Pengumpulan Data
  • SATU ABAD TRANSMIGRASI DI INDONESIA: Perjalanan Sejarah
  • SATU ABAD TRANSMIGRASI
  • Analisis Data

Kedekatan intelektual merupakan cara peneliti menguasai topik yang akan diteliti agar dapat mencapai hasil penelitian yang baik. Dari segi desain penelitian melalui kedekatan emosional dan intelektual, dimana peneliti perlu seimbang dalam melakukan penelitian untuk menunjang hasil penelitian yang baik. Untuk menemukan sumber-sumber tersebut, peneliti harus mampu mencari berbagai dokumen dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau kearsipan, melihat siapa yang menyediakannya dan kapan, ada sumber sejarah primer dan sekunder.

Dalam proses penelitian ini hanya terdapat sedikit sumber untuk menunjang proses penelitian yang baik, penulis mempunyai sumber yang sebanyak-banyaknya untuk memperoleh data yang akurat. Bacalah buku-buku yang menurut Anda relevan untuk mengetahui isi buku yang berkaitan dengan topik yang Anda teliti. Dalam penelitian harus didukung dengan data yang tepat dan akurat agar dapat mencapai hasil penelitian yang maksimal.

Kritik eksternal dilakukan untuk menilai keaslian atau keaslian bahan-bahan yang digunakan dalam produksi sumber sejarah. Suatu dokumen yang berfungsi sebagai sumber sejarah dianggap autentik atau autentik apabila benar-benar merupakan hasil karya atau warisan dari pemilik atau pembuatnya. Untuk mengetahui keaslian suatu sumber sejarah, seorang sejarawan harus melakukan penyelidikan dan pengujian terhadap sumber sejarah tersebut.

Setelah penelitian keaslian sumber sejarah selesai, sejarawan harus mengkaji secara kritis keutuhan sumber sejarah. Artinya, sejarawan perlu mengetahui apakah keaslian sumbernya tetap terjaga atau tidak selama proses pendokumentasian atau pencatatan pelaku sejarah. Jika keterangan sewaktu-waktu telah diubah sejak pertama kali diberikan dan kebenaran perubahan tersebut tidak dapat ditentukan, maka sumber sejarah tersebut tidak lagi dianggap otentik dan kehilangan keutuhannya. Kritik internal merupakan upaya untuk menentukan atau memilih kredibilitas sumber-sumber sejarah yang dikumpulkan.

Kritik internal dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu evaluasi internal terhadap sumber sejarah dan perbandingan sumber sejarah yang berbeda. Perbandingan sumber sejarah yang berbeda dilakukan dengan cara menguji keaslian kesaksian yang berbeda dari sumber sejarah dengan sumber sejarah lainnya untuk memastikan informasi yang diperoleh dapat dipercaya atau tidak. Berdasarkan pernyataan di atas, interpretasi adalah suatu tahapan menafsirkan sumber sejarah setelah melakukan kritik atau verifikasi terhadap sumber sejarah.

Historiografi merupakan tahap akhir dari beberapa tahapan yang biasa dilakukan oleh peneliti, dimana historiografi merupakan suatu cara penulisan, penyajian, dan pelaporan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Menurut Daliman, penulisan sejarah atau historiografi merupakan sarana mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang diungkapkan, diuji atau diverifikasi dan ditafsirkan.

Tabel 1 : Keterangan Data dan Sumber Buku
Tabel 1 : Keterangan Data dan Sumber Buku

Kerangka Berfikir

Dengan semangatnya untuk memajukan masyarakat Indo-Eropa, mereka yang datang ke kawasan Giesting kemudian berusaha merealisasikan rencana pembukaan perkebunan kopi untuk mewujudkan cita-cita kelompoknya. “Pada tahun 1926, kawasan perkebunan kopi ini awalnya masih hutan belantara, namun kemudian mereka menebang dan membakar pohon-pohon besar.” Uraian pernyataan di atas menunjukkan bahwa berawal dari kelompok yang bernama I.E.V (Indo-Europeesch Verbond) atau keturunan Indo-Eropa, para penjajah di daerah Giesting menginginkan kemajuan dan kemerdekaan, karena Giesting merupakan dataran tinggi maka mereka berinisiatif untuk membuka Lahan perkebunan kopi.

Kajian Relevan

E. V Melakukan

Meski tampak sebagai program yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi masyarakat adat, namun ketiga program tersebut nyatanya dilaksanakan untuk kepentingan kolonialisme di Hindia Belanda yang sudah lama diuntungkan sejak zaman VOC. dan Hindia Belanda. Hasil penelitiannya adalah agar dapat hidup lebih baik, masyarakat Jawa didorong untuk ikut serta dalam program penjajahan yang dilaksanakan pemerintah kolonial Belanda. Program ini merupakan wujud dari kebijakan timbal balik atau yang disebut dengan kebijakan etika yang isinya meliputi emigrasi, pengairan, dan pendidikan yang berkedudukan di Belitang Divisi Komering Ulu yang berkedudukan di Palembang.

Dengan penelitian ini fokus pada perkembangan penjajahan di Karesidenan Palembang. Sedangkan yang membedakan penelitian ini adalah pokok bahasannya lebih terfokus pada bidang penjajahan pada masa penjajahan di Belitang. Dalam penelitian ini peneliti fokus untuk menjawab permasalahan kajian kondisi masyarakat transmigran Jawa yang ikut serta dalam program penjajahan Pemerintah Hindia Belanda di Desa Gisting Bawah pada tahun 1997-2005. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang saya tulis adalah penelitian diatas membahas tentang kondisi masyarakat transmigrasi di Desa Gisting Bawah.

Sedangkan penelitian yang saya hasilkan berfokus pada proses perkembangan penjajahan pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1926-1942. Hasil penelitian, faktor yang membuat penjajah tertarik datang ke Pringsewu adalah adanya harapan memperoleh peluang peningkatan perekonomian masyarakat seperti membuka lahan pertanian dan membangun irigasi untuk menunjang pertanian di Pringsewu. Selain itu Pringsewu masih merupakan daerah pembukaan baru, lahannya masih luas dan jumlah penduduknya masih sedikit, sehingga menarik minat warga untuk pindah karena melihat kemungkinan mendapatkan lahan yang luas.

Sikap penduduk asli tentu membawa kenyamanan dan menghindari konflik antara penduduk asli dan pendatang. Kondisi sosial ekonomi masyarakat penjajah Jawa di Pringsewu terlihat dari berbagai perubahan yang terjadi di wilayah perluasan penjajahan, yaitu munculnya hubungan baik antara penduduk asli dan pendatang. Hal ini terlihat dari terbentuknya kota-kota secara marga-marga yang tentunya tidak lagi menjadi penghalang bagi kota-kota penjajahan masyarakat Jawa dan kota-kota adat. Selain itu terjadi peningkatan pada sektor kesehatan, pendidikan, dan perekonomian yaitu peningkatan pada sektor pertanian akibat adanya irigasi di Pringsewu.

Kesamaan penelitian tesis ini adalah membahas tentang penjajahan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, khususnya di Pringsewu. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan agar penulis atau penelitian tidak menyimpang dari kerangka yang telah ditetapkan dan tidak terjadi kerancuan, oleh karena itu ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut.

Referensi

Dokumen terkait