• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Bab I Pendahuluan A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Bab I Pendahuluan A."

Copied!
38
0
0

Teks penuh

“PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG TERHADAP PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN PENEBANGAN POHON DI KAWASAN HUTAN YANG TIDAK IZIN. KEPUTUSAN STUDI NO. 2/PID.SUS-LH/2018/PN.KSN.” Secara konseptual hakikat dan makna penegakan hukum terletak pada kegiatan harmonisasi hubungan antar nilai yang dituangkan dalam aturan yang stabil dan mapan. Berdasarkan pemaparan di atas, permasalahan utama dalam penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya.

Tujuan Penegakan Hukum

Penuntutan harus dilakukan secara tegas dan lugas, namun manusiawi, berdasarkan asas keadilan dan kebenaran, guna terciptanya ketertiban dan keamanan hukum.17. Hukum yang mengutamakan keadilan dan kebenaran harus adil dan berlaku secara universal dan setara bagi semua orang tanpa kecuali. Dalam setiap kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam negara yang berlandaskan hukum, hukum nasional mempunyai tanggung jawab utama dalam proses penguatan kesadaran bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan menciptakan kerangka hukum yang menjamin penghormatan terhadap hak dan pemenuhan kewajiban dalam masyarakat. secara tertib dan demokratis. .

Hukum nasional berperan penting dalam proses integrasi nasional dengan menyediakan mekanisme demokratis dalam pengambilan keputusan publik dan penyelesaian konflik.19.

Tinjauan Umum Mengenai Perusakan Lingkungan 1. Pengertian Lingkungan Hidup

Pengertian Perusakan Lingkungan Hidup

Bahaya yang selalu mengancam kelestarian lingkungan hidup dari waktu ke waktu adalah pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau masuknya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup dan/atau perubahan struktur lingkungan hidup karena kegiatan manusia atau proses alam, sehingga mutu lingkungan hidup turun sampai pada tingkat tertentu. yang menyebabkan lingkungan hidup menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Perusakan lingkungan hidup adalah perbuatan yang mengakibatkan perubahan baik langsung maupun tidak langsung terhadap sifat fisik atau hayati lingkungan hidup sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup.

Perbedaan ini tidaklah terlalu mendasar, karena setiap orang yang merusak lingkungan hidup otomatis juga mencemarinya, begitu pula sebaliknya. Perbedaannya hanya terletak pada intensitas tindakan yang dilakukan terhadap lingkungan dan tingkat akibat yang diderita lingkungan akibat tindakan tersebut. Dalam UU No. 32 Tahun 2009, pengertian kerusakan lingkungan hidup adalah perbuatan orang yang menimbulkan perubahan baik langsung maupun tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melebihi kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (Pasal 1) ayat 16). .

Dampak Perusakan Lingkungan Hidup

Akibat negatif dari menurunnya kualitas lingkungan hidup, baik akibat pencemaran maupun penipisan sumber daya alam, adalah munculnya ancaman atau dampak negatif terhadap kesehatan, berkurangnya estetika, kerugian ekonomi, dan terganggunya sistem alam. Meningkatkan intensitas dan cakupan wilayah bencana baik banjir, tanah longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan. Polusi dan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Indonesia semakin memburuk dari tahun ke tahun, sehingga menjadikan Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Kondisi ini dapat mengakibatkan berkurangnya daya dukung, daya dukung dan produktivitas lingkungan hidup, yang pada akhirnya menjadi beban sosial.28. Berdasarkan angka 15 Pasal 1 UUPPLH, “Ukuran baku kerusakan lingkungan hidup adalah batas perubahan sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang mampu ditahan oleh lingkungan hidup agar tetap dapat mempertahankan fungsinya. .” Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran atau kriteria untuk menentukan telah terjadi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, sehingga perlu dipahami pengertian pencemaran lingkungan hidup, kerusakan lingkungan hidup, dan perusakan lingkungan hidup.29.

Oleh karena itu, lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola dengan baik berdasarkan prinsip tanggung jawab negara, prinsip keberlanjutan, dan prinsip keadilan. Selain itu, pengelolaan lingkungan hidup harus mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya berdasarkan prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan hidup, desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan lokal dan kearifan lingkungan hidup.30.

Tinjauan Umum Mengenai Hutan 1. Pengertian Hutan

Kawasan Hutan

Selanjutnya kawasan hutan adalah kawasan yang sudah berhutan atau belum berhutan yang penguasaannya ditentukan oleh negara. Dalam arti luas, setiap kawasan hutan tidak selalu berarti seluruh kawasan tersebut berhutan. Dari unsur-unsur besar yang termasuk dalam pengertian kawasan hutan digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menetapkan suatu kawasan tertentu sebagai kawasan hutan.36.

Dilihat dari bentuknya, kawasan hutan dibedakan menjadi empat, yaitu: (1) hutan lindung, (2) hutan produksi, (3) hutan cagar alam, dan (4) hutan wisata. Ciri khas kawasan hutan ada dua, yaitu: (1) sudah ada penetapan oleh Menteri Kehutanan yang dituangkan dalam keputusan Menteri Kehutanan, dan (2) sudah ada penetapan batas kawasan hutan. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang dipelihara sebagai kawasan hutan dan berfungsi agar hasil hutan dapat diperoleh untuk keperluan konsumsi masyarakat, industri, dan ekspor.

Hutan Wisata adalah kawasan hutan yang berdasarkan keadaan dan sifat kawasannya yang wajib dikembangkan dan dipelihara sebagai hutan dengan tujuan untuk pengembangan pendidikan, rekreasi wisata dan perburuan.39. Hutan produktif adalah kawasan hutan yang diperuntukkan bagi keperluan perluasan, pembangunan wilayah, misalnya transmigrasi pertanian dan perkebunan, kawasan industri dan pemukiman, dan lain-lain.

Tinjauan Umum Tindak Pidana Penebangan Hutan 1. Pengertian Tindak Pidana Penebangan Hutan

Jenis-Jenis Tindak Pidana Penebangan Hutan

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 yang dimaksud dengan illegal logging adalah segala pemanfaatan hasil hutan kayu secara liar dan terorganisir. Pengangkutan, penguasaan atau penguasaan hasil hutan kayu yang tidak disertai sertifikat hasil hutan yang sah. Membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lain yang lazim atau patut diduga digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang.

Menerima, membeli, menjual, menerima penukaran, menerima titipan dan/atau memiliki hasil hutan yang diketahui berasal dari pembalakan liar dan dari kawasan hutan yang ditangkap atau dipanen secara tidak sah. Penebangan pohon atau pemanenan atau pemungutan hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan hutan yang tidak mempunyai hak atau izin dari pejabat yang berwenang. Menerima, membeli atau menjual, menerima penukaran, menerima titipan, menyimpan atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah.

Pengangkutan, penguasaan atau penguasaan hasil hutan yang tidak disertai dengan surat keterangan sah hasil hutan kayu. Membawa alat berat atau alat lain yang akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang.

Sanksi Pidana Penebangan Hutan Dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2013

Terkait dengan jenis tindak pidana bushcraft, pemerintah mempunyai komitmen dan keseriusan dalam pemberantasan illegal logging yang diwujudkan melalui penerbitan berbagai peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum pemberantasan illegal logging.46. Sejak bangsa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga saat ini, nampaknya pemerintah dengan persetujuan DPR telah berhasil mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum di bidang kehutanan. 18 Tahun 2013 tentang Pemberantasan dan Pencegahan Perusakan Hutan, berdasarkan ketentuan akhir Undang-undang, pasal 113 bahwa “pada saat Undang-undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan pelaksanaan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1999 tentang Kehutanan bersifat pidana”. Peraturan Perundang-undangan Perusakan Hutan yang diprioritaskan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

Untuk menegakkan hukum pidana terhadap kejahatan di bidang kehutanan pada umumnya dan kejahatan illegal logging pada khususnya, maka ketentuan pidana yang dapat diterapkan terhadap kejahatan illegal logging antara lain Pasal 82-106 UU No. Dasar peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia bersumber dari nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pasal 33 ayat 3) yang menyatakan: “Bumi dan air serta kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” orang orang." Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 dibentuk untuk memberantas tindak pidana pembalakan liar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Upaya pencegahan kerusakan hutan dilakukan melalui pengambilan kebijakan oleh pemerintah daerah dan peningkatan partisipasi masyarakat. Berkaitan dengan pemberantasan, undang-undang ini mengatur mengenai kategori perusakan hutan yang terorganisir, baik langsung, tidak langsung, atau tindakan terkait lainnya.

Tinjauan Umum Mengenai Dasar Pertimbangan Hakim

Dalam memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara di hadapannya, seorang hakim terlebih dahulu harus menggunakan hukum tertulis yaitu peraturan perundang-undangan, namun apabila peraturan perundang-undangan itu ternyata kurang atau tidak sesuai dengan permasalahan dalam suatu perkara, maka hakim akan mencari dan menemukan. hukum itu sendiri yang berasal dari sumber hukum lain, seperti yurisprudensi, doktrin, perjanjian, adat istiadat atau hukum tidak tertulis.53. Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan atau mengambil putusan, yaitu faktor subyektif dan obyektif. Termasuk juga profesionalisme hakim dalam menangani suatu perkara, juga dapat mempengaruhi perbedaan putusan yang diberikan hakim.

Pertimbangan hukum hakim merupakan hal yang penting dalam mengambil suatu putusan, yaitu pertimbangan hukum adalah pertimbangan berdasarkan faktor-faktor apa saja yang terungkap dalam persidangan, dan menurut undang-undang hal itu harus dicantumkan dalam putusan. Pertimbangan sosiologis hakim membantu dalam mengambil keputusan, yaitu kepastian hukum menghendaki tetap dipertahankannya hukum atau peraturan, demikian pula dengan pengertian “fiat justitia et pereat mundus” (sekalipun dunia sedang runtuh, hukum harus tetap dipertahankan). Pertimbangan filosofis hakim yang penting dalam mengambil suatu putusan, yaitu faktor filosofis hakim dalam mengambil suatu putusan yang berlandaskan pada kebenaran dan keadilan.

54I Wayan Jimmy Artana dkk, Jurnal Analogi Hukum, Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Hukuman pada Pelaku Pencurian Anak, Vol. Ruang lingkup penelitian ini mengacu pada pertanggungjawaban pidana pelaku pembalakan liar atau illegal logging dalam putusan no. menangani tindak pidana penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa izin dalam putusan nomor 2/Pid.Sus-LH/2018/PN.Ksn.

Jenis Penelitian

Penelitian hukum adalah suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau lebih fenomena hukum tertentu dengan cara menganalisisnya.55 Ruang lingkup penelitian adalah suatu kerangka penelitian yang menggambarkan batas-batas penelitian, mempersempit permasalahan dan membatasi wilayah penelitian.

Metode Pendekatan Masalah

Sumber Bahan Hukum

Bahan hukum sekunder merupakan dokumen atau bahan hukum yang berkaitan erat dan memberikan penjelasan terhadap bahan hukum seperti buku, artikel, jurnal, dan bahan pustaka lainnya yang berkaitan erat dengan penelitian dan putusan pengadilan tersebut. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang menunjang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap bahan hukum lainnya, seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan ensiklopedia.

Metode Penelitian

Analisis Bahan Hukum

Referensi

Dokumen terkait