• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Bab I Pendahuluan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Bab I Pendahuluan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pandemi merupakan epidemi penyakit yang menyebar di wilayah yang luas misalnya beberapa benua, atau seluruh dunia1. Masalah kesehatan yang sedang terjadi pada saat ini adalah COVID-19. World Health Organization (WHO) telah resmi menetapkan COVID-19 sebagai pandemi sejak bulan Maret 2020.2

Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Pada tanggal 7 Januari 2020, Cina mengindentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (coronavirus disease, COVID-19). Virus penyebab COVID- 19 ini dinamakan SARS-CoV-2 yang merupakan zoonosis. Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO telah menetapkan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Penambahan kasus COVID -19 berlangsung sangat cepat dan sudah terjadi penyebaran ke luar wilayah Wuhan dan negara lain.3 Sampai dengan 30 Maret 2020 secara global sudah menyerang 214 negara terjangkit dengan jumlah kasus 4.170.424 kasus, angka kematian mencapai 287.399 (CFR = 6,9%) kasus. Di Indonesia, kasus pertama COVID-19 teridentifikasi pada tanggal 2 Maret 2020 hingga tanggal 14 Mei 2020 angka kejadian kasus sudah mencapai

(2)

15.438 kasus, dengan angka kematian 1.028 kasus (CFR= 6,7%) dengan penyebaran sudah pada 34 provinsi di Indonesia.4

Peningkatan kasus COVID-19 yang begitu cepat menimbulkan kecemasan bagi seluruh dunia. Hal ini berimbas baik fisik maupun psikologis kepada seluruh masyarakat dunia. Dampak dari kekhawatiran atau perasaan cemas menimbulkan beberapa kejadian: Kasus bunuh diri Menteri keuangan Jerman yang “sangat khawatir” bagaimana mengatasi dampak ekonomi dari wabah virus corona,5 kasus perawat Italia bunuh diri setelah dinyatakan Positif COVID-19 karena takut menularkan orang lain,6 kasus bunuh diri pasien paruhbaya di toilet setelah dinyatakan positif COVID-19 di salah satu Rumah Sakit Malaysia,7 perlakuan diskriminasi teman sejawat kepada perawat di Yogyakarta yang merawat pasien COVID-19,8 dan penolakan pasien Orang dalam Pemantauan (ODP) oleh salah satu Rumah Sakit di Bekasi9.

Peningkatan kasus yang cepat dan realitas bahwa belum ditemukan vaksin untuk mencegah penularan COVID-19 serta obat untuk mengobati COVID-19 merangsang menimbulkan reaksi behavioral yang menyebabkan terjadi perubahan fisiologis. Hipotalamus akan menstimulasi kelenjar adrenal untuk melepas epineprin ke dalam aliran darah yang akan menyebabkan denyut jantung meningkat, napas dangkan, dan glukose dalam darah meningkat. Selanjutnya glukose akan didistribusikan ke bagian tubuh yang akan memerlukan energi ekstra.

Secara bersamaan hormon ACTH (Adreno corticotrophic Hormone) dilepas yang akan mengaktifkan kelenjar adenal yang selanjutnya akan

(3)

melepaskan kortikoid ke dalam darah. Kortikoid akan membawa pesan untuk disampaikan ke kelenjar lain maupun ke organ lainnya.10

Kecemasan adalah kondisi emosi dengan timbulnya rasa tidak nyaman pada diri seseorang, dan merupakan pengalaman yang samar- samar disertai dengan perasaan yang tidak berdaya serta tidak menentu yang disebabkan oleh suatu hal yang belum jelas11. Kecemasan merupakan hal normal yang terjadi dalam kehidupan, namun kecemasan dapat menjadi abnormal jika respons terhadap stimulus berlebihan.12

Survei yang dilakukan Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) pada bulan Maret tahun 2020 terhadap lebih dari 1000 orang dewasa di Amerika Serikat tentang situasi pandemi COVID-19, menemukan bahwa 48%

merasa cemas mereka akan tertular virus corona, sekitar 40% takut mereka mengkhawatirkan mereka akan sakit berat atau meninggal akibat COVID- 19, dan sebanyak 62% mencemaskan keluarga atau orang tercintanya tertular. Lebih dari sepertiga responden (36%) mengatakan pandemi COVID-19 berdampak serius terhadap kesehatan mental mereka, dan sebanyak 59 persen menjawab efeknya cukup berat dikehidupan sehari- hari.13

Kecemasan di Indonesia berdasarkan studi terbaru yang dilakukan oleh Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) pada bulan Juni tahun 2020 mendapatkan sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami kecemasan di masa pandemi.

Sebanyak 56% masyarakat Indonesia mengalami kecemasan dengan kategori cemas dan sangat cemas pada berbagai aspek kehidupan. Mulai

(4)

dari aspek ekonomi, pekerjaan, agama, pendidikan, dan interaksi sosial.

Sebayak 58% mengalami cemas karena masalah ekonomi, 63%

mengalami cemas karena pekerjaan, 55% mengalami cemas pada aspek agama,67% mengalami cemas karena faktor interaksi sosial dan 74%

mengalami cemas akibat pendidikan yang tak menentu. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok masyarakat yang ikut terdampak pandemi COVID-19.14

Hasil penelitian Wejun dkk. menunjukkan bahwa sebanyak 0,9%

mahasiswa mengalami kecemasan berat, 2,7% mengalami kecemasan sedang, dan 21,3% mengalami kecemasan ringan pada masa epidemik COVID-19 dan yang menyatakan bahwa kesehatan mental mahasiswa harus dipantau selama epidemik COVID-19.15 Hal ini ditunjang oleh Diana Setyawati yang menyatakan sebanyak 15 sampai 25 persen mahasiswa membutuhkan mental health attention. Hal ini dapat disebabkan oleh penyakit psikis sebelum masa pandemi COVID-19, penyakit fisik, kondisi ekonomi, kondisi fisik lingkungan, kondisi studi, fasilitas belajar tidak memadai, tekanan pasikis akibat konflik16. Jika mahasiswa mengalami kecemasan akibat suatu sebab maka akan timbul ketegangan mental yang berakibat pada terganggunya porses pembelajaran mahasiswa.17

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan antara lain usia dan tahap perkembangan, lingkungan, peran keluarga, dan pengetahuan serta pengalaman.18 Minimnya pengalaman dan pengetahuan seseorang dapat menyababkan seseorang mulai mengalami pikiran yang

(5)

tidak rasional karena telalu khawatir terhadap pandemi COVID-19.

Ketakutan tersebut disebabkan karena virus nCoV-2019 dengan cepat menyebabkan flu yang diikuti dengan manifestasi pneumonia yang berlanjut dengan kegagalan pernafasan yang parah hingga menyebabkan kematian.19

Kenaikan angka kejadian COVID-19 yang melonjak sangat tinggi mendorong masyarakat untuk ingin tahu lebih banyak tentang pandemi COVID-19. Namun terpapar informasi yang berlebihan serta tidak disertai dengan kemampuan memilah informasi yang beredar dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Tidak sedikit masyarakat yang bertambah stress akibat terlalu banyak membaca berita seputar virus COVID-19.13

Studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan April tahun 2020 terhadap 10 mahasiswa, mereka menyatakan banyak hal yang berubah dari kehidupan mereka selama pandemi COVID-19 seperti lebih sering mencuci tangan setiap menyentuh benda, sering menyemprotkan disinfektan, sulit tidur di malam hari, takut untuk keluar rumah, nafsu makan yang meningkat, membeli banyak vitamin, membeli handsanitizer dalam jumlah banyak, menjaga jarak dengan orang-orang sekitar, dan menjadi sensitif/takut jika terdapat gejala sakit. Hal tersebut menandakan mereka mengalami kecemasan terhadap pandemi COVID-19.

Mahasiswa kesehatan cenderung lebih familiar dengan materi – materi yang berkaitan dengan ilmu kesehatan. Ilmu kesehatan itu sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang pencegahan penyakit, pengurangan risiko kecelakaan di lapangan, pendidikan individu untuk

(6)

kebersihan, dan pengontrolan infeksi di masyarakat dengan usaha teroganisir untuk peningkatan taraf kesehatan masyarakat.20 Memiliki pengetahuan yang lebih mungkin lebih baik namun efeknya terhadap kecemasan justru lebih meningkat. Berbeda dengan mahasiswa non kesehatan yang jarang terpapar oleh materi kesehatan secara mendalam sehingga kemungkinan untuk cemas akan berkurang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondonuwu dkk. menunjukkan hanya sebanyak 4,8% responden dengan pengetahuan baik yang tidak mengalami kecemasan sedangkan sebanyak 95,2% responden dengan pengetahuan baik mengalami kecemasan ringan, sedang dan berat.21 Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji perbedaan tingkat kecemasan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan dalam menghadapi pandemi COVID-19 di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

B. Identifikasi Masalah

Pandemi COVID-19 telah membuat kecemasan berbagai pihak tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa kesehatan cenderung sering terpapar tentang masalah kesehatan, faktor risiko, dan cara penanggulanggannya.

Hal berbeda dengan mahasiswa non kesehatan yang tidak terbiasa terpapar dengan topik kesehatan secara mendalam. Oleh sebab itu dapat diidentifikasi permasalahannya adalah :

“Apakah terdapat perbedaan kecemasan antara mahasiswa kesehatan dan non kesehatan dalam mengahdapi COVID-19”

(7)

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui perbedaan kecemasan antara mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dalam menghadapi COVID-19 dibeberapa Perguruan Tinggi di Indonesia

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran kecemasan mahasiswa kesehatan dalam menghadapi COVID-19 dibeberapa perguruan tinggi di Indonesia

b. Untuk mengetahui gambaran kecemasan mahasiswa non kesehatan dalam menghadapi COVID-19 dibeberapa perguruan tinggi di Indonesia

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan dalam pengembangan ilmu pengetahuan bidang kesehatan khususnya dalam Kesehatan Jiwa.

2. Manfaat Praktis

a. STIKes Dharma Husada Bandung

Penelitian ini menjadi salah satu referensi di perpustakaan sehingga dapat menambah pengetahuan mahasiswa terkait dengan kecemasan serta untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berguna bagi mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung.

(8)

b. Peneliti Selanjutnya

Dapat digunakan sebagai data dasar atau pun acuan dan masukan-masukan lain dalam rangka penelitian selanjutnya.

c. Bagi Subjek

Diharapkan setelah dilakukan penelitian tentang COVID-19, subjek penelitian dapat mengerti dan paham bagaimana harus bertindak agar tidak menimbulkan kecemasan.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif, dengan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian crossectional. Sampel pada penelitian ini adalah 30 mahasiswa kesehatan dan 30 mahasiswa non kesehatan. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan April – Juni 2020. Penelitian akan dilaksanakan di beberapa perguruan tinggi antara lain disalah satu Politeknik negeri di Tegal yaitu Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan, Universitas Negeri di Kalimantan Barat yaitu Universitas Tanjungpura, Politeknik Negeri di Kalimantan Barat yaitu Politeknik Negeri Pontianak, Politeknik swasta di Bandung Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung, dua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Bandung dan Cimahi yaitu STIKes Dharma Husada Bandung dan STIKes Jendral Achmad Yani.

Referensi

Dokumen terkait

Contoh benda yang tidak dapat menghantarkan panas adalah ….. Perpindahan panas secara konveksi banyak terjadi pada benda cair dan