Selain itu, jumlah curah hujan dalam suatu kolom dianggap mewakili jumlah curah hujan di suatu area dalam poligon yang bersangkutan. Rx : nilai rata-rata ketinggian curah hujan pada stasiun pengukuran tempat salah satu curah hujan dicari (m). Rn : nilai rata-rata ketinggian curah hujan pada setiap stasiun pembanding dalam periode waktu yang sama (m).
Tujuan dari uji konsistensi curah hujan adalah untuk menguji keakuratan data curah hujan dari suatu stasiun curah hujan dengan mempertimbangkan pola data curah hujan tahunan yang muncul dengan data rata-rata curah hujan tahunan dari stasiun curah hujan terdekat. Prinsip penggunaan metode kurva massa ganda adalah membandingkan data curah hujan tahunan stasiun yang akan diuji dengan rata-rata curah hujan tahunan stasiun hujan di sekitar stasiun hujan yang diuji pada skala tersebut. Data curah hujan yang tidak homogen dapat disebabkan oleh gangguan atmosfer akibat pencemaran udara atau hujan buatan.
Persamaan linier Gumble yang dimodifikasi digunakan untuk memperoleh R10 dan Tr karena sebaran curah hujan harian maksimum merupakan barisan yang diasumsikan sesuai dengan sebaran Gumble sebagai berikut. Analisis frekuensi curah hujan maksimum harian harus memperhatikan bahwa data hidrologi yang berkaitan dengan kejadian ekstrim seperti banjir, hujan lebat dan kekeringan berbanding terbalik dengan frekuensi kejadiannya, sehingga kejadian ekstrim sangat jarang terjadi. Analisis frekuensi memerlukan serangkaian data curah hujan yang diperoleh dari stasiun pengukur hujan, baik manual maupun otomatis.
Metode Gumble diterapkan pada curah hujan maksimum harian dengan menggunakan perhitungan zona kepercayaan dengan persamaan sebagai berikut (Suripin, 2004).
Metode Log Pearson Tipe III
Hitung periode ulang T hujan atau banjir dengan menghitung antilog logXT, dimana K adalah variabel standar
Metode Distribusi Normal
Uji Kecocokan
Peluang tercapainya nilai Xh2 sama atau lebih besar dari nilai Chi-kuadrat Xh2 sebenarnya dapat dilihat pada tabel lampiran berikut:
Prosedur uji Chi-kuadrat adalah sebagai berikut
Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut
- Analisis Intensitas Hujan
- Metode Van Breen
- Metode Bell Tanimoto
- Metode Hasper Der Weduwen
- Pemilihan Metode Analisis Intensitas Hujan
- Persamaan Talbot
- Persamaan Sherman
- Persamaan Ishiguro
- Penggambaran Kurva IDF
- Kriteria Hidrologi dan Hidraulika
Analisis intensitas hujan dilakukan dari data curah hujan maksimum harian yang kemudian diubah menjadi bentuk intensitas hujan. Jika data durasi curah hujan tidak diketahui, maka diperlukan pendekatan empiris dengan berpedoman pada durasi enam puluh menit dan curah hujan harian maksimum yang terjadi setiap tahunnya. Metode Van Breen cocok untuk lokasi di Pulau Jawa dan kondisi umum di Indonesia.
Berdasarkan perkembangan kurva pola curah hujan Van Breen, besarnya intensitas curah hujan di kota-kota lain di Indonesia dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan (Hardjosuprapto, 1998). Metode Bell Tanimoto memerlukan data curah hujan dalam jangka waktu yang cukup lama, minimal 20 tahun. Jika data tersebut tidak tersedia dan jumlah curah hujan selama enam puluh menit dengan periode ulang 10 tahun sebagai dasar diketahui, maka rumus empiris yang disusun oleh Bell dapat digunakan untuk menentukan curah hujan dengan durasi 5-120 menit dan kembalinya. jangka waktu 2 -100 tahun.
R1 : Jumlah curah hujan pada distribusi per jam ke-1 menurut Tanimoto R2 : Jumlah curah hujan pada distribusi per jam ke-2 menurut Tanimoto. Data jumlah curah hujan maksimum pada PUH (Rain Return Period) sepuluh tahun digunakan. Metode Bell tersebut di atas menggunakan nilai rata-rata sebaran curah hujan pada dua jam pertama. Penggunaan kurva IDF untuk menghitung limpasan dengan rumus rasional untuk menghitung aliran puncak menggunakan intensitas hujan yang sebanding dengan waktu aliran hujan dari suatu titik hulu ke titik yang dipertimbangkan di bagian hilir daerah drainase.
Berdasarkan data curah hujan jangka pendek, kurva IDF dapat dibuat dengan menggunakan persamaan Talbot, Sherman dan Ishiguro. Kurva IDF digunakan untuk menghitung limpasan dengan menggunakan rumus rasional untuk menghitung aliran puncak dengan menggunakan intensitas hujan yang sebanding dengan waktu aliran hujan dari titik hulu ke titik yang dianggap hilir daerah drainase. Kurva ini menunjukkan probabilitas intensitas curah hujan yang berlaku pada setiap durasi curah hujan.
Aspek Hidrologi
Aspek Hidraulika
Kriteria Hidrologi dan Hidraulika .1 Periode Ulang Hujan (PUH)
- Perhitungan Debit Banjir
- Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan air hujan dari daerah terpencil dalam DPS untuk mengalir menuju suatu titik atau penampang saluran tertentu yang dipertimbangkan. Waktu konsentrasi (tc) apabila nilainya lebih kecil dari waktu lama hujan (te) (tc < te) dalam perhitungan intensitas hujan dianggap sama dengan waktu lama hujan yaitu tc = te. Waktu yang diperlukan titik air terjauh dalam DPS untuk mengairi permukaan bumi sampai ke saluran awal terdekat, t0 (menit) dan.
Waktu yang diperlukan air untuk mengalir dari aliran awal saluran ke penampang saluran tertentu yang diperhatikan, td (menit).
Waktu mengalur disalurkan, t d dengan persamaan
- Koefisien Limpasan
- Intensitas Hujan
- Kapasitas Saluran
- Kecepatan Aliran (V)
- Penampang Saluran
- Ambang Batas
- Perlengkapan Saluran
Nilai C yang digunakan dalam perancangan harus didasarkan pada penggunaan lahan sesuai rencana kawasan kota atau RTRW. Koefisien limpasan merupakan perbandingan antara banyaknya air yang mengalir pada suatu daerah akibat hujan dengan banyaknya hujan yang turun pada daerah tersebut. Ai : Intensitas hujan dalam PUH T dan waktu konsentrasi tc > te, dalam satuan (mm/jam).
Tugasnya adalah menyalurkan air hujan limbah dengan aliran tinggi, yang alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil. Ciri-ciri mengarahkan limpasan air hujan dengan aliran besar, yang alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil. Bentuk saluran drainase yang tidak biasa jarang digunakan karena alasan teknis dan ekonomis, misalnya bulat, lonjong, elips, tapal kuda, tapal kuda berpadu persegi panjang, tapal kuda berpadu setengah lingkaran, tapal kuda berpadu segitiga.
Tabel 2.12 menunjukkan jenis penampang dengan besaran hidraulik optimalnya, sedangkan Tabel 2.13 menunjukkan hubungan antara dimensi dan penampang saluran. Saluran air memerlukan peralatan saluran untuk mendukung berfungsinya saluran air dengan baik (Joetata, 1997). Fungsi street intake adalah menyalurkan dan menampung air hujan yang berada di pinggir jalan dan dialirkan ke lubang-lubang di pinggir jalan yang menuju ke saluran bawah tanah atau saluran samping.
Jumlah saluran masuk jalan harus cukup untuk menampung limpasan air pada jalan tersebut mengingat jarak antar saluran masuk jalan, dengan menggunakan rumus.
Gutter Inlet
Gorong-Gorong
Gorong-gorong merupakan bangunan yang mengatur perubahan kecepatan secara bertahap agar tidak terjadi kehilangan tekanan (head loss) yang terlalu besar.Gorong-gorong merupakan gorong-gorong tertutup yang berfungsi mengalirkan air dari jalan menuju saluran penampung, biasanya terletak di sepanjang jalan dan terletak di bagian bawah. Jalan. Bentuk saluran terdiri dari bentuk lingkaran yang terbuat dari pipa beton dan bentuk persegi panjang yang terbuat dari beton bertulang (Permen PU 12/2014). Saluran penyaluran air yang berasal dari saluran alami atau sungai kecil Perencanaan saluran harus memperhatikan (Joetata, 1997): 3.
Kemiringan dasar gorong-gorong dibuat lebih besar dari saluran pelimpah agar sedimen dapat mengalir dengan mudah. Batas kecepatan yang diperlukan agar gorong-gorong bebas dari endapan lumpur harus lebih besar atau sama dengan kecepatan pembersihan sendiri.
Bangunan Pembuangan (Outfall)
Drainase Berwawasan Lingkungan dengan Usaha Konservasi Sumber Daya Air
- Sumur Resapan
- Biopori
- Pemanenan Air Hujan (Rainwater Harvesting)
Pada kondisi muka airtanah dalam, sumur resapan harus dibangun secara besar-besaran karena pengisian kembali airtanah sangat diperlukan. Sebaliknya pada kondisi air tanah dangkal seperti pada daerah pasang surut atau rawa, penerapan sumur resapan tidak efektif (Suripin, 2004). Lubang resapan air hujan dibangun di atas tanah yang bebas air dan tahan longsor, lubang resapan air hujan harus bebas dari pencemaran limbah, dan air yang masuk ke dalam lubang resapan adalah air hujan.
Jika sanitasi lingkungan kawasan buruk, sumur resapan air hujan hanya menampung air hujan dari atap dan menyalurkannya melalui talang. Lubang rembesan dibuat pada awal daerah aliran, yang dapat ditentukan dengan mengukur kedalaman muka air tanah sampai permukaan tanah di sekitar lubang pada musim hujan. Permeabilitas tanah yang dapat digunakan untuk sumur resapan dibagi menjadi tiga kelas, antara lain permeabilitas tanah sedang (lempung/lanau) sebesar 2,0-6,5 cm/jam, permeabilitas tanah cukup cepat (pasir halus) sebesar 6,5-12,5 cm/jam, dan permeabilitas tanah cukup cepat (pasir halus) sebesar 6,5-12,5 cm/jam, dan permeabilitas tanah cukup cepat (pasir halus) sebesar 6,5-12,5 cm/jam. permeabilitas tanah cepat (pasir kasar) >12,5 cm/jam.
Sumur resapan air hujan digunakan bila kedalaman air tanah > 2 m, jika kedalaman air tanah < 2 m. Sementara itu, dapat menggunakan pipa PVC minimal Ø 4 inchi atau pipa beton ½ Ø 30 cm (kerikil) atau pipa beton Ø 30 cm untuk saluran masuk ke dalam parit resapan. Air hujan yang masuk ke dalam tanah bergerak perlahan menuju titik terendah di dalam tanah.
Pemanenan air hujan diartikan sebagai kegiatan pengumpulan air permukaan (limpasan) yang ditangkap dan dikumpulkan dari air hujan yang jatuh dari atap atau permukaan tanah. Sistem pemanenan dengan cara menampung air hujan (limpasan) dari atap bangunan dikategorikan sebagai pemanenan air hujan, sedangkan sistem pemanenan dengan cara menampung air hujan dari sungai dikategorikan sebagai pemanenan air banjir (Matheus, 2019). Pemanenan air hujan mempunyai beberapa keuntungan karena letak pengumpul air (sumber air) dekat dengan pengguna.
Sistem pemanenan air hujan terdiri dari tangki untuk menampung air hujan yang jatuh dari atap rumah dan saluran (talang) untuk menyalurkan air ke tangki penyimpanan (Suprihatin dan Suparno, 2013). Tempat pengumpulannya dapat berupa atap atau permukaan tanah yang dirancang khusus untuk menampung air hujan. Penyaluran air hujan terdiri dari talang atau pipa yang dapat menampung air hujan dan mengarahkannya dari tempat penampungan ke tempat penampungan.