• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG JABATAN, PEMERINTAH DAERAH ... - Unisba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG JABATAN, PEMERINTAH DAERAH ... - Unisba"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

Dalam undang-undang no. 9 Tahun 2015, yang dimaksud dengan pemerintahan adalah pengertian “pemerintahan daerah” adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah sesuai dengan asas otonomi dan tugas membantu dengan asas otonomi seluas-luasnya. dalam sistem dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengertian tersebut sesuai dengan apa yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) UU No. Tahun 2015 dimana pemerintahan daerah dikatakan adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah.21. Dalam hal ini penyelenggara pemerintahan sesuai dengan ayat 1 (3) UU No. 9 tahun yaitu gubernur, bupati atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang selanjutnya disebut pimpinan daerah.

Dalam melaksanakan tugasnya, pemerintah harus menghormati asas atau asas umum penyelenggaraan negara sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 3 UU No. 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan tanpa KKN (selanjutnya disebut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999), yaitu. Asas kepastian hukum merupakan asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, keadilan dan kewajaran dalam setiap kebijakan penyelenggara negara. Asas Penyelenggaraan Negara yang Teratur merupakan asas yang menjadi landasan bagi ketertiban, keselarasan, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara negara.

Asas Kepentingan Umum merupakan asas yang mengutamakan kesejahteraan umum secara aspiratif, akomodatif, dan selektif. Asas keterbukaan merupakan asas yang membuka hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan hak asasi manusia pribadi, kelompok, dan rahasia negara. Prinsip profesionalisme adalah prinsip yang mengutamakan keahlian berdasarkan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Asas akuntabilitas adalah asas yang mengatur bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. undang undang Undang. 24.

Asas-Asas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Prinsip formal membuat keputusan yang merangkumi prinsip berhemat formal dan prinsip "permainan adil". Prinsip formal mengenai perumusan keputusan meliputi Pertimbangan Undang-undang formal dan Asas Kepastian. Prinsip-prinsip penting mengenai kandungan keputusan yang merangkumi asas kepastian undang-undang yang substansial, asas kepercayaan atau asas harapan yang dicipta, asas persamaan, asas ketepatan yang ketara dan asas keseimbangan.

Penerapan sistem ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain luasnya wilayah negara dan banyaknya kepentingan yang perlu diurus oleh pemerintah pusat. Dari sisi pengelolaan publik, desentralisasi dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas publik, khususnya dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Dalam hal percepatan pembangunan, desentralisasi dapat meningkatkan persaingan positif antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, mendorong pemerintah daerah melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat27.

Teori Kewenangan 1. Pengertian

  • Sifat Wewenang Pemerintahan
  • Sumber Wewenang Pemerintahan
  • Syarat Sah Wewenang
  • Tugas dan Kewenangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah

Dalam konsep negara hukum, kewenangan pemerintahan bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebagaimana dikemukakan oleh Huisman yang menyatakan bahwa badan pemerintah tidak dapat berasumsi bahwa dirinya mempunyai kewenangan pemerintahan. De Haan menyatakan bahwa kekuasaan pemerintahan tidak jatuh dari langit, melainkan ditentukan oleh undang-undang (overheidsbevoegdheden komen niet uit de lucht vallen, zij worden door het recht genormeerd).32. Atmosudirdjo menyatakan bahwa pada hakekatnya kewenangan pemerintahan dapat digambarkan dalam dua pengertian, yaitu sebagai hak untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan (dalam arti sempit) dan sebagai hak untuk dapat mempengaruhi secara signifikan keputusan-keputusan yang akan diambil oleh instansi pemerintah lainnya. (dalam 33 Peter Leyland dan Terry Woods dengan tegas menyatakan bahwa otoritas publik mempunyai dua ciri utama, yaitu pertama, setiap keputusan yang diambil oleh pejabat pemerintah mengikat seluruh anggota masyarakat, dalam arti semua anggota masyarakat harus menaatinya dan kedua , bahwa setiap keputusan yang diambil oleh pejabat pemerintah yang mempunyai fungsi publik atau melaksanakan pelayanan publik.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kewenangan, khususnya kewenangan pemerintahan, adalah kekuasaan yang ada pada pemerintahan untuk menjalankan fungsi dan tugasnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.34. Safri Nugraha menyatakan hakikat kewenangan pemerintahan meliputi tiga aspek, yaitu selalu terikat pada jangka waktu tertentu, selalu tunduk pada batas-batas tertentu, dan pelaksanaan kewenangan pemerintahan terikat pada undang-undang yang tertulis dan tidak tertulis (asas-asas umum pemerintahan yang baik). ). Jadi, apabila kewenangan pemerintah itu dipergunakan dan tidak sesuai dengan sifat kewenangan pemerintah itu, maka perbuatan atau perbuatan pemerintah itu dapat dikatakan batal atau batal.

Literatur hukum administrasi membagi sifat kewenangan pemerintahan, yakni ada kewenangan pemerintahan yang bersifat terkait, bersifat pilihan, dan mandiri. Indroharto menyatakan kewenangan pemerintah bersifat mengikat, yakni terjadi apabila peraturan pokok menentukan kapan dan dalam keadaan apa kewenangan tersebut dapat digunakan, atau peraturan pokoknya sedikit banyak. Dengan kata lain, apabila peraturan pokoknya menjelaskan secara rinci isi keputusan yang akan diambil, maka kewenangan pemerintah tersebut merupakan kewenangan yang mengikat.

Kewenangan pemerintahan yang bebas, yaitu timbul ketika aturan-aturan dasar memberikan kebebasan kepada badan atau pejabat pemerintah untuk menentukan sendiri isi keputusan yang akan dikeluarkannya, atau aturan-aturan dasar itu memperbolehkan pejabat untuk melakukan tindakan atau tindakan pemerintahan.36 . Menurut Indroharto, atribusi terjadi ketika kekuasaan pemerintahan baru diberikan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Siapa yang bertindak sebagai legislator yang didelegasikan; seperti presiden mengeluarkan perintah pemerintah berdasarkan ketentuan undang-undang yang menimbulkan kewenangan pemerintah terhadap lembaga atau jabatan pemerintah tertentu.

Menurut Indroharto, pendelegasian adalah penyerahan kewenangan yang ada oleh suatu badan atau pejabat TUN yang telah memperoleh kewenangan atributif pemerintah kepada badan atau pejabat TUN lain. Hal ini juga berkaitan dengan tanggung jawab hukum dalam setiap penggunaan kewenangan pemerintah, yang menekankan bahwa tidak ada kewenangan yang diberikan kepada pemerintah untuk melakukan tindakan atau perbuatan apa pun tanpa menimbulkan suatu tanggung jawab (tidak ada). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan secara jelas bahwa kewenangan pemerintah yang menjadi dasar tindakan atau perbuatan pemerintah meliputi tiga (tiga) jenis kewenangan yaitu atribusi, delegasi, dan mandat.

Dalam hal tindakan atau perbuatan pemerintahan didasarkan pada kuasa atribusi, maka pemerintah sebagai penerima kuasa atribusi dapat membentuk kewenangan pemerintahan baru atau memperluas kewenangan yang sudah ada. Dengan demikian, tanggung jawab internal dan eksternal atas pelaksanaan kewenangan yang dilimpahkan sepenuhnya berada pada pemerintah sebagai penerima kewenangan negara (attributor).

Produk Hukum Daerah

Pengertian dan Jenis Jenis Produk Hukum Daerah

melakukan pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah kabupaten/kota, kecamatan, dan/atau desa serta wakil bupati/walikota; Melaksanakan tugas dan wewenang pengurus daerah apabila pengurus daerah sedang menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara; Dan. Dalam melaksanakan otonomi daerah, terdapat empat produk hukum daerah yang dapat dibuat oleh suatu pemerintah daerah, yaitu Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Kepala Daerah (Perkada), dan Keputusan Induk Daerah.

Peraturan Daerah atau Perda merupakan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah. Konkret berarti bahwa hal yang diputuskan dalam keputusan itu tidak bersifat abstrak, melainkan nyata, pasti atau dapat ditentukan, sedangkan individual berarti bahwa keputusan itu tidak ditujukan kepada masyarakat umum, melainkan khusus baik alamatnya maupun pokok bahasannya.

Landasan dan Asas – Asas Pembentukan Produk Hukum Daerah

Landasan Yuridis (Juridische Foundation), yang terpenting dalam landasan yuridis adalah kewenangan membuat Peraturan Perundang-undangan. Selain itu Produk Hukum Daerah juga harus berlandaskan pada prinsip-prinsip pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Asas kejelasan tujuan adalah setiap Lembaga Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai.;.

Asas yang berlaku bagi lembaga atau pejabat pembentuk peraturan adalah setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga pemerintah atau pejabat yang berwenang menyusun peraturan perundang-undangan. Asas kesesuaian antara jenis, hirarki dan materi muatan adalah bahwa dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar diperhatikan materi muatan yang sesuai dengan jenis dan hirarki Peraturan Perundang-undangan. Prinsip yang dapat dilaksanakan adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk harus memperhatikan efektivitas Peraturan Perundang-undangan tersebut di masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, dan yuridis.

Asas efisiensi dan kemanfaatan adalah setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena benar-benar diperlukan dan berguna dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.;. Asas keterbukaan adalah penciptaan peraturan perundang-undangan, mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan, bersifat transparan dan terbuka. Prinsip perlindungan adalah setiap materi yang terkandung dalam peraturan perundang-undangan harus berfungsi untuk memberikan perlindungan dan menciptakan ketentraman masyarakat.

Asas kemanusiaan adalah bahwa setiap materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta kehormatan dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Prinsip kebangsaan adalah setiap materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan karakter bangsa Indonesia yang majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Asas kekeluargaan adalah setiap materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan pembahasan untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.

Asas Bhinneka Tunggal Ika adalah isi ketentuan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keberagaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi kekhususan daerah, dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Prinsip keadilan adalah setiap materi yang terkandung dalam ketentuan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan yang proporsional kepada setiap warga negara. Asas ketertiban dan kepastian hukum adalah setiap materi yang terkandung dalam ketentuan hukum harus mampu menciptakan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan kepastian hukum.

Referensi

Dokumen terkait

Journal of the Department of Agriculture, Journal of the Department of Agriculture, Western Australia, Series 3 Western Australia, Series 3 Volume 6 Number 2 March-April, 1957

About News & Events Research Resources Training & Education Grants & Funding Community Engagement Volunteer for Research Tools Nutritional data from innovative ‘summer camp’ research