• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF GEGURITAN - repo.unhi.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF GEGURITAN - repo.unhi.ac.id"

Copied!
174
0
0

Teks penuh

Sebagai sebuah karya sastra, Geguritan Niti Raja Sasana merupakan geguritan yang berisi ajaran kepemimpinan Hindu. Salah satu karya sastra yang memuat ajaran kepemimpinan adalah Geguritan Niti Raja Sasana. Alasan ideologis menjadi alasan untuk melaksanakan ajaran yang terkandung dalam Geguritan Niti Raja Sasana.

Padahal, membaca Geguritan Niti Raja Sasana merupakan proses penyempurnaan jiwa kepemimpinan bagi semua yang mengikuti proses pendidikan agama itu sendiri. “Ajaran kepemimpinan dalam geguritan Niti Raja Sasana dapat digunakan untuk mengubah karakter masyarakat.” Jadi jelas Geguritan Niti Raja Sasana merupakan karya sastra yang berdasarkan ajaran dalam Upaweda (Smrti).

Geguritani Niti Raja Sasana sebagai sadacara mengajarkan tentang tugas seorang raja (pemimpin). Berdasarkan kutipan pupuh di atas dikatakan bahwa geguritani Niti Raja Sasana merupakan karya sastra yang memuat ajaran dharma agama.

Geguritan Niti Raja Sasana Mengajarkan

Penggalan sloka di atas menekankan bahwa seorang raja (pemimpin) haruslah cerdas dalam menjalankan kepemimpinannya, dimana ia dituntut dengan tegas untuk mentaati aturan-aturan yang berlaku agar pemerintahannya dapat berjalan dengan baik dan semua yang dipimpinnya memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan. . Berdasarkan kutipan sloka di atas jelas terlihat bahwa orang yang selalu melakukan tindakan cinta dan kasih sayang akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang. Sikap dan tindakan penuh kasih juga harus dilakukan oleh seorang raja (pemimpin) terhadap seluruh rakyatnya dan seluruh wilayah atau negara yang dikuasainya.

Apabila seorang raja menyayangi, menyayangi, menghargai dan menghormati rakyatnya, nescaya raja (pemimpin) itu akan disayangi, disayangi, disayangi dan dihormati oleh rakyatnya. Bagi seorang raja (pemimpin) yang taraf hidup kewangannya melebihi tahap kemampuan orang lain, asasnya jelas satu perkara yang wajib dilakukan. Seorang raja (pemimpin) bukan sahaja mengumpul harta untuk dirinya sendiri manakala orang lain (rakyat yang dipimpinnya) dalam kesusahan, kemiskinan dan kesengsaraan.

Raja yang baik (baik) tidak memudaratkan fikiran rakyat, begitu juga keturunannya, lelaki, perempuan, anak-anak dan isteri, sentiasa menjamin kesejahteraan dan sentiasa beriman kepada Hyang Widhi. Seorang raja (pemimpin) mesti sentiasa melakukan dan melakukan tindakan yang semua orang di bawah perintah dan kekuasaannya, seperti menteri, cinta dan hargai. Selain itu, ajaran pengabdian dalam syair-syair Niti Raja Sasana juga menetapkan bahawa seorang raja (pemimpin) harus dapat menyayangi dan menyayangi masyarakat yang dipimpinnya sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan, sesama manusia dan sesama manusia. makhluk. bangsa dan negara.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Geguritan Niti

Tanpa Kekerasan (Ahimsa)

Yaitu orang yang akhlaknya demikian, tidak pernah menyakiti makhluk lain, tidak mengikatnya, tidak membunuhnya, melainkan hanya menyenangkan makhluk lain, itulah yang dilakukannya; Orang seperti itu dianggap sebagai kebahagiaan tertinggi. Sloka di atas menekankan bahwa orang yang melakukan Ahimsa ditandai dengan perbuatan yang tidak merugikan makhluk lain, seperti memukul, mengikat, membunuh dan sejenisnya yang merugikan. Orang yang mampu menghindari tindakan tersebut akan mampu menghilangkan permusuhan dan penderitaan.

Pahalanya adalah orang yang tidak membunuh (membahayakan) selama di dunia ini, segala sesuatu yang diperjuangkannya, segala sesuatu yang dicita-citakannya, segala sesuatu yang dikehendakinya atau diidam-idamkan, dengan mudah diraihnya tanpa ada penderitaan apa pun. Berdasarkan sloka di atas, apapun cita-cita atau tujuan yang ditetapkan seseorang untuk melaksanakan Ahimsa, maka kendala yang dihadapi dapat diminimalisir. Orang yang mengamalkan Ahimsa Karma (tindakan tanpa kekerasan) adalah orang yang selalu menghindari pembunuhan, menyakiti atau menggunakan kekerasan.

Dalam segala perbuatannya yang kini kita bahas satu per satu, terdapat pembagian yang pertama: cinta terhadap orang yang menderita, cinta kedua terhadap orang yang mengalami duka, cinta ketiga terhadap pendeta. Sata brata ulahneki, maniru kramaning ayam, sata ayam pangartine, perilaku sihe kasamaptan, ring rabi ring kaula, mangden sami antep ipun, pratingkahe sumawita (Smd. I-31). Tindakan nir-kekerasan disebutkan dalam kutipan pupuh di atas dengan kata asih yang dapat diartikan mencintai atau menyayangi.

Melaksanakan Kerja dan Jujur (Karma dan

Sloka-sloka ing nginggil ngandharaken bilih salawas-lawase manungsa iku ora bakal uwal saka karma lan karya, mula kudu nindakake apa kang dadi kuwajibane. Yen di pikir-pikir, ojo dumeh, kebak kasugihan, wak, ati, ayo gawe, duhkha kebak hrdroga. yen mangkono, ayo padha pindhah menyang (SS-41). Kunang sarwa daya, ika sang sista, sang apta, satyawadi, jitendriya ta sira, satya laris guess, niyata pasandan dharma solah nira, prawrttinira, ja tika tutakenanta, katutanika, yatika dharmarawrtti arane (SS-42).

Bahwa segala tingkah laku orang yang berakal, orang yang jujur, orang yang suci tutur katanya, bahkan orang yang mampu mengatasi nafsunya dan jujur ​​lahir batin, harus dilandasi oleh dharma, semua seperti dirinya; dia layak untuk diikuti; jika Anda bisa mengikutinya, itu disebut dharma. Berdasarkan penggalan sloka di atas terlihat jelas bahwa orang yang selalu mengikuti dharma selalu bertindak dan bertindak dengan integritas. Jujur terhadap orang lain berarti mempunyai sikap, yaitu: pertama-tama terbuka yang berarti tampil sebagai diri sendiri.

Sesuai dengan keyakinannya sendiri dengan tidak menyembunyikan wajah aslinya; dan kedua, bersikap wajar atau adil, yaitu berperilaku dan bertindak dengan memperlakukan orang lain menurut standar yang diharapkan orang lain dapat diterapkan pada dirinya (Suseno, 1987: 142). Pada kutipan pupuha di atas terdapat kalimat “pageh nyadya samaga kertti” yang dapat diartikan sebagai pelaksanaan swadharma (kewajiban) yang teguh untuk mencapai kesejahteraan. Setiap orang sangat menyukai orang yang memegang teguh kebenaran dan kejujuran, Perilaku jujur ​​adalah perilaku yang membawa kebaikan.

Melakukan Pengabdian

Wijayastra artinya raja yang tegas dalam berbuat kebenaran, selalu berlaku adil dalam memberikan pemberian, mengetahui dan dihormati semua orang, menghilangkan pikiran amarah dan amarah, selalu mengucapkan kata-kata manis. Bhakti adalah kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan, yaitu jalan ketaatan atau bhakti, dan dicintai oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan dapat diwujudkan melalui cinta layaknya cinta suami istri yang menggebu-gebu dan menyerap segala-galanya.

Dia tidak pernah membenci makhluk atau benda apa pun, dan tidak pernah tertarik pada benda-benda duniawi. Kasih Tuhan dan kegembiraan yang membara yang dibawa oleh persekutuan dengan Tuhan tidak dapat digambarkan secara akurat dengan kata-kata. Hanya mereka yang telah mengalami cinta itu yang dapat melihatnya, mendengarnya, dan membicarakannya, karena mereka terus-menerus memikirkan tentang Dia.

Bhakti minangka salah sawijining ilmu spiritual sing paling penting amarga wong sing tresna marang Gusti Allah pancen sugih. Kaping pitu manglēhin wadwa bala, mangluhin sakatahe, wayah kutusu manengakang, manah wadwa bala, teneng putra rabi, dangu-dangu (Smd. I-8). Wujud pengabdian pemimpin marang rakyate yaiku tansah ngupayakake kawigatosan, kesenengan, kesejahteraan lan kabegjane kabeh rakyat sing dipimpin.

Tat Twam Asi

Adapun yang ketujuh, memperhatikan semua orang, mengetahui segalanya, yang kedelapan membahagiakan hati semua orang, begitu juga anak-anak dan istrinya. Wahai manusia, kalian harus berjalan bersama, berbicara bersama, dan berpikiran sama, sebagaimana nenek moyang kalian berbagi tugas bersama, maka kalian harus menjalankan hak-hak kalian. Samano mantrah samitih samani samanam manah saha cittam esam, samanah mantram abhi mantraye vah samanana vo havisa juhomi (Rgveda X.191.3).

Wahai umat manusia, semoga kalian berpikir bersama, semoga kalian bersatu, semoga pikiran dan gagasan kalian sama, Aku memberikan kalian pemikiran yang sama dan kenyamanan yang sama. Wahai umat manusia, semoga kalian maju dengan niat yang sama, semoga hati dan pikiran kalian sama agar kalian bisa diatur secara seragam. Kerukunan menjadi dasar terwujudnya kerukunan baik intra keluarga maupun masyarakat, sedangkan kerukunan umat beragama dapat diwujudkan secara intra, antar dan antar umat beragama dengan pemerintah.

Dana Punia

Berdasarkan arti kata dana punia dari kutipan di atas, maka dapat dikatakan bahwa apapun bentuk pemberiannya yang didasari oleh keikhlasan atau keikhlasan, dan memberi rasa aman, memberi kebaikan, menciptakan kebahagiaan, terutama bagi yang menerimanya, maka apakah demikian? hadiah bisa disebut punia utama. Dana Punia tidak hanya berbentuk barang materi seperti uang, makanan, minuman, pakaian, perumahan, perhiasan, hewan ternak atau barang materi lainnya, namun dapat juga berbentuk barang non materi seperti perhatian, kasih sayang, pertolongan, pengetahuan, keramahtamahan. , kegembiraan, rahmat dan sejenisnya, karena juga dapat memberikan kebaikan, kebahagiaan dan keamanan bagi orang lain. Orang yang tingkah lakunya demikian, memberi hadiah, dengan senang hati memberi pelajaran dan nasehat kepada fakir miskin, hatinya gembira; Dalam keadaan demikian maka anak, cucu, seluruh keturunannya, termasuk seluruh hewan ternaknya akan selamat dan diketahui amal perbuatannya di alam keutamaan.

Jadi apa yang orang patut buat, kepada mereka yang sedih kerana kesusahan, bantuan harus diberikan; jika orang yang letih yang berehat bersama kamu hendaklah diberi tikar dan tempat berteduh, tetapi orang yang dahaga diberi air; dan orang yang lapar mesti diberi makanan. Berdasarkan petikan kedua-dua sloka di atas, bolehlah dinyatakan bahawa dalam pemberian dana punia, ia harus tepat pada sasaran. Sentiasa memaafkan pesalah, disayangi oleh imam, belas kasihan kepada orang yang menderita, bersedia memberi pertolongan, tahu bahawa dia akan mengambil pekerjaan, bersungguh-sungguh menjaga rakyatnya.

Seorang pemimpin, dan juga seluruh rakyat, hendaknya melakukan punia karena itu adalah perbuatan yang sangat mulia. Nilai-nilai universal agama Hindu sebagaimana diuraikan di atas terkandung dalam Geguritan Niti Raja Sasana selain ajaran kepemimpinan. Oleh karena itu Geguritan Niti Raja Sasana tidak hanya mengajarkan tentang kepemimpinan saja, namun juga memasukkan nilai-nilai universal dalam agama Hindu yaitu ahimsa, satya, tat twam asi, sewa dan dana punia.

Referensi

Dokumen terkait