DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
P-ISSN 2442-6636 3
E-ISSN 2355-3987 4
www.ijhn.ub.ac.id 5
Artikel Hasil Penelitian 6
7
Ibu Berpendidikan Rendah Cenderung Memiliki Anak Lebih Kurus
8
Dibandingkan Ibu dengan Pendidikan Tinggi
9 10
Dudung Angkasa1*, Nadiyah1 11
1Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul 12
*Alamat korespondensi: [email protected]; Telp. +6281298933173 13
14
Diterima: Mei 2019 Direview: Juni 2019 Dimuat: Juni 2019 15
16
Abstrak 17
Penguatan pendidikan merupakan salah satu upaya intervensi gizi sensitif yang dapat mengatasi 18
masalah gizi dan kesehatan (G&K) pada anak. Tingkat pendidikan ayah atau ibu yang lebih berperan 19
dalam G&K anak sekolah menjadi perhatian menarik di penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk 20
menguji hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan status gizi anak sekolah di setting 21
pedesaan. Penelitian potong lintang dengan menggunakan sub sampel (n=212 dari total 330) Projek 22
GISEL. Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data tingkat pendidikan orang tua, 23
umur, jumlah anak, dan pengetahuan gizi. Timbangan digital dan microtoise secara berurutan untuk 24
mengukur berat dan tinggi badan. Aplikasi WHO Antroplus digunakan untuk menghasilkan indeks 25
TB/U (Tinggi Badan menurut Umur) dan IMT/U (Indeks Massa Tubuh menurut Umur). Untuk 26
menjawab pertanyaan penelitian dan mendapatkan hasil terkontrol, dilakukan uji regresi linear 27
berganda. Hasil menunjukkan bahwa anak dari ibu berpendidikan <9 tahun cenderung secara 28
bermakna memiliki skor IMT/U 0,800 (95% CI = -1,451; -0,149) lebih rendah dibandingkan anak 29
dari ibu berpendidikan >9 tahun. Tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan G&K anak sekolah.
30 31
Kata kunci: pendidikan, ibu, anak sekolah, status gizi, pedesaan 32
33
Abstract 34
Strengthening the educational level is one of the nutrition sensitive interventions that contribute to 35
prevent nutrition and health (NAH) problem among children.Whose education (between mother and 36
father) that affect the school children NAH status is paid high attention in current study. Current 37
study tries toexamine the association between maternal educational level and nutritional status of 38
school children in a rural setting, Tangerang. This cross-sectional study involved a sub-sample (n 39
=212, from a total of 330 samples) of GISEL (GIzi dan keSEhatan sekoLah) project. Structured 40
questionnaires were used to collect parental educational level, ages, number of children and 41
parental’s nutritional knowledge. Digital weighing scale and standard microtoies were used to 42
measured children weight and height, respectively. WHO Antroplus apps was used to produce HAZ 43
(Height-for-age) and BAZ (body mass index -or-age) z score index. To answer research question and 44
produce adjusted association, multiple linear regression analyses were performed. Children with 45
mother educational level <9 years more likely to have 0.800 (95% CI = -1.451; -0.149) lower BAZ 46
z-score than children with mother educational level >9 years. Maternal educational level is 47
associated with school children nutritional status. An increase in women's education levels becomes 48
a sensitive intervention to prevent child nutrition problems in rural areas.
49
Keywords: education, maternal, school children, nutritional status, rural setting 50
53
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6 51
PENDAHULUAN 52
Hasil RISKESDAS 2013 menunjuk- 53
kan bahwa prevalensi anak usia sekolah 54
(AUS) dengan status gizi kurang (pendek 55
dan sangat pendek 30,7%, kurus 11,2%) 56
masih lebih besar dibandingkan dengan 57
prevalensi anak yang gizi lebih (gemuk dan 58
obesitas 18,8%) [1]. Provinsi Banten 59
memiliki dua masalah gizi anak sekolah di 60
atas rata-rata nasional yaitu pendek/
61
stunting dan kurus/wasting. Prevalensi 62
anak sekolah yang pendek dan kurus di 63
Provinsi Banten masing-masing di atas 64
30,7% dan 11,2% angka nasional [1].
65
Ditingkat Kabupaten, prevalensi anak 66
kurus dan sangat kurus secara berurut 67
sebesar 7,8% dan 5,4%, di atas rata-rata 68
Provinsi Banten (7,2% dan 4,5%). Masa- 69
lah pendek dan sangat pendek, pada 70
kelompok usia yang sama, di Kabupaten 71
Tangerang tercatat sebesar 14,3% dan 72
10,8%, lebih tinggi dibandingkan bebe- 73
rapa wilayah lainnya di Provinsi Banten 74
[2]. Gizi kurang maupun gizi lebih sama- 75
sama memiliki dampak terhadap kesehat- 76
an jangka panjang anak berupa terhambat- 77
nya pertumbuhan, menurunnya prestasi [3]
78
serta meningkatnya risiko penyakit 79
degeneratif [4].
80
Masalah gizi terjadi akibat banyak 81
penyebab atau faktor yang dapat dikatego- 82
rikan berdasarkan ‘kecepatan’nya dalam 83
menyebabkan masalah gizi seperti faktor 84
langsung, underlying factor, dan basic 85
factor [5]. Faktor langsung berupa keti- 86
dakcukupan asupan dan adanya infeksi, 87
sedangkan underlying factor dapat berupa 88
buruknya pola asuh, ketidakcukupan akses 89
pangan, dan akses terhadap layanan ke- 90
sehatan. Basic factor meliputi keadaan 91
politik, ekonomi nasional yang bergejolak, 92
dan pendidikan yang rendah. Setiap faktor 93
saling berkaitan, misalnya ketidakstabilan 94
politik atau ekonomi akan berakibat pada 95
perubahan pola asuh karena akses pangan 96
yang terganggu sehingga akan ber- 97
pengaruh pula pada asupan anak. Diantara 98
banyak faktor tersebut, faktor pendidikan 99
orang tua merupakan faktor yang menjadi 100
perhatian karena memiliki peran penting 101
dalam manifestasi status gizi anak yang 102
akan berkaitan dengan perilaku pemberian 103
makan anak dan kesehatan anak di masa 104
mendatang. Studi menegaskan bahwa pe- 105
rilaku makan buruk orang tua akan ber- 106
hubungan dengan perilaku makan buruk 107
anak [6]. Studi lain menyatakan bahwa 108
orang tua yang mempunyai tingkat pendi- 109
dikan rendah (tidak melek huruf) ber- 110
hubungan dengan masalah gizi kurang 111
pada anak [7]. Tingkat pendidikan orang 112
tua merupakan salah satu bagian inter- 113
vensi gizi sensitif yang memiliki kontri- 114
busi besar dibandingkan intervensi gizi 115
spesifik [8].
116
Beberapa penelitian menunjukkan 117
bahwa ada peran orang tua dalam mem- 118
bentuk status gizi ataupun kesehatan anak, 119
namun penelitian lainnya menunjukkan 120
hasil yang bertentangan baik aspek pen- 121
didikan ayah saja, ibu saja, atau keduanya 122
yang berperan dalam pembentukan status 123
gizi anak [9]. Faktor atau variabel pendi- 124
dikan orang tua menjadi perhatian me- 125
narik pada penelitian ini karena secara 126
tidak langsung memediasi kemudahan 127
dalam menerapkan pengetahuan kesehatan 128
yang didapatkan. Besarnya perhatian ter- 129
hadap intervensi sensitif dalam mengatasi 130
masalah gizi menjadi alasan untuk menilai 131
peran pendidikan orang tua terhadap status 132
gizi anak di lokasi pedesaan Kabupaten 133
Tangerang.
134 135
METODE PENELITIAN 136
Rancangan/Desain Penelitian 137
Penelitian potong lintang ini berasal 138
dari sub-sampel hasil survei awal pene- 139
litian payung yang belum dipublikasikan 140
dan berjudul “Pengaruh Edukasi GISEL 141
(GIzi dan keSEhatan sekoLah) dan 142
Pemberian Rapor Orang tua pada Perilaku 143
Makan dan Berat Badan Anak Sekolah 144
Dasar di Area Pedesaan Kabupaten 145
Tangerang”. Penelitian awal telah selesai 146
dilaksanakan di bulan Mei-Agustus 2018.
147
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6 148
Sumber Data 149
Data penelitian ini bersumber dari 150
data sekunder dari hasil turun lapang 151
penelitian Projek GISEL.
152 153
Sasaran Penelitian 154
Penelitian dasar dilakukan di 10 155
Sekolah Dasar Negeri (SDN) dari total 18 156
SDN di Sepatan Timur, Kabupaten Tange- 157
rang. Pemilihan 10 sekolah dilakukan 158
secara purposif. Hasil perhitungan dengan 159
aplikasi G*Power sample size calculator 160
for linear multiple regression random 161
model dengan sembilan prediktor, tingkat 162
kepercayaan 95%, presisi 5%, effect size 163
sebesar 0,20 menghasilkan minimum sam- 164
pel sebesar 122 siswa. Setelah ditambah 165
non-response rate 5% dan design effect 166
1,5, minimum sampel menjadi 190. Se- 167
banyak 212 sampel terpilih dari total 330 168
sampel proyek GISEL dengan memper- 169
timbangkan perwakilan tiap sekolah dan 170
kelengkapan data. Kriteria ekslusi ialah 171
memiliki kecacatan fisik dan mengidap 172
penyakit infeksi yang serius seperti 173
Tuberculosis (TBC). Informed consent 174
didapatkan dari orang tua sampel yang 175
berpartisipasi.
176 177
Pengembangan Instrumen dan Teknik 178
Pengumpulan Data 179
Kuesioner terstruktur yang berisi 180
pertanyaan berkaitan faktor sosial ekono- 181
mi (umur, pendidikan) orang tua, jumlah 182
anak, pengetahuan gizi dan kesehatan, 183
jenis kelamin, usia, dan riwayat penyakit 184
anak dimodifikasi dari penelitian sebelum- 185
nya [10,11]. Pengetahuan gizi dan kese- 186
hatan (PGK) dinyatakan baik jika respon- 187
den menjawab benar di lebih dan sama 188
dengan 80% soal sebaliknya dinyatakan 189
sebagai kurang baik. Kuesioner dikirim ke 190
orang tua melalui siswa. Semua siswa 191
diberi pesan untuk menyampaikan pada 192
orang tua dan meminta mereka untuk 193
mengisinya. Pengecekan tanda tangan dan 194
tulisan dilakukan oleh tim peneliti sebagai 195
indikator keaslian tanda tangan orang tua.
196
Variabel independen utama penelitian ini 197
ialah tingkat pendidikan yang dikategori- 198
kan menjadi rendah (<9 tahun pendidikan) 199
dan tinggi (>9 tahun pendidikan). Variabel 200
dependen utama ialah status gizi anak 201
dengan indeks z-score TB/U dan IMT/U.
202
Status gizi ini ditentukan dengan penim- 203
bangan aktual berat (timbangan digital, 204
Omron) dan tinggi badan (microtoise) 205
sampel oleh personil terlatih. Status gizi 206
siswa kemudian dihitung dengan software 207
WHO Antroplus untuk indeks TB/U dan 208
IMT/U. Selain itu, indeks dikategorikan 209
sebagai stunting (z-score TB/U <-2,0) dan 210
gemuk (z-score IMT/U >1,0) untuk data 211
karakeristik siswa (n, frekuensi).
212 213
Teknik Analisis Data 214
Semua data dianalisis dengan SPSS 215
version 21 for Windows. Analisis regresi 216
linear berganda digunakan untuk men- 217
jawab pertanyaan penelitian. Variabel- 218
variabel yang dimasukkan dalam model 219
regresi meliputi: usia ibu, bapak, pendi- 220
dikan ibu, pendidikan ayah, jumlah anak, 221
pengetahuan gizi dan kesehatan (PGK) 222
orang tua, PGK anak, jenis kelamin, dan 223
riwayat penyakit. Penelitian ini sudah 224
mendapatkan persetujuan kajian etik dari 225
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universi- 226
tas Esa Unggul dengan No. 0173-18.148/
227
DPKE-KEP/FINAL-EA/UEU/IV/2018.
228
Persetujuan penelitian juga didapatkan dari 229
autoritas lokal yaitu Dinas Kesehatan 230
Kabupaten Tangerang dan Puskesmas Ke- 231
daung Barat, Sepatan Timur, Tangerang.
232 233
HASIL PENELITIAN 234
Karakteristik Orang Tua 235
Karakteristik sosial-demografi dan 236
status gizi orang tua ditunjukkan di Tabel 237
1. Lebih dari separuh orang tua berusia 238
lebih dari 35 tahun. Sebagian besar orang 239
tua tidak menyelesaikan pendidikan sem- 240
bilan tahun dan ibu dengan pendidikan 241
rendah lebih besar proporsinya dibanding- 242
kan pendidikan ayah. Terkait pengetahuan 243
gizi, sekitar sebagian besar orang tua 244
memiliki pengetahuan yang baik. Tabel 2 245
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
menyajikan karakteristik dan status gizi 246
siswa. Umur anak ada pada median 9,9 247
tahun dan dengan rentang 9,7 sampai 10,2 248
tahun.
249 250
Tabel 1. Karakteristik Orang Tua1 (n=212) 251
Variabel n (%)
Usia ibu, tahun 35,0 (31,0-35,0)2
21-35 103 (48,6)
>35 109 (51,4)
Lama pendidikan ibu,tahun
<9 179 (84,4)
≥9 33 (15,6)
Usia ayah, tahun 39 (35,0-45,0)2
21-35 44 (20,8)
>35 168 (79,2)
Lama pendidikan ayah,tahun
<9 152 (71,1)
≥9 60 (28,3)
Jumlah anak
<3 162 (76,4)
>3 50 (23,6)
Skor Pengetahuan Gizi dan Kesehatan
Baik 159 (75,0)
Kurang 53 (25,0)
1Semua nilai dinyatakan sebagai n (%) kecuali diindikasikan lain, 2median (Q25th-Q75th) 252
253 254
Karakteristik Siswa 255
Sekitar 19,8; 9,4; dan 16,5 persen 256
anak secara berturut mengalami stunting, 257
kurus, dan kelebihan berat badan. Lebih 258
dari separuh siswa memiliki pengetahuan 259
gizi yang rendah. Hampir sepertiga dari 260
sampel mengalami lebih dari tiga kali sakit 261
infeksi (demam, batuk, pilek) dalam 262
sebulan terakhir berdasarkan informasi 263
dari orang tua. Data secara lengkap di- 264
sajikan dalam Tabel 2.
265 266
Uji Regresi Berganda 267
Hasil analisis linear regresi (Tabel 3) 268
menunjukkan bahwa tidak ada variabel 269
yang berhubungan bermakna dengan sta- 270
tus gizi anak kecuali variabel pendidikan 271
ibu dengan z-score IMT/U sampel. Sam- 272
pel dari ibu dengan pendidikan <9 tahun 273
cenderung memiliki skor IMT/U lebih 274
rendah sebesar 0.800 (95% CI = -1,451; - 275
0,149) poin dibandingkan dengan anak dari 276
ibu dengan pendidikan >9 tahun. Juga 277
terlihat anak dari ayah dan ibu berpen- 278
didikan rendah cenderung memiliki skor 279
TB/U lebih rendah walaupun tidak ber- 280
makna. Terlihat koefisien beta untuk pen- 281
didikan ibu lebih besar dibandingkan pen- 282
didikan ayah. Sementara tingkat pendi- 283
dikan ayah rendah berhubungan positif 284
dengan IMT/U walaupun tidak bermakna.
285
Hasil juga menunjukkan anak dengan PGK 286
kurang akan cenderung lebih pendek (lebih 287
rendah skor TB/U) dan lebih kurus (lebih 288
rendah skor IMT/U) namun hu-bungannya 289
tidak bermakna.
290 291
292 293 294 295
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
Tabel 2. Karakteristik, Status Gizi serta Skor Pengetahuan Gizi 296
dan Kesehatan Anak Sekolah1 (n=212) 297
Variabel n (%)
Usia, tahun 9,9 (9,7-10,2)2
Jenis Kelamin
Perempuan 115 (54,2)
Laki-laki 97 (45,8)
Berat badan, kg 26,5 (23,6-31,2)3
Tinggi badan, cm 130,7 (125,8-135,0)4
Z-score TB/U -1,17 (-1,83; -0,46)5
Stunting 42 (19,8)
Normal 170 (80,2)
z-skor IMT/U -0,57 (-1,26; 0,51)6
Kurus+Kurus sekali 20 (9,4)
Normal 157 (74,1)
Kelebihan berat badan 35 (16,5)
Skor Pengetahuan Gizi dan Kesehatan
Baik 65 (30,7)
Kurang 147 (69,3)
Frekuensi penyakit infeksi selama sebulan terakhir
≥3 kali 59 (27,8)
<3 kali 153 (72,2)
1Semua nilai dinyatakan sebagai n (%) kecuali diindikasikan lain, 2-6median (Q25th-Q75th) 298
299 300
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
Prediktor z-skor TB/U2 z-skor IMT/U3
Unadjusted β4 (95% CI) p-value Adjusted β5(95% CI)
p-value* Unadjusted β4 (95% CI) p-value Adjusted β6(95% CI) p-value* Faktor orang tua
Usia ibu 0,107 (-0,82; 0,395) 0,466 -0,140 (-0,528; 0,249) 0,479
Pendidikan ibu -0,523 (-0,915; -0,132) 0,009 -0,439 (-0,918;
0,040)
0,072 -0,630 (-1,160; -0,101) 0,020 -0,800 (-1,451; -0,149) 0,016
Usia ayah -0,145 (-0,500; 0,211) 0,423 -0,150 (-0,629; 0,329) 0,538
Pendidikan ayah -0,309 (-0,627; 0,008) 0,056 -0,102 (-0,485;
0,281)
0,598 -0,239 (-0,669; 0,191) 0,275 0,172 (-0,354; 0,698) 0,520 Jumlah anak 0,269 (-0,069; 0,607) 0,118 0,228 (-0,107;
0,564)
0,182 0,235 (-0,222; 0,692) 0,312
Skor PGK 0,019 (-0,314; 0,352) 0,911 -0,205 (-0,653; 0,243) 0,369
Faktor anak Jenis kelamin anak
-0,097 (-0,386; 0,192) 0,509 0,138 (-0,252; 0,527) 0,487
Skor PGK -0,192 (-0,504; 0,120) 0,227 -0,208, (-0,516;
0,101)
0,186 -0,293 (-0,713; 0,127) 0,171 -0,327 (-0,743; 0,088) 0,122 Riyawat sakit 0,015 (-0,307; 0,337) 0,927 0,279 (-0,153; 0,711) 0,204 0,341 (-0,095; 0,777) 0,124
1Metode enter; 2Tinggi badan menurut umur z-score; 3Indeks massa tubuh menurut umur z score; 4Regresi linear sederhana; 5Dikontrol pendidikan ibu, pendidikan ayah, 302
jumlah anak, pengetahuan gizi dan kesehatan (PGK) anak;6Dikontrol pendidikan ibu, pendidikan ayah, riwayat penyakit, PGK anak. *Bermakna jika p<0,05 303
304 305
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
PEMBAHASAN 306
Penelitian ini menemukan hubungan 307
yang bermakna antara status pendidikan 308
ibu dengan skor IMT/U siswa yaitu anak 309
dari ibu dengan pendidikan rendah (<9 310
tahun) cenderung lebih kurus dibanding- 311
kan anak dari ibu dengan pendidikan tinggi 312
(>9 tahun). Hasil yang sejalan dengan 313
penelitian ini juga dilaporkan oleh 314
penelitian lain bahwa pendidikan ibu 315
berkaitan dengan status gizi anak baik 316
balita maupun usia sekolah [12–14].
317
Bahkan ditegaskan bahwa literasi atau 318
pendidikan ibu sebagai faktor independen 319
yang berhubungan dengan status gizi anak 320
[14–17]. Walaupun begitu, beberapa pene- 321
litian menunjukkan hal yang lain yaitu 322
pendidikan ayah yang berkaitan dengan 323
status gizi anak (TB/U).
324
Diduga hal ini dipengaruhi oleh 325
setting penelitian. Misalnya di setting pe- 326
desaan, pendidikan ayah secara bermakna 327
berkaitan dengan z-skore TB/U anak 328
[11,18]. Sebaliknya, penelitian di area 329
kumuh perkotaan (urban slum) menunjuk- 330
kan bahwa pendidikan ibu lebih berkaitan 331
dengan status gizi anak [13,19]. Selain itu, 332
beberapa penelitian lain menjelaskan bah- 333
wa baik ayah maupun ibu berperan dalam 334
status gizi anak tetapi dalam beberapa hal 335
yang berbeda. Misalnya, penelitian Aslam 336
dan Kingdom (2012) dan Semba et al. 2008 337
[20,21] menunjukkan bahwa kepu-tusan 338
seorang anak diberikan imunisasi dan 339
diikutsertakan dalam layanan kese-hatan 340
cenderung tergantung pendidikan ayah, 341
sedangkan pendidikan ibu akan berkaitan 342
dengan pengukuran berat dan tinggi badan 343
anak [12,20,22].
344
Meskipun demikian, jika dibanding- 345
kan besarnya dampak antara pendidikan 346
ibu dan ayah terhadap status gizi anak, 347
lebih banyak penelitian yang menegaskan 348
bahwa dampak pendidikan ibu lebih besar 349
[23,24]. Hal ini dikarenakan ibu yang 350
berpendidikan tinggi akan cenderung me- 351
miliki pekerjaan lebih baik, kesempatan 352
memperoleh informasi kesehatan lebih 353
besar selama menempuh pendidikan dan 354
sebagai pengasuh anak yang utama, ibu 355
akan memprioritaskan sumber daya rumah 356
tangga untuk gizi dan kesehatan anak [9].
357
Penelitian lain juga menjelaskan bahwa ibu 358
lebih berpengaruh karena bertanggung 359
jawab dalam pembelian dan persiapan ma- 360
kanan di rumah sehingga dapat menyedia- 361
kan makanan yang lebih bergizi dan aman 362
[25,26].
363 364
SIMPULAN 365
Tingkat Pendidikan ibu yang tinggi 366
berhubungan signifikan dengan status gizi 367
anak sekolah. Perlunya peningkatan upaya 368
intervensi lintas sektor, program pening- 369
katan jenjang pendidikan perempuan akan 370
menjadi intervensi yang sensitif untuk 371
mengatasi masalah gizi anak sekolah di 372
wilayah pedesaan.
373 374
UCAPAN TERIMA KASIH 375
Ucapan terima kasih yang men- 376
dalam kami sampaikan atas partisipasi 377
aktif orang tua dan siswa serta bantuan 378
guru dalam penelitian ini. Terima kasih 379
yang banyak juga kami sampaikan atas 380
dukungan yang menerus dari Dinas Kese- 381
hatan Kabupaten Tangerang dan Puskes- 382
mas Kedaung Barat. Terima kasih yang 383
besar juga kami sampaikan kepada 384
KEMENRISTEKDIKTI (Ministry of Re- 385
search and Technology and Higher Edu- 386
cation) atas Pembiayaan berupa Hibah 387
Penelitian Dosen Pemula (PDP) dengan 388
No. 020/KM/PNT/2018. Peneliti menyata- 389
kan tidak memiliki conflict of interest 390
terhadap hasil penelitian.
391 392
DAFTAR RUJUKAN 393
1. Penelitian B, Kementerian Kesehatan 394
RI I. Riskesdas 2013. Jakarta: Badan 395
Penelitan dan Pengembangan Kese- 396
hatan Kementerian Kesehatan; 2013.
397
2. Penelitian B, Kementerian Kesehatan 398
RI I. Provinsi Banten-Riskesdas 2013.
399
Jakarta: Badan Penelitan dan Pe- 400
ngembangan Kesehatan Kementerian 401
Kesehatan; 2013.
402
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
3. Martins VJ, Florêncio TMT, Grillo 403
LP, Maria do Carmo PF, Martins PA, 404
Clemente APG, dkk. Long-Lasting 405
Effects of Undernutrition. Int J 406
Environ Res Public Health. 2011; 8 407
(6): 1817.
408
4. Sahoo K, Sahoo B, Choudhury AK, 409
Sofi NY, Kumar R, Bhadoria AS.
410
Childhood Obesity: Causes and Con- 411
sequences. J Fam Med Prim Care.
412
2015; 4 (2): 187.
413
5. Pridmore P, Carr-Hill R. Addressing 414
the Underlying and Basic Causes of 415
Child Undernutrition in Developing 416
Countries: What Works and Why?
417
2009. Diambil dari https://www.oecd.
418
org/derec/denmark/43962804.pdf. Di- 419
akses 02/05/2019.
420
6. Tovar A, Hennessy E, Pirie A, Must A, 421
Gute DM, Hyatt RR, dkk. Feeding 422
Styles and Child Weight Status 423
Among Recent Immigrant Mother- 424
Child Dyads. Int J Behav Nutr Phys 425
Act. 2012; 9 (1): 62.
426
7. Dallacker M, Hertwig R, Peters E, 427
Mata J. Lower Parental Numeracy Is 428
Associated with Children Being 429
Under-and Overweight. Soc Sci Med.
430
2016; 161: 126–33.
431
8. Ruel MT, Alderman H. Nutrition-sen- 432
sitive Interventions and Programmes:
433
How Can They Help to Accelerate 434
Progress in Improving Maternal and 435
Child Nutrition? Lancet Lond Engl.
436
2013; 382 (9891): 536–51.
437
9. Burchi F. Whose Education Affects A 438
Child’s Nutritional Status? From 439
Parents’ to Household’s Education.
440
Demogr Res. 2012; 27: 681–704.
441
10. Pratiwi RA, Angkasa D, Jus’at I.
442
Video Game Is One of A Promising 443
Media to Modify Knowledge and 444
Attitude on The Importance of Break- 445
fast Among Elementary School Chil- 446
dren. Malays J Nutr. 2017; 23 447
(Supplement).
448
11. Angkasa D, Sitoayu L, Jus’ at I. Length 449
of Paternal Education Is Associated 450
with Height-for-Age of School 451
Children in Rural Area of Se-patan 452
Timur-Tangerang. Gizi Indon. 2018;
453
41 (1): 27–38.
454
12. Bernardo C de O, Vasconcelos F de 455
AG de. Association of Parents’
456
Nutritional Status, and Sociodemo- 457
graphic and Dietary Factors with 458
Overweight/Obesity in Schoolchil- 459
dren 7 to 14 Years Old. Cad Saude 460
Publica. 2012; 28: 291–304.
461
13. Srivastava A, Mahmood SE, Srivas- 462
tava PM, Shrotriya VP, Kumar B.
463
Nutritional Status of School-age 464
Children-A Scenario of Urban Slums 465
in India. Arch Public Health. 2012; 70 466
(1): 8.
467
14. Talukder A. Factors Associated with 468
Malnutrition Among Under-Five 469
Children: Illustration Using Bangla- 470
desh Demographic and Health Sur- 471
vey, 2014 Data. Children. 2017; 4 472
(10): 88.
473
15. Abuya BA, Ciera J, Kimani-Murage E.
474
Effect of Mother’s Education on 475
Child’s Nutritional Status in the Slums 476
of Nairobi. BMC Pediatr. 2012; 12 (1):
477
80.
478
16. Ahmadi D, Amarnani E, Sen A, Ebadi 479
N, Cortbaoui P, Melgar-Quiñonez H.
480
Determinants of Child
481
Anthropometric Indicators in Ethio- 482
pia. BMC Public Health. 2018; 18 (1):
483
626.
484
17. Fernández-Alvira JM, te Velde SJ, De 485
Bourdeaudhuij I, Bere E, Manios Y, 486
Kovacs E, dkk. Parental Education 487
Associations with Children’s Body 488
Composition: Mediation Effects of 489
Energy Balance-Related Behaviors 490
within the ENERGY-project. Int J 491
Behav Nutr Phys Act. 2013; 10 (1): 80.
492
18. Rahayu LS. Associated of Height of 493
Parents with Changes of Stunting 494
Status from 6-12 Months to 3-4 Years.
495
Yogyakarta: Universitas Gadjah 496
Mada; 2011.
497
19. Bhavsar S, Hemant M, Kulkarni R.
498
Maternal and Environmental Factors 499
Affecting the Nutritional Status of 500
DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6
Children in Mumbai Urban Slum. Int J 501
Sci Res Publ. 2012; 2 (11): 1–9.
502
20. Aslam M, Kingdon GG. Parental 503
Education and Child Health—under- 504
standing the Pathways of Impact in 505
Pakistan. World Dev. 2012; 40 (10):
506
2014–32.
507
21. Semba RD, de Pee S, Sun K, Sari M, 508
Akhter N, Bloem MW. Effect of 509
Parental Formal Education on Risk of 510
Child Stunting in Indonesia and 511
Bangladesh: A Cross-Sectional Study.
512
The Lancet. 2008; 371 (9609): 322–8.
513
22. Akseer N, Bhatti Z, Mashal T, Soofi S, 514
Moineddin R, Black RE, dkk.
515
Geospatial inequalities and Deter- 516
minants of Nutritional Status Among 517
Women and Children in Afghanistan:
518
An Observational Study. Lancet Glob 519
Health. 2018; 6 (4): e447–59.
520
23. Alderman H, Headey DD. How 521
Important Is Parental Education for 522
Child Nutrition? World Dev. 2017; 94:
523
448–64.
524
24. Muthuri SK, Onywera VO, Tremblay 525
MS, Broyles ST, Chaput J-P, Fogel- 526
holm M, dkk. Relationships Between 527
Parental Education and Overweight 528
with Childhood Overweight and Phy- 529
sical Activity in 9–11 Year Old Chil- 530
dren: Results from A 12-Country 531
Study. PloS One. 2016; 11 (8):
532
e0147746.
533
25. Chong KH, Lee ST, Ng SA, Khouw I, 534
Poh BK. Fruit and Vegetable Intake 535
Patterns and Their Associations with 536
Sociodemographic Characteristics, 537
Anthropometric Status and Nutrient 538
Intake Profiles Among Malaysian 539
Children Aged 1–6 Years. Nutrients.
540
2017; 9 (8): 723.
541
26. Nicklas T, Hayes D. Position of the 542
American Dietetic Association: Nutri- 543
tion Guidance for Healthy Children 544
Ages 2 to 11 Years. J Am Diet Assoc.
545
2008; 108 (6): 1038–44.
546 547 548