Edukasi remaja putri tentang pentingnya pola makan seimbang sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan konsumsi makanan seimbang. Penelitian pada sekolah gizi Islam modern di Depok menunjukkan bahwa kecukupan energi remaja putri tergolong defisit dan protein tergolong cukup, sedangkan tingkat kecukupan vitamin tergolong cukup dan mineral tergolong defisit. Sementara itu, hasil penelitian di Sekolah Gizi Islami Malang menunjukkan bahwa pengetahuan remaja putri tentang gizi dan makanan sehat masih tergolong kurang sehingga berdampak pada konsumsi energi dan zat gizi khususnya Protein, Kh, Vitamin. C, Asam folat yang masih tergolong defisiensi.
Pada kelompok ini, prevalensi anemia ditemukan sebesar 23%, lebih tinggi dibandingkan pada kelompok remaja putri SMA yaitu 11%. Pentingnya status gizi yang baik pada masa remaja merupakan hal yang perlu disadari sebagai remaja, khususnya remaja putri, sebagai ibu hamil. Remaja perempuan yang mengalami gizi buruk juga akan mengalami gizi buruk ketika hamil dan melahirkan bayi dengan status gizi kurang optimal, serta berisiko tinggi terhadap penurunan potensi kecerdasan pada usia sekolah dan produktivitas pada usia dewasa.
Pada penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian dengan menggunakan program linier telah dilakukan pada anak usia di bawah dua tahun (baduta), pada kelompok umur yang berbeda, sosio-ekonomi dan perkotaan atau pedesaan, serta pada remaja putri di sekolah menengah negeri atau swasta dengan menggunakan program linier. materi pendidikan menggunakan modul. Penelitian menggunakan linear programming dengan topik remaja putri di pesantren dengan menggunakan media kartun sejalan dengan komitmen SEAMEO RECFON dalam mendukung program “Nutriton Goes to School”. Kegiatan edukasi gizi dengan menggunakan media kartun dilakukan berdasarkan permasalahan gizi yang terdapat pada remaja putri Pondok Pesantren Nurul Ulum yang mengalami anemia setelah dilakukan baseline survey.
LATAR BELAKANG
Penelitian Arditya, 2015 menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan skor pengetahuan gizi tentang anemia relatif lebih besar pada kelompok yang mendapat pendidikan gizi melalui media komik, dibandingkan dengan kelompok yang mendapat pendidikan gizi tanpa media. Materi edukasi yang disusun dalam strip gizi harus disesuaikan dengan permasalahan gizi dan bahan pangan lokal. Penggunaan linear programming khususnya menggunakan software Optifod dapat digunakan sebagai alat penelitian untuk menentukan strategi berdasarkan konsumsi pangan lokal (Berger et al, 2014; Ferguson et al, 2006; FHI, yang nantinya dapat dimasukkan dalam Materi Edukasi Gizi .
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian dengan judul 'Efektivitas Program Pendidikan Komik 'Anemia Pangan Seimbang Hilang'. Berdasarkan permasalahan gizi utama menurut program linier untuk perbaikan pola makan, asupan gizi dan kadar hemoglobin remaja putri anemia di Pondok Pesantren Kota Malang Puteri.
DASAR HUKUM
TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN
TAHAPAN PENELITIAN
Materi penyuluhan yang dimuat dalam komik berdasarkan masalah gizi yang diperoleh dari hasil dasar, disusun dan dirancang sesuai selera remaja putri tingkat Tyanawiyah dan Aliyah. Intervensi berlangsung selama 4 bulan dengan penjelasan remaja putri anemia tentang makanan sehat menggunakan media komik, menggunakan metode diskusi dan tanya jawab didampingi oleh tim peneliti. Konsultasi Komedi 3: Demonstrasi 1; Remaja putri mengevaluasi 4 jenis menu yang disiapkan oleh tim peneliti dan menentukan menu seimbang untuk mencegah anemia.
Sesi Konseling Komik 4: Demonstrasi 2, remaja putri mengevaluasi berbagai jajanan yang disiapkan oleh tim peneliti dan menentukan jajanan sehat untuk mencegah anemia. Kegiatan ini dapat terlaksana dengan lancar, data pengetahuan, sikap dan keterampilan remaja putri dikumpulkan oleh enumerator yang merupakan alumni Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang. Data pengetahuan dan sikap remaja putri sebelum intervensi dilakukan dengan menggunakan kuesioner, sedangkan data konsumsi makanan remaja putri dikumpulkan dengan metode food recall 24 jam dan pencatatan makanan 6 hari.
Selanjutnya efektivitas pendidikan gizi terhadap perubahan Hb, pengetahuan dan sikap responden dianalisis dengan bantuan software SPSS 20 yaitu dengan bantuan uji Wilcoxon. Sedangkan efektivitas pendidikan gizi terhadap perubahan asupan makanan dianalisis menggunakan software STATA12 yaitu energi dianalisis menggunakan uji T berpasangan, sedangkan asupan zat gizi lainnya menggunakan uji Wilcoxon dengan mempertimbangkan sebaran data (Dahlan, 2010).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan uji statistik diketahui dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan remaja putri. Berdasarkan Tabel 7, sebaran skor sikap remaja putri sebelum mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren “NURUL ULUM”. Tingkat konsumsi energi dan gizi dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesadaran remaja putri dalam memilih makanan yang dikonsumsinya sehari-hari.
Tingkat konsumsi zat gizi akan mempengaruhi status gizi remaja putri (kadar hemoglobin) yang akan meningkat pesat bila konsumsi makanan sumber protein (terutama heme) dan zat besi meningkat. Gambaran tingkat asupan zat gizi makro dan mikro pada remaja putri sebelum dan sesudah pendidikan ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3. Terdapat peningkatan remaja putri yang memiliki tingkat asupan sesuai RDA setelah pendidikan zat besi dan vitamin C.
Perbedaan asupan energi dan gizi remaja putri di Pondok Pesantren Nurul Ulum disajikan pada Tabel 9 berikut. Berdasarkan Gambar 2, konsumsi energi remaja putri sebelum mengenyam pendidikan sebagian besar masuk dalam kategori asupan energi sangat rendah, yaitu sama dengan remaja putri). Rata-rata asupan kalsium remaja putri selama penelitian meningkat dari 245,6 mg/hari menjadi 284,6 mg/hari sebelum pelatihan.
Hasil penelitian tingkat konsumsi kalsium remaja putri setelah mengenyam pendidikan masih berada pada kategori sangat buruk yaitu sebesar 98,8% yang menunjukkan rendahnya asupan sumber kalsium pada remaja putri di Pondok Pesantren Nurul Ulum. Rendahnya tingkat konsumsi zat besi pada remaja putri disebabkan oleh rendahnya asupan makanan sumber zat besi. Jika hal ini terus terjadi maka angka kejadian anemia pada remaja putri di Pondok Pesantren Nurul Ulum akan terus meningkat.
Rata-rata asupan vitamin A remaja putri mengalami peningkatan dari sebelum pendidikan yaitu 13.387,8 µg/hari menjadi setelah pendidikan yaitu 15.573 µg/hari. Rata-rata asupan vitamin C remaja putri meningkat dari sebelum pendidikan sebesar 16,4 mg/hari menjadi setelah pendidikan sebesar 68,2 mg/hari. Remaja putri juga lebih banyak mengonsumsi teh dan susu dibandingkan jenis minuman lainnya.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri mengonsumsi makanan dalam kategori jumlah cukup (78,4%). Status gizi (kadar hemoglobin) diketahui dipengaruhi oleh genetika, infeksi, dan pola konsumsi remaja putri.
KESIMPULAN DAN SARAN
Menu yang disajikan di wisma kurang bervariasi dan tidak memberikan gizi seimbang, sehingga edukasi yang diberikan belum dapat terlaksana secara maksimal oleh remaja putri. Tidak adanya standar porsi dan siklus menu dalam penyusunan menu yang dibuat, sehingga menu yang disusun tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi remaja putri sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia. Edukasi gizi dengan media komik gizi, makanan seimbang, anemia hilang, dapat dimanfaatkan oleh guru atau pengelola pondok pesantren tertentu untuk meningkatkan asupan energi dan gizi serta kadar hemoglobin pada remaja putri anemia.
DAFTAR PUSTAKA
Hubungan asupan gizi dan pola menstruasi dengan prevalensi anemia pada remaja putri di SMAN 2 Semarang. Anemia dan kekurangan zat besi pada siswi sekolah di daerah perkotaan Kavar, Iran selatan. Hubungan status gizi dengan prevalensi anemia pada santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang.
SUSUNAN KEPANITIAAN
JADWAL KEGIATAN
Pola Makan, Asupan Gizi yang Menjadi Masalah Utama dan Kadar Hemoglobin Remaja Putri Anemia di Pondok Pesantren Kota Malang. Penyiapan bahan penelitian dan petugas food recall serta pencatatan dan skrining kadar Hb remaja putri. Penentuan data remaja terkena anemia 88 remaja putri diduga anemia Penentuan data remaja terkena anemia.
Kategori: baik: 2 remaja perempuan, Mencukupi: 6 remaja perempuan, miskin: 80 remaja perempuan - Mengumpul data sikap remaja perempuan. Kategori: Baik: 16 remaja perempuan, Adil: 28 remaja perempuan, Lemah: 44 remaja perempuan - Data tahap Hb terkumpul menggunakan darah Vena: untuk 87 remaja perempuan yang. Intervensi 1 - Kaunseling Komik Sesi 1: Remaja perempuan menerima penerangan tentang bahan komik, perbincangan, soal jawab tentang Anemia.
Intervensi ke-2 - Konseling Komik Sesi 2: Remaja putri mendapat penjelasan tentang materi Komik, diskusi, tanya jawab terkait pencegahan anemia. Remaja putri ditugaskan untuk mempelajari kembali topik sesi 2 dan membaca materi makanan sehat untuk sesi 3. 6 Juli Intervensi 3 - Konseling Telanjang Sesi 3: Remaja putri menilai 4 jenis pengaturan menu dan menentukan menu seimbang untuk mencegah anemia, penjelasan tentang materi menu seimbang, diskusi, tanya jawab terkait menu.
Remaja putri ditugaskan untuk mengkaji kembali topik dari Sesi 3 dan membaca tentang materi jajanan sehat untuk Sesi 3. 13 Intervensi 4 Juli - Konseling Komik Sesi 4: Remaja putri mengulas berbagai jajanan dan menentukan jajanan sehat untuk mencegah anemia, penjelasan tentang jajanan sehat materi jajanan, diskusi, tanya jawab seputar jajanan sehat untuk mencegah anemia. Remaja putri diberi tugas untuk mereview topik sesi 4 dan mengajukan pertanyaan jika ada yang kurang jelas tentang seluruh topik dalam komik - MONEV dari dosen pembimbing (1).
Penyiapan bahan penelitian dan tenaga untuk mengumpulkan data pengetahuan, sikap, konsumsi makanan dan nilai Hb remaja putri pasca intervensi. 7 September MONEV dari PUMK (1) - Mendapatkan desain laporan penelitian dan SPJ yang benar - Mendapatkan desain laporan penelitian yang benar.
LAMPIRAN KEGIATAN
RINGKASAN BIAYA PENELITIAN
ABSENSI