Rico Usthavia Frans Direktur Teknologi Informasi Bank Mandiri Buku ini hadir di saat yang tepat karena menyajikan gambaran yang jelas dan komprehensif mengenai perbankan digital. Batara memandu pembaca untuk melihat terlebih dahulu perkembangan luas ekonomi digital dan praktik fundamental dalam industri keuangan seperti sistem pembayaran, sebelum mendalami lebih spesifik dunia perbankan digital dan prospeknya. Sebagai bank yang mengutamakan kenyamanan nasabah, Citi Indonesia tidak memandang perkembangan perbankan digital sebagai suatu hal yang merepotkan atau disrupsi.
Di sinilah Digital Banking: Menuju Bank 4.0 yang dipimpin oleh Batara Maju Simatupang berperan penting. Menurut kami, buku ini hadir di saat yang tepat untuk menyajikan gambaran menyeluruh tentang berbagai aspek perbankan digital secara jelas dan menyeluruh. Batara memandu kita para pembaca untuk melihat terlebih dahulu perkembangan ekonomi digital secara luas dan praktik fundamental industri keuangan seperti sistem pembayaran, kemudian mendalami lebih spesifik dunia perbankan digital dan prospeknya.
Budaya transaksi di perbankan dan keuangan bertransformasi dari perbankan konvensional menjadi perbankan digital dan fintech (financial technology). Perkembangan bisnis digital banking dan fintech saat ini sudah bergerak menuju Revolusi 4.0 dan ini merupakan era yang tidak bisa dihindari. Buku ini ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan informasi perbankan digital yang komprehensif, khususnya para profesional perbankan, pejabat eksekutif, pejabat yudikatif, legislatif dan pengambil kebijakan di bidang perbankan.
Buku ini juga dapat menjadi referensi terpenting bagi mahasiswa program sarjana, sarjana, kedua, dan ketiga yang berkaitan dengan perbankan, khususnya perbankan digital.
Ekonomi Digital dan Transformasi Perbankan Digital
Pemanfaatan teknologi telah membantu meningkatkan pemecahan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan data yang tersedia. Pelaku industri perbankan perlu mempelajari pemanfaatan literasi teknologi dan literasi data sebelum mengambil keputusan. Dengan adanya perubahan cara berkomunikasi nasabah, maka lembaga perbankan perlu mengubah bentuk layanan yang diberikan kepada nasabah agar lebih memuaskan.
Oleh karena itu, lembaga perbankan yang ingin mempertahankan eksistensinya harus bertransformasi dengan menerapkan digital banking. A = Kapanpun, dimanapun, perbankan yang melayani nasabah 24 jam sehari, 7 hari seminggu dimanapun nasabah berada. Uraian dalam buku tersebut juga menjelaskan peran bank sentral dalam sistem pembayaran digital, termasuk sistem QR Code Indonesia Standard (QRIS) dari Bank Indonesia.
Pengertian sistem pembayaran adalah suatu sistem yang mencakup seperangkat aturan dan mekanisme kelembagaan yang digunakan untuk melakukan transfer dana guna memenuhi kewajiban yang timbul dari kegiatan ekonomi. Seperti diketahui, sistem pembayaran bernama mata uang kripto telah diperkenalkan di dunia ini. Bank sentral dunia yakni Dana Moneter Internasional (IMF) masih mempelajari efektivitas penggunaan cryptocurrency.
IMF menilai penggunaan mata uang kripto merupakan tantangan yang dihadapi bank sentral negara tersebut karena mata uang kripto terlalu berfluktuasi, berisiko, dan memerlukan pengawasan intensif. Bank sentral sebagai regulator sistem pembayaran harus berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari risiko penggunaan mata uang kripto. Seperti diketahui Fintech memberikan pinjaman langsung dari pemilik dana kepada pengguna dana yaitu kepada pengguna dana (debitur) yang tidak memiliki bank (tidak bisa menjadi nasabah bank).
Untuk negara berkembang seperti Indonesia, hanya 36% penduduk berusia 15 tahun ke atas yang menjadi nasabah bank, sedangkan 64% merupakan unbanked (tidak memiliki rekening bank). Bagi unbanked, fintech penting karena bisa dimanfaatkan oleh masyarakat unbanked untuk mengakses sistem keuangan. Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggalakkan strategi inklusi keuangan nasional agar lebih banyak masyarakat dapat terlayani oleh industri keuangan.
Siapa Yang Mendapat Manfaat Perbankan Digital?
Pemaparannya baik dan ringkas, khususnya bagi orang-orang yang berkecimpung di lingkungan perbankan dan pakar perbankan yang mengetahui dengan baik fungsi dan cara kerja bank. Bagi masyarakat luas yang membutuhkan banyak layanan perbankan, buku ini juga dapat menjadi referensi berharga. Pada saat yang sama, para pakar perbankan dan fintech dapat menggunakan buku ini sebagai referensi awal untuk penelitian dan pengembangan perbankan digital lebih lanjut.
Yang perlu diperhatikan lebih dalam adalah apakah manfaat tersebut juga dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Memastikan manfaat perbankan digital dapat dinikmati oleh masyarakat luas memerlukan peningkatan tidak hanya akses terhadap sistem perbankan, namun juga tingkat penggunaan masyarakat luas. Untuk mencapai hal tersebut, perlu dipertimbangkan secara serius kemudahan aksesibilitas dan kualitas keakraban pengguna (user-friendly) sistem perbankan digital, termasuk perangkat kerasnya (gadget).
Kita tidak boleh lupa bahwa peningkatan penggunaan sistem perbankan digital di Indonesia masih terjadi terutama di kalangan masyarakat berpendidikan tinggi, sementara masyarakat berpendidikan rendah masih sangat bergantung pada sistem perbankan tradisional untuk aktivitas transaksi dan perdagangan. Kesenjangan pendidikan ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kesenjangan sosial-ekonomi dan politik-budaya yang destruktif jika terus menerus terjadi, karena kini masyarakat yang berpendidikan mempunyai peluang lebih besar untuk menciptakan nilai dengan memanfaatkan layanan perbankan digital dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah. . Komunitas perbankan dapat berkontribusi dengan mengembangkan sistem perbankan digital yang mudah diakses oleh pengguna dan memberikan layanan kepada nasabah dengan ramah penuh sentuhan kemanusiaan dan kepedulian yang tulus.
Peningkatan pemanfaatan sistem perbankan digital dalam upaya penciptaan nilai nasabah di tingkat akar rumput diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif masyarakat akar rumput dalam kegiatan produktif dan menjadi pengungkit pembangunan perekonomian nasional yang lebih berkeadilan di masa depan. Masyarakat lebih tertarik dengan kemewahan fintech dan seringkali melupakan kebutuhan dan harapan nasabah masyarakat akar rumput terhadap layanan perbankan. Saya sangat berharap dalam waktu dekat, ide-ide di bidang ini akan muncul dari kajian perbankan digital.
Batara Simatupang bisa menjadi pionir dalam bidang ini karena saya mengenalnya sebagai sosok yang mempunyai kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan selamat kepada Batara Simatupang yang telah memberikan pengenalan hebat tentang perbankan digital. Harapannya, dalam waktu dekat dapat muncul ide-ide baru mengenai praktik perbankan digital yang berkeadilan dan dapat menjangkau serta melibatkan masyarakat akar rumput, sehingga dapat berkontribusi lebih aktif dalam upaya peningkatan produktivitas nasional.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
Best Practices for Secure Mobile Development,” http://www.nowsecure.com/ebooks/secure-mobile-development-best-practices/. The Future and Challenges of the Indonesian Banking Industry in the Digital Age”. Soltan, Saleh; Mittal, Prateek; and poor, H. IoT Botnet of high wattage devices”. htt-ps://www.usenix.org/system/files/conference/usenixsecurity18/sec18-soltan.pdf).
The Outlook for Banking and Capital Markets: Strengthening the Core for the Next Wave of Disruption. What is blockchain?” https://www.grantthornton.com.mt/globalassets/1.-member-firms/malta/pdfs/what-is-block-chain-grant-thornton-malta.pdf.
INDEKS
Tentang Penulis
Pada tahun 1999, Batara bergabung dengan Bank Mandiri di Government Relations Group sebagai Relationship Manager dan pindah ke Board Office pada tahun 2001 sebagai Communications Manager. Selanjutnya Batara mendapat penghargaan PhD dari Maastricht School of Management (MsM) di Maastricht, Belanda pada tahun 2004 di bidang keuangan dan perbankan setelah lolos seleksi ketat sebagai salah satu talent pool di Bank Mandiri. Selanjutnya Batara berhasil memperoleh gelar Doctor of Business Administration (DBA) pada tanggal 27 September 2007 dengan masa studi tiga tahun tiga bulan.
Pada tahun 2015, Batara mengundurkan diri dari Bank Mandira dan bergabung dengan STIE Indonesia Banking School (IBS) sebagai dosen tetap pascasarjana dan juga sebagai guru besar eksternal di LPPI (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia). Di IBS, Batara mengajar mata kuliah terkait perbankan seperti Manajemen Risiko Perbankan, Perbankan Digital, Strategi Korporat, Manajemen Perubahan, Manajemen Kinerja, Keuangan Internasional, Perbankan Internasional, dan Manajemen Risiko IKNB. Batara juga menjadi penulis untuk berbagai media di Indonesia seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, Investor Daily dan CNN Indonesia.
Sepanjang karirnya sebagai dosen, Batara sering ditanya oleh awak media sebagai narasumber pakar/ekonom perbankan dari Indonesia Banking School (IBS). Selain itu, karena keahliannya di bidang manajemen risiko, baik manajemen risiko di industri perbankan maupun di IKNB (khususnya industri asuransi), Batara sering diminta menjadi saksi ahli oleh Kejaksaan Negeri dan Jampidsus ( Jaksa Agung Muda Pidana Khusus) Jaksa Agung Republik Indonesia. Kini, Batara banyak fokus pada perbankan, perbankan digital, fintech, inovasi keuangan digital, dan aset kripto.
Pembuatan buku ini juga didukung oleh Indonesia Banking School (IBS), Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Gramedia Pustaka Utama.