• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Mut'Ah Dalam Pandangan Sunni Syi'Ah - Iiq

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Mut'Ah Dalam Pandangan Sunni Syi'Ah - Iiq"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

MUT'AH DALAM PENDAPAT SHI'AH SUNNI. Studi banding Tafsir Rûhul Ma'âni, al-Mizân dan Fathul Qâdîr). Ahmad Fathoni, Lc., MA, Ibu Muthmainnah, MA., Ibu Ade Halimah S.Ag, Ibu Istiqomah, MA., dan seluruh pengajar tahfizh yang selalu bersabar dalam mengukuhkan bacaan ayat demi ayat saat lidah mulai berucap untuk berjuang harus melafalkan ayat-ayat tersebut. Bapak dan Ibu guru Institut Ilmu Pengetahuan Al-Quran (IIQ) Jakarta yang telah mendedikasikan ilmunya kepada seluruh siswanya dan menyaksikan keberhasilan siswa dalam memperoleh gelarnya.

Ibu Suci dan Ibu Qoqoy selaku pegawai Fakultas Ushuluddin dan Dakwah yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk bertanya dan membantu dalam setiap proses yang dilalui oleh Fakultas dan Dakwah. Buku-buku Muaallif dan buku-buku yang telah menyumbangkan karyanya sebagai bahan referensi, perbandingan dan kesempurnaan karya skripsi ini. 10. Sahabat seperjuangan Ushuluddin A dan B yang telah turut mengisi kenangan hidup bersama selama 4 tahun, dalam kebahagiaan menjadi penghafal Al-Quran.

12. Editor Pribadi Ozi Maulana Insan, S.I.Kom., yang telah membantu saya dalam menyusun skripsi ini sehingga dapat diselesaikan tepat waktu. 14. Kepada semua pihak yang terlibat dalam terwujudnya proses penyelesaian skripsi ini, semoga Allah SWT membalas jasa dan usaha yang telah diberikan. Mohon maaf apabila dalam penyusunan skripsi ini ada yang kurang dipahami atau kurang berkenan.

Transliterasi Arab-Latin mengikuti pedoman yang diterapkan dalam pedoman praktik penulisan skripsi di Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta (IIQ).

Vokal

Kata Sandang

ﺎﱠﻨَﻣَﺃ

Identifikasi Masalah

Batasan Masalah

Dalam skripsi ini penulis akan menggunakan tiga tafsir, yaitu: Fath al-Qâdhîr, Rûhul Ma'âni dan al-Mizân. Karena Tafsir Fath al-Qâdhîr dan al-Mizân merupakan Tafsir Syi'ah di zaman modern dan dianggap moderat, maka Tafsir Rûhul Ma'âni dikenal dengan gaya sufistiknya yang menginformasikan kepada penulis tentang pernikahan mut'ah secara sufi. pandangan dari kalangan Ahlusunnah.

Rumusan Masalah

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan pendapat para ulama mengenai masalah pernikahan mut’ah. Dari segi akademis dapat melengkapi dan memperkaya pustaka hasil penelitian hukum mut’ah.

Tinjauan Pustaka

Fita Amidanal Hikmah (2006), IIQ Jakarta dengan tesisnya yang berjudul “Perkawinan Mut’ah Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits serta Pandangan Ulama Saat Ini”. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa nikah mut’ah adalah akad nikah antara dua orang (laki-laki dan perempuan) dengan batasan waktu dan imbalan materi yang telah ditentukan. Nikah mut’ah juga dapat memberikan dampak negatif dan positif bagi pelakunya, dampak negatif dari pernikahan ini adalah kehidupan “seks bebas”.

Mut'ah ibarat pelacur yang menyamar karena memfasilitasi seks bebas yang mengakibatkan banyak orang tertular AIDS. Bahwa dari skripsi ini penulis dapat mempelajari ayat-ayat yang menjelaskan tentang pernikahan mut'ah dan pendapat para ulama mengenai pernikahan mut'ah. 15 Fita Amidanal Hikmah, “Perkawinan Mut’ah Dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits serta Pandangan Ulama Saat Ini”, Skripsi, (Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur’an, 2006,), hal.

Tesis ini menjelaskan pernikahan mut'ah dari sudut pandang al-Syaukani dan Tabathaba'i yang keduanya termasuk dalam kelompok Syiah. Informasi yang diperoleh dalil penolakan nikah mut'ah terfokus pada dua kelompok masyarakat yaitu Sunni dan Syiah. Namun dalam hal ini yang menjadi permasalahan adalah tidak hanya Sunni dan Syiah saja yang berpendapat boleh atau tidaknya pernikahan mut'ah.

Pembahasan ini menunjukkan bahwa kalangan Syiah sendiri mempunyai pendapat berbeda mengenai boleh tidaknya pernikahan mut'ah. 16 Pipin Tohidin, “Perkawinan Mut’ah Dalam Pandangan al-Syaukani dan Thabathab’i”, Skripsi, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2010,), hal. Dalam penelitiannya, penulis memperoleh hasil bahwa kaum Syi’ah meyakini bahwa nikah mut'ah masih diperbolehkan, berdasarkan ayat dalam Al-Quran surat An-Nisa [4]:​​24.

Tesis ini menjelaskan perdebatan antara Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Ja'fariyah mengenai pernikahan mut'ah, oleh karena itu penulis akan meneliti tema yang sama yaitu pernikahan mut'ah. 17 Syifaun Nada, “Perkawinan Mut’ah dalam Fiqih Syi’ah (Studi Banding Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Ja’fariyyah),” Skripsi, (Purwokerto: IAIN, 2016,), hal. Persamaannya: keduanya membahas tentang nikah mut'ah dan keduanya membandingkan dua mazhab yang menghalalkan nikah mut'ah dan yang mengharamkan nikah mut'ah.

Metodologi Penelitian

  • Kesimpulan
  • Saran-saran

15 sumber utama selain Al-Qur'an dan Hadits adalah kitab tafsir Fathul Qâdir, Ruhul Ma'âni dan al-Mizân. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu diambil dari sumber data kemudian dikutip secara langsung maupun tidak langsung. Secara teknis penelitian ini mengacu pada buku (Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Tesis, Tesis dan Disertasi) di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ), Jakarta, 2016.

Bab Kedua : Penulis akan memaparkan permasalahan perkawinan secara umum, baik pengertiannya maupun hukum-hukum yang berlaku dalam Islam, perbedaan perkawinan pada umumnya dengan perkawinan mut'ah, hukum perkawinan mut'ah, syarat-syarat dan rukunnya. nikah mut'ah, dan dalil nikah mut'ah 'ah serta perbedaan pendapat tentang pembatalan hukumnya. merupakan satu-satunya ayat yang menjadi dalil fikih mazhab Syi’ah mengenai kehalalan nikah mut’ah. Dari ketiga mufassir yang penulis sebutkan, ada satu mufassir yang mempunyai pendapat berbeda mengenai hukum nikah mut'ah.

Menurutnya, Surat An-Nisa: 24 adalah dalil bahawa nikah mut'ah adalah boleh dan tidak ada dalil yang membuktikannya sehingga kini. Begitu juga pengikutnya yang termasuk dalam kalangan Syiah Istna 'Ashari yang masih mengamalkan nikah mut'ah sehingga kini. Syaukani dan al-Alusi, kedua-dua ahli tafsir ini tidak berpendapat bahawa ayat ini adalah ayat yang menghalalkan nikah mut'ah, tetapi ayat yang menjelaskan tentang wanita yang boleh dinikahi dan kewajipan mereka dalam membayar mahar.

Jika benar ayat tersebut memperkatakan tentang nikah mut'ah, mereka beranggapan bahawa ayat tersebut telah dimansuhkan oleh ayat pusaka, iddah dan talak. Mengenai ayat nikah mut'ah, para mufassir masih berbeza pendapat tentang status hukumnya bergantung kepada latar belakang pendidikan dan mazhab. Jadi, penulis hanya berpesan kepada para pembaca sekiranya ingin mengkaji ayat tentang nikah mut'ah ini supaya mengetahui terlebih dahulu latar belakang mufassir tersebut.

Husain Thabathaba'i, Muhammad, al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an, Jilid 4, Beirut: Muassasah Al-islam, Cet. Ja'far Muhammad, Abu bi al-Hasan ath-Thusi, at-Tibyaan fi Tafsir Al-Qur'an, Beirut: Daar Ihya at-Turas al-'Arabi, Cet. Mustafa, Ibnu, Nikah Mut'ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Semasa, Jakarta: Lentera Basritama, Cet.

Nur, Qodirun dan Ahmad Musyafiq, Tafsir Al-Qur'an, Sejarah Tafsir dan Metode Mufassir, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007. Quraisy Shihab, M., Wanita, Dari Cinta Hingga Seks Dari Pernikahan Mut'ah Hingga Sunnah - perkawinan Prasangka Lama dengan Prasangka Baru.

Referensi

Dokumen terkait