• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF PENDAHULUAN - Unismuh

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PDF PENDAHULUAN - Unismuh"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

Salah satu tradisi yang masih ada di Sulawesi Selatan adalah rumah adat Karampuang yang terletak di Karampuang, Kabupaten Sinjai. Karena rumah adat Karampuang hanya ada dua, maka seluruh fokus pengamatan (populasi) juga merupakan kasus pengamatan (sampel). Penelitian ini dilakukan oleh Rahmiani Rahim (2013), Aturan Antropometri Rumah Adat Karampuang Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan.

Kerangka Pikir

Manusia melalui instrumentalisasi budaya, dalam perkembangan dan pemenuhan kebutuhannya, harus mengorganisasikan peralatan, artefak dan kegiatan produktif, sehingga melalui arah pengetahuan, dengan kata lain melalui proses belajar, manusia dapat meningkatkan keberadaannya. milik mereka. Dan di samping itu, perbuatan manusia harus dibimbing oleh iman, karena ketika manusia mengembangkan sistem pengetahuan, mereka akan dipaksa dan dituntut untuk menyelidiki asal usul manusia, takdir, kehidupan, kematian, dan alam semesta. Dengan demikian, sebagai akibat langsung dari kebutuhan manusia untuk membangun sistem dan mengorganisasikan pengetahuan, muncul pula kebutuhan akan agama.

Aturan dan ritual magis dan religius tertentu dapat menciptakan kerja sama yang diperlukan serta memenuhi kepuasan pribadi. Bagi Manurung pada Masyarakat Karampuang, terbentuknya masyarakat Karampuang dikarenakan adanya sosok To Manurung pada masyarakat Karampuang yang meliputi aspek adat Karampuang dalam bidang kebudayaan dan aspek adat Karampuang dalam bidang agama. /kepercayaan dan bagaimana To Manurung ada.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir.
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir.

Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menangkap dan memahami sesuatu dibalik fenomena yang masih belum diketahui. Metode yang digunakan dalam penelitian ini selain perolehan data secara terarah adalah penjelasan berupa uraian dan analisis mendalam. Dalam penelitian ini, dengan menggunakan metode diharapkan pembaca membaca artikel ini seperti di dalamnya dan dapat mengikuti ceritanya.

Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian kualitatif yang berusaha menggambarkan dan menjelaskan suatu pola hubungan antara gejala atau peristiwa yang diteliti. Oleh karena itu, untuk menjelaskan pola-pola tersebut, metode penelitian kualitatif menurut Tylor dan Boghdan (dalam Joyomartono,) memiliki ciri-ciri antara lain induktif, holistik, naturalistik, memahami masyarakat yang akan dikaji dari sudut pandang emic, mengesampingkan pandangan subyektif dari peneliti, mencoba untuk memahami dan menjelaskan perspektif orang-orang yang diteliti, humanistik, dengan penekanan pada validitas dalam penelitian, semua latar belakang dan orang-orang yang berharga untuk dipelajari dan merupakan seni.

Lokus Penelitian

Fokus Penelitian

Jenis dan Sumber Data 1. Data Primer

Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh hasil penelitian yang akurat dan valid serta untuk memudahkan penelitian, perlu digunakan alat bantu berupa pedoman wawancara (kuesioner), pedoman observasi, pensil/pena dan catatan penelitian yang berfungsi sebagai alat pengumpul data dan peralatan fotografi. Menurut Abdurrachman (Fathoni), observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi disertai catatan tentang kondisi atau perilaku ojek yang dituju.Peneliti menggunakan alat pengumpulan data berupa pedoman wawancara yaitu instrumen berupa pertanyaan yang ditujukan kepada masyarakat Karampuang.

Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data seperti foto keluarga petani, aktivitas anak dan keluarga, dll. Dalam alat dan teknik pengumpulan data peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.

Teknik Analisis Data

Teknik Keabsahan Data

Keberadaan dan identitas kerajaan-kerajaan di Kabupaten Sinjai pada masa lalu semakin jelas dengan berdirinya Benteng pada tahun 1557. Berdasarkan penelusuran sejarah, Kabupaten Sinjai berawal dari pemukiman pertama di Wawo Bulu Manipi, Kecamatan Sinjai Barat, sebelah timur Malino. Sebagian besar desa di Kabupaten Sinjai merupakan desa bukan pesisir, yang jumlahnya mencapai 68 desa menurut topografi.

Kabupaten Sinjai memiliki 3 (tiga) dimensi wilayah yaitu wilayah laut/pesisir, wilayah dataran rendah dan wilayah dataran tinggi. Secara morfologi, kondisi topografi Kabupaten Sinjai sangat bervariasi, dari dataran hingga pegunungan. Spesifikasi jenis batuan di Kabupaten Sinjai adalah batuan termuda berumur Pleistosen dan terdiri dari batuan induk, lahar, breksi, endapan lahar dan tuf.

Di bawah ini adalah tabel yang menunjukkan beberapa sungai besar di Kabupaten Sinjai. Data penulis dikumpulkan dari matoa dan pemangku adat, puang gella dan To Manurung pada Masyarakat Karampuang Kabupaten Sinjai.

Asal Usul To Manurung Dalam Masyarakat Karampuang

ASAL MULA TO MANURUNG DALAM MASYARAKAT KARAMPUANG Bagian ini memaparkan hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi atau dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara dengan 3 orang informan yang berstatus ketua adat, ketua adat, puang gella, sanro karampuang. Formasi Karampuang adalah To Manurung dan To Manurung yang muncul di atas bukit yang terdapat batu lappa yang disebut To Manurung To artinya orang sedangkan Manurung artinya turun atau tiba-tiba dan tidak diketahui asalnya” (Wawancara, 06 September 2017) .

Jadi To Manurung diartikan sebagai orang yang muncul secara tiba-tiba dan tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk Manurung sebagai sosok yang tidak dikenal menimbulkan kekaguman dari seluruh warga yang menyaksikannya, maka disini Karampulue diubah menjadi Karampuang karena disini raja tulang yang disebut puang dan bangsawan dari Makassar disebut Karaeng, sehingga diubah menjadi Karampuang jadi To Manurung yang pertama diangkat sebagai pemimpin dan To Manurung membuat sawah yang disebut sawah Abbungereng (sawah pertama) namun dalam waktu To Manurung ini tiba-tiba menghilang dan meninggalkan pesan yang sangat dalam aloka tuo sobat teh, eloka madeceng teh maja wat artinya saya ingin hidup dan saya tidak ingin mati, saya ingin yang baik dan menghindari yang buruk.” (Wawancara, 07 September 2017). Singkat kata ganti nama yaitu Karampulue di Karampuang karana, tempat ini dulunya adalah tempat perlindungan raja tulang yang disebut puang dan bangsawan Makassar di Panggi Karaeng, sehingga namanya diubah menjadi Karampuang karena perpaduan antara karaeng dan puang .

Dan To Manurung pertama yang dipercaya masyarakat setempat akhirnya menjadi pemimpin pertama dan menciptakan mata pencaharian yaitu sawah.

Asal Usul Tujuh To Manurung di Masyarakat Karampuang

Pintu yang terletak di tengah rumah bagian dalam dan tersembunyi merupakan simbol (maaf) kemaluan wanita. Pintu ini memiliki alas yang terbuat dari batu bulat yang merupakan simbol klitoris wanita yang disebut batu tuo atau batu yang dapat merangsang hasrat pria. Gantungan itu terbuat dari kulit kerbau yang diisi alang-alang atau rambut yang juga merupakan bagian dari alat kelamin wanita.

Di depan pintu terdapat dua buah dapur yang merupakan simbol sumber kehidupan yang melambangkan dua buah dada wanita. Di bagian samping rumah terdapat ornamen manis berupa anting-anting wanita yang disebut bate-bate. Di bagian atas rumah diletakkan ijuk yang disebut hilau lambang rambut perempuan.

Pada bagian ini akan diuraikan hasil penelitian yang telah dicapai, baik melalui wawancara, observasi maupun dokumentasi.

Aspek Adat Karampuang Dalam Bidang Budaya

Manre ri bulu merupakan puncak dari acara Mappogau Hanua ini yaitu tiga hari setelah Mabbaja-baja. Dalam pelaksanaan Mappogau Hanua, banyak makna yang terkandung dalam Mappogau Hanua, seperti saling tolong menolong, tidak terpisahkan dari kepercayaan masing-masing, ramah terhadap alam.” (Hasil wawancara 07 September 2017). Dalam festival upacara mappogau hanua (festival desa), seluruh masyarakat desa Tompobulu siap membantu dalam upacara tersebut, sehingga upacara tersebut akan sangat meriah dan tidak hanya di desa Tompobulu dan dusun Karampuang saja.

Dari apa yang dikatakan masyarakat Karampuanga, kesediaan membantu akan memahami beban matoa sebagai penanggung jawab tradisi pesta adat mappogau hanua. Tradisi upacara hanua mappogau adalah memuja leluhur karena diberi tanah subur agar tanaman padi subur. Pakkateni ade' (eksekutif) adalah jabatan yang menjalankan pemerintahan sehari-hari yang dipimpin oleh to matoa.

Dua orang matoa dibantu oleh guru gella, sanro dan penolong. Matoa juga mempunyai kakitangan yang dipanggil bali tudangeng, antaranya pembantu gella ialah pinati, pakita ita, pembantu sanro ialah pappajo, panggenrang, pattolo, manakala guru dibantu oleh, bilala dan doja. Di mahkamah dalam kes ini, Gella berhak mengeluarkan keputusan termasuk sekatan, tetapi ia masih belum mengikat kerana pihak yang menuntut masih boleh membuat rayuan kepada matoa atau arung.

Aspek Adat Karampuang Dalam Bidang Agama/Kepercayaan

Di sini masyarakat Karampuang sangat mempercayai leluhurnya Manurung, sehingga setiap tahun diadakan Mappogau Hanua (pesta desa) agar terhindar dari penyakit, segala macam bahaya yang datang dan mendapatkan keberuntungan, sehingga diwariskan secara turun-temurun. turun-temurun dari nenek moyang sampai sekarang” (Hasil wawancara, 10 September 2017). Kemunculan Karampuang merupakan hasil dari To Manurung, sehingga kebudayaan masyarakat Karampuang dibentuk sedemikian rupa sehingga teori Bronislaw Malinowski merupakan pionir berupa kerangka teori untuk menganalisis fungsi kebudayaan manusia, sehingga teori ini merupakan erat kaitannya dengan To Manurung dalam masyarakat Kramuang, karena merupakan budaya. Sehingga dapat diketahui bahwa teori ini berkaitan erat dengan To Manurung pada masyarakat Karampuang karena mereka membutuhkan pangan dan reproduksi, mereka membutuhkan hukum dan pendidikan, serta mereka memiliki agama dan seni.

Jadi kebudayaan yang ada pada Masyarakat Karampuang adalah bahwa semua kegiatan kebudayaan sebenarnya bertujuan untuk memenuhi sejumlah kebutuhan naluriah manusia yang berkaitan dengan seluruh hidupnya sebagai contoh salah satu unsur kebudayaan, misalnya terjadi karena pada awalnya orang ingin memuaskan kebutuhan naluriah mereka akan kecantikan. Kesenian yang ada di To Manurung di Masyarakat Karampuang yang dapat berupa gagasan, kreasi pemikiran, cerita dan puisi yang indah. Mengenai budaya To Manurung pada masyarakat Karampuang, dalam perkembangan dan pemenuhan kebutuhannya ada yang disebut dengan Mappogau Hanua karena memiliki nilai-nilai religi yang banyak mengandung makna dan untuk mendekatkan diri dengan leluhurnya. bahwa kebudayaan To Manurung sangat erat kaitannya dengan teori kebudayaan Bronislaw Malinowski.

Asal Usul To Manurung Pada Masyarakat Karampuang, Asal usul masyarakat Karampuang adalah penampakan seseorang yang tidak diketahui asal usulnya, yang muncul di atas bukit dengan membawa batu lappa, sehingga masyarakat Karampuang mempercayainya. kepercayaan masyarakat Karampuang sampai sekarang. Mengenai aspek religi dan kepercayaan masyarakat Karampuang, sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Karampuang pada dasarnya masih bercirikan animisme.

Saran

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir.

Referensi

Dokumen terkait

UMHLABUYALINGANA MUNICIPALITY SUMMARY OF SIGNIFICANT ACCOUNTING POLICIES for the year ended 2014 1 BASIS OF ACCOUNTING 1.1 BASIS OF PRESENTATION GRAP 1 Presentation of Financial