• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF PENETAPAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK NTB (Studi Hukum Adat ... - IIQ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF PENETAPAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK NTB (Studi Hukum Adat ... - IIQ"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

PENETAPAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK NTB (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh

Gelar Magister Agama (M.Ag) dalam Bidang Ilmu Agama Islam

Oleh:

Mudrikah NIM : 211610114

PRODI ILMU AGAMA ISLAM

KONSENTRASI ILMU SYARIAH

PROGRAM PASCA SARJANA (S2)

(2)

PENETAPAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK NTB (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh

Gelar Magister Agama (M.Ag) dalam Bidang Ilmu Agama Islam

Oleh:

Mudrikah NIM : 211610114

Pembimbing:

DR. KH. Syahabuddin, MA.

DR. Hj. Umi Khusnul Khotimah, MA.

PRODI ILMU AGAMA ISLAM

KONSENTRASI ILMU SYARIAH

PROGRAM PASCA SARJANA (S2)

INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Tesis dengan judul“Penetapan Mahar dalam Pernikahan di Lombok NTB (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)” yang disusun oleh Mudrikah dengan Nomor Pokok Mahasiswa 211610114 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan dinilai oleh Pembimbing telah memenuhi syarat ilmiah untuk diujikan di sidang Munaqasyah.

Pembimbing I

DR. KH. Syahabuddin, MA Tanggal : ...2016

Pembimbing II

DR. Hj. Umi Khusnul Khotimah, MA Tanggal : ...2016

(4)

LEMBAR PENGESAHAN TESIS

Tesis dengan judul “Penetapan Mahar dalam Pernikahan di Lombok NTB (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)” yang disusun oleh Mudrikah dengan Nomor Induk Mahasiswa 211610114 telah diujikan di sidang munaqasyah Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada tanggal13 Agustus 2016 dan dinyatakan LULUS dengan yudisium/predikat Amat Baik. Tesis tersebut telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Agama (M.Ag) pada Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Magister Agama Prodi Ilmu Agama Islam.

Direktur Program

DR. KH. Ahmad Munif Suratmaputra, MA.

Panitia Ujian

Keterangan Tanda Tangan Tanggal

DR. KH. Ahmad Munif Suratmaputra, MA. ___________ ______

Ketua Sidang

DR. H. M. Azizan Fitriana, MA. ___________ ______

Sekretaris

Prof. DR. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA. ___________ ______

Penguji I

DR. Hj. Nadjematul Faizah, SH., M.Hum. ___________ ______

Penguji II

DR. KH. Syahabuddin, MA. ___________ ______

Pembimbing I

DR. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag. ___________ ______

(5)

PERNYATAAN PENULIS

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : Mudrikah

NIM : 211610114

Tempat/TglLahir : Bekasi, 17 Desember 1989

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis dengan judul“ Penetapan Mahar Dalam Pernikahan di Lombok NTB (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)” adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 24 Jumadil Awal 1438 H 20 Februari 2017 M

Mudrikah

(6)

ميحرلا نحمرلا للها مسب

KATA PENGANTAR

ّنا دهشأو للهالاا ولالا نا دهشأ ينلماـعلا ّبر لله دملحا ّللا ولوسرو هدبع ادّم مح

ّمه ولأ ىلعو ينلماعلل ةحمر ثوعبلما دّممح انلومو اندّيس ينّيبّنلا تماخ ىلع مّلسو ّلص

.دعب اّما .ينعجما وباحصأو

Puji syukur yang pantas terucap atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhitung dan tak terhingga, sehingga karya tesis yang berjudul

“Penetapan Mahar Dalam Pernikahan di Lombok (Studi Adat dan Hukum Islam)” ini bisa terselesaikan di antara samudera ilmu yang ada di alam semesta.

Salawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi junjungan agung Muhammad SAW., ahl-bayt yang suci, para sahabat yang mulia, serta seluruh pengikutnya. Amin.

Atas segala bantuan dan pengorbanan yang telah diberikan kepada penyusun dalam penulisan tesis ini, penyusun sampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA., selaku Rektor Institut

Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta,

(7)

2. Bapak Dr. KH. Ahmad Munif Suratmaputra, MA., selaku Direktur Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

3. Bapak Dr. KH. Syahabuddin, MA., sebagai Pembimbing I yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga penyusun dapat menyelesaikan tesis ini,

4. Ibu Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, MA., selaku Pembimbing II yang telah mencurahkan segala koreksi dan bimbingan, sehingga penyusun dapat menyelesaikan tesis ini dengan sebaik-baiknya,

5. Bapak Dr. Phill. Asep Saefudin Jahar, selaku Pembimbing Akademik Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta,

6. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al- Qur’an (IIQ) Jakarta yang telah mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, semoga ilmunya dapat bermanfaat. Amin,

7. Seluruh staf dan karyawan Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al- Qur’an (IIQ) Jakarta yang telah bekerja keras dalam mendampingi seluruh proses administrasi penyusun untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dari Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang tercinta ini,

8. Pustakawan dan Pustakawati perpustakaan Program Pasca Sarjana

Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Universitas Islam Negeri (UIN)

(8)

Syarif Hidayatullah Jakarta, terimakasih atas bantuan dalam penelurusan referensi-referensi yang penyusun perlukan,

9. Segenap narasumber wawancara. khususnya kepada Bapak Muslihan Habib, yang telah banyak memberikan bantuan, dukungan, informasi proses pernikahan adat dan mahar adat Lombok, serta spirit kepada penyusun dalam penyelesaian tesis ini,

10. Ayahanda dan Ibunda tercinta H. Mahdi Syaekhan dan Hj. Siti Qomariyah yang telah berkorban jiwa-raga dan atas cinta kasihnya yang tercurahkan yang tak bersyarat dan tak berakhir, teriring do’a robbighfirlî wa liwâlidayya warẖamhumâ kamâ robbayânî shâghîrâ.

Amin,

11. Kakak-kakak dan adik yang terkasih, Kak Hj. Yoyoh Masruroh beserta suami Kak Ade Syukron, Abang H. Tajul Munir beserta istri Anggun Primadani, Kak Hj. Dalla Shohihah beserta suami Daeng Abdurrahman, adik Hj. Dhia Jazirah, yang telah melantunkan do’a dan selalu memberikan semangat dalam menjalani hidup, tak lupa pula untuk kedua keponakanku Alya Azimah, Naura Atira Azmiah, dan Alisya Ghaida Zaheen yang selalu menyenangkan hati,

12. Suami tercinta H. Dede Firmansyah atas support dan do’anya, semoga

dimudahkan hajat kita semua,

(9)

13. Teman-teman kelas PPS-IIQ syariah angkatan 2011, teman-teman kost Ibu Muslim khususnya Ainun dan kak Fitri,

14. Dan seluruh pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan seraca rinci.

Terimakasih atas kerjasamanya.

Penulis menyadari bahwa hasil penyusunan tesis ini masih jauh dari sempurna, hal ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan yang ada pada diri penulis. Untuk itulah, saran dan masukan sangat penulis harapkan demi perbaikan di kemudian hari. Atas perhatiannya penulis menyampaikan terima kasih.

Akhirnya, kepada Allah jualah penulis memohon ampun, sekiranya terdapat kesalahan dalam penyusunan tesis ini, semoga tesis ini dapat bermanfaat. Amin. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Jakarta, 15 Rabiul Akhir 1437 H 26 Januari 2016 M

Penulis

(10)

SISTEM TRANSLITERASI ARAB LATIN

Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan tesis ini berpedoman pada sistem transliterasi yang ada pada panduan teknik penulisan tesis Program Pasca Sarjana Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta tahun 2011-2015.

A. Konsonan Tunggal Huruf

Arab

Huruf Latin Nama

أ : a Tidak dilambangkan

ب : b Be

ت : t Te

ث : ts Te dan Es

ج : j Je

ح : ẖ ha (dengan garis di bawah)

خ : kh ka dan ha

د : d De

ذ : dz De dan Zet

ر : r Er

ز : z Zet

س : s Es

(11)

ش : sy Es dan Ye

ص : sh Es dan Ha

ض : dh De dan Ha

ط : th Te dan Ha

ظ : zh Zet dan Ha

ع : „ Koma terbalik di atas

غ : gh Ge dan Ha

ف : f Ef

ق : q Qi

ك : k Ka

ل : l El

م : m Em

ن : n En

و : w W

ه : h Ha

ء : ‟ A postrof

ي : y Ye

B. Vokal

Vokal tunggal vokal panjang vokal rangkap

(12)

Fatḥah َ : a أ: â ي …..: ai Kasrah َ : i ي : î و …...: au Dhammah َ :u و : u

C. Kata Sandang

a. Kata sandang yang diikuti al-qamariyah

Kata sandang yang diikuti oleh al-qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf l (el) diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.

Contoh :

ةزقبلا : al-Baqarah تىيدملا : al-Madînah b. Kata sandang yang diikuti al-syamsiyah

Kata sandang yang diikuti oleh al-syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya.

Contoh :

ل جَّزلا: ar-rajulu ة دِّيَّسلا: as-sayyidah س مَّشلا: as-syamsu ي م راَّدلا: ad-dârimî c. Syaddah (Tasydîd)

Syaddah (Tasydîd) dalam sistem aksara Arab digunakan lambang ( َ), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada ditengah kata ataupun

(13)

yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah. Contoh:

للب ب بَّىمأ: Âmannâbillâhi ءب ه فُّسلا ه مأ: Âmana as-Sufahâ’u ه ي ذ لا َّنإ: Inna al-ladzîna عَّكُّزلا و: waar-rukka’i

d. Ta Marbûthah (ة)

Ta Marbûthah (ة) apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka huruf tersebut dialih aksarakan menjadi huruf “h”.

Contoh:

ة د ئ ف لأا: al-Af’idah تَّي م لا س لإا ت ع مب جلا: al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah Sedangkan Ta Marbûthah(ة) yang diikuti atau disambungkan (di- washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:

ٌت ب صب و ٌت ل مب ع: ‘Âmilatun Nâshibah ى ز ب ك لا ت ي لأا: al-‘Âyat al-Kubra

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ………... ii

LEMBAR PENGESAHAN ……… iii

PERNYATAAN PENULIS ………. iv

KATA PENGANTAR ………... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ………... ix

DAFTAR ISI ………... xiii

ABSTRAK ……….. xvi

BAB I : PENDAHULUAN ………... 1

A. Latar Belakang Masalah ……….. 1

B. Permasalahan: ……….. 1

1. Identifikasi Masalah ……… 12

2. Pembatasan Masalah ..……….. 13

3. Perumusan Masalah ………. 13

C. Tujuan Penelitian ………. 13

D. Manfaat Penelitian ………... 13

E. Metodologi Penelitian ……….. 14

F. Studi Pustaka ………... 16

G. Sistematika Penulisan ……….. 17

(15)

BAB II : KERANGKA ADAT DALAM HUKUM ISLAM ………. 18

A. Istilah Nikah ………... 18

1. Pengertian Nikah ……….. 18

2. Hukum Nikah ………... 19

3. Rukun dan Syarat Nikah………... 22

B. Istilah Mahar ……….. 26

1. Pengertian Mahar ………. 26

2. Hukum Pembayaran Mahar ……….. 35

3. Syarat dan Macam-Macam Mahar……… 39

C. Istilah Hukum Adat ……… 44

D. Istilah Hukum Islam ………... 46

E. Perbandingan Hukum Adat dan Hukum Islam ……….. 49

F. Teori Terkait Hukum Adat dan Hukum Islam ………... 53

G. Hubungan Adat dan Islam ……….. 71

BAB III : TRADISI MAHAR ADAT DI LOMBOK ………. 76

A. Sejarah Lombok ……… 76

1. Kepercayaan di Lombok Sebelum Kedatangan Islam... 78

2. Masuknya Islam di Lombok ………... 92

3. Tinjauan Penelitian Adat dan Islam di Lombok ... 101

a. Stratifikasi Sosial ……… 104

b. Sistem Kekerabatan………. 106

c. Tokoh Adat dan Agama ………. 107

B. Istilah Mahar di Lombok ………... 113

1. Penduduk Lombok ………. . 113

2. Kerajaan Lombok ……… ... . 115

3. Mahar di Lombok ………. 126

C. Mahar Menurut Hukum Islam ………... 128

(16)

D. Mahar Menurut Hukum Adat……….. 129

BAB IV : PRAKTIK MAHAR DI LOMBOK ………. ……. 133

A. Tata Cara dan Prosedur Perkawinan di Lombok ……... 133

1. Stratifikasi Sosial Perkawinan ……….……. 133

2. Status dan Kedudukan Wanita ……… ……. 137

3. Prosedur Perkawinan di Lombok ….……… 139

a. Pra-Pernikahan ……… 139

b. Prosesi Pernikahan………... 140

B. Penetapan Mahar di Lombok ………... 143

C. Mahar, Pisuke, dan Gantiren Sebagai Syarat Wajib Pernikahan di Lombok Pada Suku Sasak ………. 146

D. Mahar, Pisuke, dan Gantiren Dalam Perspektif Hukum Islam ……… 147

BAB V : PENUTUP ………. ………. 153

A. Kesimpulan ………... 153

B. Saran ………... 154

DAFTAR PUSTAKA ………... ……. 155

RIWAYAT HIDUP PENULIS………. ……. 165

(17)

ABSTRAK

PENETAPAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK NTB (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)

Oleh:

Mudrikah NIM: 211610114

Mahar merupakan satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon mempelai laki-laki ketika hendak menikah. Mahar juga dapat diartikan sebagai tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang perempuan, oleh karena itu pemberian mahar sangatlah penting.

Pada dasarnya pemberian mahar tidak ada batas maksimalnya. Syariat Islam sangat menganjurkan untuk memberi mahar dengan jumlah yang wajar dan dilihat dari batas kemampuan pihak laki-laki. Adapun di Indonesia terdapat daerah yang masih sangat kental akan adat dan kebudayaannya, salah satunya adalah Lombok. Pada adat Lombok terdapat peraturan yang menetapkan jumlah mahar menurut stratifikasi sosialnya, dimana makin tinggi kedudukan sosial calon mempelai wanita maka makin tinggi pula jumlah maharnya, makin tinggi pendidikannya maka makin tinggi pula permintaan maharnya.

Bila jumlah mahar tidak sesuai dengan permintaan pihak perempuan maka bukan tidak mungkin pernikahannya akan dibatalkan, dan ini sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Pokok masalah dalam penelitian ini adalah penetapan mahar dalam suatu pernikahan di Lombok serta studi adat Lombok dan pandangan Islam terhadap hukum adat tersebut. Jenis penelitiannya adalah field research, dengan tehnik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara, selain itu juga digunakan jenis penelitian library research, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data-data atau bahan-bahan dari berbagai sumber, diantaranya buku-buku, tesis terdahulu, artikel, internet dan media lainnya yang berhubungan dengan pembahasan penelitian ini. Sifat dari peneletian ini adalah bersifat deskriptif-kualitatif dalam bentuk desain deskriptif dan metode pengumpulan data dengan cara observasi, adapun analisa yang digunakan adalah kualitatif serta menggunakan pendekatan yuridis dan filosofis.

Di Lombok sendiri jumlah pemberian mahar dilihat dari nasab keturunan serta jenjang pendidikan calon mempelai wanita, untuk wanita- wanita bangsawan jumlah mahar yang harus dibayar oleh pihak laki-laki terbilang sangat tinggi, bukan hanya mahar, pisuke dan gantiren (semacam

(18)

seserahan dan permintaan khusus) pun harus dipenuhi, tidak hanya wanita keturunan bangsawan, dari hasil wawancara penulis kepada narasumber asal Lombok (Lalu Reza) ada juga masyarakat dari kalangan non-bangsawan yang pendidikannya tinggi meminta mahar yang cukup tinggi pula dan tentunya tanpa permintaan gantiren, karena gantiren hanya untuk kalangan bangsawan. Penulis sendiri pernah melihat langsung proses pernikahan orang Lombok asli yang tinggal di Jakarta, yang pada saat melaksanakan akad nikah keluarga dari mempelai pria membawa dokumen sertifikat tanah, karena pada waktu itu mempelai wanitanya masih keturunan bangsawan.

Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penetapan mahar adat di Lombok yang di lakukan di sebagian daerah di Lombok masih sangat kental akan adat istiadatnya.

Penetapan maharnya sangat memberatkan pihak laki-laki (yang kurang mampu), dimana bukan hanya mahar yang ditetapkan jumlah dan bentuknya tetapi juga pisuke dan gantiren yang diajukan pihak perempuan kepada pihak laki-laki. Pisuke dan gantiren biasanya dalam bentuk sebidang tanah, binatang ternak, rumah, dan lain-lain. Hal ini sangat bertentangan dengan syariat Islam, karena tidak semua laki-laki mampu membayar mahar, pisuke, dan gantiren dengan jumlah yang sangat besar. Pada dasarnya mahar adat bias tidak ditetapkan bila para pelakunya faham betul tentang agama dan mengesampingkan egonya. Karena Islam sangat menganjurkan untuk memudahkan mahar dan dalam melaksanakan sunnatullah ini.

(19)

ABSTRACT

DETERMATION MAHAR IN WEDDING IN LOMBOK NTB (Study of Customary Law and Islamic Law)

By:

Mudrikah NIM: 211610114

Mahar is one of several requirements that must be met by the prospective groom when they wanted to get married. Mahar also be interpreted as a sign of the seriousness of a man to marry a woman, therefore giving dowry is very important. Basically giving dowry is no maximum limit.

Islamic Shari'a strongly recommends to give a dowry to a reasonable amount and views of the limits of the men. As in Indonesia are still very strong area will be customs and culture, one of which is Lombok. In Lombok there are customary rules that specify the number of dowry according to social stratification, where the higher the social position of the prospective bride, the higher the amount of dowry, the higher the education, the higher the demand for dowry. When the amount of dowry does not comply with the request of the woman it is not impossible marriage will be canceled, and it is contrary to Islamic law.

The principal problem in this research is the determination of the dowry in a marriage in Lombok and Lombok indigenous studies and the Islamic view of the customary law. Type of research is field research, with data collection techniques such as observation and interviews, but it is also used this type of research library research, which was done by collecting and studying the data or materials from a variety of sources, including books, thesies earlier, articles, internet and other media related to the discussion of this study. The nature of this intensive search is descriptive-qualitative descriptive design forms and methods of data collection by observation, while the analysis used is qualitative as well as juridical and philosophical approach.

In Lombok itself amount giving dowry views of nasab descent and education bride, for women royalty amount of dowry paid by the groom is fairly high, not only the dowry, pisuke and gantiren (sort seserahan and

(20)

special requests) must be met, not only the women of the royal line, from the interviews the author to the informant from Lombok (Lalu Reza) there are also people from non-nobles whose education was higher asking dowry high enough anyway and certainly without demand gantiren, because gantiren only for the royalty. The author himself never look directly marriage process Lombok native people who live in Jakarta, which at the time of carrying out the marriage ceremony of the groom's family brings the land title documents, because at that time the bride was highborn.

Therefore, based on the results of research and discussion, we can conclude that the determination of customary dowry in Lombok will be undertaken in some areas in Lombok is still very strong to be custom.

Determination very burdensome dowry the groom (the underprivileged), in which not only the dowry stipulated amount and shape but also pisuke and gantiren asked the woman to the man. Pisuke and gantiren usually in the form of a piece of land, livestock, homes, and others. This is contrary to Islamic law, as not all men are able to pay the dowry, pisuke, and gantiren with a very large number. Basically customary dowry bias is not set when the actors understand very well about religion and set aside his ego. Because Islam strongly recommends to facilitate dowry and in carrying out this sunnatullah.

(21)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Berpasang-pasangan merupakan salah satu sunnatullah atas seluruh ciptaan-Nya tanpa terkecuali, baik itu manusia, binatang, bahkan tumbuh-tumbuhan. Berpasangan adalah sebuah pola hidup yang ditetapkan Allah bagi makhluk-Nya sebagai sarana untuk memperbanyak keturunan dan mempertahankan adanya kehidupan dimuka bumi. Seperti dalam firman Allah SWT:

















“dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 49)





























“Maha suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS.

Yâsîn [36]: 36)

Allah tidak menghendaki manusia berprilaku sebagai makhluk lainnya seperti hewan ataupun tumbuhan, oleh karena itu untuk membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain dan untuk melakukan suatu aturan yang sesuai dengan fitrah manusia adalah dengan adanya akad nikah untuk menghalalkan hubungan antara seorang laki-laki (suami) dan seorang perempuan (istri). Karena dengan adanya pernikahan maka akan terjaga harga diri dan kehormatan manusia.

Adapun akad nikah merupakan suatu akad yang didalamnya mengandung kepemilikan dan pemanfaatan, dimana diantara suami dan istri itu saling memiliki dan terikat dengan ikatan suci yang halal.

Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban bagi keduanya1 yang mana pernikahan itu dalam pandangan Islam merupakan suatu akad atau transaksi yang berbeda dengan transaksi lainnyakarena mengandung nilai amanah bagi suami maupun istri dan hubungan antara keduanya

1 Ibrahim Hosen, LML., Fiqih Perbandingan Masalah Pernikahan, (Jakarta:

Pustaka Firdaus, 2003) Jilid I, h. 117

(22)

2

digambarkan dalam Al-Qur‟an sebagai mitsâqan ghalîdzâ (perjanjian yang kokoh).2

Dalam Al-Qur‟an hak istri di tempatkan sangat mulia, seperti dalam firman Allah SWT:

























“Bagaimana kamu akan mengambilnya (mahar) kembali padahal sebagian kamu bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu janji yang kuat” (QS. An-Nisâ [4]: 21).

Ayat tersebut menjelaskan tentang kewajiban memberi mahar lengkap (secara penuh) kepada istri setelah bercampurnya diantara mereka suami istri. Tetapi apabila belum terjadinya percampuran lalu bercerai, maka terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang apakah wajib membayar mahar atau tidak. Menurut Imam Malik, Ahmad, Abu Daud, dan pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah yaitu mewajibkan membayar mahar, sedang menurut Imam Abu Hanifah tidak mewajibkannya.3

Mahar merupakan satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menikah,4 mahar juga dapat diartikan sebagai tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang perempuan. Allah SWT telah berfirman:































2 QS. An-Nisa (4): 21. Kata mitsâqan ghalîdzâ(perjanjian yang kokoh) hanya ditemukan tiga kali dalam Al-Qur‟an yaitu: 1) dalam ayat ini, yang melukiskan hubungan suami istri, 2) menggambarkan perjanjian Allah SWT dengan para nabi (QS. Al-Ahzab [33]:

7), 3) perjanjian Allah dengan manusia dalam konteks melaksanakan pesan-pesan agama.

Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur‟an, (Ciputat:

Lentera Hati, 2000) Volume 2, h. 368

3 Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, Bidâyah al-Mujtaẖid wa Nihâyah al- Muqtashid, (tt.p.: Dâr as-Salâm, 1995), Jilid: 2, h. 43

(23)

3

“Berikanlah mahar (maskawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang wajib.Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. An-Nisâ [4]: 4).

Dari salah satu persyaratan nikah yang harus dipenuhi, para ulama mazhab sepakat bahwa apabila akad dilaksanakan dengan menyebutkan mahar, kemudian si suami menjatuhkan talak sebelum melakukan hubungan seksual (bagi yang mengakuinya) maka gugurlah separuh mahar. Tetapi apabila akad tersebut dilaksanakan tanpa menyebut mahar, maka si wanita tidak memperoleh apapun. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat: 236-237:5





























































































































“tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), Yaitu pemberian menurut yang patut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. jika kamu

5 Ibnu Qudamah, al-Mughnî, (tt.p.: Dâr al-Alam al-Kutub, 1997), Jilid: 9, h. 352- 353

(24)

4

menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, Padahal Sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, Maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah6, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al- Baqarah [2]: 236-237)

Memang nikah tetap sah tanpa menyebut penentuan nominal mahar dan sebelum penyerahannya, namun bagaimanapun mahar tetap menjadi syarat meskipun tidak ditentukan nominalnya. Sementara itu Jumhur ulama seperti Abu Hanifah, Syafi‟i, dan Ahmad dalam riwayat yang lain berpendapat bahwa pensyaratan penyebutan mahar tidak sampai membatalkan pernikahan dan dalam kondisi ini wanita berhak memperoleh mahar Mitsil.7 Jadi barangkali yang dimaksud adalah akad nikah tetap sah tanpa penentuan nominal mahar, sehingga tetap akan sah dengan menyebutkan nominalnya.

Pada dasarnya syariat Islam memberikan keringanan kepada laki- laki yang tidak mampu memberikan mahar secara langsung untuk mencicilnya atau mengangsurnya. Kebijakan angsuran mahar ini sebagai jalan tengah agar terjadi win-win solution antara kemampuan suami dan hak istri, agar tidak ada yang dirugikan dan keduanya saling meridhai, sehingga kedepannya dapat melangsungkan kehidupan berumahtangga yang harmonis.

Disyaratkan bahwa mahar harus diketahui secara jelas dan detail atau secara global semisal sepotong emas, atau sekarung gandum. Kalau tidak bisa diketahui dari berbagai segi yang memungkinkan diperoleh penetapan jumlah mahar, maka menurut seluruh mazhab kecuali Maliki, akad tetap sah, tetapi maharnya batal.Sedangkan Maliki berpendapat bahwa akadnya fasid (tidak sah) dan di-fasikh sebelum terjadi percampuran.Tetapi bila telah dicampuri, akad dinyatakan sah dengan menggunakan mahar mitsil.8 Syarat lain bagi mahar adalah barang yang halal dan dinilainya berharga dalam syariat Islam.Mahar boleh berupa

6Yang dimaksud dengan “yang memegang ikatan nikah” adalah suami atau wali.Kalau Wali mema'afkan, Maka suami dibebaskan dari membayar mahar yang seperdua, sedangkan bila suami yang mema'afkan, Maka Dia membayar seluruh mahar.

7Imam As-Syaukâni, Tafsir Fatẖu al- Qadîr, (Lebanon: Dâr al-Kutub Ilmiyah, t.th.), Jilid: 3, h. 324

(25)

5 uang, perhiasan, perabot rumah tangga, jasa, atau benda-benda lainnya yang memiliki harga tergantung adat yang berlaku di tempat tersebut.

Indonesia adalah Negara majemuk yang terdiri dari bermacam- macam suku, adat, dan budaya. Setiap daerah memiliki adat dan kebudayaannya masing-masing termasuk adat dalam pemberian mahar, jumlah dan bentuk mahar berbeda-beda disetiap daerah, seperti misalnya yang terjadi di Medan, khususnya suku Batak, pemberian mahar dalam tradisi adat itubisa berupa uang juga hewan ternak seperti sapiatau kerbau.Didaerah Sulawesi Selatan pada suku Bugis, mahar berbentuk perhiasan juga berupa sebidang tanah. Bahkan di Aceh diharuskan membayar mahar berupa emas seberat 33 gram dan uang tunai senilai Rp. 15.000.000,-. Dimana ini sangat memberatkan orang-orang yang kurang mampu, sehingga pria-pria di Aceh berdemo kepada pemerintah daerah setempat untuk menghapus adat tersebut.9

Adat („adah)10 sendiri telah mendorong munculnya diskusi yang berkelanjutan sejak awal sejarah Islam tentang apakah ia dapat dipertimbangkan menjadi salah satu sumber penetapan hukum dalam Islam. Adat tidak diakui sebagai salah satu sumber dalam jurisprudensi Islam. Namun demikian, dalam prakteknya, adat memainkan peranan yang sangat penting dalam proses kreasi hukum Islam dalam berbagai aspek hukum yang muncul di negara-negara Islam.11

Pada masa Nabi Muhammad SAW orang-orang Arab mengadopsi berbagai macam adat, praktek adat digunakan sebagai salah satu landasan hukum yang dinamakan dengan hukum adat, dan orang yang melanggar hukum adat tidak dikenakan sanksi maupun otoritas.

Salah satu contoh hukum yang diadopsi dari adat adalah tindakan orang Arab (orang Islam) mempertahankan perbuatan hukum Nabi Ibrahim, terutama dalam upacara-upacara yang berhubungan dengan ka‟bah dan sunatan (khitan), upacara-upacara tersebut berperan sebagai dasar kultural dalam pembentukan tradisi sosial setempat.12

Berbagai macam adat pra-Islam berlaku sampai masa Rasulullah SAW. Fakta ini mengindikasikan bahwa hukum Islam tidak melarang/melawan praktek adat tersebut, bahkan Nabi dalam kapasitasnya sebagai penerima wahyu banyak melegalkan hukum adat

9http://www.mantenhouse.com/article/648-keberadaan-mahar-dalam-perhiasan- pernikahan-beberapa-adat-daerah-di-indonesia.html (di akses tanggal 28 Oktober 2014)

10 Dalam sejarah hukum Islam, „ȃdah (dalam bahasa arab sinonim dengan kata „urf) kata „ȃdah berarti kebiasaan, adat, atau praktek, sementara arti kata „urf adalah “sesuatu yang telah diketahui”

11 Ratno Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia, (Jakarta:

INIS, 1998) h. 5

12 Ratno Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia, h. 6

(26)

6

masyarakat Arab, sehingga memberikan tempat bagi praktek hukum adat tersebut kedalam sistem hukum Islam.

Dalam hubungan dengan keberlangsungan hukum adat, Nabi tidak melakukan perubahan terhadap hukum yang ada sepanjang hukum tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran yang fundamental. Konsep sunnahtaqrîriyah13 sendiri sesungguhnya merupakan bukti bahwa Nabi memang membiarkan pemberlakuan beberapa adat setempat yang dapat diterimadan yang tidak keluar dari syariat Islam.14

Dalam bidang hukum keluarga, Nabi mempertahankan beberapa hukum adat, dan beberapa lainnya dimodifikasi dan ada juga yang tidak digunakan karena tidak masuk akal dan tidak sesuai syari‟at Islam.

Seperti poliandri, pembunuhan terhadap bayi perempuan, perceraian yang berulang-ulang, dan sebagainya.Adapun yang dipertahankan oleh Nabi yaitu seperti poligami, pembayaran mahar, atau iqrar perkawinan.15

Menurut Imam Syafi‟i, „urf (adat kebiasaan) yang tidak melanggar nash atau syari‟at boleh dijadikan hujjah. Seperti halnya para ahli fikih lainnya, Imam Syafi‟i juga berkata “adat bisa dijadikan hukum (hujjah)”.16 Ada lima kaidah pokok yang dijadikan landasan oleh Imam Syafi‟i untuk membangun mazhabnya. Lima kaidah tersebut adalah:

bahaya harus dihilangkan, adat bisa dijadikan hukum, kesulitan dapat memunculkan keringanan, keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan, dan segala sesuatu tergantung maksudnya.17

Salah seorang ahli hukum Belanda, L.W.C. Van den Berg membuat teori receptio in complexu (adat istiadat dan hukum sesuatu golongan adalah resepsi18 seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan masyarakat itu) hukum adat adalah hasil penerimaan bulat- bulat dari hukum agama. Karena hukum adat seseorang adalah tergantung dari agama apa yang dipeluknya, karena hukum adat tidak terlepas dari hukum agama.

13 Disamping sunnah fi‟liyah dan sunnah qauliyah, sunah taqrîriyah merupakan bentuk lain dari hadits yang sudah banyak dikenal, dengan merujuk kepada suatu perbuatan yang di praktekkan pada masa Nabi dan tidak dilarang oleh beliau.

14 Ratno Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia, h. 7

15 Abdul Rahim, The Principles of Muhammad Jurisprudence, (London: Luzac and Co., 1911) h.7

16 Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Ashbaẖ wa al-Nadhȃir, ( Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.), h. 80

17 Wahbah Zuhaili, al-Fiqh as-Syȃfi‟i al-Muyassar, (Jakarta: al Mahira, 2010), h.

38-39

18 Resepsi hukum asing ialah proses penerimaan hukum asing itu sebagai anasir asli

(27)

7 Pendapat Van den Berg sangat bertentangan dengan beberapa ahli hukum adat Hindia Belanda diantaranya C. Snouck Hurgronje dan Van Vollenhoven, menurut mereka tidak semua bagian hukum agama diterima dan di resepsi dalam hukum adat, hanya bagian tertentu saja terutama yang hubungannya erat dengan kepercayaan dan hidup batin.

Seperti hukum keluarga, hukum perkawinan dan hukum waris.19 Yang kemudian pendapatnya ini dikenal dengan sebutan Theori Receptie lalu dikokohkan pada pasal 134 ayat (2) I.S pada tahun 1929.

Pada tahun 1950 Konferensi Dep. Kehakiman di Salatiga, ahli hukum Indonesia Prof. Hazairin melihat perbedaan yang tegas antara hukum adat dan hukum Islam. Pandangan Hazairin terhadap Theori Receptie C. Snouck Hurgronje dipertegas dengan menyebut bahwa Theori Receptie itu adalah teori iblis, karena penganut Theori Receptie meyakini bahwa hukum Islam akan berlaku apabila dikehendaki dan diterima oleh hukum adat. Hazairin berpendapat bahwa yang benar adalah hukum adat itu berlaku manakala tidak bertentangan dengan hukum Islam, seperti contoh di Minangkabau (Sumatera Barat) yang kuat kedudukan adatnya, melanggar adat masih merupakan suatu celaan besar dalam masyarakat. Sungguh demikian di Minangkabau terdapat ketentuan yang tegas-tegas bahwa adat itu akan berlaku bila bersandar kepada agama, seperti pada pepatah yang berbunyi “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”.20

Dalam kuliah khusus Hazairin kepada para pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1969beliau menguraikan tentang tidak berlakunya lagi pasal 134 ayat (2) I.S. itu karena telah dihapus secara meyakinkan oleh Pembukaan dan pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945. Hazairin juga mengarahkan suatu analisa dan pandangan agar hukum Islam berlaku di Indonesia tidak berdasar pada hukum adat.

Namun demikian dalam prakteknya para ahli hukum Islam melanjutkan tradisi yang mengakui efektivitas adat, terutama dalam lapangan interprestasi hukum. Walaupun teori hukum yang dibangun oleh aliran-aliran hukum klasik memandang hukum Islam sebagai hukum agama yang bersifat kebal dari perubahan dimana manusia hanya mampu menginterpretasikan dan mengeksplanasikan hukum tanpa menciptakannya, permasalahan-permasalahan keseharian yang muncul dan perkembangan budaya mengharuskan adanya adaptasi dari aturan- aturan hukum tersebut kepada situasi yang baru. Sehingga ketika mereka

19Bushar Muhammad, Asas-asas Hukum Adat, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1988), h. 12

20Sayuti Thalib, Receptio a Contrario (hubungan hukum adat dengan hukum Islam), (Jakarta: Bina Aksara, 1982), h. 17

(28)

8

menghadapi masalah-masalah yang tidak ditemui oleh para Sahabat, para Imam dari aliran-aliran hukum (mazahib) tersebut memanfaatkan hukum-hukum adat yang telah dipraktekan di daerah-daerah baru yang dikuasai oleh orang Islam.21

Salah satu adat yang masih di praktekkan dari jaman pra-Islam sampai sekarang adalah pemberian mahar di dalam pernikahan. Mahar sudah berlangsung sangat lama, yaitu sejak pra-Islam. Mahar pada awalnya merupakan kebiasaan pra-Islam lalu diadopsi dan dirubah sesuai dengan ketentuan ajaran Islam. Konteks mahar pra-Islam merupakan hak milik orang tua, dan mempelai perempuan tidak mendapat kesempatan untuk memilikinya.22 Oleh karena itu setelah munculnya hukum Islam, dilakukanlah pengalihan status kepemilikan mahar dari hak milik orang tua menjadi hak milik istri, pengalihan ini merupakan tonggak sejarah dan tidak terlepas dari upaya syariat Islam dalam mengangkat harkat wanita. Walaupun demikian, tidaklah berarti bahwa mahar merupakan konpensasi dari harga diri wanita (istri) yang dinilai sebagai simbol material tersebut, tetapi lebih merupakan sebuah pemberian yang ikhlas sebagai bukti ikatan kekerabatan serta kasih sayang.23

Para ahli fikih ada yang berpendapat bahwa mahar merupakan rukun akad nikah dan ada juga yang berpendapat bahwa mahar merupakan syarat sahnya nikah. Karena itu tidak boleh ada kesepakatan untuk meniadakannya. Pada dasarnya prinsip pemberian mahar dalam Islam adalah bukti adanya ikatan seorang perempuan terhadap seorang laki-laki yang menjadi suaminya dan untuk menunjukkan rasa cinta, penghormatan dan kesungguhan mempelai laki-laki dalam membangun bahtera rumah tangga bersama wanita pilihannya. Menurut al-Sya‟rawi, bahwa pemberian mahar terhadap perempuan merupakan ketetapan Allah SWT untuk memuliakan perempuan.24

Dalam melaksanakan sebuah pernikahan, masyarakat Lombok atau biasa disebut dengan masyarakat Sasak memiliki berbagai macam

21 Ratno Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia, h. 17

22 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Beirut: Dȃr al-Fikr, t.th.),jilid II, h. 135. Di jaman Jahiliah pra Islam hak ini dipaksakan dari pihak perempuan dengan cara yang berbeda. Sang ayah atau wali biasa memperlakukan pernikahan sebagai sebuah transaksi, mahar merupakan harga eceran seorang perempuan. Dia akan menjual anak gadisnya kepada siapa saja yang dia suka selama dia memperoleh harga yang diinginkan. Alternatif lainnya adalah praktek shighar , yaitu jenis perkawinan dengan bertukar anak perempuan atau saudara perempuan tanpa mahar, karena setiap perempuan dianggap sebagai mahar dari pihak lain. Jenis pernikahan ini kemudian dihapuskan dalam Islam tanpa syarat.

23 Nasaruddin Umar, Fikih Wanita Untuk Semua, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010), cet. Ke-1, h. 79

(29)

9 ritual pernikahan yang harus mereka jalani, baik pra pernikahan maupun pasca pernikahan.Salah satu ritual upacara pernikahan itu adalah tradisi pisuke yang dilakukan sebelum terjadinya akad. Pisuke adalah sejumlah uang yang harus diberikan oleh keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan ketika akan meminta perempuan itu pada walinya. Jumlah pisuke ini biasanya ditentukan ketika laki-laki melamar seorang gadis pada orang tuanya.25

Dalam adat perkawinan Sasak dikenal ada beberapa tahapan yang harus dilewati:

1. Midang (meminang), termasuk bagian dari midang ini adalah ngujang (ngunjungi pacar diluar rumah), dan bejambe‟ atau mereweh (pemberian barang kepada calon perempuan untuk memperkuat hubungan).

2. Merari‟ (melarikan calon pengantin perempuan). Pihak laki-laki harus mencuri (melarikan) calon pengantin perempuan, hal ini dilakukan untuk menjaga martabat (harga diri) keluarga. Ada tradisi hidup adat Sasak yang beranggapan bahwa “memberikan perempuan kepada laki-laki tanpa proses mencuri itu sama halnya dengan memberikan telur atau seekor ayam”.26

3. Selabar (nyelabar), mesejati, mbait wali. Pihak laki-laki harus melaporkan kejadian kawin lari itu kepada kepala dusun tempat pengantin perempuan tersebut tinggal, yang dikenal dengan istilah selabar (nyelabar). Kemudian utusan laki-laki memberitahukan langsung kepada keluarga pihak perempuan tentang kebenaran terjadinya perkawinan itu yang biasa dikenal dengan mesejati. Agar perkawinan itu bisa terlaksana menurut hukum Islam, keluarga pengantin laki-laki melakukan tradisi mbait wali, yakni permintaan keluarga laki-laki supaya wali dari pihak perempuan menikahkan anaknya dengan cara Islam. Selabar, mesejati dan mbait wali merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, sebab dengan tiga proses ini perkawinan baru dapat dilaksanakan secara Islam.

Dalam proses mbait wali ini dilakukan pembicaraan (tawar- menawar) uang pisuke (jaminan) dan mahar.27

4. Pelunasan uang jaminan dan mahar.Pihak laki-laki dituntut untuk membayar uang jaminan kepada pihak keluarga perempuan. Jika

25 Muslihun, Pergeseran Pemaknaan Pisuka/Gantiran Dalam Budaya Merari‟- Sasak Lombok, (Banjarmasin: Annual Conference On Islamic Studies [ACIS], 2010), h. 1

26 Muslihun, Pergeseran Pemaknaan Pisuka/Gantiran Dalam Budaya Merari‟- Sasak Lombok, h. 2

27 Muslihun, Pergeseran Pemaknaan Pisuka/Gantiran Dalam Budaya Merari‟- Sasak Lombok, h.2

(30)

10

pihak laki-laki tidak dapat memberikan uang jaminan, dapat dipastikan perkawinan akan gagal.

5. Setelah pelunasan pembayaran uang jaminan, barulah dilakukan akad nikah dengan cara Islam.

6. Sorong doe atau sorong serah, yakni acara pesta perkawinan atau resepsi pernikahan pada waktu orang tua si gadis akan kedatangan keluarga besar mempelai laki-laki, yang semua biaya menjadi tanggung-jawab pihak laki-laki.

7. Nyondolan yaitu mengantarkan kembali calon mempelai perempuan kepada keluarganya. Biasanya dalam acara ini pasangan pengantin diarak keliling kampung dengan berjalan kaki diiringi musik tradisional (gendang belek dan kecimol).28

Semua proses pernikahan ini harus dilaksanakan berurutan, tidak boleh ada yang terlewati.

Selain di Indonesia, ada beberapa Negara yang berpenduduk muslim, telah menetapkan peraturan yang berkaitan dengan mahar berdasarkan nominalnya. Diantara peraturan itu adalah hukum keluarga Yaman Selatan (1974) menyebutkan bahwa mahar yang dilaksanakan secara tunai dan tunda tidak melibihi 100 Dinar. Adapun hukum keluarga di Somalia (1975) juga menetapkan batas nominal tertinggi mahar, disebutkan bahwa pengantin wanita berhak menentukan jumlah mahar, dan batas tertingginya adalah 1000 Shilling Somalia atau dalam bentuk lain dengan senilai jumlah uang tersebut.Kemudian dalam penjelasannya dinyatakan bahwa pembatasan itu tidak menghendaki bahwa pemberian kurang dari nilai itu tidak dapat diberikan.29

Jumhur ulama tidak memberikan ketetapan mengenai format atau bentuk mahar dan batas nominal tertinggi atas mahar, akan tetapi ulama telah menetapkan mengenai batas terendah jumlah mahar sekalipun mereka berbeda pendapat tentang hal tersebut.30 Terkait dengan batasan terendah, pendapat yang rajih memastikan bahwa tidak ada pula batasan

28 Muslihun, Pergeseran Pemaknaan Pisuka/Gantiran Dalam Budaya Merari‟- Sasak Lombok, h. 2

29 M. Afzal Wani, The Islamic Institution of Mahr, (New delhi: Upright Study Home, 1996), h. 219

30 Dalam pandangan fuqaha ditemukan perbedaan penetapan mengenai batas minimal mahar, yaitu: Mazhab Hanafi menetapkan batasan mahar 10 dirham; dengan menganalogikan pada batas minimal nilai harta dari hasil curian yang dapat dikenakan sanksi, Mazhab Maliki berpendapat bahwa mahar batas minimalnya adalah seperempat dinar dari emas atau tiga dirham perak atau berupa barang yang sesuai dengan harga itu dan bukan dari najis, Mazhab Syafi‟i dan Hambali berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal mahar, dengan menganalogikannya pada jual beli,setiap sesuatu yang sah untuk diperjual

(31)

11 terendah dari mahar yang harus dibayarkan kepada mempelai wanita.

Mahar bisa berupa apa saja yang disebut “mâl” (uang/harta) atau apa yang bisa dinilai dengan uang (jasa) selama kedua belah pihak sama- sama ridha, ini adalah pendapat Imam Syafi‟i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, al-Jauzi, al-Laits, Ibnu Musayyab, dll. Bahkan Ibnu Hazm membolehkan semua hal yang bisa dibelah sebagai mahar, meskipun hanya sebiji gandum.31

Bahkan mahar boleh berupa sesuatu yang memiliki nilai material maupun immaterial, dan inilah yang disepakati oleh dalil-dalil yang ada dan sesuai dengan pengertian yang benar dari pensyariatan mahar sebab substansi mahar bukanlah sebagai kompensasi yang bersifat materi saja, akan tetapi lebih merupakan simbolisasi keinginan dan ketulusan niat untuk hidup bersama dalam biduk rumah tangga sehingga mahar boleh diwujudkan dalam bentuk uang/materi, dan dalam bentuk sesuatu yang memiliki nilai immaterial, selama mempelai wanita ridha, sebab mahar pada dasarnya adalah hak wanita yang bisa diambil manfaatnya.

Lynn Welchman mengatakan, faktor-faktor yang difokuskan responden pria saat menetapkan mahar adalah sebagai berikut: status keuangan dari pengantin pria, status keuangan dari keluarga pengantin wanita, kecantikan pengantin wanita, tingkat pendidikan dan status profesionalnya. Nilai yang lebih tinggi yang ditempatkan oleh laki-laki perkotaan pada faktor dua terakhir karena mereka mempengaruhi partisipasi potensi pasangan tersebut dalam tanggung jawab keuangan keluarganya.32

Padahukum adat Lombok dalam menentukan mahar dibedakan dari nasab keturunan bangsawan, masyarakat Lombok biasa, dan campuran (bukan sesama masyarakat Lombok). Di Lombok, kalangan bangsawan paling tinggi tingkatannya bermarga Lalu (bagi laki-laki) dan Baiq (bagi perempuan). Tetapi yang sampai sekarang masih banyak digunakan penetapan mahar seperti ini adalah dari kalangan bangsawan.

Alasan dibedakannya itu karena rasa gengsi dari para bangsawan itu sendiri, agar tidak sama dengan masyarakat biasa.33

Hal-hal diatas yang melatar belakangi penulis untuk meneliti dan mencermati kembali masalah mahardan adat Lombok, kalau menurut masyarakat Lombok, mahar ini merupakan suatu hal yang harus dilaksanakan sebelum akad pernikahan dilangsungkan, karena jika tidak

31 Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm Al-Andalusiy, al-Muhalla fî Syarẖ al-Mujallâ bi al-Hujjâj wa al-Atsar, (tt.p.: Baitul Afkar ad-Dauliyah, 2009), Jilid: 9, h. 494

32 Lynn Welchman, Women‟s Right and Islamic Family Law: Persfectives on Reform, (New York: Zed Book LTD, 2004) h. 50

33 Lalu Reza, Wawancara Via SMS, 18 Juni 2012

(32)

12

ada kesepakatan yang pasti tentang jumlah maharyang harus diberikan pada keluarga perempuan, maka pernikahan pun bisa tertunda sangat lama, bahkan bisa-bisa pernikahan tidak akan terjadi jika keluarga laki- laki menolak membayar maharsesuai dengan permintaan keluarga perempuan, maka tidak jarang persoalan ini akan berakhir di meja hijau, karena wali perempuan biasanya tidak bersedia menikahkan anaknya jika maharyang diminta tidak dipenuhi. Pada dasarnya tidak ada sanksi adat untuk orang yang tidak membayar pisuke dan gantiren, tetapi biasanya memungkinkan adanya pembatalan pernikahan dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki bila tidak membayar pisuke dan gantiren.

Ada beberapa dampak yang ditimbulkan oleh tradisi ini, antara lain: hutang yang menumpuk.34 Untuk melangsungkan pernikahan harus berhutang kepada orang lain, dampak lainnya yaitu terjadi pencurian atau perampokan. Ketika seorang laki-laki tidak diperkenankan menikah karena dia tidak mampu membayar mahar, maka untuk memenuhi hajatnya karena rasa cinta yang di miliki pada perempuan itu sangat besar, dia akan mengambil jalan pintas dengan mencuri atau merampok agar bisa memberikan uang kepada keluarga perempuan. Ada juga dampak yang paling tragis yang ditimbulkan oleh tradisi ini yaitu pada psikis seseorang, yakni stres karena dia tidak dapat menikah dengan perempuan yang dia cinta. Dan masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan oleh tradisi ini.35 Untuk itu penulis tertarik untuk membahasnya secara terperinci dalam judul tesis “PENETAPAN MAHAR DALAM PERNIKAHAN DI LOMBOK (Studi Hukum Adat dan Hukum Islam)”.

B. Permasalahan:

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian tentang fenomena penetapan mahar melalui hukum adat yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah diatas, maka dapat penulis uraikan beberapa masalah terkait pembahasan tersebut, antara lain:

a. Bagaimanakah konsep mahar dalam perkawinan menurut Islam?

b. Bagaimanakah sejarah pemberlakuan mahar adat yang ada di Lombok?

c. Bagaimanakah hukum Islam memandang mengenai penetapan mahar dalam masyarakat Lombok?

d. Bagaimanakah pandangan ulama klasiktentang mahardan perkawinan?

(33)

13 2. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas agar pembahasan tesis ini lebih terarah maka penulis membataskan pembahasannya pada pandangan hukum Islam terhadap penetapan mahar hukum adat di Lombok. Untuk itu dalam tesis ini penulis akan membahas lebih lanjut tentang:

a. Konsep mahar dalam perkawinan menurut Islam

b. Sejarah pemberlakuan mahar hukum adat yang ada di Lombok c. Pandangan hukum Islam mengenai penetapan mahar di Lombok 3. Perumusan Masalah

Sesuai dengan isi dari pembatasan masalah yang telah dijelaskan, maka dalam permasalahan ini penulis merumuskan permasalahan, apakah praktek pemberian mahar di Lombok sesuai dengan hukum Islam? Untuk menjawab masalah utama tersebut, maka dirumuskan masalah turunan sebagai berikut:

a. Bagaimanakah konsep mahar dalam Islam?

b. Bagaimanakah sejarah pemberlakuan mahar hukum adat yang ada di Lombok?

c. Bagaimanakah hukum Islam memandang penetapan mahar di daerah Lombok?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang hendak diperoleh setelah penelitian selesai dilakukan.36

Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka hal-hal yang ingin dicapai peneliti dari hasil penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui konsep mahar dalam Islamsecara mendalam dalam suatu ikatan pernikahan.

2. Mengetahui sejarahmahar hukumadat yang ada di Lombok.

3. Menemukan beberapa tanggapan dalam pandangan hukum Islam pada penetapan mahar adat di Lombok.

D. Manfaat Penelitian 1. Teoritis:

a. Penelitian ini selain bermanfaat sebagai sumbangan informasi terhadap perbendaharaan ilmu, juga diharapkan bermanfaat untuk memberikan informasi kepada pembaca bahwa seharusnya mahar

36Suharismi arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT.

Rieneka Cipta, 2002), h. 51

(34)

14

adat, pisuke dan gantiren itu tidak dibatasi, sehingga tidak menghalangi orang yang ingin melangsungkan akad pernikahan.

b. Sebagai kontribusi bagi pengembangan khazanah keilmuan, khususnya dalam bidang hukum Islam memandang penetapan suatu mahar.

c. Sebagai referensi bagi mahasiswa akademisi dalam mengembangkan dasar-dasar hukum penetapan mahar dalam Islam, dan

2. Praktis:

a. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi pembaca yang berasal dari Lombok khususnya dan pembacalain pada umumnya agar tidak mempersulit pernikahan dengan membatasi jumlah mahar.

b. Sebagai bahan renungan dan pelajaran untuk penulis dalam meminta mahar kepada calon suami agar tidak melampaui batas kemampuan pihak laki-laki.

E. Metodologi Penelitian

Dalam pengumpulan data/bahan penulisan tesis ini agar mengandung suatu kebenaran yang objektif, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, dan di awali dengan telaah bahan pustaka dan literatur. Penetapan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam bentuk desain deskriptif dan metode pengumpulan data dengan cara observasi. Deskriptif menurut pengertiannya adalah: penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (penulisan: gambaran) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam pengertian ini penelitian deskriptif menggunakan data dasar deskriptif semata, tidak perlu mencari atau menerangkan saling berhubungan, menguji hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi.37

2. Pendekatan Penelitian

Adapun tipe atau pendekatan penelitian ini adalah sehubungan dengan konotasi yang berkaitan dengan hukum adat istiadat atau konstruk sosial masyarakat, yang kemudian dikolaborasikan dengan hukum Islam yang secara spesifik adalah merupakan kajian fikih, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi agama

(35)

15 yang meliputi: stratifikasi sosial, biososial (perkawinan dan keluarga), keyakinan adat dan keagamaan, serta praktik kehidupannya. Dari pendekatan sosiologi agama tersebut dapat diambil beberapa obyek penelitian, seperti: pengaruh hukum agama Islam terhadap perubahan masyarakat yang masih sangat menjunjung tinggi hukum adat, perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran atau konsep keagamaan, dan pola interaksi sosial antara bangsawan dengan orang biasa. Begitu pula untuk melihat negosisasi antara hukum adat dan hukum agama Islam, maka untuk mempertajam kajian ini, penulis akan menganalisisnya dengan menggunakan pendekatan Ushûl al- Fiqh, sehingga dapat melihat konsep mahar dengan lebih mendalam dalam keterkaitannya dengan hukum Islam dan hukum adat.

Melalui pendekatan tersebut, kajian ini mencoba mencari temuan-temuan berupa fakta sosial untuk memberikan gambaran hukum yang lebih realistis dan tidak hanya diterapkan dalam proses- proses penciptaan hukum (in abstracto) akan tetapi juga ditetapkan dalam proses-proses penemuan hukum (in concreto).38

3. Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersumber dari:

a. Data Primer

Merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber yang bersangkutan. Penulis melakukan observasi dan wawancara langsung dan tidak langsung yaitu dengan wawancara melalui SMS dan chatting dengan orang-orang Lombok yang berada di Lombok maupun yang sedang berada di luar Lombok.

Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman wawancara yang sistematik guna mendapatkan keterangan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

b. Data sekunder

Data sekunder digunakan untuk mendukung data primer, yaitu antara lain dokumentasi dan kajian-kajian buku yang berhubungan dengan materi penelitian.

4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penulisan ini, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

38Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h. 78-79

(36)

16

a. Penelitian Kepustakaan (library research)

Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data-data atau bahan-bahan dari berbagai daftar kesusastraan yang ada. Dengan cara membaca, mempelajari, mencatat dan merangkum teori-teori yang ada kaitannya dengan masalah pokok pembahasan melalui buku-buku, tesis terdahulu, artikel, internet dan media lainnya yang berhubungan dengan pembahasan penelitian ini.

b. Penelitian Lapangan (field research)

Penelitian ini menitik beratkan pada hasil pengumpulan data dari informan yang ditentukan.39

5. Teknik Pengolahan Data

a. Seleksi Data: setelah memperoleh data dan bahan-bahan baik melalui library research atau field research, lalu data diperiksa kembali satu persatu agar tidak terjadi kekeliruan.

b. Klasifikasi Data: setelah data diperiksa lalu diklasifikasikan dalam bentuk dan jenis tertentu, kemudian diambil suatu kesimpulan.

F. Studi Pustaka

Berdasarkan telaah sementara yang telah dilakukan dari sumber kepustakaan, penulis mendapatkan beberapa karya ilmiah dalam bentuk tesis terdahulu yang sedikit bersinggungan dengan tema yang sedang penulis dalami yakni mahar adat atau pisuke, yaitu:

1. Tesis yang disusun pada tahun 2004 oleh Muhammad Harfin Zuhdi (NIM: 01.200.1.01.01.0024), mahasiswa pasca Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “Parokialitas Adat Islam di Desa Bayan Beleq Kecamatan Bayan Lombok Barat Nusa Tenggara Barat”. Dalam tesis ini membahas tentang pernikahan adat suku Sasak di desa Bayan, dan didalamnya hanya sekilas membahas tentang mahar hukum adat danpisuke, jadi tidak dibahas secara mendalam, karena tesis ini fokus kepada adat Wetu Telu dan Waktu Lima yang ada di desa Bayan.

2. Tesis yang disusun pada tahun 2011 oleh Muhammad Indra Permana (08.2.00.0.01.01.0047), mahasiswa pasca Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “Hukum Islam dan Tradisi Lokal Konsep kafâ‟ah dan Relasi Sosial Budaya Warga Hadhramawt”. Tesis ini membahas tentang konsep kafȃ‟ah dan relasi sosial budaya warga Hadhramawt, adanya hubungan resiprokal yang

(37)

17

terjalin antara agama dan tradisi lokal sehingga konsep kafȃ‟ahdalam Islam mengalami proses pengadopsian.

3. Tesis yang disusun pada tahun 2006 oleh Ayub Mursalin (02.2.00.1.01.01.0029), mahasiswa pasca Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul “Penerapan Sanksi Atas Timdakan Pidana Perzinahan, Pembunuhan, dan Pencinderaan di Jambi (Studi Tentang Tarik-menarik Antara Hukum Adat dan Hukum Islam)” tesis ini membahas kehidupan keberagamaan masyarakat Jambi masih di penuhi dengan kepercayaan terhadap dewa-dewa dan roh-roh leluhur yang di implimentasikan dalam ritual pemujaan dengan memberikan berbagai macam bentuk sesaji. Apabila terjadi pelanggaran kesusilaan seperti perzinahan dan pembunuhan maka akan dilakukan upacara cuci kampong berupa prosesi penyerahan hewan qurban agar roh-roh dan dzat ghaib lainnya tidak mendatangkan petaka. Maka siapapun yang hidup di lingkungan atau wilayah adat Jambi harus menjunjung tinggi adat tersebut.

Dari telaah pustaka diatas, maka penulis beranggapan bahwa penelitian mahar adat di Lombok masih perlu ditindak lanjuti lebih jauh, karena penelitian terdahulu hanya membahas pernikahan adat dan hukum adat lainnya, belum ada yang membahas masalah mahar adattersebut. Oleh karenanya penulis mencoba memaparkan lebih dalam dan terperinci tentang mahar adat di Lombok.

G. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan, terdiri dari: latar belakang masalah, identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian (jenis penelitian, pendekatan penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik pengolahan data), studi pustaka, dan sistematika penulisan.

BAB II :Kerangka Adat dalam Hukum Islam, terdiri dari: penjelasan tentang istilah mahar yang di dalamnya terdapat pengertian mahar, dalil hukum mahar, syarat dan macam-macam mahar, lalu setelah itu ada istilah hukum adat, dan istilah hukum Islam.

BAB III : Tradisi Mahar Adat di Lombok, terdiri dari: sejarah Lombok, istilah mahar di Lombok, mahar menurut hukum Islam dan mahar menurut hukum adat.

BAB IV : Praktik Mahar di Lombok, terdiri dari: penetapan mahar di Lombok, mahar, pisuke dan gantiren sebagai syarat wajib

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait