Ringkasan: Produksi benih rajungan menghadapi permasalahan yaitu rendahnya tingkat kelangsungan hidup dan tingginya tingkat kematian larva rajungan (Portunus Pelagicus) yang sedang dalam proses peralihan ke tahap berikutnya. Frekuensi pemberian pakan yang tepat pada larva rajungan yang terbaik untuk kelangsungan hidup larva rajungan adalah 3 kali sehari. Salah satu penyebab tingginya angka kematian larva rajungan adalah rendahnya kualitas pakan (Effendi, 2005: Aryati 2018).
Morfologi Rajungan
Upaya untuk meningkatkan kelangsungan hidup zoeal pada krustasea dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pakan alami melalui pengayaan. Pengayaan merupakan pemberian nutrisi penting untuk perkembangan larva (Jusadi dkk, 2011), salah satunya dengan menggunakan beta karoten. Sampai saat ini penelitian mengenai penggunaan betakaroten, khususnya yang berasal dari bahan alami wortel, untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva kepiting masih terbatas.
Habitat Rajungan
Perbedaan lainnya adalah pada warna dasar, kepiting jantan berwarna kebiruan dengan bintik-bintik putih cerah, sedangkan kepiting betina berwarna dasar kehijauan dengan bintik-bintik putih agak kusam. Kandungan energi pakan tergantung pada komposisi kimianya, dengan nilai kalor protein, lipid dan karbohidrat masing-masing sebesar 4,11 kkal/g, dimana total kandungan pakan yang diperoleh dengan mengukur nilai kalori disebut energi kotor (Watanabe, 1988). Pada bagian kepala terdapat semacam tanduk memanjang, matanya besar dan pada ujung kakinya terdapat rambut.
Siklus Hidup Rajungan
Pertumbuhan Larva Rajungan
Waktu yang dibutuhkan larva kepiting untuk berubah dari stadium zoea ke kepiting berkisar antara 17-19 hari. Menurut Kasry (1996), metamorfosis kepiting dari Zoea ke Megalopa umumnya memakan waktu sekitar hari, dengan waktu yang dibutuhkan untuk setiap stadia Zoea umumnya 3-5 hari, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk Megalopa adalah 7-12 hari. Perubahan stadium larva melalui proses molting pada stadium zoea dan megalopa terjadi melalui pembelahan pada batas punggung antara sefalotoraks dan perut.
RNA/DNA
Sapling terjadi karena exoskeleton yang menutupi tubuh tidak dapat tumbuh lagi sehingga harus dibuang dan diganti dengan yang lebih besar. Jumlah sel dapat diperkirakan dari konsentrasi DNA dalam jaringan, sedangkan konsentrasi RNA dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran sel. Kandungan DNA dalam sel relatif konstan, sedangkan konsentrasi RNA berfluktuasi seiring dengan sintesis protein.
Teknik Pembenihan Rajungan a. Pakan Mdan Pengolahan Air
Beta-karoten merupakan salah satu bentuk karotenoid, suatu zat yang disintesis oleh tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik sebagai sumber warna kuning, jingga dan merah bagi tumbuhan (Taylor, 1996). Beberapa prosedur yang biasa dilakukan dalam ekstraksi betakaroten adalah operasi pemilahan dan penghancuran bahan, penekanan sari buah, koagulasi protein, sedimentasi, sentrifugasi dan ekstraksi dengan pelarut organik, filtrasi, pencelupan, penguapan dan kristalisasi. Metode sederhana dan efektif untuk mengekstraksi beta-karoten yang biasa dilakukan adalah ekstraksi menggunakan unit enzimatik soxhlet berbantuan ultrasound (Maleta, 2018).
METODE
- Jenis Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Jenis dan Sumber Data a) Data primer
- Teknik Pengumpulan Data
- Bahan Penelitian a) Hewan Uji
- Prosedur penelitian
- Peubah Penelitian
Sebanyak 1 ml minyak ikan dan minyak jagung dengan dosis masing-masing 15% dan 85% ditambahkan 0,1 g kuning telur, dimasukkan ke dalam 200 ml air dan diemulsi selama 2 menit (Suprayudi dkk. 2002). Sebanyak 1 ml minyak ikan dan minyak jagung dengan dosis masing-masing 15% dan 85% ditambahkan 0,1 g kuning telur, dimasukkan ke dalam 200 ml air dan diemulsi selama 2 menit (Suprayudi dkk. 2002). Setelah media teremulsi, dimasukkan ke dalam bejana pengayaan yang berisi Artemia sp. berisi nauplius.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Lokasi Studi
Hasil Penelitian a) Kelangsungan Hidup
Hasil analisis varian menunjukkan bahwa frekuensi pemberian pakan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan larva rajungan. Hasil uji lanjutan W/Tuckey menunjukkan bahwa pertumbuhan larva rajungan dengan frekuensi pemberian pakan dua kali tidak berbeda nyata (p>0,005) pada frekuensi 3. Hasil analisis varian menunjukkan bahwa frekuensi pemberian pakan mempunyai pengaruh yang berbeda nyata (p>0,005) pada frekuensi 3. pengaruh nyata nyata (P<0,01) pada rasio RNA/Tuckey.DNA larva kepiting.
Pembahasan Hasil Penelitian a. Kelangsungan Hidup
Hal ini dibenarkan oleh Susanto dan Setyadi (2008) yang menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva rajungan berbeda-beda sesuai dengan sifat kanibal larva rajungan yang akan memangsa larva lainnya. Suhu air selama penelitian berkisar antara 28-30°C, merupakan kisaran yang cukup baik untuk kelangsungan hidup larva kepiting. Nilai tersebut masih tergolong normal, hal ini didukung oleh pendapat Juwana dan Romimohtarto (2000), bahwa suhu yang tepat untuk larva kepiting stadium megalopa berkisar antara 28-34ºC.
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Penemuan “jadwal” pemberian pakan buatan yang mengandung fitoektisteroid untuk mengatasi sindrom molting pada metamorfosis larva kepiting (Portunus pelagicus). Investigasi kesuburan, embriologi dan perkembangan larva rajungan Portunus Pelagicus (Linnaeus, 1758) dalam kondisi laboratorium, Jurnal Penelitian Perikanan dan Hidrobiologi. Effendy dan Kadir Sabilu, 2013, Ketahanan Larva Stadia Megalopa (Portunus pelagicus) dengan Kombinasi Pakan Alami.
PENDAHULUAN
- Klasifikasi dan Morfologi Rajungan
- Siklus Hidup
- Pakan
- Vitamin C
- Sintasan
- Metamorfosis
- Rasio DNA/RNA
- Ketahanan Stres
- Kualitas Air
Menurut Effendy dkk, (2005) rotifer diberikan kepada larva rajungan stadium zoea dengan kepadatan 10-15 ekor/ml dari stadium zoea I. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemeliharaan larva rajungan adalah faktor lingkungan karena sangat menentukan kelangsungan hidup larva rajungan. kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Salinitas merupakan salah satu parameter kualitas air yang sangat mempengaruhi kelangsungan hidup larva kepiting.
METODE 1. Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Instrumen Penelitian
- Jenis dan Sumber Data a. Data Primer
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data a. Sintasan
- Analisis Data
- Defenisi Oprasional
Menurut Jamal (2019), kandungan amoniak yang bervariasi mulai dari ppm masih merupakan batas optimal bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva kepiting. Selama penelitian diamati laju metamorfosisnya, dilakukan pengambilan sampel survival pada setiap perubahan stadium zoea, dan pada akhir penelitian dilakukan uji ketahanan terhadap stres dan rasio RNA/DNA larva kepiting. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian vitamin C pada larva kepiting stadium zoea.
Untuk mengukur kandungan vitamin C rotifera, dilakukan pengukuran larva Artemia dan kepiting dengan menggunakan metode iodimetri. Uji ketahanan larva rajungan terhadap stres dan pengukuran rasio RNA/DNA hasil analisis laboratorium di akhir penelitian. Pada pengujian ini dilakukan pengukuran ketahanan larva kepiting terhadap guncangan osmotik yang dilakukan pada akhir penelitian.
Larva rajungan sebanyak 10-20 ekor dimasukkan ke dalam tabung ependof 1,5 ml dan ditambahkan larutan buffer GT sebanyak 900 μl. Supernatan kemudian dipindahkan ke tabung ependof baru berukuran 1,5 ml hingga 500 μl dan rasio RNA/DNA terhadap larva kepiting kemudian diukur menggunakan metode Nano droplet. Sebagai data pendukung, dilakukan pengukuran beberapa parameter fisik dan kimia pada media pemeliharaan larva rajungan, antara lain suhu, pH, oksigen terlarut dan amonia.
Pengambilan sampel uji penelitian kandungan vitamin C rotifera, artemia dan larva kepiting dianalisis pada awal dan akhir penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Hasil Penelitian
- Pembahasan
- Saran
Hasil analisis kandungan vitamin C pada rotifera, artemia dan larva kepiting pada dosis vitamin C berbeda ditunjukkan pada tabel 4.1. Kurva hubungan dosis vitamin C dengan ketahanan stres pada larva rajungan dapat dilihat pada gambar 4.4. Hasil uji lanjutan W-Tuckey menunjukkan kandungan vitamin C pada rotifera, artemia dan larva rajungan berbeda nyata (p<0,05) pada setiap perlakuan (Lampiran 3, 5 dan 7).
Tingginya kandungan vitamin C rotifera, artemia dan larva rajungan pada dosis 250 ppm menunjukkan bahwa dosis tersebut merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan kandungan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vitamin C pada rotifera, artemia dan larva rajungan dapat meningkatkan kadar vitamin C pada rotifera, artemia dan larva rajungan. meningkatkan kandungan vitamin C rotifera, artemia dan larva kepiting. Hasil analisis varian menunjukkan pemberian vitamin C memberikan pengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap rasio RNA/DNA larva rajungan.
Pemberian vitamin C 250 ppm pada larva kepiting stadium zoea menunjukkan bahwa dosis tersebut memiliki rasio RNA/DNA yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Tingginya rasio RNA/DNA terhadap larva kepiting akan berdampak pada peningkatan performa dan kualitas larva kepiting. Semakin tinggi rasio RNA/DNA maka semakin besar pula kelangsungan hidup, laju metamorfosis dan ketahanan terhadap stres larva kepiting.
Berdasarkan hasil analisis varian menunjukkan bahwa pemberian Vitamin C berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap ketahanan stres larva rajungan. Tingginya tingkat stres larva rajungan pada dosis 0 (kontrol) disebabkan karena tidak adanya pasokan vitamin C pada pakan yang diberikan. Dalam pemeliharaan larva rajungan sebaiknya menggunakan dosis vitamin C 250 ppm untuk meningkatkan kelangsungan hidup, kecepatan metamorfosis dan ketahanan terhadap stres larva rajungan stadium zoea.
- Lokasi dan Waktui Penelitian i
- Populasi dan Sample
- Instrumen Penelitian a) Wadah”penelitian
- Variable Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data i
- Analisa Data”
- Definisi Operasional a. Fermentasi Probiotik
Organisme uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih postlarva 10 ekor ikan udang vanname (Litopenaus Vanname) dengan berat rata-rata 0,2±0,5 g, berumur 25 hari pasca penetasan. Selama penelitian, pemberian pakan Benih Udang Vanname merupakan pakan komersial dengan komposisi 23% protein, 5% lemak, 13% abu, 8% serat dengan kadar air 12% yang difermentasi dengan probiotik sesuai perlakuan dalam penelitian. . Beberapa hewan coba ditempatkan pada wadah perlakuan sehingga diperoleh data yang merupakan parameter penelitian yang terukur seperti SGR (Specific Growth Rate) dan Survival Rate, serta Feed Conversion Ratio (FCR) pada udang Vanname.
Pengendalian kualitas air dilakukan setiap hari dan memisahkan udang vannamei yang mati dari media penelitian. Pengukuran panjang dan berat badan dilakukan dengan cara menyendok udang nama belakang kemudian dimasukkan ke dalam baskom berisi air, kemudian ditimbang satu persatu dengan alat ukur berat badan digital dan diukur panjang badannya dengan penggaris lalu diambil hasil pengukurannya. tercatat. Pengambilan sampel dilakukan setiap 6 hari sekali untuk mengetahui bobot harian udang vanname, laju pertumbuhan dan kebutuhan pakan.
Tingkat kelangsungan hidup udang vannamei dilakukan pada masing-masing wadah penelitian, diukur pada awal dan akhir kegiatan percobaan (Effendi, 2002) dengan menggunakan rumus di bawah ini. Salinitas media budidaya udang vannamei diukur dengan refraktometer genggam dengan ketelitian 0,1 ppt, suhu dengan termometer air raksa dengan ketelitian 0,10C, pH meter dengan ketelitian 0,01, kelarutan oksigen diukur dengan DO meter dengan ketelitian 0 ,01, kadar Nh3 diukur dengan spektrofotometer. Data hasil penelitian meliputi laju pertumbuhan spesifik dan laju kelangsungan hidup akan dianalisis di excel dan ditampilkan dalam tabel dan grafik dan dilanjutkan dengan ANOVA.
Laju pertumbuhan harian (SGR) adalah persentase pertambahan bobot udang setiap hari selama pemeliharaan, laju pertumbuhan harian ditunjukkan dalam satuan persentase.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Laju Pertumbuhan Spesifik
- Tingkat Kelangsungan Hidup
- Feed Convention Rate
- Kualitas Air
- Budidaya Ikan Nila”
- Pertnumbuhan dan Tingkat kelangsungan Hidup
- Hormon Pertumbuhan”
- Hormon Tiroksin
- Jenis Penellitian”
- Lokasi dan Jadwal Penelitian”
- Populasi dan Sampel”
- Variabel Penelitian
- Jenis dan Sumber Data”
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Pengambilan Sampel
- Teknik Analisis Data”
- Definisi Operasional
- Kelangsungan Hidup Ikan Nila
- Kualitas Air
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk “mengetahui pengaruh hormon tiroksin terhadap” pertumbuhan ikan nila asin dengan beberapa konsentrasi berbeda dan secara oral. Lesmana 2010, menyebutkan bahwa penggunaan rGh Kerapu Kertang dengan metode injeksi mampu meningkatkan bobot ikan nila sebesar 20,94%. Amri dan Khairuman, (2003) mengatakan bahwa Ikan Nila Salin masih mempunyai ciri-ciri seperti nenek moyangnya yaitu bersifat omnivora yaitu memakan apa saja.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) mempunyai kebiasaan makan pada saat nafsu makan sedang tinggi dan biasanya makanan yang diberikan cepat habis. Hariadi (2005) mengemukakan bahwa bahan pakan yang berbahan dasar limbah namun mempunyai nutrisi yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan ikan nila sangat menguntungkan bila digunakan sebagai pakan produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) secara intensif, karena budidaya ikan nila yang intensif memerlukan sumber daya yang stabil. persediaan makanan. ekonomis dan berkelanjutan. Selanjutnya pada kelas krustasea Santiesteban dkk. 2012) melakukan transformasi hormon pertumbuhan dari ikan nila menjadi udang vannamei (Litopenaieus vannemei).
Lebih lanjut dikatakan bahwa setiap jenis ikan mempunyai kisaran suhu yang berbeda-beda untuk kelangsungan hidupnya, ikan nila diketahui berada pada kisaran suhu 25 – 30°C. Arie, U (1999) mengatakan ikan nila dapat mempunyai kemampuan hidup pada kisaran suhu yang panjang antara 140C sampai 380C. Penelitian ini menganalisis efektivitas penggunaan hormon tiroksin dengan konsentrasi berbeda terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan nila air asin (Oreochromis nilioticus).
Penggunaan hormon tiroksin pada hewan uji ikan nila garam dilakukan dengan mengikuti metode Handoyo dkk, (2012). Perbedaan yang nyata pada benih ikan nila asin terhadap laju pertumbuhan harian disebabkan karena adanya pengaruh penambahan hormon tiroksin tanpa kontrol perlakuan menunjukkan bahwa hormon tersebut sangat mempengaruhi pertumbuhan pertumbuhan. Kelangsungan hidup ikan nila yang dipelihara secara terkontrol pada setiap perlakuan menunjukkan nilai yang berbeda-beda seperti terlihat pada grafik batang di bawah ini.