• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Peta Jalan Siak Menuju - Jikalahari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Peta Jalan Siak Menuju - Jikalahari"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

Distrik Hijau yang dimaksud adalah kabupaten yang mendorong prinsip keberlanjutan dan keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam (SDA) dan peningkatan perekonomian masyarakat. Tujuan Siak sebagai Kabupaten Hijau adalah mengedepankan prinsip keberlanjutan jangka panjang dalam pemanfaatan sumber daya alam (SDA) dan peningkatan perekonomian masyarakat. Untuk kawasan industri, arah kebijakan Kabupaten Siak Hijau adalah sebagai berikut: a) Tidak ada izin baru bagi perusahaan di sepanjang Sungai Siak;

Tabel 1. Perizinan HTI dan HGU di Kabupaten Siak
Tabel 1. Perizinan HTI dan HGU di Kabupaten Siak

Zonasi Konservasi

Kawasan Konservasi Tahura SSH mempunyai potensi destinasi ekowisata yaitu wisata alam, kawasan penelitian, untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Keanekaragaman jenis flora dan fauna yang saat ini sulit ditemukan di Provinsi Riau menjadi daya tarik tersendiri bagi Kawasan Konservasi Tahura SSH. Selain keanekaragaman jenis flora, kawasan Tahura SSH juga mempunyai keanekaragaman jenis fauna yang cukup tinggi.

Gambar 4. Peta Sebaran Konsesi di Zona Konservasi
Gambar 4. Peta Sebaran Konsesi di Zona Konservasi

Zonasi Tanaman Pangan

Pada tahun 2018, pemanfaatan lahan sawah pada kecamatan zona tanaman pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. Luas lahan sawah yang dominan pada Zona Tanaman Pangan berada di Kecamatan Bunga Raya yaitu 2.207 hektar. Beberapa perusahaan diketahui dari peta sebaran Konsesi pada Zona Tanaman Pangan yaitu seperti pada tabel 5 dibawah ini.

Tabel 3. Luasan Lahan Sawah di Zona Tanaman Pangan
Tabel 3. Luasan Lahan Sawah di Zona Tanaman Pangan

Zonasi Perkebunan dan Kehutanan

I figur 8, kort over koncessionsfordeling i plantage- og skovzoner med koncessioner som i tabel 6 nedenfor. 7 PT Ivomas Tunggal 7 PT Nasional Timber & Forest Products 8 PT KTU (Kimia Tirta Utama) 8 PT Riau Abadi Lestari. 9 PT Langgam Harmoni 9 PT Riau Andalan Pulp & Paper 10 PT Meridan Sejati Surya Plantations 10 PT Rimba Mandau Lestari 11 PT Pusaka Mega Bumi Nusantara 11 PT Rimba Rokan Perkasa 12 PT Rawangkawo Makmur Sejati 12 PT Timber Sejati 12 PT Satria Perkasa Agung 14 PT Tani Raya Wisesa 14 PT Seraya Sumber Lestari 15 PT Teguh Karsawana Lestari 15 PT Tuah Negeri.

Gambar 7. Peta Zona Perkebunan dan Kehutanan
Gambar 7. Peta Zona Perkebunan dan Kehutanan

Zonasi Industri

Pelabuhan Tanjung Buton memfokuskan upaya untuk memenuhi kebutuhan industri yang semakin meningkat di Kabupaten Siak pada khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya untuk memperoleh infrastruktur pelabuhan yang sangat memadai. Dengan luas kawasan pelabuhan yang disiapkan oleh pemerintah Kabupaten Siak seluas 300 ha, maka keberadaan Pelabuhan Tanjung Buton akan menjadi sangat strategis dan vital di masa depan. Selain itu, sesuai masterplan KITB, beberapa bahan baku penting lalu lintas barang dalam dan luar negeri yang berpotensi menggunakan Pelabuhan Tanjung Buton adalah sebagai berikut.

Zonasi Pemukiman

Pengelolaan Zonasi untuk Rakyat dengan Prinsip Kelestarian dan Berkelanjutan Berkelanjutan

Berdasarkan fungsi tersebut, sumber daya alam harus selalu dikelola secara seimbang untuk menjamin pembangunan berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut bersifat sinergis dan saling melengkapi dalam pembangunan tata kelola pemerintahan yang baik, yang didasarkan pada prinsip partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas, yang mendorong upaya perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Agar sumber daya alam tetap bermanfaat dalam jangka panjang, hal-hal berikut ini sangat perlu dilakukan. a) Sumber daya alam hendaknya dikelola untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya, namun perlu dilakukan upaya pengelolaan sumber daya alam agar produktivitasnya tetap berkelanjutan.

Beberapa contoh pemekaran kawasan ini misalnya Kawasan Konservasi yang terdapat permasalahan terkait tingkat kerusakan sumber daya alam seperti gambut dan DAS Siak, sehingga jawabannya (antara lain) harus ada jaminan bahwa tidak akan terjadi konversi lahan gambut untuk HTI dan Perkebunan Besar yang akan berdampak pada kerusakan ekosistem lebih lanjut. Segala pengelolaan sumber daya alam dengan pendekatan zonal bertujuan untuk pemanfaatan semaksimal mungkin bagi masyarakat yang diikuti dengan upaya terpadu untuk melestarikan dan menjaga ketersediaan sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan secara lestari dan lestari. Dan hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan Indonesia yang ingin dicapai, yaitu terwujudnya peningkatan fungsi lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada keterpaduan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Cara-cara Pengelolaan Sumber Daya Alam

Konservasi (Perlindungan), Hilirisasi dan Intensifikasi

Intensifikasi merupakan upaya untuk meningkatkan output (pertanian atau lainnya) dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Pemanfaatan ekosistem gambut harus dilakukan secara bijaksana karena salah satu alasannya adalah kawasan ekosistem gambut merupakan kawasan yang memiliki cadangan karbon sangat tinggi. Sisa-sisa vegetasi tropis yang terkubur di hutan basah merupakan cadangan karbon terestrial.

Maka, mengetahui potensi stok karbon yang relatif besar pada kawasan ekosistem gambut, maka kita harus memperhatikan dan menjaga kawasan ekosistem tersebut dari fungsi atau aspek ekonomi semata yang tidak memperhatikan kesinambungan atau keberlanjutan. Solusi untuk mengembalikan fungsi kawasan ekosistem gambut dengan memanfaatkan gambut sebagai fungsi ekonomi adalah dengan pemanfaatan puludikultur dan. Untuk memulihkan ekosistem lahan gambut yang rusak diperlukan sistem dan teknik yang tepat, masing-masing dengan mempertimbangkan aspek ekologi, produktif, dan sosial ekonomi.

Paludikultur, yang secara harafiah berarti budi daya di lahan basah (rawa dan rawa gambut), merupakan suatu teknik restorasi ekosistem gambut dan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. “Dalam penerapan paludikultur bersamaan dengan budidaya hortikultura, baik yang menggunakan pola Sistem Surjan maupun pola tanaman sela dan agroforestri dalam pemanfaatan kawasan ekosistem gambut, harus ada demplot sehingga kita dapat melihat arah kebijakan pemerintah dalam perlindungan lahan. ekosistem gambut dapat menentukan luas wilayah." Kebijakan dan aturan yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan atau peraturan mengikat lainnya menjadi koridor atau batasan dalam pemanfaatan kawasan serta perlindungan kawasan.

Komitmen bersama terhadap konservasi lokasi, dimulai dari sektor hilir, dengan kesadaran dan pemahaman, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan (pemerintah, swasta, masyarakat umum) hingga pemilihan dan pengelolaan lokasi, akan berdampak positif terhadap keberlanjutan lahan gambut. di Riau.

KONDISI UMUM KABUPATEN SIAK (DALAM ZONASI)

Hamparan Gambut dan DAS Siak

Saat ini kawasan hutan di Riau yang mengalami degradasi cukup parah adalah kawasan hutan gambut sehingga akan sering terjadi kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya. Hutan rawa gambut di Riau mencakup 56,1% dari total hutan rawa gambut di Indonesia (18,586 juta ha). Di Kabupaten Siak, tepat berada di ekosistem hutan rawa gambut, Zamrud merupakan bagian dari hutan rawa gambut di Riau.

Ekosistem Hutan Rawa Gambut Zamrud merupakan kawasan hutan yang terdiri dari Suaka Margasatwa (SM) Danau Pulau Besar/Danau Bawah seluas 28.237,5 ha (berdasarkan analisis citra Landsat TM 2005) dan kawasan penyangganya. Kawasan Hutan Rawa Gambut Zamrut terletak di antara DAS Kampar dan DAS Siak, merupakan bagian dari Ekosistem Hutan Rawa Gambut Semenanjung Kampar dan relatif lebih aman karena merupakan kawasan pelestarian alam. Ekosistem ini mempunyai dua tipe habitat berbeda yang terwakili, yaitu hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar.

Sumber Meskipun luas hutan rawa gambut menyusut dengan cepat, namun kapasitas hutan berbagai hasil hutan baik berupa kayu maupun non kayu semakin berkurang. Tren penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya hutan lahan gambut memerlukan dukungan masyarakat lokal untuk mencari sumber penghidupan alternatif. Penyerapan Hutan rawa gambut yang sehat mampu secara aktif (memperbaiki) akumulasi karbon, sehingga karbon selanjutnya dapat mengurangi pengaruh gas rumah kaca.

Bagi sebagian masyarakat, hutan rawa gambut merupakan tempat yang istimewa, unik, dan mempunyai peranan penting dalam kehidupan mereka.

Gambar 10. Peta Tutupan Lahan Kabupaten Siak
Gambar 10. Peta Tutupan Lahan Kabupaten Siak

Cadangan Karbon Siak

  • Alih Fungsi Lahan Gambut
  • Mangrove
  • Pencemaran Udara

Berdasarkan data tahun 1990 dan 2002, terlihat terjadi penurunan ketebalan gambut yang sangat besar di Kabupaten Siak. Berdasarkan studi kelayakan pengusahaan dan pemanfaatan potensi gambut di Kabupaten Siak tahun 2008, Kabupaten Siak mempunyai 7 kubah gambut. 4 kubah besar tersebar di seluruh Kabupaten Siak dan sebagian kubah besar dibagikan ke kabupaten lain.

Kubah besar yang satu seluruhnya ada di Kabupaten Siak yaitu Kubah Siak Kecil, satu Kubah yang terbagi menjadi Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan yaitu Kubah Zamrud. Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan pemetaan stok karbon lahan gambut skala 1:250.000 di provinsi Siak berdasarkan partisipasi masyarakat adalah: Partisipasi masyarakat penting untuk mendukung kegiatan pemetaan sekaligus wadah sosialisasi cadangan karbon di lahan gambut di provinsi Siak.

Kondisi ini harus disediakan sedemikian rupa agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan secara besar-besaran, termasuk di Kabupaten Siak. Dengan lahan gambut, 57% dari total wilayah Kabupaten Siak atau hampir seluruh kecamatan merupakan wilayah gambut kecuali Kecamatan Lubuk Dalam (0%) dan Kecamatan Kerinci Kanan (1%). Namun upaya dan koordinasi tetap dilakukan pemerintah Kabupaten Siak agar kualitas udara di Kabupaten Siak membaik.

Hal ini tentu saja tidak mungkin terlaksana jika tidak ada rasa saling percaya dan kepedulian dari seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Siak.

Tabel 10. Persentase Gambut di 13 Kecamatan Kabupaten Siak  No  Kecamatan  Persentase Gambut
Tabel 10. Persentase Gambut di 13 Kecamatan Kabupaten Siak No Kecamatan Persentase Gambut

STATUS PEMANTAUAN UDARA (PM10) STATUS PEMANTAUAN UDARA (PM10)

  • Berkurangnya Wilayah Tangkapan Air
  • Pembangunan infrastruktur publik
  • Pembangunan pemukiman penduduk
  • Banyaknya sampah yang berserakan
  • Penebangan pohon secara liar
  • Pembangunan fasilitas publik
    • Pencemaran Sungai Siak
  • Limbah rumah tangga
  • Limbah industri
  • Limbah pertanian
  • Pemukiman di pinggir sungai

Daerah tangkapan air merupakan hal yang sangat penting yang harus ada di setiap daerah. Daerah tangkapan air adalah daerah dimana air hujan dapat menembus lapisan tanah dan tertahan di dalamnya, sehingga tidak langsung mengalir ke sungai atau laut. Biasanya, daerah aliran sungai ini mempunyai banyak pohon karena akar pohon merupakan perangkap air yang sangat baik.

Waduk akan mampu mencegah banjir dan juga dapat menyimpan air serta menguncinya untuk digunakan di lain waktu. Namun kenyataan saat ini menunjukkan bahwa daerah tangkapan air mulai berkurang, terutama di perkotaan yang akan sangat sulit menemukan daerah tangkapan air. Dengan berkurangnya resapan air, maka berbagai hal yang tidak diinginkan akan mudah terjadi, seperti banjir dan kekeringan di kemudian hari.

Dahulu kota-kota besar mempunyai tempat penampungan air di sekitar sungai agar air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan tidak langsung mengalir ke sungai, sehingga tidak cepat meluap seperti banjir. Salah satu faktor penyebab berkurangnya daerah resapan air adalah pembangunan infrastruktur umum, seperti jalan aspal, jalan tol, penuangan beton dan lain sebagainya. Pembangunan ini jelas akan mengurangi stok lahan kosong yang bisa dijadikan daerah aliran sungai.

Semakin banyak sampah rumah tangga yang mengalir ke sungai, maka akan semakin tercemar pula air sungai tersebut.

AGENDA DAN RENCANA AKSI

  • Arahan dan Strategi Intervensi
  • Indikator Kunci Menuju Kabupaten Hijau
  • Rencana Aksi Kabupaten Hijau
  • Peran Jejaring Mitra Kabupaten Hijau
  • Skema Pendanaan Siak Hijau
    • APBD Kabupaten dan Provinsi
    • APBN dan Hibah Luar Negeri
    • Integrasi Dana Desa
    • Hibah Dalam Negeri/ Pihak Ketiga (Swasta) yang Tidak Mengikat
    • Skenario dan Strategi

Indikator ini dibuat untuk menjamin tercapainya Siak sebagai Kabupaten Hijau, kemudian program tersebut menyasar pada serangkaian kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya oleh Pemerintah Kabupaten Siak. Selain itu juga terkait dengan tujuan SDG Aksi Nyata Kabupaten Siak untuk Kabupaten Hijau. Seluruh pemilik konsesi di Kabupaten Siak diharapkan berkontribusi dalam mendukung visi dan misi Kabupaten Hijau.

Komitmen pembangunan daerah yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan kelestarian lingkungan hidup sebagai upaya mencapai misi Kabupaten Siak menjadi kabupaten hijau harus didukung oleh pendanaan yang memadai. Untuk itu program-program pendukung pencapaian visi pembangunan Siak hijau tidak lepas dari arah prioritas kebijakan pembangunan daerah kabupaten Siak yang terstruktur dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD) serta kebijakan pembangunan. dokumen perangkat daerah. Tingkat Organisasi (OPD). Skema Bantuan Keuangan Provinsi untuk Kabupaten merupakan salah satu sumber pendanaan potensial yang dapat diakses oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Siak.

Komitmen politik internasional ini menjadi peluang bagi pemerintah daerah Kabupaten Siak untuk juga memiliki akses terhadap bantuan hibah yang disalurkan melalui skema APBD. Saat ini Pemerintah Kabupaten Siak dalam merumuskan kebijakan Siak Hijau berkolaborasi dengan LSM dalam forum Sedagho Siak. Bahwa tujuan Kabupaten Siak untuk bertransformasi menjadi Kabupaten Hijau dengan indikator yang telah ditetapkan dapat terwujud dengan baik.

Pengelolaan pendanaan dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Siak melalui APBD. Hibah dari Pemerintah Pusat/Provinsi digunakan untuk mendanai Program Kebijakan Siak Hijau sesuai dengan kepentingan dan fungsi pemerintah daerah. Insentif hendaknya diberikan kepada pemerintah desa yang berhasil mencapai target dan berkinerja baik dalam mendukung misi Pemerintah Kabupaten Siak. Mengintegrasikan kebijakan Siak Hijau ke dalam dokumen rencana pembangunan daerah dengan melakukan revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Siak, termasuk penyesuaian program kegiatan yang dibiayai DBH DR Kabupaten Siak.

Tabel 13. Sasaran dan Rencana Aksi
Tabel 13. Sasaran dan Rencana Aksi

MONITORING DAN EVALUASI

PENUTUP

Kawasan lindung gambut yang telah diberikan izin namun belum dibuka ditetapkan untuk dipertahankan sebagai kawasan hutan dan tetap menjaga pengelolaan air alami (zona 1) 2. Kawasan pengelolaan sosial dan lainnya bagi masyarakat lokal yang tujuannya juga sesuai dengan tujuan distrik hijau (zona 1). Ketertarikan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah.

Tabel 12. Tujuan, Sasaran dan Indikator Kabupaten Hijau
Tabel 12. Tujuan, Sasaran dan Indikator Kabupaten Hijau

Gambar

Tabel 1. Perizinan HTI dan HGU di Kabupaten Siak
Gambar 2. Peta sebaran konsesi pada zona Siak Kabupaten Hijau
Gambar 3. Peta Zona Konservasi
Gambar 4. Peta Sebaran Konsesi di Zona Konservasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

RESEARCH PAPER Efficient Synthesis of CeVO4 Nanoparticles Using Combustion Route and Their Antibacterial Activity Damayanti Ramchandra Kamble 1, Sachin Vasant Bangale 2 *, Suresh