• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF repo.unhi.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF repo.unhi.ac.id"

Copied!
180
0
0

Teks penuh

DINAMIKA DAN TATANAN

Keberadaan Pandita Bali Aga di Kota

Salah satunya adalah terbentuknya masyarakat Bali Aga yang dibedakan dengan Bali Majapahit secara antropologis. Mengingat secara sosial dan budaya, mayoritas umat Hindu di Kota Denpasar adalah masyarakat Majapahit Bali, yang masih mempunyai ikatan patronase yang kuat dengan sulinggih keluarga Brahmana (padada).

Sekilas Sejarah Kota Denpasar

Pada tahun 1980, Kabupaten Daerah Tingkat II Badung memelopori usulan pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar. Pada tahun 1992 diterbitkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1992 tanggal 15 Januari 1992 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar.

Kondisi Geografis

Secara administratif wilayah kota Denpasar terbagi menjadi empat kecamatan dengan wilayahnya masing-masing, yaitu (a) Denpasar Timur 22,31 km²; Tabel ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Denpasar kurang memiliki kehidupan pertanian yang kuat.

Lembaga Dinas dan Adat

Urusan rumah tangga pada Pemerintah Kota Denpasar diatur oleh Sekretariat Daerah Kota Denpasar yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Menariknya dari data tersebut seluruh wilayah desa dan kelurahan di Kota Denpasar tergolong wilayah perkotaan.

Demografi

Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia kerja terbanyak terdapat di Kota Denpasar. Selain itu, data sebaran penduduk Kota Denpasar dapat dilihat pada tabel jumlah penduduk menurut desa dan kelurahan demi kelurahan di bawah ini.

PERANAN PANDITA BALI AGA DI

Tantangan sulinggih dalam

Selain faktor-faktor tersebut, kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan sulinggih juga menjadi kendala yang menghambat peran sulinggih dalam proses pemberdayaan umat Hindu. Pentingnya hal ini agar Sulinggih mampu berpikir serius dan konsentrasi penuh untuk meningkatkan kualitas diri dan berfikir umat Hindu.

Peranan Pandita Bali Aga dalam

Pada dasarnya pernyataan Ida Jero Dukuh Udalaka Dharma juga didukung oleh Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa. Hal ini sedikit berbeda dengan Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa yang juga merupakan wacana dharma. Sedikit berbeda dengan Ida Jero Dukuh Udalaka Dharma, bahwa Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa memberikan pembinaan kepada pemangku kepentingan di bidang yang lebih luas.

Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa is lid van de Centraal-Indonesische hindoeïstische Dharma Parisada Pandita Sabha.

Sasana dan wewenang Orang suci

Dang Hyang Astapaka, Dang Hyang Astapaka adalah seorang pendeta Budha yang datang ke Bali dari Majapahit. Di Daha Dang Hyang, Dwijendra mengadakan Dharma Yatra (perjalanan suci) ke arah timur menuju Pasuruhan. Ceritanya begini: Pendeta Agung Dang Hyang Dwijendra diliputi keagungan.

Karena ajarannya yang tinggi itulah Dang Hyang Wijendra mendapat gelar Tuan Semeru.

Riwayat singkat Orang agama Hindu

EKSISTENSI PANDITA BALI AGA

Eksistensi Sang Pandita

Teks-teks lontar menjelaskan bahwa proses ini merupakan sebuah perjalanan panjang dan ketat antara calon dwijati (dikita) dan calon guru (nabe). Bhagavad Gita IV.19 menyebutkan bahwa seorang Pandita adalah orang yang tidak terikat pada ekspektasi terhadap hasil. Brahmana berarti orang yang benar-benar ahli dalam Weda, sedangkan sista adalah sebutan untuk pendeta.

Sista adalah orang yang selalu berbicara atas dasar kebenaran (satya), seorang aapta (orang yang selalu dapat dipercaya), patirthan adalah orang yang menjadi tempat penyucian diri dan orang yang selalu menyebarkan spiritual. pendidikan (panadahan). menurun).

Pandita Bali Aga sebagai Sang

Dijelaskan pula oleh Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa (wawancara 27 Oktober 2018) bahwa untuk menjadi seorang Satyawadi, seorang pendeta harus memahami hakikat kebenaran (dharma) yang meliputi satya, rta, diksa, asketisme, brahma dan yajna. Sehubungan dengan fungsinya tersebut, Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa menjalani proses diksa sehingga berkewajiban meneruskan ajaran Guru Nabe, baik dalam memberikan pencerahan kepada umat maupun dalam penyelenggaraan palasraya. Untuk menjalankan fungsi tersebut, Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa terus mengikuti kitab-kitab dan gimnasium Siwa seperti Catur Veda, Catur Veda Sirah, Upanisad, Bhagavadgita, Bhuwana Kosa, Bhuwana Mabah, Wrespati Tattwa, Tattwa Jnana, Snana Sidanghy. . Mahajnana, Tutur Gong Besi, Siwa Sasana, Wratti Sasana, Sarasamuccaya, Silakrama, dan lain-lain.

Ida Pandita bahkan mengaku tak berani menyampaikan ajaran yang bertentangan dengan kitab tersebut.

Pandita Bali Aga sebagai Sang Aapta

Terkait hal tersebut, Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa (wawancara 27 Oktober 2018) menjelaskan bahwa pemeliharaan perilaku moral dapat diwujudkan dengan pengendalian diri secara menyeluruh. Oleh karena itu, seorang Pandita juga terbebas dari pekerjaan duniawi agar bisa fokus menjalankan swadharma kependetaannya. Dijelaskan Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa (wawancara 10 Desember 2018), swadharma sulinggih pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu swadharma untuk diri sendiri dan swadharma untuk pengabdian kepada masyarakat.

Terkait peran tersebut, Ida Pandita Dukuh Celagi (wawancara 10 Desember 2010) menjelaskan pentingnya peran nabe dalam hal tersebut.

Pandita Bali Aga sebagai Sang Patirthan 120

Dalam konteks yang lebih praktis, Sang Patirthan juga mengartikan bahwa Pandita adalah tempat orang mencari tirtha. Dalam kaitannya dengan fungsi dan peranannya sebagai Tuan Rumah Upadesa, seorang Pandita adalah seorang pendidik, guru atau narasumber sehingga dapat menjadi tempat dimana masyarakat dapat meminta bimbingan atau perlindungan (mesauban). Oleh karena itu, seorang Pandita selain teguh pada satya (kebenaran), mengamalkan swadharma dan sasana, tentu diharapkan menjadi orang yang wikan (cerdas, cerdas) dan pradnya (bijaksana) (Miartha, 2007 : 179). .

Seorang Pandit diharapkan menjadi seorang humanis yang mau berdialog dengan masyarakat dalam mempelajari aspek ajaran agama Hindu.

Mendorong Kesejahteraan Lahir dan

Berkaitan dengan hal tersebut, Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa (wawancara, 6 Desember 2018) menyampaikan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan lahir dan batin umat Hindu sangatlah penting, apalagi dalam kehidupan yang modern dan global saat ini. Oleh karena itu, dalam berbagai momen, baik ceramah dharma maupun bincang ringan bersama santri yang berkunjung ke Griya Padukuhan Samiaga, Ida Pandita memberikan pencerahan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup, jasmani dan rohani. Sementara itu, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan batin umat Hindu, Ida Pandita juga berperan dalam memberikan pertolongan dan pelayanan kepada umat Hindu.

Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa (wawancara 6 Desember 2018) menyatakan salah satu siswa enggan karena merasa ada yang tidak beres di ruang kerjanya.

Menyelesaikan Upacara Yajna

Singkatnya pernyataan Ida Jero Dukuh Udalaka Dharma didukung oleh Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa, Ida Pandita Dukuh Celagi dan Ida Pandita Yadnya Sidhi Dharma. Dalam wawancaranya pada 6 Desember 2018, Ida Pandita Dukuh Acarya Dhaksa menyatakan bahwa selain upacara muput, ia juga menjadi Manggala Karya dalam beberapa ritual yajna, antara lain pada proses ngaben massal (ngerit) di desa Pakraman Penatih; Karya Hebat Mamungkah, Padudusan Agung di Pura. Dari pihak pemerintah, Ida Pandita Dukuh juga diundang untuk meliput acara tingkat provinsi seperti Upacara Krama Panca Bali dan Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih.

Hal ini menegaskan bahwa kedua Dukuh Pandita melaksanakan lima yajna sesuai dengan perannya sebagai sulinggih.

Melaksanakan Yajna Berdasarkan

Ida Pandita mengatakan manusia yang hidup di dunia ini harus mengingat kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melalui yadnya telah berkorban agar manusia dapat mengembangkan dan menikmati seluruh ciptaan Tuhan. Hal ini sedikit berbeda dengan Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa yang juga seorang pendakwah dharma kondang. Ida Pandita Dukuh selaku Pangrajeg Karya selalu terlebih dahulu memberikan informasi (Dharma Wacana) dari sudut pandang filosofis yaitu prosesi, maksud dan tujuan upacara yang dilakukan.

Bahkan Ida Pandita juga menjadikan buku acuan sebagai pedoman (dudonan) dalam melaksanakan upacara mulai dari awal upacara hingga Penyineban (wawancara, 5 Desember 2018).

Membimbing Pinandita atau

Sedangkan Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa memberikan pembinaan kepada pemangku kepentingan secara luas. Ida Pandita kerap diminta mengikuti pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan Lembaga Parisada. Selain itu, Ida Pandita juga membimbing beberapa pemangku kepentingan, baik dari kalangan masyarakat desa maupun sekitarnya.

Sementara itu, Ida Pandita Dukuh Celagi dan Pandita Istri juga terlibat langsung dalam pembinaan pemangku kepentingan.

Mengikuti Paruman Sulinggih

Dalam kaitannya dengan pengamalan ajaran agama Hindu, kata ācāra sering diawali dengan upa yang berarti lingkaran, sehingga kata upācāra berarti lingkaran tata cara pengamalan agama Hindu. Dengan demikian, peristiwa keagamaan Hindu meliputi hal-hal yang berkaitan dengan tempat upacara (lokasi), waktu upacara (durasi), suasana upacara (situasi), rangkaian upacara (prosesi), ucapan upacara (pengajian), alat upacara (sakramen) dan suara upacara (instrumen). Umat ​​Hindu di Bali khususnya di Kota Denpasar masih menjadikan drsta sebagai acuan penting dalam menerapkan ajaran agama Hindu yang diyakininya.

Hal ini menunjukkan bahwa kedua pandit ini terlibat aktif dalam lembaga-lembaga masyarakat Hindu sehingga mempunyai peranan penting dalam merumuskan berbagai aspek ajaran agama Hindu yang dapat dijadikan pedoman dan pedoman masyarakat dalam pelaksanaan ajaran agamanya. sesuai dengan kenyataannya. perkembangan.

Memberikan Bimbingan Keagamaan

Seorang Pandita yang telah melakukan diksa secara teologi telah melalui proses penyampaian ilmu ketuhanan (brahmavidya) di bawah proses aguron-guron atau parampara (Titib, 2001:51). Pandita yang telah melaksanakan satya dalam hidupnya, maka kebijaksanaan dan kebahagiaan pasti akan tercapai. Dengan mengutus umat Hindu agar persembahan mereka diterima dan mendapat rahmat Tuhan, seorang Pandita secara simbolik adalah pemimpin rakyat untuk merealisasikan pengabdian mereka kepada Tuhan.

Hal ini dapat dimaknai agar seorang Pandita dalam konsep pemberdayaan teologis umat Hindu juga mempunyai kewajiban moral terhadap kondisi kehidupan masyarakat.

MAKNA EKSISTENSI DAN PERANAN

Sang Patirtaning Jagat

Loka Pala sraya

Aku telah membina sebuah bait bagi diri-Ku dalam semua makhluk dan mereka yang melayani semua makhluk mengabdi dan menyembah-Ku sesungguhnya” (Svami Raganathananda, dalam Suamba (ed. Mereka yang bekerja (karma) mampu membersihkan diri mereka daripada ikatan kerja (akarma). ) disebut orang yang bijaksana yang akan dapat melaksanakan tugas dan kewajipannya.Mereka yang bekerja, melayani orang lain dengan penuh pengabdian dan segala pekerjaannya dikhususkan kepada Tuhan, ini adalah pengabdian yang benar.

Mereka yang memupuk kesadaran ini dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata sebenarnya adalah Paramartha Pandita, sang master yogi.

Sang Adi Guru Loka

Dengan demikian Paramartha Pandita adalah hamba sejati yang memberikan pelayanan tanpa ada keterikatan pada hasil kerja (akarma). Paramartha Pandita adalah Pandita idaman yang menjadi tujuan pengambilan keputusan hidup rohani, yaitu Pandita yang mampu mewujudkan segala tujuan hidup walaupun masih berwujud jasmani. Bagi Paramartha Pandit, melaksanakan pengabdian dharma demi kebahagiaan seluruh umat manusia adalah tujuan utama hidupnya.

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dipahami bahwa makna keberadaan dan peranan Pandita Bali Aga dalam pendidikan agama umat Hindu di kota Denpasar mencakup tiga makna besar.

Referensi

Dokumen terkait