• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF SKRIPSI - uin-suka.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF SKRIPSI - uin-suka.ac.id"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

Desa Sidorejo khususnya seluruh pengelola pasar Kebon Watu Gede yang telah bersedia memberikan izin untuk penelitian dan membantu kelancaran pelaksanaan penelitian ini. Judul Skripsi: Benggol Sebagai Alat Transaksi di Era Modern: Kajian di Pasar Kebon Watu Gede Bandongan Magelang.

Tabel 1. Data dan Sumber Data Penelitian ............................. 33  Tabel 2. Daftar Mata Pencaharian Masyarakat Sidorejo ........
Tabel 1. Data dan Sumber Data Penelitian ............................. 33 Tabel 2. Daftar Mata Pencaharian Masyarakat Sidorejo ........

PENEGASAN JUDUL

Alat Transaksi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alat adalah benda kebudayaan yang dikembangkan oleh masyarakat dalam usahanya memenuhi segala macam kebutuhan hidup4, sedangkan transaksi adalah suatu perjanjian jual beli (dalam perdagangan) antara dua pihak.5 Jadi alat transaksi adalah suatu benda diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan intern, perjanjian jual beli antara dua pihak.

Era Modern

Jadi maksud dari judul “Benggol Sebagai Alat Transaksi di Era Modern: Kajian di Pasar Kebon Watu Gede” adalah untuk meneliti mata uang kuno yang digunakan kembali pada era yang sedang mengalami perubahan tuntutan masa kini.

Latar Belakang Masalah

Namun Pasar Kebon juga memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan konsep-konsep yang digunakan pasar kepada masyarakat, dan kecanggihan teknologi zaman sekarang dijadikan sebagai media promosi oleh para pemimpin pasar. Karena konsep pasar merupakan konsep tradisional secara keseluruhan, maka alat transaksi yang digunakan di pasar ini menggunakan alat transaksi tradisional yang digunakan pada masa Hindia Belanda yang disebut benggol.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Tinjauan Pustaka

Persamaan dalam penelitian ini adalah penggunaan alat transaksi non-rupee dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya saing. 20 Yasinta Setyowati dkk, “E-Money Pariwisata Banyuwangi: QR Code Sebagai Alat Transaksi di Pariwisata Pulau Merah”, Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis Airlangga. Terdapat kesamaan penelitian-penelitian di atas dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu sama-sama mengkaji alat-alat transaksional di era modern.

Walaupun perbedaannya terletak pada jenis instrumen transaksi yang digunakan, namun penelitian ini membahas tentang jenis instrumen transaksi tradisional, sedangkan penelitian di atas menggunakan jenis instrumen transaksi modern. Dengan demikian menunjukkan bahwa penelitian mengenai Benggol sebagai Instrumen Transaksional masih layak untuk diteliti di zaman modern ini, karena sepanjang penelusuran penulis belum ditemukan hasil penelitian yang membahas penelitian tersebut.

Landasan Teori

Pengertian Alat Transaksi

Alat transaksi tunai yang biasa digunakan adalah uang kertas dan uang logam.25 Uang menurut fungsinya diartikan sebagai suatu benda yang dapat ditukar dengan benda lain, dan digunakan untuk menilai dan menyimpan benda lain. Menurut Gatot Suparmono, syarat untuk menggunakan suatu benda sebagai alat pembayaran atau penukaran adalah benda tersebut harus dapat diterima secara umum atau bersifat (acceptability), untuk dapat diterima sebagai alat tukar umum benda tersebut harus mempunyai nilai yang tinggi. dan keabsahannya dijamin oleh pemerintah yang berkuasa. Suatu benda yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran juga harus tahan lama dan tidak mudah pecah (durability), mempunyai sifat-sifat yang secara umum sama (uniformity), maka benda tersebut juga harus demikian.

25 Tiara Dhana Danella, “Bitcoin sebagai Alat Pembayaran Sah dalam Transaksi Online”, Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Hukum, diakses 26 Mei 2018.

Macam-macam Alat Transaksi

Bagian depan terdapat Nederlandsch Indie Cent dan bagian belakang terdapat huruf Arab yang dikelilingi aksara Jawa. 1 Sen : Uang logam ini bernilai 1 sen dan berlaku pada tahun 1855-1945, uang ini pada bagian depan bertuliskan Nederlandsch Indie C disertai gambar daun kemudian pada bagian belakang terdapat tulisan arab yang dikelilingi aksara jawa dan bunga. Berlaku untuk tahun ini, bagian depan bertuliskan Nederlandsch Indie 2 1/2 C disertai mahkota kerajaan dan bagian belakang bertuliskan huruf Arab yang dikelilingi aksara Jawa.

Uang logam tahun ini bertuliskan Nederlandsch Indie 5 C, dilengkapi gambar mahkota kerajaan dan butiran beras, serta di bagian belakangnya tertulis huruf Arab dan aksara Jawa. Berlaku tahun 1854-1945, uang logam ini memiliki tulisan Nederl Indie 1/10 G di bagian depan, dilengkapi gambar mahkota kerajaan, dan huruf Arab dikelilingi aksara Jawa di bagian belakang.

Cara Memperoleh Alat Transaksi

Gulden 1933: pada tahun 1933 Javasche Bank mengeluarkan serangkaian uang bergambar wayang orang dengan nilai nominal 5 hingga 1000 gulden. Gulden 1940 : pada tahun 1940, Javasche Bank mengeluarkan uang kertas Hindia Belanda seri Munnoten, dimana yang menarik dari seri ini adalah pecahan 1 gulden pada bagian belakangnya menggunakan gambar stupa candi Borobudur yang diakui pemerintah Hindia Belanda keindahan Candi Borobudur dan mengabadikannya pada uang kertas. Sesuai dengan Peraturan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1948 tentang peredaran uang melalui bank karena adanya uang palsu.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 88 ayat 1 yaitu setiap pekerja atau pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 33 Dengan undang-undang tersebut, pemerintah mewajibkan perusahaan untuk memberikan kompensasi dalam bentuk berupa: upah minimum, upah kerja lembur, upah tidak masuk kerja karena berhalangan, upah pelaksanaan hak istirahat kerja, bentuk pembayaran upah, hal-hal yang dapat diperhitungkan sebagai upah, susunan dan perbandingannya. skala. upah, pesangon dan upah untuk perhitungan penghasilan pajak. 34 Perjanjian pengupahan tidak boleh kurang dari upah yang berlaku, apabila pengusaha berkeberatan dengan pembayaran upah minimum, maka perusahaan harus melakukan penghentian sementara sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 231/MEN/2003 tentang Tata Cara Penundaan Penerapan Upah Minimum.

Benggol Sebagai Alat Transaksi

Berdasarkan Rubrik Freeze Benggol yang berlaku pada masa Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1856-1945, pada uang logam bernilai 2,5 sen ini terdapat tulisan Nederlandsch Indie 2 1/2 C yang dilengkapi gambar mahkota kerajaan dan pada bagian atasnya terdapat tulisan Nederlandsch Indie 2 1/2 C. halaman lainnya bertuliskan huruf Arab yang dikelilingi aksara Jawa. Pada tahun 1821–1900, pemerintah Hindia Belanda menghadapi berbagai perlawanan dari penguasa lokal di Indonesia sehingga mengakibatkan terjadinya peperangan besar, antara lain Perang Diponegoro di Jawa Tengah, Perang Paderi di Sumatera Barat, dan Perang Aceh. Pada periode ini pemerintah Hindia Belanda mencetak jutaan uang logam pecahan satu dan dua sen.35.

Daya Tarik Sebagai Aspek Pengembangan Pariwisata

Menurut Undang-Undang Nomor 10 Pasal 6 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan dilaksanakan berdasarkan asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, yang diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keberagaman, maka keunikan dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia akan perjalanan.39 Daya tarik wisata disebut juga daya tarik wisata yang mempunyai potensi sebagai penggerak. Menurut Suwantoro, beliau menjelaskan bahwa objek dan daya tarik wisata merupakan aspek-aspek pengembangan pariwisata yang kemudian dikelompokkan menjadi; urusan objek dan daya tarik wisata alam, urusan objek dan daya tarik wisata budaya, urusan objek dan daya tarik wisata minat khusus. Tempat wisata alam mempunyai daya tarik karena keindahan alamnya, gunung, sungai, pantai, hutan dan lain sebagainya.

Obyek wisata budaya mempunyai daya tarik yang besar karena mempunyai nilai keistimewaan berupa atraksi seni, upacara adat, nilai-nilai leluhur yang terdapat pada suatu obyek masa lampau. Lokasi dalam penelitian ini adalah Pasar Kebon, Dusun Jetak, Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Pendekatan Penelitian

Objek Penelitian

Subjek Penelitian

Data dan Sumber Data

Teknik Sampling

Teknik Pengumpulan Data

45 Dedy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung: PT. Teen Rosdakarya, 2006), hal. Teknik dokumentasi merupakan kajian dalam memperoleh data yang diperlukan melalui data yang tersedia. Keunggulan teknik dokumentasi adalah data selalu tersedia, siap pakai, sehingga dapat menghemat biaya dan tenaga. 48 Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data berupa gambar atau rekaman.

Klasifikasi dalam survei dokumen harus dilakukan, agar data dapat dikumpulkan dari suatu sumber atau dokumen dengan cara yang dipilih sesuai dengan kebutuhan peneliti yang bersangkutan. Dengan dokumentasi yang telah disusun, peneliti hanya perlu mencatat data-data yang diperlukan, sehingga pencatatan dokumen dapat lebih sistematis dan terfokus.49.

Teknik Validitas Data

Analisis Data

Sistematika Pembahasan

Melalui proses tersebut, berdasarkan data yang diperoleh berupa observasi lapangan dan hasil wawancara, peneliti akan dengan mudah melihat fenomena yang terjadi pada informan, kemudian dapat memberikan kesimpulan yang dapat dipahami dan dibuktikan kebenarannya. ganti dengan perkembangan pasar dan cara menggunakan kurva. Setelah peneliti melakukan penelitian dengan judul “Benggol Sebagai Alat Transaksi di Era Modern: Kajian di Pasar Kebon Watu Gede”. Beberapa kesimpulan dan saran dapat diambil yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan perekonomian masyarakat Sidorejo.

Kesimpulan

Selain itu, diantara sekian banyak alat transaksi pada zaman Hindia Belanda, benggol merupakan salah satu yang dianggap unik dan nama benggol selalu diingat oleh sebagian tetua desa, sehingga mereka memutuskan untuk menggunakan benggol sebagai medianya. pertukaran di pasar Kebon Watu Gede. Cara konsumen mendapatkan benggol adalah dengan mengantri di tempat penukaran rupiah dengan benggol yang disediakan oleh pengelola pasar. Ini merupakan inovasi retail baru dan menurut pengunjung unik dan sangat keren.

Namun sebagian pengunjung lain lebih tertarik dengan produk yang dijual Pasar Kebon Watu Gede yaitu segala jajanan tradisional dan kuliner tradisional Indonesia. Secara umum Benggol sebagai alat transaksi di era modern merupakan inovasi terkini yang nantinya dapat dijadikan sebagai bentuk lain pelestarian nilai-nilai tradisional yang semakin terkikis.

Saran

Menurut pengelolanya, benggol ini dinilai sangat berpengaruh karena memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri, beberapa pengunjung juga merasa ingin berbelanja di benggol. Dan diharapkan dapat menjadi cara baru dalam mengembangkan masyarakat dengan menggunakan alat tukar yang unik sehingga dapat menarik konsumen. Saran Bagi Pengelola Pasar Kebon Watu Gede Sebaiknya Pasar Kebon Watu Gede membuat website resmi yang dikhususkan untuk informasi tentang Pasar Kebon Watu Gede karena dengan website ini informasi yang dibutuhkan oleh orang lain dapat diperoleh secara valid dan bermanfaat. jika pengelola mempunyai data jumlah pengunjung per

Maka alangkah baiknya jika Pasar Kebon Watu Gede menambah fasilitas yang ada seperti menambah tempat duduk atau gazebo khusus pengunjung agar para pengunjung tidak perlu repot ketika ingin makan di tempat tersebut karena ramai. Usulan Penelitian: alangkah baiknya jika peneliti memberikan kontribusi terhadap tempat penelitian yang diteliti, meskipun setidaknya hanya sekedar memberikan catatan hasil.

Dokumen

Website

Kaskus, “Sejarah Alat Pembayaran di Indonesia,” http://googleweblight.com/i?u=https://m.kasku s.co.id/thread/54d21067a4cb17fd178b456c/sejarah-alat-bayaran-di-.

Aplikasi

Wawancara

Gambar

Tabel 1. Data dan Sumber Data Penelitian ............................. 33  Tabel 2. Daftar Mata Pencaharian Masyarakat Sidorejo ........
Tabel 1. Data dan Sumber Data Penelitian  No.  Rumusan
FOTO DOKUMENTASI

Referensi

Dokumen terkait

ACKNOWLEDGEMENTS 5 WELCOMING REMARKS Prof Himla Soodyall, Executive Officer, ASSAf 7 PURPOSE OF THE WEBINAR Mr Imraan Patel, Deputy Director-General, DSI and Mr Tshepang Mosiea,