WEWENANG MK DALAM PENGUJIAN PERPPU* Oleh :
I Wayan Parsa
I. Pendahuluan
Sejak terbitnya Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang tentang Perubahan atas UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang berlanjut dengan pembubaran Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengkritik keras terhadap terbitnya materi muatan Perppu Ormas ini, sehingga berbagai elemen masyarakat melayangkan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).
MK sering dikonstruksikan sebagai pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan konstitusional ditengah masyarakat. MK bertugas mendorong dan menjamin agar konstitusi dihormati dan dilaksanakan oleh semua komponen negara secara konsisten dan bertanggung jawab. Ditengah kelemahan sistem konstitusi yang ada MK berperan sebagai penafsir agar spirit konstitusi selalu hidup dan mewarnai keberlangsungan bernegara dan bermasyarakat. MK tidak hanya sebagai pengawal konstitusi, tetapi juga sebagai penafsir konstitusi. Keberadaan MK sekaligus untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil dan merupakan koreksi
* Disampaikan pada Colloquium Himpunan Ahli Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Bekerjasama dengan dengan Fakultas Hukum Universitas Tanjung Pura Pontianak, pada tanggal 28 Oktober 2017.
terhadap pengalaman kehidupan ketatanegaraan dimasa lalu yang ditimbulkan tafsir ganda terhadap konstitusi. Namun dalam kaitannya dengan Perppu timbul permasalahan hukum yaitu : apakah MK berwenang menguji sebuah Perppu?
II. Esensi dan Substansi PERPPU
Sistem ketatanegaraan Pemerintahan kita menganut sistem Presidensial.
Dalam sistem presidensial kita melekat tiga hal. Yaitu pertama, tugas utama dan pertama dari Pemerintah adalah kewajiban untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia (pembukaan UUD 1945). Kedua, Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut undang- undang dasar. (baca menurut Undang-undang dasar, bukan berdasarkan Undang-undang). Namun, Presiden harus menjalankan Undang-undang . Ketiga, setiap rancangan undang-undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama (pasal 20 ayat 2). Sumpah Presiden Republik Indonesia (pasal 9) pun hanya meliputi tiga hal pokok yaitu kewajiban melindungi rakyat, menjalankan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya, serta berbakti kepada nusa dan bangsa.
Persoalan akan muncul apabila menurut penilaian Presiden, ada hal-hal yang dapat mengganggu dan mengancam Presiden dalam memenuhi amanah sumpahnya itu, sementara undang-undangnya tidak ada, atau katakanlah tidak kunjung mendapat persetujuan bersama dengan DPR. Dalam hal ini UUD memberi jalan keluarnya. Pasal 22 ayat 1 menegaskan bahwa dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang. Apakah yang dimaksud dengan
kegentingan yang memaksa ?. Konstitusi tidak memberi penjelasan. Itu adalah kewenangan subjektif Presiden yang tidak perlu diuji berdasarkan perangkat dan institusi lain. Dalam hal ini Indonesia menganut tata negara keadaan darurat subjektif. Beda dengan di Amerika Serikat misalnya yang harus diproklamasikan terlebih dahulu oleh Presiden,serta memerlukan pengujian terlebih dahulu oleh hakim federal (Daniel Yusmick PF 2017).
Dengan kewenangan tersebut apakah Presiden dapat bertindak semena- mena dan mengarah ke diktator ?. Jawabannya adalah tidak. Pasal 22 ayat 2 menjelaskan bahwa peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan DPR dalam persidangan berikut. Lazimnya Peraturan Pemerintah tidak memerlukan persetujuan DPR. Namun karena esensi dan substansi Peraturan Pemerintah ini adalah setingkat dan dapat menegasi atau memodifikasi Undang-undang, makanya perlu mendapatkan persetujuan DPR pada masa sidang berikutnya. Bagaimana kalau tidak mendapat persetujuan DPR ?. Pasal 22 ayat 3 menyebut jika tidak mendapat persetujuan maka peraturan pemerintah itu harus dicabut.
Bagaimana kalau keadaan masih darurat dan ada kegentingan yang memaksa Presiden ?. Sekali lagi, karena kita menganut sistem presidensial, dan demi kewajiban melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta sesuai dengan sumpah Presiden berdasarkan konstitusi, maka sah saja Presiden langsung menerbitkan Perppu baru. Namun apabila keadaan demikian berlangsung terus, akan dapat mengancam ketenangan berbangsa.
III. Wewenang MK dalam Pengujian PERPPU.
Berdasarkan pasal 24C UUD 45, MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang- undang terhadap Undang-undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Kewenangannya sangat besar mengikat ke dalam dan ke luar pihak yang berperkara (erga omnes), seketika serta final. Karena itu wewenang MK khususnya terkait pengujian Undang-undang sangat limitatif, menguji konstitusional suatu norma atau bagian dari Undang-undang terhadap Undang-undang Dasar. MK tidak boleh membuat norma baru. Itu adalah tugas Pemerintah dan Parlemen.
MK adalah bagian dari Kekuasaan Kehakiman.
Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-undang (Perppu), adalah Peraturan Pemerintah. Dalam hal suatu Perppu tidak disetujui oleh DPR maka peraturan pemerintah itu (sekali lagi peraturan pemerintah itu -- bukan Undang-undang itu, harus dicabut ). Tidak ada mandat dan kewenangan MK untuk memperluas penafsirannya hingga menganggap Peraturan Pemerintah sama dengan Undang-undang. Lembaga yang diberi kewenangan untuk menyetujui (atau tidak menyetujui) Perppu adalah DPR (pasal 22 ayat 2). MK tidak boleh mengambil alih kewenangan DPR. Itu inkonstitusional. Itu juga akan mengacaukan sistem presidensial dan mekanisme check and balance antara DPR dengan lembaga kepresidenan.
Perlu disadari pro kontra terkait dengan pengujian Perppu ke Mahkamah Konstitusi sudah terjadi sejak lama, bahkan para pakar hukum pun terbelah pendapat dalam memaknainya. Sehingga dalam beberapa kesempatan
Mahkamah Konstitusi pernah dan menerima Perppu sebagai kewenangannya.
Namun, dalam hemat saya, Mahkamah Konstitusi tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengujian terhahap Perppu, walaupun materi muatannya sama seperti undang-undang. Perppu bukanlah undang-undang, atas dasar apapun itu Perppu tetaplah Perppu, yang harus mendapat persetujuan DPR pada masa sidang berikutnya. Jika tidak disetujui, Perppu harus dicabut. Jadi, kewenangan Mahkamah Konstitusi menguji Perppu hanya dapat dilakukan apabila sudah diuji, dinilai, dibahas di DPR dan disetujui jadi undang-undang.
pada saat itu pula Mahkamah Konstitusi berwenang.
Lebih jauh lagi bahwa kewenangan Mahkamah Konstitusi haruslah dimaknai secara limitatif, dalam artian bahwa kewenangan Mahkamah Konstitusi tak lain dari selain yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Sebagai pengigat pula, tafsir gramatikal dari Pasal 22 UUD 1945 sungguh tidaklah dapat dikesampingkan. Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 tersebut sangat jelas hanya menyebut undang-undang dan tidak menyebut Perppu. Dilihat secara formal UUD 1945 membedakan dan menempatkan secara berbeda pengaturan antara Undang-Undang dan Perppu, undang-undang diatur dalam Pasal 20 dan Perppu diatur dalam Pasal 22 UUD 1945.
Selain itu juga, Perppu dibuat berdasarkan hak subjektif Presiden, karenanya legislatif review-lah yang menjadi pilihan. Kalaupun Perppu dipaksaka asuk sebagai kewe a ga Mahka ah Ko stitusi de ga mengunakan dasar sosiologis dan teleologis sebagaimana terdahulu disampaikan oleh Mahfud MD selaku hakim MK, maka dengan dasar itu pula, mutatis mutandis Mahkamah Konstitusi berwenang untuk melakukan
pengujian terhadap Constititutional complaint dan confirmatif of constitution atau lainnya.
IV. Penutup
Pengujian Perppu oleh MK sebagaimana pernah dilakukan Mahkamah Konstitusi terdahulu tidaklah tepat, oleh karenanya pada masa sekarang dan yang akan datang bilamana terdapat masyarakat siapapun itu yang menguji Perppu termasuk Perppu Ormas didalamnya, sekalipun dianggap memiliki legal standing, maka seharusnya Mahkamah Konstitusi dengan tegas menyatakan tidak diterima atau bahkan menolaknya dengan dasar bukan kewenangannya.
DAFTAR BACAAN
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2009.
Moh. Mahfud MD., Konstitusi Dan Hukum dalam Kontroversi Isu, Jakarta:
RajaGrafindo Perkasa, 2009.
Iskandar Muda, The Living Constitution (Suatu Tinjauan Kewenangan Uji Konstitusionalitas Perpu) , Radar Lampung, 19 November 2012.
Ni’ atul Huda, Pe gujia Perpu Oleh Mahka ah Ko stitusi , Jur al Konstitusi, Volume 7, Nomor 5, Oktober 2010.
Ib u “i a Cha dra egara, Pe gujia Perppu Terkait “e gketa Kewe a ga Konstitusional Antar Lembaga Negara: Kajian Atas Putusan MK Nomor 138/PUU-VII/2009 , Jur al Yudisial, Volu e 5. Nomor 1, April 2012.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt59a5bfadaef07/menggugat- wewenang-mk-menguji-perppu 30 Ags 2017
https://www.kompasiana.com/sampepurba/apakah-mahkamah-konstitusi- berwenang-menguji-perpu_5977d85ad2808b7fae6461b2 26 Jul 2017.