PERTEMUAN,OL 2.
Pengantar Metafisika.
LATARBELAKANG &RUANG LINGKUP
Beberapa abad yang lalu kehidupan manusia dekat dengan alam, sifat rasional adalah cara berpikir yang di kesampingkan. Kehidupan manusia di pengaruhi budaya yang berlandaskan kegaiban, yang masih cendrung ber pola fikir mengunakan doa, sihir, dan mantra- mantra. Dalam budaya modern dan gelobalisasi atau zaman now orang cendrung membuat perhitungan rasional ketika harus membuat suatu keputusan penting.
Gaya hidup manusia mengarah ke dalam propesi akademik yang terintegrasi dengan media komunikasi yang dahsyat. Sehingga kita hidup di dunia nyata, namun kenyataannya manusia lebih banyak hidup di dunia maya, dan manusia tak bisa hidup tanpa suatu himpunan kepercayaan yang logika dan ber alasan, dengan kata lain sakin sibuknya kita dengan media komunkasi yang mendunia. Sehingga manusia lalai akan mengingat Tuhan serta lupa dengan apa sebenarnya tujuan Tuhan menciptakan manusia, Inilah dia yang menurut pemikir dan metafisikawan M.Iqbal “kebanyakan manusia lupa mengajak Allah menjadi kawan kerja (co waker)”.
Kemajuan dan kecanggihan system komunikasi dan informasi, membuat sosial media dari berbagai sumber dunia gelobal begitu deras. Segala sesuatu baik yang berupa informasi ilmu pengetahuan maupun berupa segala apa saja yang dibutuhkan dapat di temukan pada media penyedia informasi di internet. Ada yang baik bahkan ada juga yang buruk yang dapat membentuk karakter manusia dapat berubah dengan instan. Hal ini karena banyaknya sumber yang mengalihkan perhatian manusia dari Tuhan, sehingga pendapat orang tentang agama pun kini derastis secara instan jadi bergeser dan berubah menjadi budaya, yang dipengaruhi sosial media. Sehingga agama yang diturunkan Tuhan yang seharusnya begitu hebat dan mulia akan menjadi tidak berdaya lagi pada kebanyakan pengikut agama di dunia ini.
Modernisasi dan gelobalisasi merupakan suatu proses perubahan menuju ke arah yang lebih maju dalam segala aspek. sosio-demografis, sosio- politik, struktur organisasi sosial, iptek, teknologi komunikasi, musik, pola hidup, budaya, ilmu kedokteran dan lain-lain yang dimaknai sesuatu yang baru, up to date, atau jaman Now. Sehingga konsep modernisasi dan gelobalisasi, juga dapat menjangkau segala aspek yang multi demensi, termasuk yang berkembang diseluruh alam jagad raya ini yang memasuki melenialisasi bahkan sudah ada
yang mengatakan sebagai akhir zaman Kehidupan modern dan gelobalisasi diatas, fenomenanya masih sebatas kepentingan hidup didunia saja. Akan tetapi dapat menggeser manusia dari kehidupan Ilahiah, yang sesungguhnya merupakan kodrat dari eksistensinya sebagai manusia seperti yang diungkapkan seluruh agama-agama. Hal ini dikarenakan agama dapat membantu memahami batas rasio, yaitu pada wilayah adikodrati atau supra natural ketika ilmu tidak mampu menyentuhnya.
Dalam diri manusia yang seutuhnya, sebenarnya ada tersedia sumber pengalaman lain yang berada di atas pengalaman level normal, seperti alam dibawah sadar, alam sadar, dan alam diatas alam sadar yang metafisik. Metafisika berada dalam diri manusia sebagai sebuah realitas yang sebenarnya dapat dijangkau oleh persepsi maupun pikiran. Realitas diri dapat ditemukan dengan metode metafisika, karena manusia itu sendiri merupakan objek dari metafisika. Dari Realitas diri yang dihasilkan oleh intuisi yang metafisik tersebut manusia bisa menjadi realitas yang tak terjangkau.
Dengan mempelajari metafisika kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat kepada suatu situasi yang baru, harus dikembangkan. Jiwa manusia harus di isi dengan nilai-nilai yang baik dan benar, agar pembentukan karakternya dapat sesuai dengan keadaan zaman kekinian, untuk dapat mengatasi situasi yang berlangsung secara cepat dengan terpaan berbagai godaan IPTEK dan MEDSOS yang sangat megalihkan perhatian jiwa manusia mengingat Tuhan, bahkan manusia bergeser mengikut arus kehidupan dunia fana ini.
Hakikat dunia materi adalah diri disebut (fisik) yang dalam hal ini ber interaksi dengan jiwa yang metafisik. Hal ini dapat disebut seperti itu, dikarenakan fisik manusia tersebut dihidupkan, oleh hal yang metafisik. Sehingga fisik yang difasilitasi oleh Tuhan dengan kuping untuk mendengar, mata utuk melihat, dan otak untuk berpikir bisa ber aktivitas bebas. Dan dengan kesadaran jiwanya tersebut manusia menjalankan kegiatan dengan gaya yang biasanya disebut berkarakter, yang selalu berubah terus–menerus secara tetap dan bebas. Ada aktifitas, tindakan, ada aktivitas pergerakan yang tetap. Jadi hakikat kehidupan ialah tindakan dan pergerakan itu sendiri. Ilmu jiwa telah menunjukkan kepada kita bahwa ada tiga alam kesadaran yakni pertama, alam tidak sadar, kedua alam sadar dan ketiga alam diatas sadar.
Oleh hal tersebut dalam membuktikan kebenaran, Hikmah Muta’ aliyah menggunakan argumentasi yang nyata dan logis, yaitu suatu konsep dipandang benar jika dapat diterima secara rasional. Sayangnya bagi sebahagian para ilmuwan yang belum mendalami, dan
mengerti lebih jauh tentang metafisika, kurang menerima rangkaian yang berkaitan dengan metafisika. Bila disebut metafisika, mereka langsung memponis, hal-hal seperti, bid’ah, sihir, mistik, gila, sesat. Intuisi yang takbisa dibuktikan ber ulang, dan lain-lain segainya. Padahal manusia itu sendiri mutlak merupakan bagian dari metafisika, dan manusia adalah subjek dan objek metafisika, maksudnya tubuhnya bagian dari fisika dan ruhnya bagian dari yang meta (gaib)
Jadi berbicara metafisika, sebenarnya secara langsung akan berkaitan dengan segala hal yang terkait dengan yang menciptakan makhluk dan alam jagad raya. Mengenai kenyataan itu, tak dapat ditolak karena Tuhan sang penciptaalam jagad raya ini dan termasuk semua isinya, Mausia, Malaikat, Iblis, Jin serta setan dan sejenisnya merupakan objek metafisika. Namun harus diingat, bahwa manusialah kunci dari adanya sebuah kegiatan fisika dan metafisika, dan oleh sebab itulah manusia diciptakan Tuhan. Manusia sebagai akhir dari segala penciptaan, merupakan pilihan dari sang pencipta sebagai makhluk yang sempurna untuk dijadiakan khalifahnya dimuka bumi.
Metafisika merupakan ilmu yang paling tinggi dari segala ilmu yang ada, oleh hal tersebut, manusia sebagai subjek dan objek dari metafisika itu harus mempelajari metafisika.
Belajar metafisika mencerdaskan manusia untuk mengetahui tentang dirinya dan kemampuanya serta yang menciptakanya, sehingga manusia pintar mensyukuri untuk apa sebenarnya dia diciptakan.
Didalam Firman Tuhan Q. S. Assajadah, 32:9 dikatakan bahwa sedikit sekali manusia yang bersyukur, hal ini desebabkan adalah karena manusia itu kurang mengerti sebenarnya untuk apa dia diciptakan. Dengan belajar metafisika, manusia akan melek terhadap hal yang sangat mendasar tentang Tuhan dan semua yang diciptakanya, terutama diri manusia itu sendiri, apa, siapa dan untuk apa dia diciptakan. Sehingga manusia itu mau memaksimalkan kemampuanya sebagai rasa syukurnya untuk menjawab apa sebenarnya tujuan manusia diciptakan sang pencipta, yakni agar manusia tersebut menjadi unggul dalam menerima sebagai wakil Tuhan atau Khalifah Tuhan dimuka bumi ini. Ke unggulan itu bukanlah karena keluarbiasaanya tentang ilmu teoritika belaka, Tapi ditentukan oleh hasil manfaatnya bagi dirnya maupun umat manusia di dunia. Hal ini bertujuan agar manusia terlepas dari yang difirmankan Tuhan dalam Firman Tuhan 32: 9 tersebut.
IPTEK pada dasarnya baik namun sebahagian bisa menimbulkan keraguan, mengaburkan eksistensi manusia sebagai subjek maupun objek. Contohnya, teori evolusi Charles Darwin, bayi tabung, cloning dsb, yang bisa menyebabkan manusia menjadi ragu atas
asal usulnya sendiri. Walaupun disatu sisi kemajuan IPTEK memberikan kontribusi positif dalam kehidupan duniawi sebagian manusia, namun disisi lain sebagian masih hidup dalam kondisi tradisional dan primitif bahkan ada yang hidupnya terancam kelaparan dan kematian.
Bila umat beragama di dunia ini tidak memiliki kemampuan dalam mensejajarkan serta mengembangkan antara keyakinan beragama dengan kemajuan IPTEK. maka kecenderungan sekulerisme akan terjadi pada manusia seperti yang terjadi pada saat sekarang ini. Sains tidak boleh membuat manusia menjadi sekuler, karena manusia bukan subjek yang absolut. Manusia wajib mematuhi aturan dan pedoman yang diberikan Tuhan.
Sains sendiri adalah ciptaan Tuhan, oleh karenanya tidak mungkin sains bertentangan dengan ajaran agama. Sains bersifat suplemen terhadap ajaran agama bagi kepentingan misi kehidupan manusia dibumi ini, dalam mengatasi problematikanya sebagai khalifah.
4.Ciri Khas UNPAB
❖ Visi & Misi Universitas Pembangunan Panca Budi
❖ Piagam Panca Budi
❖ Motto Panca Budi
❖ 7 Nilai Dasar Yayasan
Visi & Misi Universitas Pembangunan Panca Budi V I S I
➢ Menjadi Perguruan Tinggi Swasta Yang Terkemuka Berbasis Religius Dalam Mengembangkan IPTEK Yang Bermanfaat Bagi Kemaslahatan Umat.
M I S I
1. Melaksanakan Pengabdian Sesuai Dengan Piagam Panca Budi, Mengabdi Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Negara, Nusa, Bangsa dan Dunia.
2. Mengembangkan IPTEK Berdasarkan Al-Quran dan Hadits, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dengan Menggali Sumber -Sumber Ilmu Yang Berfaedah Dalam Bidang IPTEK dan IMTAQ.
3. Melaksanakan Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Untuk Bangsa dan Negara Republik Indonesia yang Mutunya Dapat Bersaing Secara Nasional dan International Dalam Fitrah Pengabdian Terhadap Allah SWT.
7 Nilai dasar Yayasan
Nilai- nilai luhur Yayasan Prof Dr Kadirun Yahya telah dinyatakan dalam piagam "panca budi"
dan Mutiara hikmahnya menempatkan manusia sebagai insan pengabdi sebagaimana fitrah manusia diciptakan dan dilahirkan untuk melaksanakan pengabdian dan menjadi khalifah di atas bumi, pengatur dan pembimbing bagi orang banyak dengan nilai- nilai pengabdian. Untuk menwujudkan dan mencapai nilai-nilai tersebut terangkum dalam 7 nilai Yayasan.
7 Nilai Dasar Yayasan
1. Menjaga kemurnian akidah Tauhid dan melaksanakan Shalat, Dzikir dan ketentuan syari’at
2. Bersyukur, bersuka cita dan tidak mengeluh
3. Rendah hati, sederhana, apa adanya, memaafkan, tidak tersinggung dan tidak marah 4. Berfikir positif, berprasangka baik dan tidak bergunjing
5. Berbuat baik, mengubah dan menjadi inspirasi
6. Berempati dan memberikan solusi, bukan mengkritik atau mencela 7. Patuh kepada pemimpin dan mentaati peraturan