• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAJARI TENTANG BIOLOGI PAKAN

N/A
N/A
Eza Nur Aziza

Academic year: 2023

Membagikan "PELAJARI TENTANG BIOLOGI PAKAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KELOMPOK 1

BIOPSIKOLOGI MAKAN

PSIKOLOGI ‘19 1. Afifah Dinillah (19370001)

2. Diyana Afita Putri (19370004) 3. Eza Nur Aziza (19370005) 4. Indra Kurniawan (19370008) 5. Julianita (19370010)

6. Mia Rosalina (19370011) 7. Nelly Mellyani (19370015)

(2)

Makan

Makan adalah perilaku yang menjadi interes hampi r setiap orang. Hampir semua orang melakukanny a, dan sebagian orang mendapatkan perasaan sen ag darinya. Akan tetapi, bagi banyak orang, makan

menjadi sumber masalah personal dan masalah ke sehatan yang serius.

(3)

Pencernaan Penyimpanan Energi di Tubuh

Lipid Pro-

tein

Glukos

a

(4)

3 Fase Metabolisme

Cephalic phase

Adalah fase persiapan; fase ini sering dimulai dengan melihat, mencium bau, atau bahkan hanya memikirkan tentang makanan, dan berakhir ketika makanan mulai diserap ke dalam aliran darah.

Absorptive phase

Adalah periode dimana energi yang diserap ke dalam aliran darah dari makanan

memenuhi kebutuhan-segera tubuh.

Fasting phase

Adalah periode dimana semua energi yang tidak tersimpan dari makanan sebelumnya telah digunakan dan tubuh menarik energi dari cadangannya untuk memenuhi kebu- tuhan energi segeranya.

(5)

Teori Lapar dan Makan

Set Points vs. Positive Incentives

(6)

Set-Point Assumption

Banyak orang mengasumsikan bahwa orang lapar (ada dorongan untuk makan) terjadi karena adanya kekurangan energi yang ter-

jadi pada tubuh mereka.

Kemudian, mereka berpandangan bahwa makan adalah cara untuk mendapatkan kembali energi mereka yang sudah terpakai, se-

hingga energi pada tubuh kembali ke titik optimal. 

(7)

Glucostatic Theory

Teori ini menekankan bahwa set-

point seseorang ditentukan oleh gula darah.

Ketika gula darahnya turun secara

signifikan, maka individu akan merasa lapar.

Kemudian,

setelah individu itu makan, ia akan kembali kenyang dan mendapatkan gula darah yang sesuai dengan set-point-

nya.

Lipostatic Theory

Teori ini menekankan bahwa set-

point seseorang adalah lemak tubuh, dan adanya penyimpangan dari set- point tersebut menimbulkan rasa lapar.

(8)

Teori-teori set point tentang rasa lapar dan makan memiliki beberapa kelemahan

1. Teori-teori set point tentang rasa lapar dan makan tidak konsisten dengan ukuran-ukuran evolusioner seperti yang kita pahami.

2. Prediksi utama teori-teori set point tentang lapar dan makan belum dikonfirmasi. Studi-studi awal tampak mendukung teori-teori set point dengan menunjukkan bahwa reduksi besar pada glukosa darah, yang dihasilkan oleh suntikan insulin, menginduksi pen- ingkatan makan pada binatang-binatang.

3. Teori set point tentang rasa lapar dan makan defisien karena tidak mampu menengarai pengaruh faktor-faktor penting seperti rasa, belajar, dan pengaruh social pada rasa lapar dan makan.

(9)

Prinsip perspektif insentif positif tentang makanan adalah

makan dikontrol dengan cara yang sangat mirip den- gan perilaku seksual. Menurut perspektif insentif

positif, derajat rasa lapar

yang dirasakan pada saat tertentu bergantu pada in- teraksi

semua factor yang memengaruhi nilai insentif positif makan. 

Perspektif Insentif Positif

(10)

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kapan Kita Makan

Rasa lapar sebelum waktu makan

Menurut Wood perasaan lapar yang kuat dan tidak

menyenangkan menjelang waktu makan bukan- lah jeritan tubuh meminta makan, melainkan prerasaan yaitu sensasi persiapan tubuh untuk makanan yang diperkirakan meng-gangu

homeostasis Pengondisian Pavlovian

untuk Rasa Lapar

Pandangan bahwa rasa lapar sering kali dise- babkan oleh ekspektasi akan makanan, bukan oleh defisit energy.

(11)

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Seberapa Banyak Kita Makan

1. Sinyal Kenyang, makanan di usus dan glukosa yang masuk

kedalam darah dapat menginduksi sinyal kenyang, yang mengham- bat konsumsi berikutnya. Sinyal ini bergantung pada volume dan nutritive density (kepadatan nutritif, volume kalori per unit)

makanan.

2. Sham Eating, studi tentang sham eating (makan pura-pura)

mengindikasikan bahwa sinyal kenyang dari usus atau darah belum tentu menghentikan makan. Weingarten dan kulinovsky menyimpulkan bahwa banayknya makanan yang kita makan

banyak dipengaruhi oleh pengalaman kita sebelumnya dengan efek psikologis makanan itu, bukan oleh efek segera.

(12)

3. Appertizer Effect dan Rasa Kenyang (efek makanan penggugah selera makan)

4. Besarnya porsi makanan dan rasa kenyang 5. Pengaruh social dan rasa kenyang

6. Rasa kenyang spesifik sensorik.

(13)

Penelitian Fisiologis tentang Lapar dan Kenyang

Glukosa

Glukosa atau gula darah adalah faktor pent- ing dalam rasa lapar, karena kemungkinan otak sangat

tergantung pada gula untuk energinya.

Leptin

Leptin merupakan sebuah protein yang dilepaskan oleh

sel-sel lemak, menurunkan jumlah makanan yang diambil dan meningkatkan pengeluaran energy (klok, Jakobsdottir, & Drent,

1007;Wardlaw & Hampl, 2007)

(14)

Hormon Insulin

Judith Rodin (1984) telah meneliti peran insulin dan glikosa dalam rasa lapar dan perilaku

menyantap makanan. Ia men-emukan bahwa ketika kita makan karbohidrat kompleks,

seperti sereal, roti maka tingkat insulin

meningkat, namun kemudian secara bertahap.

Dan ketika kita mengonsumsi

gula sederhana seperti permen dan coca cola maka tingkat insulin meningkat dan kemudian langsung menurun

dengan cepat.

(15)

Proses-Proses Otak tentang Rasa Lapar Hipotalamik dan Pusat Kenyang

1. Rasa kenyang oleh ventromedial hypothalamus (VMH) (hipotalamus ventromedial)

Pusat kenyang VMH pada 1940, dikemumakan bahwa lesi elektrolitik bi- lateral besar

pada hopotalamus ventromedial menghasilakn hyperphagia (hiperfagia atau makan

berlebih) dan obesitas ekstrem (Hetherington & Ranson, 1940).

2. Makan oleh lateral hypothalamus (LH) (Hipotalamus lateral)

Pusat makan PH pada 1951, Anand dan Brobeck melaporkan bahwa lesi elektrolitik

bilateral pada hipotalamus lateral menghasilkan aphagia (afagia). Dan menyimpulkan bahwa daerah lateral hipotalamus adalah pusat makan.

(16)

Hipotakamus Lateral

Hipotalamus lateral mengendalikan sekresi insulin, mengubah kuatnya respons terhadap cita rasa, dan memfasilitasi asupan makanan dengan berbagai cara.

Hipotakamus Ven- tromedial

Pakar neurosains sejak tahun 1940 telah mengetahui bahwa

balur besar pada hipotalamus ventromedial dapat menimbulkan makan berlebih dan penambah-an berat badan.

Nukleus Paraventrikular

Meningkatnya porsi makan, terutama meningkatnya asupan kar- bohidrat harian.

(17)

Peran Traktus Gastrointestinal dalam Rasa Kenyang

Salah satu studi awal paling berpengaruh tentang rasa la- par dikenalkan oleh Cannon dan Washburn pada 1921.

Temuannya menghasilakan teori bahwa lapar adalah perasaan kontraksi yang disebabkan oleh perut

kosong, sementara kenyang adalah perasaan distensi perut (perut kembung). Dan mereka menemukan bahwa kon-

traksi perut

yang besar berhubungan dengan perasaan sedih karena lapar.

(18)

Peptida lapar dan Kenyang

Penemuan peptide rasa lapar dan kenyang memiliki dua efek besar

pada pencarian mekanisme neural rasa lapar dan kenyang :

· Begitu banyaknya jumlah peptida rasa lapar dan kenyang ini

mengindikasikan bahwa sisitem neural yang mengontrol makan

bereaksi terhadap banyak sinyal yang berbeda, bukan hanya terhadap salah satu atau dua sinyal (terhadap glukosa dan lemak).

· Penemuan bahwa banyak peptida rasa lapar dan kenyang memiliki reseptor-reseptor di hipotalamus telah membangkitkan kembali

ketertarikan pada peran hipotalamus dalam rasa lapar dan makan.

(19)

Serotonin dan Rasa Kenyang

Neurotransmiter onoaminergik serotonin tampaknya berperan dalam

rasa kenyang. Pada manusia, agonis-agonis serotonin (misalanya,

fenfluramin, deksfenfluramin, fluoksetin) telah ditunjukan mengurangi

rasa lapar, makan dan berat badan diberbagai macam kon- disi.

(20)

Obesitas

1

Anoreksia Nervosa

2

Bulimia Nervosa

3

Binge Eating Disorder

4

Gangguan Makan

(21)

Thank you

Referensi

Dokumen terkait