• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

Part of this optimism is caused by a budget surplus of Rp 29.6 on the central government's DAU in 2001. The total of the DAU for these kabupats for 2001 amounts to Rp140.8 billion. The weaknesses of the governments at the provincial and kabupat levels are: 1) the inability to implement the regional autonomy policy of the central government. In particular: issues regarding new powers, . the relationship between the administrative government and parliament, the issue of surplus employees, the arrogance of the regional parliaments towards their voters and the continued practice of corruption, conspiracy and nepotism;

Tabel    Halaman
Tabel Halaman

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Namun, meski banyak argumentasi pesimistis terhadap pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, namun tuntutan daerah untuk melaksanakan desentralisasi dan otonomi luas semakin kuat. Di sisi lain, penyelenggaraan pemerintahan di negara dengan wilayah dan jumlah penduduk yang luas seperti Indonesia, sangat sulit dilakukan dengan pendekatan terpusat. Sementara itu, perlambatan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, apalagi penangguhannya, dikhawatirkan akan mendorong kepemimpinan pemerintahan di Indonesia kembali menjadi sentralistik dan otokratis.

Metode Kajian 2

Pada kunjungan kali ini, tim menambah sampel kabupaten dengan dua kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) dan Kabupaten Gorontalo dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran lebih luas mengenai pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Melakukan pendokumentasian secara sistematis (kualitatif dan kuantitatif) terhadap kasus-kasus yang menyangkut hubungan antara pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah dengan kinerja negara dalam pelayanan publik. Membantu meningkatkan efisiensi dan percepatan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah dalam upaya mengurangi risiko kerusuhan daerah yang dapat mengakibatkan perpecahan bangsa dan menurunkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Tabel 1.  Kabupaten dan kota sampel studi otonomi daerah
Tabel 1. Kabupaten dan kota sampel studi otonomi daerah

Gambaran Umum Daerah Penelitian 4

Dengan demikian, Provinsi Gorontalo secara administratif terdiri atas Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kota Gorontalo, yang terbagi lagi menjadi 21 kelurahan dan 370 desa/kelurahan. Wilayah Kabupaten Gorontalo (baru) mencakup 24% luas Provinsi Gorontalo dan terbagi menjadi 13 kecamatan, 199 desa, dan 33 kelurahan. Universitas Negeri Sam Ratulangi dan IKIP Manado merupakan universitas ternama di Sulawesi Utara.

Tabel 2.  Luas wilayah, penduduk, dan administrasi pemerintahan di Sulut dan Gorontalo, 1999
Tabel 2. Luas wilayah, penduduk, dan administrasi pemerintahan di Sulut dan Gorontalo, 1999

KEWENANGAN, KELEMBAGAAN, DAN KEPEGAWAIAN 7

Pengantar 7

Kewenangan dan Organisasi Pemerintah Daerah 8

Pada struktur organisasi yang baru, jumlah instansi yang dibentuk lebih mendekati opsi II (lihat Tabel 3), dalam hal ini pemerintah daerah masih mempertimbangkan aspek akomodasi pegawai. Banyak perwakilan pemerintah daerah yang mengakui bahwa struktur organisasi dan mekanisme kerja yang ada saat ini masih dalam lingkup uji efektivitas struktur organisasi yang ada, dalam artian masih dimungkinkan terjadinya perubahan struktur organisasi. Kelemahan ini tidak hanya menyebabkan tidak adanya tindakan, namun juga menyulitkan pemerintah daerah dalam mengambil keputusan mengenai struktur organisasi kelembagaannya.

Tiga kabupaten di Sulawesi Utara yang dikunjungi tim SMERU (Minahasa, Bolmong dan Gorontalo) sudah mempunyai peraturan struktur organisasi baru yang disetujui antara bulan November-Desember 2000. Jumlah dan jumlah peraturan daerah tentang struktur organisasi di masing-masing kabupaten bisa 4. Untuk Kabupaten Minahasa dan Bolmong, struktur organisasinya berdasarkan jenis instansi yang terdiri atas: sekretariat daerah, badan, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan.

Begitu pula dengan struktur organisasi pemerintah daerah Bolmong dan Kabupaten Gorontalo yang nampaknya masih cukup gemuk (total 38 instansi), karena terdapat sejumlah instansi vertikal dan cabang dinas yang dilebur/dikonsolidasi menjadi lembaga otonom. untuk menampung sebanyak mungkin karyawan. Seperti halnya di tingkat provinsi, pemerintah kabupaten juga menyadari bahwa struktur organisasi yang dibentuk masih terbuka, artinya masih bisa berubah sesuai perkembangan dan kebutuhan daerah. Misalnya, Kepala Badan Organisasi Pemerintahan Daerah Kabupaten Bolmong mengatakan, struktur organisasi baru terbuka untuk kemungkinan dilakukan perbaikan sesuai dengan perkembangan yang ada serta memperhatikan efisiensi dan efektivitas.

Gangguan hubungan provinsi dan kabupaten tidak tampak di Gorontalo, hal ini dikarenakan Pemprov Gorontalo masih disibukkan dengan kegiatan persiapan pemilihan anggota dewan, pemilihan gubernur final dan pembentukan dewan baru. organisasi. struktur.

Tabel 3.  Jumlah dinas dan lembaga teknis daerah Pemda Propinsi Sulut, sebelum dan setelah otonomi daerah
Tabel 3. Jumlah dinas dan lembaga teknis daerah Pemda Propinsi Sulut, sebelum dan setelah otonomi daerah

Administrasi Kepegawaian 13

Kondisi kepegawaian Pemprov Sulut: sebelum otonomi daerah, hasil kajian pemerintah daerah, dan berdasarkan PP No. 71 Catatan: *) = termasuk BKKBN, BPN dan Badan Pusat Statistik, namun tidak termasuk guru dan penyuluh (fungsional staf). Pada saat studi ini dilakukan, pemerintah provinsi belum menemukan solusi terbaik terhadap masalah kelebihan staf. Untuk itu, Pemprov Sulut mengusulkan penghapusan gaji pegawai dari DAU tahun depan dan tetap dibayarkan secara terpusat.

Dengan adanya pemekaran provinsi baru (Provinsi Gorontalo) permasalahan kelebihan pegawai di lingkungan Pemprov Sulut sedikit terbantu. Guna menjaring minat pegawai untuk mengisi posisi tersebut, Pemda Sulut menyebarkan kuisioner kepada masing-masing instansi di lingkungan pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota dan instansi vertikal. Kuatnya minat pegawai kantor wilayah untuk menjadi pegawai di Provinsi Gorontalo diyakini karena kekhawatiran mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan di lingkungan Pemprov Sulut.

Pemerintah provinsi melihat dalam penempatan pegawai dan pejabat di tingkat kabupaten/kota banyak terdapat inkonsistensi terutama mengenai syarat kepangkatan. Dalam hal ini sebaiknya pemerintah daerah kabupaten/kota mengosongkan sementara jabatan tersebut kemudian mencari pegawai dari provinsi atau daerah lain yang telah memenuhi persyaratan. Bahkan Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Sulut menilai gubernur tetap mempunyai kewenangan mengawasi pemerintah kabupaten/kota dalam mengatur kepegawaiannya.

Sejumlah pegawai pemerintah daerah mempertanyakan penciptaan posisi Wakil Kepala Dinas di seluruh dinas di Kabupaten Minahasa.

Tabel 6.  Jumlah pegawai pemda dan pegawai instansi vertikal
Tabel 6. Jumlah pegawai pemda dan pegawai instansi vertikal

ANALISIS KEUANGAN DAERAH: Dana Alokasi Umum (DAU)

Tingkat Propinsi 18

Kasus yang dihadapi Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan bahwa pada praktiknya konsep tersebut belum berjalan dengan baik. Kenyataannya, DAU yang sebenarnya dialokasikan ke Provinsi Sulut hanya sebesar Rp75,6 miliar, karena Rp45,3 miliar lagi dialokasikan ke Provinsi Gorontalo yang merupakan provinsi baru. Dengan demikian, besaran DAU, bahkan total pendapatan yang direncanakan Pemerintah Provinsi Sulut tidak akan mencukupi kebutuhan belanja yang dianggarkan.

Jika seluruh kebutuhan belanja tersebut harus dipenuhi dari DAU saja, maka defisit DAU Provinsi Sulawesi Utara akan mencapai Rp153,4 miliar. Angka tersebut mendekati angka belanja gaji pegawai Pemprov Sulut dan pegawai enam kantor wilayah sebelumnya. Bappeda menyatakan Pemprov Sulut akan menerima dana devolusi sekitar Rp 700 miliar untuk tahun anggaran 2001.

Melihat berbagai permasalahan keuangan yang diuraikan di atas, maka wajar jika pada TA 2001, pemerintah provinsi Sulawesi Utara lebih fokus pada aspek belanja dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan rutin saja. Selain membuat surat permohonan tambahan dana ke pusat, alternatif lain yang bisa dilakukan Pemprov Sulut untuk memperkuat basis keuangannya adalah melalui upaya peningkatan PAD. Di tengah semakin sempitnya ruang penciptaan sumber pendapatan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara masih berupaya membuat beberapa peraturan daerah baru terkait pajak daerah.

Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang kontribusi pengendalian mutu dan pengembangan produksi cengkeh dan pala di provinsi Sulawesi Utara.

Tabel 9.  APBD Propinsi Sulut, TA 1999/2000-2001 (Rp Juta)
Tabel 9. APBD Propinsi Sulut, TA 1999/2000-2001 (Rp Juta)

Tingkat Kabupaten 21

Namun karena realisasi PAD TA 2000 sebesar Rp 39,1 miliar, maka peningkatan target TA 2001 dapat dikatakan masih realistis. Tiga peraturan daerah baru diperkenalkan pada tahun anggaran 2001, yaitu retribusi penangkapan ikan, penimbangan kendaraan bermotor dan pelayanan penciptaan lapangan kerja. Jumlah ini melebihi anggaran yang dialokasikan untuk belanja pembangunan pada TA 2000 (setara Rp 27,5 miliar), atau TA Rp 20,3 miliar).

Masing-masing pos pendapatan tersebut ditargetkan meningkat lebih dari 50% dibandingkan realisasi yang diperoleh pada TA 2000. Padahal, pada TA 2000, realisasi pendapatan dari posisi ini hanya Rp 241 juta (dari target Rp 2,3 miliar). Pada TA 2000, DPD yang diterima Kabupaten Bolmong sebesar Rp16,3 miliar atau setara Rp21,7 miliar, sehingga pemberlakuan otonomi daerah menambah kas pemerintah daerah sebesar Rp7,9 miliar.

Kami bermaksud untuk mempercepat pembahasan rancangan peraturan daerah tersebut agar dapat dilaksanakan segera setelah PL 2001, ketika perubahan APBD juga terjadi (sekitar Agustus 2001). Untuk retribusi yang target total penerimaannya diharapkan meningkat sebesar 42,8%, sebagian dari target tersebut diharapkan berasal dari peningkatan pemungutan retribusi yang berlaku hingga saat ini, serta dari beberapa penerimaan baru yang diperkenalkan pada TA 2001. Pada Tahun PL 2000 Jumlah DPD yang diterima Kabupaten Gorontalo sebesar Rp 23,8 miliar (setara Rp 31,7 miliar, selama 12 bulan), sedangkan surplus DAU (setelah dikurangi belanja rutin) hanya sebesar Rp 20,4 miliar, lebih sedikit dibandingkan perolehan DPD PL 2000.

Dengan demikian, penerapan otonomi daerah dapat dikatakan semakin membebani beban perekonomian Kabupaten Gorontalo.

Tabel 11.  APBD Kabupaten Minahasa TA 1999/2000 – 2001 (Rp Juta)
Tabel 11. APBD Kabupaten Minahasa TA 1999/2000 – 2001 (Rp Juta)

KEBIJAKAN DAN PELAYANAN PUBLIK 28

Kebijakan: Hambatan dan Kecenderungan 29

Kalangan akademisi menilai pemerintah daerah belum memiliki arah yang jelas dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan langsung dengan upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pelaku ekonomi, seperti dituturkan pengusaha rotan (anggota Asmindo) di Gorontalo, mengaku belum banyak memahami kewenangan yang dimilikinya. Ketika ada pengusaha rotan yang meminta izin melalui pemerintah kabupaten, mereka ditolak, namun kemudian izin yang sama yang diajukan melalui pemerintah provinsi diterima.

LSM berpendapat bahwa dalam melaksanakan otonomi daerah, hal yang paling krusial adalah sikap dan mental aparatur, baik eksekutif maupun legislatif. Otonomi seringkali diterjemahkan sebagai legitimasi daerah untuk meningkatkan PAD, dibandingkan mempertimbangkan bagaimana daerah dapat meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam merumuskan berbagai langkah kebijakan, baik mengenai upaya restrukturisasi di lingkungan pemerintah daerah maupun mengenai kepentingan masyarakat umum, banyak pihak yang menilai masih dilakukan secara sepihak.

Meskipun pemerintah daerah telah melibatkan unsur perguruan tinggi, LSM, dan tokoh masyarakat dalam proses penetapan kebijakan publik, namun hal tersebut hanya dilakukan secara formal. Demokratisasi belum berjalan karena masih adanya hambatan aspirasi masyarakat dalam proses dan mekanisme pengambilan kebijakan publik. Hal serupa juga diungkapkan oleh pengusaha rotan (anggota Asmindo) bahwa perilaku pemerintah daerah semakin arogan dan cenderung tidak demokratis.

Senada, pengusaha yang tergabung dalam Kadin dan Gapensi menegaskan, pemerintah daerah tidak transparan dalam proses pembuatan peraturan daerah.

Pelayanan Publik: Hambatan dan Kecenderungan 33

Peningkatan peran orang tua agar turut serta mendukung kegiatan sekolah hanya dilakukan melalui pembentukan BP3. Fakta di lapangan menunjukkan partisipasi orang tua melalui donasi pendidikan/BP3 mengalami penurunan, baik di tingkat SMA, SMP, dan SD. Di salah satu sekolah remaja di Bolmong, bantuan utama yang diharapkan dari orang tua siswa adalah iuran pendidikan sebesar Rp 6.000/orang tua siswa per bulan.

Setiap orang tua siswa diwajibkan membayar iuran pendidikan sebesar Rp 40.000 per tahun, namun pendapatan dari iuran tersebut juga stagnan. Hal ini terbukti, selain banyaknya orang tua yang tidak membayar dana bantuan BP3, juga banyaknya siswa yang menerima beasiswa. Bahkan di salah satu SD di Gorontal terlihat antusiasme partisipasi orang tua siswa semakin menurun.

Tampaknya perguruan tinggi di daerah seperti ini juga perlu diajarkan keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan dukungan finansial. Ditegaskan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, belakangan ini ada kesan apresiasi orang tua terhadap pendidikan menurun di beberapa tempat. Kesan menurunnya apresiasi orang tua terhadap pendidikan mungkin juga disebabkan oleh menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Namun petani cengkeh senang karena harga cengkeh meningkat tajam (Rp 70.000/kg cengkeh kering), namun petani bertanya-tanya sampai kapan harga tersebut bisa bertahan.

KESIMPULAN 38

Referensi

Dokumen terkait