• Tidak ada hasil yang ditemukan

pelaksanaan pendidikan karakter pada mata pelajaran

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pelaksanaan pendidikan karakter pada mata pelajaran"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA N 2 BAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN

Juanda Eka Putra, Kaksim, Juliandry Kurniawan Junaidi Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

[email protected]

ABSTRACT

This research is for get file, information and describe the implementation of character education on the subject of history in SMA N 2 Bayang, the southern coastal district, seen from: 1) religious value, 2) honest value, 3) discipline value.

The purpose of research is to describe the implementation of character education, and obstacles faced by teachers in the implementation of character education based on the 2013 curriculum on the subject of history at SMA N 2 Bayang, the southern coastal district. The type of research used in this study is a study of evaluative studies with qualitative analysis with the location of research at SMA N 2 Bayang. Through documentation techniques in the form of RPP, observation, and interview. The results showed: Obstacles encountered in the implementation of character education such as there are still students who do not want to be nurtured, and break the rules made by the school. It can be concluded that the implementation of character education on the subject of history in SMA N 2 Bayang is good but there are still obstacles in the implementation.

Keywords: Character Education, Learning History PENDAHULUAN

Karakter yang dimiliki suatu bangsa sangat menentukan keberadaan bangsa tersebut dimata dunia.

Karakter bangsa merupakan pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakter itu ibarat landasan atau pondasi yang dibutuhkan dalam membangun bangsa yang kuat. Bangsa yang memiliki jati diri dan karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa besar yang bermartabat dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Apabila

sebuah bangsa kehilangan karakter bangsanya maka bangsa tersebut akan mudah dikendalikan oleh bangsa lain dan akan susah untuk mandiri (Kemendiknas, 2010: 1).

Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Tujuan yang diharapkan dalam pendidikan tertuang dalam Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3 yang isinya adalah:

(2)

2

“Pendidikan nasional berfungsi

mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Dalam Darmanto

& Suryatri (2013: 60).

Banyaknya tindakan tidak terpuji yang dilakukan peserta didik seperti mencontek, tawuran, membolos dan tindakan lainnya mengindikasikan bahwa pendidikan formal gagal dalam membentuk karakter peserta didik. Sjarkawi (2006:

45) menyatakan bahwa perilaku dan tindakan amoral disebabkan oleh moralitas yang rendah. Moralitas yang rendah antara lain disebabkan oleh pendidikan moral di sekolah yang kurang efektif.

Pembelajaran sejarah merupakan salah satu konsep

pendidikan yang berfungsi untuk membentuk siswa sebagai warga negara yang mempunyai karakter.

Tujuan utama belajar sejarah adalah menjadikan seseorang bijaksana (Kuntowijoyo, dalam Aman, 2011:

102 ). Belajar sejarah merupakan pintu untuk mempelajari dan menemukan hikmah terhadap apa yang sudah terjadi. Belajar sejarah adalah belajar tentang kemanusiaan dalam segala aspeknya. Belajar sejarah akan melahirkan kesadaran tentang hakekat perkembangan budaya dan peradaban manusia, hasil belajar inilah yang kemudian dikenal sebagai kesadaran sejarah.

Perubahan kurikulum pendidikan merupakan suatu tuntutan yang mau tidak mau harus tetap dilakukan tinggal menentukan tentang waktu saja. Kurikulum dan perubahanya tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan. Pendidikan menjadi hal yang sangat fundamental bagi kehidupan seseorang, dengan pendidikan yang baik terbentuk dari pola dan sistem pendidikan yang baik pula.

Perubahan kurikulum adalah kebijakan publik berskala luas yang

(3)

3 melibatkan komponen-komponen waktu, keahlian, dana, peralatan, pengorbanan, kemauan yang sangat masif. Beralih dan bergantinya kurikulum ke arah yang lebih baik tentu saja tidak berjalan mulus, selalu saja ada permasalahan kendatipun kurikulum yang sudah dicanangkan diterapkan sudah berjalan sama halnya dengan Kurikulum 2013 dengan berjalannya waktu, permasalahan baru bermunculan. Kemendikbud sendiri sempat melansir permasalahan Kurikulum 2013, pada awal penerapannya pada tahun 2014 lalu (Imas kurniasih& Berlin sani, 2016: 4- 5).

Melihat fenomena yang ada di lapangan pada saat penulis melakukan observasi awal pada tanggal 8 Agustus 2017 di SMA N 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, penulis melihat Nilai religius, guru yang mengajar pada jam pertama membuka dengan salam dan berdo’a untuk memulai pembelajaran dan berdo’a sebelum pulang sekolah, membaca al qur’an sebelum belajar, membaca asmaul husna, sholat zuhur berjamaah bergiliran perlokal setiap harinya, pada hari rabu dan kamis tadarusan, jum’at kultum satu jam

pelajaran, merayakan hari-hari besar islam seperti memperingati kelahiran nabi muhammad, dan siswa yang terlambat diharuskan menghapal satu ayat al Qur’an oleh guru piket agar bisa masuk ke lokal.

Nilai Jujur, penulis masih melihat masih kurangnya nilai jujur pada diri peserta didik karna masih ada siswa yang membuat PR di sekolah, peserta didik masih suka mencontek pada saat ujian. Nilai disiplin, penulis juga melihat masih kurangnya nilai disiplin peserta didik yang melanggar peraturan sekolah seperti peserta didik yang laki-laki masih suka mengeluarkan baju padahal guru tidak bosan-bosanya untuk mengingatkan agar siswa laki- laki bajunya dimasukan kedalam, tidak hanya itu saat jam pelajaran berlangsung peserta didik tidak antusias dengan pelajaran sejarah dapat dilihat dari suasana kelas yang tidak kondusif, terkesan malas dalam mengikuti pelajaran, pada saat pergantian jam pelajaran siswa juga berkeliaran di luar, pada pagi hari dan setelah jam istirahat selesai ada juga peserta didik yang telat masuk ke kelas.

(4)

4 Pada saat proses belajar mengajar peserta didik lebih cendrung tidak memperhatikan guru yang menerangkan pelajaran di depan kelas, bahkan ada sebagian peserta didik yang keluar masuk saat proses pembelajaran berlangsung.

Masalah inilah yang setiap hari harus dihadapi oleh guru di sekolah.

Berbagai cara telah dilakukan untuk melarang siswa keluar masuk saat proses belajar berlangsung, tetapi hal tersebut tidak membuat siswa takut untuk keluar masuk saat proses belajar berlangsung.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi evaluatif. Hal ini berdasarkan karena penelitian ini berusaha menggambarkan atau mendeskripsikan suatu keadaan sebagaimana mestinya. Penelitian studi evaluatif merupakan penelitian untuk melihat tingkat keterlaksana suatu proses kebijakan secara cermat dengan cara mengetahui evektivitas masing-masing komponen (Arikunto, 2008:7). Penelitian ini berlokasi di SMA N 2 Bayang kecamatan bayang kabupaten pesisir selatan, penelitian

dilakukan pada tahun pelajaran 2017- 2018. Sugiyono (2011:84) menjelaksan bahwa: “sampling purposiveadalah teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu”. Dari pengertian diatas agar memudahkan penelitian, penulis menetapkan sifat-sifat dan karakteristik yang digunakan dalam penelitian ini. penentuan informan yang diambil adalah 34 orang siswa, 1 orang guru sejarah, wakil kurikulum, dan kepala sekolah SMA N 2 Bayang Kabupaten Pesisir selatan.

Sesuai dengan data yang digunakan maka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut: Observasi (pengamatan), Wawancara, Dokumentasi.

Dalam penelitian ini digunakan model analisis data interaktif yang dikemukakan oleh Milles dan Huberman dalam Iskandar (2009: 222) yang terdiri dari empat komponen yaitu: Pengumpulan, Reduksi Data, Display atau Penyajian Data, Menarik Kesimpulan atau Verifikasi.

(5)

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Singkat SMA N 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan

SMA N 2 Bayang beralamat di Jl.Gurun Panjang-Bayang, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat yanng berdiri pada tahun 2002, dan beroperasi. Pada tahun 2002 pemerintah daerah kabupaten pesisir selatan mendapat bantuan dana yang dialokasikan untuk pembukaan 2 buah sekolah baru tingkat SMA. Setelah diresmikan SMA N 2 Bayang mengalami perkembangan yang sangat memuaskan, setiap tahun siswa/siswi peminatnya semakin bertambah.

Pimpinan sekolah SMA N 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan diantaranya yaitu, Bapak Drs. Jamalus, Bapak Drs.

Yusri, S.Pd, Bapak Drs. Yon Erizal, S.Pd, Bapak Sarudin, S.Pd, dan Ibu Risdawati, S.Pd.

Sebagai sekolah berstandar Nasional SMA N 2 Bayang juga punya visi dan misi yang tidak kalah bersaing dengan sekolah lain. Jumlah ruang kelas yang ada di sekolah ini adalah 27 lokal (9 lokal kelas X, 9 lokal kelas XI, 9 lokal kelas XII).

Kondisi guru di SMA N 2 Bayang cukup memadai dan dapat dibilang berkompetensi yang tinggi, hal ini berdasarkan bahwa guru yang mengajar di SMA N 2 Bayang berkualifikasi akademik Strata 1 dan Strata 2 yang masing-masing mempunyai kaahlian di bidangnya.

Guru sejarah SMA N 2 Bayang Berjumlah 4 orang dengan guru tetap 1 orang yang bernama Ibu Misti Midarti dan guru tidak tetap 3 orang, yang bernama Vivi Yulianti, Nofridon Mulyadi dan Edi Sugino.

Dari observasi penulis dengan guru sejarah, peserta didik SMA N 2 Bayang. Peserta didik ini terbagi atas tiga tingkat yaitu peserta didik yang duduk di kelas X Sebanyak 9 lokal, kelas XI sebanyak 9 lokal dan kelas XII sebanyak 9 lokal, semuanya 27 rombel.

Gambaran Pelaksanaan Pendidikan Karakter Berdasarkan Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA N 2 Bayang

Guru sejarah yang mengajar di SMA N 2 Bayang sebelum mengajar telah mempersiapkan bahan ajar yang sesuai serta memahami nilai karakter

(6)

6 yang akan disampaikan kepada siswa karena dalam Kurikulum 2013 menanamkan pemahaman nilai karakter yang terdapat pada KI 1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. mempertahankan kemerdekaan dan menunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini diperkuat berdasarkan hasil wawancara pada hari kamis tanggal 11 Januari 2018 dengan Ibu Misti Midarti, yang merupakan Guru Mata Pelajaran Sejarah di SMA N 2 Bayang, di ketahui bahwa: “media atau sumber yang kurang memadai dan juga banyaknya siswa yang tidak mau dibina”. Ibu Vivi selaku guru sejarah juga mengungkapkan bahwa:

“kemauan belajar yang masih kurang apalagi dalam belajar sejarah, itu merupakan mata pelajaran yang membosankan dipikiran mereka dan masih banyaknya siswa yang tidak mentaati peraturan sekolah, seperti terlambat”.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh wakil kurikulum, Bapak Ageung Sopian dalam wawancara pada hari Rabu 10 Januari 2018 menyatakan bahwa: “Sudah semuanya, tetapi masih ditemukan beberapa siswa/siswi yang belum mengikuti karakter tersebut, dan kami dari pihak sekolah terus melakukan pendekatan untuk membina siswa/siswi yang sulit atau tidak mau diataur”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Misti dan Bapak Ageung diketahui masih adanya siswa/siswi yang tidak mau diatur dalam pelaksanaan pendidikan karakter di SMA N 2 Bayang.

Religius

Berdasarkan pengamatan pertama peneliti pada tanggal 10 Januari 2018 di kelas XII IPS2 pelaksanaan pendidikan karakter religius yang dilakukan untuk pengajaran melalui keteladanan oleh guru sejarah. Peneliti

(7)

7 melihat melalui pengamatan peneliti, Keteladanan yang dilakukan oleh Ibu Misti Midarti dalam mendidik siswa- siswinya, saat ingin mesuk ke dalam kelas XII IPS2 Ibu Misti mengucapkan salam, setelah masuk kedalam kelas Ibu Misti menganjurkan siswa untuk berdo’a dikarenakan pembelajaran sejarah merupakan pelajaran pertama pada hari itu, saat siswa berdo’a Ibu Misti juga ikut berdo’a bersama siwa kelas XII IPS2. Selanjutnya Ibu Misti dan siswa melakukan tadarus bersama, karna pada hari rabu dan kamis guru yang mengajar pada jam pertama harus membimbing siswa untuk melaksanakan tadarus, karna itu merupakan kegiatan rutin 2 kali seminggu.Pada kagiatan inti guru menjelaskan tentang Stabilisasi Politik dan Rehabilitasi EkonomiIndonesia bersama Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina membentuk organisasi kerjasama regional ASEAN (Association of South East Asian Nation) di Bangkok 8 Agustus1967.

Tujuan pembentukan ASEAN ini adalah untuk meningkatkan kerjasama regional khususnya di bidang ekonomi dan budaya. Guru memberikan

keteladanan dari berbagai negara dapat membentuk organisasi.

Pengamatan kedua peneliti pada tanggal 11 Januari 2018 di kelas XII IPS4 peneliti melihat nilai religius yang dilakukan oleh Ibu Misti melalui keteladanan terlihat saat masuk ke kelas XII IPS4 Ibu Misti mengucapkan salam dan oleh siswa dijawab dengan wailaikum salam, pembelajaran sejarah di kelas XII IPS4 merupakan pelajaran terakhir dan pada hari itu merupakan jadwal kelas XII IPS4 untuk sholat Zuhur berjamaah di mushola, Ibu Misti selaku guru yang mengajar mendapat tanggung jawab untuk mengawasi siswa untuk sholat Zuhur berjamaah, juga melakukan sholat Zuhur berjamaah bersama siswa. Setelah sholat Zuhur berjama’ah siswa kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran, setelah pelajaran berakhir sebelum pulang guru dan siswa berdoa.

Berdasarkan wawancara peneliti dangan Ibu Misti selaku guru sejarah pada tanggal 11 Januari 2018 sebagai berikut: “belum, karna masih banyaknya siswa yang sulit untuk diatur”. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bapak Ageung

(8)

8 Sopian, selaku wakil kurikulum wawancara dilakukan pada tanggal 10 Januari 2018 sebagai berikut: “siswa yang tidak mau di berikan pembinaan”. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sejarah Ibu Misti Midarti dan Bapak Ageung Sopian selaku wakil kurikum diatas dapat dilihat bagaimana pihak sekolah kesulitan dalam membina beberpa siswa.

Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang- ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan seseorang. Karena metode ini berintikan pengalaman yang dilakukan terus-menerus. (http://asadu ddin99.blogspot.co.id/2016/10/normal -0-false-false-false-en-us-xnone.html).

Berdasarkan pengamatan peneliti di kelas XII IPS1 pada hari kamis tanggal 11 Januari 2018 pembelajaran sejarah merupakan jam pelajaran pertama Ibu Misti Midarti, saat masuk ke kelas XII IPS1 Ibu Misti mengucapkan salam, selaku guru sejarah yang mengajar menganjurkan siswa untuk berdo’a dan Ibu Misti juga ikut berdo’a, setelah berdo’a siswa dan Ibu Misti melakukan tadarusan, karna setiap hari rabu dan kamis siswa di SMA N 2

Bayang melakukan tadarusan dan dipandu oleh guru yang mengajar pada jam pertama. Kegiatan inti yang dilakukan Ibu Misti dalam pembelajaran tentang pemerintahan orde baru, yaitu dengan membentuk kelompok dan melakukan diskusi saat diskusi Ibu Misti menganjurkan siswa agar selalu sopan dan menghargai pendapat orang lain.

Berdasarkan pengamatan peneliti sekolah memberikan jadwal perlokal bergiliran setiap hari untuk melaksanakan sholat Zuhur berjamaah di mushola sekolah dan dipandu dengan guru yang mengajar. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi guru maupun murid setiap jam sholat Zuhur. Tetapi masih banyak siswayang tidak mengikuti sholat berjamaah. Seperti yang diungkap oleh Ibu Misti Midarti, S.Pd selaku guru sejarah, hasil wawancara pada tanggal 11 Januari 2018 sebagai berikut: “dengan cara terus melakukan pembinaan kepada siswa”. Hal yang sama juga diperkuat oleh bapak Ageung Sopian, S.Pd selaku wakil kurikulum, wawancara pada tanggal 10 Januari 2018 sebagai berikut:

(9)

9

“siswa yang tidak mau diberikan pembinaan”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ageung Sopian, S.Pd dan Ibu Misti Midarti, menggambarkan kegiatan yang dilakukan sudah sesuai dengan KI 1, yang terdapat pada KI 1 yaitu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianut, meskipun sudah berjalan dengan baik tetapi masih terdapat peserta didik yg tidak melaksanakan KI 1 tersebut.

Berdasarkan pengamatan peneliti pada tanggal 12 Januari 2018 di kelas XII IPA1 pelajaran pertama adalah pelajaran sejarah, Ibu Misti Midarti mengucapkan salam saat masuk kekelas XII IPA1, Ibu Misti dan siswa berdo’a bersama sebelum memulai pelajaran, selaku guru yang mengajar jam pertama pada hari jum’at, Ibu Misti memandu siswa mengumpulkan infak, dan dimulai oleh Ibu Misti yang memberi infak, uang infak yang terkumpul berguna untuk kegiatan sosial.

Jujur

Berdasarkan pengamatan peneliti pada tanggal 10 Januari 2018 di kelas

X IPS3, nilai karakter berdasarkan kejujuran melalui Pengajaran melalui keteladanan di SMA N 2 Bayang dilakukan dengan selalu berbuat dan berperilaku jujur, guru selalu mendidik siswanya untuk menjadi lebih baik. Ibu Misti Midarti selaku guru sejarah mengajarkan nilai kejujuran kepada siswa agar selalu berlaku jujur baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah, Ibu Misti memberikan contoh teladan kepada siswa dengan selalu berlaku jujur, berdasarkan pengamatan peneliti di kelas X IPS3 yang sedang belajar dengan Ibu Misti, pada saat PBM sedang berlangsung Ibu Misti meminta izin 5 menit kepada siswa untuk pergi ke wc, setelah 5 menit Ibu Misti kembali masuk ke dalam kelas dan melanjutkan pelajaran, perilaku yang ditunjukan oleh Ibu Misti merupakan salah satu contoh keteladan tentang kejujuran, agar siswa yang minta izin ke toilet, benar- benar pergi ketoilet dan segera masuk kedalam kelas.

Seperti yang diungkap oleh Ibu Misti Midarti, S.Pd wawancara pada tanggal 11 Januari 2018 sebagai berikut: “ada, pada saat ulangan tidak

(10)

10 boleh mencontek, jika tedapatan, maka kertas ulangan yang mencontek akan langsung diambil walaupun belum selesai mengerjakan ulangan”.

Dari ungkapan Ibu Misti Midarti tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap jujur sangat penting bagi peserta didik mau pun guru, untuk melatih sikap jujur ini dapat dilakukan dengan larangan ketika ada siswa yang mencontek.

Disiplin

Pengamatan yang peneliti lakukan di kelas XII IPA1 pada tanggal 12 Januari 2018, Ibu Misti Midarti selaku guru sejarah yang mengajar pada jam pertama, memberikan contoh keteladanan kepada siswa selalu datang tepat waktu, setelah bel masuk berbunyi Ibu Misti pun menuju kelas XII IPA1, setelah sampai di kelas sebelum memulai pelajaran Ibu Misti mengecek kehadiran siswa. Setelah mengecek kehadiran siswa Ibu Misti pun memulai kegiatan inti pelajaran tentang Nasionalisme, dan mencontohkan kepada siswa bahwa kita sebagai bangsa yang cinta akan tanah air harus disiplin, dengan cara mentaati semua peraturan yang ada.

Seperti yang diungkap oleh siswa Putra Alifri yang pernah melanggar aturan sekolah, wawancara pada tanggal 9 Januari 2018 sebagai berikut: “belajar dengan giat, tapi awak acok talambek karano rumah awak jauh pak”, artinya: belajar dengan giat, tetapi saya sering terlanmabat karna rumah saya jauh pak”. Siswa yang pernah melanggar disiplin baju keluar atau tidak rapi juga diungkap oleh Fadil, wawancara pada tanggal 13 Januari 2018 sebagai berikut: tidak keluar masuk pada saat belajar, kadang baju yang sering tidak masuk kedalam, sering mendapat teguran dari guru”.

Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan siswa SMA N 2 Bayang dapat disimpulkan bahwa siswa yang tidak disiplin akan diberikan sanksi sesuai dengan apa yang dilanggar, memberikan sanksi berupa hukuman dan memberikan bobot atas pelanggaran tersebut, hal ini berlaku kepada semua peserta didik tanpa harus membeda-bedakannya, berdasarkan hasil observasi peneliti sekolah memang sudah memberikan sanksi kepada siswa yang melanggar aturan akan tetapi sanksi yang

(11)

11 diberikan tidak terlalu membuat siswa jera untuk melakukan kesalahannya yang sama, berdasarkan ungkapan dari Putra Alifri dan Fadil diatas terlihat bahwa masih adanya siswa yang tidak disiplin.

Berdasarkan pengamatan peneliti pada tanggal 13 Januari 2018 di kelas X IPA1 di SMA N 2 Bayang, Ibu Misti Midarti menggunakan teknologi berupa infokus sebagai media untuk mengajar, pada saat peneliti melakukan pengamatan Ibu Misti sedang mengajarkan materi tentang akulturasi Hindu-Budha, dan memutarkan vidio tentang akulturasi budaya Hindu-Budha.

Guru yang mengajar sejarah belum sepenuhnya mengunakan teknologi seperti infokus, hal ini juga diungkap oleh Ibu Misti Midarti selaku guru sejarah, wawancara pada tanggal 11 Januari 2018 sebagai berikut: “media dan sumber yang kurang memadai, dan juga banyaknya siswa yang tidak mau dibina”.

Berdasarkan wawancara denngan siswapada tanggal 12 Januari 2018 tentang media apa yang digunakan oleh guru sejarah Novita Sari Menjawab: “Media vidio” dan

wawancara pada tanggal 11 Januari 2018 Naila Putri mengemungkakan:

“menggunakan media

gambar”.Berdasarka hasil wawancara dengan siswa dan guru sejarah, bahwa belum sepenuhnya menggunakan teknologi, dikarenakan masih terbatasnya media dan sumber dalam pengajaran.

Begitu banyak strategi pembelajaran yang dikemungkakan oleh para ahli. Mulai dari role playing.

Namun kenapa guru lebih sering menggunakan metode ceramah.

Dalam hal ini, faktor kreaktifitas seorang guru memiliki peranan penting.

Berdasarkan pengamatan peneliti pada tanggal 10 Januari 2018 di kelas X IPS1 yang sedang belajar dengan Ibu Misti Midarti tentang akulturasi perpaduan budaya Hindu-Budha dengan budaya asli Indonesia, yaitu berupa seni bangunanberupa candi, guru hanya bisa memperlihatkan gambar candi-candi di Indonesia kepada siswa dan tidak melakukan pelajara melalui praktek langsung.

(12)

12 Pembahasan Kendala yang Dihadapi Guru Dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter Berdasarkan Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA N 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.

Pelaksanaan pendidikan karakter di SMA N 2 Bayang sudah berjalan dengan baik, meskipun demikian namun masih terdapat beberapa siswa yang masih melanggar tata tertib yang dibuat oleh sekolah. Meskipun demikian dari pihak sekolah sudah berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk sekolah, tetapi masih terdapat kendala yang dihadapi oleh guru dalam menanamkan pendidikan karakter di sekolah.

Berdasarkan pengamatan peneliti selama penelitian mulai dari tanggal 9- 13 Januari 2018 peneliti melihat masih adanya siswa yang terlambat, cabut, tidak berpakaian rapi, dan sebagainya.

Inilah yang menjadi kendala bagi sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter di sekolah.

Bedasarkan hasil wawancara penulis dengan kepala sekolah pada tanggal 10 Januari 2018 sebagai berikut:

“sarana dan prasarana, ada beberapa siswa yang tidak mau dibina”.

Hal serupa juga diungkapkan oleh wakil kurikulum, wawancara pada tanggal 10 Januari 2018sebagai berikut: “Siswa yang tidak mau diberikan pembinaan”. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibu Misti selaku guru yang mengajar sejarah, berdasarkan wawancara peneliti pada tanggal 11 Januari 2018 sebagai berikut: “media atau sumber yang kurang memadai dan banyaknya siswa yang tidak mau dibina”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kurikulum, dan guru sejarah, dapat dilihat masih terdapat siswa yang membangkang, hal inilah yang menjadi kendala bagi guru dalam menanamkan nilai-nilai karakter di sekolah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SMA N 2 Bayang adapun bentuk pelaksanaan pendidikan karakter berdasarkan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran sejarah maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.Nilai Religius Pelaksanaan nilai religius berdasarkan pembelajaran

(13)

13 sejarah sudah berjalan baik, namun masih belum sempurna karna masih adanya siswa yang sulit untuk dibina.

Kegiatan yang dilakukan dikelas yang berhubungan dengan nilai religius diantaranya mengucapkan salam, berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran, sholat zuhur berjamaah, mengumpulkan infak.

2.Nilai Jujur Pada saat melakukan penelitian dari hasil pengamatan dan wawancara dapat disimpulkan bahwa masih kurangnya nilai karakter kejujuran dalam belajar, karena masih terdapat beberapa siswa yang mencontek pada saat guru mengadakan kuis di akhir pelajaran.

3.Nilai Disiplin Bersasarkan pengamatan dan hasil wawancara peneliti, Pelaksanaan nilai disiplin yang ada di SMA N 2 Bayang sudah berjalan dengan baik diantaranya taat akan peraturan yang dibuat oleh sekolah, tetapi masih jauh dari dari kata sempurna, karna masih terdapat siswa yang melanggar tata-tertib sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2008. Pengelolaan Kelas dan Siswa, Jakarta : Rajawali.

Aman. 2011. Model Evaluasi Pembelajaran Sejarah.

Yogyakarta: Ombak

Daryanto dan Darmiatun suryatri.

2013.Implementasi

Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Gava Media

Istarani. 2012. Kurikulum Sekolah Berkarakter. Medan: Media Persada.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suyanto dan Jihad, Asep. 2013.

Menjadi guru profesional:

strategi meningkatkan kualifikasi dan kualitas guru di era global. Bandung:

Eirlangga.

http://asaduddin99.blogspot.co.id/201 6/10/normal-0-false-false- false-en-us-x-none.html.

Referensi

Dokumen terkait

4.1087 Ilmy Amiqoh Ilmu Administrasi Publik 4.1088 Dikhla Rif`A Ilmu Administrasi Publik 2.39 4.1089 Elfananda Istiqlalia Ilmu Administrasi Publik 4.1090 Hamida Condrowati Jayadi