Pelaksanaan Redistribusi Tanah Eks Hak Guna Bangunan
Zaenal Arifin[1*] dan Nikmatul Wachidah[2]
Magister Hukum Universitas Semarang[1*][2]
Jl. Soekarno Hatta Pedurungan, Semarang [email protected][1*] [email protected][2]
Submitted : 23 April 2023 Revised : 25 Mei 2023 Accepted : 30 Juni 2023 Published : 20 Juli 2023
Jurnal Al Adl by Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. (CC-BY)
Abstract
This study aims to analyze the implementation of land redistribution of ex-cultivation rights (HGU) and the constraints and solutions to the implementation of land redistribution in Semarang Regency. One of the problems in the land sector in Indonesia is that there is still inequality in land ownership which the owners of capital still control. Many farmers still do not have land that can be managed to improve farmers’ welfare. To realize equal distribution of land ownership and increase the welfare of farmers, the government implemented a land redistribution program for ex-HGU lands that have expired and whose permits have not been extended.
HGU permit for PT. Sinar Kartasura, which is located in Candi Village and Kenteng Village, Semarang Regency, has had its license expired to become the object of agrarian reform as part of the government's efforts to reduce the imbalance of land ownership between farmers/people and capital owners. This study uses normative juridical research methods with secondary data as the main data. The research data use primary legal materials, such as laws and regulations on agrarian affairs, and secondary legal materials, including books and journals that study agrarian reform. The results of this study explain that the priority for implementing agrarian reform is for ex-HGU and HGB land whose HGU has expired and within 1 year has not submitted an application for a permit extension. the implementation of land redistribution in Candi Village and Kenteng Village, Semarang Regency, as many as 3.26i of ex-HGU plots of PT. Sinar Kartasura has completed 100%. The utilization of ex-HGU land is still used as agricultural land. Obstacles encountered in land redistribution are limited human resources and time to complete land redistribution. The recommendation from this research is that there is participation from the public and the private sector in supporting the implementation of land redistribution will realize the optimal and sustainable implementation of agrarian reform.
Keywords: Agrarian Reform; Cultivation Rights; Land Redistribution.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi redistribusi tanah eks hak guna usaha (HGU) sekaligus menganalisis kendala dan solusi implementasi redistribusi tanah tersebut di Kabupaten Semarang. Salah satu permasalahan yang ada di sektor pertanahan di Indonesia yaitu masih adanya ketimpangan dalam hal kepemilikan tanah yang masih dikuasai oleh para pemilik modal. Masih banyak petani yang tidak mempunyai tanah yang dapat dikelola untuk meningkatkan kesehteraan petani. Untuk mewujudkan pemerataan kepemilikan tanah dan peningkatan kesejahteraan petani, pemerintah melaksanakan program redistribusi tanah bagi tanah eks HGU yang habis masa berlakunya dan yang belum diperpanjang izinnya. Izin HGU PT. Sinar Kartasura yang terletak di Desa Candi dan Desa Kenteng Kabupaten Semarang telah habis izinnya menjadi objek reforma agraria sebagi usaha dari pemerintah untuk mengurangi ketimpangan kepemilikan tanah anta petani/rakyat dengan pemilik modal. Penelitian ini menggunkan metode penelitian yuridis normatif dengan data sekunder sebagai data utama. Data penelitian ini menggunakan bahan hukum primer seperti undang-undang dan peraturan
tentang agraria dan bahan hukum sekunder yang meliputi buku-buku, jurnal yang mengkaji tentang reforma agraria. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa prioritas pelaksanaan reforma agraria bagi tanah eks HGU dan HGB yang telah habis masa berlaku HGU nya dan dalam kurun waktu 1 tahun belum mengajukan permohonan perpanjangan izin. pelaksanaan redistribusi tanah di Desa Candi dan Desa Kenteng Kabupaten Semarang sebanyak 3.26i eks bidang tanah eks HGU PT. Sinar Kartasura telah berhasil 100% diselesaikan. Pemanfaatan tanah eks HGU ini masih digunakan sebagai tanah pertanian. Kendala yang ditemui dalam redistribusi tanah yaitu terbatasnya sumberdaya manusia dan terbatasnya waktu penyelesaian redistribusi tanah. Rekomendasi dari penelitian ini adalah adanyapartisipasi dari masyarakat dan swasta dalam mendukung terlaksananya redistribusi tanah akan mewujudkan pelaksanaan reforma agraria yang optimal dan berkelanjutan.
Kata kunci: Hak Guna Usaha; Redistribusi Tanah; Reforma Agraria.
PENDAHULUAN
Tanah memiliki peranan atau makna yang vital bagi sumber daya hidup1, bagi masyarakat Indonesia tanah tidak hanya hanya sebagai tempat tinggal tetapi tanah juga sebagai tempat untuk bercocok tanam, bekerja dan sebagai sarana investasi bagi masyarakat.
Selain itu tanah juga dapat menunjukkan status sosial.2 Namun adanya permasalahan beluam meratanya kepemilikan dan penguasaan tanah yang berbanding lurus dengan meningkatnya penggangguran dan angka kemiskinan di Indonesia. Hal ini semakin diperparah dengan masih banyaknya tanah yang terbengkelai sehingga produktifitas pemanfaatan tanah yang masih rendah dan tidak optimal dalam pemanfaatan bagi kesejahteraan masyarakat. Permasalahan tanah di Indonesia selanjutnya yaitu pengaturan dan penataan aset tanah untuk kepentingan masyarakat masih belum maksimal sehingga pemerataan kepemilikan masyarakat akan tanah masih rendah.3 Permasalahan tersebut sangat rentan menimbulkan konflik dan sengketa di bidang agraria karena adanya kesenjangan kepemilikan tanah antara petani dengan pemilik modal. Kesenjangan ini juga berdampak terhadap ketahanan pangan, lingkungan hidup, dan ketersediaan perumahan yang murah bagi rakyat.4
Untuk mengatasi kesenjangan kepemilikan dan penguasaan tanah antara pemilik modal dengan petani rakyat sebagai bentuk penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan rakyat di sektor pertanahan, maka pemerintah meluncurkan reforma agraria dengan fokus penataan kepemilikan tanah dan redistribusi tanah untuk kepentingan pertanian
1 Supriyadi Supriyadi, “Reorientasi Asas Itikad Baik / Kebenaran Sebagai Dasar Kepemilikan Hak Atas Tanah,” Jurnal Humani 9, no. 1 (2019): 102–16, https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26623/humani.v9i1.1447.
2 Embun Sari et al., “Politik Hukum Pengadaan Tanah Terhadap Tanah Abrasi Pasca Diberlakukan Undang-Undang Cipta Kerja,” Jurnal Ius Constituendum 7, no. 1 (2022): 50–67, https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26623/jic.v7i1.4390.
3 Oswar Mungkasa, “Reforma Agraria Sejarah,Konsep Dan Implementasinya,” Buletin Agraria Indonesia, Terbitan Direktorat Tata Ruang Dan Pertanahan Bappenas., 2014.
4 Muhammad Nazir. Shohibuddin dan Salim, Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006-2007 (Yogyakarta: Bunga Rampai Perdebatan. Sekolah Tinggi Pertanahan Negara Press, 2012).
sebagaimana hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)5 Salah satu usaha dari pemerintah dalam melaksanakan program reforma agraria dengan menerbitkan Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria (selanjutnya Perpres Reforma Agraria). Aturan ini secara jelas mengatur tentang teknis pelaksanaan reforma agraria,6 Pasal 2 dari Perpres tersebut menjelaskan tentang tujuan dan maksud dari reforma agraria yaitu untuk mengurangi kesenjangan kepemilikan tanah dan penguasaan tanah demi kemakmuran masyarakat. Dari Perpres tersebut juga diatur tentang penanganan sengketa agraria dan pelaksanaan redistribusi tanah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu pelaksanaan reforma agraria melalui redistribusi tanah dan pendaftaran tanah juga merupakan bentuk adanya pelayanan publik di sektor agraria.7 Urgensi adanya reforma agraria sebagi upaya dari pemerintah dalam memperbaiki kebijakan yang mengatur penguasaan dan pemilikan tanah. Melalui redistribusi tanah diharapkan akan tercapai meningkatnya taraf hidup petani dan tercapainya pemerataan dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat.8
Hak Guna Usaha (HGU) sebagai salah satu bentuk penguasaan hak milik atas tanah yang dapat dimiliki oleh individu atau badan hukum.9 Bentuk penguasaan tanah yang dapat menjadi redistribusi tanah sebagaimana tercantum dalam Perpres Reforma Agraria adalah tanah Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) yang telah berakhir jangka waktunya Salah satu HGU yang memenuhi syarat tersebut berlokasi di Desa Kenteng dan Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang yang telah berakhir haknya sejak tahun 1998 dan telah digarap oleh masyarakat setempat sejak tahun 2001. Hal ini yang menajdi latar belakang penelitian ini mengangkat pelaksanaan redistribusi tanah yang berasal dari eks HGU.
Penelitian terkait pelaksanaan redistribusi tanah telah dilakukan sebelumnya, namun penelitian sebelumnya belum mengulas tentang objek tanah yang berasal dari tanah eks HGU.
5 Sryani.Ginting dan Wilson Lidjon, “Batasan Tanah Negara Dalam Landreform,” Jurnal Law Pro Justitia IV No.2 (2019).
6 Ahmad Fauzi, “Reformasi Agraria Dalam Kerangka Otonomi Daerah,” Jurnal Bina Mulia Hukum 6 no.2 (2022).
7 Sudarmanto Kukuh, Arifin Zaenal, and Tatara Tirsa, “Tindak Pidana Korupsi Bidang Pertanahan Terhadap Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (Ptsl),” Jurnal USM Law Review 6, no. 1 (2023):
310–19, https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26623/julr.v6i1.6400.
8 Muhammad Reza Winata and Erlina Maria Christin Sinaga, “Transparansi Hak Guna Usaha Mendukung Redistribusi Lahan Berdasarkan Hak Konstitusional Mendapatkan Informasi,” Jurnal Rechts
Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional 8, no. 3 (2019): 421,
https://doi.org/10.33331/rechtsvinding.v8i3.341.
9 Aisyah Syafa Carolina, Teza Salih Mauludin, and Meiza Hafilda, “Menakar Ukuran Ideal Pembatasan Hak Guna Usaha (HGU) Untuk Badan Hukum Sebagai Upaya Mengatasi Ketimpangan Penguasaan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia,” Jurnal Hukum Lex Generalis 3, no. 9 (2022): 712–29, https://doi.org/10.56370/jhlg.v3i9.306.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan Isnaeni mengkaji tentang penelitian ini terkait kebijakan program redistribusi tanah bekas perkebunan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan peningkatn ekononomi masyarakat. Penelitian ini membahas tentang bagaimana pelaksanaan reditribusi tanah eks perkebunan dilakukan dengan cara mediasi kemudian ditindaklanjuti dengan program acces reform yakni dengan membentuk koperasi kredit yang diperuntukan bagi petani.10
Penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian ini telah diangkat oleh Widarbo, penelitian ini mengkaji tentang pelaksanaan redistribusi tanah yang ada di Desa Trumben Kabupaten Batang seluas 79, 8410 hektar. Pemanfaatan tanah eks HGU No 1 Tratak sebagai upaya reforma agraria akan diproses menjadi tanah cadangan umum negara (TCUN) yang selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai kampus Undip yang berkedudukan di Kabupaten Batang.11 Hasil dari redistribusi tanah eks HGU Tratak ini merubah fungsi pemanfaatan tanah dari semula tanah pertanian menjadi tanah non pertanian.
Kemudian Fauzi dalam penelitiannya terkait reforma agraria dalam kerangka otonomi daerah yang membahas tentang reforma agraria sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bagaimana pemeberian kesempatan kepada rakyat dalam kepemilikan tanah serta memberikan kepastian hukum kepemilikan tanah bagi rakyat. Kelemahan dari penelitian ini penelitian ini adalah belum adanya pembahasan mengenai kendala dan solusi dalam pelaksanaan reforma agraria.12 Adapun perbedaan penelitian ini dengan ketiga penelitian terdahulu adalah terletak pada objek redistribusi tanah yaitu di tanah eks HGU PT. Sinar Kartasura, perbedaan selanjutnya yaitu dengan adanya analisis teori hukum terkait dengan pelaksanaan redistribusi tanah yang sesuai dengan dengan sumber peraturan kebijakan sesuai dengan Pepres Reforma Agraria. Perbedaan lainnya yaitu terkait dengan objek tanah HGU dan perubahan pemanfaatan fungsi tanah HGU di penelitian Widarbo berubah dari fungsi pertanian menjadi fungsi pendidikan. Sedangkan pada penelitian ini fungsi tanah eks HGU tetap berfungsi sebagai tanah pertanian. Lain halnya dengan penelitian Fauzi yang lebih fokus mengkaji tentan upaya reforma agraia sebagai upaya peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani melalui pembagian lahan yang dapat dimanfaatkan oleh petani.
10 Diyan Isnaeni, “Kebijakan Program Redistribusi Tanah Bekas Perkebunan Dalam Menunjang Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat,” Masalah-Masalah Hukum 46, no. 4 (2018): 308, https://doi.org/10.14710/mmh.46.4.2017.308-317.
11 Koes Widarbo, “Problematika Reforma Agraria Pada Tanah Redistribusi Bekas HGU Tratak, Batang,”
Widya Bhumi 1, no. 1 (2021): 25, https://doi.org/https://doi.org/10.31292/wb.v1i1.7.
12 (Fauzi, 2022)
RUMUSAN MASALAH Rumusan permasalahan penelitian ini:
1. Bagaimana implementasi redistribusi tanah eks HGU di Kabupaten Semarang?
2. Bagaimana kendala dan solusi dari implementasi redistribusi tanah di Kabupaten Semarang?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penlitian yuridis-normatif, dengan menggunakan data sekunder sebagai data utama yang didukung dengan data primer berupa wawancara. Metode yuridis normatif, 13 adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti atau mempelajari asas-asas hukum dan kaidah- kaidah atau norma hukum positip yang berasal dari bahan-bahan kepustakaan yang ada, dari peraturan perundang-undangan serta ketentuan- ketentuan hukum yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Menurut Soerjono Soekanto deskriptif adalah dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya.14 Penelitian ini menggunakan bahan hukum primer meliputi Undang-Undang Pokok Agraria, Peraturan Presiden Reforma Agraria, bahan hukum sekunder seperti buku, artikel jurnal, terkait dengan reforma agraria dan redistribusi tanah serta bahan non hukum terdiri atas kamus hukum. Bahan hukum tersebut dikumpulkan melalui studi literatur dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara deskriptif analitis dan ditarik kesimpulan.
PEMBAHASAN
Implementasi Redistribusi Tanah Bekas Hak Guna Usaha di Kabupaten Semarang Adanya UUPA adalah sebagai sarana mengoptimalkan pemanfaatan tanah, mengatur kepemilikan tanah dan penguasaan lahan pertanian agar dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. 15 Masih terlihat secara jelas di Indonesia bagaimana kesenjangan kepemilikan tanah, struktur kepemilikan tanah, penggunaan dan pemanfaatan tanah masih ada karen belum berpihaknya kebijakan di sektor pertanahan bagi kemakmuran masyarakat. Hal
13 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek (Jakarta: Sinar Grafika, 2022).
14 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 1981).
15 Nadia Aurynnisa Prihandini, Supriyadi Supriyadi, and Zaenal Arifin, “Analisis Yuridis Pemecahan Tanah Pertanian Kurang Dari Batas Minimum Kepemilikan Tanah Pertanian Karena Pewarisan Di Kabupaten
Pati,” Semarang Law Review 2, no. 2 (2021): 190–202,
https://journals.usm.ac.id/index.php/slr/article/view/3849.
tersebut dapat meningkatkan dan memicu adanya sengketa dan perselisihan pertanahan akibat lemahnya penataan dan kebijakan yang tidak adil.
Dari data yang diperoleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada tahun 2022 ini terjadi peningkatan konflik agraria dari data sebelumnya padatahun 2021 tercatat 207 konflik.
Data konflik pertanahan tahun 2022 tercatat ada 212 konfik agraria yang terjadi di 459 desa.
Luasan objek tanah sengketa mencapai 1.035.613 hektar, dan jumlah masyarakat yang terdampak konflik agraria tercatat 346.402 kepala keluarga.16 Sebagai bentuk perhatian pemerintah dalam melaksanakan reforma agraria maka ditetepkan Perpres No. 86 tahun 2018 tentang Reforma Agraria.17 Perlunya pengaturan agraria yang berpihak pada rakyat dan diikuti dengan reformasi agraria yang membatasi kepemilikan, penguasaan tanah, penataan dan pemanfaatan tanah yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat akan dapat menekan sengekta dan konflik agraria. Disahkannya Perpres tersebut merupakan upaya dari pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan petani dan para penggarap tanah. 18 Perpres Reforma Agraria meruypakan salah satu solusi dalam penyelesaian permasalahan pertanahan seperti sengketa tanah dan kepemilikan tanah.19
Kabupaten Semarang mendapat usulan dari KPA untuk menangani konflik agraria dan menjadi Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) yang terletak di Desa Kenteng dan Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Objek redistribusi tersebut berasal dari tanah eks HGU No. 1 Desa Kenteng dan Nomor 1 Desa Candi yang telah berakhir haknya tahun 1998. Penunjukan 2 desa sebagai lokasi redistribusi tanah tersebut merupakan amanat dari reforma agraria untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi kesenjangan kepemilikan tanah dan memberikan kepastian hukum bagi petani dan masyarakat penerima redistribusi tanah.
Tanah eks HGU No.1/Candi sesuai dengan gambar situasi No.
676/1973 tanggal 8 Agustus 1973 dengan luas lahan 742.000 M2 dan tanah eks HGU No.
1/Kenteng, sesuai dengan gambar situasi No.677/1973 tanggal 8 Agustus 1973 dengan lahan seluas 1.238.000 M2, dengan total luas 198 hektar. Ijin HGU tersebut diberikan kepada PT.
Sinar Kartasura mulai tahun 1973 sampai dengan jangka waktu 25 tahun. PT. Sinar Kartasura
16 Aryo Bhawono, “KPA Catat 212 Letusan Konflik Agraria Di 2022,” Betahita, January 2023, https://betahita.id/news/detail/8356/kpa-catat-212-letusan-konflik-agraria-di-2022.html?v=1673576856.
17 Amaliyah Amaliyah et al., “Reforma Agraria Dan Penanganan Sengketa Tanah,” Hermeneutika : Jurnal Ilmu Hukum 5, no. 1 (2021): 30–39, https://doi.org/10.33603/hermeneutika.v5i1.4892.
18 Sulasi Rongiyati, “Reforma Agraria Melalui Perpres Nomor 86 Tahun 2018, Kajian Singkat Terhadao Isu Aktual Dan Strategis” X, No.19 (2018).
19 Amaliyah et al., “Reforma Agraria Dan Penanganan Sengketa Tanah.”
memanfaatkan tanah tersebut untuk kegiatan peternakan, pertanian dan perkebunan dengan rincian untuk tanaman sereh wangi sejumlah 74,20 hektar, rumput padang penggembalaan 400 ekor sapi sejumlah 54,0 hektar; Emplasemen sejumlah 1,50 hektar; Tanaman kopi sejumlah 4,00 hektar; Tanaman rumput king grass dan kandang sejumlah 46,80 hektar; kemudian berupa peruntukan lainnya dan jurang sebesar 17,48 hektar.20
Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang mengeluarkan sertifikat HGU No.1/Candi dan sertipikat HGU NO.1/Kenteng. Penerbitan surat HGU tersebut berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No. SK.37/HGU/DA/78, tanggal 24 Mei 1973. PT Sinar Kartasura pernah melakukan perpanjangan HGU ada tahun 1998. BPN mengeluarkan perpanjangan ijin HGU melalui SK Kepala Kakanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Tengah No.
SK.540.2/429/1/401/33/98, tanggal 5 Juni 1998, dengan jangka waktu berlakunya HGU sampai dengan tanggal 31 Desember 2023. Sertifikat HGU tersebut akhirnya dibatalkan oleh BPN setelah ada indikasi tanah eks HGU tersbeut ditelantarkan sesuai dengan SK Kantor Wilayah BPN No. 6-V-2001 tanggal 29 Januari 2001 tentang Pembatalan HGU. Penelantaran tanah HGU yang dilakukan oleh PT. Sinar Kartasura bertentangan dengan aturan yang berlaku, ada kewajiban bagi pemegang HGU agar tetap merawat tanah HGU walaupn izin telah berakhir agar tanah GHU tersebut tetap terawat dan subur.21
Sebagai pemegang HGU tersebut PT. Sinar Kartasura mengajukan keberatan dan melakukan upaya hukum dengan pengajuan gugatan ke Pengadilan Negeri Bandung. Pada putusan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Bandung gugatan PT. Sinar Kartasura ditolak seluruhnya sesuai dengan keputusan PN Bandung Nomor 108/Pdt.G/2017/PN.Bdg tanggal (9 Januari 20018. Setelah keluarnya putusan dari PN Bandung, PT Sinar Kartasura mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Bandung. Melalui amar putusannya PT Bandung Nomor 375/Pdt/2018/PT.Bdg tanggal 30 Oktober 2018 yang isinya menguatkan putusan dari PN Bandung. PT Sinar Kartasurda melakukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung yang dalam putusannya Nomor 2947K/PDT/2019 tanggal 15 Januari 2019 menolak permohonan kasasi dari PT. Sinar Kartasura, dengan pertimbangan bahwa tanah eks HGU merupakan prioritas reforma agraria.
20 Achmad Busro Fida Adhiati, “Kedudukan Badan Pertanahan Nasional Dalam Pembatalan Hak Guna Usaha Atas Tanah Terlantar,” Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 7 (2022): No. 6.
21 I Gusti Agung Ngurah Klaustra Adhipermana, I Ketut Kasta Arya Wijaya, and Luh Putu Suryani,
“Pengaturan Penguasaan Tanah Bekas Hak Guna Usaha Dalam Pembaharuan Agraria,” Jurnal Analogi Hukum 4, no. 3 (2022): 328–32.
Pelaksanaan redistribusi tanah itu sendiri harus sesuai dengan pedoman yang ada di Juklak program landreform, dalam Juklak tersebut telah diatur mulai dari proses pembentukan panitia pelaksana kegiatan redistribusi tanah dan rincian tugas dan tanggung jawab kegiatan redistribusi tanah yang terdiri dari proses sosialisasi dan penyuluhan sampai dengan penerbitan sertifikat tanah.22 Penyuluhan merupakan kegiatan sosialisasi dengan memberikan peningkatan pemahaman kegiatan redistribusi tanah secara umum terhadap calon subjek redistribusi tanah kemudian dituangkan dalam berita acara penyuluhan. Kegiatan penyuluhan redistribusi tanah memberikan arahan mengenai infomasi redistribusi tanah mulai dari manfaat redistribusi tanah tahapan dan prosesnya serta hak dan kewajiban reditribusi tanah.
Inventarisasi subjek dan objek adalah pengumpulan data objek dan subjek redistribusi tanah yang dimanfaatkan sebagai tanah pertanian maupaun non pertanian. Selain itu berupa pendataan calon penerima redistribusi tanah berupa Hak Pengelolaan (HPL). Kegiatan identifikasi objek dan subjek dilakukan untuk memastikan kembali bahwa objek dan subjek reditribusi tanah tersebut telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Tahapan kegiatan inventarisasi objek dan subjek dilaksanakan oleh satuan tugas inventarisasi dan identifikasi diperoleh hasil seperti status tanah yang merupakan bekas hak guna usaha, jumlah bidang yang akan diredistribusikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah di Desa Candi dan Desa Kenteng berupa tanah pertanian yang mayoritas ditanami sayuran dan tahun penggarapan sejak tahun 2001.
Selanjutnya kegiatan pengukuran dan pemetaan di lokasi objek redistribusi meliputi pengukuran keliling dan pengukuran bidang, kegiatan ini agar diperoleh batas terluar objek redistribusi tanah dengan batas-batas objek bidang tanah dengan hasil peta keliling dan untuk mengetahui luas dan batas bidang-bidang tanah objek redistribusi, hasil pengukuran dan pemetaan terhadap batas-batas bidang tanah merupakan peta bidang beserta Nomor Identifikasi Bidang (NIB). Data tersebut yang nantinya dijadikan sebagai dasar penerbitan Surat Keputusan Redistribusi Tanah. Panitia Pertimbangan Landreform akan memastikan bahwa objek dan subjek tersebut memenuhi syarat yang ada dalam aturan yang berlaku yang selanjutnya dituangkan dalam berita acara redistribusi tanah.
Kegiatan pengesahan subjek dilakukan Bupati Semarang, namun sebelumnya Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang mengajukan usulan kepada Bupati tentang Usulan
22 Fahkrur Rifqi and Geovani Meiwanda, “Implementasi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2018 Tentang Reforma Agraria Di Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2020-2021,” Journal Publicuho 5, no. 2 (2022): 277–88, https://doi.org/10.35817/jpu.v5i2.24808.
Penetapan Calon Subjek Redistribusi Tanah Menjadi Subjek Redistribusi Tanah. Kemudian Bupati menetapkan subjek redistribusi tanah melalui Surat Keputusan Bupati Semarang Nomor 590/0305/2021 tentang Pengesahan Calon Subjek Penerima Redistribusi Tanah menjadi Subjek Penerima Redistribusi Tanah di Kabupaten Semarang. Hal yang sama pada kegiatan penetapan objek bahwa Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Tengah untuk ditetapkan melalui SK Kakanwil BPN Provinsi Jawa Tengah dengan 2 tahap antara lain tahap pertama sebanyak 1.935 bidang dan tahap kedua sebanyak 1.326 bidang.
Setelah dilakukan pengesahan objek dan penetapan subjek langkah selanjutnya dilakukan penerbitan surat keputusan redistribusi tanah oleh oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat berdasarkan SK Penetapan Tanah Yang Dikuasai Langsung Oleh Negara Menjadi Tanah Objek Redistribusi yang dikeluarkan Kakanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Tengah dan Surat Pengesahan Subjek Redistribusi Tanah oleh Bupati Semarang.
Penerbitan Surat Keputusan Redistribusi ini juga dilakukan dengan 2 (dua) tahap. Selanjutnya dilakukan pembukuan hak dan penerbitan sertifikat sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Ketentuan Penatausahaan Pendaftaran Tanah Yang Berlaku.
Implementasi redistribusi tanah eks HGU di Kabupaten Semarang sebanyak 3.261 bidang yang terdiri 1.440 bidang terletak di Desa Kenteng dan 1.821 bidang terletak di desa Desa Candi sebanyak, dengan jumlah subjek sebanyak 1.344 KK seperti telihat pada tabel 1 laporan realisasi fisik redistribusi tanah berikut:
Tabel 1. Laporan Realisasi Fisik Redistribusi Tanah Kabupaten Semarang, Tahun 2021.
Kegiatan Target Fisik Realisasi Persentase
Penyuluhan 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
Invetarisasi dan Identifikasi Objek dan Subjek
3.261 bidang 3.261 bidang 100%
Pengukuran dan pemetaan 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
Sidang Panitia
Pertimbangan Landreform 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
SK Penetapan Objek 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
SK Penetapan Subjek 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
SK Redistribusi 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
Pembukuan Hak dan
Penerbitan Sertipikat 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
Total 3.261 bidang 3.261 bidang 100%
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang, 2021
Berdasarkan Tabel 1 Laporan Realisasi Fisik dapat dijelasakan bahwa pelaksanaan redistribusi tanah di Kabupaten Semarang telah selesai 100 % dari tahapan penyuluhan sampai dengan penerbitan sertifikat. Namun pelaksanan redistribusi tanah ini tidak terlepas dari kendala maupun hambatan yang dihadapi. Hal yang menarik bahwa dalam buku tanah dan sertifikat hak atas tanah kegiatan redistribusi tanah dicantumkan catatan di kolom petunjuk “hak milik ini tidak boleh dialihkan baik sebagian atau seluruhnya, kecuali kepada pihak yang memenuhi persyaratan dengan ijin tertulis dari Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang dan atau merupakan jaminan yang digunakan untuk pelunasan pinjaman kepada lembaga keuangan.” Catatan yang ada di kolom tersebut dimaksudkan agar petani selaku subjek dari redistribusi tanah dilarang mengalihkan kepemilikan/menjual kepada pihak lain. Selain itu petani juga tidak diperbolehkan untuk menggadaikan dan atau menjaminkan objek tanah redistribusi tersebut kepada lembaga keuangan. Petani akan berusaha mempertahankan tanah redistribusi tersebut untuk kegiatan yang produktif di sektor pertanian dan perkebunan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan petani. 23
Menurut teori Tujuan Hukum Gustav Radbuch perlu adanya asas prioritas dari tiga nilai dasar hukum yaitu untuk mencapai keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.
Pelaksanaan redistribusi tanah di Kabupaten Semarang dilihat dari teori tujuan hukum yaitu keadilan hukum, kemanfaatan hukum dan kepastian hukum. Program redistribusi tanah ini sesuai dengan keadilan hukum. Adanya keadilan yang didapatkan oleh para petani yang diberikan kesempatan untuk memiliki dan mengelola tanah. Negara tidak hanya berpihak kepada pemilik modal yang dapat dengan mudah membeli dan menguasai tanah sebesar besarnya. Pelaksanaan program ini juga akan menimbulkan pemerataan kepemilikan tanah oleh masyarakat. Pelaksanaan redistribusi tanah di Kabupaten Semarang sudah tepat menjamin keseimbangan hukum dalam kehidupan sosial dan keadilan yang bermartabat.24
Redistribusi tanah juga telah sesuai dengan tujuan kedua teori ini yaitu kemanfaatan hukum. Artinya tanah sebagi subjek redistribusi tanah akan memberikan manfaat berupa peningkatan kesejahteraan, kemakmuran bagi petani serta dapat meningkatkan pertumbuhan
23 Isnaeni, “Kebijakan Program Redistribusi Tanah Bekas Perkebunan Dalam Menunjang Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat.”
24 Teguh Prasetyo, Keadilan Bermartabat, Nusa Media (Bandung, 2015).
ekonomi Indonesia. Reidtribusi tanah ini juga akan mengurangi terlantarnya tanah yang dikuasai oleh para pemilik modal yang tidak bertanggung jawab. Redistribusi tanah ini juga akan memberikan kepastian hukum bagi petani penggarap. Adanya bukti kepemilikan tanah bagi petani akan mempunyai kepastian hukum dalam menggarap dan mengelola tanah redistribusi yang diberikan oleh negara.25 Adanya redistribusi tanah eks HGU di kedua desa Kecamatan Bandungan agar dapat dimanfaatkan agar lebih produktif untuk mendukung ketahanan pangan seperti menanam sayuran, buah maupun usaha perkebunan bagi masyarakat setempat. Melalui program redistribusi tanah ini akan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat atau petani yang mengelola tanah eks HGU tersebut menjadi lebih produktif.
Kendala dan Solusi Implementasi Redistribusi Tanah Bekas Hak Guna Usaha di Kabupaten Semarang
Adanya Ketetapan MPR yang menagur tentang pembaharuan di sektor agraria menjadi langkah awal untuk memperbaiki kelemahan kebijakan agraria yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh pemerintah.26 Kebijakan pemerintah dalam pembaharuan tanah berupa reforma agraria merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.27 Upaya pemerintah dalam mengurangi permasalahan pertanahan salah satunya adalah dengan melaksanakan redistribusi tanah untuk mengurangi kesenjangan kepemilikan tanah. Petani selaku subjek penerima redistribusi tanah sesuai dengan Perpres Reforma Agraria dilarang menelantarkan tanah, mengalihkan, memindahtangankan atau merubah fungsi peruntukannya. Hal ini sesuai dengan komitmen dan tujuan awal reditribusi tanah sebagai usaha untuk memberdayakan petani dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pelaksanaan redistribusi tanah terdapat kendala atau hambatan seperti permasalahan tanah yang mulai dari tidak meratanya distribusi tanah, terbatasnya infomasi database tanah di Indonesia. Kurangnya sarana pendukung pendaftaran tanah menjadi salah satu masalah krusial dalam mewujudkan pendaftaran tanah yang cepat, efektif,efisien, komperehensif, responsif dan akuntabel.28 Masyarakat masih mengeluhkan
25 Ningrum Ambarsari and Noor Azizah, “Urgensi Pendaftaran Pada Tanah Yang Belum Bersertifikat,”
Al ’ Adl 10, no. 1 (2019): 91–102, https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31602/al-adl.v11i1.2021.
26 Akhyar Tarfi and Ikhwan Amri, “Reforma Agraria Sebagai Jalan Menuju Perdamaian Yang Berkelanjutan Di Aceh,” BHUMI: Jurnal Agraria Dan Pertanahan 7, no. 2 (2021): 210–25, https://doi.org/10.31292/bhumi.v7i2.509.
27 Retno Sulistyaningsih, “Reforma Agraria Di Indonesia,” Perspektif 26, no. 1 (2021): 57, https://doi.org/10.30742/perspektif.v26i1.753.
28 Muhammmad Aziz Zaelani, Wahyu Beny Mukti Setiyawan, and Fery Dona, “Mewujudkan Pendaftaran Tanah Yang Responsif Pada Era Disrupsi Sebagai Penunjang Kesejahteraan Rakyat,” Jurnal USM Law Review 5, no. 1 (2022): 342, https://doi.org/10.26623/julr.v5i1.4877.
mahalnya dan sulitnya untuk mengurus pendaftaran dan kepemilikan tanah sehingga mengakibatkan rendahnya kepemilikan pendaftaran tanah di Indonesia.29
Pelaksanaan reforma agraria yang dilaksanakan pada tahun 1960 an mengalami banyak hambatan karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat sehingga mengalami penolakan dan kecurigaan terhadap pelaksanaan reforma agraria.30 Untuk itu perlu adanya perencanaan reforma agraria yang baik dan melibatkan seluruh elemen masyarakat akan rentan menimbulkan konflik dan sengketa tanah atau timbulnya permasalahan baru berupa terjadinya jual beli lahan redistribusi tanah. Permasalahan berikutnya pada pasca penerimaan tanah redistribusi tanah kepada petani yang tidak diikuti dengan kegiatan pendampingan dan supervisi kepada petani, sehingga produktifitas tanah hasil redistribusi tanah tersebut tidak berjalan optimal dan tidak dapat meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi petani seperti akibat gagal panen, adanya penyakit, dan tidak tersedianya pengembangan dan pemasaran hasil pertanian/peternakan.31 Pelaksanaan reforma agraria yang ideal seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan dan menurunkan kemiskinan karena adanya peningkatan produktifitas tanah petani, dan adanya kepatian hukum kepemilikan hak tanah kepada petani.32 Dari hasil yang petani peroleh dari tanah pertanian yang petani garap akan dapat dipergunkan untuk memnuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai biaya pendidikan anak dan jika petani memperoleh pendapingan akan dapat berwirausaha sehingga tingkat ekonomi petani akan semakin meningkat dan berkelanjutan.33
Permasalahan yang timbul dalam setiap pelaksanaan redistribusi tanah akan berbeda tergantung dengan kondisi objek dan subjek penerima redistribusi tanah. Seperti halnya pelaksanaan redistribusi tanah di Kabupaten Bengkulu tengah di Desa Taba Lagan Kecamatan Talang Empat terdapat beberapa kendala antara lain34. Permasalahan masih rendahnya pemahaman dari petani dan masyarakat akan pentingnya sertifikat sebagai bukti kepemilikan tanah yang sah. Permasalahan selanjutnya yaitu masih rendahnya minat dari petani dan
29 Zaenal Arifin, Aisah Nur, and Purnama Shonia Hugeng, “Kesadaran Masyarakat Terhadap Bukti Kepemilikan Hak Atas Tanah,” Journal Juridisch 1, no. 1 (2023): 1–9.
30 Sulistyaningsih, “Reforma Agraria Di Indonesia.”
31 Mitha; Adil Mubarak, “Efektivitas Program Redistribusi Tanah Untuk Pelaksanaan Reforma Agraria Di Nagari Muaro Takung Kabupaten Sijunjung,” Journal PUBLICNES 1, no. 3 (2022): 237–42, https://doi.org/https://doi.org/10.24036/publicness.v1i3.21.
32 Sulistyaningsih, “Reforma Agraria Di Indonesia.”
33 Afriliyeni, Martua Sihaholo, and Rai Sita, “Hubungan Reforma Agraria Dengan Peningkatan Kesejahteraan Rumah Tangga Petani,” Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] 5, no. 3 (2021): 433–49, https://doi.org/10.29244/jskpm.v5i3.834.
34 Allraidho, “Tinjauan Hukum Terhadap Pelaksanaan Redistribusi Tanah Obyek Landreform (TOL) Di Kabupaten Bengkulu Tengah,” Universitas Bengkulu, 2014.
masyarakat dalam mengikuti redistribusi tanah. Hal ini terjadi karena masyarakat masih belum memahami dan tidak setuju tentang batas waktu peralihan hak atas tanah.35 Permasalahan selanjutnya yaitu terkait kurangnya sumber daya manusia yang terlibat dalam redistribusi tanah sehingga menghambat proses pengukuran dan opersional redistribusi tanah.
Kurangnya perhatian dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah daerah juga menjadi masalah yang utama. Kendala yang lainnya antara lain adalah rendahnya pemahaman petani dalam memelihara kesuburan tanah hasil redistribusi dan tidak maksimalnya pemanfaatan tanah redistribusi untuk usaha perkebunan, dan peternakan yang tidak didukung dengan pengembangan usaha perkebunan, peternakan dan pemasaran.36
Permasalahan dan hambatan yang timbul dari pelaksanaan redistribusi eks HGU di Desa Kenteng dan Desa Candi Kecamatan Bandungan antara lain pertama, aspek target dan waktu, dimana hanya kurun 3 bulan redistribusi tanah sebanyak 3.261 bidang dapat diselesaikan, keterbatasan jumlah SDM yang ada, dan sebagian objek redistribusi tanah berbatasan dengan kawasan hutan yang menjadi milik Perhutani. Terbatasnya waktu penyelesaian tanah redistribusi yang tidak diimbangi dengan jumlah sumber daya manusia yang memadai menjadi permasalahan utama dari pelaksanaan redistribusi tanah eks HGU di Desa Kenteng dan Desa Candi. Dari beberapa ulasan kendala tersebut di atas bahwa Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN terus mengupayakan tetap melaksanakan redistribusi tanah sebagai bagian dari reforma agraria. Namun redistribusi tanah terdapat kendala dalam hal status tanah objek redistribusi tanah yang masih bersengketa. Untuk mengatasi permasalahan ini perlu penangaan khusus agar program redistribusi tanah berjalan dengan lancar dan mengurangi adanya sengketa dan konflik pertanahan.37
Untuk menyelesaikan hambatan dan kendala yang ditemui dari pelaksanaan redistribusi tanah eks HGU di Desa Kenteng dan Desa Candi antara lain solusinya dengan melakukan perencanaan dan manajemen yang baik terkait strategi pelaksanaan redistribusi tanah karena jumlah target yang banyak. Untuk itu perlu dioptimalkan kinerja dan pembagian kerja dari setiap pihak yang terlibat dalam proses redistribusi tanah tersebut. Untuk mendukung lancarnya pelaksanaan redistribusi tanah tersebut perlu mekanisme penyelenggaraan reforma agraria yang terdiri dari (1) penetapan objek; (2) penetapan subjek;
(3) mekanisme dan delivery system reforma agraria; dan (4) access reform. Dilaksanakannya
35 Koes Widarbo, “Problematika Reforma Agraria Pada Tanah Redistribusi Bekas HGU Tratak, Batang.”
36 Koes Widarbo.
37 “No Title,” n.d.
mekansime tersebut akan mempermudah pelaksanaan redistribusi tanah di kedua desa tersebut.38 Pengaturan jam kerja antara pekerjaan rutin dan redistribusi tanah serta penambahan jam kerja, ketiga dilakukan pengukuran batas dengan lokasi yang berbatasan dengan kawasan hutan sekaligus mengundang pihak perwakilan dari BPKH wilayah XI Yogyakarta, perwakilan dari KPH Lempuyangan BKPH Ambarawa dan perwakilan petani penggarap.
Belajar dari pelaksanaan redistribusi tanah yang dilakukan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel yang tingkat keberhasilan redistribusi tanhanya menacapai 100% yang terdiri dari 1.000 bidang di Desa Batu Laki, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Salah satu kunci sukses berhasilnya pelaksanaan redistribusi tanah dimaulai dari tahapan asset reform dan access reform. Bagaimana faktor penaatan struktur penguasaan dan kepemilikan tanah kembali menjadi lebih adil dan melalui kegiatan penataan penggunaan tanah yang produktif bagi petani dengan tersedianya fasilitas yang pendukung untuk kepentigan kegiatan pertanian, perkebunan maupuan peternakan.39
Untuk mewujudkan program redistribusi tanah yang optimal dengan meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran petani, perlu diimbangi dengan peran dari institusi lainnya sebagai pendukung yang menyediajan sarana dan prasarana yang memudahkan petani untuk mengakses permodalan, teknologi pertanian, pengembangan dan pemasaran hasil pertanian.
Selain itu perlu ditunjang dengan tersedianya sumber daya manusia yang memadai dengan dukungan pembiayaan dari APBN/APBD pada proses redistribusi tanah dan dukungan dari Corporate Social Responsibility dari perusahaan-perusahaan/BUMN pasca penerimaan
redistrubusi tanah. Lancarnya program redistribusi tanah khususnya pasca penyerahan tanah kepada petani akan membutuhkan bantuan dan perhatian dari semua pihak. Adanya partisipasi dari masyarakat dan swasta dalam mendukung terlaksananya redistribusi tanah akan membuat pembangunan dan pembaruan agraria akan berkelanjutan sehinggga akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
PENUTUP
Perpres Reforma Agraria telah mengatur kebijakan pelaksanaan reforma agrarian yang terdiri kegiatan penataan kembali sturktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
38 Afriliyeni, Martua Sihaholo, and Rai Sita, “Hubungan Reforma Agraria Dengan Peningkatan Kesejahteraan Rumah Tangga Petani.”
39 Festi Kurniawati, Sri Kistiyah, and Ahmad Nashih Luthfi, “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keberhasilan Pelaksanaan Redistribusi Tanah Bekas Kawasan Hutan,” Tunas Agraria 2, no. 3 (2019): 1–23, https://doi.org/10.31292/jta.v2i3.47.
pemanfaatan tanah yang lebih berkeadilan melalui penataan aset disertai penataan akses untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Penataan aset melalui redistribusi tanah dengan objek yang berasal dari tanah bekas hak guna usaha. Hal ini sesuai Perpres Reforma Agraria bahwa tanah eks HGU dan HGB yang telah habis masa berlaku HGU nya dan dalam kurun waktu 1 tahun belum mengajukan permohonan perpanjangan HGU menjadi prioritas reforma agraria.
Redistribusi tanah eks HGU di Kabupaten Semarang telah berhasil dilaksanakan 100%
sebanyak 3.261 bidang. Adapun kendala dalam pelaksanaan redistribusi tanah di Kabupaten Semarang di antaranya aspek waktu yang terbatas dengan jumlah target sebanyak 3.261 bidang akhirnya dapat dilaksanakan dengan mengoptimalkan pelaksana (SDM) yang ada, menambah jam kerja dan meningkatkan koordinasi dengan antar seksi di Kantor Pertanahan yang terlibat dalam redistribusi tanah. Rekomendasi dari penelitian ini adalah adanya partisipasi dari masyarakat dan swasta dalam mendukung terlaksananya redistribusi tanah akan mewujudkan pelaksanaan reforma agraria yang optimal dan berkelanjutan
DAFTAR PUSTAKA
Adhipermana, I Gusti Agung Ngurah Klaustra, I Ketut Kasta Arya Wijaya, and Luh Putu Suryani. “Pengaturan Penguasaan Tanah Bekas Hak Guna Usaha Dalam Pembaharuan Agraria.” Jurnal Analogi Hukum 4, no. 3 (2022): 328–32.
Afriliyeni, Martua Sihaholo, and Rai Sita. “Hubungan Reforma Agraria Dengan Peningkatan Kesejahteraan Rumah Tangga Petani.” Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] 5, no. 3 (2021): 433–49.
https://doi.org/10.29244/jskpm.v5i3.834.
Allraidho. “Tinjauan Hukum Terhadap Pelaksanaan Redistribusi Tanah Obyek Landreform (TOL) Di Kabupaten Bengkulu Tengah.” Universitas Bengkulu, 2014.
Amaliyah, Amaliyah, Muhammad Amar Ma’ruf, Novytha Sary, and Syahril Gunawan Bitu.
“Reforma Agraria Dan Penanganan Sengketa Tanah.” Hermeneutika : Jurnal Ilmu Hukum 5, no. 1 (2021): 30–39. https://doi.org/10.33603/hermeneutika.v5i1.4892.
Ambarsari, Ningrum, and Noor Azizah. “Urgensi Pendaftaran Pada Tanah Yang Belum Bersertifikat.” Al ’ Adl 10, no. 1 (2019): 91–102.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31602/al-adl.v11i1.2021.
Arifin, Zaenal, Aisah Nur, and Purnama Shonia Hugeng. “Kesadaran Masyarakat Terhadap Bukti Kepemilikan Hak Atas Tanah.” Journal Juridisch 1, no. 1 (2023): 1–9.
Bhawono, Aryo. “KPA Catat 212 Letusan Konflik Agraria Di 2022.” Betahita. January 2023.
https://betahita.id/news/detail/8356/kpa-catat-212-letusan-konflik-agraria-di- 2022.html?v=1673576856.
Carolina, Aisyah Syafa, Teza Salih Mauludin, and Meiza Hafilda. “Menakar Ukuran Ideal Pembatasan Hak Guna Usaha (HGU) Untuk Badan Hukum Sebagai Upaya Mengatasi Ketimpangan Penguasaan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia.” Jurnal Hukum Lex Generalis 3, no. 9 (2022): 712–29.
https://doi.org/10.56370/jhlg.v3i9.306.
Fauzi, Ahmad. “Reformasi Agraria Dalam Kerangka Otonomi Daerah.” Jurnal Bina Mulia Hukum 6 no.2 (2022).
Fida Adhiati, Achmad Busro. “Kedudukan Badan Pertanahan Nasional Dalam Pembatalan Hak Guna Usaha Atas Tanah Terlantar.” Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 7 (2022): No. 6.
Isnaeni, Diyan. “Kebijakan Program Redistribusi Tanah Bekas Perkebunan Dalam Menunjang Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat.” Masalah-Masalah Hukum 46, no. 4 (2018): 308. https://doi.org/10.14710/mmh.46.4.2017.308-317.
Koes Widarbo. “Problematika Reforma Agraria Pada Tanah Redistribusi Bekas HGU Tratak,
Batang.” Widya Bhumi 1, no. 1 (2021): 25.
https://doi.org/https://doi.org/10.31292/wb.v1i1.7.
Kukuh, Sudarmanto, Arifin Zaenal, and Tatara Tirsa. “Tindak Pidana Korupsi Bidang Pertanahan Terhadap Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (Ptsl).”
Jurnal USM Law Review 6, no. 1 (2023): 310–19.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26623/julr.v6i1.6400.
Kurniawati, Festi, Sri Kistiyah, and Ahmad Nashih Luthfi. “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keberhasilan Pelaksanaan Redistribusi Tanah Bekas Kawasan Hutan.” Tunas Agraria 2, no. 3 (2019): 1–23. https://doi.org/10.31292/jta.v2i3.47.
Lidjon, Sryani.Ginting dan Wilson. “Batasan Tanah Negara Dalam Landreform.” Jurnal Law Pro Justitia IV No.2 (2019).
Mubarak, Mitha; Adil. “Efektivitas Program Redistribusi Tanah Untuk Pelaksanaan Reforma Agraria Di Nagari Muaro Takung Kabupaten Sijunjung.” Journal PUBLICNES 1, no. 3 (2022): 237–42. https://doi.org/https://doi.org/10.24036/publicness.v1i3.21.
Mungkasa, Oswar. “Reforma Agraria Sejarah,Konsep Dan Implementasinya.” Buletin Agraria Indonesia, Terbitan Direktorat Tata Ruang Dan Pertanahan Bappenas., 2014.
“No Title,” n.d.
Prihandini, Nadia Aurynnisa, Supriyadi Supriyadi, and Zaenal Arifin. “Analisis Yuridis Pemecahan Tanah Pertanian Kurang Dari Batas Minimum Kepemilikan Tanah Pertanian Karena Pewarisan Di Kabupaten Pati.” Semarang Law Review 2, no. 2 (2021): 190–202. https://journals.usm.ac.id/index.php/slr/article/view/3849.
Rifqi, Fahkrur, and Geovani Meiwanda. “Implementasi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2018 Tentang Reforma Agraria Di Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2020-2021.” Journal Publicuho 5, no. 2 (2022): 277–88.
https://doi.org/10.35817/jpu.v5i2.24808.
Rongiyati, Sulasi. “Reforma Agraria Melalui Perpres Nomor 86 Tahun 2018, Kajian Singkat Terhadao Isu Aktual Dan Strategis” X, No.19 (2018).
Sari, Embun, Muhammad Yamin, Hasim Purba, and Rosnidar Sembiring. “Politik Hukum Pengadaan Tanah Terhadap Tanah Abrasi Pasca Diberlakukan Undang-Undang Cipta Kerja.” Jurnal Ius Constituendum 7, no. 1 (2022): 50–67.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26623/jic.v7i1.4390.
Shohibuddin dan Salim, Muhammad Nazir. Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria 2006- 2007. Yogyakarta: Bunga Rampai Perdebatan. Sekolah Tinggi Pertanahan Negara Press, 2012.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press, 1981.
Sulistyaningsih, Retno. “Reforma Agraria Di Indonesia.” Perspektif 26, no. 1 (2021): 57.
https://doi.org/10.30742/perspektif.v26i1.753.
Supriyadi, Supriyadi. “Reorientasi Asas Itikad Baik / Kebenaran Sebagai Dasar Kepemilikan Hak Atas Tanah.” Jurnal Humani 9, no. 1 (2019): 102–16.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26623/humani.v9i1.1447.
Tarfi, Akhyar, and Ikhwan Amri. “Reforma Agraria Sebagai Jalan Menuju Perdamaian Yang Berkelanjutan Di Aceh.” BHUMI: Jurnal Agraria Dan Pertanahan 7, no. 2 (2021): 210–25. https://doi.org/10.31292/bhumi.v7i2.509.
Teguh Prasetyo. Keadilan Bermartabat, Nusa Media. Bandung, 2015.
Waluyo, Bambang. Penelitian Hukum Dalam Praktek. Jakarta: Sinar Grafika, 2022.
Winata, Muhammad Reza, and Erlina Maria Christin Sinaga. “Transparansi Hak Guna Usaha Mendukung Redistribusi Lahan Berdasarkan Hak Konstitusional Mendapatkan Informasi.” Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional 8, no. 3 (2019): 421. https://doi.org/10.33331/rechtsvinding.v8i3.341.
Zaelani, Muhammmad Aziz, Wahyu Beny Mukti Setiyawan, and Fery Dona. “Mewujudkan Pendaftaran Tanah Yang Responsif Pada Era Disrupsi Sebagai Penunjang Kesejahteraan Rakyat.” Jurnal USM Law Review 5, no. 1 (2022): 342.
https://doi.org/10.26623/julr.v5i1.4877.