PEMAHAMAN TENTANG PERUBAHAN SEKS BAGI PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 29 SIJUNJUNG
Oleh:
Apri Kasman
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
This research is motivated by the conditions encountered in the field through interviews with teachers guidance and counseling and Deputy Head of Student of SMPN 29 Sijunjung that found among students who still lack an understanding about sex changes experienced by the learners.
This study aimed to describe the understanding of sex change for students of class VII SMP 29 Sijunjung. This type of research is classified as descriptive quantitative research. The study population was all students who are in class VII to 78 people. This study uses a sampling is total sampling, as there are less than 100. The instrument used in this study was a questionnaire. As for the analysis of data using techniques percentage. Results of the study revealed that in general the students understanding about sex changes that happened to him in the category quite familiar with the percentage of 74.36%. The results based on limitation issues in this research are: (1) understanding of learners of primary sex change, including in the category quite familiar with the percentage of 53.43%, (2) understanding of learners about the changes included in the category of secondary sex quite familiar with the percentage51.29%. Based on the results of this study should be the school in the future to carry out socialization to students of SMPN 29 Sijunung relating to sex change, such as by presenting health workers to provide socialization to learners with regard to sex, for example, puskesmas officers, hospital personnel common areas Sijunjung , local health authorities and so on, so that the presence of the efforts of schools like this, the learners will be growing insight and knowledge about the sex change.
Keyword: understanding and sex change
PENDAHULUAN
Rendahnya pemahaman peserta didik tentang seks menimbulkan permasalahan tersendiri bagi dirinya sendiri dan juga bagi orang lain, terutama sekali dalam membina hubungan sosial dengan teman sebaya ataupun teman lawan jenis. Sebagaimana yang dijelaskan Thantowi (2002:2) bahwa seks itu mengandung dua arti yakni dalam arti sempit dan dalam arti secara luas. Seks dalam arti sempit berarti kelamin, sedang dalam arti yang luas sering disebut dengan seksualitas dimana tidak hanya menyangkut kelamin saja tetapi semua aspek perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari sisi fisik, biologis, psikis serta sosial yang berhubungan pada manusia.
Rendahnya pemahaman peserta didik tentang mulai berfungsinya organ-organ seks menimbulkan permasalahan tersendiri bagi peserta didik tersebut, Muhammad Al -
Mighwar (2006:28) menyebutkan ada dua perubahan ciri-ciri seks yaitu perubahan seks primer dan perubahan seks sekunder.
Hurlock (Mudjiran, dkk 41:2006) mengatakan seks primer merupakan menunjukkan kepada perubahan organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi sedangkan seks sekunder merupakan tanda tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Al - Mighwar (2006:29) berikut ini merupakan ciri-ciri seks sekunder pada wanita yaitu; pinggul yang membesar dan membulat sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit, buah dada dan puting susu semakin tampak menonjol, dan dengan berkembangnya kelenjar susu, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat lagi.
Tumbuhnya rambut di kemaluan, ketiak, lengan dan kaki, dan kulit wajah, semua
rambut, kecuali rambut mula-mula lurus dan terang warnanya, kemudian menjadi lebih subur, lebih kasar, dan lebih gelap dan agak keriting. Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat dan lubang pori-pori bertambah besar. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif, sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat, kelenjar keringat di ketiak mengeluarkan banyak keringat sebelum dan selama masa haid. Otot semakin besar dan semakin kuat terutama pada pertengahan dan menjelang akhir,masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai kaki. Suara berubah dari suara kanak-kanak menjadi lebih merdu, suara serak dan suara yang pecah jarang terjadi.
Desmita (2009:78-79) menyatakan bahwa ciri-ciri seks primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi seperti laki-laki yang mengalami mimpi basah dan wanita yang mengalami menstruasi pertama, sedangkan ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, tetapi merupakan tanda-tanda yang mebedakan antara laki-laki dan perempuan. Diantara tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki adalah tumbuh kumis dan jenggot, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu diketiak, di dada, di kaki dan di lengan, dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi lebih kuat.
Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul membesar, suara halus tumbuh bulu diketiak dan dikemaluan.
Peserta didik yang tidak memahami akan perubahan ciri-ciri seks yang dialaminya tentunya akan menimbulkan permasalahan tersendiri bagi dirinya seperti, perubahan bentuk tubuh atau proporsi tubuh yang dialami peserta didik berdampak pada perubahan sikapnya, seperti timbul rasa kurang percaya diri pada peserta didik tersebut, kemudian dari segi mulai munculnya pertumbuhan payudara dan pinggul yang mulai membesar pada peserta didik yang wanita berdampak pada perubahan perilakunya seperti mulai menarik diri dari teman sebaya, dan menunjukan sikap kontradiksi sosial dan inkoordinasi. Adapun dari aspek psikologis peserta didik cepat bosan ketika berada dalam kelas walaupun guru sudah memberikan metode mengajar yang menarik namun peserta didik tetap menunjjukan
sikap tidak nyaman ketika berada di dalam kelas atau ketika belajar.
Mudjiran, dkk (2006:39) menyebutkan melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap perubahan perubahan yang terjadi pada masa remaja, diharapkan remaja tersebut dapat mengalami perubahan perubahan tersebut dengan baik, sehingga remaja dapat menyelesaikan perkembangannya dengan bahagia demi menempuh perkembangan selanjutnya (Elida Prayitno, 2006:43) mengemukakan perubahan yang terjadi pada masa remaja yang berkaitan dengan adanya perubahan ciri-ciri seks maka akan menimbulkan permasalahan bagi peserta didik tersebut seperti ingin menyendiri, cepat bosan, inkoordinasi, antagonis sosial, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri dan terlalu sederhana.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Guru BK pada hari Kamis Tanggal 30 April 2015 pukul 09:15 WIB di SMP Negeri 29 Sijunjung, bahwa banyak diantara peserta didik yang masih ditemukan ada yang menunjukkan kurang percaya diri dengan perubahan ciri seksnya seperti mulai berfungsinya organ seks, pertumbuhan organ seks sekunder yang cepat, dan juga saat peserta didik tidak bisa memahami tentang perubahan bentuk proporsi tubuhnya peserta didik tersebut sering menunjjukan tingkah laku yang berbeda seperti cara dia berjalan mulai menarik perhatian lawan jenisnya dan terkadang sering menunjukan tingkah laku yang selalu ingin diperhatikan, seperti peserta didik yang sering mengejek teman yang bentuk tubuhnya yang berubah baik itu perubahan seks primer maupun perubahan seks sekunder, contohnya perubahan suara, perubahan struktur kulit dengan munculnya jerawat, kemunculan jakun, kemunculan bulu diketiak dan sekitar kemaluan dan lain sebagainya, dan ada juga peserta didik yang tidak paham tentang apa seks tersebut, sehingga menimbulkan problema dalam pemikiran peserta didik tersebut.
Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitiaan tentang ”Pemahaman perubahan seks bagi peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Sijunjung”.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif (descriptive research).
Lehman (A. Muri Yusuf, 2007:83) menyatakan Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan mendeskriptifkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenal fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Sijunjung, yang akan menjadi sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas VII SMPN 29 Sijunjung.
Berhubung jumlah populasi tidak terlalu besar, maka sampel penelitian ini merupakan penelitian total sampling yaitu semua populasi diambil. Sebagaimana dikatakan oleh Arikunto (2010:107) apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sampel penelitian ini adalah keseluruhan populasi yaitu berjumlah 78 orang.
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data interval. Menurut Riduwan (2010:85) “data interval adalah data yang menujukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama”.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden (peserta didik) dan data sekunder adalah data lengkap yang diperoleh dari orang yang mengetahui tentang masalah penelitian dalam hal ini adalah (tata usaha) guna untuk memperoleh data tentang jumlah peserta didik secara keseluruhan.
Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket, yaitu seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Suharsimi Arikunto (2010:71) mengemukakan “angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia, memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Pemahaman peserta didik tentang perubahan seks primer
Pemahaman tentang perubahan seks primer peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Suijunjung hanya cukup paham, hal ini terlihat dengan persentase
hasil penelitian yakni 46,57% berada pada kategori cukup paham.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pada pada tanggal 8 dan 9 Mei 2015 di SMP Negeri 29 Sijunjung tergambar dari hasil data yang telah peneliti analisis, bahwa peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Sijunjung hanya cukup memahami saja tentang perubahan seks primer, terkait dengan pemahaman tentang apa itu seks dan perkembangan remaja peserta didik tersebut hanya cukup memahami saja, hal ini bisa saja akan memicu bentuk penyimpangan tingkah laku peserta didik tersebut baik dalam lingkungan masayrakat maupun dalam lingkungan sekolah, seperti dalam berkomunkasi dan bersosialisasi. Hal ini tentunya merupakan tugas yang paling penting diselesaikan oleh personil sekolah tersebut sehingga tidak berdampak negatif kepada peserta didik, baik itu dari Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran, Guru Kelas, dan Guru Bimbingan dan Konseling.
Khususnya bagi Guru BK hal yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik harus lebih diperjelas dengan pemanfaatan layanan BK itu sendiri, seperti layanan Informasi dengan materi layanan yang mengarah kepada perkembangan remaja diterapkan guna menambah wawasan peserta didik mengenai perkembangan remaja tersebut.
Selanjutnya mengenai mulai berfungsinya organ seks seperti tanda-tanda dengan mulai menstruasinya (wanita) dan mimpi basah (laki-laki) peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Sijunjung juga hanya cukup memahami tentang hal ini, jika peserta didik hanya cukup memahami mengenai hal ini maka bermakna peserta didik kurang mengerti dengan baik tentang mulainya menstruasi (wanita) dan mimpi basah (laki-laki), hal ini tentunya akan memicu bentuk penyimpangan tingkah laku peserta didik itu sendiri, diperlukan peran Guru dalam menanggapi hal ini sehingga tidak muncul permasalahan bagi peserta didik, khususnya bagi guru Bimbingan dan Konseling dengan pemanfaatan layanan yang berkaitan dengan materi-materi layanan yang mengarah kepada meningkatkan wawasan peserta didik tentang mulainya berfungsi organ seks tersebut, sehingga peserta didik tidak berpersepsi salah..
Berdasarkan pejelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jika peserta didik bisa
memahami dengan baik tentang mulai berfungsinya organ seks dengan tanda-tanda mulai menstruasi pertama yang di alami oleh peserta diidk wanita dan peristiwa mimpi basah yang dialami oleh peserta didik laki- laki maka peserta didik tentunya akan semakin paham tentang perubahan seks yang dialaminya.
2. Pemahaman peserta didik tentang perubahan seks sekunder
Pemahaman tentang perubahan seks sekunder peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Suijunjung hanya cukup paham, hal ini terlihat dengan persentase hasil penelitian yakni 48,71% berada pada kategori cukup paham.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 8 dan 9 Mei 2015 di SMP Negeri 29 Sijunjung tergambar dari hasil data yang telah peneliti analisis, bahwa peserta didik kelas VII SMP Negeri 29 Sijunjung hanya cukup memahami saja tentang perubahan seks sekunder, terkait dengan pemahaman tentang perubahan proporsi tubuh seperi munculnya payudara pada peserta didik wanita dan jakun pada peserta didik laki-laki hanya cukup memahami saja, jika peserta didik hanya cukup memahami saja mengenai hal ini saa saja maknanya dengan kurangnya pengetahuan pserta didik akan perubahan yang terjadi pada dirinya, hal ini tentunya merupakan tugas yang paling penting diselesaikan oleh personil sekolah tersebut sehingga tidak berdampak negatif kepada peserta didik, baik itu dari Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran, Guru Kelas, dan Guru Bimbingan dan Konseling.
Khususnya bagi Guru BK hal yang berkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik harus lebih diperjelas dengan pemanfaatan layanan BK itu sendiri, seperti layanan Informasi dengan materi layanan yang mengarah kepada perkembangan remaja diterapkan guna menambah wawasan peserta didik mengenai perkembangan dan pertumbuhan remaja.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang pemahaman tentang perubahan seks bagi peserta didik kelas VII SMPN 29 Sijunjung, dapat diambil kesimpulan bahwa pemahaman peserta didik tentang perubahan seks hanya cukup memahamai saja
1. Pemahaman tentang perubahan seks primer berada pada kategori cukup paham dengan persentase 46,57%.
2. Pemahaman tentang perubahan seks primer berada pada kategori cukup paham dengan persentase 48,71%.
SARAN
1. Peserta Didik
Diharapkan kepada peserta didik sebagai pelajar yang sedang berkembang dan mencari jati diri agar dapat bisa menambah wawasan dan pengetahuanya tentang perubahan yang terjadi pada dirinya baik itu dari segi bentuk pertumbuhan ataupun perkembangannya sehingga peserta didik bisa memahami tentang perubahan seks yang dialaminya dan terhindar dari perilaku manyimpang.
2. Guru BK
Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa masih ditemukan peserta didik yang kurang memahami akan perubahan seks yang dialaminya dan kurangnya pengetahuan peserta didik tentang perubahan seks baik itu perubahan ciri- ciri seks primer ataupun perubahan ciri- ciri seks sekunder, jadi diharapkan kepada guru BK sebagai pembimbing sekaligus orang tua peserta didik di sekolah untuk lebih memaksimalkan pelayanan bimbingan dan konseling dan lebih meningkatkan bantuan kepada peserta didik yang masih belum paham atau kurang apaham tentang perubahan seks yang dialaminya.
3. Pengelola Program Studi Bimbingan Konseling.
Berdasarkan hasil temuan penelitian gambaran secara umum yang mana berada pada kategori cukup paham, dalam arti pemahaman peserta didik terhadap perubahan seks yang dialaminya masih belum maksimal, maka diharapkan kepada pengelola program studi BK agar lebih dikmaksimalkan lagi persiapan ataupun bekal bagi mahasiswa BK terkait dengan pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik mengenai materi yang berkaitan dengan menambah pemahaman peserta didik tentang perubahn seks tersebut
4. Kepala SMP Negeri 29 Sijunjung.
Agar mendukung kegiatan bimbingan keonseling di sekolah dalam rangka untuk menambah pemaham peserta didik tentang perubahan seks yang dialami
oleh setiap peserta didik, dan hendaknya menghadirkan ahli lain seperti dinas kesehatan, petugas puskesmas setempat untuk memberikan sosialisasi kepada peserta didik terkait dengan perubahan seks tersebut.
5. Peneliti selanjutnya
Diharapkan agar bisa dijadikan sebagai pedoman, arahan dan menambah kajian teori untuk penelitian yang berkaitan dengan masalah pemahamn. Untuk penelitian selanjutnya, agar dapat meneliti tentang TingkatcPemahaman Peserta didik tentang Perubahan Fisik dan Psikologis.