• Tidak ada hasil yang ditemukan

pemanfaatan lahan pemakaman menjadi pemukiman di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pemanfaatan lahan pemakaman menjadi pemukiman di"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

Tesis ini membahas mengenai alih fungsi lahan makam Bergota menjadi kawasan pemukiman dan dampaknya terhadap makam Bergota. Ketiga, untuk mengatasi kerusakan dan krisis lahan di Taman Pemakaman Umum Bergota, pemerintah menerbitkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 10 Tahun 2009.

Latar Belakang dan Permasalahan

Persoalannya, urbanisasi di kota semarang meningkat secara signifikan dan semakin meningkatkan kepadatan penduduk di kota semarang yang semakin tidak terkendali sejak masa orde baru. Akibat lebih lanjut, tidak tersedianya lahan yang cukup di Kota Semarang untuk pemukiman atau perumahan bagi warga, khususnya para pendatang yang akhirnya menetap di Kota Semarang. Memang bagi mereka yang berkecukupan secara ekonomi atau sukses, mereka bisa membeli dan membangun rumah di kawasan kota Semarang secara legal.

Dalam perkembangannya, pondok-pondok liar di lahan kosong biasanya berkembang menjadi kawasan kumuh. Namun karena semakin intensifnya pemanfaatan Makam Bergota seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk di Kota Semarang dan munculnya pemukiman liar, Makam Bergota dinyatakan kelebihan kapasitas atau kemacetan pada tahun 1990. 7 persen penggunaan lahan pemakaman umum di Kota Semarang pada tahun 2014 (Arsip Laporan Pemakaman Kota Semarang, Catatan Dinas Sanitasi dan Pertamanan Pemakaman Kota Semarang).

Profil Pemakaman Bergota Tempat Pemakaman Umum (TPU)

Bergota yang pindah ke pusat kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang terus bertambah dan semakin banyak perusahaan bisnis dan perdagangan disekitarnya. Kondisi demikian karena letaknya yang berada di bukit Brintik dan dikelilingi rumah susun di Kecamatan Randusari. Menurut Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang, tercatat lahan yang saat ini dikuasai Pemkot Semarang hanya seluas 2 hektar dan berada di kawasan RW 5.

Sebagai TPU terbesar di Kota Semarang, TPU Bergota memiliki 52.500 kuburan dan mampu menampung lebih dari 600 jenazah setiap tahunnya. Selain makam masyarakat biasa, di TPU Bergota juga terdapat makam tokoh-tokoh besar seperti makam Mbah Saleh Darat dan makam Nyai Brintik. Hal ini menambah daya tarik masyarakat untuk berziarah dan menguburkan jenazah di TPU Bergota dengan harapan mendapat keberkahan dari keluarga yang dikuburkan.11 Pada tahun 2014 misalnya, tercatat 858 jenazah dikuburkan di pemakaman Bergota. adalah. 12 Akibatnya, sisa lahan di pemakaman Bergota semakin sempit.

Tradisi di TPU Bergota

Pelaksanaan tradisi manganan bermula dari petang Khamis Jumaat dengan melakukan istighosah, diikuti oleh tukang kunci, ketua agama dan orang ramai yang bernazar. Setelah selesai istighosah, maka pada sebelah paginya diadakan jamuan makan bersama oleh pihak nazar bersama tukang kunci, ketua agama dan masyarakat Bergota. Manganan itu sendiri biasanya berupa makanan yang diletakkan di dalam takir (tempat makanan yang diperbuat daripada daun pisang), contohnya dalam bentuk; kuih apem, pulut dan kolak serta juadah pasar lain yang dibuat oleh setiap peserta acara manganan sebagai tanda kesyukuran sekeluarga atas nikmat yang dikurniakan oleh Pencipta.

Sebagaimana umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa, tata cara atau proses nyadran di pemakaman umum Bergota adalah sebagai berikut. Persembahan makanan ini merupakan wujud rasa syukur keluarga peziarah atas nikmat yang dianugerahkan Sang Pencipta. Tradisi Nykar atau ziarah ke makam keluarga merupakan tradisi yang juga sering dilakukan setiap malam Jumat (Kamis sore) di Pemakaman Umum Bergota dan sangat ramai menjelang bulan Ramadhan.

Tinjauan Historis Kawasan Bergota

Pada masa penjajahan Belanda abad kesembilan belas, kawasan Bergota digunakan sebagai tempat pemakaman penduduk asli. Akibat perkembangan dan perluasan wilayah kota semarang khususnya sejak awal bab 20, maka kawasan Bergota tidak lagi menjadi pinggiran kota semarang, melainkan telah berpindah menjadi bagian dari pusat kota semarang. Namun sebagian kawasan Bergota dan Bukit Brintik merupakan tanah milik orang Tionghoa dan raja gula terkaya di kota Semarang yakni.

Oei Tiong Ham yang membentang di sepanjang Jl Pahlawan – Pandanaran hingga Randusari dengan luas 81 hektar. .20. Pada masa republik, pemakaman Bergota seluas 30 hektar ini terletak di dua kelurahan, yakni kelurahan Bergota dan kelurahan Randusari. Untuk wilayah yang terletak di Kelurahan Randusari termasuk dalam wilayah administratif RW 1 dan 2, sedangkan yang berada di Kelurahan Bergota berada dalam wilayah administratif seluruh RW yang ada di kecamatan tersebut yaitu. dari RW 1 hingga RW 5. Karena berada di dua wilayah kelurahan, pemetaan areal pemakaman dan pendataan pemilik makam menjadi sulit.21 Pada tahun 1992, kelurahan Randusari dan kelurahan Bergota digabung menjadi satu dengan nama kecamatan Randusari.

Sejarah Kependudukan Kota Semarang

Pertama, klasifikasi tinggi terdapat pada kecamatan yang terletak di pusat kota yaitu kecamatan Semarang Selatan, Candisari, Gayamsari, Semarang Tengah, Semarang Utara, dan Semarang Timur dengan presentasi kepadatan penduduk lebih dari 9,18. % yang berarti termasuk dalam kategori tipe kawasan dengan kepadatan penduduk di Kota Semarang tahun 2012. Kedua klasifikasi sedang tersebut berada pada kecamatan yang berpotensi pemekaran seperti Pendurungan, Gajah Mungkur dan Semarang Barat dengan kepadatan penduduk lebih dari 6,2% yang berarti termasuk dalam kategori jenis kawasan dengan kepadatan penduduk sedang di Kota Semarang tahun 2012 karena melebihi batas 5%, klasifikasi ketiga adalah sub -kabupaten dengan kepadatan penduduk rendah (di bawah 5%), yaitu Kecamatan Banyumanik, Genuk dan Tembalang.

Permukiman Liar di TPU Bergota Sebelum Tahun 1987

Rumah-rumah tersebut sebagian besar tidak memiliki sertifikat tanah dan juga tidak dapat membayar pajak karena masyarakat tersebut membangun bangunan tanpa izin sertifikat dan IMB dari pemerintah. Menurut M. Warsin, pada tahun 1970-an, saat menjabat sebagai Kepala Kelurahan Randusari, Pak Ahsar menandatangani dan mencap kuitansi jual beli tanah di kawasan Bergota, yang sebelumnya telah ditandatangani dan distempel melalui ketua RW dan Ketua RT. Namun bertambahnya jumlah warga di sekitar makam Bergota juga membawa dampak positif yaitu munculnya dan berkembangnya kegiatan ekonomi sektor riil seperti warung dan kios.

Dari arsip UPTD wilayah IV tercatat di wilayah Bergota bagian selatan terdapat 66 orang yang berada di pemakaman Bergota.

Perkembangan Pemukiman Liar di TPU Bergota Tahun 1987-2014

Pembongkaran makam sebenarnya sah karena diatur dalam Peraturan Daerah Kota Semarang No. mereka membutuhkan tanah untuk hidup. Perubahan rumah kumuh di kawasan Bergota Kecamatan Randusari yang dilakukan para pendatang tentu saja sangat berkaitan dengan penghidupan masyarakat yang mencari nafkah di kawasan tersebut. Pada tahun 1989, masyarakat Bergota Kelurahan Randusari banyak yang bergerak di bidang kerajinan seperti batu nisan, rangkaian bunga dan kerajinan tangan.

Masyarakat yang membangun rumah di atas atau di samping batu nisan tersebut merupakan masyarakat yang terpaksa melakukannya karena rendahnya pendapatan dan terbatasnya lahan di dekat pusat kota Semarang. Setelah penimbunan ini, jika tidak ada yang menguburkan jenazah, biasanya banyak pengurus yang menjual kepada masyarakat yang membutuhkan tanah dengan harga murah. Namun banyak masyarakat yang datang dan tinggal di sekitar makam Bergota karena letaknya yang dekat dengan tempat mereka bekerja.

Terbentuknya Rumah- Rumah Resmi di Bergota

Dengan tujuan untuk mempermudah penyelesaian permasalahan administrasi di Kelurahan Bergota, Bergota diserap ke dalam pemerintahan Kecamatan Randusari. Alasan kedua, berdasarkan pemekaran kabupaten pada tahun 1992, direncanakan Desa Bergota akan dimasukkan dalam wilayah kabupaten baru. Namun karena Pemerintah Kelurahan Bergota belum mempunyai kantor Kelurahan sehingga arsip pemerintahan di wilayah Bergota banyak yang tersimpan di kantor Kelurahan Randusari, maka rencananya kecamatan Bergota akan digabung dengan wilayah administrasi Kecamatan Gajahmungkur. Distrik dibatalkan.

Alasan ketiga, Desa Randusari memiliki sebagian wilayah kawasan TPU Bergota, dan sebagian lagi milik Desa Bergota. Hal ini tentunya dilakukan terutama di beberapa wilayah yang dulunya merupakan wilayah Desa Bergota. Proses pembentukan Rukun Tetangga baru di Kecamatan Randusari yang berlangsung pada tahun 1992 melalui beberapa tahapan.

Munculnya Anak Jalanan Dan Upaya Penanganannya

Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah tahun 2009 menunjukkan bahwa penyebab utama keberadaan anak jalanan di Kota Semarang adalah kemiskinan. Upaya pemerintah untuk mengurangi tingkat kemiskinan orang tua mereka adalah dengan memberikan pelatihan kewirausahaan untuk menciptakan jajanan singkong yang dapat dipasarkan. Selain pemerintah, beberapa lembaga organisasi turut terlibat dalam penurunan jumlah anak jalanan di Bergota, salah satunya Dynamic Learning.

Pembelajaran dinamis mengacu pada lima pilar prinsip pendidikan yaitu motivasi, agama, teknologi, kewirausahaan dan nasionalisme. 50 Bappeda, Faktor Kehadiran Anak Jalanan di Kota Semarang (www.bappeda.semarangkota.go.id// .5.-Studi_Karakteristik_Anak Jalanan) diunduh pada tanggal 22 April 2017 pukul 21.00 WIB.

Menata Pedagang kaki lima dan TPU Bergota

Penertiban Pedagang Kaki Lima Dalam Kawasan TPU

Banyaknya PKL yang berjualan di sekitar pintu gerbang TPU Bergota dan di trotoar Jalan Kyai Saleh menyebabkan akses jalan ditutup. Dalam upaya menata lingkungan pemakaman yang layak, Pemerintah Kota Semarang terus berupaya mengatasi permasalahan pedagang kaki lima di sekitar makam Bergota. Selain kotor, para pedagang kaki lima ini juga sangat mengganggu jamaah dan pengendara karena jalan yang seharusnya menjadi akses keluar menuju Taman Makam Bergota ini merupakan pos perdagangan.

Salah satu upaya negara dalam menjaga kawasan TPU Bergota adalah penertiban yang dilakukan oleh anggota Satuan Pelayanan Kepolisian (Satpol PP). Komandan Tim Satuan Polisi Pamong Praja Semarang Kardi menjelaskan, operasi polisi tersebut dilakukan mengingat banyaknya aduan dan aduan masyarakat terkait seringnya terjadi kemacetan di Jalan Kyai Saleh, khususnya di pintu masuk Taman Pemakaman Umum Bergota. Penyebabnya adalah pedagang kaki lima (PKL) yang membuka lapak. sampai ke perbatasan jalan. 56 Terkadang karena kemacetan akibat banyaknya pedagang kaki lima di sekitar pintu masuk gerbang TPU Bergota, jalan Kyai Saleh ditutup dan perlu dialihkan.

Menerbitkan Peraturan Pencegahan Kerusakan

Namun untuk kawasan pemukiman yang luasnya kurang dari 250 hektar, dimungkinkan untuk menyediakan lahan pemakaman di luar kawasannya.57 Tujuan pasal ini adalah untuk menghentikan masyarakat menguburkan jenazah di satu tempat dan kami berharap pada salah satu tempat pemakaman umum seperti TPU Bergota tidak akan ada lagi kelebihan kapasitas. Tidak diperbolehkan mendirikan bangunan berupa rumah atau pagar pada setiap kuburan, dan jarak antar barisan kuburan dan jarak antar petak kuburan dalam kuburan adalah 50 cm. Rehabilitasi TPU Bergota Rehabilitasi TPU Bergota merupakan salah satu bentuk upaya pemulihan dan pelestarian fungsi makam agar tetap terjaga perannya.

Pengaturan di pemakaman Bergota tidak berhenti pada pengendalian dan pencegahan kerusakan saja, namun juga pada penciptaan pemakaman yang lebih baik. Kami baru menerima anggaran rehabilitasi di TPU Bergota hingga tahun 2012 karena keterbatasan anggaran dari pemerintah kota semarang. Keterbatasan anggaran dan pergeseran anggaran ke proyek yang lebih penting seperti perbaikan jalan di Semarang menyebabkan anggaran pemulihan TPU Bergota baru tersedia pada tahun 2012. 61 Berikut data anggaran pemulihan TPU Bergota:

KESIMPULAN

Referensi