EVALUASI STATUS KEBERLANJUTAN SISTEM USAHATANI PADI DI RAWA LEBAK DESA SUNGAI AMBANGAH KECAMATAN SUNGAI RAYA KABUPATEN
KUBU RAYA, PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Rois1) dan Rizieq2), ABSTRAK
The purpose of this study was to determine the sustainability index and status of each dimension is the dimension of ecological sustainability, economic, social cultural, technological, and institutional,. The experiment was conducted in the village of Sungai Ambangah, Kubu Raya district of West Kalimantan Province. Data analysis was performed included descriptive analysis, land suitability, sustainability analysis of each dimension, leverage analysis, Monte Carlo analysis and prospective analysis. The results showed that the status of the five dimensions of sustainability obtained one-dimensional analysis is considered sufficient institutional dimensions of sustainability, while the other four dimensions considered unsustainable.
Key Words: Evaluation, Sustainable, farming, rice, freshwater
PENDAHULUAN
Indonesia mempunyai lahan rawa sekitar 33,4 juta hektar, dan 13,27 juta hektar diantaranya adalah rawa lebak (Balittra, 2005). Kalimantan Barat dengan luas total 14,64 juta hektar mempunyai lahan rawa lebak dan baru sekitar 27,6%
yang telah dimanfaatkan (Dinas Pertanian Prov. Kalbar, 2008). Pemanfaatan rawa lebak di Kalimantan Barat sudah berlangsung cukup lama, dibeberapa tempat seperti di Desa Sungai Ambangah Kecamatan Sungai Raya telah berlangsung sejak tahun 1956 dan Desa Pasak Piang Kecamatan Sungai Ambawang sejak tahun 1965 (Sabiham et al., 2010).
Pemanfaatan rawa lebak selama ini telah memberikan kontribusi terhadap pendapatan petani. Produksi padi dapat mencapai 2,0 – 2,5 ton per hektar (Noor, 2007), kedelai mencapai 1,2 – 1,9 ton hektar (Waluyo dan Ismail, 1995).
Usahatani padi secara ekonomis, juga menunjukkan keuntungan yang cukup baik yang dinyatakan dengan nilai R/C ratio >1, dan kontribusi terhadap pendapatan cukup besar dilihat dari pendapatan bersih petani, walaupun hanya pasar lokal (Zuraida et al., 2006). Dilain pihak, dibeberapa lokasi kawasan rawa lebak saat ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yaitu dari tanaman padi menjadi kelapa sawit, walaupun luasannya masih relatif sempit.
Dengan kondisi di atas, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem usahatani tersebut. Evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai apakah sistem
usahatani padi yang dijalankan selama ini telah memberikan keuntungan.
Keuntungan dimaksud adalah keuntungan secara ekonomi, ekologi maupun sosial bagi masyarakat tani.
Namun demikian, pendekatan yang akan digunakan untuk menilai keberlanjutan sistem usahatani di rawa lebak saat ini tidak hanya dilihat dari tiga keuntungan di atas. Dalal-Clayton and Bass (2002) menilai pembangunan dikatakan berkelanjutan apabila memenuhi dimensi ekonomi, ekologi, sosial budaya, kelembagaan, politik, dan keamanan. Literatur lain menambahkan dimensi teknologi ke dalam kriteria pembangunan berkelanjutan. Dalam penelitian ini, pendekatan yang dipakai untuk mengevaluasi keberlanjutan sistem usahatani padi di lahan rawa lebak menggunakan lima dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknolgi dan kelembagaan. Hal ini didasarkan terhadap objek penelitian yang sangat terkait dengan kelima dimensi tersebut.
METODE
Penelitian dilaksanakan di Desa Sungai Ambangah Kecamatan Sungai Raya, terletak di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Jarak dari Ibu Kota Provinsi kurang lebih 25 km. Secara geografis, Kabupaten Kubu Raya berada di sisi Barat Daya Provinsi Kalimantan Barat atau berada pada posisi 0o 13’ 27” Lintang Utara sampai dengan 1o 0’ 15” Lintang Selatan dan 109o 58’ 47”
Bujur Timur sampai dengan 109o 58’ 17” Bujur Timur yang terdiri dari sembilan kecamatan dan 106 desa.
HASIL
Keberlanjutan Rawa Lebak Masing-masing Dimensi 1. Keberlanjutan usahatani padi dimensi ekologi
Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi ekologi menggunakan delapan atribut. Kedelapan atribut tersebut terdiri dari (1) persentase luas lahan garapan, (2) penggunaan pupuk, (3) kelas kesesuaian lahan, (4) kandungan bahan organik tanah, (5) produktivitas lahan, (6) periode tergenang, (7) periode kekeringan, dan (8) ketersediaan sistem irigasi.
Hasil analisis keberlanjutan Gambar 1a diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi mencapai 35,55% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
(a) (b)
Gambar 1 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekologi (b) di rawa lebak Hasil analisis leverage dimensi ekologi menggunakan delapan atribut Gambar 1b, terdapat dua atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) periode tergenang, dan (2) produktivitas lahan. Periode tergenang merupakan atribt yang perlu dikelola dengan baik, karena penggenangan dapat menyebabkan perubahan-perubahan sifat kimia tanah, yang ditentukan oleh potensial reduksioksidasi (redoks). Pada pH 7 dengan nilai potensial redoks 450 - 550 mV, maka pada nilai tersebut akan terjadi reduksi nitrat (denitrifikasi), sedangkan pada nilai 350 - 450 mV, akan terbentuk Mn2+, dan pada nilai 300 mV, ditandai dengan tidak ada O2 bebas, pada nilai 250 mV, tidak terdapat nitrat, dan pada nilai 150 mV, akan terbentuk terbentuk Fe2+, sedangkan nilai potensial redoks 50 mV, akan terjadi reduksi sulfat membentuk H2S (Marschner, 1986).
Untuk memperbaiki produktivitas lahan dapat dilakukan dengan menerapkan sistem usahatani konservasi melalui, pengaturan pola tanam, penambahan bahan organik dengan daur ulang sisa panen dan gulma, serta penerapan budidaya lorong (Adiningsih dan Mulyadi, 1992). Penerapan teknologi tersebut akan berdampak terhadap meningkatnya ketersediaan P dan bahan organik tanah serta menurunnya kadar Al. Hasil penelitian Arief dan Irman (1993) disimpulkan bahwa pemberian amelioran berupa kapur, pupuk kandang, daun gamal, jerami padi dan kieserit mampu meningkatkan hasil padi gogo dan kedelai di tanah podsolik merah kuning. Pupuk diketahui berperan penting terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Pupuk yang diberikan dapat menjadi tambahan unsur hara yang sudah ada di dalam tanah, sehingga jumlah unsur hara yang ada dalam tanah tersebut dapat tersedia untuk mensuplai kebutuhan tanaman. Dengan demikian, kedua atribut sensitif tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks keberlanjutan dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
2. Status keberlanjutan rawa lebak dimensi ekonomi
Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi ekonomi menggunakan tujuh atribut. Ketujuh atribut tersebut terdiri dari (1) pendapatan rata-rata petani, (2) produksi usahatani, (3) ketersediaan modal usahatani, (4) harga produk usahatani, (5) ketersediaan sarana produksi, (6) keuntungan usahatani, dan (7) efesiensi ekonomi.
Hasil analisis keberlanjutan Gambar 2a diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekonomi mencapai 35,04% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
(a) (b) Gambar 2 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekonomi (b) di rawa lebak Hasil analisis leverage dimensi ekonomi menggunakan tujuh atribut Gambar 2b terdapat lima atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) harga produk usahatani, (2) ketersediaan sarana produksi, (3) keuntungan usahatani, (4) produksi usahatani, dan (5) ketersediaan modal usahatani.
Sarana dan prasarana pertanian merupakan sumberdaya yang penting dalam mendukung kegiatan usahatani, hal ini tidak hanya berlaku ditingkat lahan pertanian (on farm) akan tetapi juga berlaku pada skala yang lebih luas seperti dalam proses pengolahan, pemasaran hasil, pasca panen, dan sebagainya.
Sedangkan keuntungan atau pendapatan usahatani yang merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan. Penerimaan usahatani menurut Soekartawi (2002) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Keuntungan usahatani sangat tergantung dari produksi usahatani dan harga produk usahatani. Produk usahatani sangat tergantung dari ketersediaan sarana dan input produksi. Dengan demikian atribut-atribut sensitif tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
3. Status keberlanjutan rawa lebak dimensi sosial budaya
Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi sosial budaya menggunakan tujuh atribut. Ketujuh atribut tersebut terdiri dari (1) status kepemilikan lahan, (2) jumlah rumah tangga petani, (3) rumah tangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian, (4) peran adat dalam kegiatan pertanian, (5) pola hubungan masyarakat dalam usaha pertanian, (6) tingkat pendidikan formal petani, dan (7) intensitas konflik.
Hasil analisis keberlanjutan Gambar 3a diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial budaya mencapai 43,89% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
(a) (b)
Gambar 3 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan dimensi sosial budaya (b) di rawa lebak Hasil analisis leverage dimensi sosial budaya menggunakan tujuh atribut Gambar 3b, terdapat tiga atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) pola hubungan masyarakat dalam usaha pertanian berupa kerjasama dalam hal penanaman, panen atau kegiatan lainnya, (2) rumah tangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian, dan (3) jumlah rumah tangga petani. Ketiga atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan sosial budaya tersebut mempunyai keterkaitan yang sangat erat.
Hal ini diperlihatkan dalam berbagai penelitian (misalnya Evans, 1982; Lorenz, 1966), yang menunjukkan bahwa disamping faktor dalam diri manusia (intrinsik) terdapat faktor luar (ekstrinsik) yang mempengaruhi kemampuan manusia untuk hidup bersama-sama dengan orang atau kelompok lain secara baik. Untuk selanjutnya faktor ini disebut sebagai faktor penunjang. Faktor penunjang yang mempengaruhi kemampuan manusia untuk hidup bersama-sama secara selaras dan serasi dapat digolongkan menjadi dua hal, yaitu peluang dan stimulasi. Aspek peluang pertama-tama dapat dilihat dengan bertambahnya jumlah orang dalam suatu lingkup atau wilayah. Dengan mengikuti penyuluhan pertanian, maka
keterbatasan-keterbatasan dan segala permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam hal kegiatan usahataninya dapat dicarikan solusi jalan keluarnya.
Sedangkan ketersediaan rumah tangga petani merupakan salah satu sumberdaya khususnya sumberdaya manusia yang berperan dalam mendukung kelancaran kegiatan usahatani. Dengan demikian, ketiga atribut sensitif tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
4. Status keberlanjutan rawa lebak dimensi teknologi
Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi teknologi menggunakan delapan atribut. Kedelapan atribut tersebut adalah (1) pengolahan tanah, (2) pemupukan, (3) pengendalian gulma, (4) jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, (5) ketersediaan mesin pompa air, (6) ketersediaan mesin pasca panen, dan (7) pola tanam, dan (8) jadual tanam
Hasil analisis keberlanjutan Gambar 4a, diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi teknologi mencapai 37,53% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
(a) (b) Gambar 4 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi teknologi (b) di rawa lebak Hasil analisis leverage untuk dimensi teknologi Gambar 4 menunjukkan bahwa terdapat tiga atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, (2) pengendalian gulma, dan (3) pemupukan. Dengan demikian, ketiga atribut sensitif tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
5. Status keberlanjutan rawa lebak dimensi kelembagaan
Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi kelembagaan menggunakan delapan atribut yang terdiri dari (1) keberadaan kelempok tani, (2)
intensitas pertemuan kelompok tani, (3) keberadaan lembaga sosial, (4) ketersediaan lembaga keuangan mikro, (5) ketersediaan petugas penyuluh pertanian, (6) kondisi prasarana jalan desa, (7) keberadaan balai penyuluh pertanian, dan (8) kios saprodi.
Hasil analisis keberlanjutan Gambar 5a, diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi kelembagaan mencapai 54,82% atau pada kategori cukup berkelanjutan.
(a) (b)
Gambar 5 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan dimensi kelembagaan (b) di rawa lebak Hasil analisis leverage dimensi kelembagaan Gambar 5b menunjukkan tiga atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) keberadaan petugas penyuluh lapangan, (2) ketersediaan lembaga keuangan mikro, dan (3) keberadaan lembaga sosial.
Sebagaimana diketahui bahwa tanpa modal, suatu usaha tidak akan dapat berjalan walaupun syarat-syarat yang lain untuk menjalankan atau mendirikan suatu usaha sudah dimiliki. Untuk maksud tersebut, biasanya sebelum suatu usaha dijalankan, terlebih dahulu dilakukan analisis pemodalan. Analisis pemodalan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan tanah atau sewa lahan serta biaya investasi seperti pembelian bibit, pupuk, biaya tenaga kerja dan pascapanen. Dari hasil wawancara di lapangan, semua responden mengatakan mereka kekurangan modal. Untuk mengatasi kekurangan modal tersebut, diperlukan lembaga keuangan yang dapat memberikan pinjaman modal usaha, maka keberadaan lembaga keuangan skala mikro merupakan salah satu alternatif jalan keluarnya (Tim Penulis PS, 2008).
Sedangkan dalam konteks lembaga sosial dimaksudkan adalah lembaga yang dapat mengatur individu-individu dalam berinteraksi. Suparlan (2004) dalam Rudito dan Femiola (2008) menjabarkan secara lebih rinci bahwa dalam pranata sosial komuniti, diatur status dan peran untuk melaksanakan aktivitas pranata
yang bersangkutan. Dengan kata lain bahwa peran-peran tersebut terangkai membentuk sebuah sistem yang disebut sebagai pranata sosial atau institusi sosial yakni sistem antar hubungan norma-norma dan peranan-peranan yang diadakan dan dibakukan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dianggap penting oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, keberadaan lembaga penyedia modal dan lembaga sosial sebagai atribut sensitif merupakan atribut yang perlu mendapat perhatian. Dengan tersedianya kedua lembaga tersebut diharapkan nilai indeks dimensi ini akan menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
Selanjutnya Tabel 1, menunjukkan atribut-atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan rawa lebak berdasarkan hasil analisis leverage terhadap seluruh atribut yang diberikan penilaian. Dari 38 atribut yang diberikan penilaian terhadap rawa lebak, diperoleh 16 atribut sensitif sebagaimana tabel 1.
Tabel 1 Atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan rawa lebak
No Atribut sensitif Skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Harga produk usahatani Ketersediaan sarana produksi Keuntungan usahatani
Produksi usahatani
Pola hubungan masyarakat dalam usahatani Ketersediaan lembaga keuangan mikro Ketersediaan modal usahatani
Rumahtangga petani yg pernah mengikuti penyuluhan pertanian
Keberadaan petugas penyuluh lapangan Jumlah alat pemberantasan jasad
pengganggu
Pengendalian gulma Periode tergenang
Jumlah rumah tangga petani Produktivitas lahan
Keberadaan lembaga sosial Pemupukan
14,0 11,6 9,5 7,5 7,4 7,1 7,0 6,8 6,7 6,6 6,5 6,4 5,9 5,7 5,6 5,5 Sumber: Hasil analisis
Pola indeks keberlanjutan usahatani rawa lebak dalam diagram layang Nilai indeks untuk setiap dimensi Gambar 6 menunjukkan adanya keragaman antara satu dimensi dengan dimensi yang lain. Dari diagram layang ini dapat diketahui bahwa dimensi mana yang lebih diutamakan untuk dikelola agar dimensi tersebut menjadi cukup berkelanjutan atau nilai indeks di atas 50%
atau bahkan nilai indeksnya bisa lebih besar dari 75% (kategori berkelanjutan).
Dari kelima dimensi yang dianalisis ternyata dimensi kelembagaan yang mempunyai nilai indeks relatif terbesar yaitu 54,82% (cukup berkelanjutan), jika dibandingkan dengan empat dimensi lainnya yang semuanya berada pada kategori kurang berkelanjutan. Dimensi yang paling rendah nilai indeks keberlanjutannya adalah dimensi ekonomi yang hanya mencapai 35,04% (kurang berkelanjutan).
Keadaan ini sesuai dengan hasil analisis dimensi ekonomi Gambar 3a, hasil ini menunjukkan bahwa apabila ingin ditingkatkan status keberlanjutan dari kategori
‘kurang’ menjadi ‘cukup’ berkelanjutan, perlu mengelola atribut-atribut sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi, terutama mengelola harga produk usahatani, ketersediaan sarana produksi, keuntungan usahatani, produksi usahatani, dan ketersediaan modal usahatani.
Nilai S-Stress yang dihasilkan dimasing-masing dimensi, mempunyai nilai yang lebih kecil dari ketentuan (<0.25), dengan asumsi bahwa semakin kecil dari 0,25 semakin baik. Sedangkan nilai Koefesien Determinasi (R2) disetiap dimensi cukup tinggi (mendekati 1). Dengan demikian, kedua parameter statistik tersebut menunjukkan seluruh atribut yang digunakan dalam setiap dimensi di kedua lokasi penelitian sudah cukup baik menerangkan keberlanjutan sistem pengelolaan rawa lebak (Tabel 2).
Sungai Ambangah
Gambar 6 Diagram layang analisis indeks dan status keberlanjutan sistem usahatani padi rawa lebak
Tabel 2 Nilai S-Stress dan R2 status keberlanjutan pengelolaan rawa lebak
Parameter Dimensi keberlanjutan
Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Teknologi Kelembagaan S-Stress 0,1389946 0,1507659 0,1500685 0,1397085 0,1476557
R2 0,9459976 0,9281701 0,937069 0,9467362 0,9419487
Sumber: Data primer hasil olahan
Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak pada selang kepercayaan 95 persen didapatkan hasil yang tidak banyak mengalami perbedaan (<1) antara hasil analisis MDs dengan analisis Monte Carlo (Tabel 3). Kecilnya perbedaan nilai indeks keberlanjutan antara hasil analisis dari kedua metode tersebut membuktikan bahwa (1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil, (2) ragam pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil, (3) proses analisis yang dilakukan secara berulang- ulang relatif stabil, dan (4) kesalahan pemasukkan data dan data yang hilang dapat dihindari. Perbedaan ini juga menunjukkan bahwa sistem yang dikaji memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Beberapa parameter hasil uji statistik ini menunjukkan bahwa metode Rap-Lebak cukup baik dipergunakan sebagai salah satu instrumen dalam evaluasi keberlanjutan pengelolaan rawa lebak.
Tabel 3 Perbedaan Indeks keberlanjutan antara Rap-Lebak (MDs) dengan Monte Carlo
Dimensi keberlanjutan
Indeks keberlanjutan (%) Perbedaan (selisih)
MDs MONTE CARLO
Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Teknologi Kelembagaan
39,55 35,04 43,89 37,53 54,82
38,86 35,87 43,58 37,83 54,35
0,69 0,83 0,31 0,30 0,47 Sumber: Data primer hasil olahan
Faktor Dominan yang Mempengaruhi Pengelolaan Lahan Rawa Lebak Berkelanjutan
Analisis prospektif bertujuan untuk melihat faktor kunci yang dominan berpengaruh terhadap sistem yang dikaji, sehingga sangat berguna dalam merumuskan kebijakan yang akan diambil dalam rangka perbaikan pengelolaan sistem usahatani padi di rawa lebak. Hasil analisis leverage terhadap lima dimensi yang mempengaruhi pengelolaan lahan rawa lebak, diperoleh 16 atribut sensitif yang mempengaruhi status keberlanjutan dan menjadi faktor pengungkit dalam pengelolaan rawa lebak. Dari 16 faktor dominan tersebut, dianalisis menggunakan analisis prospektif sebagaimana Gambar 8.
Gambar 7 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor sensitif .
Hasil analisis prospektif Gambar 7, menunjukkan bahwa terdapat 12 faktor dominan yang mempengaruhi pengelolaan rawa lebak dan perlu menjadi perhatian dalam rangka perbaikan pengeloalaan rawa lebak. Adapun faktor tersebut adalah (1) ketersediaan modal usahatani, (2) jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, (3) harga produk usahani, (4) ketersediaan sarana produksi, (5) keuntungan usahatani, (6) produksi usahtani, (7) ketersediaan lembaga keuangan mikro, (8) rumahtangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian, (9) pengendalian gulma, (10) periode tergenang, (11) jumlah rumah tangga petani, dan (12) pemupukan.
Selanjutnya faktor dominan ini, dielaborasi lebih lanjut menggunakan berbagai sumber literatur dan hasil penelitian terdahulu yang selanjutnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Hasil akhir akan dijadikan sebagai faktor penting/faktor pengungkit dalam memperbaiki status keberlanjutan pengelolaan rawa lebak pada masa yang akan datang.
KESIMPULAN
1. Status keberlanjutan dari lima dimensi keberlanjutan yang dianalisis, hanya satu dimensi yang dikategorikan cukup berkelanjutan yaitu dimensi
Harga produk usahatani Ketersediaan sarana
produksi
Keuntungan usahatani
Produksi usahatani
Pola hubungan masyarakat dlm
usahatani
Ketersediaan lembaga keuangan mikro Ketersediaan modal
usahatani
RT petani yg pernah mengikuti penyuluhan
pertanian
Jumlah alat pemberantasan jasad
pengganggu
Pengendalian gulma Periode tergenang Jumlah rumah tangga petani
Produktivitas lahan
Keberadaan lembaga sosial Pemupukan
- 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60
- 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60
Pengaruh
Ketergantungan
Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Sistem yang Dikaji
kelembagaan, sedangkan empat dimensi lainnya dikategorikan tidak berkelanjutan.
2. Atribut sensitif yang berpengaruh pada sistem usahatani padi di rawa lebak yaitu harga produk usahatani, ketersediaan sarana produksi, keuntungan usahatani, produk usahatani, pola hubungan masyarakat dalam usahatani, ketersediaan lembaga keuangan mikro, ketersediaan modal usahatani, rumahtangga petani yg pernah mengikuti penyuluhan pertanian, keberadaan petugas penyuluh lapangan, jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, pengendalian gulma, periode tergenang, jumlah rumah tangga petani, produktivitas lahan, keberadaan lembaga sosial dan pemupukan.
3. Faktor dominan yang mempengaruhi keberlanjutan sistem usahatani padi di rawa lebak meliputi (1) modal usahatani, (2) pemberantasan jasad pengganggu dan gulma, (3) kestabilan harga produk usahani, (4) ketersediaan sarana produksi, (5) keuntungan usahatani, (6) peningkatan produk usahatani, (7) ketersediaan lembaga keuangan mikro, (8) ketersediaan informasi dan partisipasi rumahtangga petani dalam mengikuti penyuluhan pertanian, (9) pengaturan tata air, (10) ketersediaan tenaga kerja, dan (11) pemupukan.
Rekomendasi
Dari serangkaian hasil analisis yang telah dilakukan, memperlihatkan kondisi pengelolaan dan pemanfaatan rawa lebak saat ini (existing condition).
Untuk itu dalam rangka memperbaiki keberlanjutan dimasa yang akan datang, maka perlu kiranya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan rekomendasi berikut :
1. Meningkatkan nilai indeks keberlanjutan khususnya pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya dan teknologi dalam pengelolaan padi di rawa lebak.
2. Memperbaiki sistem usahatani padi di rawa lebak, dengan cara mengelola atribut-atribut sensitif terutama sebelas faktor dominan yang sangat berpengaruh pada system usahatani padi di rawa lebak.
3. Rumusan penelitian tahap kedua nantinya akan dijadikan strategi dan program kegiatan dalam pengelolaan sistem usahatani padi secara berkelanjutan di rawa lebak.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini, dengan segenap kerendahan hati penulis mengucapakab terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi c.q Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang telah mendanai penelitian ini.
2. Koordinator Kopertis Wilayah XI Kalimantan 3. Rektor Universitas Panca Bhakti Pontianak
4. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Panca BHakti.
5. Semua pihak yang telah membantu terselengaranya penelitian ini.
Akhirnya, penulis berharap agar Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi dan Irsal Las. 2006. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Adiningsih, S., H. Suhardjo, I.P.G. Widjaja Adhi, H. Suwardjo, S. Sukwana, dan M. Sudjadi. 1986. Hasil Rencana Penelitian Lahan Kering di Jambi.
Dalam Risalah Lokakarya Pola Usahatani, Bogor 2-3 Sepetember 1986.
Alihamsyah, T. 2005. Pengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian. Balittra. Banjarbaru.
Alwi H., Lapoliwa H., Sugono D., et al. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia - Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka, Jakarta.
Arifin M.Z., Anwar K., dan Simatupang R.S. 2006. Karakteristik dan Potensi Lahan Rawa Lebak untuk Pengembangan Pertanian di Kalimantan Selatan dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Arief, A dan Irman. 1993. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. Proseding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.
Jakarta, Bogor 23-25 Agustus 1993.
Bourgeois, R and F. Jesus. 2004. Participatory Prospective Analisys, Exploring and Anticipating Chellenger with Stakeholders. Center for Alleviation of Poverty through Secondary Crops Development in Asia and The Pasific and French Agricultural Reasearch Center for International Development. Monograph (46): 1-29.
Dinas Pertanian Prov. Kalbar, 2008. Statistik Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Barat.
Djaenudin, D., H. Marwan, H. Subagyo, A. Mulyani, dan N. Suharta. 2000.
Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian.
PUSLITTANNAK, Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor.
Eriyatno dan Sofyar, F. 2007. Riset Kebijakan Metode Penelitian untuk Pascasarjana. IPB Press, Bogor.
Hillel, D. 1972. The Field Water Balance and Water Use Effeciency. In D. Hillel (ed) Optimizing The Soil Physical Environmental Toward Greater Crop Yields. Academic Press. New York.
Irianto G. 2006. Kebijakan dan Pengelolaan Air Dalam Pengembangan Lahan Rawa Lebak dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Kartodihardjo, H., dan Jhamtani H. [Editor]. 2006. Politik Lingkungan dan Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Equinox.
Las, I. 2010. Manfaat, Disain dan Teknologi Pengelolaan Lahan Gambut Lesson Learned Pengelolaan Lahan Gambut dan Pembangunan (Pertanian), Balai Besar Liutbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional – Bogor, tanggal 28 Oktober 2010.
Marimin. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Marschner, H. 1986. Mineral Nutrition of Higher Plants. Academic Press. Harcout Brac Jovanvich, Publ. London.
Nazemi D., Yanti R., dan Sutikno H. 2006. Faktor-faktor Penentu Pola Pemanfaatan Lahan Lebak dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Noor, M. 2007. Rawa Lebak: Ekologi, Pemanfaatan, dan Pengembangannya.
Rajawali Pers, Jakarta.
Rudito, B. dan M. Famiola. 2008. Sosial Mapping-Metode Pemetaan Sosial.
Teknik Memahami Suatu Masyarakat atau Komuniti. Penerbit Rekayasa Sains, Bandung.
Sabiham, S. I. Las, Machfud dan Rois, 2010. Pengembangan Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Meningkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani > 20%. Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T). Institut Pertanian Bogor dan Badan Litbang Pertanian RI Tahun 2010
Sahwati, Mulyantri dan Prayudi B. 2006. Strategi Penataan Air di Lahan Rawa Lebak Provinsi Jambi dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Sitorus, S.R.P. 2001. Pengembangan Sumberdaya Lahan Berkelanjutan.
Laboratorium Perencanaan Pengembanga Sumberdaya Lahan, Jurusan Tanah FAPERTA IPB. Bogor.
Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani, Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Sosrodarsono, S. Dan K. Takeda. 1977. Hidrologi untuk Pengairan. Cetakan ke-6 P.T. Pradnya Paramita. Jakarta.
Sudana, W. 2005. Potensi dan Prospek Lahan Rawa Sebagai Sumber Produksi Pertanian. Balai Pengkajian dan Pengambangan Teknologi Pertanian Bogor.
Suryadi, K. Dan M.A. Ramdhani. 2000. Sistem Pendukung Keputusan. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Thornthwaite, C.W. and J.R. Mather. 1957. Instructions and Table for Computing Potential Evapotranspiration and the Water Balanced. Publ. In Climatology X(3) 185-311.
Tim Penulis PS, 2008. Agribisnis Tanaman Perkebunan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Waluyo. 2000. Pola Kondisi Air Rawa Lebak sebagai Penentu Masa dan Pola Tanam Padi dan Kedelai di Daerah Kayu Agung (OKI) Sumatera Selatan. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Waluyo dan I.G. Ismail. 1995. Prospek Pengembangan Tanaman Pangan di Lahan Rawa Lebak Sumatra Selatan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pemanfaatan Lahan Rawa, di Kalimantan Selatan.
Banjarbaru 15 – 15 Februari 1995.
Zuraida R., Ismadi D., dan Hikmah Z. 2006. Prospek Usahatani Padi dan Hortikultura di Lahan Lebak dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.