• Tidak ada hasil yang ditemukan

pemanfaatan tanaman oleh etnis tionghoa dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pemanfaatan tanaman oleh etnis tionghoa dalam"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

Suku Tionghoa merupakan salah satu suku bangsa yang memanfaatkan tumbuhan untuk berbagai keperluan upacara, ritual, dan pengobatan. Penelitian ini mengenai pemanfaatan tumbuhan oleh etnis Tionghoa dalam beribadah, yang bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan etnis Tionghoa dalam beribadah di beberapa vihara di kota Medan dan kegunaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan emik dan etis.

Berdasarkan hasil penelitian di 5 vihara di Kota Medan diperoleh 29 jenis tumbuhan dari 18 famili yang digunakan dalam peribadatan oleh etnis Tionghoa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji beberapa jenis tanaman yang bermanfaat di kalangan etnis Tionghoa untuk upacara sembahyang di beberapa Vihara di Medan dengan fungsi spesifiknya. Berdasarkan observasi yang dilakukan di 5 Vihara di Medan, terdapat 29 jenis tumbuhan 18 famili yang digunakan untuk keperluan upacara sembahyang.

Tanaman tersebut sebanyak 50% digunakan untuk sesaji tanpa diolah, sedangkan 50% sisanya diolah sebagai makanan/minuman yang juga digunakan untuk sesaji. Penulis memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, panjatkan puji dan syukur atas segala karunia-Nya sehingga laporan hasil penelitian ini dapat terselesaikan. Topik yang dipilih dalam penelitian ini adalah tentang pemanfaatan tumbuhan oleh etnis Tionghoa di kota Medan dengan judul Pemanfaatan tumbuhan oleh etnis Tionghoa dalam ibadah di beberapa kelenteng di kota Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Anggraeni S.Si, M.Sc selaku sekretaris panitia yang banyak memberikan saran dan masukan yang sangat membantu dalam penulisan hasil penelitian ini.

Gambar 2. Persentase Pemanfaatan Tanaman ........................................ ........
Gambar 2. Persentase Pemanfaatan Tanaman ........................................ ........

Latar Belakang

Salah satu contoh tradisi etnis Tionghoa adalah upacara Cheng beng, yaitu upacara penghormatan kepada leluhur sehari sebelum berziarah ke makam. Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan dalam peranannya dalam masyarakat, sehingga pengetahuan tersebut dapat dijadikan pedoman dalam mendokumentasikan pengetahuan masyarakat awam atau masyarakat adat dalam memanfaatkan peranan tumbuhan dalam menunjang kehidupan sehari-hari. Di era modern ini, diketahui lebih dari seribu spesies tumbuhan dimanfaatkan dan dimanfaatkan oleh berbagai suku bangsa di belahan bumi ini.

Dan salah satu suku yang memanfaatkan tanaman tersebut adalah suku Tionghoa di Medan, Sumatera Utara. Suku ini merupakan suku non-pribumi, namun dikenal luas memanfaatkan tumbuhan dalam berbagai upacara ritual keagamaan, pengobatan tradisional, dan sebagai sesaji di altar sembahyang. Oleh karena itu pemanfaatan tanaman dimanfaatkan oleh etnis Tionghoa di Medan, Sumatera Utara.

3 perlu diteliti untuk menambah data pemanfaatan tumbuhan oleh suku tertentu, khususnya di Kota Medan, Sumatera Utara.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kajian Etnobotani

Keterkaitan Etnobotani dengan Antropologi

Etnobotani merupakan ilmu yang mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan ilmu yang fokus utamanya pada tumbuhan, karena etnobotani erat kaitannya dengan disiplin ilmu nonbotani yaitu aspek penelitian sosial. Penelitian ini menyangkut aspek-aspek kehidupan masyarakat yang menjadi tema dasar kajian antropologi. Kata antropologi berasal dari bahasa Yunani, dimana ‘Anthropo’ berarti manusia dan ‘Logos’ berarti ilmu pengetahuan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan segala sesuatu yang dilakukannya, hanya saja antropologi berfungsi untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang keberagaman manusia (Haviland, dkk., 2014).

Etnis Tionghoa

5 Bangsa Tionghoa atau yang lebih sering disebut dengan “Tionghoa” ini berawal dari turunnya kapal-kapal jung (perahu) Tiongkok dari zaman Dinasti Han (206SM-221) yang berlayar dan singgah di pulau-pulau utama di nusantara untuk berdagang dan menjalin perdamaian. hubungan dengan kerajaan setempat. Namun, baru dua abad kemudian catatan pelayaran, aktivitas perdagangan, diplomasi, dan kehadiran orang Tionghoa di nusantara baru diketahui dari catatan Fa Hsien. Cheng Ho adalah seorang kasim (pelaut) yang melakukan ekspedisi berlayar ke Samudera Barat (Samudra Hindia) dimulai pada tahun 1405, atas perintah Kaisar Yung Lo, kaisar ketiga Dinasti Ming, Cheng Ho memulai ekspedisi terbesarnya di Selatan Asia dan Asia Tenggara.

Bertujuan untuk menjalin persahabatan dengan negara tetangga dan sebagai misi dagang dengan sistem upeti. Cheng Ho mendarat di kota-kota pesisir di Jawa dan Sumatra, ia memimpin armada 300-400 kapal dengan 28.000 orang setiap kali berlayar. Cheng Ho juga mempunyai misi pelayaran tersendiri yaitu memberantas bajak laut yang bebas berkeliaran di laut, sehingga jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara bebas dari bajak laut (Theo & Lie, 2014).

Ekspedisi Cheng Ho meninggalkan dokumen sejarah dan pertukaran budaya, pengetahuan bahkan penyebaran Islam di Indonesia. Masjid peninggalan Cheng Ho ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu menara masjid berbentuk klenteng, atap melengkung, dan ukiran kayu. Menjelang perang di Aceh, diketahui bahwa orang Tionghoa tidak hanya berdagang, namun juga membantu memicu persaingan antara Inggris dan Belanda di pantai timur Sumatera melalui perdagangan lintas batas.

Jenis-Jenis Perayaan atau Festival Etnis Tionghoa

7 Perayaan adat etnis Tionghoa atau yang sekarang dikenal dengan sebutan “orang Tionghoa” sangat bervariasi dan penuh warna. Perayaan tersebut dibedakan menjadi 3 bagian utama, yaitu menurut musim, sejarah atau mitos, dan menurut agama. Misalnya, Tahun Baru Imlek dan Titik Balik Matahari Musim Dingin merupakan perayaan musiman.

Festival Perahu Naga dan Festival Pertengahan Musim Gugur menekankan pada sejarah atau mitos, sedangkan Festival Hantu Lapar berkaitan dengan agama. Perayaan kuno tersebut adalah Festival Tinjauan Militer, Pesta Makanan Dingin dan Hari Lahir Buddha serta Festival Qing Ming yaitu perayaan untuk menghormati leluhur. Terkadang perayaan tersebut mengandung unsur politik, misalnya kebiasaan memakan kue bulan saat Festival Pertengahan Musim Gugur.

Selain untuk perayaan, etnis Tionghoa juga memanfaatkan tumbuhan dalam pengobatan dan juga dalam pengolahan beberapa makanan. Misalnya saja pemanfaatan tumbuhan liar sebagai bahan starter fermentasi minuman beralkohol yang dilakukan oleh masyarakat desa Shui di Tiongkok Barat Daya. Pasalnya para produsen minuman beralkohol di tanah air telah mengumpulkan spesimen tanaman liar tersebut sebagai bahan baku cadangan produksi minuman beralkohol.

Terdapat 103 spesies dalam 57 famili yang secara tradisional digunakan sebagai permulaan pembuatan minuman fermentasi oleh komunitas Shui. Masyarakat ini juga memanfaatkan tumbuhan sebagai pewarna alami, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dong Tiongkok (Tiongkok). Mereka menggunakan tumbuhan sebagai pewarna alami yang dianggap tidak mencemari lingkungan seperti pewarna sintetis.

Bagian tanaman yang mereka manfaatkan antara lain bunga, kulit kayu, batang, umbi dan akar (Liu, et al., 2014). Sedangkan untuk penyajian teh herbal pada Festival Ular Naga, orang Tionghoa meraciknya dengan berbagai tanaman, teh ini mempunyai banyak khasiat, antara lain dapat mengobati berbagai penyakit antara lain demam, rematik, detoksifikasi, memperlancar peredaran darah dan lain sebagainya.

Waktu dan Tempat

Alat dan Bahan

Metode Penelitian

Melakukan penelitian awal mengenai informasi lokasi kelenteng etnis Tionghoa di Medan melalui media elektronik (internet) dan informasi masyarakat sekitar. Penelitian ini dilakukan di 5 vihara yaitu Vihara Indonesia Theravada Buddhis Center (ITBC), Vihara Siu San Keng, Vihara Vimala Diepa, Vihara Budi Luhur, Vihara Gunung Timur Sakti di kota Medan. Wawancara kemudian dilakukan terhadap informan dan responden yang telah ditentukan, yaitu informan yang terdiri dari para biksu dan pengurus vihara dan responden yang terdiri dari masyarakat etnis Tionghoa pada umumnya.

Wawancara dilakukan secara terbuka dan merupakan wawancara semi terstruktur dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan untuk memandu peneliti. Data yang akan diperoleh meliputi keanekaragaman jenis tumbuhan yang digunakan dalam ibadah etnis Tionghoa, pemanfaatan tumbuhan, manfaat tumbuhan dan makna tumbuhan tersebut.

Teknik Pengumpulan Data

Kedua belas narasumber yang diidentifikasi sebagai informan kunci adalah para biksu, sedangkan responden terpilih adalah masyarakat etnis Tionghoa pada umumnya. Segala informasi dan data yang diperoleh dicatat, dicatat dengan menggunakan alat perekam dan didokumentasikan dalam bentuk foto kemudian disajikan dalam bentuk tabel. Jumlah informan ditentukan berdasarkan jumlah vihara terbesar di Kota Medan yaitu sebanyak 5 Vihara, dan responden yang didapat berjumlah 8 responden dari 5 lokasi Vihara tersebut.

Data yang dikumpulkan meliputi; keanekaragaman jenis tumbuhan yang digunakan dalam ritual dan upacara etnis Tionghoa, kegunaan tumbuhan tersebut serta manfaat tumbuhan tersebut.

Analisis Data

Pemanfaatan tumbuhan untuk keperluan keagamaan sebagai sesaji dalam bentuk belum diolah sebesar 50% dan sesaji berupa makanan sebesar 50%. Makna atau makna yang terkandung dalam setiap kejadian berkaitan dengan jenis tanaman yang digunakan. Secia moni Dracaena sanderiana Sebagai persembahan di altar doa dan sebagai persembahan utama di altar doa dewi masuk.

Cabai merah, Capsicum annum, merupakan bahan dasar pembuatan tauco pada saat doa hari raya dan hari raya Tuhan.

Gambar

Gambar 2. Persentase Pemanfaatan Tanaman ........................................ ........

Referensi

Dokumen terkait

2.5 Khảo sát các điều kiện nuôi cấy thích hợp cho sinh tổng hợp amylase Các điều kiện nuôi cấy thích hợp cho sinh tổng hợp amylase của các chủng vi nấm nghiên cứu được khảo sát theo