ROSNAENI, PEMASARAN POLITIK MELALUI MEDIA SOSIAL (Penelitian: Perilaku pemilih pemula mengenai pemasaran politik calon Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018). di bawah bimbingan Ansyari Depdiknas dan Rudi Hardi). PEMASARAN POLITIK MELALUI MEDIA SOSIAL (Studi tentang perilaku pemilih pemula terhadap pemasaran politik calon Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018)” Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
Latar Belakang
UU Pilkada 2015), menambahkan bahwa pemilih pemula merupakan pengguna aktif media sosial dan banyak menonton. Dapat disimpulkan bahwa kedua media sosial ini mempunyai potensi yang besar untuk digunakan sebagai media komunikasi politik (APJII, 2012).
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Pemasaran Politik (Political Marketing)
Segmentasi demografi adalah pemilihan pemilih berdasarkan tingkat sosial ekonomi, rata-rata usia dan tingkat pendidikan. Positioning harus disampaikan kepada pemilih agar persepsi pemilih terhadap citra calon sesuai dengan citra yang diinginkan tim kampanye.
Media Sosial
Slogan kampanye harus ditampilkan berulang-ulang melalui media komunikasi yang berbeda-beda agar dapat menembus benak pemilih. Berbagai layanan media sosial dapat ditemukan di Internet, seperti RSS dan feed sindikasi web lainnya, blog, wiki, berbagi foto, video, podcast, media sosial, bookmark sosial, mashup, widget, mikroblog, dan lain-lain. Platform media sosial dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori besar, meskipun beberapa aplikasi mungkin masuk ke dalam lebih dari satu kategori tertentu tergantung pada cara penggunaannya.
Menurut Kotler & Keller dalam bukunya Manajemen Pemasaran (Kotler & Keller. 2012) menyebutkan bahwa media sosial merupakan media bagi penggunanya untuk berbagi informasi berupa teks, gambar, audio dan video kepada pengguna lain maupun dengan perusahaan dan sebagainya. . Media sosial memberikan kesempatan kepada penggunanya untuk menyampaikan pendapat masyarakat dan melakukan aktivitas komunikasi.
Perilaku Politik
Pemilih Pemula
Jadi menurut rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemilih pertama adalah semua orang yang memberikan hak pilihnya untuk pertama kali dalam suatu pemilihan umum. Menurut Rudini, pemilih pemula adalah mereka yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya atau baru satu kali menggunakan hak pilihnya sehingga belum memiliki pengalaman dalam memilih. Rendahnya pengetahuan politik ini disebabkan oleh pemilih pemula yang termasuk dalam periode mengambang, yaitu pemilih rentan yang berusia antara 17-21 tahun.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota pasal 19 dan 20 mengatur bahwa pemilih pemula dapat dikatakan sebagai warga negara Indonesia yang merupakan warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun pada pemilu. atau hari pemungutan suara berusia dan/atau lebih tua atau sudah/pernah menikah yang mempunyai hak memilih, dan sebelumnya tidak dianggap sebagai pemilih karena ketentuan Undang-Undang Pemilihan Umum. Baru pertama kali mengikuti pemilu (pemungutan suara) sejak pemilu Indonesia, mereka yang berusia 17-21 tahun rentan. Pemilih pemula biasanya berstatus pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda.
Demokrasi Digital (Digital Democracy)
Dalam sejarah demokrasi Indonesia, fenomena Facebooker merupakan fenomena pertama dan sangat penting, khususnya sebagai wujud partisipasi politik dalam masyarakat. Miriam Budiardjo (2008), mengutip Samuel P. Huntington dan Joan M Nelson, mengatakan: “Partisipasi politik adalah aktivitas warga negara yang bertindak sebagai individu, yang dimaksudkan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah”. Sebagai perbandingan, partisipasi politik di masyarakat demokratis yang lebih matang, seperti Amerika Serikat, cenderung terorganisir dan terfragmentasi.
Menurut mereka, partisipasi politik seperti ini lebih efektif dan bermakna dibandingkan dengan memilih dan berdemonstrasi. Dalam kasus masyarakat Indonesia, tidak ada kecenderungan untuk membentuk perkumpulan atau kelompok perhatian yang modern, sistematis dan partisipatif, maka model partisipasi politik Facebookers menjadi penting.
Kerangka Fikir
Fokus Penelitian
Deskripsi Fokus Penelitian
Facebook merupakan salah satu jenis media sosial yang dapat digunakan oleh pemiliknya untuk berbagi informasi kepada masyarakat maupun individu dengan jenis informasi yang dapat dibagikan seperti teks, audio dan video baik secara langsung maupun tidak langsung. Twitter juga merupakan salah satu jenis media sosial yang dapat digunakan oleh pemiliknya untuk berbagi informasi kepada masyarakat maupun individu dengan jenis informasi yang dapat dibagikan seperti teks, audio dan video, baik secara langsung maupun tidak langsung. Instagram tidak jauh berbeda dan nyatanya mempunyai banyak persamaan dimana Instagram juga merupakan salah satu jenis media sosial yang dapat digunakan oleh pemiliknya untuk berbagi informasi kepada masyarakat maupun individu dengan jenis informasi yang dapat dibagikan seperti teks, audio. dan video, baik langsung maupun tidak langsung.
Penelitian ini berlangsung kurang lebih dua bulan yaitu Juli-Agustus 2018 atau setelah mendapat izin dari fakultas. Lokasi penelitian saya adalah sekolah-sekolah di Kabupaten Barru dengan memilih beberapa sekolah menengah atas seperti SMA dan SMK.
Sumber Data
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus yang menjelaskan bahwa peneliti secara khusus mengkaji pemasaran politik melalui media sosial, sehingga peneliti harus memahami, menelaah, dan kemudian menafsirkan makna yang diperoleh dari fenomena yang peneliti pelajari.
Informan Penelitian\
Purposive sampling merupakan teknik memilih informan yang mempunyai pengetahuan luas dan mampu menjelaskan kebenaran tentang objek penelitian. Penelitian ini mengambil beberapa informan sebagai subjek penelitian yang dianggap mampu mewakili pemilih awal khususnya para remaja di ibu kota Kabupaten Barru. Alasan pemilihan informan dari kalangan pelajar SMA dan remaja karena pelajar SMA merupakan basis pemilih pemula, yakni rata-rata berusia tujuh belas tahun ke atas pada saat mengikuti kelas media sosial.
Teknik Pengumpulan data
Teknik Analisis Data
Pengabsahan Data
Triangulasi dengan waktu adalah menguji kredibilitas data, yang dilakukan dengan cara pengecekan data menggunakan teknik wawancara pada pagi hari pada saat narasumber masih segar, dan pada sore hari pada saat narasumber merasa bosan dan dipenuhi banyak permasalahan. Apabila hasil pengujian menghasilkan data yang berbeda, maka diulangi lagi sampai ditemukan konfirmasi data.
Profil, Partai Pendukung, Visi Misi dan Metode Kampanye Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018
Segmentasi
Segmentasi yang dilakukan calon gubernur melalui media sosial mendapat tanggapan beragam dari pemilih pemula. Pendekatan segmentasi yang digunakan calon gubernur tampaknya mendapat tanggapan beragam dari pemilih pemula. Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa pemasaran politik melalui media sosial mendapat respon yang serius dari para pemilih awal.
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pemasaran politik yang dilakukan para calon gubernur dan relawannya melalui jejaring sosial mendapat respon positif dari para pemilih pemula. Maka pemasaran politik dengan pendekatan segmentasi, khususnya pendekatan segmentasi demografi, cukup mendapat respon dari para pemilih pemula.
Targeting
Berdasarkan hasil wawancara di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kandidat dan relawan, atau tim, menggunakan jejaring sosial sebagai sarana pemasaran politik untuk mendapatkan dukungan pemilih. Pengumuman serupa juga disampaikan oleh seorang remaja putus sekolah ketika menanggapi pemasaran politik calon gubernur di media sosial. Kita dapat melihat dan membandingkan bahwa baik anak-anak usia sekolah maupun remaja putus sekolah pada prinsipnya memberikan respon terhadap pemasaran politik yang dilakukan oleh para kandidat dan relawannya.
Dari hasil wawancara di atas dapat kita tarik suatu analisis bahwa pemasaran politik melalui media sosial sangat diperlukan saat ini. Dari hasil wawancara di atas, kita dapat menganalisis pendapat atau tanggapan pemilih awal terhadap pemasaran politik yang dilakukan para kandidat.
Positioning
Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa upaya positioning calon gubernur, timnya, dan para relawan diterima oleh berbagai pihak di kalangan pemilih, terutama oleh pemilih awal. Berdasarkan hasil wawancara di atas, kita dapat melihat bentuk pemasaran politik yang dilakukan oleh para kandidat pada Pilgub Sulsel. Pada hasil wawancara lainnya, kita dapat mengetahui reaksi pemilih baru terhadap pemasaran politik yang dilakukan oleh calon Gubernur Sulawesi Selatan, yang menunjukkan bahwa dalam upaya meraih dukungan dari calon pemilih, para calon, tim, dan relawan menggunakan teknik pemasaran politik melalui media sosial, termasuk indikator positioning.
Hasil wawancara di atas cukup memberikan pandangan bahwa upaya mempengaruhi pilihan setiap calon pemilih dilakukan oleh calon gubernur Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kampanye politik calon gubernur juga dilakukan di media sosial.
Jenis Media Sosial yang Sering Digunakan Pemilih Pemula Dalam Mersespon Pemasaran Politik Calon Gubernur Sulsel Tahun 2018Mersespon Pemasaran Politik Calon Gubernur Sulsel Tahun 2018
Hal inilah yang mempengaruhi penggunaan Facebook menjadi aplikasi media sosial dengan pengguna terbanyak. Dari hasil wawancara di atas dapat kita simpulkan bahwa Facebook merupakan salah satu media sosial yang sering diakses oleh kalangan remaja (pemilih pemula). Berdasarkan hasil wawancara di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa jenis media sosial yang paling populer di kalangan remaja adalah Facebook.
Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa Facebook merupakan jenis media sosial yang paling sering digunakan oleh pemilih muda dan pemula ketika berkomentar atau bereaksi terhadap pemasaran politik yang dilakukan calon gubernur di media sosial. Remaja yang merupakan pemilih pemula mendapatkan lebih banyak informasi dari Facebook dibandingkan dari media sosial lainnya.
Instagram dan Twitter
Tidak menutup kemungkinan calon pemilih lainnya juga aktif di media sosial tersebut. Berdasarkan hasil wawancara di atas, penggunaan media sosial di kalangan remaja lebih banyak terjadi ketika menggunakan media sosial berjenis Facebook. Sebab, tidak semua jenis media sosial digunakan atau digemari oleh pemilih pemula.
Pemasaran politik yang dilakukan di berbagai jenis jejaring sosial pasti akan dilihat oleh pengguna jejaring sosial. Oleh karena itu, pemasaran politik yang dilakukan calon gubernur, tim, dan relawannya dilakukan di berbagai media sosial.
Saran
Mengukur kekuatan media sosial sebelum pemilu 2014 Mengukur kekuatan media sosial sebelum pemilu 2014 Penulis pertama kali memasuki pendidikan formal di SD Inpres Coppo pada tahun 2002 dan lulus pada tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Barru dan lulus pada tahun 2011.
Penulis melanjutkan ke SMK Negeri 1 Barru dan lulus pada tahun 2014 dan pada tahun yang sama penulis terdaftar menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru. Pada tahun 2019, Penulis mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan dengan judul Pemasaran Politik Melalui Media Sosial (Studi Perilaku Pemilih Primer Terhadap Pemasaran Politik Calon Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018), semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi dapatkah pemerintah dan penulis menerapkannya pada masyarakat, apa saja yang penulis peroleh selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar?