Keputusan MK tersebut terkait dengan perlunya mengatur metode omnibus dalam UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Selain itu, perubahan terhadap undang-undang no. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan juga memerlukan perbaikan konsep partisipasi masyarakat yang lebih bermakna. Perlunya prosedur yang jelas dan baku dalam pembentukan peraturan perundang-undangan pada prinsipnya merupakan amanat konstitusi dalam mengatur pembentukan dan pengembangan undang-undang.
Artinya, cara tersebut tidak dapat digunakan sepanjang tidak dianut dalam Undang-Undang Pembentukan Ketentuan Hukum. Lampiran II UU KPS ini belum memuat standar dan standar penyusunan ketentuan peraturan perundang-undangan dengan metode omnibus sebagaimana diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja). Dalam Lampiran II UU KPS, teknik penyusunan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya mencakup metode satu usulan perubahan Undang-Undang (UU), perubahan dan/atau pencabutan Undang-Undang.
Untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai alasan perubahan tersebut, maka perlu disusun artikel akademis sebagai referensi dalam penyusunan rancangan undang-undang tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Hukum (legislatif). RUU perubahan UU KPS). Ahsin Thohari mengartikan omnibus law sebagai teknik pembentukan undang-undang secara terpadu (omnibus legislasi teknik). Selain itu, pembentukan peraturan hukum juga harus berpedoman, berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan diatur dalam pasal 96 UU KPS dan peraturan pelaksanaannya, yaitu pasal 188 Peraturan Presiden nomor 87 Tahun 2014 terkait Peraturan Pelaksana UU No. 12 Tahun 2011. penggunaan keuangan negara dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan dengan metode omnibus. Dengan demikian, sudah sepatutnya metode omnibus dimasukkan dalam perubahan UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagai salah satu muatannya.
Kedua, mengatur tentang pencabutan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan ketentuan pelaksanaannya.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Identifikasi Masalah
Tujuan dan Kegunaan
Metode Penyusunan Naskah Akademik
KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
Kajian Teoretis
- Omnibus Law
- Teori Partisipasi Masyarakat
Perubahan UU Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam rangka menyatukan penggunaan metode omnibus dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan kemudian perubahan UU Cipta Kerja merupakan upaya pembentuk undang-undang untuk mengikuti putusan Mahkamah Konstitusi no. . Undang-undang adalah peraturan perundang-undangan yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama dari Presiden. Peraturan pemerintah, bukan undang-undang, adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh presiden dalam keadaan darurat.
Ketentuan mengenai tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari undang-undang ini. UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU No.
Kajian Terhadap Asas atau Prinsip
Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan, Kondisi yang Ada, dan
- Metode Omnibus
- Partisipasi Masyarakat
Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru Yang Akan
- Pengaturan Metode Omnibus
- Mekanisme Partisipasi Masyarakat
Kemudian isi peraturan perundang-undangan harus mencerminkan asas masing-masing, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU KPS. Produk hukum tersebut merupakan peraturan perundang-undangan yang erat kaitannya dengan peraturan dalam UU KPBU. Perumusan RUU Perubahan UU KPS juga bertujuan untuk menciptakan sistem regulasi yang terintegrasi.
Perubahan tersebut antara lain masuknya metode omnibus dan penguatan keterlibatan dan partisipasi masyarakat secara bermakna dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Metode Omnibus Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dimasukkan dalam dokumen perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sejak tahap perencanaan.
UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan
UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
Landasan Filosofis
Ketentuan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan tidak lepas dari hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Dalam konteks pembentukan peraturan perundang-undangan, rakyat tidak hanya berdaulat melalui pemilihan umum lima tahun sekali, namun juga menjaga haknya untuk dapat menyampaikan pendapat pada setiap tahapan pembentukan peraturan perundang-undangan melalui partisipasi yang bermakna. Ketiga asas tersebut harus diperhatikan dalam pembentukan undang-undang secara proporsional, baik dalam pembentukan peraturan perundang-undangan maupun dalam keputusan hakim.
Praktik pembentukan peraturan perundang-undangan dengan metode Omnibus Law yang selama ini lazim dalam sistem Common Law dinilai baik untuk digunakan. Metode pendekatan omnibus law juga diharapkan dapat mengatasi permasalahan hiperregulasi. sama dan berpotensi menimbulkan tumpang tindih dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Suatu negara yang berdaulat dapat dengan bebas membentuk peraturan perundang-undangan dan melaksanakan segala kegiatan demi kepentingan negaranya.
Lebih lanjut, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga menegaskan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut konstitusi. Kedaulatan rakyat merupakan kedaulatan yang menggambarkan suatu sistem kekuasaan dalam suatu negara yang mengharuskan kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat, yang pelaksanaannya dilaksanakan menurut konstitusi. Melalui kedaulatan rakyat, cara penyelesaian permasalahan harus dilakukan berdasarkan suatu sistem tertentu yang memenuhi kehendak umum, yang tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan kekuasaan pemerintahan, tetapi juga dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.
Landasan Sosiologis
Hal ini harus menjadi perhatian regulator untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang proses pembentukan suatu peraturan hukum. Penyampaian informasi ini dilakukan secara transparan dan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi yang tersedia. 91/PUU-XVIII/2020 yang menyatakan bahwa partisipasi masyarakat harus dilakukan secara bermakna (partisipasi yang bermakna) sehingga dapat terwujud partisipasi dan keterlibatan masyarakat yang sungguh-sungguh.
Partisipasi masyarakat yang lebih bermakna ini setidaknya memenuhi tiga syarat, yaitu: pertama, hak untuk didengarkan; kedua, hak untuk dipertimbangkan pendapatnya (right to be pertimbangan); dan ketiga, hak atas penjelasan atau tanggapan atas nasehat yang diberikan (hak menerima penjelasan). Partisipasi masyarakat terutama ditujukan kepada kelompok masyarakat yang terkena dampak langsung atau merasa prihatin dengan RUU yang sedang diperdebatkan. Dalam konteks perkembangan peraturan hukum, tentu saja hal ini tidak hanya menyangkut rancangan undang-undang, tetapi juga peraturan-peraturan lain yang secara hierarki berada di bawah undang-undang.
Dengan adanya peran serta masyarakat setempat, diharapkan para pejabat pembuat peraturan tetap berpegang pada prinsip ketepatan dan kehati-hatian dalam menyusun kebijakan dan sebagai alat kontrol sosial terhadap setiap peraturan hukum yang dihasilkan. Sosialisasi peraturan perundang-undangan dilakukan oleh regulator untuk memberikan informasi atau meminta masukan dari masyarakat/stakeholder, khususnya kelompok masyarakat yang terkena dampak langsung atau mempunyai keprihatinan terhadap rancangan peraturan yang sedang dibahas atau peraturan perundang-undangan yang telah diundangkan. Dengan demikian mediasi menjadi suatu keharusan karena pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan proses pembentukan norma hukum yang keabsahannya mengikat seluruh masyarakat Indonesia.
Landasan Yuridis
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP
Jangkauan dan Arah Pengaturan Rancangan Undang-Undang
Ruang lingkup dan arah pengaturan RUU Perubahan UU KPS merupakan perubahan terhadap berbagai ketentuan dalam UU KPS, termasuk perubahan pada Lampiran I dan Lampiran II. Beberapa ketentuan dalam UU KPS yang perlu disesuaikan, yakni tindak lanjut akibat hukum dari putusan Mahkamah Konstitusi No. Sedangkan penguatan keterlibatan dan partisipasi masyarakat secara bermakna dilakukan dengan memenuhi tiga prasyarat; yaitu, pertama, hak untuk didengarkan pendapatnya (right to be listening); kedua, hak untuk mempertimbangkan pendapatnya (right to be pertimbangan); dan ketiga, hak untuk menerima penjelasan atau jawaban atas pendapat yang diberikan (hak untuk dijelaskan).
Perbaikan juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hukum dan perkembangan masyarakat dengan menambahkan materi untuk memperbaiki kesalahan teknis setelah persetujuan bersama antara DPR dan Presiden dalam sidang paripurna dan sebelum ratifikasi dan pengundangan; pembentukan peraturan perundang-undangan berbasis elektronik, perubahan sistem pendukung dari peneliti menjadi analis legislatif; Teknik penyusunan naskah akademik; dan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan.
Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang
Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota. Asas kejelasan tujuan adalah setiap peraturan hukum harus mempunyai tujuan yang jelas agar dapat dicapai.
Perencanaan Peraturan Perundang-undangan dengan metode Omnibus diatur dalam bagian tersendiri yang mana disebutkan bahwa dalam penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan-. Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan dapat menggunakan Metode Omnibus. Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis secara online dan/atau offline pada setiap tahapan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Masyarakat adalah perseorangan atau sekelompok orang yang berkepentingan terhadap isi peraturan perundang-undangan yang diusulkan. Untuk memfasilitasi masukan masyarakat, setiap rancangan peraturan perundang-undangan tersedia untuk umum. Ketentuan tambahan terkait tata cara pembuatan peraturan perundang-undangan secara elektronik diatur dengan peraturan presiden, peraturan DPR, dan peraturan DPD.
PENUTUP
Simpulan
Evaluasi dan analisis peraturan perundang-undangan terkait evaluasi UU Kerja Sama Pemerintah-Swasta, UU Cipta Kerja, UU MD3, dan UU Pemerintahan Daerah. Penyusunan peraturan perundang-undangan harus didasarkan pada 3 (tiga) landasan penting, yaitu landasan filosofis, sosiologis, dan hukum. Landasan filosofis memuat pemikiran-pemikiran mendasar dalam isi peraturan perundang-undangan yang akan dirumuskan dan dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila, tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Landasan sosiologi memuat fakta-fakta empiris mengenai perkembangan atau kemajuan di bidang peraturan yang akan diatur di satu pihak, dan mengenai permasalahan serta kebutuhan masyarakat di lain pihak.
Saran
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Omnibus law sebagai teknik pembuatan undang-undang: peluang dan tantangan adopsi dalam sistem perundang-undangan Indonesia, Jurnal Rechtsvinding, Badan Pembinaan Hukum Nasional: Volume 9 Nomor 1, April 2020. Omnibus law di Indonesia: perbandingan dengan Amerika Serikat dan Irlandia, Hukum Lentera: Volume 7 2020.
Erni, Husnayati., Partisipasi Masyarakat dalam Proses Pembentukan UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Skripsi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004. Konsep Omnibus Law Dilihat dari UU No. Peraturan Perundang-undangan, Majalah To-ra Law, Fakultas Hukum, Universitas Kristen Indonesia: Volume 6, 2 Agustus 2020. Inisiatif Keadilan Laut Indonesia, Sistem dan Praktik Omnibus Law di Berbagai Negara serta Analisa RUU Cipta Negara dalam Perspektif Baik pembuatan undang-undang, Agustus 2020.
Menyikapi Omnibus Law sebagai Universal Sweep Law, pemaparan pada seminar Menanggapi Omnibus Law: Pro dan Kontra RUU Cipta Kerja, yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Djokosoetono dan Bidang Kajian Hukum Administrasi Negara, Universitas Indonesia, Depok 6 Februari 2020. Persoalan desain kebijakan transfer dalam pembentukan undang-undang di Indonesia ditinjau dari aspek politik dan hukum, Al-Daulah: Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Islam, Vol. Hukum Online, Boros Biaya Pembuatan Undang-undang, dimuat di https://www. Hukumonline.com/berita/baca/lt50e199f0bc17d/wasteful-cost-pembuatan-undang-undang?page=2, diakses 4 Januari 2022.