Puncaknya adalah ketika pada tahun 2019 IPK Indonesia berhasil meraih nilai 40 yang merupakan pencapaian terbaik sepanjang sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Yang Jadi Saksi Harus Kuat: Pemberantasan Korupsi Menjadi Keabadian Pada tahun 2002, kumpulan artikel berjudul “Pencurian Uang Rakyat: 16 Kajian Korupsi di Indonesia” diterbitkan oleh Aksara. Harapan pemberantasan korupsi di Indonesia yang menimbulkan keputusasaan di era Orde Baru tumbuh dan bertumbuh pelangi selama beberapa tahun bersama Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pola pembubaran lembaga antikorupsi sebelumnya juga sama, yaitu ketika mencoba mengungkap kejahatan korupsi elit politik. Namun seiring berjalannya waktu, hambatan pemberantasan korupsi semakin terlihat jelas di mata masyarakat. Lembaga antikorupsi kerap mendapat “serangan” dari berbagai pihak, mulai dari pengajuan hak angket DPR, penyerangan terhadap pegawai atau pimpinan KPK, hingga revisi UU KPK.
Tujuannya sama, yakni melemahkan agenda pemberantasan korupsi dengan mencabut kewenangan KPK. Penelitian ini dilakukan berdasarkan keprihatinan terhadap situasi pemberantasan korupsi di Indonesia yang semakin hari semakin buruk.
Pembentukan Undang-Undang yang Konstitusional
1) “Due process of law” merupakan salah satu unsur perwujudannya. keadilan' dalam membuat peraturan atau mengambil keputusan. 2) “Due process” diperlukan baik dalam pembuatan peraturan maupun pengambilan keputusan (bertindak atau tidak). Meskipun terdapat kontrak sosial, Rousseau mengatakan bahwa kekuasaan negara, dalam hal ini pembentukan undang-undang dilakukan atas dasar kehendak umum atau kehendak umum.
Hal inilah yang mendasari konsep kedaulatan rakyat.7. 5 Bagir Manan, “Fenomena Tentang UU Komisi Pemberantasan Korupsi”, makalah, 2020, hlm. 22-3. 7 Bagir Manan, “Titik Keterkaitan Konsep Konstitusi dengan Konstitusionalisme, Negara Hukum, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia”, Paper, 2014, hlm. 14-7. Kembali ke persoalan pembentukan undang-undang, Pasal 20 UUD 1945 sebagai hukum tertinggi di Indonesia memberikan wewenang kepada DPR untuk membentuk undang-undang bekerja sama dengan Presiden pada tahapan tertentu. Oleh karena itu, pembentukan undang-undang harus dibaca sebagai: (a) melaksanakan nilai kedaulatan rakyat, yang berarti menempatkan rakyat sebagai titik tolak sekaligus tujuan; dan (b) sebagai perwujudan nilai supremasi hukum, yang berarti menjadikan hukum sebagai pedoman sekaligus cermin kebenaran. Artinya, pembentukan undang-undang tidak hanya harus sesuai dengan kehendak masyarakat, tetapi juga harus memberikan kepastian hukum dengan berpegang pada pedoman prosedur pembentukan undang-undang.
Bahwa negara yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dan asas supremasi hukum juga menjamin terpenuhinya hak konstitusional warga negara dalam hal ini berkaitan dengan proses legislasi. Oleh karena itu, terciptanya undang-undang yang memiliki nilai konstitusional dapat terbaca ketika prosesnya memenuhi prinsip kedaulatan rakyat, demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia.
Keabsahan Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
Bahwa untuk melindungi tata cara pembuatan undang-undang yang sesuai dengan hukum administrasi, maka beberapa negara di dunia kemudian membuat undang-undang yang berbentuk peraturan perundang-undangan (hukum acara administratif/APA). 15 Tahun 2019 tentang Pembentukan Peraturan Hukum (UU Tata Usaha Negara) menetapkan bahwa pembentukan peraturan hukum-. 17 Pelanggaran formil adalah pembuatan undang-undang yang tidak sesuai dengan ketentuan pembuatan undang-undang berdasarkan UUD 1945 dan Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Bahwa setiap jenis peraturan hukum harus diterbitkan oleh badan atau pejabat negara yang menerbitkan peraturan hukum yang berwenang. Bahwa dalam menyusun peraturan hukum harus memperhatikan secara ketat materi substantifnya sesuai dengan jenis dan hierarki peraturan hukum. Bahwa setiap penciptaan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan efektivitas peraturan perundang-undangan di masyarakat, baik secara filosofis, sosiologis, dan hukum.
Bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan, dilakukan secara transparan dan terbuka. Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.
PEMBAHASAN
Cacat Formil Perubahan Kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi
- Tahap Perencanaan
- Tahap Penyusunan
- Pembahasan Perubahan Kedua UU KPK Berjalan Cepat dan Penuh Kejanggalan
- Pembahasan Perubahan Kedua UU KPK Tidak Partisipatif
- Sidang Paripurna DPR Tidak Kuorum Saat Pengambilan Keputusan
- Paripurna Mengabaikan Pernyataan Persetujuan dan Penolakan dari Fraksi-Fraksi
Kini, bisa diibaratkan perubahan kedua UU Pemberantasan Korupsi yang disebut-sebut merupakan tindak lanjut putusan Mahkamah Konstitusi. Jadi dapat disimpulkan bahwa perubahan kedua UU Pemberantasan Tipikor tidak didahului dengan perencanaan yang matang karena tidak masuk dalam Prolegnas Prioritas 2019. Kedua, jika dilihat dari rancangan NA yang ada, pembentuk undang-undang tidak pernah menyinggung putusan MK. nomor 36./PUUXV/2017 sebagai dasar pemeriksaan. UU Pemberantasan Tipikor.
Salah satu kewajiban dalam pembentukan undang-undang adalah menjunjung tinggi asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Perlu diketahui, pada Perubahan Kedua UU KPK, banyak pembentuk undang-undang yang melakukan kesalahan dalam penyusunan pasal-pasal dalam UU KPK yang baru. 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua UU KPK sama sekali tidak mencerminkan nilai prinsip efisiensi dan utilitas.
19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua UU KPK melanggar prinsip keterbukaan karena secara institusional tidak memperhitungkan kontribusi masyarakat atau KPK. 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua UU Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak memperhatikan asas terciptanya peraturan perundang-undangan yang baik, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 UU Kemitraan Pemerintah-Swasta, yaitu (i) asas kejelasan tujuan; (ii) asas kejelasan rumusan; (iii) prinsip tersebut dapat dilaksanakan;. iv) prinsip efisiensi dan utilitas; (v) prinsip keterbukaan. Dari penelusuran yang dilakukan, diketahui bahwa pada 3 September 2019, Rapat Badan Legislatif DPR (Baleg) memutuskan RUU Perubahan Kedua UU KPK menjadi RUU. diusulkan oleh Baleg.
Kronologis perencanaan, penyusunan, pembahasan, dan pengesahan Perubahan Kedua UU Komisi Pemberantasan Korupsi yang cepat dilaksanakan dapat dilihat pada Grafik 1.1 di bawah ini. Proses perencanaan, penyusunan, pembahasan, dan pengesahan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi Perubahan Kedua yang dilakukan secara cepat (14 hari) menunjukkan adanya proses pembuatan undang-undang yang aneh dan dipaksakan. Artinya, ketika UU Komisi Pemberantasan Korupsi direvisi, pembentuk undang-undang harus secara institusional meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi diikutsertakan dalam pembahasannya.
Kedua surat tersebut menegaskan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang telah menyatakan sikap secara tegas dan melampirkan usulan kepada pembentuk undang-undang bahwa kedua undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut belum perlu dilakukan perubahan. Hal ini terlihat dari perdebatan mengenai perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi yang menutup seluruh akses masyarakat terhadap surat kabar tersebut. Bahkan para pembentuk undang-undang dengan lantang mengatakan bahwa “partisipasi masyarakat tidak diperlukan lagi dalam melakukan perubahan undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi”.
Berdasarkan fakta tersebut, rumusan UU KPK Perubahan Kedua jelas melanggar ketentuan yang mengikat pembentuk undang-undang sebagaimana diatur dalam Pasal 96 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua UU KPK karena pembahasannya dilakukan secara tertutup dan seluruh informasi tidak bisa diakses publik.
Cacat Materiil Perubahan Kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi
- Runtuhnya Independensi Lembaga
- Tafsir Keliru Pengawasan
- Kewenangan Berlebih Dewan Pengawas KPK
- Memaknai Ulang Pemberian SP3
- Hilangnya Status Penyidik dan Penuntut pada Pimpinan KPK
- Tertutup Kemungkinan KPK Membuka Kantor Perwakilan
- Persoalan Alih Status Kepegawaian KPK
Hal ini tertuang dalam Pasal 21 ayat (5) UU Komisi Pemberantasan Korupsi yang menyatakan bahwa pimpinan KPK bekerja secara kolektif. Hal ini tergambar dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a jo ayat (2) UU KPK yang menyatakan pimpinan KPK terdiri dari lima orang, satu orang sebagai ketua dan empat orang lainnya merangkap sebagai anggota61. Artinya, KPK sebenarnya telah menunjukkan independensi lembaganya sebagaimana tertuang dalam UU KPK.
Dengan adanya penambahan kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam urusan penyadapan, kesimpulan yang dihasilkan mengarah pada revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi dengan memasukkan struktur kelembagaan Dewan Pengawas. Pertama-tama, harus dipahami bahwa ketentuan dalam Undang-Undang Pemberantasan Korupsi mengandung nuansa hukum acara. Jadi sebagian kewenangan dalam lembaga antikorupsi diatur secara lex specialis dalam UU Pemberantasan Korupsi itu sendiri dan KUHAP secara lex generalis.
Aturan KUHAP juga tetap berlaku di KPK sebelum terbitnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi. Model lex specialis ini tidak lazim dilakukan, karena sebagai wujud korupsi sebagai kejahatan luar biasa, seharusnya aturan dalam Undang-Undang KPK memperketat kemungkinan penghentian penyidikan atau penuntutan. Namun secara lebih spesifik diatur bahwa apabila KPK menilai alat bukti dalam perkara masih kurang, sedangkan pihak kejaksaan atau kepolisian berbeda pendapat, maka lembaga antirasuah ini dapat menerapkan Pasal 6 UU Pemberantasan Korupsi. . yaitu koordinasi dan supervisi.
Sebagaimana diketahui, Pasal 21 ayat (4) dan (6) UU No. 30 Tahun 2002 bahwa pimpinan KPK adalah penyidik dan penuntut umum, kemudian ditambah dengan ketentuan bahwa pimpinan KPK adalah penanggung jawab tertinggi KPK. Gandjar Laksmana Bonaprata mengungkapkan keberadaan Pasal 6 huruf e UU KPK tidak bisa dianggap utuh dan utuh. Hakim menilai, satu-satunya calon Kapolri tidak termasuk dalam unsur penegak hukum yang menjadi kewenangan KPK berdasarkan Pasal 11 UU KPK.
Hal ini diperkuat lagi pada pasal 45 UU KPK yang baru yang berbunyi sebagai berikut: Penyidik KPK dapat berasal dari kepolisian, kejaksaan, penyidik pegawai negeri sipil yang diberi kewenangan khusus oleh undang-undang, dan penyidik KPK. Oleh karena itu, logika pembentukan Undang-Undang KPK yang baru pada dasarnya cacat dan tidak memahami dampak buruk di masa depan. Hal ini tampak dari Pasal 19 ayat 2 UU KPK lama yang menyatakan KPK dapat membentuk perwakilan di daerah provinsi.
Dalam Pembukaan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dijelaskan bahwa lembaga pemerintah (lembaga penegak hukum) yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Pertama, nilai independensi KPK jelas akan semakin terkikis akibat penerapan revisi UU KPK.
KESIMPULAN
Padahal, tidak salah jika dunia internasional juga sepakat bahwa kejahatan korupsi merupakan kejahatan luar biasa, kejahatan transnasional, dan kejahatan kerah putih. Untuk itu, dalam konteks perubahan peraturan KPK, menjadi relevan untuk kembali mempertanyakan konsep pemberantasan korupsi di pemerintahan dan DPR itu sendiri. Sebab dengan akibat seperti ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang merupakan garda terdepan dalam pemberantasan korupsi, tidak bisa lagi menjadi pusat masyarakat.
Seidman dan Nalin Abeyserkeve (2001) Merancang Undang-Undang dalam Masyarakat yang Berubah secara Demokratis, Panduan bagi Para Perancang Undang-Undang. Yuliandri, 2009, Prinsip Pembuatan Hukum yang Baik: Gagasan Merancang Hukum Berkelanjutan, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada. Keputusan Presiden No. 17 Tahun 2011 tentang Keputusan Presiden Komisi Kepolisian Nasional No. 18 Tahun 2011 tentang Komisi Kejaksaan Negara.
Bagir Manan, “Hubungan Konsep Konstitusi dengan Konstitusionalisme, Supremasi Hukum, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia”, Paper, 2014.