ARTICLE HISTORY: Submitted: Januari 22nd, 2021; Accepted: May 29th, 2021; Published: July 31st ,2021
PLEASE CITE AS: Saputri, M. G. & Butar Butar, H. F. (2021). Pembinaan Mental dan Spiritual Bagi Narapidana: Studi terhadap Strategi Komunikasi Dakwah di Lapas Kelas IIB Solok. Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE), 3(2), 187-195
http://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/ijsse E-ISSN: 2655-6278 P-ISSN: 2655-6588
Pembinaan Mental dan Spiritual Bagi Narapidana: Studi terhadap Strategi Komunikasi Dakwah di Lapas Kelas IIB Solok
Meidia Gusti Saputri & Herry F Butar Butar
Bimbingan Kemasyarakatan, Politeknik Ilmu Pemasyarakatan Email: [email protected]
ABSTRACT:
The purpose of the research is to find out the da'wah communication strategies carried out in Solok Class IIB Correctional Institution as well as what are the driving and inhibiting factors in da'wah activities. Through qualitative methods with interviews in data collection obtained the result that the form of starategi communication da'wah conducted in the Penitentiary is through the strategy of tilawah namely lectures, tazkiyah strategies through dhikr and preaching together. The results obtained from the research form of da'wah communication strategies gradually with oral da'wah methods, written da'wah and action da'wah. Through this da'wah it is expected that the people of hijrah, aware of their actions and behave better, the continued effect is a decrease in the number of recidivists. The impact of the implementation of mental and spiritual development through da'wah communication is the presence of factors that affect both supporters such as material givers (da'i) and obstacles such as from lack of facilities and infrastructure. This is all inseparable from all roles are indispensable for goals to be achieved.
Keywords: Mental guidance, Da'wah communication, Prisoners, Penitentiary
ABSTRAK:
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui strategi komunikasi dakwah yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Solok serta apa faktor pendorong dan penghambat dalam kegiatan dakwah. Melalui metode kualitatif dengan wawancara dan observasi dalam pengumpulan data, Teknik analisis data melalu tahapan reduksi, diperoleh hasil bahwa bentuk starategi komunikasi dakwah yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan adalah melalui strategi tilawah yaitu ceramah, strategi tazkiyah melalui dizikir dan mengaji bersama. Hasil yang diperoleh dari penelitian bentuk strategi komunikasi dakwah secara bertahap dengan metode dakwah lisan, dakwah tulisan dan dakwah tindakan. Melalui dakwah ini diharapkan warga binaan hijrah , sadar akan perbuatannya dan bersikap lebih baik, efek lanjutannya adalah berkurangnya jumlah residivis. Dampak dari pelaksanaan pembinaan mental dan spiritual melalui komunikasi dakwah adalah adanya faktor yang mempengaruhi baik pendukung seperti dari pemberi materi (da’i) maupun penghambat seperti dari kurangnya sarana dan prasarana. Ini semua tidak terlepas dari semua peran sangat diperlukan agar tujuan dapat tercapai.
Kata Kunci: Pembinaan mental; Komunikasi dakwah; Narapidana; Lembaga Pemasyarakatan.
188 | P a g e
A. PENDAHULUAN
Teori komunikasi pada dasarnya konseptualisasi atau penjelasan logis mengenai fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia. Komunikasi adalah salah satu bentuk seseorang dapat bertahan hidup dan berkembang karna saling membutuhkan. Komunikasi adalah keseluruhan taktik atau perencanaan yang digunakan untuk melancarkan proses komunikasi dengan memperhatikan keseluruhan aspek untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Komunikasi yang dilakukan tidak hanya sesama makhluk hidup Menurut KBBI komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud tersampaikan.
Komponen-komponen dalam komunikasi itu adalah: 1) pesan yaitu segala sesuatu yang di komunikasikan oleh komunikator berupa simbol verbal maupun nonverbal untuk mewakili gagasan atau pemikiran dari komunikator tersebut. Pesan tersebut terdiri atas 3 unsur yaitu makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna dan bentuk pesan itu sendiri; 2) media adalah alat yang digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan pesan dan diterima oleh komunikan. Biasanya media tergantung pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat berupa verbal atau nonverbal; 3) komunikan adalah unsur dari komunikasi dalam menerima pesan dari komunikator.
Seorang komunikan harus memahami pesan berdasarkan pemahaman masa lalu dalam menafsirkan pesan yang disampaikan oleh komunikator; 4) efek merupakan apa yang terjadi dalam pikiran komunikan setelah ia menerima pesan yang dijelaskan komunikator; 5) komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan kepada komunikan.
Komunikasi dengan sang Pencipta juga sangat penting itu salah satu bentuk kita berterimakasih, bersyukur atas apa yang diberikan-Nya. Dalam hal ini salah satunya adalah komunikasi dakwah. Secara umum kata dakwah berasal dari bahasa arab yang merupakan ajakan, panggilan atau seruan, dakwah (Syaefudin, 2017 ) memiliki makna
sebagai suatu proses penyampaian pesan tertentu dapat berupa ajakan atau panggilan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut. Orang yang berdakwah atau juru dakwah dalam llmu komunikasi disebut juga dengan komunikator (orang yang menyampaikan pesan kepada pihak komunikan).
Komunikasi dakwah adalah mengajak umat dalam berbuat kebaikan, mengenal ketuhanan, membimbing kejalan yang lurus, mengajarkan untuk amar makruf demi kemaslahatan dunia dan akhirat (Aziz, 2004). Komunikasi dakwah juga dapat didefinisikan sebagai ajakan yang dilakukan oleh komunikator dakwah dalam hal ini da’i untuk mengajak komunikan (Mad’u) dakwah (Tajuddin, 2014) dalam hal ini yaitu jamaahnya dengan cara komunikasi verbal maupun nonverbal, yang bertujuan untuk kebaikan dunia akhirat.
Lembaga pemasyarakatan adalah salah satu Unit Pelaksanaan Teknis Pemasyarakatan dibawah nauangan Kemenkumham yang melaksanakan tugas membina pelanggar hukum untuk memperbaiki fungsi hidup, kehidupan dan penghidupannya agar dapat menjadi manusia yang seutuhnya, kembali kemasyarakat dapat berintegrasi dengan baik dan yang lebih penting tidak mengulangi tindak pidana atau menjadi residivis. Lembaga pemasyarakatan yang diselenggarakan merupakan wadah dalam membina narapidana dan anak didik pemasyarakatan agar mereka mempunyai cukup bekal guna menyongsong kehidupan setelah selesai menjalani masa pidana yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya suatu hubungan antara narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dengan masyarakat. Persoalan pengulangan tindak pidana juga menjadi salah satu persoalan yang tak kunjung selesai, ini diakibatkan oleh orang-orang yang melakukan pelanggaran hukum pada umumnya rendah kesadaran akan norma- norma yang berlaku salah satunya adalah norma agama.
Meningkatnya jumlah warga binaan menjadi bagian dari tanggung jawab
189 | P a g e lembaga pemasyarakatan. Pentingnya
pembinaan di lembaga pemasyarakatan untuk dapat mengembangkan aktivitas dan pembinaan mental dan karakter warga binaan sangat diperlukan terutama bagi warga binaan yang beragama islam melalui pendekatan-pendekatan spiritual yang sesuai, agar dapat mengubah sikap dan prilaku warga binaan. Pembinaan mental merupakan sebuah upaya untuk memperbaiki moral atau mental spiritual seseorang kearah yang sesuai dengan ajaran agama. Maksud dalam hal ini adalah setelah diadakannya pembinaan, orang dengan sendirinya akan menjadikan agama sebagai pedoman dan pengedalian tingkah laku, akhlak, dan gerak gerik dalam hidup.
Perlunya strategi penerapan yang tepat dilakukan untuk meningkatkan pembinaan mental dan spiritual warga binaan.
Penyampaian ini dapat dilakukan dengan strategi komunikasi. Warga binaan pemasyarakatan di Lapas Kelas IIB Solok yang mayoritas adalah muslim. Dalam hal ini penulis menggunakan strategi komunikasi dakwah. Komunikasi dakwah bertujuan agar terjadinya perubahan terhadap warga binaan serta pembentukan atas sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran agama islam. Penjelasan atas konsep ini adalah suatu proses penyampain dakwah yang menanamkan nilai-nilai islam di masyarakat. (Romli.ASM, 2013, hal. 11) Nilai-nilai ini dapat berupa keadilan, kejujuran dan persaudaraan, adanya dukungan sistem yang mendalam sangat dibutuhkan. Pada umumnya tujuan komunikasi yaitu mengharapkan partisipasi komunikan atas ide atau pesan yang tersampaikan dari komunikator. Sehingga dalam proses tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan.
Konsep diatas menjelaskan pemahaman dari proses penyampaian dakwah yang menanamkan nilai-nilai islam ketengah masyarakat (Amin, 2015).
Dakwah Rasulullah dalam sejarah adalah dakwah yang paling sukses, dalam waktu 23 tahun, Rasulullah dapat mengubah tatanan masyarakat Arab dari yang buruk ke yang baik. Dakwah Rasulullah dengan memperhatikan performance dalam
menyampaikan risalah islam. (Rumakat, 2017) Suatu keberhasilan yang menarik dan diapresiasi positif, dari awal perjalanan dakwah Nabi Muhammad ia menerapkan strategi brilian yaitu dengan menggunakan langkah bertahap secara istiqomah dan konsekuen dengan apa yang diucapkan dan didakwahkanNya adanya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. (Maghfiroh., 2016)Hal ini dapat menjadi acuan bagi da’i untuk melaksanakan dakwah kepada warga binaan untuk menerapkan beberapa strategi komunikasi dakwah.
Pembinaan yang diharapkan oleh masyarakat adalah pembinaan yang memiliki pengaruh dan kontribusi dalam perubahan sikap dan mental warga binaan pemasyarakatan yang telah kembali kepada masyarakat. Warga binaan pemasyarakatan yaitu insan yang masih diharapkan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara dengan perubahan sikap mentalnya. Realita di zaman sekarang apabila tidak dibina mentalnya dengan pendidikan agama yang baik dilapas, maka setelah kembali di masyarakat ia dapat menjadi penyiram dan menambah bumbu bagi generasi islam dimasa yang akan datang. Pembinaan mental dan spiritual adalah bentuk pembinaan dari kepribadian narapidana (Maryanto, 2014)
Penelitian ini memfokuskan pada bentuk strategi yang digunakan da’i dalam melakukan komunikasi dakwah terhadap warga binaan, di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Solok. Dari penelitian ini menghasilkan dua pendekatan yaitu pendekatan dari atas dan bawah.
Pendekatan dari atas adalah digunakan untuk membina kesadaran beragama, berbangsa dan bernegara serta kesadaran akan hukum terhadap warga binaan pemasyarakatan. Pendekatan dari bawah digunakan untuk meningkatkan keterampilan dari semua warga binaan.
B. METODE PENELITIAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam hal ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Merupakan penelitian yang menekankan pada aspek pemahaman
190 | P a g e
secara mendalam terhadap suatu masalah.
Gagasan yang terpenting dalam penelitian ini adalah melakukan pengamatan terhadap bentuk pembinaan yang diberikan kepada WBP. Penulis melakukan penelitian di Lapas Kelas IIB Solok pada Oktober 2021. Melalui teknik wawancara dan observasi kepada warga binaan pemasyarakatan dan petugas.
Hasil dari penelitian dicatat dan dianalisis menggunakan (Sugiyono, 2011). Penulis juga melakukan kajian literatur terhadap jurnal dan artikel terdahulu, dan buku yang berkaitan dengan komunikasi dakwah.
Perpaduan informasi dari narasumber dengan informasi dari artikel kemudian dipadukan menjadi satu untuk dianalisis dan diinterpretasikan sehingga mendapatkan pemahaman yang lengkap.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis yang telah di analisis diperoleh data dan informasi bahwa pelaksanaan kegiatan pembinaan mental terhadap warga binaan dilakukan secara rutin dan terjadwal. Komunikasi dakwah yang dilakukan terjadwal 2 kali dalam seminggu pada hari Rabu dan Kamis dilaksanakan setelah shalat zuhur yang diisi dari pihak luar yaitu departemen agama Kota Solok, Pesantren di wilayah Kota Solok maupun luar yang sudah bekerja sama dengan pihak lapas. Ada juga dari narapidana yang sudah bisa mengisi kajian ini bentuk terwujudnya komunikasi dengan pendekatan eksperensial. Strategi dakwah yang diterapkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Solok dalam membina mental dan spiritual warga binaan pemasyarakatan adalah melalui strategi yang pertama tilawah adalah (membaca ayat-ayat suci Allah swt). (Marfuah, 2017) Strategi yang kedua adalah ta’lim (mengajarkan Al-Quran dan hikmah ).
Strategi komunikasi yang ketiga adalah dengan mensucikan jiwa, ini adalah strategi melalui aspek kejiwaan. (Sukayat, 2015, hal. 73).
Dari strategi yang diterapkan diatas melalui 3 metode yang digunakan di lapas yaitu dakwah lisan adalah dakwah yang
disampaikan melalui ceramah oleh ustadznya, Dakwah tulisan penyampaian materi dengan pengenalan huruf hijayah, cara penulisannya serta cara membacanya.
Dakwah tindakan adalah bentuk dakwah yang dilakukan dengan memperlihatkan contoh yang baik , biasanya dengan melakukan shalat berjamaah antara petugas dengan warga binaan membaur dan saling bertukar pikiran dan pendekatan karna petugas pun juga merangkum menjadi pemateri dalam memberikan ilmu agama islam. Dari bentuk dakwah yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Solok sudah sangat baik dan berjalan efektif. Terciptanya komunikasi antara narapidana dengan ustadz, petugas, da’i, sang Penciptanya melalui dakwah ajaran- ajaran agama islam dalam upaya membentuk akhlak narapidana mengenalkannya, memahami, mengajak, pentingnya ilmu agama akan membuat sikap dan tingkah lakunya dapat hijrah kearah yang lebih baik . Bagi Lembaga Pemasyarakatan sendiri adalah tidak adanya residivis. Ini adalah keberhasilan terbesar bagi petugas karna pembinaan yang dilakukannya berhasil membuat narapidana menjadi lebih baik. Program komunikasi dakwah ini merubah narapidana kearah yang lebih baik. Inti dari semua pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan adalah pembinaan mental dan spiritual yaitu pembinaan keribadian.
Dalam melaksanakan pembinaan mental dan spiritual ini juga terdapat faktor yang mempengaruhi hambatan dan dukungan dalam pelaksanaannya. Tidak terlepas dari fungsi utama dari komunikasi adalah untuk memperngaruhi, mendidik, menyampaikan informasi dan membimbing.
1. Bentuk Komunikasi Dakwah
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diidentifikasi sebanyak tiga kategori bentuk komunikasi dakwah di LP Kelas IIB Solok, yakni lisan, tulisan dan tindakan. Adapun deskripsi dari ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
a. Dakwah Lisan
191 | P a g e Dakwah lisan merupakan dakwah
yang dilakukan oleh ustadz atau da’i melalui penyampaian kepada khalayak banyak menggunakan kata-kata ucapan untuk menyampaikan isi atau pesan dakwah, seperti ceramah. Kegiatan ceramah yang disampaikan oleh da’i menjadi bentuk penyampaian program komunikasi dakwah yang mudah diterima oleh narapidana. Disamping itu peran pejabat dan petugas beserta seluruh jajaran juga sangat dibutuhkan terkait dengan terlaksana komunikasi dakwah dengan pendekatan partisipasif. Kegiatan ceramah dilaksanakan di Mushalla Al- Maghfirah yang terjadwal 2 kali dalam seminggu yaitu pada hari Rabu dan Kamis setelah shalat zuhur.
Narapidana mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh da’i setelah kajian usai disampaikan lanjut dengan sesi tanya jawab antara narapidana dengan da’i. Kebanyakan dari narapidana bertanya dengan individu setelah usai mendengar kajian karna bersifat pribadi karna lebih menjaga.
Bentuk komunikasi dakwah ini dalam rangka pembinaan mental narapidana sudah lama dilakukan. Adanya tambahan pengetahuan dengan aktif mendengarkan ceramah agama adalah tujuan yang sangat diharapkan.
Berdasarkan hasil wawancara dari Zulkifli (40 tahun) warga binaan Lapas kelas IIB Solok mengatakan:
Kami didalam lapas tidak semua memiliki kemampuan yang sama, dan rata-rata dari kami lebih suka menerima pengetahuan agama melalui mendengarkan ceramah yang diberikan ustadz, sedikit banyak ada yang tinggal, apabila dengan menulis terkadang ada yang tidak bisa menulis atau membaca.
Pembinaan mental melalui dakwah lisan sangat membantu bagi kami untuk memperoleh pengetahuan agama.”
(Wawancara 22 Oktober 2021)
Dakwah lisan yang diberikan kepada narapidana ini adalah proses pembinaan yang banyak membuat narapidana menjadi sadar. Sebelumnya tidak pernah melakukan shalat perlahan sudah melaksanakan dan memahami shalat itu adalah hal wajib yang harus dilakukan kita sebagai umat Islam bentuk bersyukur kepada sang Pencipta. Kajian yang dibahas oleh da’i kebanyakan untuk menumbuhkan rasa sadar dari setiap pribadi, sering dijadikan cerita tentang kisah nabi dan sikap atau tingkah lakunya agar dapat mereka terapkan dan amalkan. Yang paling unggul dalam penyampai dakwah lisan ini adalah adanya umpan balik antara komunikator (da’i) dengan komunikan (narapidana/ mad’u) terkait dengan efek dari pembinaan. Petugas pun juga merangkum menjadi ustadz. Pelaksanaan pembinaan mental dengan program komunikasi dakwah yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Solok ini
b. Dakwah Tulisan
Dakwah tulisan adalah dakwah yang memanfaatkan tulisan sebagai media penyampaian pesan dakwah. Kegiatan dakwah yang dilakukan di Lapas Kelas IIB Solok adalah dengan pengenalan tentang huruf hijaiyah. Biasanya ustadz mencontohkan bentuknya nanti dapat ditiru sekaligus dikenalkan pada narapidana agar mereka tidak hanya dapat membaca, menulis, memahami dan mengamalkan. Selain itu di perpustakaan juga disediakan buku-buku tentang keagamaan untuk menambah pengetahuan dan wawasan narapidana.
Buku itu diperoleh dari pemobil pustaka keliling yang biasanya mengganti buku dan terjadwal setiap bulannya. Ada juga buku yang dperoleh dari sumbangan pihak luar maupun dari petugas. Selain
192 | P a g e
itu juga dengan menempelkan aturan- aturan ditempat strategis pada pintu atau ruangan tetentu misalnya larangan merokok, tidak boleh membawa handphone, saf lurus dan dirapatkan.
Dakwah tulisan ini sangat mendukung dan bermanfaat karna tidak hanya dari dakwah lisan tetapi melalui tulisan juga dapat diperoleh. Secara relevan juga memantapkan ilmu yang didapat dari dakwah lisan. Melalui dakwah lisan juga langkah sebagai pengiat dalam melakukan segala sesuatu terutama kejalan yang benar.
Hasil wawancara Yusdono (35 tahun) warga binaan lapas Kelas IIB Solok mengatakan:
“Strategi dakwah tulisan saya merasa sangat membantu untuk menjadikan pengingat dari setiap perbuatan atau tindakan yang akan dilakukan, karna saya ingin setelah keluar dari sini dapat benar berubah. Memiliki pekerjaan dan menjadi orang yang lebih baik. Saya tidak ingin mengulangi tindak pidana dan masuk kembali ke sini.”
(Wawancara 22 Oktober 2021)
Pelaksanaan dakwah tulisan ini setiap saat setiap waktu karna terpampang jelas tulisan-tulisan dan bisa juga didapatkan dari sumber buku yang ada di perpustakaan. Sedikit kekurangan bagi warga binaan yang buta huruf atau tidak dapat membaca mungkin kurang tersampaikan, tetapi dapat dibantu oleh teman-temannya.
c. Dakwah Tindakan
Adalah bentuk dakwah keteladanan secara tidak langsung adalah contoh positif yang selalu kita terapkan. Paling efektif terlihat dari pelaksanaan shalat berjamaah pejabat dan petugas bersama narapidana. Seluruh muslim diwajibkan untuk ikut shalat berjamaah setelah selesai narapidana dapat kembali ke kamar untuk melaksanakan makan siang kemudian dlanjutkan dengan kegiatan
lainnya , sering juga narapidana melanjutkan dengan tadarus Al- Quran Bersama. Dakwah tindakan lainnya adalah dengan pembinaan keterampilan dengan tujuan memberi bekal pada narapidana seperti membuat kerajinan sendal, membuat mebel seperti lemari, kursi, meja, keahlian berkebun bercocok tanam dan , membantu petugas di koperasi. Contoh lainnya adalah adanya piket kebersihan, piket yang memasak di dapur dan lannya. Hal ini dilakukan agar narapidana dapat mengisi waktunya dan tidak merasa tertekan atau jenuh selama di Lembaga Pemasyarakatan.
Berdasarkan wawancara terhadap salah satu warga binaan yang memiliki kemampuan dalam bidang dakwah Abdul (28 tahun) mengatakan:
strategi pembinaan kepribadian dalam bentuk dakwah ini sudah berjalan efektif, tetapi masih perlunya peningkatan agar lebih kreatif lagi karna setiap warga binaan memiliki masalah atau kasus yang berbeda. Dari kami warga binaan yang rata-rata kasus paling besar adalah narkoba, jadi kami seperti butuh bagaimana caranya agar tidak kembali ke barang terlarang tersebut, butuhnya bimbingan dari tingkat dasar melalui dakwah agama.”
(Wawancara 22 Oktober 2021).
Dari bentuk dakwah yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Solok sudah sangat baik dan berjalan efektif. Terciptanya komunikasi antara narapidana dengan ustadz, petugas, da’i, sang Penciptanya melalui dakwah ajaran- ajaran agama islam dalam upaya membentuk akhlak narapidana mengenalkannya, memahami, mengajak, pentingnya ilmu agama akan membuat sikap dan tingkah lakunya dapat hijrah kearah yang lebih baik. Program komunikasi dakwah ini merubah narapidana dari tingkah lakunya seperti cara berbicara dan berkomunikasi yang
193 | P a g e baik itu bagaimana, tuturkata yang
sopan kepada orang yang lebih tua, anak kecil dan sejawat juga diperlukan. Inti dari semua pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan adalah pembinaan mental dan spiritual yaitu pembinaan keribadian.
2. Faktor Pendorong dan Penghambat Dakwah yang dilakukan dalam tiga bentuk diatas adalah upaya pembinaan yang berjalan efektif. Petugas Pembimbing Pemasyarakatan juga merangkum menjadi ustadz dalam pembinaan kerohanian.
Pembinaan sendiri juga tidak maksimal, makanya Lembaga Pemasyarakatan berkeja sama dengan organisasi islam dalam pembinaan ini. Kegiatan dakwah yang dilakukan saat ini sudah berjalan efektif karna beberapa dari narapidana sudah mulai mengalami perubahan dan kesadaran akan agama itu penting dan adalah bekal hidup di akhirat nantinya. (Marfuah, 2017)Berhasil atau tidaknya dakwah tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung yang mempengaruhinya. Namun juga ditemukan beberapa hambatan terhadap efektivitas dakwah berdasarkan wawancara terhadap petugas dan ustadz yang penulis lakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Solok.
Untuk faktor pendukung diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Keikhlasan da’i dalam memberikan pembinaan terhadap warga binaan.
b. Adanya da’i yang tanpa pamrih secara sukarela mengisi kajian.
c. Kemampuan da’i dalam menyampaikan materi ceramah juga membuat narapidana tersentuh dan sampai meneteskan air mata.
Melakukan pembinaan bukanlah hal yang mudah, berbagai kendala yang dihadapi dan ditemukan saat melakukan dakwah tidak terlepas dari yang namanya sarana dan
prasarana yang sangat minimsangat berpengaruh terhadap terlaksananya pembinaan, sepertinya ruangan yang kecil digunakan untuk melakukan aktivitas dakwah maupun pelatihan keterampilan.
Sedangkan dengan kapasitas narapidana yang begitu banyak.
Adapun untuk beberapa faktor penghambatnya adalah sebagai berikut:
a. Tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang minim seperti ruang aula yang kecil tidak dapat menampung jumlah napi yang banyak.
b. Ruangan yang kecil atau tempat ibadah yang tidak memungkinkan berakibatkan ibadah muslim dengan agama lainnya berdampingan.
c. Faktor dari narapidana karna doktrin narapidana adalah orang yang bermasalah jadi tidak semua napi mau berkontribusi dalam membina.
terkadang sukar untuk di bina, jadi mengajaknya sampai dengan paksaan, yang melatar belakangi mereka juga lemahnya minat narapidana untuk mengikuti kegiatan keagamaan karna belum memahami kebutuhan kehidupan agama, juga lemahnya pemahaman bahwa agama adalah bekal hidup di akhirat nantinya karna hidup didunia hanyalah sementara.
d. Kemampuan dari setiap pribadi dalam menangkap materi pembinaan pasti berbeda-beda ada yang cepat ada yang lambat.
e. Anggaran yang kurang, maka keikhlasan hati dari petugas untuk bersedia mengisi, kesulitan mencari da’i yang mau membimbing dengan suka hati.
f. Kurangnnya dukungan dari masyarakat sekitar atau pihak luar.
194 | P a g e
Kerjasama antara kedua pihak sangat diperlukan antara pihak yang membina dengan yang dibina. Keefektifan keduanya berdampak pada hasil dari pembinaan.
Melakukan pembinaan sangat membutuhkan kesadaran dari pribadi narapidana karna pembinaan bertujuan untuk kepentingan narapidana berupa spiritual dan kemandirian. Pada kenyataan pembinan adalah hal yang tidak mudah dilakukan perlunya motivasi ibaratnya peluang mendapatkan keberhasilan, peluang yang tersedia di sekitar tidak dinikmati, apabila individu tidak ada motivasi menangkapnya.
Terlepas dari segala bentuk pembinaan yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan pasti ada unsur yang mendukung dan menghambat dari proses pembinaan tersebut. Perlunya kesadaran dari pribadi masing-masing, dukungan dari pihak luar apalagi masyarakat, sarana dan prasana yang masih terbatas karna anggaran yang tidak ada semua itu dapat diatasi dengan keikhlasan dari hati masing-masing. Sepeti komunikasi dakwah secara lisan komunikator(ustad, da’i petugas) ikhlas dalam memberikan ilmunnya, secara sukarela dan bernilai ibadah dalam situasi dan kondisi apapun ia lakukan jarak, waktu dan tempat tidak jadi halangan untuk dia berdakwah. Komunikan (mad’u) tujuan dari semua kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan adalah perubahan untuk narapidana keikhlasan dari dia menerima ilmu dan setiap binaan untuk sangat penting. Keikhlasan narapidana dalam menerima maka segala bentuk pembinaan yang dilakukan dapat berhasil. Tetapi keikhlasan ini yang masih kurang padahal pembinaan adalah untuk kepentingan narapidana tidak sedikit narapidana dengan di dorong paksa baru ikut serta dalam pembinaan.
D. PENUTUP
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk program komunikasi dakwah terdiri atas 3 metode yaitu melalui lisan, tulisan dan Tindakan. Dari 3 metode dakwah yang paling efektif dilakukan di Lapas kelas IIB Solok adalah dakwah lisan karna adanya umoan balik antara komunikator dan komunikan yang mempengaruhi komunikan secara langsung menyentuh hati dan pikirannya. Untuk 2 bentuk dakwah lainnya dapat dijadikan pendukung dakwah lisan atau untuk memperkuat, mendorongnya agar terlaksana dan memperoleh hasil yang lebih baik mencerminkan narapidana tidak menjadi residivis. Keberhasilan dari pembinaan tidak terlepas dari pihak-pihak terlibat yaitu petugas, WBP, ustadz yang mengisi materi dengan penuh keikhlasan dan ketelatenan dalam melimpahkan ilmunya kepada warga binaan. Dalam setiap prosesnya tidak terlepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat, faktor penghambat dari terlaksananya pembinaan ini masih rendahnya dukungan dari pihak luar, sarana dan prasarana yang masih minim dan warga binaan yang susah diatur.
E. DAFTAR PUSTAKA
Amin, S.M.(2015) Bimbingan dan Konseling Islam. Jakarta: Amzah
Aziz, M.A (2004) Ilmu Dakwah. Jakarta, Kencana
Harsono C.L. (1995). Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta:
Kencana.
Maghfiroh, E. (2016). Komunikasi Dakwah : Dakwah Interagtif Melalui Media Komunikasi. Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, 2 (1), 34:48
Marfuah, U. (2017). Strategi Komunikasi Dakwah Berbasis Multikultural. Islamic Commnunication Journal, 2 (2), 147- 167.
195 | P a g e Markarma, A. (2014) Komunikasi Dakwah
Efektif dalam Al-quran: Jurnal Studia Islamika, 11(1), 127-151
Maryanto,R.R. (2014). Pelaksanaan Pembinaan yang Bersifat Kemandirian
terhadap Warga Binaan
Pemasyarakatan Kelas IIB Slawi. Jurnal Pembaharuan Hukum, 1 (1),66-76.
Mubasyaroh. (2017). Strategi Dakwah Persuasif dalam Mengubah Prilaku Masyarakat: Academic Journal for Homiletic Studies, 11 (4), 311-324.
Nawawi. (2008). Strategi Dakwah Studi Pemecahan Masalah. Komunika, 2 (2), 269-276.
Permana, R. (2013). Strategi Komunikasi Dakwah Band Wali Lagu Cari Berkah.
Jurnal Komunikasi Islam, 3(1), 119-136 Romli, A.S.M.(2013). Komunikasi Dakwh Pendekatan Praktis. Bandung:
Cybermedia.
Rumakat, M.T. (2017). Strategi Komunikasi Dakwah Kaum Salaf. Jurnal Peurawi, 1 (1).
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukayat. (2015). Ilmu Dakwah Perspektif Filsamat Mabadi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Syaefudin, M.(2017) Gerakan Dakwah Cinta Tanah Air Indonesia. Jurnal Ilmu Dakwah, 37 (2),215.246.
Tajuddin, Y. (2014).Walisongo dalam strategi komunikasi dakwah, dalam jurnal Addin, 8 (2)