• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMENUHAN NAFKAH MUT’AH DALAM PERKARA PERCERAIAN KARENA LI’AN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PEMENUHAN NAFKAH MUT’AH DALAM PERKARA PERCERAIAN KARENA LI’AN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PEMENUHAN NAFKAH MUT’AH DALAM PERKARA PERCERAIAN KARENA LI’AN

Lidiya Fadhlah Mastura1) dan Atikah2)

1)IAIN Batusangkar E-mail: [email protected]

2) IAIN Batusangkar E-mail: [email protected]

Abstract: Li'an is a form of divorce that has different legal consequences from divorce in general, where li'an causes the husband and wife bond to break for good and the husband is free from the obligation to pay a living.

This is as regulated in article 162 of the Compilation of Islamic Law.

However, in deciding the case Number: 0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk, the panel decided the divorce case for li'an with talak ba'in kubra and sentenced the Petitioner to pay mut'ah money in the amount of Rp.

50,000,000.00. This study aims to find out how the burden of giving mut'ah living in divorce cases is due to li'an. This study uses a library research research method (library research) with a qualitative and normative juridical approach, namely legal research that is shown and carried out by examining library materials or secondary data. The data processing technique used is normative descriptive data analysis and deductive conclusion drawing. Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that in punishing the Petitioner to pay mut'ah money, the panel of judges categorizes divorce cases because this li'an is at the will of the husband and is a talak divorce so that the husband is obliged to pay mut'ah support for his divorced wife. This is based on Article 149 letter (a) and Article 158 of the Compilation of Islamic Law, Islamic law and in accordance with the provisions of positive law and the principles of justice and benefit.

Keywords: Divorce; Li’an; Mut’ah Livelihood.

Abstrak: Li’an merupakan salah satu bentuk perceraian memiliki akibat hukum yang berbeda dengan perceraian pada umumnya, yang mana li’an mengakibatkan ikatan suami istri tersebut putus untuk selama-lamanya dan suami tersebut terbebas dari kewajiban membayar nafkah. Hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 162 Kompilasi Hukum Islam. Namun, dalam memutus perkara Nomor: 0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk majelis yang memutus perkara perceraian karena li’an dengan thalak ba’in kubra dan menghukum Pemohon membayar uang mut’ah sejumlah Rp.50.000.000,00. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembebanan pemberian nafkah mut’ah dalam perkara perceraian karena li’an. Penelitian ini menggunakan metode penelitian library research (penelitian pustaka) dengan pendekatan kualitatif dan yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang ditunjukan dan dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. Teknik pengolahan data yang digunakan yaitu secara analisis data deskriptif normatif dan penarikan

(2)

kesimpulan secara deduktif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam menghukum Pemohon membayar uang mut’ah majelis hakim mengkategorikan perkara perceraian karena li’an ini atas kehendak suami dan merupakan cerai talak sehingga suami berkewajiban untuk membayarkan nafkah mut’ah terhadap istri yang diceraikannya. Hal ini berlandaskan kepada Pasal 149 huruf (a) dan Pasal 158 Kompilasi Hukum Islam, hukum Islam dan sesuai dengan ketentuan hukum positif dan prinsip keadilan serta kemaslahatan.

Kata Kunci: perceraian; li’an; nafkah mut’ah.

PENDAHULUAN

Li’an merupakan salah satu bentuk putusnya perkawinan. Li’an adalah salah satu bentuk perceraian yang terjadi diantara pasangan suami istri, yang terjadi karena suami menuduh istrinya berbuat zina dan suami tidak dapat mendatangkan empat orang saksi.

Karena tidak bisa menghadirkan saksi untuk membuktikan tuduhannya, suami bersumpah empat kali dengan menyatakan bahwa ia benar. (Wafa, 2018) Pada sumpah yang kelima ia menyatakan bahwa ia akan dilaknat Allah kalau tuduhannya itu dusta. Lalu istrinya membantah tuduhan tersebut dengan bersumpah empat kali dan menyatakan bahwa ia akan dimurkai Allah kalau ternyata ucapan suaminya benar. (Syaifuddin, Turatmiyah, &

Yahanan, 2013)

Putusan Nomor 0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk merupakan putusan yang berisikan tentang perkara perceraian karena li’an. Dalam hal ini, suami mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama Batusangkar untuk menceraikan istrinya karena istrinya telah berbuat zina. Dalam proses persidangan yang berlangsung, suami meminta kepada Majelis Hakim agar menceraikan hubungannya dengan istrinya, dan istri juga menuntut hak-hak, di antaranya: hak asuh anak, harta gono-gini, nafkah iddah dan nafkah mut’ah. Namun, pada saat persidangan berlangsung suami tidak dapat melengkapi pembuktian dan menghadirkan 4 orang saksi terhadap perbuatan zina yang dilakukan oleh istrinya maka Majelis Hakim memerintahkan si suami untuk mengucapkan sumpah li’an dan kemudian istri menolak tuduhan zina tersebut dengan mengucapkan sumpah nukul (sumpah balik).

Di akhir dari perkara ini, Majelis Hakim memutuskan bahwa perceraian antara suami istri tersebut dengan thalak bain kubra dan menghukum si suami untuk membayar nafkah mut’ah kepada istri sebesar Rp. 50.000.000,00- (lima puluh juta rupiah). (Putusan Nomor:0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk) Uang mut’ah yaitu pemberian suami kepada istri yang diceraikannya sebagai suatu kompensasi yang bertujuan untuk menghibur istri yang diceraikan tersebut. (Elimartati , 2013) Dalam perkara ini, suami mengajukan perceraian karena istri telah melakukan perbuatan zina atau fakhisyah, maka li’an menyebabkan suami tidak wajib dan dapat menggugurkan kewajiban suami untuk membayar nafkah kepada istri baik itu nafkah mut’ah, nafkah iddah dan tempat tinggal.

Terdapat beberapa literatur penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul di atas.

Penelitian tersebut di antaranya, yaitu pertama, penelitian pada tahun 2020 yang ditulis oleh Angga Tiara Wardaningtias dan Inayatul Anisah mahasiswa IAIN Jember, dengan judul penelitian analisis gender terhdap perceraian sumpah li’an dalam putusan nomor 0918/Pdt.G.2019/PA.Bdw, fokus penelitian dalam penelitian ini adalah mengenai pertimbangan hakim dalam memutus perkara Nomor 0918/Pdt.G.2019/PA.Bdw tentang perceraian secara sumpah li’an dalam perspektif gender. (Wardaningtias & Anisah, 2020) Kedua, penelitian pada tahun 2018 yang ditulis oleh Syaiful Hidayat mahasiswa IAI Bani Fattah Jombang, dengan judul penelitian pemenuhan nafkah mut’ah, iddah, dan madiyah istri sebagai syarat penjatuhan talak dalam peradilan agama di Indonesia, fokus penelitian

(3)

dalam penelitian ini adalah ketentuan nafkah mut’ah, iddah dan madiyah istri sebagai syarat penjatuhan talak dalam konteks hukum positif Indonesia. (Hidayat, 2018) Dari literatur review di atas, maka penulis akan membahas mengenai “Pemenuhan Nafkah Mut’ah dalam Perkara Perceraian Karena Li’an”. Dengan rumusan masalah: Bagaimana pemenuhan nafkah mut’ah dalam perkara perceraian karena li’an?

METODE

Dalam penulisan ini penulis menggunakan penelitian normatif. Penelitian hukum normatif disebut dengan penelitian hukum doktriner, karena dilakukan dan ditunjukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lain. Penelitian ini dikatakan juga sebagai penelitian kepustakaan atau studi dokumen, disebabkan penelitian ini lebih banyak dilakukan terhadap data yang bersifat sekunder yang ada di perpustakaan. Dalam penelitian hukum yang normatif biasanya hanya dipergunakan sumber-sumber data sekunder saja, yaitu buku-buku, buku-buku harian, peraturan perundang-undangan, keputusan-keputusan Pengadilan, teori-teori hukum dan pendapat para sarjana hukum terkemuka. Adapun dalam pengambilan datanya bersumber dari data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Putusan Pengadilan Agama Batusangkar Nomor:0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk sedangkan untuk sumber data sekunder adalah buku-buku seputar Hukum Acara Peradilan Agama maupun buku-buku yang berkaitan dengan li’an dan nafkah mut’ah serta penelitian-penelitian terdahulu seperti penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Metode yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan pola deduktif.

Dimana akan digambarkan terlebih dahulu mengenai data-data yang berkaitan dengan perkara tersebut secara umum dan pertimbangan hukum hakim mengenai pembebanan nafkah mut’ah dalam perkara perceraian karena li’an.

HASIL DAN PEMBAHASAN Perceraian Karena Li’an

Putusnya perkawinan dalam hal ini berarti berakhirnya hubungan suami istri.

Putusnya perkawinan itu ada dalam beberapa bentuk tergantung dari segi siapa sebenarnya yang berkehendak untuk putusnya perkawinan tersebut. (Dahwadin, Syaripudin, Sofiawati,

& Somantri , 2020) Di samping itu, terdapat pula beberapa hal yang menyebabkan hubungan suami istri yang dihalalkan oleh agama tidak dapat dilakukan, namun tidak memutuskan hubungan perkawinan itu secara hukum syara’, terhentinya perkawinan tersebut dalam beberapa bentuk. Beda bentuk perceraian yang terjadi, maka beda pula hak, kewajiban dan akibat hukum akibat dari perceraian tersebut. Li’an merupakan salah satu bentuk putusnya perkawinan yang memiliki akibat hukum yang berbeda.

Kata li’an diambil dari kata al-la’nu, yang berarti jauh dan laknat atau kutukan.

Secara terminologi Wahbah al-Zuhaili (2011) mengemukakan bahwa, “dinamakan li’an yaitu peristiwa yang terjadi antara suami istri karena masing-masing pribadi mereka saling melaknat dirinya sendiri pada sumpah yang kelima ia berbohong atau karena suami yang melaknat dirinya sendiri, sedangkan ia menceraikan istrinya dengan ungkapan yang umum.” Menurut Mazhab Hanafi dan Hambali bahwa li’an adalah: “Persaksian kuat (bahwa istrinya berbuat zina) yang diungkapkan dengan sumpah serta dibarengi dengan lafal li’an dari pihak suami dan dengan lafal li’an dari pihak suami dan dengan lafal ghadhab dari pihak istri.” Mazhab Maliki berpedapat bahwa li’an adalah: “Sumpah suami yang muslim lagi cakap bertindak hukum bahwa ia melihat istrinya berzina atau mengingkari kehamilan istrinya sebagai hasil pergaulannya dengan istri tersebut, kemudian istri bersumpah atas kebohongan suaminya sebanyak empat kali di hadapan Hakim, baik nikah shahih maupun nikah fasid.” Mazhab Syafi’i mendefiniskan li’an sebagai kalimat

(4)

yang diketahui, yang dijadikan sebagi alasan bagi orang yang merasa terpaksa untuk menuduh orang yang telah mencemari tempat tidurya dan mendatangkan rasa malu kepadanya, atau menolak anak yang ia kandung.

Dengan demikian, yang dikatakan dengan li’an adalah salah satu bentuk perceraian yang disebabkan oleh tuduhan suami terhadap istrinya, bahwa istrinya telah berbuat zina dengan laki-laki lain, atau suami tidak mengakui anak berada dalam kandungan istrinya sebagai anaknya. Apabila seorang suami menuduh istrinya telah berbuat zina dengan pria lain atau suami tidak mengakui anak berada dalam kandungan istrinya sebagai anaknya, istri tersebut pun menolak tuduhan suaminya, padahal si suami tidak mempunyai bukti dan saksi-saksi untuk membuktikan tuduhannya tersebut, maka suami tersebut dibolehkan melakukan sumpah li’an yang dilakukan dihadapan pengadilan.

Li’an merupakan sumpah suami terhadap tuduhan bahwa istrinya telah berbuat zina dan suami tersebut tidak dapat mendatangkan 4 (empat) orang saksi. Pada dasarnya, bila seseorang menuduh perempuan baik-baik berbuat zina dan tidak dapat mendatangkan empat orang saksi, maka ia dikenai had qadzaf dengan 80 kali dera. Apabila yang melakukan penuduhan tersebut adalah suami terhadap istrinya dan tidak dapat mendatangkan 4 (empat) orang saksi, maka ia dapat dikenai had qadzaf. Untuk menghindari dirinya dari had qadzaf, maka suami tersebut diberi hak untuk menempuh li’an. Suami tersebut harus menyampaikan kesaksian sebanyak 4 (empat) kali yang menyatakan bahwa ia benar atas tuduhannya. Pada kesaksiannya yang kelima, ia menyatakan bahwa laknat Allah atasnya bila berdusta dengan tuduhannya tersebut.

Sumpah li’an ini diatur dalam firman Allah swt Surah An-Nur ayat 6-9:

َداَهَش ُعَب ْرَأ ْمِهِدَحَأ ُةَداَهَشَف ْمُهُسُفْنَأ َّلَِّإ ُءاَدَهُش ْمُهَل ْنُكَي ْمَل َو ْمُهَجا َو ْزَأ َنوُم ْرَي َنيِذَّلا َو َنيِقِداَّصلا َنِمَل ُهَّنِإ ِ َّللَّاِب ٍتا

( ُةَسِماَخْلا َو )6

( َنيِبِذاَكْلا َنِم َناَك ْنِإ ِهْيَلَع ِ َّاللَّ َتَنْعَل َّنَأ ( َنيِبِذاَكْلا َنِمَل ُهَّنِإ ِ َّللَّاِب ٍتاَداَهَش َعَب ْرَأ َدَهْشَت ْنَأ َباَذَعْلا اَهْنَع ُأ َرْدَي َو )7

َةَسِماَخْلا َو )8

َنِم َناَك ْنِإ اَهْيَلَع ِ َّاللَّ َبَضَغ َّنَأ ( َنيِقِداَّصلا

9 )

“Orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), tetapi mereka tidak mempunyai saksi- saksi kecuali dirinya sendiri, maka kesaksiannya ialah bersumpah empat kali dengan nama Allah, dan bahwa ia seorang yang benar. Dan yang kelima bahwa laknat Allah atas dirinya jika ia dusta. Dan hukuman dapat tertolak dari istri, jika ia bersumpah empat kali dengan nama Allah, dan bahwa suaminya dusta. Dan yang kelima bahwa murka Allah atas dirinya, jika suaminya yang benar.”

Apabila li’an telah selesai dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh Allah, telah memenuhi rukun dan syarat, maka li’an tersebut menimbulkan akibat hukum bagi pelakunya dan orang yang terkait dengannya. Akibat hukum yang ditimbulkan dari perbuatan li’an ini yaitu:

a. Suami yang mengucapkan li’an bebas dari ancaman hadd qadzaf dalam arti tuduhan yang dilemparkan itu benar.

b. Tuduhan zina yang dituduhkan suami terhadap istri tersebut benar terjadi atau secara hukum istri telah berbuat zina

c. Terhindarnya istri dari haddzina

d. Ikatan pernikahan suami istri putus untuk selama-lamanya

e. Hubungan nasab antara suami yang melakukan li’an dengan anak yang dikandung istri terputus dan anak tersebut dinasabkan kepada ibunya.

Nafkah Mut’ah

Dalam kamus Bahasa Arab, kata mut’ah berasal dari kata عتمي – عتم yang berarti kenikmatan, kelezatan, kesenangan. Kata mut’ah dengan dhammah mim (mut’ah) atau

(5)

kasrah (mit’ah) akar kata dari al-mata’, yaitu sesuatu yang disenangi. Maksudnya, materi yang diserahkan suami kepada istri yang dipisahkan dari kehidupannya sebab thalak atau semakna dengannya dengan beberapa syarat. (Azzam & Hawwas, 2009) Kamus fikih menjelaskan bahwa mut’ah adalah pemberian atau nafkah dari suami kepada istri yang diceraikan untuk menyenangkan hatinya. (Alhafidz, 2013) Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya (Fiqh Islam wa Adillatuhu Jilid 9, 2011) menjelaskan bahwa all-mut’ah diambil dari kata al-mataa’ yaitu apa yang dinikmati, yang memiliki empat makna: Pertama, mut’ah haji dan telah disebutkan di dalam ibadah haji. Kedua, pernikahan yang memiliki batas waktu. Ketiga,mut’ah perempuan yang diceraikan, yang merupakan pembahasan dalam hal ini. Keempat, perempuan memberikan nafkah suaminya dari harta si perempuan sesuai dengan adat yang ada pada beberapa negara. Jadi mut’ah yang diaksud disini adalah pemberian suami kepada istri yang diceraikannya sebagai kompensasi. Mut’ah yang dimaksud di sini adalah pakaian atau harta yang diberikan oleh suami kepada istri yang dia ceraikan yang melebihi mahar atau sebagai ganti mahar sebagaimana dalam kondisi perempuan mufawwidhah untuk menghibur hati si perempuan, dan untuk mengganti rasa sakit akibat perpisahan.

Menurut pendapat Mazhab Syafi’i nafkah mut’ah diartikan sebagai harta yang wajib dibayar oleh suami untuk istrinya yang dia ceraikan dalam kehidupan dengan perceraian serta apa yang memiliki makna yang sama dengan syara-syaratnya. Dan menurut pendapat mazhab Maliki mengartikan mut’ah sebagai kebaikan untuk perempuan yang diceraikan ketika terjadi perceraian dalam kadar sesuai dengan jumlah sedikit dan banyaknya harta si suami. Dari pengertian mut’ah yang telah diapaparkan di atas, maka dapat dipahami bahwa mut’ah adalah pemberian berupa materi (uang, pakaian dan lain sebagainya) yang diberikan oleh suami kepada istri yang diceraikannya yang bertujuan untuk menghibur istri yang diceraikan tersebut.

Pemberian Nafkah Mut’ah dalam Perkara Perceraian karena Li’an

Mut’ah merupakan pemberian suami terhadap istri yang diceraikannya. Mengenai perceraian yang terjadi karena thalak, nash menjelaskan bahwa setelah perceraian itu akan timbulnya kewajiban suami, diantaranya yaitu memberikan mut’ah kepada istri yang dithalaknya tersebut. Namun, dalam hal perceraian yang terjadi karena li’an tidak ada nash yang menjelaskan bahwa setelah terjadinya li’an tersebut suami berkewajiban memberikan mut’ah kepada istri yang dili’an tersebut. Karena tidak adanya nash yang menjelaskan tentang hukum pemberian mut’ah dalam perceraian karena li’an, maka para ulama berijtihad dalam menetapkannya.

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa mut’ah sunnah diberikan kepada setiap perempuan yang diceraikan kecuali perempuan mufawwidhah, atau perempuan yang ditentukan untuknya mahar fasid atau ditentukannya mahar sesudah akad. Dan mut’ah diwajibkan dalam perceraian yang terjadi sebelum terjadi persetubuhan dalam pernikahan yang di dalamnya tidak disebutkan mahar, dan tidak diwajibkan setelahnya atau penentuannya rusak dan perceraian yang terjadi sebelum terjadi persetubuhan dalam pernikahan yang di dalamnya tidak disebutkan mahar, hanya saja diwajibkan setelahnya.

Mazhab Maliki berpendapat bahwa mut’ah disunnahkan untuk setiap perempuan yang dithalak. Namun dalam hal ini, mazhab Maliki mengecualikan mut’ah pada setiap perpisahan yang dipilih oleh perempuan, seperti: perempuan yang terkena penyakit gila, kusta dan lepra, juga pada perpisahan akibat pembatalan ataupun akibat khulu’ maupun li’an. Menurut pendapat mazhab Syafi’i bahwa mut’ah wajib diberikan kepada istri yang diceraikan, baik perceraian itu terjadi setelah istri digauli ataupun belum digauli. Dalam hal ini mazhab Syafi’i mengecualikan pada perempuan yang diceraikan sebelum digauli dan sudah ditetapkan maharnya, maka istri tersebut hanya berhak mendapatkan setengah dari

(6)

mahar yang ditentukan. Dan mazhab Syafi’i juga mengecualikan pemberian mut’ah terhadap perempuan yang berpisah karena kematian suami, perceraian itu disebabkan oleh istri serta perpisahan tersebut diakibatkan karena li’an. (Az-Zuhaili, 2011) Secara umum mazhab Hambali memiliki pendapat yang sama dengan mazhab Hanafi. Mazhab Hambali berpendapat bahwa mut’ah wajib diberikan oleh setiap suami yang merdeka, budak, muslim dan ahl dzimmah, untuk setiap istri mufawwidhah yang diceraikan sebelum digauli.

Sejalan dengan pendapat mazhab Maliki dan Syafi’i mengenai tidak adanya mut’ah bagi perempuan yang diceraikan karena li’an. Hukum positif Indonesia juga mengatur menganai akibat hukum li’an ini, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Pasal 162 KHI bahwa “bilamana li’an terjadi maka perkawinan itu putus untuk selamanya dan anak yang dikandung dinasabkan kepada ibunya, sedang suaminya terbebas dari kewajiban memberi nafkah. Sehingga dapat dipahami bahwa ketentuan hukum positif Indoensia menetapkan tidak adanya hak nafkah bagi istri yang diceraikan karena li’an.

Pertimbangan Hakim dalam menetapkan mut’ah dalam perkara Nomor:

0213/Pdt.G/2015/pa.Bsk tentang perceraian karena li’an

Berdasarkan putusan hakim dalam perkara Nomor 0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk bahwa hakim menghukum Termohon Rekonvensi membayar uang hiburan (mut’ah) kepada Pemohon Rekonvensi sejumlah Rp. 50.000.000,00. Putusan hakim dalam pembebanan nafkah mut’ah dalam perkara perceraian karena li’an ini tampaknya kontradiktif dengan ketentuan hukum syara’ dan pasal 162 HKI yang menetapkan tidak adanya nafkah mut’ah bagi istri yang diceraikan karena li’an. Namun, Majelis Hakim berpendapat bahwa oleh karena perceraian ini (permohon cerai talak) atas inisiatif dan kehendak Termohon Rekonvensi dan dalam pemeriksaan tidak terbukti terjadinya perselisihan dan pertengkaran rumah tangga tersebut semata-mata disebabkan oleh Pemohon Rekonvensi sebagai istri, dan bekas istri tersebut qabla dukhul, sehingga berdasarkan ketentuan yang terdapat pada pasal 149 huruf (a) menjelaskan “Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib memberikan mut’ah yang layak kepada bekas istrinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas istri tersebut qabla dukhul.” dan pasal 158 Kompilasi Hukum Islam huruf (b), yang menyatakan bahwa “Mut’ah wajib diberikan oleh bekas suami dengan syarat perceraian itu atas kehendak suami.” dan disamping itu memperhatikan Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 49 “maka berikanlah mut’ah kepada mereka (bekas istri) dan lepaslah mereka secara baik”. Majelis hakim mengkategorikan perkara perceraian karena li’an ini atas kehendak suami dan merupakan cerai talak sehingga suami berkewajiban untuk membayarkan nafkah mut’ah terhadap istri yang diceraikannya. Hal ini berlandaskan kepada Pasal 149 huruf (a) dan Pasal 158 Kompilasi Hukum Islam, hukum Islam dan sesuai dengan ketentuan hukum positif dan prinsip keadilan serta kemaslahatan.

SIMPULAN

Dalam menghukum Pemohon membayar uang mut’ah majelis hakim mengkategorikan perkara perceraian karena li’an ini atas kehendak suami dan merupakan cerai talak sehingga suami berkewajiban untuk membayarkan nafkah mut’ah terhadap istri yang diceraikannya. Hal ini berlandaskan kepada Pasal 149 huruf (a) dan Pasal 158 Kompilasi Hukum Islam, hukum Islam dan sesuai dengan ketentuan hukum positif dan prinsip keadilan serta kemaslahatan.

DAFTAR PUSTAKA

Alhafidz, A. W. (2013). Kamus Fiqih. Jakarta: Amzah .

Azzam, A. A., & Hawwas, A. W. (2009). Fiqh Munakahat (Khitbah, Nikah dan Talak).

Jakarta: Amzah .

(7)

Az-Zuhaili, W. (2011). Fiqh Islam wa Adillatuhu Jilid 9. Jakarta: Gema Insani .

Dahwadin, Syaripudin, E. L., Sofiawati, E., & Somantri , M. D. (2020). Hakikat Perceraian Berdasarkan Ketentuan Hukum Islam di Indonesia. Yudisia: Jurnal, Penikiran Hukum dan Hukum Ilsam, 11(1), 87-104.

Elimartati . (2013). Bunga Rampai Perkawinan di Indonesia . Batusangkar: STAIN Batusnagkar Press.

Hidayat, S. (2018). Pemenuhan Nafkah Mut'ah, Iddah, dan Madiyah Istri sebagai Syarat Penjatuhan Talak dalam Peradilan Agama Indonesia. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 6(2), 181-195.

(n.d.). Putusan Nomor:0213/Pdt.G/2015/PA.Bsk.

Rusyd, I. (2013). Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

Syaifuddin, M., Turatmiyah, S., & Yahanan, A. (2013). Hukum Perceraian. Jakarta: Sinar Grafika .

Wafa, M. A. (2018). Hukum Perkawinan di Indonesia (Sebuah Kajian dalam Hukum Islam dan Hukum Materil). Tanggerang Selatan: Yayasan Asy-Syari'ah Modern Indoensia.

Wardaningtias, A. T., & Anisah, I. (2020). Analisis Gender terhadap Perceraian Sumpah Li'an dalam Putusan Nomor: 0918/Pdt.G.2019/PA.Bdw. IJLIL: Indonesian Journal of Law and Islamic Law, 2(2), 340-365.

Referensi

Dokumen terkait

Figure 8 – Youth and beneficiary hires by tax year Analytical approach Similar to other approaches common in the literature, our approach relates a measure of migrant prevalence in