Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi produktivitas sumber daya manusia. Dari uraian di atas penulis tertarik untuk membuat buku PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN DIABETES Pendekatan medis, farmakologi dan psikologis sebagai bahan bacaan pencegahan dan pengendalian diabetes secara komprehensif.
PENDEKATAN FARMAKOLOGI
Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care)
Perkembangan paradigma baru mengenai pelayanan kefarmasian seringkali mengundang kesalahpahaman dari profesi kesehatan lainnya. Untuk lingkungan praktik yang data pasiennya minim, seperti di apotek, diperlukan penyesuaian dalam praktik pelayanan kefarmasian.
Diabetes Mellitus
Selain defisiensi insulin, fungsi sel α pankreas pada pasien DM tipe 1 juga menjadi tidak normal. Hal ini dapat menyebabkan hipoglikemia, yang dapat berakibat fatal pada pasien DM tipe 1 yang menerima terapi insulin.
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Dalam kondisi kadar gula darah terkendali, masih diperbolehkan mengonsumsi maksimal 5% kalori dalam bentuk sukrosa (gula pasir). Apabila pasien makan dan berolahraga secara teratur, namun target kadar glukosa darahnya tidak tercapai, maka perlu dipertimbangkan penggunaan obat antidiabetes oral sesuai indikasi dan dosis sesuai petunjuk dokter.
Peran Farmasis dalam Pengelolaan DM
Penatalaksanaan DM dengan terapi obat dapat menimbulkan masalah terkait obat yang dialami pasien. Pasien mendapat terapi obat untuk mengatasi efek obat yang tidak diinginkan akibat obat lain sehingga harus diganti dengan obat yang efek sampingnya lebih sedikit. Pasien menerima kombinasi produk obat yang tidak diperlukan, misalnya polifarmasi agen hipoglikemik oral yang bekerja pada titik pengumpulan yang sama dan diberikan pada waktu yang sama.
Insulin juga dapat menimbulkan efek obat yang tidak diinginkan berupa penambahan berat badan, terutama pada pasien DM tipe 2 yang sudah mengalami obesitas. Efek obat yang tidak diinginkan yang juga dapat terjadi pada penggunaan insulin jangka panjang adalah lipodistrofi, atau hilangnya jaringan lemak di tempat suntikan, dan terkadang dapat terjadi reaksi alergi, termasuk edema. Terapi obat dikatakan tidak tepat bila obat yang diberikan tidak sesuai indikasi, atau pasien memerlukan terapi obat tambahan karena indikasi yang tidak diobati.
Terapi obat dikatakan tidak efektif bila obat yang diberikan tidak dipilih dengan tepat atau dosis yang digunakan terlalu kecil. Terapi obat dikatakan tidak aman jika pasien mengalami reaksi obat yang tidak diinginkan atau pasien menerima dosis obat yang terlalu tinggi atau pasien menerima/menggunakan obat tanpa indikasi. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa pemantauan perkembangan pasien, baik perkembangan kondisi klinis maupun pengembangan terapi obat untuk mengidentifikasi ada tidaknya permasalahan terapi obat baru (MTO).
PENDEKATAN MEDIS
- Pendahuluan
- Klasifikasi Diabetes Mellitus
- Pemeriksaan Diabetes Mellitus
- Kesimpulan
Hal ini merupakan peningkatan yang spektakuler, yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebut sebagai ledakan penderita diabetes melitus di abad 21. Di Indonesia, prevalensi penderita diabetes adalah sekitar 4 juta pada tahun 2000, dan sekitar 5 juta pada tahun 2010. Peningkatan spektakuler inilah yang disebut oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai ledakan pasien diabetes di abad ke-21, 75% di antaranya berada di negara berkembang.
Di Indonesia, prevalensi penderita DM pada tahun 2000 berjumlah sekitar 4 juta jiwa, dan pada tahun 2010 meningkat menjadi sekitar 5 juta jiwa. Komplikasi diabetes melitus berhubungan dengan hiperglikemia dan perubahan patologis pada sistem pembuluh darah dan sistem saraf tepi. Pemeriksaan kadar glukosa darah dan urin pada penderita DM dilakukan untuk menegakkan diagnosis pasti DM.
Perawatan mulut pada penderita DM memerlukan kerjasama dokter gigi dengan dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam.
PENDEKATAN PSIKOLOGIS
STRES DAN CARA MENGATASINYA
Reaksi mental meliputi ketidakmampuan berkonsentrasi, lupa apa yang ingin dilakukan, dan berkurangnya daya ingat.
Stres dan Diabetes
Cara menanggulangi stres
BIBLIOTHERAPY
Metode terapi ini sangat dianjurkan, terutama bagi pasien yang sulit mengungkapkan permasalahannya secara verbal. Terapi ini menggunakan ruangan di perpustakaan dengan berbagai jenis buku yang memberikan motivasi bagi pasien. Tak hanya itu, bagi sebagian orang, permasalahan yang terlalu menyentuh hati bisa diselesaikan dengan menulis atau membaca.
Namun, ada cara lain yang lebih murah dan mudah untuk mengatasi beban masalah yang menjerat kita, yaitu dengan terapi psikiatri. Terapi ini dilakukan dengan mengajak pasien berbicara untuk mengetahui bacaan apa yang disukainya, mencari penyebab penyakit atau stresnya, lalu menawarkan buku yang tepat. Dengan cara ini diharapkan pasien mendapat inspirasi dan menjadi lebih semangat atau bahkan menemukan solusi dari permasalahan yang menyebabkan dirinya stres melalui bacaan inspiratif, mungkin bisa disebut self-help healing.
Mereka semakin bersemangat ketika menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi jauh lebih mudah dibandingkan dengan cerita yang telah mereka baca.
Teknik Intervensi Biblioterapi
Mereka biasanya menemui konselor yang kemudian menunjukkan buku-buku tertentu untuk digunakan sebagai terapi mental ketika mengalami stres ringan. Sudah saatnya kita mulai membiasakan membaca buku-buku yang penuh inspirasi dan sesuai dengan mood kita. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan membaca menjadi masukan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi seseorang.
Menurut Selabasi (dalam Herink, 1996), intervensi biblioterapi dapat dikelompokkan menjadi empat tingkatan, yaitu intelektual, sosial, perilaku dan emosional. Ketiga, tingkat perilaku individu akan meningkatkan rasa percaya diri untuk membicarakan permasalahan yang sulit dibicarakan karena adanya perasaan takut, malu dan bersalah. Teknik ini dapat memberikan solusi terbaik berdasarkan referensi permasalahan serupa yang dialami orang lain, sehingga merangsang kemauan kuat dalam diri individu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Shrode's (1999) menjelaskan bahwa proses terapeutik terjadi ketika individu membaca literatur yang telah dipilih secara spesifik sesuai dengan kebutuhannya.
Materi Biblioterapi
Tahapan Pelaksanaan Biblioterapi
Biblioterapi sering digunakan untuk mencari identitas melalui dunia yang ada dalam halaman-halaman buku yang bagus. Identifikasi, klien mengidentifikasi dirinya dengan tokoh dan peristiwa dalam buku, baik nyata maupun fiksi. Permasalahan konseli dapat ditemukan pada tokoh-tokoh yang ada dalam buku sehingga dalam penyelesaiannya dapat mempertimbangkan langkah-langkah cerita dalam buku tersebut.
Pada tahap ini peserta diberikan materi atau literatur yang mempunyai hubungan atau keterikatan dengan peserta. Biblioterapi membantu peserta menemukan dan mendiskusikan sesuatu dalam literatur yang memiliki rangsangan ambigu. Pada titik ini, sastra sangat membantu dalam membuka wawasan bahwa selama ini ada sesuatu yang salah atau tidak pantas.
Setelah melakukan rekognisi, penelitian dan penempatan, kini saatnya para peserta merasakan hasil dari tahap ini.
Aplikasi biblioterapi
77 Kemajuan dalam menjalani biblioterapi bergantung pada kekuatan individu masing-masing peserta dan untuk itu peserta harus melatih dirinya agar memiliki sifat-sifat positif. Sifat-sifat positif tersebut antara lain kemampuan menganalisis suatu topik atau masalah, kejujuran melihat ke dalam diri, objektivitas melihat perasaan dan perilaku dari sudut pandang lain, serta rasa percaya diri dan harapan yang cukup untuk merasakan bahwa perubahan itu mungkin terjadi dan bahwa seseorang mampu. . untuk mengalami perubahan.. 78 5. Memotivasi klien dengan kegiatan perkenalan seperti mengajukan pertanyaan hingga mengarah pada pembahasan tema yang sedang dibicarakan.
Dampingi konseli untuk mencapai penutupan melalui diskusi dan penyusunan daftar kemungkinan solusi atau kegiatan lainnya. Hurlock menyatakan bahwa penyebab permasalahan yang dihadapi konselor terbagi menjadi dua penyebab, yaitu: pertama penyebab yang mempengaruhi, dan kedua; penyebab bergerak.
Kekuatan dan kelemahan Teknik Biblioterapi
Keberhasilan Biblioterapi
RELAKSASI OTOT
Mengendurkan otot akan menurunkan detak jantung dan tekanan darah, serta mengurangi keringat dan laju pernapasan. Manual ini menjelaskan teknik relaksasi otot mendalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sugesti. Relaksasi otot yang dalam mengurangi ketegangan fisiologis dan merupakan kebalikan dari kecemasan: respons normal terhadap satu situasi menghambat respons normal terhadap situasi lain.
Setiap otot atau kelompok otot dikencangkan selama lima hingga tujuh detik dan kemudian direlaksasi selama dua belas hingga lima belas detik. Bagian kedua dari prosedur ini terdiri dari menegangkan dan mengendurkan beberapa otot secara bersamaan, sehingga relaksasi otot yang dalam dapat dicapai dalam waktu yang sangat singkat. Ulangi setiap instruksi setidaknya sekali seperti sebelumnya, kontraksikan setiap kelompok otot selama lima hingga tujuh detik dan kemudian rileks selama 20 hingga 30 detik.
Kebanyakan orang kurang berhasil ketika mereka memulai relaksasi otot yang dalam, tapi ini hanyalah masalah latihan.
TERAPI BERSYUKUR
Pengertian Bersyukur
Menurut Seligman dan Peterson (2004) menjelaskan bahwa rasa syukur adalah mengakui dan mensyukuri hal-hal baik yang telah terjadi. Bertocci dan Millard, Solomon, dalam Emmons dan McCullough (2003) mendefinisikan rasa syukur sebagai kesediaan untuk mengakui nilai tambah yang mungkin tidak dapat diwujudkan dari pengalaman hidup seseorang tanpa membandingkan apa yang telah dicapai orang lain dengan dirinya sendiri. Rasa syukur timbul karena adanya penghayatan ketika seseorang menerima suatu pemberian, dan adanya penghayatan terhadap nilai pemberian itu.
Peterson dan Seligman (2004) mengartikan syukur sebagai perasaan bersyukur dan bahagia sebagai tanggapan atas penerimaan suatu anugerah, baik anugerah itu berupa manfaat nyata yang diberikan orang lain maupun momen kedamaian yang ditimbulkan oleh keindahan alam. Singkatnya, orang yang bersyukur adalah orang yang menerima anugerah dan penghargaan serta menyadari nilai dari anugerah itu. Syukur diartikan sebagai perasaan bersyukur dan bahagia sebagai respon menerima suatu pemberian, terlepas dari apakah pemberian tersebut merupakan manfaat nyata yang diberikan orang lain atau merupakan momen kedamaian yang dibawa oleh keindahan alam (Peterson dan Seligman, 2004).
Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa syukur adalah kesediaan untuk mengakui nilai tambah, perasaan bersyukur dan bahagia dalam menyikapi penerimaan pemberian, baik dari orang lain maupun yang diterima dari Tuhan.
Komponen Bersyukur
Jenis Bersyukur
88 empati (Emmons dan McCullough, 2003) karena diprediksi sebagai kemampuan untuk mengenali manfaat tindakan dalam kehidupan seseorang. Rasa syukur juga merupakan akar dari sifat dasar masyarakat Asia Timur yang memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Setiap hari, seseorang yang berterima kasih kepada seseorang atas sesuatu merasa layak diberi penghargaan (misalnya, berterima kasih kepada petugas kebersihan yang telah membersihkan aula).
Rasa syukur transpersonal atau rasa syukur spiritual merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, kepada kekuatan yang lebih tinggi, atau kepada dunia. Kedua, ketika dihadapkan pada hasil positif yang tidak dapat dikaitkan dengan upaya manusia yang disengaja, seperti mencintai matahari terbenam atau anugerah pemandangan, orang yang spiritual cenderung masih dapat mengaitkan hasil positif tersebut dengan orang atau lingkungan alam. Ketiga, orang yang spiritual cenderung mengaitkan hasil positif dengan campur tangan Tuhan, dan menghasilkan hasil negatif (Emmons dan McCullough, 2003).
Individu yang bersyukur lebih cenderung percaya pada keterhubungan semua kehidupan, serta ikatan dan tanggung jawab mereka terhadap orang lain.
Teknik Bersyukur