MENCEGAH KONFLIK PASCA PEMILU
Bagi negara yang menyatakan bahwa negaranya merupakan negara yang menjujung tinggi nilai demokrasi, maka masa pemilihan umum (pemilu) merupakan ajang politik yang selalu dinanti-nantikan serta memberikan dampak yang signifikan. Masa pemilu merupakan masa dimana suatu negara menentukan nasib negara tersebut dalam beberapa waktu tertentu kedepan. Masa pemilu sendiripun terjadi di Indonesia. Bahkan beberapa menyebutkan bahwa masa pemilu di Indonesia merupakan masa dimana rakyat “berpesta”
secara politik, yang mana rakyat memainkan peran pentingnya dalam menentukan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia selama beberapa tahun kedepan. Itu sebabnya, masa pemilu memiliki dampak yang besar.
Berbicara mengenai pemilu di Indonesia sendiri, tak jarang juga dibarengi dengan dampak negatif. Dampak negatif yang terjadi selama masa pemilu salah satunya adalah terjadi perselisihan ditengah-tengah masyarakat. Perselisihan ini sendiri muncul atas dasar adanya perbedaan pandangan pada masa pemilu berlangsung. Perselisihan tersebut lantas dapat berubah menjadi suatu konflik. Tak jarang konflik tersebut dapat terjadi dengan jangka waktu melebihi masa pemilu serta bergeser menjadi suatu tindak pidana. Jika sudah terjadi demikian, maka hal tersebut juga dapat memicu terjadinya perpecahan ditengah-tengah masyarakat. Ini juga diperparah dengan adanya fenomena polarisasi ditengah-tengah masyarakat yang kemudia digunakan oleh oknum tertentu guna menguntungkan posisinya selama masa pemilu berlangsung.
Di Indonesia sendiri, fenomena tersebut mulai dapat dilihat sejak masa Pilpres Tahun 2014. Adanya pihak-pihak yang memiliki pandangan politik yang berbeda menjadi pemicu pertama konflik selama masa pemilu. Konflik tersebut kemudia diperparah melalui penyebaran berita bohong selama masa pemilu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Penyebaran-penyebaran berita bohong maupun ujaran kebencian menjadi efektif mengingat masih rendahnya kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengidentifikasi suatu berita bohong. Inilah kemudian menimbulkan konflik yang tak jarang melebar ke ranah tindak pidana.
Fenomena tersebut kemudian terjadi kembali pada masa pemilu lainnya di Indonesia, diantara selama Pilgub DKI Jakarta Tahun 2016 dan Pilpres Tahun 2019, dimana terdapat kasus terjadinya tindak pidana yang didasari atas konflik selama masa pemilu. Adanya fakta- fakta tersebut, barang tentu menjadi catatan buruk selama penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Tentu beberapa diantara kita tidak mau masa pemilu di Indonesia menjadi masa untuk memecahkan masyarakat di Indonesia. Oleh karenanya, diperlukan suatu upaya dalam hal mencegah peristiwa tersebut agar tidak terulang lagi atau setidaknya diminimalisir pada masa pemilu yang akan datang di Indonesia.
Berbicara soal upaya pencegahan konflik, maka ada satu ilmu yang dapat digunakan.
Ilmu tersebut adalah kriminologi. Sekalipun kriminologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kejahatan, ilmu ini dapat digunakan dalam hal mencegah konflik. Hal ini mengingat bahwa dalam teori kriminologi, suatu kejahatan dapat terjadi akibat adanya suatu konflik.
Mengingat konflik yang dibahas adalah konflik pada masa pemilu di Indonesia, maka alangkah lebih baik jika konflik tersebut dicegah dengan pendekatan kriminologi yang a la Indonesia. Pendekatan kriminologi yang dimaksud adalah pendekatan sobural. Adalah Jacobus E. Sahetapy yang pertama kali menggagas pendekatan ini. Pendekatan sobural (sosial, nilai budaya, dan faktor struktural) sendiri mencoba untuk menggunakan perspektif budaya dan norma yang sesuai dengan masyarakat Indonesia dalam menganalisis suatu perilaku dapat dinyatakan menyimpang. Sehingga alangkah lebih baik jikalau pendekatan ini digunakan dalam menjawab pertanyaan mengenai upaya mencegah dan meminimalisir konflik selama masa pemilu di Indonesia.
Mengenai konflik selama masa pemilu di Indonesia, seperti dijelaskan sebelumnya, konflik selama masa pemilu didasari adanya perbedaan dalam pandangan maupun pilihan politik. Tentunya perbedaan ini sendiri tercipta dengan nilai-nilai yang dianut seseorang maupun sebuah kelompok. Mengingat terjadinya perbedaan atas tersebut, maka potensi terjadinya konflik pun muncul. Oleh karenanya, berdasarkan pendekatan sobural, konflik tersebut pun dapat dicegah dengan nilai yang sama, yaitu nilai-nilai yang ada masyarakat itu sendiri. Adapun pendekatan nilai yang digunakan adalah pendekatan bahwasanya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, sehingga adanya perbedaan pandangan yang disebabkan adanya nilai yang berbeda merupakan hal yang lumrah, termasuk saat masa pemilu. Pendekatan ini sejatinya dapat diintegrasikan oleh para pihak
berkepentingan (KPU, Bawaslu, Polri, dsb.) dalam hal persiapan penyelenggaraan pemilu.
Adapun salah satu caranya ialah membawa pendekatan ini pada masa sosialisasi sebelum dan saat pelaksanaan pemilu. Bahkan sosialisasi dengan menerapkan pendekatan sobural alangkah lebih baik jika dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelum memasuki masa pemilu.
Sehingga upaya pencegahan terjadinya konflik telah dilakukan, setidaknya dalam hal meminimalisir terjadinya konflik. Namun perlu menjadi catatan
Sesuai UUD 1945 pasal 30 ayat (2) “Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan kemaman rakyat semesta oleh TNI dan Polri sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukung”. Artinya, Sishankamrata diyakini sebagai doktrin pertahanan negara yang akan memenangkan bangsa Indonesia dalam menghadapi perang/ancaman. Doktrin Kartika Eka Paksi (KEP) merupakan penerapan Sishanta TNI AD untuk mendukung undang-undang di atas dengan pemberdayaan wilayah pertahanan melalui kegiatan Binter sebagai fungsi utama mendukung tugas pokok TNI AD. Implementasi tugas pokok tersebut merupakan penjabaran Sishanta yang bertujuan menciptakan ruang alat kondisi juang yang tangguh, menciptakan pertahanan Negara secara dini dan manunggal dengan rakyat. Amanat dalam UU No 34 TA 2004 pasal 2 huruf a, “Tentara rakyat yaitu tentara yang anggotanya berasal dari warga negara indonesia”. Artinya jati diri TNI sebagai tentara rakyat, tentara rakyat yang di maksud sebagai prajurit berasal dari rakyat, di bentuk oleh rakyat, dan digunakan kekuatannya untuk kepentingan rakyat.
Tugas pokok mengisyaratkan kebutuhan yang sejalan dengan salah satu jati diri prajurit TNI AD, yaitu Tentara/Prajurit yang profesional. Profesionalisme TNI dalam UU dijelaskan bahwa: Tentara Profesional adalah tentara yang mahir menggunakan peralatan militer, mahir bergerak, dan mahir menggunakan alat tempur, serta mampu melaksanakan tugas secara terukur dan memenuhi nilai-nilai akuntabilitas. Profesionalisme Aparat Komando Kewilayahan (Apkowil) TNI AD adalah kemampuan untuk menyelengarakan perencanaan, pengembangan, pengerahan dan pengendalian potensi wilayah pertahanan dengan segenap aspeknya untuk dikelola menjadi kekuatan sebagai ruang, alat dan kondisi (RAK) juang yang tangguh untuk kepentingan pertahanan negara di darat. Pemberdayaan wilayah nasional merupakan upaya nasional yang melibatkan seluruh potensi dan kekuatan nasional dengan harapan dapat mencegah segala bentuk ancaman, gejolak/konflik keamanan yang kemungkinan timbul termasuk ancaman yang mungkin akan timbul pada pelaksanaan Pemilu TA 2024, krisis dampak perdagangan global, terorisme, separatis, degradasi nasionalisme, narkoba, berkembangnya komunis gaya baru (KGB) dan
peyelesaian batas wilayah dan juga dalam penanganan Konflik Sosial alam. Untuk itu pelibatan Apkowil TNI AD harus dibangun melalui sinergitas dengan aparat negara lainnya yang terkait yakni TNI, Polri dan Pemda. Kegiatan ini merupakan kegiatan gabungan dan sangat penting mengingat akan terdapat paduan unsur atau kegiatan gabungan dan kerjasama yang dilakukan guna mendapatkan pemikiran yang lebih baik dan profesional, guna mendapatkan hasil yang lebih maksimal untuk mencapai tujuan tercapainya tugas pokok TNI AD.
Pada tanggal tahun 2024 Pemilihan Legislatif (Pileg, Pemilihan Dewan Perawkilan Daerah (DPD RI) dan Pemilihan Presiden. (Pilpres) yang telah digelar serentak pada tanggal 14 Februari 2024. Kerja besar bangsa ini pada 2018 mengundang berbagai tantangan besar untuk dikelola secara baik agar semuanya berjalan lancar, aman, dan damai. Salah satunya tantangan besar itu adalah soal potensi kerawanan atau permasalahan yang bila tidak diantisipasi secara maksimal bisa saja meluas menjadi konflik berkepanjangan yang pada gilirannya dapat mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia secara keseluruhan.
Khusus untuk Pilpres dan Wapres 2024, bangsa Indonesia telah memiliki moment yang strategis yang keseluruhannya relatif berjalan aman dan lancar. Sementara untuk pemilu serentak memilih Presiden/Wakil Presiden, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, merupakan pengalaman pertama. Intinya adalah dua agenda besar bangsa Indonesia dalam tahun politik mendatang membawa risiko besar juga sehingga perlu diantisiapasi secara dini.
Terkait Pelimu serentak TA 2024, perlu diintensifkan pemetaan potensi konflik yang mungkin terjadi. Setiap potensi permasalahan dalam pemilu, harus sejak dini dicermati.
Deteksi dini atas persoalan lainnya menyangkut sejumlah daerah yang tingkat kerawanannya tinggi, seperti di Papua selain soal luas wilayahnya, pengamanan, tantangan kondisi geografis, tingginya aktivitas distribusi logistik dan cakupan wilayah kerja penyelenggara pemilu TA 2019. Rujukan indeks kerawanan Pemilu menjadi salah satu parameter dalam mewaspadai daerah yang rawan gangguan, kelompok separatis, dan rawan konflik. Persoalan berikutnya tentang area risiko, seperti faktor gangguan alam seperti gempa, banjir, dan sebagainya.
Sedangkan faktor gangguan keamanan seperti terorisme, separatisme, radikalisme, unjuk rasa, dan konflik komunal, juga perlu dideteksi. Hal lain yang harus dicermati terkait risiko yang potensi muncul dalam pada tahapan kampanye yaituterkait protes parpol kepada KPU, kemungkinan terjadinya bentrok atau kerusuhan massa. Perusakan pembakaran alat peraga. kampanye yang bersifat ujaran kebencian, SARA, hingga merusak persatuan dan kesatuan. Di masa tenang, risiko politik uang ataukampanye hitam, sabotase, ancaman penculikan, boikot pilkada dan kampanye golput. Saat pemungutan suara, risiko yang harus diantisipasi adalah politik uang dan sembako menjelang pencoblosan. Proses pemungutan yang diikuti dengan keributan atau kerusuhan di tempat pemungutan suara. Ancaman terorisme, sabotase, pengrusakan dan pembakaran. Pada tahap penghitungan dan rekap, protes dan kerusuhan, manipulasi, dan penggelembungan hasil, mengulur-ulur waktu penghitungan suara. Hingga pada penetapan hasil juga berpotensi menyebabkan sengketa hasil pemilu. Satu upaya penting dalam menyelenggarakan pemilu agar berjalan aman dan lancar. Dalam menyukseskan pelaksanaan Pemilu 2019 tersebut dibutuhkan peran semua komponen bangsa khususnya dalam rangka mengantisipasi kerawanan atau potensi gangguan keamanan dan ketertiban umum yang kemungkinan akan timbul. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah persiapan dan koordinasi yang intensif antara aparat Komando Kewilayahan dengan pihak Pemerintah Daerah, Kepolisian serta pihak-pihak terkait lainnya sebagai antisipasi terhadap berbagai kemungkinan ancaman yang akan menggagalkan penyelenggaraan Pemilu TA 2024.
Maksud penulisan ini adalah memberikan gambaran tentang partisipasi tokoh masyarakat terhadap satuan Tni Ad Dalam Mencegah Konflik Pasca Pemilu dengan tujuan sebagai bahan masukkan kepada pimpinan dalam menentukan kebijakan tentang tugas yang dilaksanakan di Wilayah Rawan Konflik, sedangkan ruang lingkup tulisan ini dibatasi pada peran Satuan Komando Kewilayahan dalam tugas membantu Pemerintah dalam upaya mengantisipasi dan penanganan permasalahan konflik Setelah Pemilu TA 2024 di daerah sehingga dapat dicapai nilai guna yaitu terwujudnya tugas pokok TNI AD melalui Operasi Militer Selain Perang sesuai Permenhan RI nomor 13 tahun 2016 tentang bantuan penggunaan dan pengarahan kekuatan TNI dalam penanganan konflik sosial.
Bangsa Indonesia sudah mencatat sejarah pada 14 Februari 2024 sebagai hari berlangsungnya Pilpres dan Wapres 2024. Kegiatan diselenggarakan dalam rangka memilih kepala daerah di 9 provinsi, 36 kota, dan 224 kabupaten. Hajat demokrasi yang menelan biaya yang cukup besar diharapkan menghasilkan pemimpin daerah yang demokratis secara aman dan damai. Pilpres dan Wapres 2024 akan melibatkan banyak pihak dan banyak kepentingan. Jika kepentingan tidak terakomodasi dan tidak tersalurkan maka kekecewaan akan muncul. Reaksi menanggapi kekecewaan bermacam-macam, tergantung kedewasaan masing-masing orang. Namun jika sudah menyangkut kekecewaan politik, maka reaksinya akan sulit diduga. Pemerintah selaku penyelenggara Pilpres dan Wapres 2024 wajib melakukan pemetaan potensi konflik di daerahnya masing-masing. Hasil dari pemetaan ini akan membantu pemerintah dan aparat keamanan untuk mencegah konflik, menanggulangi konflik, atau melakukan penanganan paska konflik. Dalam menyelenggarakan pilkada pada tahun 2024 ini, pemerintah dan aparat kemananan disarankan untuk melakukan pemetaan konflik dengan pendekatan intelijen. Pendekatan intelijen dilakukan karena analisis intelijen mampu menghasilkan informasi yang disajikan dalam suatu sistem deteksi dini dan peringatan dini sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Potensi konflik yang terdeteksi dapat menjadi suatu peringatan kepada pemerintah untuk segera melakukan penanganan guna mencegah konflik terjadi. Kesiapsiagaan dalam tanggap darurat saat konflik akan sangat berguna mencegah konflik meluas dan mencegah adanya korban. Perencanaan pemulihan jika terjadi konflik akan mencegah konflik terulang dan perdamaian dapat segera tercipta kembali.
Pemetaan Konflik. Pemerintah melalui aparat intelijennya perlu mewaspadai daerah dengan karakteristik tertentu yang cenderung berpotensi konflik. Daerah dengan potensi konflik yang patut diwaspadai adalah daerah dengan karakteristik di bawah ini. Pertama adalah daerah yang pada pemilu sebelumnya pernah terjadi konflik. Karakteristik sumbu pendek, atau mudah meledak jika terjadi gesekan, biasanya akan terjadi berulang.
Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus kepada daerah yang masyarakatnya pernah mengalami konflik pemilu/pilkada. Selain karena karakteristik sumbu pendek, maka bibit-bibit dendam atas konflik lama bisa terjadi dilampiaskan pada Pilpres dan Wapres 2024 kali ini.
Kedua adalah daerah yang terdapat calon kepala daerah dari kaum minoritas atau bukan dari penduduk asli. Kepala daerah dari kaum minoritas atau penduduk asli jika menang bisa menyulut kebencian atau sentimen kelompok yang merasa sebagai mayoritas atau putra daerah. Isu minoritas dan pendatang akan mudah dihembuskan menjadi kebencian dan konflik.
Ketiga adalah daerah yang kemungkinan calon petahananya kalah. Calon kepala daerah petahanan mempunyai kekuatan dalam struktural pemerintah dan loyalis di masyarakat. Jika kalah maka dengan mudah calon kepala daerah akan menggerakkan kekuatan untuk melakukan aksi sebagai wujud kekecewaannya.
Dari daerah-daerah yang berpotensi konflik di atas, maka dapat disusun analisis risiko konflik. Setiap daerah menghitung kekuatan massa yang berpotensi melakukan konflik, identifikasi juga perlu dilakukan terhadap pihak-pihak luar yang mempunyai kepentingan tertentu. Jika potensi ancaman dapat diidentifikasi dan dinilai risikonya maka pemerintah dapat menyusun rencana untuk pencegahan, penanganan, dan pemulihan konflik sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah di Wilayah.
Sebenarnya cara yang tepat untuk mencegah terjadinya konflik sosial di masyarakat adalah dengan hidup bertoleransi dan saling menghormati satu sama lain. Apalagi Indonesia merupakan negara multikultural, di mana masyarakatnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Peranan Tokoh Masyarakat Terhadap Satuan TNI dalam penanganan permasalahan Konflik Pilkada 2024 ini sangat penting, mengingat sistem organisasi yang dimiliki TNI terstruktur dengan baik. Sebenarnya yang terjadi adalah Kodim sebagai alat negara dalam setiap melaksanakan tugasnya harus melalui prosedur yang berlaku. Hal ini tentu saja berbeda dengan elemen masyarakat umum yang spontanitas dapat langsung turun ke lapangan sesaat setelah Konflik Sosial terjadi. TNI adalah salah satu contoh penanganan secara formal, sedangkan Ormas, LSM, Parpol dan masyarakat umum adalah contoh penanganan konflik secara spontan. Namun demikian, memang dirasakan masih perlu adanya upaya untuk mengoptimalkan kesiapan TNI dalam penanganan dan upaya yg lebih optimal dalam konflik pilkada khususnya aspek organisasi, personel dan materiil sehingga semakin mendekatkan diri dan menciptakan citra yang positif terhadap setiap masyarakat Indonesia.
Dalam penanganan berbagai persoalan, hendaknya masyarakat tetap dalam koridor hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan yang tidak kalah penting selalu mengedepankan sikap toleransi antar individu dengan kelompok masyarakat.
Penyadaran masyarakat untuk selalu mengamalkan Ideologi Pancasila yang didalamnya terkandung sifat keimanan dan ketaqwaan, kerukunan hidup yang berperikemanusiaan, azas
musyawarah/ mufakat dan keadilan sosial dan juga selalu mengimplementasikan 4 Pilar kebangsaan.
Sesuai dengan Permenhan RI nomor 13 tahun 2016 tentang bantuan penggunaan dan pengarahan kekuatan TNI dalam penanganan konflik sosial dalam hal ini Kodim mempunyai tugas membantu pemerintah daerah dalam penanganan dan upaya mengantisipasi Konflik sosial dalam palaksanaan Pilkada di wilayah mulai dari tahap Pra- Konflik,Tahap Saat terjadi Konflik maupun pada tahap pasca Konflik. Dalam peningkatan peran satuan komando kewilayahan dalam Penanganan Konflik Sosial Pilkada alam di wilayah, kemampuan satuan komando kewilayahan khususnya 5 (lima) kemampuan teritorial harus dimaksimalkan meliputi : Pertama, Kemampuan temu cepat dan lapor cepat; Kedua, Kemampuan manajemen teritorial; Ketiga, Kemampuan penguasaan wilayah; Keempat, Kemampuan perlawanan rakyat; Kelima, Kemampuan Komunikasi Sosial.
Kemudian satuan komando kewilayahan dalam hal ini Kodim juga harus memaksimalkan perannya dalam hal melakukan koordinasi lintas sektoral dengan instansi terkait agar didapat kesamaan tujuan dan tindakan dalam penanganan Konflik sosial di daerah. Koordinasi lintas sektoral yang dilakukan meliputi hal-hal yang berhubungan dalam kegiatan konflik pilkada di wilayah antara lain; Pertama, Validitas organisasi di daerah;
Kedua, Kesiapan anggaran penanggulangan Konflik Pilkada; Ketiga, Kesiapan sarana dan prasarana; Keempat, kesiapan prosedur tetap penanganan Konflik Pilkada di Wilayah;
Kelima, Pelaksanaan latihan dan uji siap penanganan dan upaya mengatasi Konflik Pilkada di Wilayah.
Peningkatan peran satuan komando kewilayahan dalam hal ini Kodim juga harus dioptimalkan pada manajemen Konflik Sosial mulai dari tahap Pra-Konflik,Tahap Saat terjadi Konflik maupun pada tahap pasca Konflik karena kenyataan yang sering terjadi saat ini bahwa Kodim cenderung bertindak reaktif bukan antisipatif, hampir sama dengan pemadam kebakaran apabila ada suatu kejadian kebakaran di suatu tempat baru bergerak kesana untuk memadamkannya. Demikian juga dengan peran Kodim dalam penanganan Konflik Pilkada di Wilayah harus bersifat proaktif/antisipatif agar Konfil Pilkada dapat diminimalisir dalam hal kerugian personel dan materil maupun kerusakan infrastruktur.
Optimalisasi peran Kodim dalam tahap Pra-Konflik Sosial antara lain : Pertama, Pembentukan Satuan Tugas Pasukan Reaksi Cepat Penanganan Konflik Pilkada (PRCKP) daerah ditindaklanjuti dengan pembekalan/sosialisasi kepada seluruh personel satgas dilanjutkan latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut tentang prosedur tetap penanganan Konflik Pilkada; Kedua, Validasi data-data daerah/peta rawan Konflik sesuai situasi dan kondisi terakhir wilayah; Ketiga, Penyiapan rute evakuasi; Keempat, Penyiapan sarana dan prasarana Penanganan Konflik Sosial Pilkada berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya; Kelima, Mengkoordinasikan dengan pemerintah daerah tentang kebutuhan anggaran dalam pelaksanaan Penanganan Konflik Sosial Pilkada alam;Keenam, Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk antisipasi terjadinya Konflik Pilkada.
Optimalisasi peran satuan komando kewilayahan pada tahap tanggap darurat saat terjadinya Konflik Sosial antara lain : Pertama, Membantu pemerintah daerah dalam mengarahkan Pasukan Reaksi Cepat Penanganan Konflik Sosial Pilkada agar segera bergerak ke lokasi terjadinya Konflik Sosial; Kedua, Membantu Pemerintah Daerah dalam penentuan titik bekal dan titik distribusi di wilayah saat terjadinya Konflik Sosial; Ketiga, Membantu pemerintah daerah dalam gelar seluruh sistem komunikasi pada saat terjadinya Konflik Sosial; Keempat, Membantu pemerintah daerah dalam menentukan titik bekal dan titik distribusi; Kelima, Menentukan kedudukan pos komando utama dan pos komando taktis disekitar lokasi terjadinya Konflik Sosial; Keenam, Membantu pemerintah daerah dalam penyaluran bantuan logistik baik makanan, baju, dan obat-obatan kepada korban Konflik Sosial; Ketujuh, Membantu pemerintah daerah dalam pendataan kerugian baik personel maupun materil serta infrastruktur daerah sebagai data yang valid; Kedelapan, Membantu pemerintah daerah dalam pelaksanaan evakuasi dan relokasi pengungsi ke tempat atau tenda-tenda darurat yang telah disiapkan; Kesembilan, Membantu pemerintah daerah melakukan pencarian korban Konflik Sosial alam di sekitar lokasi terjadinya Konflik Sosial;
Kesepuluh, Mengerahkan seluruh potensi wilayah dan seluruh komponen masyarakat untuk ambil bagian ikut membantu dalam kegiatan tanggap darurat saat terjadinya Konflik Sosial alam; Kesebelas, Melakukan pengamanan terhadap kemungkinan-kemungkinan penyalahgunaan wewenang dalam penyaluran bantuan bagi korban Konflik Sosial.
Antisipasi Konflik Pemerintah diyakini sudah mempunyai strategi untuk mengantisipasi konflik yang terjadi selama proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2024. Jaminan pengerahan kekuatan dari POLRI dan TNI masih belum cukup.
Perlu perencanaan yang matang mulai dari pencegahan konflik, persiapan jika terjadi konflik, perencanaan tanggap darurat saat terjadi konflik, dan rencana pemulihan pasca konflik.
Pencegahan konflik dapat dilakukan oleh institusi intelijen melalui penyelidikan dan analisis situasi yang menghasilkan sistem deteksi dini dan peringatan dini untuk disajikan kepada pemerintah terutama aparat keamanan. Konflik biasanya tidak datang tiba-tiba. Banyak konflik yang terjadi karena “by design”. Intelijen menjadi garda terdepan dalam fase pencegahan konflik ini untuk menyajikan informasi yang akurat kepada pemerintah/aparat keamanan. Jika diperlukan pemerintah/aparat keamanan dapat menugaskan tim intelijen untuk melakukan pendekatan kepada kelompok-kelompok yang berpotensi sebagai pelaku konflik. Inti dari tahap pencegahan adalah pemerintah mempunyai sistem deteksi dini dan peringatan dini terhadap ancaman konflik dan segera melakukan tindakan supaya konflik tersebut tidak terjadi. Persiapan jika terjadi konflik harus dilakukan oleh pemerintah dan aparat keamanan. Skenario penanganan konflik seperti pengendalian huru hara, evakuasi dan kegiatan lain dapat dilatih dan disimulasikan. Ada atau tidak ada potensi konflik, semua penyelenggara Pilpres dan Wapres 2019 harus menyiapkan skenario penanganan konflik.
Jika konflik benar-benar terjadi maka dalam situasi konflik/darurat pemerintah harus tetap dapat mengendalikan situasi. Skenario situasi darurat harus disiapkan untuk mengantisipasi adanya pihak-pihak yang sengaja menginginkan situasi darurat terjadi guna menguntungkan tujuannya sendiri.
Tahap terakhir adalah pemerintah mempunyai perencanaan untuk fase pemulihan jika terjadi konflik. Konflik massa sering kali menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.
Jika hal ini terjadi maka akan muncul kekecewaan, sakit hati, dan kebencian bagi pihak yang menjadi korban dan mengalami kerugian. Skenario pemulihan korban dan keluarganya termasuk orang yang mengalami kerugian harus disiapkan untuk mencegah konflik lanjutan sebagai balas dendam. Fase pemulihan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan, tetapi juga menjadi tanggung jawab calon kepala daerah dan partai politik pengusungnya, baik yang menang maupun yang kalah. Pemulihan konflik juga harus melibatkan segenap lapisan masyarakat sehingga tidak ada yang merasa ditinggalkan atau diabaikan.
Sengketa Pemilu sebagai salah satu objek yang dianalisa. Untuk itu perlu dipahami mengenai konsep dan definisi “sengketa pemilu” itu sendiri. Kata sengketa pemilu apabila dilihat secara etimologis dapat dilihat dari istilah sengketa (dispute). Sengketa tersebut merupakan implikasi dari timbulnya permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pemilu.
Permasalahan Pemilu di Indonesia diantaranya meliputi (1) pelanggaran pidana dan administrasi Pemilu; dan (2) perselisihan hasil perolehan suara. Penyelesaian perselisihan hasil pemilu diatur dalam Pasal 24C UUD 1945 dan Pasal 10 UU MK. Dalam praktiknya, kewenangan dalam menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan umum MK berkembang dari hanya sekedar mengkaji mengenai kuantitatif (baca: angka-angka hasil Pemilu) yang kemudian juga mempermasalahkan kualitatif
Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pemilu Mekanisme penyelesaian sengketa pemilihan umum atau Electoral Dispute Resolution (EDR) dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu melalui jalur formal dan informal.17 Artinya, EDR dapat berupa jalur prosedural yaitu melalui pengadilan atau semacam komisi bentukan khusus menangani masalah pemilihan umum atau melalui negosiasi. Mekanisme formal atau yang bersifat prosedural sebenarnya sangat penting dilakukan guna menjamin penyelesaian atas kendala-kendala yang potensial terjadi selama proses pemilu agar tetap tertangani sampai upaya terakhir.
Setidaknya, terdapat lima mekanisme penegakan hukum untuk penyelesaian sengketa pemilu, yaitu (1) pemeriksaan oleh badan penyelenggara pemilu dengan kemungkinan mengajukan banding ke institusi yang lebih tinggi; (2) pengadilan atau hakim khusus pemilu untuk menangani keberatan pemilu; (3) pengadilan umum yang menangani keberatan dengan kemungkinan dapat diajukan banding ke institusi yang lebih tinggi; (4) penyelesaian masalah pemilu diserahkan ke pengadilan konstitusional dan/atau peradilan konstitusional;
dan (5) penyelesaian masalah pemilihan oleh pengadilan tinggi.
Efektifitas Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pemilu Dalam menganalisis perbandingan mekanisme penyelesaian sengketa pemilu, penelitian ini juga akan melakukan analisa normatif terhadap mekanisme tersebut. Artinya penelitian dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap ketentuan-ketentuan konstitusi dan perundang-undangan yang mengatur mekanisme penyelesaian sengketa pemilu di beberapa negara yang menjadi objek penelitian.
Klasifikasi Sistem Penyelesaian Sengketa Pemilu Komponen utama dari sistem pemilu yang transparan dan adil adalah adanya proses penyelesaian sengketa pemilu.
Mekanisme ini penting untuk melindungi hak warga negara dan membantu menentukan apakah pemilu benar-benar merupakan cerminan dari kehendak warganya. Oleh karenanya, agar pemilu dapat dianggap kredibel, pemilih dan kontestan pemilu harus memiliki akses
pada mekanisme penyelesaian sengketa pemilu yang independen, adil, mudah diakses dan efektif. Penyelesaian Sengketa Pemilu oleh Lembaga Peradilan Sistem penyelesaian sengketa pemilu oleh lembaga peradilan dapat dibagi menjadi empat kategori berdasarkan lingkup kewenangan lembaga peradilannya. Peradilan Umum Sistem penyelesaian sengketa pemilu yang paling umum diterapkan adalah sistem yang mempercayakan upaya penyelesaian akhir sengketa pemilu kepada peradilan umum (general court). Upaya ini kerap juga melibatkan Mahkamah Agung di negara bersangkutan, baik melalui kewenangan langsungnya untuk mengeluarkan putusan. Dewan atau Mahkamah Konstitusi. Dengan dimasukkan dewan atau mahkamah konsitusi ke dalam sistem penyesaian sengketa pemilu, putusan tentang keabsahan proses pemilu dilakukan oleh badan yang memiliki yurisdiksi konstitusional eksplisit.
Sebuah penyelenggaraan pemilu dapat diterima keabsahannya (legitimasi) secara normatif adalah apabila telah mampu memenuhi kepastian dan keadilan prosedural.
Kepastian prosedural (procedural certainty) tidak hanya berarti konsistensi antara regulasi dengan aktualitasnya di lapangan, melainkan juga konsistensi di antara regulasi yang terkait di dalamnya arti penting kepastian prosedural ini sebagai upaya untuk melembagakan dan mereduksi tingkat ketidakpastian dalam kompetisi pemilu. Sedangkan keadilan prosedural (procedurally fair) mencakup inklusifitas terhadap pemilih di satu sisi serta persamaan perlakuan terhadap peserta, baik kandidat maupun partai politik peserta pemilu di lain sisi.
Senada dengan konseptualisasi tersebut mendudukkan 3 (tiga) prasyarat minimal capaian integritas untuk menyebut sebuah pemilu terpenuhi legitimasinya. Pertama, adalah integritas pada proses tahapan pemilu (administrasi pemilu). Kedua, integritas pada hasil pemilu.
Terakhir, integritas para penyelenggara pemilu. Ketiga prasyarat tersebut bagaimanapun saling berjalin berkelindan satu dengan yang lain. Keberadaan sekaligus kerja kelembagaan dua badan penyelenggara (KPU dan Bawaslu di berbagai tingkatan) karenanya secara sempit memiliki tanggung jawab utama untuk memenuhi ketiga prasyarat integritas dimaksud. Pencapaian terhadap salah satu syaratnya berkontribusi tak hanya mendukung pencapaian syarat yang lain, melainkan juga memberi efek berurutan (domino) terhadap pencapaian selanjutnya.
Upaya pencapaian integritas dimaksud dalam penyelenggaraan pemilu di Indonesia karenanya secara kelembagaan tidak hanya dibebankan pada pundak KPU sebagai lembaga penyelenggara teknis-administrasi. Melainkan juga menjadi bagian dari tanggung
jawab Bawaslu sebagai badan pengawas pemilu. Sekalipun porsinya satu sama lain tidak sama, akan tetapi bahwa keberadaan kedua badan ini dimaksudkan untuk mencapai muara yang sama, yakni penyelenggaraan pemilu yang berintegritas. Pemahaman ini penting untuk menyamakan persepsi dalam memahami kerja kelembagaan yang menjadi fokus dalam studi ini. Berdasarkan hasil temuan studi ini, dalam upaya penyelenggaraan Pemilu yang berintegritas, dinamika relasi dalam kerja kelembagaan antara KPU Kota Semarang dengan Panwas Kota Semarang berjalan pada dua kecenderungan. Pertama adalah pola relasi kolaborasi dan selanjutnya adalah pola relasi berkonflik. Dimana dalam studi ini pola relasi kolaborasi dimaknai bila kedua BPP dimaksud bekerja beriring dalam dimensi suatu dimensi (simetris) Sedangkan relasi berkonflik muncul bila masing-masing BPP bekerja dalam dimensi yang berbeda
Pilkada Serentak Aman dan Demokratis Indonesia sebagai negara yang mempunyai keragaman dan keunikan tentu tidak akan lepas dari adanya potensi konflik.
Konflik harus disadari sebagai suatu risiko dalam hajat demokrasi pilkada serentak. Kegiatan demokrasi yang akan memunculkan stigma kalah menang pasti mempunyai risiko tersebut.
Bagi elit politik, ketidakpuasan akan kekalahan bisa disalurkan melalui mekanisme hukum seperti mengajukan gugatan ke MK, jika cukup bukti. Namun bagi masyarakat terutama yang kesadaran demokrasinya masih rendah atau karena provokasi pihak yang tidak bertanggungjawab, kekerasan adalah model pelampiasan atas kekecewaan. Sistem deteksi dini dan peringatan dini, yang secara normatif seharusnya dilakukan oleh komunitas intelijen, harus dilakukan dan dikomunikasikan dengan pemerintah dan aparat keamanan.
Kerjasaman antar komunitas intelijen di daerah perlu dilakukan untuk saling melengkapi informasi dan bekerja sama dengan satu tujuan menciptakan pilkada serentak yang aman dan demokratis. Dengan kerjasama komunitas intelijen, pemerintah daerah, aparat keamanan, partai politik serta masyarakat maka akan dihasilkan suatu kewaspadaan dan kepedulian terhadap potensi konflik. Jika hal ini dapat terwujud tentu akan sangat membantu, terutama bagi daerah yang mempunyai karakteristik rawan konflik. Kerjasama yang erat, dilandasi dengan semangat demokrasi yang dewasa diharapkan dapat membawa pilkada 2024 yang telah dilaksanakan tetap aman dan kondusif.
Administrasi pemilu merupakan faktor penting dalam penyelenggaraan mekanisme demokrasi elektoral. Hal ini terutama dalam upaya mewujudkan kepastian prosedural (procedural certainty) yang mencakup juga jaminan atas kebebasan dan keberimbangan (free and fair) bagi siapapun yang terlibat secara konstitusional. Dalam sistem dan tata
kelola administrasi pemilu yang berakar pada model kelembagaan oleh dua badan penyelenggara yang bersifat independen (double independent framework), tantangan untuk mewujudkan kepastian prosedural ini memiliki potensi dan konsekuensi tersendiri. Terlebih dengan desain administrasi dan ikatan yang longgar sebagaimana diterapkan di Indonesia.
Longgarnya ikatan relasi sebagai konsekuensi tidak determinitifnya rekomendasi yang dikeluarkan oleh jajaran pengawas pemilu di satu sisi, serta tidak solidnya prasyarat material yang menjadi basis rekomendasi di sisi lain.
Sikap kooperatif aktor, terutama penyelenggara teknis-administrasi pemilu, pada gilirannya memainkan peran penting dalam meningkatkan performa dan kualitas penyelenggaraan administrasi pemilu itu sendiri. Sikap kooperatif aktor dalam hal ini dapat mewujud di antaranya pada keterbukaan dalam menjalin komunikasi antar pihak (baik secara formal kelembagaan maupun individual), kesediaan mengatasi berbagai ketidakefisienan birokrasi secara bersama, kesediaan membuka akses atau ruang partisipasi bagi pihak lain dalam mencari solusi atas masalah yang mengemuka, hingga yang paling
“rendah derajatnya” adalah dengan mendukung dan/atau bahkan memfasilitasi tugas serta fungsi pihak lain secara optimal. Sikap kooperatif ini bagaimanapun dapat menjadi pilihan strategi menejerial yang menentukan terutama dalam upaya mencegah serta menekan potensi timbulnya praktik pelanggaran baik berdasarkan upaya manipulasi ataupun keteledoran yang melibatkan penyelenggara (terutama oleh aktor di tingkat badan adhoc).
Sementara di sisi lain, hadirnya konflik sebagai konsekuensi yang muncul dari longgarnya ikatan relasi di antara kedua badan ini disebabkan oleh longgarnya syarat material yang menjadi basis rekomendasi badan pengawas pemilu dan terutama rekomendasi pengawas pemilu yang tidak bersifat mengikat (binding) dan terakhir (final).
Terkait tidak determinitifnya rekomendasi badan pengawas pemilu bagaimanapun merupakan konsekuensi atas desain kelembagaan pengawas pemilu hasil modifikasi (formalisasi) fungsi pemantauan pemilu (electoral observation)
Aspek Regulasi: Penguatan Kelembagaan Pengawas Pemilu
Longgarnya ikatan relasi di antara kedua badan ini disebabkan karena ketiadaan fungsi determinitif badan pengawas pemilu di Indonesia. Terutama bahwa kewenangan menerbitkan rekomendasi yang dimiliki badan pengawas tidak didukung oleh perangkat
otoritas yang solid, baik pra maupun pascarekomendasi diterbitkan. Dalam konteks kajian atas temuan ataupun laporan yang menjadi basis rekomendasi misalnya, badan pengawas tidak dibekali kewenangan mengumpulkan barang bukti.
Konsekuensi selanjutnya adalah bahwa kedudukan barang bukti hanya bersifat sekunder (optional). Padahal keberadaan bukti-bukti material semestinya penting untuk menunjang isi rekomendasi yang solid. Selain tentunya persoalan sifat rekomendasi itu sendiri yang badan pengawas juga tidak bersifat mengikat apalagi akhir . Bagaimanapun situasi ini tidak bisa dipisahkan dari desain kelembagaan badan pengawas pemilu sendiri yang masih diletakkan sebagai “instrumen penunjang” dalam sistem tata kelola pemilu, bukan sebagai pemain utama. Pengadilan khusus pemilu sistem ini melibatkan pengadilan yang khusus menangani kasus terkait pemilu, baik yang menjadi bagian dari cabang kekuasaan kehakiman atau badan independen yang terpisah dari pemerintah. Pengadilan khusus pemilu merupakan badan yang independen dalam menjalankan fungsinya yang memiliki kewenangan membuat putusan akhir atas gugatan hasil pemilu. Pengadilan khusus pemilu putusannya dapat diajukan banding ke mahkamah agung, mahkamah konstitusi. Keputusan akhir atas gugatan pemilu berada di tangan pengadilan umum yang merupakan bagian dari cabang kekuasaan kehakiman atau di dewan atau mahkamah konstitusi.
Dari semua uraian diatas, penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut : Pertama, Penanganan Konflik Sosial Pilkada dimasukkan dalam program latihan satuan komando kewilayahan; Kedua, Dandim secara rutin mengkomunikasikan dengan pemerintah daerah tentang kesiapan sarana, prasarana dan anggaran serta mensosialisasikan dan mempelopori kegiatan antisipatif berupa latihan/uji siap Penanganan Konflik Sosial Pilkada alam berkoordinasi dengan unsur terkait lainnya.
Demikian essay tentang Partisipasi Tokoh Masyarakat Terhadap Satuan Tni Ad Dalam Mencegah Konflik Pasca Pemilu, semoga bermanfaat bagi setiap upaya perbaikan dan peningkatan Kodim menghadapi Konflik Sosial di masa yang akan datang. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu mohon
kritikan yang sifatnya membangun dari semua pihak demi perbaikan dalam penulisan selanjutnya.
Bantul, April 2024 Penulis
Suryadi
Mayor Cba Nrp 2920132730570
PERAN KODIM SAAT INI
PENANGANAN KONFLIK DI
WILAYAH
PERAN KODIM YANG OPTIMAL
PROSES -UU NO 34 TAHUN 2004 -PERMENHAN RI NO 13 TAHUN 2016
-UU NO 07 TAHUN 2012
- KEMAMPUAN KODIM - KOORDINASI LINTAS
SEKTORAL
- MANAJEMEN KONFLIK SOSIAL DI WILAYAH
DALAM MENCEGAH KONFLIK PASCA PEMILU
Oleh :
Suryadi
Mayor Cba Nrp 2920132730570
Bantul, April 2024