Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Disertasi ini saya persembahkan dan saya persembahkan kepada orang-orang yang paling berarti bagi saya di alam semesta ini. Teman-teman FTIK PAI A9 angkatan 2015 yang berjuang bersama selama kuliah, melalui setiap proses diskusi, penulisan makalah dan kebersamaan lainnya yang tidak boleh dilupakan.
Demikian kata pengantar, semoga skripsi ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam kajian dan pembahasan serta menambah referensi bagi yang memerlukan, Aamiin ya rabbal alamin. Untuk itu, bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam Madinah dapat diimplementasikan dan dikembalikan pentingnya dalam Pendidikan Nasional? Sumber data dalam penelitian kepustakaan ada dua, yaitu sumber data primer dan sekunder, sumber data sekunder berupa buku, jurnal dan lain-lain.
Setelah data terkumpul, peneliti menganalisis seluruh materi dari sumber data primer dan sekunder untuk dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Terdapat tiga nilai pendidikan multikultural dalam Piagam Madinah, yaitu demokrasi, pengakuan hak asasi manusia, dan pluralisme.
LATAR BELAKANG
Piagam Madinah merupakan dokumen yang cukup tua, baik dalam sejarah konstitusi dunia maupun dalam sejarah peradaban Islam. Keaslian gagasan dan gagasan pendidikan multikultural yang terkandung dalam Piagam Madinah membuat banyak pemikir dan cendekiawan, khususnya para intelektual Muslim, Barat, dan Indonesia, tertarik untuk mengkajinya. Ketertarikan ini muncul dari asumsi bahwa Piagam Madinah mengandung pemikiran dan gagasan tersembunyi, yang merupakan kunci keberhasilan dakwah dan kebijakan Islam Nabi Muhammad SAW.
Nilai-nilai pendidikan multikultural yang terkandung dalam Piagam Madinah sangat-sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia, sebagaimana diketahui bahwa salah satu unsur terpenting dalam Piagam Madinah adalah terbentuknya masyarakat majemuk yang mampu hidup berdampingan. berdampingan meskipun berbeda. Namun setelah Piagam Madinah dideklarasikan, rasisme antar suku mulai menurun, digantikan dengan sikap toleransi dan tenggang rasa antar sesama warga Madinah. Atas dasar itulah kajian piagam Madinah dalam perspektif pendidikan multikultural yang diterapkan Rasulullah SAW sangat mendesak untuk merebut kembali pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara4 terlebih lagi.
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan di atas, maka dalam penelitian ini peneliti akan menguraikan nilai-nilai pendidikan multikultural dalam Piagam Madinah kemudian mengambil dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam pendidikan nasional. Judul penelitian ini adalah 'Implementasi nilai-nilai pendidikan dalam perspektif Piagam Medina dalam Pendidikan Nasional'.
FOKUS PENELITIAN
Hal ini harus kita akui dengan jujur, menerimanya dengan lapang dada, menyerapnya dengan kesadaran penuh, menyikapinya dengan hati-hati, dan juga penuh kegembiraan, tidak menolaknya, mengingkarinya, mengabaikannya, menyesalinya, membiarkannya dan mengingkarinya begitu saja karena Pluralitas dan keberagaman rupanya telah melahirkan risiko-risiko negatif dan kritis yang berlebihan dan belakangan ini, termasuk benturan antar komunitas dan budaya lokal di berbagai tempat di Indonesia.12.
TUJUAN PENELITIAN
Manfaat Teoritis
Manfaat Praktis
Bagi masyarakat luas, peneliti berharap dapat memberikan wawasan masyarakat luas mengenai toleransi dan multikulturalisme dalam dunia pendidikan, serta memberikan dampak yang super positif bagi masyarakat umum.
DEFINISI ISTILAH
Artinya pendidikan multikultural berupaya menggali perbedaan sebagai sebuah keniscayaan (anugerah Tuhan/Sunnatullah), kemudian bagaimana menyikapi perbedaan tersebut dengan penuh toleransi dan semangat egaliter. Piagam Madinah merupakan perjanjian damai antara umat Islam (Muhajir dan Ansar) dengan penduduk lokal Madinah yang beragama Yahudi, Kristen dan penganut agama leluhurnya. Piagam Madinah memuat toleransi dalam hubungan antara umat Islam dengan sesama umat Islam dan non-Muslim, persatuan, kesetaraan, dll.
Sedangkan menurut Ali Bulac seperti dikutip Rahmad Asril Pohan, Piagam Madinah merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh Muhammad, kaum Yahudi dan kaum musyrik yang memberikan hak kepada umat Islam untuk menguasai kota Arab dan sekaligus hak-hak yang dilindungi. yang lain. golongan.. Sukardja Piagam Medina merupakan dokumen politik kehidupan bermasyarakat dan bernegara pada zaman Muhammad yang sarat dengan nilai-nilai transendental. Berdasarkan pengertian istilah di atas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pendidikan multikultural adalah suatu upaya sadar dan terencana yang dilakukan pendidik terhadap peserta didik untuk memperoleh pemahaman dan wawasan tentang keberagaman dan pluralitas agama, budaya, ras dan lain sebagainya untuk tujuan pendidikan. masa depan yang disediakan. memahami hal tersebut dan berimplikasi pada sikap toleransi, saling menghormati dan toleransi.
Sementara itu, peneliti Piagam Madinah menemukan bahwa Piagam Madinah merupakan kontrak sosial yang memuat kesepakatan. 16 Rahmad Asril Pohan, Toleransi Inklusif, Menelusuri Sejarah Kebebasan Beragama dalam Piagam Madinah (Yogyakarta: KAUKABA DIPANTARA.
Metode Penelitian
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Data dan sumber data
- Teknik Pengumpulan Data
- Metode Analisis Data
- Keabsahan data
Sedangkan sumber data menurut Sukaddar Rumidi mengatakan bahwa sumber data adalah segala keterangan baik itu mengenai suatu benda nyata, sesuatu yang abstrak, peristiwa/gejala baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.22. Pandangan umum adalah bahwa data kuantitatif adalah kategori data yang "terbaik" dan data kualitatif sering kali dinilai "tidak pasti". Dalam penelitian ini peneliti membagi sumber data menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari pengumpul data tentang objek penelitian 24 atau data yang diperoleh dari sumber pertama. Dalam penelitian ini sumber data primer yang digunakan peneliti adalah Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid pertama yang ditulis oleh Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri dan diterjemahkan oleh Fadhli Bahri, Lc. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat berupa teks, foto, angka, cerita, gambar, dan artefak. Data dikumpulkan menurut arah dan tujuan penelitian dan juga jika sumber data yaitu informan atau partisipan telah ada. diidentifikasi. 28.
Teknik pengumpulan datanya adalah dengan mengumpulkan seluruh data yang telah ditentukan baik dari sumber data primer maupun sumber data sekunder, kemudian menganalisisnya dan mengumpulkan lebih banyak teori atau pendapat dari tokoh-tokoh tentang piagam Madinah dan pendidikan multikultural. Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang diperoleh.
Sistematika Pembahasan
Pertama, Zuraidah Hafni, Fakultas Sastra, Program Studi Bahasa Arab Medan yang bertajuk “Piagam Madinah dari Perspektif Kebudayaan”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelusuri kembali apa yang melatarbelakangi terciptanya perjanjian yang mendamaikan dan mendamaikan masyarakat Madinah, demikian sebutan Piagam Madinah. Dimana Zuraidah Hafni mempelajari kebudayaan, sedangkan peneliti lebih fokus pada nilai pendidikan multikultural dalam Piagam Madinah. Kedua, Ibnu Adhi Prabowo, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Ygyakarta dengan judul “Konsep Multikultural Piagam Madinah dan Pentingnya Bagi Tujuan Pendidikan Islam”.
Sedangkan peneliti secara konseptual membahas nilai-nilai atau muatan multikultural yang ada dalam Piagam Madinah. Ketiga adalah tesis Ali Irasyad, Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul “Piagam Madinah dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Madinah”. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang peneliti uraikan di atas, maka kedudukan penelitian yang dilakukan peneliti sudah jelas mengenai fokus penelitian yaitu memasukkan nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam Medina ke dalam Pendidikan Nasional.
Mengingat penelitian dengan judul tersebut belum pernah dilakukan, sebagaimana penelitian-penelitian sebelumnya juga mempunyai fokus kajian tersendiri, seperti Ali Ersyad mengkaji Piagam Madinah dan pengaruhnya, Ibnu Adi Prabowo juga membatasi kajiannya pada konsep multikultural dan relevansinya dengan pendidikan Islam, sementara peneliti lebih berpihak pada penerapan pendidikan multikultural dalam pendidikan nasional. Dan yang terakhir, Zuraidah Hafni fokus pada Piagam Madinah dari sudut pandang budaya masyarakat Madinah.
Kajian Teori
Isi Piagam Madimah
ﻲﺑﻧﻟا بﺎﺗﻛ
ص ﻲﻧﺎﺛﻟا ءزﺟﻟا م .ص ﻲﺑﻧﻟا ةرﯾﺳ بﺎﺗﻛ نﻣ فطﺗﻘﻣ۱۱۹
۱۳۳ - دﻣﺣﻣ ﻲﺑأ) مﺎﺷھ نﺑﻻ
ﺔﻧﺳ ﻰﻓوﺗﻣﻟا (كﻠﻣﻟا دﺑﻋ۳۱٤
مﯾﺣرﻟا نﻣﺣرﻟا ﷲ مﺳﺑ
نﻣو برﺛﯾو شﯾرﻗ نﻣ نوﻣﻠﺳﻣﻟاو نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﻲﺑﻧﻟا دﻣﺣﻣ بﺎﺗﻛ اذھ ﺗ
مﮭﻌﻣ دھﺎﺟو مﮭﺑ قﺣﻠﻓ مﮭﻌﺑ
سﺎﻧﻟا نود نﻣ ةدﺣاو ﺔﻣأ مﮭﻧأ ۲
مﮭﯾﻧﺎﻋ نودﻔﯾ مھو ﺎﮭﺋﺎطﻋاو ﺔﯾدﻟا ذﺧأ مﮭﻧﯾﺑ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ شﯾرﻗ نﻣ نورﺟﺎﮭﻣﻟا .نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو فورﻌﻣﻟﺎﺑ
فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ فوﻋ وﻧﺑو ﻘﻟاو
نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳ
فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ ةدﻋﺎﺳ وﻧﺑو .نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو
فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ ثرﺣﻟا وﻧﺑو .نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو
مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ مﺷﺟ وﻧﺑو فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ
نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو ۷
فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ رﺎﺟﻧﻟا وﻧﺑو .نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو
ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ فوﻋ نﺑ ورﻣﻋ وﻧﺑو ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ
نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو فورﻌﻣﻟﺎﺑ ۹
فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ تﯾﺑﻧﻟا وﻧﺑو .نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو
فورﻌﻣﻟﺎﺑ ﺎﮭﯾﻧﺎﻋ يدﻔﺗ مﮭﻧﻣ ﺔﻔﺋ ﺎط لﻛو ﻰﻟوﻷا مﮭﻠﻗﺎﻌﻣ نوﻠﻗﺎﻌﺗﯾ مﮭﺗﻌﺑر ﻰﻠﻋ سوﻷا وﻧﺑو ﻣؤﻣﻟا نﯾﺑ طﺳﻘﻟاو
نﯾﻧ
ﮫﻧود نﻣؤﻣ ﻰﻟوﻣ نﻣؤﻣ فﻟﺎﺣﯾ ﻻو ۱۳
نﯾﺑ دﺎﺳﻓ وأ ناودﻋ وأ مﺛإ وأ مﻠظ ﺔﻌﯾﺳد ﻰﻐﺗﺑا وأ مﮭﻧﻣ ﻰﻐﺑ نﻣ ﻰﻠﻋ نﯾﻘﺗﻣﻟا نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نأو .مھدﺣأ دﻟو نﺎﻛ وﻟو ﺎﻌﯾﻣﺟ ﮫﯾﻠﻋ مﮭﯾدﯾأ نأ و نﯾﻧﻣؤﻣﻟا
نﻣؤﻣ ﻰﻠﻋ ارﻓﺎﻛ رﺻﻧﯾ ﻻو رﻓﺎﻛ ﻲﻓ ﺎﻧﻣؤﻣ نﻣؤﻣ لﺗﻘﯾ ﻻو
و ﷲ ﺔﻣذ نأو .سﺎﻧﻟا نود ضﻌﺑ ﻲﻟاوﻣ مﮭﺿﻌﺑ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نأ و مھﺎﻧدأ مﮭﯾﻠﻋ دﯾﺣﯾ ةدﺣا
ﮫﯾﻠﻋ رﺻﺎﻧﺗﻣ ﻻو نﯾﻣوﻠظﻣ رﯾﻏ ةوﺳﻷاو رﺻﻧﻟا ﮫﻟ نﺈﻓ دوﮭﯾ نﻣ ﺎﻧﻌﺑﺗ نﻣ ﮫﻧأو ۱۷
ءاوﺳ ﻰﻠﻋ ﻻإ ﷲ لﯾﺑﺳ ﻲﻓ لﺎﺗﻗ ﻲﻓ نﻣؤﻣ نود نﻣؤﻣ مﻟﺎﺳﯾ ﻻ ةدﺣاو نﯾﻧﻣؤﻣﻟا مﻠﺳ نأو .مﮭﻧﯾﺑ لدﻋو
تزﻏ ﺔﯾزﺎﻏ لﻛ نأو .ﺎﺿﻌﺑ ﺎﮭﺿﻌﺑ بﻘﻌﯾ ﺎﻧﻌﻣ
نﯾﻘﺗﻣﻟاو نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نأو ﷲ لﯾﺑﺳ ﻲﻓ مھءﺎﻣد لﺎﻧ ﺎﻣﺑ ضﻌﺑ ﻰﻠﻋ مﮭﺿﻌﺑ ﺊﺑﯾ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نأو .ﮫﻣوﻗأو يدھ نﺳﺣأ ﻰﻠﻋ
نﻣؤﻣ ﻰﻠﻋ ﮫﻧود لوﺣﯾ ﻻو ﺎﺳﻔﻧ ﻻو شﯾرﻘﻟ ﻻﺎﻣ كرﺷﻣ رﯾﺟﯾ ﻻ ﮫﻧأو ۲۱
و ﻰﺿرﯾ نأ ﻻإ ﮫﺑ دوﻗ ﮫﻧﺄﻓ ﺔﻧﯾﺑ نﻋ ﻼﺗﻗ ﺎﻧﻣؤﻣ طﺑﺗﻏا نﻣ نأو نﯾﻧﻣؤﻣﻟا نأو لوﺗﻘﻣﻟا ﻲﻟا
ﮫﯾﻠﻋ مﺎﯾﻗ ﻻإ مﮭﻟ لﺣﯾﻻو ﺔﻓﺎﻛ ﮫﯾﻠﻋ ۲۲
ﻻو ﺎﺛدﺣﻣ رﺻﻧﯾ نأ رﺧﻵا موﯾﻟاو ﻟﻠہﺎﺑ نﻣآو ﺔﻔﯾﺣﺻﻟا هذھ ﻲﻓ ﺎﻣﺑ رﻗأ نﻣؤﻣﻟ لﺣﯾ ﻻ ﮫﻧأو فرﺻ ﮫﻧﻣ ذﺧؤﯾ ﻻو ﺔﻣﺎﯾﻘﻟا موﯾ ﮫﺑﺿﻏو ﷲ ﺔﻧﻌﻟ ﮫﯾﻠﻋ نﺈﻓ هاوآ وأ هرﺻﻧﯾ نﻣ ﮫﻧأو ﮫﯾوؤﯾ
لدﻋ ﻻو ۲۳
مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ لﺻ دﻣﺣﻣ ﻰﻟإو لﺟو زﻋ ﷲ ﻰﻟإ هدرﻣ نﺈﻓ ءﻲﺷ نﻣ ﮫﯾﻓ مﺗﻔﻠﺗﺧا ﺎﻣﮭﻣ مﻛﻧأو ۲٤
نﯾﺑرﺎﺣﻣ اوﻣدﺎﻣ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا ﻊﻣ نوﻘﻔﻧﯾ دوﮭﯾﻟا نأو ۲٥
نﻣ ﻻإ مﮭﺳﻔﻧأو مﮭﯾﻟاوﻣ مﮭﻧﯾد نﯾﻣﻠﺳﻣﻠﻟو مﮭﻧﯾد دوﮭﯾﻠﻟ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا ﻊﻣ ﺔﻣأ فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾ نأو أو ﮫﺳﻔﻧ ﻻإ ﺦﺗوﯾ ﻻ ﮫﻧﺈﻓ مﺛأو مﻠظ
ﮫﺗﯾﺑ لھ
فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ رﺎﺟﻧﻟا ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ نأو ۲۷
فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ ثرﺣﻟا ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ نأو ۲۸
فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ ةدﻋﺎﺳ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ نأو ۲۹
فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ مﺷﺟ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ نأو ۳۰
فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ سوﻷا ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ نأو ۳۱
لھأو ﮫﺳﻔﻧ ﻻإ ﺦﺗوﯾ ﻻ ﮫﻧﺄﻓ مﺛأو مﻠظ نﻣ ﻻإ فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ ﺔﺑﻠﻌﺛ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟا نأو .ﮫﺗﯾﺑ
مﮭﺳﻔﻧﺄﻛ ﺔﺑﻠﻌﺛ نطﺑ ﺔﻧﻔﺟ نأو ۳۳
مﺛﻻا نود رﺑﻟا نأو فوﻋ ﻲﻧﺑ دوﮭﯾﻟ ﺎﻣ لﺛﻣ ﺔﺑﯾطﺷﻟا ﻲﻧﺑﻟ نأو ۳٤
مﮭﺳﻔﻧﺄﻛ ﺔﺑﻠﻌﺛ ﻲﻟاوﻣ نأو ۳٥
مﮭﺳﻔﻧﺄﻛ دوﮭﯾ ﺔﻧﺎطﺑ نأو ۳٦
ﺧﯾ ﻻ ﮫﻧأو حرﺟ رﺎﺛ ﻰﻠﻋ رﺟﺣﻧﯾﻻ ﮫﻧأو مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ لﺻ دﻣﺣﻣ نذﺈﺑ ﻻإ مﮭﻧﻣ دﺣأ جر
اذھ رﺑأ ﻰﻠﻋ ﷲ نأو مﻠظ نﻣ ﻻإ ﮫﺗﯾﺑ لھأو كﺗﻓ ﮫﺳﻔﻧﺑﻓ كﺗﻓ نﻣ ﮫﻧأو
هذھ لھأ برﺎﺣ نﻣ ﻰﻠﻋ رﺻﻧﻟا مﮭﻧﯾﺑ نأو مﮭﺗﻘﻔﻧ نﯾﻣﻠﺳﻣﻟا ﻰﻠﻋو مﮭﺗﻘﻔﻧ دوﮭﯾﻟا ﻰﻠﻋ نأو رﺻﻧﻟا نأو ﮫﻔﯾﻠﺣﺑ ؤرﻣا مﺛﺄﯾ مﻟ ﮫﻧأو مﺛﻻا نود رﺑﻟاو ﺔﺣﯾﺻﻧﻟاو ﺢﺻﻧﻟا مﮭﻧﯾﺑ نأو ﺔﯾﻔﺣﺻﻟا
موﻠظﻣﻠﻟ ۳۸
نﯾﺑرﺎﺣﻣ اوﻣدﺎﻣ نﯾﻧﻣؤﻣﻟا ﻊﻣ نوﻘﻔﻧﯾ دوﮭﯾﻟا نأو ۳۹
ا هذھ لھﻷ ﺎﮭﻓوﺟ مارﺣ برﺛﯾ نأو .ﺔﻔﯾﺣﺻﻟ
مﺛا ﻻو رﺎﺿﻣ رﯾﻏ سﻔﻧﻟﺎﻛ رﺎﺟﻟا نأو ٤۱
ﺎﮭﻠھأ نذﺈﺑ ﻻإ ﺔﻣرﺣ رﺎﺟﯾ ﻻ ﮫﻧأو ٤۲
ﻰﻟإو لﺟو زﻋ ﷲ ﻰﻟإ هدرﻣ نﺈﻓ .هدﺎﺳﻓ فﺎﺧﯾ رﺎﺟﺗﺷاو ﺔﻔﯾﺣﺻﻟا هذھ لھأ نﯾﺑ نﺎﻛ ﺎﻣ ﮫﻧأو .هرﺑأو ﺔﻔﯾﺣﺻﻟا هذھ ﻲﻓ ﺎﻣ ﻰﻘﺗأ ﻰﻠﻋ ﷲ نأو مﻠﺳو ﮫﯾﯾﻠﻋ ﷲ لﺻ دﻣﺣﻣ
ﻗ رﺎﺟﺗ ﻻ ﮫﻧأو .ﺎھرﺻﻧ نﻣ ﻻو شﯾر
برﺛﯾ مھد نﻣ ﻰﻠﻋ رﺻﻧﻟا مﮭﻧﯾﺑ نأو ٤٥
ﻰﻟإ اوﻋد اذإ مﮭﻧأو ﮫﻧوﺳﺑﻠﯾو ﮫﻧوﺣﻟﺎﺻﯾ مﮭﻧﺈﻓ (ﮫﻧوﺳﺑﻠﯾو) ﮫﻧوﺣﻟﺎﺻﯾ ﺢﻠﺻ ﻰﻟإ اوﻋد اذإو مﮭﻧﺑﺎﺟ نﻣ مﮭﺗﺻﺣ سﺎﻧأ لﻛ ﻰﻠﻋ نﯾدﻟا ﻲﻓ برﺎﺣ نﻣﻷا نﯾﻧﻣؤﻣﻟا ﻰﻠﻋ مﮭﻟ ﮫﻧﺈﻓ كﻟذ لﺛﻣ
مﮭﻠﺑﻗ يذﻟا ٤٦
مﮭﯾﻟاوﻣ سوﻷا دوﮭﯾﻟا ناو هذھ لھأ نﻣ نﺳﺣﻟا رﺑﻟا ﻊﻣ ﺔﻔﯾﺣﺻﻟا هذھ لھﻷ ﺎﻣ لﺛﻣ مﮭﺳﻔﻧأو
مﺛﻻا نود رﺑﻟا نأو ﺔﻔﯾﺣﺻﻟا ٤۷
ﻻ ﮫﻧأو هرﺑأو ﺔﻔﯾﺣﺻﻟا هذھ ﻲﻓ ﺎﻣ قدﺻأ ﻰﻠﻋ ﷲ نإو ﮫﺳﻔﻧ ﻰﻠﻋ ﻻإ بﺳﺎﻛ بﺳﻛﯾ ﻻو مﺛأو مﻠظ نﻣ ﻻإ ﺔﻧﯾدﻣﻟﺎﺑ نﻣآ دﻌﻗ نﻣو نﻣآ جرﺧ نﻣ ﮫﻧأو مﺛآو مﻟﺎظ نود بﺎﺗﻛﻟا اذھ لوﺣﯾ
ﷲ نأو .مﻠﺳو ﮫﯾﻠﻋ ﷲ لﺻ ﷲ لوﺳر دﻣﺣﻣو ﻰﻘﺗاو رﺑ نﻣﻟ رﺎﺟ
Kebijakan Nabi yang tertuang dalam Piagam Madinah mengandung makna yang mengarah pada persatuan dan kesatuan. Meliputi etnis Arab, Muslim, Yahudi, dan Arab non-Muslim. 94 Keberadaan Piagam Madinah erat kaitannya dengan perjalanan politik Nabi dalam memimpin masyarakat Madinah yang sangat majemuk. 95 Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan UUD 1945, Kajian Banding Fondasi Kehidupan Beragama dalam Masyarakat Pluralis (Jakarta: UI-Press Rahmad Asril Pohan, Toleransi Inklusif, Menelusuri Sejarah Kebebasan Beragama pada Tokoh Masyarakat.
Abdullah mengemukakan dua prinsip yang sangat mendasar dalam Piagam Madinah yang tidak terdapat di negara manapun kecuali negara yang didirikan atas dasar agama. Dalam pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa konsep dan prinsip Piagam Hak Asasi Manusia Medina dikorelasikan dengan hak asasi manusia kontemporer sebagai berikut. Keempat konsep tersebut sesuai dengan hak asasi manusia yang dirumuskan oleh Barat, namun yang dirumuskan dalam Piagam Madinah pertama kali dirumuskan pada abad ke-14 sebelum Barat merancangnya, yaitu dengan hak untuk hidup, yang dapat kita lihat keberadaannya. diat sebagai pengganti qisas.
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, secara sosiologis pada masa itu Madinah terdiri dari tiga kelompok besar masyarakat dengan tradisi dan ideologinya masing-masing, hal ini merupakan sebuah prestasi luar biasa bagi Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil membangun masyarakat yang harmonis dalam keberagaman seperti ini, khususnya sebagai berikut: Sebelum kedatangannya, Madinah sering dilanda peperangan sehingga menimbulkan banyak korban jiwa, namun sejak lahirnya Piagam Madinah, konstitusi mampu memberikan penyelesaian konflik bagi warga Madinah. Dalam Piagam Madinah, Nabi juga berhasil mengembangkan model pengelolaan interaksi multikultural yang sangat baik, disisi lain secara sosiologis. 123 Mu'adil Faizin, “Piagam Madinah dan Resolusi Konflik di Indonesia,” Universitas Islam Negeri Yogyakarta, 1 (1 Januari-Juli 2017), 83.
Nilai mendasar yang dapat digali dari Piagam Medina adalah demokrasi. Menjadikan Piagam Madinah sebagai model pengembangan demokrasi di dunia Islam khususnya di Indonesia adalah sebuah negosiasi, sebuah penyesuaian yang tentu saja bisa dilakukan. disesuaikan dengan nilai-nilai lokal yang berkembang di masyarakat setempat, terutama sebagai jembatan membangun masyarakat yang adil dan beradab. Karena salah satu pelajaran substantif yang dapat dipetik dari Piagam Madinah adalah konsep konsultasi, maka demokrasi menemukan momentumnya dari sini dalam tradisi Islam. Dalam Piagam Madinah, salah satu pasalnya mengajarkan masyarakat untuk saling menerima perbedaan agama. Dalam pasal pertama Piagam Madinah, hal ini berarti pengakuan terhadap perbedaan suku dan agama di Madinah, hak dan kewajibannya (non-Muslim) tidak ada dan berbeda dengan hak dan kewajiban umat Islam.
151 Rahmad Asril Pohan, Toleransi Inklusif, Menelusuri Sejarah Kebebasan Beragama dalam Piagam Madinah (Yogyakarta: KAUKABA DIPANTARA. Piagam Medina merupakan konstitusi perdamaian tertulis pertama di dunia, yang didalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan multikultural untuk mendorong dan mengelola masyarakat yang majemuk Dari nilai-nilai tersebut peneliti mengambil kesimpulan bahwa ada 3 nilai yaitu: pluralisme yang artinya Piagam Madinah mengakui realitas masyarakat Madinah yang majemuk dari segi keyakinan (agama), yang kedua adalah demokrasi.
Dimana tujuan utama Piagam Madinah adalah untuk melindungi hak hidup setiap anggota untuk sama-sama memperoleh hak atas keamanan dan perdamaian. Piagam Madinah dan UUD 1945, Kajian Banding Landasan Kehidupan Beragama dalam Masyarakat Pluralis.