Merupakan kehormatan bagi saya untuk menjadi narasumber dan melengkapi kata pengantar buku ini, yang merupakan produk akhir dari sesi ini. Buku yang merupakan bahan ajar yang digunakan oleh IKIP PGRI Bali ini diharapkan dapat memperkaya landasan pengetahuan dalam penerapan pendidikan antikorupsi.
PRAKATA
Penyusunan modul pendidikan antikorupsi berbasis Tri Kaya Parisudha tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Bapak Teddy Fiktorius, M.Pd., atas dukungan dan fasilitasinya dalam penerbitan Modul Pendidikan Anti Korupsi Berbasis Tri Kaya Parisudha IKIP PGRI Bali.
BalikContoh Kasus
Tugas
Umpan Balik
Pegawai negeri sipil atau orang lain selain pegawai negeri sipil yang diberi tugas menjalankan jabatan umum baik tetap maupun sementara, dengan sengaja memalsukan buku atau daftar khusus untuk pemeriksaan administrasi (Pasal 9 UU No. 20 Tahun 2001). Pegawai negeri atau pejabat publik yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji itu diberikan karena kekuasaan atau wewenang yang berkaitan dengan jabatannya, atau yang dalam pikiran orang yang memberi hadiah atau janji itu adalah berkaitan dengan kedudukannya (Pasal 11 UU No.
Umpan
Korupsi Berdampak Negatif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Hipotesis Grease the Wheel (GWH) menyatakan bahwa korupsi dapat berperan sebagai pelumas (minyak) perekonomian, dengan kata lain: korupsi dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Beberapa penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa korupsi mempunyai dampak negatif terhadap perekonomian yang tercermin dalam bentuk pertumbuhan ekonomi (Mo, 2001; Mauro, 1995; Meon dan Sekkat, 2005).
Meski tidak memenuhi syarat, investor asing tersebut bisa mendapatkan izin usaha di negara korup melalui suap. Budaya korup mengundang investor asing yang tidak berkualitas dan terbiasa melakukan praktik korupsi seperti suap, gratifikasi, dan penggelapan.
Korupsi Menambah Beban dalam Transaksi Ekonomi dan Menciptakan Sistem
Dalam modul ini, biaya transaksi dianggap sebagai biaya yang diperlukan saat menggunakan sumber daya untuk membuat, memelihara, menggunakan, mengubah, dll. dalam institusi dan organisasi (Furubotn dan Richter, 1998). Lebih lanjut Furubotn dan Richter (1998) memandang biaya transaksi sebagai biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaan suatu institusi atau lembaga dalam mencapai tujuannya.
Korupsi Menyebabkan Sarana dan Prasarana BerkualitasRendah
Begitu pula penggelapan anggaran pembangunan infrastruktur menyebabkan anggaran pembangunan infrastruktur turun sehingga berdampak pada rendahnya kualitas infrastruktur yang dibangun.
Korupsi Menciptakan Ketimpangan Pendapatan
Gyimah-Brempong (2002), Gupta dan Alonso-Terme. 2002), Batabyal dan Chowdhury (2015) telah mampu membuktikan secara empiris bahwa korupsi dapat meningkatkan ketimpangan pendapatan; dan adanya kebijakan pengurangan korupsi memberikan dampak positif dalam mengurangi tingkat ketimpangan pendapatan. Uslaner (2011) juga menyatakan bahwa dampak korupsi terhadap ketimpangan pendapatan bersifat timbal balik, yaitu korupsi menyebabkan ketimpangan pendapatan dan ketimpangan pendapatan juga menyebabkan korupsi.
Korupsi MeningkatkanKemiskinan
Rivayani (2008) dan Kuncoro (2012) telah mengidentifikasi korupsi yang dilakukan perusahaan dalam memperoleh izin mendirikan dan menjalankan usaha. Korupsi yang juga sering dilakukan oleh korporasi adalah kolusi dengan pejabat pemerintah dalam melakukan penghindaran dan/atau penghindaran pajak (Jain, 1987; McKerchar, 2007). Jadi jelas disini bahwa dampak korupsi yang paling besar akibat korupsi korporasi adalah terciptanya korupsi negara.
Menurut Argandona (2003), korupsi swasta adalah korupsi yang terjadi ketika manajer atau pekerja menggunakan wewenangnya untuk mempengaruhi kinerja, fungsi, tugas suatu perusahaan atau organisasi swasta, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat mengganggu organisasi.
Akuntabilitas
Setelah memahami nilai-nilai antikorupsi yang penting untuk mencegah faktor internal penyebab korupsi, selanjutnya kita akan membahas tentang prinsip-prinsip antikorupsi yang meliputi akuntabilitas, transparansi, keadilan, kebijakan dan pengendalian kebijakan, untuk mencegah faktor eksternal penyebab korupsi. Orang yang diberikan tanggapan ini hendaknya adalah orang yang mempunyai legitimasi untuk melakukan pengawasan dan mengharapkan kinerja (Prasojo: 2005). Oleh karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika pemilik masa depan menjadi sasaran para pelaku penegakan akuntabilitas saat ini dan masa depan.
Transparansi
Dalam prosesnya, transparansi dibagi menjadi lima, yaitu proses penyiapan anggaran, proses penyiapan kegiatan, proses pembahasan, proses monitoring, dan proses evaluasi. Proses penyiapan kegiatan atau proyek pembangunan berkaitan dengan proses pertimbangan sumber pendanaan (anggaran pendapatan) dan alokasi anggaran (anggaran pengeluaran). Dalam proses pembahasannya dipertimbangkan penyusunan regulasi terkait strategi penggalangan dana, mekanisme pengelolaan proyek dari pelaksanaan tender, teknis pekerjaan.
Proses evaluasi ini berlaku pada pelaksanaan proyek, dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab tidak hanya secara administratif, tetapi juga teknis dan fisik terhadap setiap keluaran pekerjaan pembangunan.
Kewajaran
Selain itu, setelah diskusi ini, siswa juga diharapkan memiliki kualitas moral yang lebih baik, dan kejujuran menjadi bagian penting dari prinsip ini. Kebijakan antikorupsi tersebut tidak selalu identik dengan undang-undang antikorupsi, namun dapat berupa undang-undang kebebasan akses informasi, undang-undang desentralisasi, undang-undang anti monopoli atau undang-undang lainnya yang dapat memudahkan masyarakat untuk menyadarinya. dan pemantauan kinerja dan penggunaan anggaran negara oleh penyelenggara negara. Suatu kebijakan antikorupsi akan efektif apabila memuat unsur-unsur yang berkaitan dengan persoalan korupsi dan mutu isi kebijakan bergantung pada kualitas dan integritas pembuatnya.
Keberadaan suatu kebijakan berkaitan dengan nilai, pemahaman, sikap, persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan antikorupsi.
Kontrol Kebijakan
Ada yang mengatakan bahwa upaya pemberantasan korupsi yang paling tepat adalah dengan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku korupsi. Dengan demikian, bidang hukum, khususnya hukum pidana, akan dianggap sebagai jawaban paling tepat dalam pemberantasan korupsi. Kita bahkan punya lembaga independen bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang semuanya dibentuk untuk memberantas korupsi.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa upaya pemberantasan korupsi yang paling tepat adalah dengan memberikan sanksi pidana atau menghukum pelaku korupsi seberat-beratnya. Dengan demikian, sistem hukum, khususnya hukum pidana, akan dianggap sebagai respon yang paling tepat dalam pemberantasan korupsi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa cara pemberantasan korupsi yang paling efektif adalah dengan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku korupsi.
Pembentukan Lembaga Anti-Korupsi
Di bawah ini akan kami jelaskan berbagai upaya atau strategi pemberantasan korupsi yang dikembangkan oleh PBB yang disebut dengan Global Programme Against Corruption dan dirumuskan dalam bentuk United Nations Anti-Corruption Toolkit (UNODC: 2004). Kita sudah mempunyai lembaga yang dibentuk khusus untuk pemberantasan korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Banyak kasus korupsi yang tidak tercakup dalam undang-undang karena kinerja lembaga peradilan sangat buruk.
Berbagai pemberitaan di media massa menunjukkan bahwa korupsi juga kerap dilakukan oleh anggota DPR, baik di pusat (DPR) maupun di daerah (DPRD). Rakyat, para anggota parlemen, justru melakukan berbagai bentuk korupsi yang ‘terbungkus rapi’.
Pencegahan Korupsi di SektorPublik
Sistem yang transparan dan akuntabel juga harus dikembangkan terkait rekrutmen pegawai negeri sipil dan militer. Selain sistem rekrutmen, perlu dikembangkan sistem evaluasi pegawai negeri sipil yang menitikberatkan pada proses (berorientasi pada proses) dan hasil akhir kerja (berorientasi pada hasil). Untuk meningkatkan budaya kerja dan motivasi kerja PNS, PNS yang berprestasi harus mendapat insentif yang positif.
Tentu saja pemberian tersebut harus disertai dengan beberapa syarat yang ketat karena juga berpotensi korupsi, karena bagaimanapun juga justru digunakan sebagai sarana pembagian bonus di kalangan pejabat pemerintah.
Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat
Persoalan kesadaran masyarakat atau kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap bahaya korupsi dan persoalan pemberdayaan masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya pemberantasan korupsi. Salah satu cara untuk membantu memberdayakan masyarakat dalam mencegah dan memberantas korupsi adalah dengan menyediakan cara bagi masyarakat untuk melaporkan kasus korupsi. Dengan berkembangnya teknologi informasi, media internet menjadi mekanisme yang murah dan mudah untuk melaporkan kasus korupsi.
Cara lain untuk mencegah dan memberantas korupsi adalah dengan menggunakan atau mengoperasikan peralatan pengawasan elektronik.
Pengembangan dan Pembuatan berbagai Instrumen Hukum yang mendukung
Tindakan memata-matai atau 'memata-matai' dalam masyarakat demokratis ini dinilai melanggar hak asasi manusia, khususnya hak privasi. Pasal-pasal yang mengkriminalisasi perbuatan seseorang yang akan melaporkan tindak pidana korupsi serta menghambat penyidikan, penyidikan, dan penyidikan tindak pidana korupsi, seperti pasal pencemaran nama baik atau pencemaran nama baik, harus ditinjau kembali dan bila perlu diubah atau dihapuskan.
Monitoring danEvaluasi
KerjasamaInternasional
Dalam memilih metode, strategi, upaya dan program pemberantasan korupsi di negara kita, pengalaman negara lain yang berhasil atau gagal dapat diperhitungkan. 34; Jadi, kita berharap ini menjadi bahan introspeksi di Tabanan, agar kedepannya tidak ada laporan lagi,” tegasnya. 34; Karena di sini peran kita adalah pencegahan, tapi kita hargai proses yang sedang berjalan sehingga mau mendiskusikan kasus."
Yang memandu kita hanyalah bukti. Jika ada bukti, kita harus bertindak. Kalau tidak ada, kita tidak bisa menjadikan seseorang sebagai tersangka.
Umpan Balik Tugas
Gerakan antikorupsi di lingkungan keluarga Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak menerima pendidikan dan landasan pertama pembentukan karakter anak. Tahapan proses internalisasi karakter antikorupsi pada peserta didik yang dimulai dari lingkungan keluarga sangat sulit dilakukan. Berbagai macam kegiatan dapat dilaksanakan untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada komunitas mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan sehingga tumbuh budaya anti korupsi di kalangan mahasiswa.
Kegiatan kampanye, sosialisasi, seminar, pelatihan, pengembangan kader, dan lain-lain dapat dilakukan untuk meningkatkan budaya antikorupsi.
DAFTAR PUSTAKA
Mengejar Magister Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) dari Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja pada tahun 2007-2009. SILN) di Thailand-Bangkok Tim Pembina MBS-SD Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Puspendik Balitbang Tim Pengembangan Bank Soal Daerah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tim Fasilitator Nasional Ujian Dasar, Menengah, dan Menengah Dirjen Sekolah Menengah/SMK GTK Kemendikbud Ketua Tim Evaluasi Prestasi Guru Tingkat Provinsi Bali Kepala Staf Ahli Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali Ketua Tim OGN, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, Tim Pengajar, Diklat Penguatan Kepala Sekolah, Dirjen GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ketua Lembaga Pengembangan Akademik (LPA). IKIP PGRI Bali (2016-sekarang) (IJRES), Turki, jurnal terindeks ERIC, Elsevier Scopus Pemimpin Redaksi Jurnal Pengembangan Pendidikan Indonesia (IJED) 2020-sekarang.