• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Di Sekolah Dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pendidikan Di Sekolah Dasar "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

15

Pembuatan Peta Sebaran Sekolah Dasar Negeri Dan Swasta Berbasiskan Sistem Informasi Geografis Dalam Rangka Pemerataan

Pendidikan Di Sekolah Dasar

Studi Kasus : Kota Bogor

Dessy Apriyanti, Rina Muthia Harahap Universitas Pakuan

Bogor

ABSTRAK

Dinas Pendidikan sebagai instansi yang mempunyai peran dalam mengelola dan merencanakan pendidikan tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten/Kota membutuhkan suatu pengelolaan data, tidak terkecuali Dinas Pendidikan Kota Bogor. Namun sampai saat ini pengelolaan data Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan Kota Bogor masih mengandalkan data dalam bentuk tabel. Hal ini mengakibatkan pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah terkait sistem pendidikan yang telah berjalan menjadi lebih lambat mengingat jumlah dan variasi data yang sangat banyak. Demikian juga dengan kebutuhan informasi Sekolah Dasar oleh masyarakat Kota Bogor, masyarakat membutuhkan informasi terutama untuk mencari lokasi dan informasi suatu Sekolah Dasar seperti sarana dan prasarana yang tersedia serta daya tampung suatu SekolahDasar.

Dalam pembangunan pendidikan khususnya pengadaan sekolah, Pemerintah harusnya tidak hanya berfokus pada sekolah dasar favorit. melainkan juga pada sekolah yang angka partisipasi murninya rendah agar masyarkat berminat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut. Perlu diupayakan fasilitas pendidikan berupa penambahan ruangan kelas di masing-masing kecamatan yang ada di Kota Bogor agar semua penduduk usia sekolah dasar dapat memperoleh kesempatan besekolah. Penelitian ini direncanakan agar pemerataan pendidikan Sekolah Dasar di Kota Bogor dapat tepenuhi jika tersedianya informasi berbasis geografis mengenai sarana dan prasarana yang ada pada Sekolah Dasar yang ada di setiap Kecamatan Kota Bogor. Sehingga Dinas Pendidikan Kota Bogor dapat merencanakan pembangunan Sekolah Dasar di setiap Kecamatan agar terciptanya pemerataan pendidikan Sekolah Dasar di Kota Bogor.

Penelitian ini nantinya akan memberi luaran berupa hasil pembuatan sistem informasi geografis yang nantinya dapat memudahkan untuk memperoleh informasi sebaran Sekolah Dasar Negeri Dan Swasta Kota Bogor serta tersedianya informasi berbasis geografis mengenai sarana dan prasarana yang ada pada Sekolah Dasar Negeri Dan Swasta Kota Bogor. Sistem informasi geografis sebagai alat bantu manajemen berupa informasi dalam bentuk komputerisasi yang berkaitan erat dengan sistem pemetaan, serta menjadikan rekomendasi untuk penanganan analisis perencanaan lebih lanjut terkait kemungkinan-kemungkinan permasalahan selain faktor daya tampung serta sarana dan prasarana yang tersedia di setiap Sekolah Dasar Negeri dan Swasta di Kota Bogor.

Kata kunci : Sistem Informasi Geografis, Kota Bogor, Sekolah Dasar, Pemerataan Pendidikan, Peta Sebaran 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pendidikan di Indonesia merupakan salah satu sektor vital yang diharapkan terus berkembang dan memuaskan banyak pihak, sehingga diperlukan perhatian khusus yang dapat membantu para pemangku kepentingan membuat keputusan yang tepat. Pendidikan di Indonesia dibagi atas pendidikan Sekolah Dasar, menengah dan atas. Muslih (2008).

Menurut Dinas Pendidikan Kab. Bekasi (2015) Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan pendidikan anak yang berusia antara 7 sampai dengan 12 tahun sebagai pendidikan di tingkat dasar yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat bagi siswa. Tujuan pendidikan Sekolah Dasar adalah mencerdaskan dan mencetak kehidupan bangsa yang bertaqwa, cinta dan bangga

terhadap bangsa dan negara, terampil, kreatif, berbudi pekerti yang santun serta mampu menyelesaikan permasalahan di lingkungannya. Dinas Pendidikan sebagai instansi yang mempunyai peran dalam mengelola dan merencanakan pendidikan tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten/Kota membutuhkan suatu pengelolaan data, tidak terkecuali Dinas Pendidikan Kota Bogor.Namun sampai saat ini pengelolaan data Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan Kota Bogor masih mengandalkan data dalam bentuk tabel. Hal ini mengakibatkan pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah terkait sistem pendidikan yang telah berjalan menjadi lebih lambat mengingat jumlah dan variasi data yang sangat banyak.

Demikian juga dengan kebutuhan informasi Sekolah Dasar oleh masyarakat Kota Bogor, masyarakat membutuhkan informasi terutama untuk mencari lokasi dan informasi suatu Sekolah Dasar.

(2)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

16 Informasi persebaran Sekolah Dasar selain

dibutuhkan oleh perencana/pengambil keputusan juga dibutuhkan oleh masyarakat sebagai referensi agar dapat mengetahui gambaran/kondisi suatu sekolah yang dituju. Selain informasi Sekolah Dasar, hal lain yang tidak kalah penting yaitu pemerataan kesempatan belajar. Suatu wilayah dapat dikatakan terpenuhi indikator pemerataan kesempatan belajar pada Sekolah Dasarnya apabila daya tampung Sekolah Dasar di wilayah tersebut lebih besar dari pada jumlah penduduk usia Sekolah Dasar (7-12 tahun). Sebaliknya, pemerataan kesempatan belajar pada Sekolah Dasar dinyatakan tidak terpenuhi jika daya tampung Sekolah Dasar di wilayah tersebut lebih kecil dari pada jumlah penduduk usia Sekolah Dasarnya. Indikator ini berguna untuk menunjukkan tingkat pemerataan dalam memperoleh kesempatan pendidikan untuk masyarakat pada suatu wilayah tertentu (Suryani, 2011). Sistem Informasi Geografis dapat digunakan sebagai alat bantu utama yang bersifat interaktif, menarik didalam usaha untuk meningkatkan pemahaman, pembelajaran dan pendidikan mengenai ide atau konsep lokasi, ruang, kependudukan dan unsur geografis yang terdapat diatas permukaan bumi.(Eddy Prahasta.2014:18).

Selain itu sistem informasi geografis memiliki kemampuan mengintegrasikan berbagai operasi basis data seperti query, menganalisis serta menampilkannya dalam bentuk pemetaan berdasarkan letak geografisnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dibutuhkan pembuatan suatu Sistem Informasi Geografis yang dapat menginformasikan sebaran sekolah beserta data atribut di setiap Sekolah Dasar dan juga informasi pemerataan kesempatan belajar Sekolah Dasar di Kota Bogor.

1.2 Perumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dari latar belakang penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana membangun data spasial sebaran Sekolah Dasar negeri dan swasta di Kota Bogor dengan Sistem Informasi Geografis ? 2. Bagaimana mengetahui sebaran indikator

pemerataan kesempatan belajar di Sekolah Dasar di Kota Bogor ?

1.3. Lokasi Penelitian

Secara geografis Kota Bogor terletak di 106° 48° BT dan 6° 26° LS. Kedudukan geografis Kota Bogor di tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya sangat berdekatan dengan Ibu Kota Negara, merupakan potensi yang strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan jasa. Pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, pariwisata, dan pendidikan. Luas wilayah Kota Bogor sebesar 11.850 ha terdiri dari 6 kecamatan, 31 kelurahan, 37 desa, 210 dusun, 623

RW dan 2.712 RT (Diskominfostandi Kota Bogor, 2016, p. 9).

Gambar 1. Peta Kota Bogor 1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1) Pembuatan peta persebaran Sekolah Dasar negeri dan swasta

2) mengetahui pemerataan kesempatan belajar Sekolah Dasar di masing-masing kecamatan di Kota Bogor.

2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Data Penelitian

1. Data sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor (6 Kecamatan).

2. Data atribut pada setiap sekolah dasar terdiri dari :

a. Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN).

b. Nama sekolah dasar negeri, swasta dan Madrasah Ibtida‘iyah.

c. Alamat.

d. Status sekolah dasar.

e. Luas sekolah satuan meter.

f. Jumlah siswa.

g. Jumlah guru.

h. Jumlah kelas.

i. Akreditasi.

j. Rombongan belajar tahun ajaran 2017/2018.

k. Daya tamping

l. Dokumentasi berupa foto bangunan.

3. Indikator pemerataan kesempatan belajar diperoleh dari perhitungan daya tampung sekolah dasar di satu kecamatan dibagi jumlah penduduk usia 7-12 tahun di kecamatan tersebut (Siti Suryani, 2012).

4. Daya tampung sekolah dasar adalah banyaknya calon siswa yang dapat diterima menjadi siswa dengan pertimbangan fasilitas dan daya dukung yang dimiliki sekolah (Irfani, Rizki, 2011).

5. Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data tahun 2017-2018 yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Bogor.

2.2. Diagram Alir

(3)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

17 Tahap pelaksanaan penelitian berisi tahap

pengumpulan data, tahap pengolahan data menggunakan metode yang telah ditentukan, sampai dengan penyajian hasil untuk mencapai tujuan

penelitian yang telah ditentukan. Prosedur penelitian ini disajikan dalam diagram alir pada Gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1 Diagram Metodologi Pengolahan Data

(4)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

18 6. Persiapan alat survei

a. Penyediaan alat GPS navigasi Garmin 76CSX.

b. Menyediakan peta kerja Kota Bogor skala 1: 25.000 Nomor lembar 1209-143.

c. Baterai.

d. Alat tulis.

7. Penyusunan jadwal survei

Menyusun rencana kerja dan waktu pelaksanaan.

3. Perizinan

a. Menyiapkan surat jalan survei ke sekolah dasar negeri dan swasta di Kota Bogor.

b. Menyiapkan surat permohonan data ke Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk perhitungan daya tampung.

4. Penyusunan data sekunder

Menyiapkan kuisioner mengenai informasi sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang telah diperoleh dalam penelitian ini sebagai berikut :

3.1. Pengolahan Data Survei GPS

Pengolahan data survei tediri dari download, export dan konversi data GPS.

1. Download dan export data sebaran sekolah dasar menggunakan software Garmin dengan format (.DXF) seperti gambar dibawah ini.

Gambar 3. 1. Mengunduh data GPS sebaran sekolah dasar Kota Bogor

2. Agar titik-titik sebaran sekolah dasar dapat diproses oleh software ArcGIS maka perlu konversi data GPS ke format shapefile dengan menggunakan software ArcGIS. Tahapannya sebagai berikut :

Buka software Microsoft Excel untuk memindahkan titik-titik lokasi sebaran sekolah dasar Kota Bogor ke ArcGIS.

Gambar 3. 2. Tampilan sekolah dasar Kota Bogor di Microsoft excel

3. Langkah selanjutnya adalah memindahkan data titik – titik sebaran sekolah dasar Kota Bogor dari Microsoft Excel ke ArcGIS dengan cara klik Start  lalu klik program  lalu klik software ArcGIS

Gambar 3. 3. Tampilan lembar kerja ArcGIS 4. Langkah selanjutnya memasukan data

koordinat dari Microsoft Excel ke ArcGIS dengan cara add data  lalu pilih file ( data excel pembagian swasta dan negeri ) dengan format „xlsl‟, lalu klik add. Setelah di klik add maka akan muncul tabel sekolah dasar Kota Bogor.

(5)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

19 Gambar 3. 4. Tampilan layer tabel sekolah dasar

negeri di ArcGIS

5. Langkah selanjutnya memanggil data koordinat dari Microsoft Excel ke ArcGIS dengan cara klik kanan pada layer sekolah dasar  pilih display XY data.

6. Pada tampilan display xy data, klik negeri pada kolom (choose a table from map or browse for another table), selanjutnya pilih X pada tabel X field dan pilih Y pada tabel Y field, lalu klik ok.

Gambar 3. 5. Tampilan data sebaran titik – titik dari microsoft excel sudah terinput 7. Langkah selanjutnya adalah export nilai

koordinat pada titik – titik sebaran sekolah dasar swasta ke dalam bentuk shapefile dengan cara klik kanan pada layer sekolah

 lalu klik data  lalu klik export data.

Gambar 3. 6. Tampilan export data titik – titik dari microsoft excel menjadi data shapefile

3.2. Pengolahan Data Memasukan Data Atribut

Setelah tabel atribut data spasial dibuat, tahap selanjutnya yaitu memasukan informasi data non spasial sekolah dasar negeri dan swasta kedalam data vektor (spasial). Dalam proses input data ini penulis memasukan informasi penting seperti nama/Toponimi, alamat, koordinat lokasi, dll.

Gambar 3. 7. Memasukan data atribut sekolah dasar

3.3. Penyusunan Basis Data Sekolah Dasar Yang Terbagi Dalam 6 Kecamatan

Berikut penyusunan basis data sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor.

Tabel 3. 1. Penyusunan basis data sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor

Fid Text

Shape Point

Nomor Text

X Long integer

Y Long integer

NPSN

(Nomor Pokok Sekolah Nasional) Text

Kode GPS Text

Nama sekolah Text

Alamat Text

Status Text

(6)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

20

Luas (m) Short integer

Jumlah guru Short integer

Jumlah siswa Short integer

Jumlah kelas Short integer

Prasarana Text

Akreditasi Text

Rombongan belajar Short integer

Prestasi Text

Foto Text

3.4. Pemetaan Sekolah Dasar Negeri Dan Swasta Kota Bogor

Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, penulis dapat membuat peta sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor. Berikut ini hasil pemetaan sekolah dasar.

Gambar 3. 8. Sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor

Gambar 3. 9. Sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Bogor Barat

Gambar 3. 10. Sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Bogor Utara

Gambar 3. 11. Sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Bogor Timur

Gambar 3. 12. Sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Bogor Selatan

(7)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

21 Gambar 3. 13. Sebaran sekolah dasar negeri dan

swasta Kecamatan Bogor Tengah

Gambar 3. 14. Sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Tanahsareal

3.5. Sistem Informasi Sekolah Dasar Negeri Dan Swasta Kota Bogor Yang Terbagi Dalam 6 Kecamatan Dan Pemerataan Kesempatan Belajar Masing-masing Kecamatan di Kota Bogor

Data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Bogor, jumlah sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor berjumlah 290, berdasarkan hasil survei lapangan terdapat 275 sekolah dasar masih beroperasi dan 25 sekolah dasar yang sudah tidak beroperasi.

Dari data tersebut penulis dapat membangun sistem informasi geografis dan membuat peta sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor.

Pada Bab. III sudah dijelaskan mengenai teknis pengumpulan data dari survei lapangan, pengolahan data serta membangun Sistem Informasi Geografis (SIG) sebaran sekolah dasar negeri dan swasta. Dalam Bab IV penulis akan menjelaskan tentang jumlah sekolah dasar yang masih beroperasi, sudah tidak beroperasi maupun sekolah yang digabung menjadi satu di masing-masing kecamatan.

berikut ini tabel sekolah dasar negeri dan swasta masing-masing kecamatan di Kota Bogor.

Tabel 5. 2. Hasil survei lapangan tahun 2014

Kecamatan Jumlah sekolah

Sekolah yang digabung

Sekolah yang sudah

tidak beroperasi Bogor

barat 64 1 2

Bogor

utara 48 - 6

Bogor

timur 31 - -

Bogor

selatan 49 - 15

Bogor

tengah 48 2 2

Tanah

sereal 35 - 1

Jumlah 275

1. Kecamatan Bogor Barat

Dapat dilihat pada bab sebelumnya, penulis menampilkan hasil sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Bogor Barat. Terlihat pada tabel 4.1 Kecamatan Bogor Barat memiliki sekolah dasar negeri dan swasta berjumlah 64. Kecamatan Bogor Barat adalah Kecamatan di Kota Bogor yang memiliki jumlah sekolah dasar negeri dan swasta paling banyak dibandingkan Kecamatan yang lain.

selain itu Kecamatan Bogor Barat terdapat 1 sekolah dasar negeri yang digabung, yaitu SDN Purbasari 2, 3, selain itu di Kecamatan Bogor Barat terdapat 2 sekolah dasar negeri yang sudah tidak beroperasi, yaitu SDN Cilendek 3 dan SDN Curug 2.

2. Kecamatan Bogor Utara

Kecamatan Bogor Utara memiliki sekolah dasar negeri dan swasta berjumlah 48 dan terdapat 6 sekolah dasar negeri yang tidak beroperasi, yaitu SDN Kebonkopi 2, SDN Kawungluwuk 1, 2, 3, 4, dan SDN Babakansari.

3. Kecamatan Bogor Timur

Kecamatan Bogor Timur memiliki sekolah dasar negeri dan swasta berjumlah 31 dan tidak terdapat sekolah yang digabung dan sekolah yang tidak beroperasi. Selain itu di Kecamatan Bogor Timur termasuk Kecamatan yang memiliki sekolah paling sedikit dibandingkan kecamatan yang lainnya.

4. Kecamatan Bogor Selatan

Kecamatan Bogor Selatan memiliki sekolah dasar negeri dan swasta yang berjumlah 49 dan terdapat 15 sekolah dasar negeri yang tidak beroperasi, sekolah tersebut adalah SDN Harjasari 3, SDN Mulyaharja, SDN Bondongan 1, 2, 3, 4, SDN Empang 3, 4, 5, SDN Sukasari 1, 2, 3, 4, SDN Harjasari 3, dan SDN Wangunsari.

5. Kecamatan Bogor Tengah

Kecamatan Bogor Tengah memiliki sekolah dasar negeri dan swasta berjumlah 48 unit dan terdapat 2 sekolah dasar negeri yang digabung yaitu SDN Dewi Sri 1, SDN Dewi Sri 2, dan SDN Dewi Sri 3 (dahulu

(8)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

22 bernama SDN Pabrik es 1,2,3) dan SDN

Sindangsari. Selain itu di Kecamatan Bogor Tengah juga terdapat 2 sekolah dasar yang tidak beroperasi, yaitu SDN Pengadilan 4, SDN Siliwangi, Pada Kecamatan Bogor Tengah termasuk Kecamatan yang banyak mengalami perubahan data dari jumlah sekolah dasar negeri swasta yang digabung menjadi satu dan jumlah sekolah yang tidak beroperasi.

6. Kecamatan Tanahsareal

Kecamatan Tanahsareal memiliki sekolah dasar negeri dan swasta berjumlah 48. Pada Kecamatan Tanahsareal terdapat 1 sekolah dasar swasta yang tidak beroperasi yaitu SDS IT Abdullah Bin Nuh.

Dalam kegiatan pemetaan sekolah dasar negeri dan swasta ini terdapat beberapa kendala dimulai dari kesulitan alat GPS Garmin 76CSX memperoleh akurasi dibawah 5 meter, hal ini disebabkan adanya pohon berukuran besar pekarangan sekolah dasar dan bangunan sekolah yang bertingkat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mencari lokasi disekitaran sekolah dasar yang tidak mengganggu sinyal GPS antara lain tiang bendera sekolah dasar. Selain itu dalam kegiatan pemetaan sekolah dasar dan swasta ini terdapat kendala pada saat melakukan wawancara, yaitu sulitnya bertemu dengan pihak sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah atau Guru yang mengetahui informasi sekolah tersebut. mengingat keterbatasan waktu dalam kegiatan pemetan sekolah dasar negeri dan swasta. Umumnya permasalahan saat wawancara muncul pada sekolah dasar swasta. Untuk mengatasi permasalahan tersebut penulis menitipkan kuisioner kepada pihak sekolah (Guru) dan memberikan waktu selama 2 hari. Umumnya peta kecamatan memiliki skala 1 : 25.000 menggunakan kerta A0, namun pada penelitian ini penulis menggunakan skala yang berbeda di masing-masing kecamatan. Pada skala 1:25.000 objek titik-titik sebaran sekolah dasar kurang terlihat denan jelas jelas mengingat pada peta sebaran sekolah dasar negeri dan swasta terdapat 2 sampai 3 sekolah dasar yang lokasinya sangat berdekatan. Sehingga penulis menggunakan skala yang lebih besar agar objek titik-titik sebaran sekolah dasar dapat terlihat dengan jelas. Selain itu dikarenakan ukuran kertas yang digunakan adalah A0 pada peta sebaran sekolah dasar negeri dan swasta di masing-masing kecamatan, sehingga mempengaruhi skala dan perbesaran objek di permukaan bumi.

3.6. Pengumpulan Data Daya Tampung

Pada penelitian ini pengumpulan data untuk menghitung daya tampung di peroleh dari Dinas Pendidikan Kota Bogor.

Adapun data-data yang dipergunakan, yaitu : 1. Jumlah penduduk usia sekolah

dasar Kota Bogor 2.

Tabel 3. 3. Angka partisipasi murni (APM)

No

Kecamatan

APM SD Laki-

laki perempuan

Jumlah (%) 1

Bogor

Barat 104.12 96.78 100.41

2

Bogor

Selatan 94.42 88.19 91.27

3

Bogor

Tengah 192.81 185.96 189.35 4

Bogor

Timur 114.10 104.21 109.06

5

Bogor

Utara 77.64 73.64 75.62

6 Tanahsareal 92.75 85.87 89.27 Sumber : Dinas Pendidikan Kota Bogor Tahun

2017-2018

3. Jumlah kelas di masing-masing sekolah dasar Kota Bogor Tabel 3. 4. Jumlah ruangan kelas masing-masing

Kecamatan di Kota Bogor.

No Kecamatan SD MI JUMLAH

1 Bogor Barat 617 51 668 2 Bogor Selatan 395 69 464 3 Bogor Tengah 454 16 470 4 Bogor Timur 281 34 315 5 Bogor Utara 362 46 408 6 Tanahsareal 379 215 594 Sumber : Dinas Pendidikan Kota Bogor Tahun

2017-2018

4. Jumlah siswa pada jenjang sekolah dasar Kota Bogor Tabel 3. 5. Jumlah penduduk usia sekolah dasar

di Kota Bogor

No Kecamatan

Usia Sekolah

7-12 Tahun Jumlah Laki-laki Perempuan

1

Bogor

Barat 12.276 12.525 24.801

2

Bogor

Selatan 11.273 11.501 22.774 3

Bogor

Tengah 4.690 4.786 9.475

4

Bogor

Timur 5.477 5.590 11.068

5

Bogor

Utara 10.326 10.536 20.863

6 Tanahsareal 12.396 12.396 25.044 Sumber : Dinas Pendidikan Kota Bogor Tahun

2017-2018

(9)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

23 Langkah-langkah pengolahan data daya tampung

setelah data-data diperoleh, maka tahapan selajutnya dilakukan pengolahan data, antara lain sebagai berikut:

1. Editing

Setelah mendapatkan data dari beberapa sumber kemudian dilakukan editing untuk mencegah tingkat kesalahan perhitungan dan kekurangan data.

2. Tabulasi dan kompilasi data

Data yang sudah di edit kemudian diklasifikasi untuk mempermudah proses analisis.

Klasifikasi data adalah kegiatan menyusun dan mengelompokan data sesuai dengan parameter yang digunakan.

3.7. Kemampuan Daya Tampung Sekolah Dasar Dan Kesempatan Belajar Masyarakat Kota Bogor

Seperti yang sudah di jelaskan pada bab III pengolahan. Pada bab ini penulis akan menjelaskan hasil perhitungan jumlah kelas ideal dan kemampuan daya tampung di masing-masing kecamatan. Untuk memperoleh daya tampung diperlukan data jumlah Angka partisipasi sekolah dasar (APM), jumlah penduduk usia sekolah dasar, dan jumlah ruangan kelas.

Pada tabel 3.2 Angka partisipasi murni (APM) Kecamatan Bogor Tengah memiliki angka partisipasi murni tertinggi dengan jumlah 189,35%

sedangkan angka partisipasi murni terendah dimiliki oleh Kecamatan Bogor Utara dengan jumlah 75,62%. Adapun faktor yang mempengaruhi perbedaan di masing-masing Kecamatan, antara lain Kecamatan Bogor Tengah terletak di pusat Kota sehingga banyaknya mobilisasi di kecamatan tersebut, selain itu banyaknya sekolah dasar favorit yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap di Kecamatan Bogor Tengah dan banyaknya prasarana umum dari segi transportasi yang melewati sekolah dasar sehingga mempermudah akses dari segi transportasi dan jarak antar sekolah yang tidak terlalu jauh sehingga dapat mengefisienkan waktu.

Pada tabel 3.3 Angka Partisipasi Murni (APM) ada kecamatan yang menurut penulis menarik untuk dibahas. Yaitu kecamaan Bogor Tengah. Kecamatan Bogor Tengah memilki jumlah pendudk usia sekolah dasar terendah dengan jumlah 9.475 dan memiliki angka partispasi murni tertinggi di Kota Bogor dengan jumlah 189,35. Apabila jumlah penduduk lebih besar pada satu kecamatan, maka angka partisipasi murninya akan tinggi.

Contohnya pada kecamatan Bogor Barat. %. Hal ini bebanding terbalik pada kecamatan Bogor Tengah.

Dari kondisi kecamatan Bogor Tengah seperti yang

telah dijelaskan, maka sangatah tidak heran jika di peroleh Angka Partisipasi murni tertinggi sebesar 189,35%.

Pada tabel 3.5 Jumlah penduduk usia sekolah dasar tertinggi terdapat pada Kecamatan Tanahsareal dengan jumlah 25.044 jiwa sedangkan jumlah penduduk usia sekolah dasar terendah terdapat pada Kecamatan Bogor Tengah dengan jumlah 9.475 jiwa.

Pada tabel 3.4 Jumlah ruangan kelas tertinggi terdapat pada Kecamatan Bogor Barat dengan jumlah 668 sedangkan jumlah ruangan kelas terendah terdapat pada Kecamatan Bogor Timur dengan jumlah 315. adapun faktor yang mempengaruhi perbedaan jumlah ruangan kelas di masing-masing kecamatan yaitu banyaknya sekolah dasar negeri di Kecamatan Bogor Barat yang mendapatkan dana untuk perbaikan sarana dan prasarana, mengingat tingginya jumlah penduduk di Kecamatan Bogor Barat.

Kebutuhan minimal ruangan kelas sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk usia tingkat sekolah dasar yang tercatat bersekolah dan angka partisipasi murni (APM) sekolah dasar di masing- masing kecamatan.

Perhitungan jumlah kelas ideal yang dibutuhkan oleh masing-masing kecamatan. dalam penelitian ini, peraturan yang di gunakan adalah PERMENDIKBUD No. 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru yang menyatakan bahwa kapasitas maksimum sebuah ruangan kelas adalah 28 siswa.

4. PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

1. Pembuatan sistem informasi geografis ini dilakukan untuk memudahkan memperoleh informasi sebaran sekolah dasar negeri dan swasta Kota Bogor.

2. Sistem informasi geografis sebagai alat bantu manajemen berupa informasi dalam bentuk komputerisasi yang berkaitan erat dengan sistem pemetaan.

3. Pemerataan pendidikan sekolah dasar di Kota Bogor dapat tepenuhi hal ini di sebabkan tersedianya sarana dan prasarana yang telah di rencanakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bogor.

4. Pembangunan sarana pendidikan berupa sekolah masih berorientasi pada tingkat fasilitas umum penunjang mobilitas yang ada pada masing-masing kecamatan yang ada di Kota Bogor. Hal ini di buktikan dengan kecamatan Bogor Tengah.

Kecamatan Bogor Tengah memiliki jumlah penduduk usai sekolah dasar terendah namun memiliki angka partispasi murni tertinggi. Hal ini terkait dengan ketersedian

(10)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

24 fasilitas umum penunjang mobilitas paling

lengkap jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya.

5. Secara keseluruhan kebutuhan ruangan kelas yang ada di masing-masing kecamatan di Kota Bogor masih tinggi. Hal ini menyebabkan kemampuan daya tampung di masing-masing kecamatan di Kota Bogor ―tidak terpenuhi‖ atau dibawah 100%.

4.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan perlu adanya perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan untuk penelitian selanjutnya yang sejenis, Adapun beberapa hal yang dapat dijadikan rekomendasi adalah sebagai berikut:

1. Dalam pembangunan pendidikan khususnya pengadaan sekolah.

Pemerintah harusnya tidak hanya berfocus pada sekolah dasar favorit.

melainkan juga pada sekolah yang angka partisipasi murninya rendah agar masyarkat berminat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.

2. Perlu diupayakan fasilitas pendidikan berupa penambahan ruangan kelas di masing-masing kecamatan yang ada di Kota Bogor agar semua penduduk usia sekolah dasar dapat memperoleh kesempatan besekolah.

3. Diperlukan analisis perencanaan lebih lanjut terkait kemungkinan- kemungkinan permasalahan selain faktor daya tampung.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada keluargadan rekan-rekan yang telah memberi dukungan dalam menyusun penelitian ini, terutama kepada Universitas pakuan dan LPPM Universitas Pakuan.

DAFTAR PUSTAKA

Irfani, R. 2011. Kemampuan Daya Tampung Sekolah Terhadap Kesempatan Bersekolah Masyarakat.Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Muslih.2008. Sistem Informasi Geografis Layanan Pendidikan Tingkat SMU Se-Kodya Semarang. Techno.Com, Vol. 7 No. 2, Mei 2008

Suryani, S., dkk.2011. Sistem Informasi Geografis Pemetaan Sekolah Tingkat Pendidikan Dasar Dan Menengah Di Kota Serang. Jurnal masyarakat informatika Vol. 2 nomor 3.

Fakultas MIPA Universitas Diponegoro Abidin, H.Z. 2001. Geodesi Satelite, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Abidin, H.Z. (1995). Penentuan Posisi Dengan GPS dan Aplikasinya, PT Pradnya Paramita, Jakarta

Anam,Saipul. 2004. Menggunakan ArcINFO Untuk Proyeksi Peta. Informatika. Bandung GIS konsorsium Aceh Nias. 2007. Modul Pelatihan

ArcGIS Tingkat Dasar. Staf pemerintah Kota Banda Aceh. Banda Aceh.

Mudyaharjo,. R. 2001. Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan Pada umumnya Dan Pendidikan Di Indonesia.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sadulloh, U. 2011. Pengantar Filsafat Pendidikan.

Bandung : CV Alfabeta.

Miarso, Y. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana.

R.I. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbaran.

R.I. 2017. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 17 Tahun 2017

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sitrus, R. 1985. Evaluasi Tingkat Kecukupan Fasilitas Pelayanan Pendidikan Jenjang Dasar, Lanjutan dan Menengah Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2000; Judul Skripsi F.G UGM Yogyakarta.

Muta‘ali, Luthfi. 2000. Teknik Analis Regional.

Yogyakarta: Jurusan PPW Fakultas Geografi UGM

Muslih. 2008. Sistem Informasi Geografis Layanan Pendidikan Tingkat SMU Kota Semarang.

Vol.7 Techno.com. Semarang

Prahasta, Eddy. 2014. Sistem Informasi Geografis Konsep-Konsep Dasar (Perspektif Geodesi Dan Geomatika. Informatika. Bandung Rogers, E.M., 1983, Diffusion of Innovations, 3th

Ed., New York: The Free Press.

Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, (Yogyakarta:

Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 1962) Heywood, Ian. Cornelius, Sarah & Carver, Steve.

2002, Geographical Information System (2nd ed.). London: Prentice Hall.

Prahasta, Eddy. 2005. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Informatika. Bandung.

(11)

FIT ISI 2019 dan ASEANFLAG 72

nd

COUNCIL MEETING

25 Purwoharjo. Umaryono. 1988. Proyeksi Peta.

Kanisius. Yogyakarta..

Artimo, K. 1994. ―The bridge between Cartographical and Geographical

Information System”, Modern cartographical, Vol.II: Visuallization in modern

cartographical, 45-62. New York.: Elsevier Sciences. Ltd.

Abidin, Hassanudin Z. 2000. Penentuan Posisi Dengan GPS Dan Aplikasinya. Cetakan Kedua. Jakarta: Pradya Pramitra.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan beberapa algoritma yaitu diantaranya algoritma Naïve Bayes Classifier dan Support Vector Machine dengan menggunakan boosting