Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Sunan Kalijaga merupakan salah satu Wali Songo yang mempunyai banyak ide kreatif dalam menyebarkan ajaran Islam di nusantara. Kalijaga dalam menyebarkan ajaran Islam dengan judul “Pendidikan Non Formal Sunan Kalijaga dalam Buku Atlas Wali Songo Karya Agus Sunyoto”.
Fokus Penelitian
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Sedangkan penelitian saat ini mengkaji tentang pendidikan nonformal Sunan Kalijaga dalam kitab Atlas Wali Songo. Sedangkan penelitian saat ini mengkaji tentang pola pendidikan nonformal Sunan Kalijaga dalam kitab Atlas Wali Songo.
Manfaat Penelitian
Batasan Istilah
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Metode Penelitian
- Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian
- Data dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Sistematika Pembahasan
Kajian Teori
Biografi Sunan Kalijaga
- Riwayat Hidup Sunan Kalijaga
- Silsilah Keturunan Sunan Kalijaga
- Pendidikan Sunan Kalijaga
- Perkawinan Sunan Kalijaga
- Kematian Sunan Kalijaga
Terbukti Sunan Kalijaga pernah tinggal di Cirebon dan berteman baik dengan Sunan Gunung Jati. Konon Sunan Kalijaga merupakan keturunan seorang Tionghoa bernama Oei Tik Too yang mempunyai putra bernama Wiratikta dan. Keturunan Jawanya adalah Adipati Ronggolawe (Bupati Tuban), putra Ario Teja I (Bupati Tuban), putra Area Teja II (Bupati Tuban), putra Area Teja III (Bupati Tuban), putra Raden Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban). ). ), dan putra Raden Mas Said “Sunan Kalijaga” 11.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, disebutkan bahwa Sunan Bonang sebenarnya berkerabat dengan Sunan Kalijaga. Namun dalam kronik Jawa terdapat beberapa versi yang menyebutkan bahwa Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga tidak saling mengenal sebelumnya. Inti ajaran yang diberikan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga adalah sangang paraning ngang, suatu ilmu yang pada hakikatnya menjelaskan :.
Menurut teks Sejarah Banten, Sunan Kalijaga berguru pada Syekh Sutabris pada abad ke-15. Salah satu sumber menyebutkan, ketika Sunan Kalijaga tinggal di Cirebon, ia belajar Ilafi dari Syekh Siti Jenar. Namun ada keterangan yang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga juga pernah menikah dengan Siti Khafsah binti Sunan Ampel.
Pendidikan Non Formal
- Pengertian Pendidikan
- Pengertian Pendidikan Non Formal
- Fungsi Pendidikan Non Formal
- Tujuan Pendidikan Non Formal
- Karakteristik Pendidikan Non Formal
- Sifat-sifat Pendidikan Non Formal
Pendidikan nonformal merupakan salah satu jalur pendidikan yang dapat dipilih sebagian masyarakat, selain pendidikan formal. Dari pengertian pendidikan nonformal di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal adalah suatu bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar pendidikan formal dan direncanakan secara matang serta ditujukan untuk belajar mandiri. Dalam hal ini, pendidikan nonformal dapat mempercepat proses pemberian layanan dalam waktu yang relatif singkat.22.
Dilihat dari faktor tujuan pendidikan, pendidikan nonformal bertanggung jawab untuk mencapai dan memenuhi tujuan yang sangat luas jenis, tingkatan dan ruang lingkupnya. Pendidikan nonformal bertujuan untuk memperoleh keterampilan yang akan digunakan, menekankan pembelajaran fungsional yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari segi tujuan, tujuan pendidikan nonformal dapat lebih luas dan spesifik sesuai dengan kebutuhan.
Pendidikan nonformal lebih efektif dan efisien, efektif karena program pendidikan nonformal dapat spesifik sesuai kebutuhan dan tidak memerlukan syarat yang ketat. Pendidikan non-formal cepat menguntungkan, artinya dapat digunakan untuk melatih tenaga kerja yang diperlukan, terutama yang berkualitas, dalam waktu singkat. Pendidikan nonformal bersifat sangat instrumental, artinya pendidikan bersifat fleksibel, mudah dijangkau, sehingga membuahkan hasil dalam waktu yang relatif singkat.
Konsep Pendidikan Non Formal Sunan Kalijaga dalam Buku Atlas Wali
Biografi Agus Sunyoto
Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi). NU) yang berperan aktif dalam memaparkan pemikiran-pemikiran masyarakat adat nusantara.1. Agus Sunyoto merupakan seorang sastrawan sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslim Nahdlatul Ulama PBNU (Lesbumi). Selain menjadi Ketua Lesbumi, Agus Sunyoto juga merupakan penggagas/penggagas Saptawikrama, yaitu aturan atau pedoman kebijakan NU yang berisi kebijakan dan penjabaran sikap terhadap permasalahan yang sedang menjadi perhatian masyarakat setempat, yang memuat tujuh strategi budaya.
Sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa latar belakang sejarah Wali Songo adalah kenyataan dan bukan khayalan, terbukti melalui salah satu karyanya yang luar biasa ia menyusun kitab Atlas Wali Songo dengan metodologi yang lengkap dan dapat dibuktikan secara arkeologis di mana matanya melihat penyebaran Islam di nusantara secara detail, mendalam dengan tokoh nyata, bukan fiksi. Bahkan, buku Atlas Wali Songo mendapat penghargaan dan dinobatkan sebagai “Buku Kehidupan Sejati Terbaik” pada tahun 2014 yang diadaptasi melalui Pameran Buku Islam. Penghargaan diserahkan oleh Direktur Pengurus Peringatan Ikatan Distributor Indonesia (IKAPI) Setia Dharma Madjid Center kepada Agus Sunyoto di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.2.
2Fathoni Ahmad, “Profil K.H Agus Sunyoto, Sejarawan Berbakti,” (online), tersedia di https://www.nu.or.id/toko/profil-kh-agus-sunyoto-sejarawan-berdedik-tinggi-QbZ8o pada hari Kamis 12 Januari 2023. Ia kemudian mulai menulis artikel dan cerita pendek di Harian Jawa Pos pada tahun 1984, disusul dengan cerita pendek berjudul Orang Bawah Tanah pada tahun 1985. Ia memulai karirnya sebagai kolumnis pada tahun 1984, kemudian pada tahun 1986- Pada tahun 1989 ia menjadi penulis lepas Jaringan Nasional Jawa Pos (JPNN), sering menulis novel dan artikel di Jawa Pos, Surabaya Pos, Surya, Republika dan Merdeka.
Karya-karya Agus Sunyoto
Sejak tahun 1990an, beliau mulai bekerja di lembaga swadaya masyarakat dan melakukan penelitian sosial dan sejarah, serta memaparkan hasil penelitiannya dalam bentuk laporan ilmiah atau dalam bentuk novel. Selanjutnya karya bukunya yang diterbitkan antara lain Sumo Bawuk (Jawa Pos, 1987), Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa (LPLI Sunan Ampel, 1990), Penelitian Kualitatif Ilmu Sosial dan Agama (Kalimasahada, 1994 ), Banser Berjihad Melawan PKI (LKP GP Ansor Jatim, Surabaya, 1995), Darul Arqam: Gerakan Mesianis Melayu (Kalimasahada, 1996), Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Lingkar Kajian Budaya, 1999), Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang ( Pemerintah Kabupaten Malang, 2001), Syekh Siti Jenar I (LKiS Yogyakarta, 2003), Syekh Siti Jenar II (LKiS Yogyakarta, 2003), Syekh Siti Jenar III (LKiS Yogyakarta, 2003), Syekh Siti Jenar IV (LKiS Yogyakarta, 2004), Syekh Siti Jenar V (LKiS Yogyakarta, 2004), Syekh Siti Jenar VI (LKiS Yogyakarta, 2005), Syekh Siti Jenar VII (LKiS Yogyakarta, 2005), Sufi Ndeso v. Wahabi Kota (Mizan Group Jakarta, 2012), Dajjal (LKiS , 2006), Rahwana Tattwa (LKiS, 2006), Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Rohani Syekh Siti Jenar (LKiS, 2003), Sang Reformator: Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar (LKiS, 2004), Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Divergensi Ajaran Syekha Siti Jenarja (LKiS, 2005), Dhaeng Sekara: Telik Sandi Negeri Asing Majapahit (Diva Press, 2010), Lubang-lubang Pembantaian/Pemberontakan FDR/PKI 1948 (Grafti Press, 1990). Dan karya terbarunya yang merupakan salah satu karya fenomenalnya adalah buku Atlas Wali Songo: Buku Pertama Mengungkap Fakta Sejarah Wali Songo.
4.
Tinjauan Tentang Buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto
Penelitian dan tulisan tentang latar belakang sejarah Wali Songo mempunyai daya tarik yang luar biasa, yaitu dari sudut pandang Islam, tetapi juga dari sudut pandang budaya-sejarah. Tujuan dibuatnya buku Atlas Wali Songo bagi pembaca adalah agar kita sebagai masyarakat hanya mendengar cerita dan sejarah tentang Wali Songo dari mulut ke mulut seperti ceramah dan dakwah, karena sumbernya tidak terverifikasi sehingga tingkat legitimasinya rendah atau rendah. secara keseluruhan masih dipertanyakan. Selain itu, kita selalu silih berganti antara mitos dan fakta tentang sejarah Wali Songo, akibatnya ketika kita menyampaikannya kepada orang lain kita merasa tidak yakin.
Namun dengan menyusun kitab Atlas Wali Songo ini, dengan membacanya kita dapat memperoleh landasan sejarah yang kuat, memperoleh bukti-bukti sejarah yang mempunyai tingkat keabsahan yang lebih tinggi sehingga kita dapat yakin akan sejarah Wali Songo.7. Konsep pendidikan nonformal Sunan Kalijaga menurut kitab Atlas Wali Songo. Sebelum masuk ke pembahasan mengenai pandangan Sunan Kalijaga tentang
Konsep Pendidikan Non Formal Sunan Kalijaga
Maka Sunan Kalijaga tentunya mempunyai pemikiran yang menarik dan lebih spesifik lagi dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat luas melalui pendidikan yang diberikannya. Hal ini menjadikan pendidikan nonformal yang dilaksanakan Sunan Kalijaga lebih efektif dan efisien.10. Maka yang dilakukan Sunan Kalijaga sebagai dalang adalah melestarikan kebudayaan yang ada.
Dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Kalijaga selalu mengenakan pakaian adat Jawa yaitu memakai blangkon. 14Ahmad Nur Waqid, “Metode Dakwah Sunan Kalijaga Melalui Akulturasi Budaya dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam,” 68. Sebagai seorang seniman, Sunan Kalijaga dalam menyebarkan ajaran Islam berhasil menciptakan beberapa karya seni yang menggambarkan maksudnya pandangan.
Hal inilah yang melatarbelakangi pembuatan wayang Sunan Kalijaga. Saya adalah media utama untuk program pendidikan yang dibuatnya. Sebagai dalang yang merantau dari berbagai tempat, Sunan Kalijaga dikenal sebagai orang suci yang piawai memainkan wayang. Kemampuan yang dicontohkan Sunan Kalijaga merupakan kemampuan yang tidak lepas dari wawasan lingkungan yang menjadi kearifan lokal.
Oleh karena itu, dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Kalijaga memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk membuat pakaian yang cocok untuk umat Islam di Pulau Jawa. Strategi Pendidikan dalam Lagu Lir-ilir Sunan Kalijaga Sebagai Media Dakwah Budaya,” Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah, Vol.5, No.1, 2020.
Pola Pendidikan Non Formal yang Diterapkan Sunan Kalijaga
Analisis Pola Pendidikan Non Formal Sunan Kalijaga dalam buku Atlas
Penutup
Kesimpulan
Konsep pendidikan non formal Sunan Kalijaga dalam mendidik masyarakat jawa agar mampu mengamalkan ajaran islam antara lain melalui media peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w dengan mengadakan acara sekaten, menciptakan lagu-lagu yang berisi doa-doa yang mengandung makna filosofis yang dalam, bagaimana Beliau mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, merancang dan mengembangkan pelatihan pembuatan pakaian takwa yang sesuai dengan pakaian masyarakat Islam di tanah Jawa. Model pendidikan nonformal yang dilaksanakan Sunan Kalijaga antara lain pendidikan melalui nyanyian, pendidikan melalui wayang sebagai alat pengajaran dengan mentransformasikan nilai-nilai ajaran Islam, pendidikan melalui keterampilan yaitu pelatihan produksi alat-alat pertanian.
Saran
Profil K.H. Agus Sunyoto, seorang sejarawan yang sangat berdedikasi,” (online), https://www.nu.or.id/toko/profil-kh-agus-sunyoto-sejarawan-berdedik-tinggi-. Bentuk, Fungsi dan Makna Kidung Rumekse Ing Wengi,” Kawruh: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya Lokal, Vol 3, No.1, 2021. Budi, “Biografi K.H Agus Sunyoto,” (Online), https: / /www.laduni.id/post/read/69376/biografi-kh-agus-sunyoto-mpd.
Model Pendidikan Islam Kreatif Wali Songo, Melalui Pemberian Pendidikan Menyenangkan,” Jurnal Penelitian, Vol.11, No.1, 2017. Perkembangan Islam di Indonesia,” (Online), http://blog.uin-malang.ac.id /ariesduro perkembangan-Islam-di-Indonesia/. Meneliti dan meneladani ajaran Sunan Kalijaga. “Mengenalkan Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren,” Mu’alim: Jurnal Pendidikan Islam, Vol.3, No.2, 2022.
Agus Sunyoto, Sejarawan Islam dan Peneliti Buku Atlas Wali Songo", (online), https://thephrase.id/kh-agus-sunyoto-sejarawan-islam-dan-peneliti-buku-atlas-wali-songo/ . Administrasi Dakwah Wali Songo Pada Zaman Kerajaan Majapahit.” International Journal of Religious and Cultural Studies, Vol 1, No.1, 2019. Pemberdayaan masyarakat miskin, melalui proses pendidikan nonformal”, Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, Vol.1, No.1, 2014.