PENDIRIAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDES) DAN BADAN USAHA MILIK ANTAR DESA (BUMADES)
DI KABUPATEN TULANG BAWANG PROVINSI LAMPUNG
Materi ini disampaikan pada Kegiatan Sosialisasi dan Motivasi Pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dan Badan Usaha Milik Antar Desa (BUMADES) Di
Beberapa Kampung di Kabupaten Tulang Bawang Pada Tanggal 07 Desember 2015
Oleh:
Dra. Syamsu Rizal, MSi., CA.
Dr. Defrizal, SE., MM.
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
2015
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunianya, kami dapat melaksanakan Pengabdian Pada Masyarakat berupa soasialisasi dan motivasi pendirian BUMDES/ BUMADES pada beberapa Kampung di Kabupaten Tulang Bawang.
Pengabdian pada masyarakat merupakan salah satu tri darma perguruan tinggi yang wajib dilaksanakan oleh seorang dosen, sebagai bentuk tanggung jawab sosial insan akademik perguruan tinggi kepada masyarakat.
kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kampus untuk dapat memberikan kontribusi pemikiran dan pengetahuan kepada masyarakat. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak BPMPK Kabupaten Tulang Bawang yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Kritik dan saran dari berbagai pihak juga kami harapkan untuk perbaikan kegiatan ini pada masa yang datang.
Bandar Lampug, 26 Januari 2016-
Tim Sosialisasi
2
BAB I PENDAHULUAN
Tujuan awal pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dimaksudkan untuk mendorong atau menampung seluruh kegiatan peningkatan pendapatan masyarakat, baik yang berkembang menurut adat Istiadat dan budaya setempat, maupun kegiatan perekonomian yang diserahkan untuk di kelola oleh masyarakat melalui program atau proyek Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah. Sebagai sebuah usaha desa, pembentukan BUMDes adalah benar-benar untuk memaksimalisasi potensi masyarakat desa baik itu potensi ekonomi, sumber daya alam, ataupun sumber daya manusianya. Secara spesifik, pendirian Bumdes adalah untuk menyerap tenaga kerja desa meningkatkan kreatifitas dan peluang usaha ekonomi produktif mereka yang berpenghasilan rendah.
Sasaran pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui BUMDes ini adalah untuk melayani masyarakat desa dalam mengembangkan usaha produktif. Tujuan lainnya adalah untuk menyediakan media beragam usaha dalam menunjang perekonomian masyarakat desa sesuai dengan potensi desa dan kebutuhan masyarakat.
Usaha yang dapat dijalankan Bumdes yaitu usaha di bidang ekonomi atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pendirian Bumdes disepakati melalui Musyawarah Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.
3
Bumdes diharapkan mampu menjadi motor penggerak kegiatan ekonomi di desa yang juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan komersial. Bumdes sebagai lembaga sosial berpihak kepada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya dalam penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai lembaga komersial Bumdes bertujuan mencari keuntungan untuk meningkatkan pendapatan desa.
Pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bertujuan sebagai lokomotif pembangunan ekonomi lokal tingkat desa. Pembangunan ekonomi lokal desa ini didasarkan oleh kebutuhan, potensi, kapasitas desa, dan penyertaan modal dari pemerintah desa dalam bentuk pembiayaan dan kekayaan desa dengan tujuan akhirnya adalah meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa. Dasar pembentukan BUMDes sebagai lokomotif pembangunan di desa lebih dilatarbelakangi pada prakarsa pemerintah dan masyarakat desa dengan berdasarkan pada prinsip kooperatif, partisipatif, dan emansipatif dari masyarakat desa.
Dalam Peraturan Menteri Desa dan PDTT Nomor 4 Tahun 2015 Pasal 5 juga menjelaskan mengenai proses pendirian BUMDes yang secara berbunyi
“Pendirian BUMDes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 disepakati melalui
Musyawarah Desa, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa”. Musyawarah Desa yang dimaksud pada pasal tersebut membahas beberapa hal yang berkait dengan proses pendirian BUMDES, yaitu:
4
1. Pendirian BUMDes sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial budaya masyarakat;
2. Pembentukan organisasi pengelola BUMDesa;
3. Modal usaha BUMDesa; dan
4. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BUMDes.
Empat inti pokok bahasan inilah yang kemudian menjadi dasar pedoman bagi Pemerintah Desa (Pemdes) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk menetapkan Peraturan Desa tentang Pendirian BUMDes.
Dalam pengelolaan BUMDes, Permendesa Nomor 4 Tahun 2015 mengatur secara jelas dan detail mengenai pengelolaan teknis pelaksanaan BUMDes disertai dengan peran dan fungsi dari masing-masing perangkat BUMDes.
Pengelolaan BUMDes harus dikelola secara profesional dan mandiri, sehingga diperlukan orang-orang yang memiliki kompetensi untuk mengelolanya.
Perekrutan pegawai ataupun manajer dan selevelnya harus disesuaikan dengan standar yang sudah ditetapkan dalam AD/ART BUMDes.
Sebagai sebuah lembaga yang juga diwajibkan mendapat profit, perlu ada mekanisme yang harus ditaati oleh pengelola BUMDes dalam melakukan kerjasama dengan pihak lain. Kegiatan yang bersifat lintas desa perlu ada koordinasi dan kerjasama antar Pemerintah Desa dalam pemanfaatkan sumber- sumber ekonomi, misalnya sumber air bagi air minum dan pertanian, dan sebagainya. Dalam melakukan kerjasama dengan pihak ketiga oleh pengelola
5
BUMDes harus melalui konsultasi dan persetujuan Dewan Komisaris BUMDes.
Dalam kegiatan harian, pengelola harus mengacu pada tata aturan yang sudah disepakati bersama sebagaimana yang telah tertuang dalam AD/ART BUMDes, serta sesuai prinsip-prinsip tata kelola BUMDes.
Hal penting lainnya, dalam pengelolaan BUMDes sangat dibutuhkan pengelolaan dan pelaporan yang transparan bagi pemerintah dan masyarakat.
Artinya dasar pengelolaan harus serba transparan dan terbuka, sehingga ada mekanisme check and balance baik oleh pemerintahan desa maupun masyarakat.
Untuk itu diperlukan inovasi baru atau selalu mewaspadai perubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. BUMDes yang semakin berkembang dapat mencapai sasaran utamanya yaitu kemajuan dan kemakmuran masyarakat desa yang utuh.
6
BAB II
TARGET DAN LUARAN
Kegitan ini ditargetkan untuk memberikan pemahaman arti pentingnya BUMDES/ BUMADES kepada para kepala kampung di beberapa kecamatan dan berbagai pihak yang terkait dengan keberadaan BUMDES dan BUMADES di Kabupaten Tulang Bawang.. Setalah itu dapat melakukan tindak lanjut untuk mendirikan BUMDES/ BUMADES, dalam rangka untuk menggali potensi ekonomi yang ada di Kampung dan Kecamatan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Kegiatan ini juga untuk menunjang kebijakan pemerintah pusat dalam pengalokasian dana desa, sehingga sebagian dana desa yang diterima lewat Anggaran dan Pendapatan Belanja Desa (APBDesa) dapat dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif berupa penyertaan modal saham yang akan dimiliki kampung.
7
BAB III
METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan kegiatan berupa presentasi materi (bahan presentasi terlampir, diskusi tanya jawab, mendengarkan keluhan/ kendala dari para kepala kampung dan mencoba memberikan solusi dan arahan terkait dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendirian BUMDES/ BUMADES.
8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan ini sangat mendapat respon positif dari pihak-pihak yang berkepentingan, bahkan beberapa kampung di beberapa kecamatan di Kabupaten Tulang Bawang yang hadir pada acara tersebut sepakat untuk mendirikan Badan Usaha Milik Antar Desa (BUMADES).
Tindak lanjut dari kegiatan ini sangat diharapkan untuk dapat membentuk badan usaha bersama (BUMADES) yang kuat, dengan cara membentuk badan usaha dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT) yang saham-sahamnya dimiliki oleh kampung-kampung. Penyertaan modal dalam bentuk saham oleh kampung- kampung dapat menggunakan sebagian alokasi dana desa yang didapat oleh kampung melalui Anggaran Penerimaan dan Belanja Desa (APBDesa).
Pembentukan badan usaha bersama ini dimaksudkan agar pengelolaan usaha dapat lebih kuat dan memiliki begaining potition dalam berbisnis karena didukung juga oleh permodalan yang cukup kuat.
9
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Kegiatan ini berhasil memberikan pemahaman kepada para kepala kampung dan pihak terkait dalam pemberdayaan ekonomi pedesaan melalui pendirian BUMDES/ BUMADES
2. Kegiatan ini dapat memotivasi beberapa kampung yang ada di Kabupaten Tulang Bawang untuk mendirikan BUMADES.
5.2 Saran
1. Diperlukan pendampingan lebih lanjut oleh pihak Perguruan Tinggi untuk dapat mendirikan BUMDES/ BUMADES sehingga dapat memberikan masukan dalam tatakelola perusahaan yang baik
2. Diperlukan pendampingan dalam proses rekruitmen personil pengelola badan usaha yang akan didirikan, sehingga lebih menjamin akuntabilitas, kapabilitas dan independensi para pengelola yang terpilih nantinya.
10
DAFTAR PUSTAKA
1. Undang Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
2. Undang-Undang Republik Indonesia No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
3. Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
4. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa
5. Permendagri No.39 Tahun 2010 tentang Dasar Pembentukan BUMDES 6. Peraturan Menteri Desa dan PDTT Nomor 4 Tahun 2015
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BADAN USAHA MILIK DESA BERSAMA
KABUPATEN TULANG BAWANG
BENTUK BUMDES
(Permendes no.4 tahun 2015)
BUMDES BUMDES
BERSAMA
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BENTUK BADAN HUKUM
LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
PERSEROAN
TERBATAS
1. MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DESA;
2.MENGOPTIMALKAN ASET DESA AGAR BERMANFAAT UTK KESEJAHTERAAN DESA;
3. MENINGKATKAN USAHA MASYARAKAT DLM MENGELOLA POTENSI EKONOMI DESA;
4. MENGEMBANGKAN RENCANA KERJA SAMA USAHA ANTAR DESA &/ATAU DG PIHAK KE-3 5. MENCIPTAKAN PELUANG DAN JARINGAN PASAR YANG MENDUKUNG KEBUTUHAN
LAYANAN UMUM WARGA;
6. MEMBUKA LAPANGAN KERJA;
7. MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MELALUI PERBAIKAN PELAYANAN UMUM, PERTUMBUHAN DAN PEMERATAAN EKONOMI DESA; DAN
8. MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DESA DAN PENDAPATAN ASLI DESA.
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
TUJUAN BUMDES BERSAMA
SASARAN KEGIATAN
1. BERKURANGNYA PERSENTASE PENDUDUK YG BERADA DIBAWAH GARIS KEMISKINAN 2. OPTIMALNYA MANFAAT ASET DESA UTK KESEJAHTERAAN DESA;
3. MENINGKATNYA PENDAPATAN MASYARAKAT DESA & PENDAPATAN ASLI DESA 4. TERBUKANYA KESEMPATAN KERJA DAN BERUSAHA BAGI MASYARAKAT
5. TUMBUHNYA JIWA KEWIRAUSAHAAN MASYARAKAT
6. TERJALINNYA KERJA SAMA USAHA ANTAR DESA &/ATAU DG PIHAK KE-3
7. TERPADUNYA PROGRAM PEMERINTAH DESA & PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BUMDES BERSAMA
4. JENIS USAHA 3. MODAL
2. ORGANISASI PENGELOLAAN
1. PENDIRIAN
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
5.PERTANGGUNG
JAWABAN
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
1. PENDIRIAN BUMDES
PERATURAN BERSAMA KADES TENTANG PENDIRIAN BUMDES BERSAMA
DIFASILITASI OLEH APDESI
MUSYAWARAH ANTAR DESA DIFASILITASI
OLEH BPMPK
1. PEMERINTAH DESA 2. BPD
3. LKMD
4. TOKOH MASYARAKAT DENGAN
MEMPERHATIKAN GENDER
PROSEDUR PENDIRIAN BUMDES BERSAMA 1. MUSYAWARAH ANTAR DESA
A . PESERTA
1. PEMERINTAH DESA 2. BPD
3. LKMD
4. TOKOH MASYARAKAT DG MEMPERHATIKAN GENDER 5. LEMBAGA DESA LAINNYA
;
B. MATERI
1. ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA BUMDES BERSAMA.
2. MODAL USAHA BUMDES BERSAMA 3. ORGANISASI PENGELOLA BUMDES
BERSAMA
4. PRIORITAS JENIS USAHA YG AKAN
DILAKSANAKAN
2. HASIL KEPUTUSAN
MUSYAWARAH ANTAR DESA
.
3. PERATURAN BERSAMA KEPALA DESA TENTANG
PENDIRIAN BUMDES BERSAMA
4 . PEMBUATAN AKTE PENDIRIAN BUMDES BERSAMA DENGAN NOTARIS
{( BENTUK BADAN USAHA
PERSEROAN TERBATAS (PT ) }
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
2. DIREKSI
a. DIREKTUR UTAMA b. DIREKTUR
DIREKSI DIPILIH MELALUI FIT AND PROPER TEST
1. KOMISARIS
• KOMISARIS DEPENDEN 2 ORANG
WAKIL DARI KEPALA DESA
WAKIL DARI DPD
b. KOMISARIS INDEPENDEN 1 ORANG
WAKIL DARI PEMDA ( CAMAT ) . STRUKTUR ORGANISASI
PENGELOLA BUMDES BERSAMA
3. MANAGER
a. MANAGER KEUANGAN b. MANAGER
BISNIS
4. KLASIFIKASI JENIS USAHA
1. Memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi tepat guna 2. Usaha penyewaan
3. Usaha perantara
4. Berproduksi dan/atau berdagang 5. Bisnis keuangan
6. Usaha bersama (holding) sebagai induk dari unit-unit usaha Yang dikembangkan masyarakat desa
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
5.PERTANGGUNG JAWABAN
1. Pelaksana Operasional melaporkan pertanggungjawaban
pelaksanaan BUMDES BERSAMA kepada Komisaris yang secara ex- officio Ketua Komisaris dijabat oleh salah seorang Kepala Desa yg
ditetapkan melalui musyawarah kepala desa.
2. Pelaksana Operasional mengadakan RUPS, untuk pengesahan pertanggungjawaban pelaksanaan BUMDES BERSAMA kepada
pemegang saham .
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BAGI HASIL BUMDES BERSAMA
Bagi Hasil Bumdes Bersama ditetapkan dalam Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BAGI HASIL BUMDES BERSAMA
Bagi Hasil Bumdes Bersama ditetapkan dalam Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BENTUK BUMDES
(Permendes no.4 tahun 2015)
BUMDES BUMDES
BERSAMA
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BUMDES BERSAMA
PENYERTAAN MODA L
DESA DESA DESA DESA
DESA
PENYERTAAN MODA L
PENYERTAAN MODA L
PENYERTAAN MODA L
PENYERTAAN MODA L
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BUMDES BERSAMA
PENYERTAAN MODA L
BUMDES
PENYERTAAN MODA L
PENYERTAAN MODA L
PENYERTAAN MODA L
PENYERTAAN MODA L
BUMDES BUMDES
BUMDES BUMDES
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
BUMDES
DESA
PENYERTAAN MODA L
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
MODEL PENGEMBANGAN USAHA BUMDES BERSAMA
PENGGEMUKAN SAPI
SAPI PERAH AMPAS
TAPIOKA KELOMPOK -EM
PERBANKKAN
SUMBER DANA
BUMDES BERSAMA MASYARAKAT
CSR
DANA DESA
KEMENTRIAN
PETANI
SINGKONG,TEBU PAKAN
TERNAK
KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM
PRODUK SAMPINGAN TBS
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
PEMROV,PEMDA
MODEL PENGEMBANGAN USAHA BUMDES BERSAMA
PENGGEMUKAN SAPI
SAPI PERAH AMPAS
TAPIOKA KELOMPOK -EM
PERBANKKAN
SUMBER DANA
BUMDES BERSAMA MASYARAKAT
CSR
DANA DESA
KEMENTRIAN
PETANI
SINGKONG,TEBU PAKAN
TERNAK
KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM KELOMPOK -EM
PRODUK SAMPINGAN TBS
UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
PEMROV,PEMDA
TERIMA KASIH
I00eilzmEr,zzll86l
dtN
SI0Z laquaseg .tueaneg
d$
Eue1n1
't{lsBl stxlJal ue>;decn
lutel
eAueutesefia>;
sele uelledurss
lrusl lut ueuoqourad
lilns uelllruo6
BunBy refueg ueteue:a)
;ezr.rdy/ipag rO .dg ue8upueuad
ueto)
gt/rA 00'9T p's g!/y\
00'0I
SI0Z Jaqtuasa6 /urua5 4
ledual
nUP/vl leBBuel /uep1
leqrJad
leJ$
ueldurl
JOT.UON
: eped ueteue$ipltp
uEIe
ue{euef,ueJlp
lur ueler8ay 'inqasJal
sSovhlng /sroyung
eAurilplaq )inlun
tse^tlotuatu
uBp lsesllelso5
eltue:
urelep uasop etpual ue4ruu6uau
ledep 4n1un
i(rgn-ggr) Eunduel
rEpueg
sellsJa^lun slusl€ lurouoll uep
sellnlPj uelec upetpassl usluor{oul
tuel
lul ue8uap
eletu ,guerneg
tue;n1 ualednqey 'ueleurecay
]edua
Eunduuey 1p .re1ue
{51gy14pg} esag Je}uv rurtnl
Br{ssn uppeg
(slctAlnli esal uep
{lllN
eqesn uepeg
uelllpuau
euef,uer eAuepe
ue8uap uetunqnqaE 'leuuoq uetue6
Eunduel Jepupg
-tp
Bundutel Jepusg
selrsJeltun
srusr8
tulougll uep sEllnIBJ
UEIaO 'q11 epeda;
Sf Oe
raquesaG 6f.'eleBitua14;
tuemeg tue;n1 ualednqex
sapun€
ueuaquad llalPw uellregueu
ueuoqourJad tuglua6
sroz/suso'ntl
t,slasn
V1V99NEH
0r0TZ GZZO)
'xel
,6SEIZ
$Zn).d1a1epua6
ue.rolue4rad 1a1duro1 ereue3
.15
uvHvunl]xlgilndHut rv)tvuvAsvt,t
hlSdNvHVlNrulI
htwAvou
g iI
ad htvovg
H9NV,1AV8
9N\nru NllvdngDt
HVI-NIUI
Ntd
'ro
'Wse:[Erulre1 ueldecnrp e^ueuresefte{
ssle 'uopues4elrp
{n}m uope&rmsrp
rur su8nl }ems rruDIrureg
'Euemeg
Euup;
uspdnqe;1 EunEy refueg
uel€rrlece)
p
"SI0Z reqrueseg
LWEErwleped uu4eues{ellp
rrB-{B
rur rrer}}loued
ueppey '..(SgCV}r{ng)
?seg rc1uv
"r{BSn
{mN
uep?B uep
(Sgffimg
usag
)
{{11aI srlBs{l
rrepeg rrelrlpued rs"^potrAl
uup Is?sIIBIsoS.
1npnf ue8uap (paptue6
p8eqes) p>1ere,(seyq
uerpqe8ue6
uepl8al
uerterre$teleru
{nlun
,IA[.W..g.g.1u4gd6.rq-:
eruBN.Z
Ermdruel repusg selrsreapll
s1uslg uup mrouo{fl
se1lqeC uesoq
:
rre}"qef
''lS'W'1e4U 'VJ
nsure.(g
'srq
:
?ursN .I
: epede>l se8nl peqrueru
uaEuep IUI
Emdruel
J"prreg sulrsJelrun
s1uslg rrep
ruouo{g
sr1ln{BC uB{eO
ueuJeleH
I
SYONI
J,YUNS
r s
0zllxnsn-gtJ/Js/e/ r
lejns
JouroN
EIoZ lereN
nleue8'pI
lsl^au JoruoN
/00'g3J'OS'l^lJ uaunloo
roruoN
LgttOL 'xeJ'€99IOL-
6t6TOl
'd;al'6unduq
: repueg,lBeU ueqnqel
.oN 9Z urely.re6e4
.V.Z.lC
,
! ozfl
x/s/paJ{vAd-}tv8/ysrzt}
oN :
.9" tsvlto3uxwSl snIVIs
NSyrl
rvNvhl tsNvtNnyv snlvls lsvltoSuyvuSl :oN,,9,, t tozxts,pauvrld-Nv8/ysrz6t
slNstg NVo ll,uoNoyS
svrlnyvJ --l 7gr:r.
ryy'cg'Y'r^{''gg
ouuursrue
W ',,#ffJryns*rytt:t
CNNdUUV-I
UVONVg SVIISUSN
NN
$$a,I!7m7.tzzrl86r
dtN
'le4ereAseyg
le{ereAsew uep e;uday.uy
SIOZ
Jequasag
,tueaneg tueln1
'eAurlsaur ue3uBralar teJns rur ue8uap ]enqlp 4n1un eAuleuaqas ledep ueleuntladlp eueulteBeqas
upDlrruao
tunfu
refupg ueleueoa)
gezpdy Apeg'dg
uetugcueurad
uero)
:
1ed*ra1
:
00.0T gtl^ .p.s gtM 00'9inuPM
ST0Z
raquasag
I
/ulua5
:
le38uel /rreg
t{"ra}
}nqasrar uete!8a21 'suerneg Eue;n1
uelednqey
ue}piu*r; 1"dr"' rp
:i:i'r"JJ;;ffit$
uepeg ueulpuad rrrrt^ eqpsn esa6 uepisr.rung) eqesn uepeg esao rrrrru euresJegtuelual
rse^rroru uereuesrerau qpral u*;pq"Eua6 uelerBar .p"6 lele.reAse;4 ednraq rspsrrersos ue'aqurad uep
tundurel tepueg seltsleltun
stustg
tuouo{3 uep setlnleJ uesog
: lezlrlag.rg.:
.44'lS
Eundtuel Jepupg
,"*,rr"nlu6
sluslg upp rulouolJ selln{eJ
uesoo
: ns,_ueAs.SUO ,;eag .yf, ,!shl
:
ueleqeI
eueN
-2,
ueleqer
euEN
'I
pA : ueltuelauaur qeq
uetuap tuerneg rut
Bue;n1 ueeAep.raqtuad 1e1e.re^sey1 uep ueq'luueuad ueqe.rnlal/SUndurey (xawaa) ualednqey
uepeg ue3uelepuepaq rp eq 1lu! r,;p,r e1edal eqesn Eueprg uetuouorala6 uetueqttatue6 1e>;eleAse6;
guel
srn/4y/
3ofit/s85/
toruoN
aqh ffiffimvEns '
VIVgDItII't
,6sEIz (gzzo) 'xej (gzzo) 0t0rz.d1a1ep*red ue.roluo;.rad
>ppr,o4 ereu,e3 .lr
NVHVUnttx/gNndHV)t NVHVtNruS
itd
]rrv)lvuv^svn
NWAVOUSS htSd
NVOVg HVI.Nru]hLId NJIVdNS\DI
9Nflru
9NVMVB/\
{z-dz
"mY
9Z
flfrz
bh*' u
*^T
,,oo?oy
Fd.S u,u16d
VZ
ruws?4 tz
vc/1/1ry
+tWy4
TZ
z:{---J f4_
vW
:oaoV?$
0totWd uuaba w6a)
pl
ZZ
-M-ft
"thoy ttDnu
,tu3i ,*rr))
Ou:rz{45
,z
vth OZ
,/ I tt
1l
===40w11,;
oH,\
1.,r.0
OZ
6L
Yb
adv{&
/1/l-tyS
Y\\rwra
6t
-)'-
I 8L
u2/t&rJs
,rr*orr
rry'
.r8t ].yl aqfifyl 0/ ryaq >ld
LLav/ ,_
LI
,&
)An,
"
Dj
./
qqyd (
9t q
l\*-hV ',/{
r
sLat ^wa
$
Att0
9L
tl*d^t L"n:,*:Y.!Y.1
YLry-vWq-n-J_
?t
[ I
-+kzer
bhr,^?,)
;+.;hip)-ffi
u-tp,upvJ
CL
ilzt I
akv r\, lbw ,x
--awHnv
ZL
v[/_ \_
t, \x]
€7't--
lrTrlyd
t u
i*tgq
,t
CLryarw-j@ lPsmfVCrJJ+/,t\ #V>/ N rshXs1
6
a
-1fL tln
t!
(r 13 I
h*"${ t
-|tryt
LyH{
',${.Y.W !!0
L
/llhfrl '1/ud7''NqTf
e{r.ryNfti
I
"Y
I -w , '
,1d1/W
tfifrtq?r
I
n
Yt
'haaV',$2
7n-*ra2
4/var4? 'q/
v
4a rl
a
etqto^tt( )vl
e
z .!l
' ,d
iltwtil
,Lrh4rrw[
Z
@
'fr($t
llt
/ %{u n ra?wDhv
,
-\ t
z c
L
NVCNVI VONV1
NVIVEVT
VIAIVN ON
esaq
lrlrl
eqpsn l uepeg
uelnluaquad uep upseqpqulad ledeg
:
.Eroz Jaat,v:sa(
{
'NliV.l9
:
(saownelvsro )nrhJ vHVSn Nvovg
:
9NVMV8
9N\NNI
NSIVd N8V)
IVdVU
.
UIOVH UVIJVO
VUVfV sNrvr/ruvH tve NVlVt9l)
Ermdruel repueg suusrellun
sprslg uep
ruouo{g ssqqu{
ue>Ie6
seEnl'pmg
(Z
Ermduml Isul^ord
Etrurtreg
EwPl
uepdnqe;tr us1erume) ry uep Eundruu;tr
edereqeq
Sii6-Vimg ip
isfig^mtr
gernpued Eueluel rsplrloru
usp rsusrlersos
lru1rteqeuretu
ryilm lreuorloured
pmg (t
:uolndurel(I
ln>Iueg
'S
'Euemeg
E*1nI
usPdnqeY
YCgdVg
Jsls
'XdI IdAJqS
Ise)'stmleqeg uep '1e.tue3'Eunduru; epde;tr
Ermdurul ruptreg
selsre
r.ug s1uslg
ruouo{g uep se1lrulpg
uesoq
u.{ /tr
''gs'pzuJeq'rq
Ermduel r?puug suilsJolrul'I
sTuslg
ruouo{A uup se1pDIBd
uasoq
yJ
'S'W'1u215 nsuru.(g
'srg :uetlnpdue4
seEnp4 'e
qresed 'n
uuu[re1s6
euelq
(7 uue[re1e6 eue51
(1 NDPIA.
iedurel
8ItA.00'9I gI^4[.0€'60 ps
:
Eue.rrreg
mF,I E
uepdnqe;
EunEy refuefl ugrr.ulg3s){'pzudy f,pag
ueflutcuelued 'dg IIIBIg)
:
gI0Z raqulesog ,0
uiues /
:
leEEuel,lWH
:eped
uopues{Bllp Ises{elsos
uept8a;
:ue1etEe;1
usauu$lqled'Z
'Eue,teg
Euepl
uspdnqe;1
p
(SgOVWn[)
eseq relu-V {lUAt
"qBsn uup€g
trBp
(SiIGAmg) essg
11gtr4t
equsn uspsg rmurpusd Euu}uet
rsulrlotrAl rrep Isesrlursog
:w1upe;1
lnluefl 'I
t '
'$aruag
uet{Brnle) prmdmry
usqe}trueured
F{eredseq
uuedeprequred uepefl
'Ermdurol epde>1
epede>1
Eun&ue1
$ullord
Euarvreg
Euep;
uepdnqell rp l.rutsrrrace) usP
Ermdurql edereqeq
(SACVf,ing) 1p
ese6
ru;uv
ryl1utt BrlBsO uBpBA
(SgON6g) u?p eseq
{lU^[
"tpslf
trupeg ueptpued
el8uer
tuelep 1e1em,(sutu
upede>l IsBAIlow IIBp
ISBSII€Isos lle>lueqtuotu
{liueg
UIeIE? uz>lruIel
IruDI qBlel Euu,(
p4ere,ftuul epedel uerpqeBued
uuprEel
IIsBr{
rralJodq
lurq
1tr suresJeg
IOZISIOZ 9
NIII{VI TIfNVC
USJ,SflIAIUS
T\flXYUYASYIAIhI\TI(Ifl
Y3NtrdNYJ,YICf,)TNYUOdYA
:uB)[rlBse8ual I
rsEsrlsisos
snle) unJ
9I0Z rrmrref
.EtrndureT 97 rupuafl
Eundurul reprmg sepsrea.ruli
sFrslg rrBp
rrtrouo{g sB}Iqec uB)lec
.
'mqule8ueyq
-
'Etreivieg EuBInJ uapdnqqtr
otrulerueca;tr edereqeq eped
Eunft'qtr
edereqeq SgOVIAng
/SgCNng
ueFrpued Euetruol
rseaqoru rrup rsusrlersos
ue1el4[
(S
Euemeg Eue1n1
uerdnqe;tr
OVfi{fifl Sfl
rrep SACUAIOg
uaFrpued Eu4s3l rsulrloru
rrup rsusrlursos epesed
4puq rsUtsO G
'Emreg relr,J uelednquy E
(Xafrla$
ueqemlo)
pmduley
rrprlp]urreruo4 p4erulsery
uue,(upreqruod rr,pug ue8ueralal
}nms
(s
"S'hl'lezry
'yJ
nsure(