• Tidak ada hasil yang ditemukan

penegakan hukum lesbian gay biseksual dan transgender

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penegakan hukum lesbian gay biseksual dan transgender"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

Secara historis, praktik LGBT di Indonesia diyakini sudah ada sejak zaman kolonial, dimana perkembangannya mengikuti perkembangan zaman dan generasi yang kemudian membentuk komunitas dalam bentuk solidaritas dan perjuangan. Implementasi hukum LGBT di Indonesia belum bisa dilaksanakan secara umum dan komprehensif karena belum adanya peraturan yang mengatur secara jelas LGBT dalam hukum nasional yaitu KUHP. Namun konsep negara hukum di Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri yang sesuai dengan tujuan berdirinya negara Indonesia.

Perilaku menyimpang yang saat ini sangat rentan terjadi di Indonesia, misalnya saja penyimpangan standar kesusilaan seperti masuknya budaya lesbian, gay, biseksual dan transgender atau LGBT di Indonesia. Psikiatri Fidiansyah (Deputi Departemen Agama, Kerohanian, dan Psikiatri) Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), menyatakan bahwa LGBT merupakan gangguan jiwa dan dapat menular ke orang lain.10 Secara historis, praktik LGBT diyakini pernah ada di Indonesia. sejak zaman kolonial, dimana perkembangannya mengikuti perkembangan, zaman dan generasi yang kemudian membentuk komunitas-komunitas dalam bentuk solidaritas dan perjuangan. Pengaruh media tersebut telah mendorong tumbuh dan berkembangnya organisasi dan komunitas LGBT di Indonesia, yang memperjuangkan penerimaan dan pengakuan identitas mereka.

10Rustam Dahar Karnadi Apollo Harahap, (2016), LGBT di Indonesia: Perspektif Hukum Islam, Hak Asasi Manusia, Psikologi dan Pendekatan Maslahah, Majalah AL-AHKAM Volume 26 No. Terkait LGBT di Indonesia, hukum nasional dalam arti luas tidak memberikan dukungan terhadap kelompok LGBT meskipun homoseksualitas sendiri tidak dianggap sebagai tindak pidana.12 Di Indonesia, LGBT dipandang sebagai penyimpangan seksual yang tidak sekadar mengabaikan norma moral. , namun juga dianggap melanggar nilai dan norma agama. Kasus ini secara tidak langsung memberikan kita gambaran bahwa hubungan sesama jenis atau LGBT di Indonesia masih belum memiliki aturan yang mengaturnya.

Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu keberatan dengan kehadiran komunitas LGBT di Indonesia karena Islam tidak mengenal dan melarang hubungan seksual antar sesama jenis.

Rumusan Masalah

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku homoseksual yang dilakukan oleh komunitas LGBT merupakan mala in se, yaitu suatu perbuatan yang menurut hukum, meskipun tidak ditetapkan sebagai tindak pidana dalam suatu undang-undang, dalam masyarakat dianggap menyimpang dan memalukan. . perbuatan yang melanggar norma agama dan kesusilaan. Hubungan homoseksual dianggap tabu di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga perlu adanya tindakan dan penegakan hukum dalam peraturan yang mengatur pelaku homoseksual atau LGBT. Namun dari sudut pandang psikologis menyebutkan bahwa LGBT merupakan gangguan jiwa berupa penyimpangan seksual, sehingga tindakan dan penegakan hukum yang diterapkan harus lebih dominan pada penyembuhan dan pengobatan penyakit jiwa seperti rehabilitasi.

Permasalahan ini menjadi sangat menarik untuk dibahas oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji kasus ini dalam bentuk penulisan skripsi yang berjudul: Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender Dalam Perspektif Hukum Pidana.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi para pembuat undang-undang atau pembentuk undang-undang untuk membuat peraturan yang dapat menjadi landasan hukum bagi pelaku LGBT, serta dapat menentukan penegakan hukum dengan perlakuan yang baik dan tepat terhadap pelaku LGBT.

Orisinalitas Penelitian

LGBT yang ditetapkan sebagai tindak pidana melalui Perda Musi Banyuasin dan Perda Padang Panjang merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) atau tidak. Tesis kedua berjudul TINJAUAN HUKUM RESOLUSI MAJELIS UMUM PBB NOMOR A/HRC/19/41 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA LESBIAN, GAY, BISEXUAL, TRANSGENDER (LGBT) DAN LEGBT SYSTEMS UNTUK EGBT. yang disusun oleh Maryam Na'imah, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, mempunyai persamaan dengan penelitian yang ditulis penulis yaitu mengkaji LGBT menurut hukum yang berlaku di Indonesia, adapun perbedaan penelitiannya yang dilakukan oleh penulis adalah, apakah LGBT dapat menjadi suatu tindak pidana dan bagaimana upaya penegakan hukum yang tepat dan tepat bagi pelaku LGBT. Sementara itu, dengan menulis tesis yang berjudul TINJAUAN HUKUM RESOLUSI MAJELIS UMUM PBB NOMOR A/HRC/19/41 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA TERHADAP SISTEM LESBIAN, GAY, BISEXUAL, TRANSGENDER DAN ILGBTIAN UNBENEFITABLE (LINDIGE), membahas LGBT dari perspektif HAM Hak asasi manusia internasional dan implikasi resolusi MU-PBB no.

DARI PANDANGAN PEMBAHARUAN HUKUM yang dikemukakan oleh Sofyan Fathor Rozi, mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang ini mempunyai persamaan dengan penelitian yang ditulis penulis yaitu menganalisis dan mengkaji apakah LGBT dapat digolongkan sebagai suatu tindak pidana atau tidak. dari sudut hukum pidana, adapun perbedaannya adalah Penelitian yang dilakukan penulis tidak hanya mengkaji dan menganalisis apakah LGBT dapat di definisikan sebagai tindak pidana atau tidak, namun juga menganalisis penegakan hukum dengan perlakuan yang baik dan tepat terhadap pelaku LGBT di Indonesia. Sementara itu, dalam penulisan tesis berjudul KRIMINALISASI HUBUNGAN SEKSUAL LGBT SEBAGAI PELANGGARAN PIDANA, kesusilaan dalam perspektif reformasi perundang-undangan hanya menjawab kuatnya dasar kriminalisasi LGBT dan masih terbatasnya regulasi mengenai hubungan sesama jenis LGBT. Apakah kriminalisasi tindakan LGBT melalui Perda Musi Banyuasin dan Perda Padang Panjang merupakan pelanggaran HAM? Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang adanya kejahatan LGBT melalui Peraturan Daerah Musi Banyuasin dan Peraturan Daerah Padang Panjang.

Apa implikasi Resolusi Majelis Umum PBB tahun 2011 nomor A/HRC/19/41 tentang perlindungan hak asasi manusia LGBT terhadap sistem hukum Indonesia. Eksistensi kelompok LGBT dalam perlindungan hak asasi manusia internasional dimulai ketika APA (American Psychiatric Association) menghapus pernyataan yang menyatakan bahwa mereka termasuk kaum homoseksual. Sejak itu, hukum hak asasi manusia internasional menganggap diskriminasi terhadap kelompok LGBT sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

Resolusi MU-PBB No. A/HRC/19/41 Tahun 2011 tentang Perlindungan Hak Asasi Manusia LGBT merupakan instrumen hak asasi manusia internasional yang secara khusus mengatur tentang perlindungan hak asasi manusia berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender. Resolusi MU-PBB nomor A/HRC/19/41 tentang Perlindungan Hak Asasi Manusia LGBT Tahun 2011 bagi sistem hukum Indonesia berarti resolusi tersebut bersifat soft law dan tidak mengikat. Penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan di bidang hukum secara umum dan di bidang hukum internasional khususnya dari perspektif hak asasi manusia.

Sekaligus dapat memberikan informasi kepada masyarakat khususnya kepada pihak-pihak yang terkait dengan hak asasi manusia. Apakah hubungan seksual LGBT merupakan kejahatan yang harus dikriminalisasi? Dari perspektif reformasi hukum pidana, apakah hubungan seksual LGBT mempunyai dasar pidana yang kuat?

EQUALITY bersama-sama menganalisis dan menguji apakah LGBT dapat dianggap sebagai tindak pidana dalam perspektif hukum pidana. Menganalisis dan menyelidiki perilaku LGBT sebagai tindak pidana untuk memberikan landasan hukum bagi penuntutan dan penanganan pelaku LGBT di Indonesia.

Sistematika Penulisan

PENUTUP

  • Saran
  • Buku
  • Peraturan Perundang-Undangan
  • Putusan Pengadilan
  • Artikel Jurnal
  • Internet

Legislator harus membuat aturan yang jelas dan tegas mengenai pelarangan LGBT di Indonesia, sehingga terdapat kejelasan dan kepastian hukum seputar perilaku tersebut, sehingga baik pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat mempunyai dasar untuk menyikapi fenomena LGBT dan permasalahan yang ada. sedang berkembang di Indonesia. Penegakan hukum terhadap pelaku LGBT di Indonesia harus segera dilakukan dengan penanganan yang baik dan tepat, mengingat LGBT merupakan sesuatu yang ditentang oleh mayoritas masyarakat Indonesia dan dapat merugikan moral bangsa karena dianggap bertentangan dengan Pancasila. Penegakan hukum LGBT dengan perlakuan seperti itu tidak hanya dapat menjadi upaya untuk mencegah permasalahan perkembangan LGBT di Indonesia, namun juga dapat mengobati dan memulihkan kondisi mental dan psikologis orang-orang yang memiliki orientasi seksual LGBT.

Dan untuk melaksanakan penegakan hukum sebagai upaya mengatasi permasalahan LGBT di Indonesia, harus ada aturan yang mengatur pelarangan perbuatan tersebut, yaitu mengkualifikasikan LGBT sebagai tindak pidana dengan penanganan dan sanksi yang baik dan tepat. 2013. Perbuatan melawan hukum (Wederrechtelijk) dalam perspektif hukum pidana dan perbuatan melawan hukum (Onerechtmatige daad) dalam perspektif hukum perdata. Perilaku LGBT dalam perspektif UUD Negara Republik Indonesia dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-XIV/2016.

Dari nama website: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia, 27 April), pemerintah membantu pembuatan E-KTP bagi transgender. Dari nama website: https://hellosehat.com/seks/tips-seks/apa-itu-lgbt-jadi-causation/#gref.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait